Dharma Buddha

    Agama Buddha adalah sebuah agama besar yang menerangi umat manusia lebih dari dua puluh lima abad yang lalu dan membebaskannya dari segala perbudakan dan praktik-praktik ketahyulan. Agama Buddha adalah suatu agama yang bersifat ilmiah. Sang Buddha Gotama dewasa ini dipuja oleh setiap orang yang berbudaya dan berintelek, tidak peduli agama apapun yang mereka anut, sementara penemu sebagian besar agama lainnya hanya dipuja oleh para pengikutnya saja. Bukan hanya mereka-mereka yang menganut agama-agama tertentu, akan tetapi yang disebut para pemikir bebas pun memuja Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna junjungan dunia ini. Dari kaca mata sejarah, tiada Guru lainnya yang pernah hidup di dunia ini yang telah memberikan begitu besar kebebasan religius dan juga hak menentukan keyakinan bagi umat manusia. Sebelum munculnya Sang Buddha, agama hanya dimiliki dan dimonopoli oleh suatu kelompok tertentu dari masyarakat. Sang Buddha adalah Guru dalam sejarah sejarah yang membuka pintu gerbang agama bagi setiap orang di masyarakat dengan tanpa membedakan atau diskriminasi.
     Sang Buddha telah menasehati siswa-siswaNya untuk melatih dan mengembangkan kekuatan laten manusia serta menunjukkan bagaimana cara terbaik untuk menggunakan kekuatan-kemauan dan kecerdasannya tanpa harus menjadi budak/hamba dari suatu makhluk yang tak dikenal, untuk mendapatkan suatu kebahagiaan abadi yang Beliau umumkan kepada dunia melalui pengalamanNya sendiri dan bukan melalui teori-teori, kepercayaan-kepercayaan, maupun praktik-praktik tradisional. AjaranNya adalah sedemikian rupa sehingga siapa saja dapat mempraktikkannya tanpa menyandang merek agama tertentu.
    Seperti kebanyakan agama lain, dalam agama buddha juga terdapat kerangka dasar yang disebut Tiga Kerangka Dasar Agama Buddha yaitu:
    1. Saddha (keyakinan)
    2. Sila (tata susila)
    3. Bhatti (kesetiaan)

    Keyakinan (Saddha) dalam agama Buddha adalah keyakinan yang berdasarkan atas pengertian yang benar. Sehingga umat Buddha tidak dituntut untuk 'percaya baru mengerti', tetapi 'mengerti otomatis percaya'. Metode ehipassiko yang diajarkan Sang Buddha Gotama, justru mendorong kita untuk menyelidiki, menguji dan membuktikan kebenaran ajaranNya sehingga menimbulkan keyakinan yang kokoh dan mantap. Hal ini sejalan dengan sabda Sang Buddha dalam Kalama Sutta antara lain dikatakan:
    "Janganlah menerima segala sesuatu hanya karena itu berdasarkan atas laporan, tradisi, kabar angin, tertulis di dalam kitab-kitab suci atau hanya karena rasa hormat terhadap seorang guru. Setelah dianalisis ternyata hal tersebut baik, tidak tercela, dipuji oleh para bijaksana, sesuai untuk dilaksanakan, membawa pada kesejahteraan dan kebahagiaan; maka terimalah hal tersebut dan laksanakanlah. Akan tetapi, bilamana setelah dianalisis ternyata hal tersebut tidak baik, tercela, tidak dibenarkan oleh para bijaksana, tidak sesuai untuk dilaksanakan, menimbulkan kerugian dan penderitaan; maka hal tersebut harus ditinggalkan."
    Tata susila (sila) dalam agama Buddha merupakan latihan untuk mengendalikan tindakan dan ucapan yang dapat mencegah serta menghalangi timbulnya perbuatan jahat atau keteledoran. Sila yang diperuntukkan bagi umat umat awam ialah Pancasila Buddhis, yang terdiri atas penghindaran diri dari pembunuhan, pencurian, perzinahan, pendustaan, dan pemabukan. Dengan melaksanakan Pancasila Buddhis secara sempurna, akan berakibat terlahir di alam bahagia, memperoleh kekayaan (dunia dan Dhamma) serta tercapainya Nibbana (Kebahagiaan Sejati).
    Kesetiaan (bhatti) terhadap agama Buddha diwujudkan dengan mempelajari, mengerti, menghayati dan mengamalkan ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Haruslah dimengerti bahwa kebaktian dilakukan semata-mata untuk memupuk sifat-sifat baik masing-masing individu, bukan karena peraturan dan tradisi yang mengikat, yang tidak akan membawa pembebasan.
    Jadi, ketiga kerangka dasar ini merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Sehingga umat dapat menempatkan agama pada posisi yang sesungguhnya, bahwa manusia bukan untuk agama, tetapi agama untuk digunakan manusia dalam mengembangkan kemajuan dirinya dan mencapai kebebasan, kedamaian, dan kebahagiaan sejati.

SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA PART 1

RIWAYAT HIDUP BUDDHA GOTAMA

Para Bhikkhu, ada satu orang yang kemunculannya di dunia ini adalah demi kesejahteraan semua makhluk, demi kebahagiaan banyak makhluk, yang datang karena kasih saya kepada dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan serta kebahagiaan para dewa dan manusia.Siapakah itu ? Beliau adalah Tathagata

Syarat kelahiran Buddha
Orang tua, keluarga dari silsilaah yang terhormat dan tanpa noda
Usia alam kehidupan
Status sosial, Keluarga dengan derajat/ silsilah atau kasta yang tinggi
Tingkat moral, Keluarga dengan moral yang sempurna
Dharma telah ditinggalkan
Ajaran Buddha sebelumnya telah dilupakan sepenuhnya
Buddha tidak akan muncul lebih dari satu orang
Dalam dunia ini tidak akan muncul dua manusia Buddha pada waktu yang sama, karena kebajikan Buddha yang begitu luar biasa dan Bumi ini tidak mampu menahan kebajikan tersebut.

KELAHIRAN PANGERAN
Pangeran Siddharta dilahiran pada bulan Purnama Siddhi tahun 623 SM di taman LUMBINI, Nepal terlahir di keluarga raja yang memerintah suku Sakya
Ayahnya bernama Suddhodana, ibunya putri raja, namanya Maha Maya
Dalam tubuh fisiknya terdapat 32 tanda, hal ini menandakan manusia agung, hanya ada dua kemungkinan hidup yang akan dialami, yaitu menjadi seorang raja dunia, raja yang berdasarkan Dharma, penguasa empat penjuru, penakluk, pelindung rakyat, pemilik 7 (tujuh) mestika atau apabila meninggalkan kehidupan duniawi dan tanpa berumah tangga akan menjadi seorang Buddha.

Hal yang mendorong Pangeran Siddharta menjadi pertapa:
Orang Tua
Orang Sakit
Orang Mati
Pertapa

Pertapaan Ekstrim
Selama 6 tahun menjalani pertapaan ekstrim bersama 5 orang pertapa, yaitu Kondanna, Asaji, Bhaddiya, Vappa dan Mahanama.
Akibat pertapaan ekstrim tersebut tubuhnya menjadi kurus kering yang luar biasa
Pada suatu hari saat menajalni pertapaan Beliau mendengar ada sekelompok  penyanyi yang mana syairnya mengandung semangat pencerahan, bunyi syair tersebut, yaitu
Kalau tali gitar ditarik terlalu keras, talinya akan putus, lagunya pun akan hilang
Kalau ditarik terlalu kendor, ia tak dapat mengeluarkan suara
Suara tidak boleh terlalu rendah atau terlalu keras
Orang yang memainkannya harus pandai menimbang dan mengira
Jalan Menuju Pencerahan
Pada tepi Sungai Neranjara, pertapa Gotama pun membulatkan tekadnya :
Kalau memang waktuku telah tiba, mangkuk ini akan mengalir melawan arus dan bukan mengikuti arus.
Suatu kajaiban ternyata Mangkuk tersebut melawan arus. 

Pekik Kemenangan
Dengan sia-sia Aku mencari pembuat rumah ini, berlari-lari berputar-putar dalam
lingkaran tumimbal lahir
Menyakitkan Tumimbal lahir yang tidak ada habis-habisnya
O, Pembuat rumah sekarang telah Aku ketahui
Engkau tak akan dapat membuat rumah lagi
Semua atapmu telah kurobohkan
Semua sendi-sendimu telah ku bongkar
Batinku sekarang mencapai keadaan Nibbana
Dan berakhir sudah semua nafsu-nafsu keinginan

Semenjak hal kejadian tersebut di atas Beliau menempuhn jalan tengah, pada malam berikutnya, dengan kekuatan tekad yang luar biasa, beliau berikral :
“Meskipun darah, dagingku mengering, tulang belulangku berserakan. Aku tidak akan bangkit dari pertapaan sebelum mencapai usaha yang dapai dicapai oleh manusia, oleh semangat manusia.
Pada malam tersebut beliau mampu merealisasi kebenaran dan mencapai pencerahan. Menjadi seorang Buddha. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 588 SM pada Bulan Purnama Siddhi.

Aktivitas selama 7 Minggu Pertama setelah beliau mencapai pencerahan, yaitu :
Minggu I, Buddha duduk di bawah pohon Bodhi dan menikmati keadaan Nibbana, yaitu keadaan yang terbebas sama sekali dari gangguan-gangguan batiniah
Minggu II, Buddha berdiri beberapa kaki dari pohon Bodhi sebagai ucapan terima kasih
Minggu III, Buddha berjalan mundar-mandir di jembatan emas yang diciptakannya di udara untuk menghilangkan keragu-raguan para dewa
Minggu IV, Buddha berdiam di kamar permata dan merealisasi ajaran Abhidhamma, yaitu ajaran mengenai ilmu jiwa dan metafisika
Minggu V, Buddha berdiam di bawah pohon Ajapala Nigrodha (pohon beringin)
Minggu VI, Buddha bermeditasi di bawah pohon Mucalinda
Minggu VII, Buddha bermeditasi di bawah pohon Rajayatana

Permohonan Brahma Sahampati :
Semoga Tathagata, demi belas kasih kepada para manusia berkenan untuk mengajarkan Dharma
Dalam dunia ini terdapat orang-orang yang sedikit dihinggapi kekotoran batin dan mudah dapat mengerti Dharma yang akan diajarkan

Persembahan 4 Dewa langit
Setelah Buddha menyetujui permohonan Brahma tersebut, Buddha merenungkan bahwa umumnya para Buddha hidup dengan cara Pindapatta.
Para 4 dewa penjuru arah melihat hal ini dengan segera mereka pun menghadap Buddha dan masing-masing mempersembahkan mangkok Pindapatta. Dengan kekuatan Buddha Mangkok ini pun dilebur jadi satu.

Pertemuan Buddha dengan 5 Pertapa
“Dengarkanlah, O, Pertapa. Aku telah menemukan jalan yang menuju ke keadaan terbebas dari kematian. Akan kuberitahukan kepadamu. Akan kuajarkan kepadamu. Kalau Engkau ingin mendengar, belajar dan melatih diri seperti apa yang kuajarkan, dalam waktu singkat Engkau pun dapat mengerti, bukan nanti di kemudian hari, tetapi sekarang juga dalam kehidupan ini. Apa yang kukatakan adalah benar. Engkau dapat menyelami sendiri keadaan itu yang berada di atas hidup dan mati.

Pembabaran Dharma
Oh, Bhikkhu, babarkanlah Dharma demi kesejahteraan dan keselamatan banyak orang. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama. Babarkanlah dharma yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya.
Umumkan tentang kehidupan suci. Terdapat makhluk-makhluk yang matanya tertutup oleh sedikit debu. Kalau tidak mendengar Dharma mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaat yang besar. Mereka adalah orang yang dapat mengerti Dharma dengan sempurna.

Selama 45 tahun beliau membabarkan Dharma kepada semua lapisan masyarakat. Bahkan bukan hanya pada manusia tetapi semua makhluk. Sehingga beliau dipuja sebagai guru para dewa dan manusia. Pada usia 80 tahun (543 SM) Beliau memasuki Maha parinibbana.

Perkembangan Agama Buddha
Setelah Buddha mencapai Parinibbana, Dharma mengalami perkembangan bukan suatu perpecahan, yaitu terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu :
Perkembangan Buddha Utara, berkembang ke negara Tiongkok, Taiwan, Korea, Jepang dan Tibet. Perkembangan Buddha utara tersebut kita mengenal banyak ajaran, antara lain : Amithaba, Zen dan Saddharmapundarika
Perkembangan Buddha Selatan, berkembang ke negara Thailand, Srilangka, Birma dan Vietnam
Perkembangan yang begitu pesat saat ini yaitu ajaran Vajrayana atau Tantrayana yang bergembang pesat di dunia.
Perkembangan terakhir adalah usaha untuk mempertahankan ajaran Buddha secara utuh tidak terkotak-kotak, non sekterian, MENERIMA Buddha Utara dan Buddha Selatan sebagai bentuk perkembangan bukan suatu perpecahan dengan tetap mempertahankan ajaran Buddha di sebut sebagai EKAYANA/ Jalan Tunggal atau BUDDHAYANA/ Ajaran Buddha yang merupakan wadah pemersatu dari keduanya. Semangat pemahaman tersebut berkembang pertama kali di Indonesia dan pemahaman ini pun telah banyak diterima di luar Negeri dengan bentuk penyebutan yang berbeda-beda. Seperti untuk Tantrayana non sekterian disebut pemahaman Rigme.

 
 SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA PART 2

A. WAWASAN KEBANGSAAN

Pada suatu kesempatan Buddha ditanya oleh para muridnya mengenai pemakaian bahasa dalam pengajaran Dharma. Apakah tetap menggunakan bahasa India sesuai bahasa yang ada di sana atau disesuaikan dengan bahasa setempat. Menanggapi pertanyaan tersebut, Buddha bersabda :

Para bhikkhu, aku ijinkan engkau sekalian mempelajari sabda-sabda bhagawa dalam bahasamu sendiri. (Vinaya ii : 139)

Dalam hal ini sangat jelas bahwa pengajaran Dharma tidak tertutup hanya memakai bahasa India (kuno) tetapi terbuka bagi bahasa apapun. Karena Dharma yang diajarkan adalah esensi (muatannya) bukan kepada pemakaian bahasa. Bahasa hanya sebagai pengantar mempermudah orang untuk memahaminya. Pada tahap tertentu Dharma disampaikan bahkan tanpa memakai kata-kata.

 Buddha dharma dibabarkan dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan para pendengarnya. Cara Buddha menuntun Culapanthaka yang tak pandai menghafal berbeda dengan Ananda yang intelektual.  Begitu pun kepada Kassapa dari Uruwela yang mahir ilmu gaib berbeda kepada Mahakasyapa yang menerima transmisi tanpa kata-kata. Semua teknik penyampaian tersebut sesuai dengan kemampuan para pendengarnya. Cara yang tepat bagaimana orang dapat mencapai pencerahan.

 Pada saat Buddha membabarkan dharma kita hanya mengenal ajarannya sebagai Buddha Dharma. Setelah buddha memasuki Maha Parinibbana ajarannya berkembang luas dan dikenal beberapa pemahaman/ studi. Perbedaan metode pengajaran yang telah dibabarkan buddha melahirkan berbagai perguruan. Namun tetap satu Buddha Dharma

Setelah Buddha memasuki Maha Parinibbana, murid-muridnya memandang perlu merangkum kembali apa yang telah diajarkan oleh Buddha. Sehingga Dharma ini dapat dipelajari dan diteruskan kepada siapapun yang ingin mencapai jalan pencerahan.

 

A.     KONGSILI DHARMA

Upaya tersebut dapat kita lihat dalam beberapa pertemuan agung/ Kongsili Dharma/ Dharma Samaya, seperti :

1. Kongsili Dharma Buddhis Pertama
Kongsili ini diadakan pada tahun 543 SM di Rjagaha, India. Pada saat tersebut dibawah pemerintahan raja Ajatasattu. Hadir dalam persamuan agung tersebut sebanyak 500 (lima ratus) Arahat yang menyusun kembali doktrin ajaran Buddha. Kongsili ini dipimpin oleh YA. Mahakassapa. YA. Ananda menuturkan Dharma danYA. Upali menuturkan vinaya.

2. Kongsili Dharma Buddhis Kedua
Kongsili ini diadakan pada tahun 443 SM di Vesali, India. Pada saat tersebut di bawah pemerintahan raja Kalasoka. Kongsili ini membahas mengenai beberapa aturan kecil yang menjadi perbedaan pandangan. Sebagian merasa perlu mengubah beberapa aturan kecil, sebagian tidak. Selain itu, ada muncul cita-cita pencapaian, yaitu buddhahood vs arahantship. Setelah konsili ini timbul tradisi yang berbeda. Pokok bahasan utama hanya vinaya.

3. Kongsili Dharma Buddhis Ketiga
Kongsili ini diadakan pada tahun 308 SM, pataliputta, Pada saat tersebut di bawah pemerintahan raja Asoka. Kongsili ini membaas perbedaan pendapat yang dianut oleh Sangha. Ketua konsili pada saat itu YA. Moggaliputta Tissa menyusun buku Kathavatthu yang menolak pandangan keliru yang dianut sebagian murid. Ajaran itu disepakati dan diterima oleh konsili ini dan dikenal sebagai Theravada atau "jalan para sesepuh". Hal yang sangat menarik adalah mulai disusun Abhidharma Pitaka dalam konsili ini. Misionari diutus ke 9 (sembilan) negeri.

4. Kongsili Buddhis Keempat
Kongsili ini diadakan pada tahun 80 SM.
Pada saat tersebut di bawah pemerintahan raja Vattagamani Abhaya, Sri lanka. Kongsili ini berhasil menyusun Tipitaka dan kitab komentar (Atthakatha) dituliskan pada daun palem.


5. Kongsili Buddhis Kelima

Kongsili ini diadakan pada tahun 1871. Pada saat tersebut di bawah pemerintahan raja mindon. Kongsili ini diikuti 2.400 biku yang dipimpin oleh YA. Jagarabhivamsa di Mandalay. Tipitaka dipahatkan pada 728 potongan batu pualam  di kuthodaw pagoda. Pahatan Tipitaka yang memakan waktu 7 tahun, 6 bulan dan 14 hari, ini dicatat dalam guiness book of world record  sebagai ”buku terbesar di dunia”.

6. Kongsili Buddhis Keenam
Kongsili ini diadakan pada tahun 1956 di Yangon. Pada saat itu Mingun Sayadaw menguncarkan 16.000 halaman Tipitaka di luar kepala (gelar: tipitakadhara). Daya ingatnya yang luar biasa ini dimasukkan ke dalam guiness book of world record 1985, mencatat Mingun Sayadaw sebagai: ”Manusia dengan ingatan terdahsyat di dunia”.

 
Apabila kita pelajari dengan seksama perkembangan agama Buddha ada 2 (dua) rute penyebaran, yaitu :

1.      Jalur Selatan, tradisi yang berkembang Theravada. Negara yang dituju dari india ke Sri Lanka, lalu ke Myanmar, Thailand, Laos dan Kamboja.  Studi Theravada disebut juga “Jalan Sesepuh” atau Thera, memakai bahasa Pali, kanon Pali, lebih tradisional dan beraspirasi menjadi Arahat (Savaka Buddha)

2.      Jalur Utara, tradisi mahayana (berbagai aliran). Negara yang dituju dari india ke Asia Tengah, China, Korea, Jepang, Vietnam, Tibet, Mongolia dan Indonesia. Studi Mahayana disebut juga “Kendaraan Besar”, memakai bahasa Sanskerta, China, Tibet,  lebih moderat dan beraspirasi menjadi Sammasambuddha melalui jalan Bodhisattwa paramitayana: jalur bodhisattwa berdasarkan sutra. Studi ini mengalami perkembangan yang luas, seperti Madhyamika, Yogacara, Avatamsaka, T’ien-t’ai, Chan/ Zen, Pure Land/ Amitabha Buddha.

Hal yang menarik studi perkembangan aliran utara, yaitu perkembangan yang pesat dari Vajrayana: jalur Bodhisattwa berdasarkan Sutra dan Tantra disebut juga "Kendaraan Intan". Berkembang di Bhutan, Mongolia, Tibet dan Nepal. Ajaran ini dikembangkan oleh Phadmasambhava dan Shantarakshita. Menyebarkan dharma dari India ke Tibet pada abad ke-8, atas permintaan raja Tibet: Songsten Gampo.

Dalam perkembangan selanjutnya timbul beberapa studi, di antaranya :

  • Nyingma didirikan Padmasambhava, tertua. Tokohnya Sogyal Rinpoche
  • Gelug didirikan Tsongkapa, menekankan ajaran & vinaya. Tokohnya Dalai Lama, Lama Zopa
  • Kagyu  didirikan Naropa di India, menekankan meditasi. Tokohnya Karmapa, Kalu Rinpoche
  • Sakya didirikan biwarpa di India, menekankan ajaran & meditasi. Tokohnya Sakya Trizin
  • Kadam didirikan Atisha, merupakan penggabungan Gelug + Kagyu + Sakya mewarisi ajarannya
  • Ri-Me kombinasi berbagai sekte Vajrayana. Tokohnya Jamyang Khyentze

 

B.     PERSAMAAN THERAVADA & MAHAYANA

Perkembangan yang sangat pesat dari studi Theravada dan Mahayana telah mewarnai perkembangan Agama Buddha di dunia ini. Secara garis besar kedua studi pemahaman ini memiliki kesamaan yang sangat esensial, yaitu :

  • mengakui Triratna ;
  • mengakui Buddha Sakyamuni sebagai pendiri ajaran Buddha ;
  • menerima Tiga Corak Kehidupan, Empat Kebenaran Arya, Jalan Arya Berfaktor Delapan, Sebab Musabab yang Saling Bergantung sebagai ajaran dasar ;
  • menerima doktrin Hukum Karma seperti yang diajarkan Buddha ;
  • menerima doktrin Kelahiran Berulang ;
  • menerima alam Dewa & alam Brahma ;
  • mengajarkan “Perhatian Murni” dan pentingnya mengembangkan    kebijaksanaan untuk memahami hakikat kebenaran dan
  • menerima tujuan umum mengakhiri penderitaan dan mencapai Nirwana.

 

C.     AJARAN BUDDHA DI BARAT

Agama Buddha, agama yang tumbuh paling pesat di Barat. Sifat ajaran yang menarik minat orang barat, yaitu  Ehipassiko. Masuknya agama Buddha ke barat diawali orang-orang Perancis, Belanda, Inggris mulai melancong ke Timur belajar Dhamma lebih dari seabad yang lampau. Selain itu dorongan perkembangan ini adalah umat Buddha Timur mengungsi ke Barat, seperti : orang Tibet dan Vietnam, mereka membawa dharma. Praktik Buddhis yang menarik orang barat, yaitu Meditasi. Jalan yang diikuti: One Dharma

 

D.    BUDDHAYANA

Buddha menunjukkan jalan dengan 3 wahana (triyana), yaitu : Sravakayana, Pratyekabuddhayana dan Bodhisattvayana. Seluruh dharma itu hanyalah satu kendaraan (Ekayana), yaitu Buddhayana (Saddharmapundarika-Sutra II). Jalan yang berkembang di barat: ”One Dharma=  Non-Sektarian  = Ekayana = Buddhayana. Buddhayana bukan sekte baru, melainkan wadah pemersatu berbagai tradisi buddhis yang sudah ada.

Perkembangan ajaran Buddha di Indonesia, yaitu dimulai dengan kedatangan dari Ajisaka

         aji  --- bahasa kawi = ilmu kitab suci

         saka --- berasal dari sakya

jadi, ajisaka  artinya ahli dalam kitab suci, sakya / ahli buddha dharma. Ajisaka merupakan gelar  u/ raja Tritustha. Dalam legenda masyarakat jateng tentang perang dasyat antara ajisaka  dengan raja  dewoto cengkar ( dewoto = dewa,  cengkar = jahat ) = dewa jahat  ( avidya ). Sehingga dapat dikatakan perang tersebut, merupakan perang antara Buddha Dharma melawan kejahatan / kebodohan (avidya)

 

Siapa Ajisaka ?” Beliau bukan hanya ahli dalam Buddha Dharma, tetapi juga seorang ahli astronomi dan ahli sastra disamping sebagai dharmaduta, beliau juga memperkenalkan aksara dan penanggalan tahun Saka (Candrasengkala), yaitu :


"ha – na – ca – ra – ka,

da – ta – sa – wa(ga) – la,

pa – da – ja – ya – nya,

ma – ga(nga) – ba(tha) – tha(ba) – nga(wa)"


"Ada abdi, sama-sama memegang surat (titah), sama-sama jayanya, dan sama-sama gugur".

 

dhura & sembada “ nir wuk tanpa jalu “. nir = kosong, wuk = tidak jadi, tanpa=0 jalu =1.  jadi 0001, menurut tahun saka = 14 maret  tahun 78 masehi

 

Perkembangan Agama Buddha di Indonesia, yaitu :

a.       Abad I, ditandai kedatangan Ajisaka

b.      abad II, III, IV, menurut catatan Fa-Hien  pada saat itu di Jawa agama Buddha sudah ada dan kedatangannya. Pada saat itu banyak membawa rupang dan kitab agama buddha

c.       abad V, VI,  bukti perkembangan agama Buddha dari prasasti Purnawarman di Jawa Barat dan Mulawarman di Kalimantan

d.      Abad VII, VIII, jaman keemasan agama Buddha, ditandai dengan pendirian candi Borobudur

e.       Abad VIII, IX, berdiri kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Menurut catatan It Shing pernah datang dan belajar.

f.        Abad XI,  Atisa Dipankara, seorang bhikkhu yang punya latar belakang pengajaran Tantrayana, berguru  pada Serlingpa Dharma Kirti di Sriwijaya.

g.       tahun 1100 – 1478, berdiri kerajaan-kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit dan akhirnya Majapahit runtuh - kerajaan Islam berdiri agama Buddha hilang dari peredaran, dan tidak pernah di bicarakan, hanya peninggalan berupa candi candi yang masih dikagumi kebangkitan agama Buddha

h.       abad XX tahun 1929, orang Belanda yang beragama Buddha membentuk Java Buddhist Association (orientasi Theravada). Presiden pandita Josias (upasaka I yang datang di pulau Jawa) banyak berinteraksi di klenteng dengan bhiksu-bhiksu yang di klenteng dan niko-niko.

i.         tahun 1934, bhikkhu narada thera datang ke Indonesia. Pada tanggal 4 Maret (seorang Dharmaduta Buddhis terkenal dari Srilangka) pulau Jawa pertama kalinya dikunjungi bhikkhu Theravada. Penanaman pohon Bodhi di candi  Borobudur. 10 Mei terbentuk Batavia Buddhist Association (condong ke Mahayana). Pada tanggal 23 januari 1923, di Bogor, lahir bayi laki-laki. Ayahnya Tee Hong Gie, ibu Tan Sep Moy. Anak tersebut diberi nama Tee Boan An mempunyai 2 (dua) kakak laki-laki.  Ibu meninggal, saat Boan an usia 20 tahun. Pada tahun 1946  Tee Boan An nekat ke Belanda. Boan An  kuliah, sering ikut ceramah Theosofi sempat ke Perancis mengikuti ceramah Krisnamurti (praktisi spiritual). Beliau melanjutkan perjalanan ke Belanda dan semakin mantap menempuh jalan spiritual. Pada tahun 1951 pulang ke Indonesia. Beliau mengunjungi teman-teman dan diangkat jadi ketua gabungan Sam Kauw Indonesia. Jabatan ini membuatnya lebih mudah menyebarkan ajaran Buddha. Beliau pernah menjadi guru di Sariputra Jakarta. Memutuskan jadi pelayan Buddha (anagarika) berkenalan dengan Ananda Suyono dan Parwati tahun 1953 melempar ide mengadakan waisak secara nasional di borobudur, dengan membagikan undangan ke pejabat dan wakil Negara. Perayaan waisak mendapat dukungan dari theosofi dan orang-orang Sam Kauw Waisak 2497, 22 mei 1953 adalah sebagai shock therapy, membuat orang tercengang menyadarkan orang, bahwa dulu ajaran Buddha pernah berjaya  dan umatnya masih ada. Hari-hari Tee Boan An memberikan ceramah ke Jawa Tengah–Jakarta di Jakarta sering ke klenteng Kong Hoa Sie (vihara silsilah C’han) ada suhu Pen Chin yang berdiam di sana.  (Pen Chin dalam silsilah  vihara tersebut termasuk pimpinan dan dipercaya telah mencapai kesucian). Boan An disarankan untuk mencukur rambutnya. Boan An menjadi samanera menurut  tradisi C’han diberi nama Ti Chen, (hadir saat itu maha biksu Ju Sung, biksu Ju Khung, biksu Cen Yao, biksu Wu Ching). Sramanera Ti Chen, Maha biksu Pen Ching mencarikan dana u/muridnya agar dapat ke luar negeri guna menjadi biku karena di Indonesia keberadaan biku sangat kurang. Desember 1953 sramanera berangkat ke Birma (ongkos pesawat ditutupi oleh dana yang dikumpulkan biksu Pen Ching dan sahabatnya Ong Tiang Biauw, sramanera Ti Chen, maha biksu Pen Ching mencarikan dana u/muridnya agar dapat ke luar negeri guna menjadi biku karena di Indonesia keberadaan biku sangat kurang. Desember 1953 sramanera berangkat ke Birma (ongkos pesawat ditutupi oleh dana yang dikumpulkan biksu Pen Ching dan sahabatnya Ong Tiang Biauw. Sramanera Ti Chen – Burma mengikuti latihan meditasi vipasana dipusat meditasi Mahasi Sasana Yeikhta, Rangoon. perkembangan yang pesat menarik perhatian dari Mahasi Sayadaw,  sehingga menunjuk bhikkhu  Nyanuttara Sayadaw untuk membimbing secara khusus. Pada   23 Januari 1954 sramanera Ti Chen Di tahbiskan sekali lagi secara Theravada      menjadi seorang samanera. Guru spiritualnya YA. Agga Maha Pandita untuk Ashin Sobhana mahathera (Mahasi Sayadaw) diberi nama Jinarakkhita, dan mendapat gelar Ashin. Ashin = gelar u/menunjukkan orang yang                    memakainya sbg bhikkhu yg patut dihormatii. Sedangkan Jinarakkhita = orang yg pantas dilindungi dan diberkahi Buddha. Bhikkhu Ashin Jinarakhitta membentuk PUUI (Persaudaraan Upasaka – Upasika Indonesia) di Semarang Juli 1955 (Asadha). Selanjutnya melakukan pentabisan biku dengan mengundang biku dari luar negeri sebagai penabis dan beliau sebagai acariya, kemudian membentuk Sangha Sutji Indonesia. Awal perpecahan. Bhikkhu Ashin selalu mengingatkan upaya untuk melestarikan agama Buddha di Indonesia tidak boleh lepas dari dari kebudayaan yang sudah ada, karenanya pembauran dan pluralisme tidak dapat dihindarkan. Pada tanggal 12 Januari 1972 bhikkhu Girirakhito, bhikkhhu Sumanggalo, b. jinapiya (titatetuko), b. jinaratana (pandhit kaharudin), b. subhato (moctar rashid) memisahkan diri – membentuk yang kemudian dikenal dengan sebutan Sangha Theravada Indonesia. Pada tahun 1978 terbentuk Sangha Mahayana Indonesia, dipimpin oleh biksu Dharmasagaro akibat beliau berselisih dengan cucu murid bhikkhu ashin namun bhiksu Dharmasagaro tetap menganggap b. Ashin adalah gurunya. Kemudian Maha Sangha Indonesia dikenal dengan sebutan Sangha Agung Indonesia.

j.        tahun 1980, b. Ashin melihat umat Buddha mulai terkotak-kotak, tetapi biku Ashin tetap mempertahankan konsep wahana Buddha (Buddhayana) yang kemudian dikenal sebagai Ekayana (di barat), hal ini sekaligus merupakan pengejawantahan “Bhinneka Tunggal Ika” yang merupakan sila pertama dari pancasila yang merupakan dasar negara kita indonesia. Dengan pendekatan konsep ini umat buddha diharapkan dapat belajar masing-masing yana tanpa mencemooh satu dg yang lain , lalu mereka boleh memilih mana yg akan didalami guna menunjang praktek mereka yang penting tujuan utamanya mencapai tujuan akhir Nibbana

 

E.     TOKOH-TOKOH YANG MEMILIKI SEMANGAT BUDDHAYANA DAN PANDANGAN-PANDANGANNYA

  1. Thich Nhat Hanh, bermacam-macam obat diperlukan u/ menyembuhkan berbagai penyakit, ajaran buddha juga membuka pintu pintu dharma yang sesuai bagi setiap orang dengan keadaan yang berlainan. Meski pintu-pintu itu berbeda, antara orang satu dengan yang lain, mereka semua adalah pintu dharma
  2. dr. K. Sri Dhammananda, “pengikut Buddha sejati dapat menjalankan ajaran agama tanpa melekat pada aliran atau sekte apapun. kemelekatan membuta adalah suatu hal yang menunjukkan ketidak pahaman kita akan konsep dasar ajaran buddha itu sendiri”
  3. Maha Biksu Hsing Yun dari Buddha Light International Association (BLIA) “masa depan dapat merupakan dunia paling harmonis, adalah dunia Buddhayana”
  4. Dhammacari Lokamitra, Friend of Western Buddhist Order (FBWO), kami adalah non sekterian dalam arti bahwa kami mempergunakan ajaran – ajaran dari berbagai sekte agama buddha sejauh ajaran – ajaran tersebut relevan dan praktis dengan situasi dimana kami mempraktekkan dharma.
  5. Bhikkhu Dharmawiranatha, “Buddhayana bertujuan mencapai suatu perpaduan, antara inti sari ajaran dengan pola hidup dan kebudayaan seseorang.“

“konsep buddhayana bertujuan untuk memperlihatkan pentingnya menghindari pengelompokan dan sekterianisme.”

 

F.      PROSPEK BUDDHAYANA

         keinginan punya lambang persatuan yg diterima ketiga mazhab, sehingga muncul bendera Buddhis Internasional (1885) ;

         Tahun 1943 di London terbit majalah Buddhis Internasional “the Middle Way” yang tidak memandang mazhab.

         Tahun 1950 berdiri WFB (Wolrd Fellowship of Buddhist), dalam WFB lebih dari 25% organisasi atau institusi memiliki semangat Buddhayana. mereka memakai istilah non sekterian, intersekterian, menerima segala tradisi, terbuka untuk semua sekte, tidak berafiliasi dengan sekte

         WBSC (World Buddhis Sangha Council) pada tahun 1966 yg menghimpun semua mahzab dalam kongres dunia i dari WBSC di Colombo 1967, telah disepakati dengan bulat rumusan prinsip dasar agama Buddha, baik Theravada, Mahayana (termasuk Tantrayana) mempunyai prinsip yang sama. perbedaan-perbedaan mengenai tata kehidupan biku, adat dan kepercayaan buddha lokal, upacara, tradisi, dan  kebiasaan hanyalah wujud luar, tidak boleh dianggap sebagai ajaran Buddha

         the third annual internasional Buddhist seminar di New York (1974) mencetuskan harapan perserta seminar untuk tidak mengklasifikasikan ajaran Buddha ke dalam bermacam-macam yana. harapan ini disambut oleh dr.buddhadasa kirtisinghe, ketua seminar yang mengusulkan sebutan “Ekayana atau Buddhayana”

         dr. Ananda W.P Guruge yg bekerja di unesco dalam ceramahnya “Universal Buddhisme” menyatakan “ saya meramalkan timbulnya kecenderungan – kecenderungan baru  dalam agama buddha di barat. interaksi yg rapat dari berbagai aliran dan sekte yang berbeda akan berakibat saling mempengaruhi. pakar-pakar barat telah menyuarakan bahwa mereka lebih menginginkan suatu bentuk agama buddha yang menggabungkan ketiga tradisi dari theravada, mahayana, tantrayana.

Kita mendengar istilah Triyana dan Buddhayana maupun ekayana sebagai nama dari agama buddha. “kita seharusnya tidak merendahkan perkembangan alamiah ini, karena beginalah sebenarnya bagaimana ajaran buddha berkembang selama 2500 tahun terakhir ini.”