Dharma Buddha

BAGAIMANA MENGEMBANGKAN KEBIJAKSANAAN

Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan apa yang baik, apa yang tidak baik, apa yang terpuji, apa yang tercela dan apa yang didukung oleh para bijaksana dan apa yang dihindari.

Untuk mengetahui sesorang termasuk dalam kategori bijaksana atau tidak, hal ini dapat kita lihat dari percakapannya, setelah waktu yang lama, bukan sesaat, dari perhatian dekat, bukan tanpa perhatian, oleh orang yang bijak dan bukan oleh orang yang biasa.

Ketika kita bercakap dengan seseorang, kita dapat mengetahui, “Dilihat dari cara orang ini memeriksa, merumuskan dan mengemukakan masalah, dia adalah orang yang bijaksana, bukan orang biasa. Mengapa ?” Dia menyampaikan kata-kata yang dalam, menenangkan, luhur, melampaui penalaran biasa, halus, dapat dipahami oleh para bijaksana.

Ketika berbicara tentang Dharma, dia mampu menjelaskan artinya, baik secara singkat maupun terperinci. Dia adalah orang bijaksana bukan orang biasa.

Seperti halnya, bila orang yang baik penglihatannya berdiri di tepi kolam, dia akan melihat ikan besar muncul dan berpikir, “Dilihat dari cara munculnya, dari riak yang disebabkan ikan tersebut dan dari kecepatannya. Ini adalah ikan besar bukan ikan yang kecil.  Demikian pula ketika bercakap dengan seseorang kebijaksanaannya dapat dilihat.

Lalu bagaimana caranya kita mengembangkan kebijaksanaan tersebut. Dalam Dharma disebutkan ada empat hal, yaitu :

Pertama, bergaul dengan orang yang hebat. Dengan bergaul dengan orang yang hebat, maka kita pun akan dimotivasi untuk menjadi orang yang besar, orang yang berhasil dan sukses. Selalu mengejar kemajuan. Karena mereka memiliki cara untuk mengapai keberhasilan tersebut.

Kedua, mendengarkan Dharma yang dapat membuat kita mengerti apa yang benar dan apa yang salah, apa yang dapat membawa kita pada kebahagiaan dan apa yang dapat membawa kita pada penderitaan. Sehingga kita mengetahui semua itu secara betul. Semula kita tidak mengerti menjadi mengerti dan mendalaminya.

Ketiga, perhatian yang benar membawa kita kepada kewaspadaan. Sehingga kita menyadari betul apa yang kita lakukan. Setiap aktivitas hidup menjadi lebih bermakna dan berharga. Karena kita menyadari terus apa yang kita lakukan maka kita akan memperoleh pengertian dari setiap pengalaman yang kita hadapi tersebut.

Kita tidak menjadi patah semangat dan kecewa terhadap semua perubahan penomena, karena kita penuh kewaspadaan. Tidak membiarkan indera kita terlena atau terbawa pada nafsu keinginan, keserakahan dan kebodohan.
Keempat, Praktek sesuai dengan Dharma yang telah diajarkan dengan sempurna oleh guru junjungan kita. Dharma tersebut terbuka untuk diuji, dipelajari, dipraktekkan dan diselami oleh siapa pun yang berminat untuk hal tersebut.

Praktek Dharma membawa kebahagiaan dan pencerahan pandangan. Karena Dharma tersebut berisikan kebenaran berlaku bagi setiap makhluk di tiga puluh satu alam kehidupan ini.

Dari hal-hal tersebut untuk menjadi orang bijaksana kita tidak harus tua. Tetapi dalam keadaan bagaimana pun selama kita memiliki keinginan untuk maju. Dengan berpedoman pada prinsip tersebut, maka kita akan mudah untuk mengapainya

Dengan kebijaksanaan tersebut, kita dapat mengerti hakikat kebenaran hidup dan akan menghargai kehidupan itu sepenuhnya. Kita tidak akan lalai menghamburkan waktu dengan aktivitas yang tidak membawa pada kemajuan rohani dan batin. Kita akan terhindar darin pergaulan yang buruk yang membawa pada kehancuran.

Umumnya kita menjumpai orang berdiam dengan hati yang dipenuhi ketamakan, keserakahan, niat yang jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahaan dan kecemasan dan dengan keraguan melakukan kegiatan apa yang seharusnya dihindari dan memperhatikan apa yang harus dikerjakan. Sebagai akibatnya kemasyuran dan kebahagiaannya menurun.

Ketika kita mampu memahami secara benar bahwa sifat-sifat tersebut merupakan kekotoran pikiran, dia meninggalkannya. Sebaliknya melakukan tindakan-tindakan luhur yang membawa pada kemajuan dan pencerahan. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 
Empat Arti Tao

I. Tao sebagai Tao.

Tao tidak berbentuk, merupakan "Sesuatu" yang sudah ada sebelum semuanya ada.

Arti Tao sulit dipahami, artinya sangat luas sehingga sulit diterangkan secara jelas dan rinci melalui sebuah kalimat atau kata-kata.

Arti Tao yang paling sederhana adalah "Jalan". Ada juga yang mengartikannya "Kelogisan", "Hukum", "Pedoman" atau "Aturan".

Tao adalah "Sesuatu" yang mendasari dan berada dibalik segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini.

Kenapa bumi berputar mengelilingi matahari?
Kenapa bumi mempunyai gaya gravitasi?
Kenapa oksigen dan hidrogen bisa membentuk senyawa menjadi air / H2O?
Kenapa air pada suhu 100C mendidih lalu menguap menjadi gas dan kenapa air pada suhu 0C membeku menjadi es?

Semuanya ada "Hukum"-nya, ada "Aturan"-nya, ada "Pedoman"-nya, ada "Kelogisan"-nya dan ada "Jalan"-nya. Semuanya karena Tao.

Ikan berenang di air, tetapi tidak mengetahui adanya air.
Burung terbang menunggangi angin, tetapi tidak mengetahui adanya angin.
Manusia berada dalam Tao, tetapi tidak mengerti apa itu Tao.


II. Tao sebagai filsafat Tao.


Filsafat Tao sangat populer, kitabnya yaitu Dao De Jing / Tao Tek Cing sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Isinya sangat padat dan sulit dipahami. Kitab tersebut adalah karya Laozi, seorang Nabi Agung Tao.

Kitab ini tidak hanya digunakan oleh kaum Tao saja, tetapi ada beberapa aliran agama dan spiritual yang juga ikut mengambil manfaat dari kitab ini.


III. Tao sebagai agama Tao.

Sebagai suatu agama, Tao merupakan agama yang tertua. Sejarah ajarannya dimulai dari Hwang Tee (Oei Tee), kurang lebih 2698SM - 2598SM, dipopulerkan dan berkembang ditangan Laozi dan diwujudkan sebagai agama oleh Zhang Dao Ling (Cang Tao Ling).


IV. Tao sebagai suatu spiritual.

Pedoman Tao yang selalu harmonis dan seimbang sesuai dengan lambangnya Yin Yang, menjadikan spiritual Tao tidak hanya memperhatikan masalah kerohanian saja, melainkan juga keduniawian. Melatih raga dan sukma, menggabungkan ilmu pengetahuan dengan agama. Diibaratkan berjalan dengan dua kaki, tidak pincang.

Jika tidak ada langit, mana mungkin ada bintang.


Bagaimanakah caranya mempelajari Tao?

Itulah tugas anda!
EMPAT KEDIAMAN LUHUR 

Metta
Peresapan kediaman luhur dari sifat metta, yaitu cinta kasih yang sifatnya universal.
Semoga saya berbahagia, semoga saya terbebas dari penderitaan, semoga saya terbebas dari kebencian, semoga saya bebas dari penindasan, semoga saya bebas dari kesulitan, semoga saya dapat menjaga kebahagiaan saya sendiri.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia, semoga semua makhluk bebas dari kebencian, semoga semua makhluk bebas ari penindasan, semoga semua makhluk bebas dari kesulitan. Semoga mereka dapat menjaga kebahagiaannya sendiri.

Kebencian tidak akan berakhir kalau dibalas dengan kebencian. Kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih.

Dalam Karania Metta sutta cinta kasih diilustrasikan bagaikan seorang ibu yang merawat anak tunggalnya, meskipun harus mengorbankan hidupnya sendiri. Demikian hendaknya memelihara cinta kasih. Yang tidak terbatas dan perasaan suci kepada semua makhluk.

 Karuna
Semoga semua makhluk terbebas dari segala penderitaan.
Menurut Visudhi Magga, setiap orang hendaknya berusaha untuk memiliki perasaan kasih sayang pada saat menyaksikan sesuatu yang menimbulkan perasaan belas kasihan.

Mudita
Semoga semua makhluk tidak melenyapkan kebahagiaan yang telah mereka peroleh

Upekkha
Semua makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya sendiri, berhubungan dengan karmanya sendiri, terlindung oleh karmanya sendiri. Karma baik atau buruk yang telah mereka lakukan, mereka sendiri juga yang akan menjadi pewarisnya.

Pengembangan sifat Upekkha dapat kita lihat dalam kitab Sutta Pitaka, Digha nikaya, Buddha bersabda, “O, Para Bhikkhu, janganlah kalian marah, benci atau emosi apabila ada orang yang menjelek-jelekkan Dharma. Kilian tunjukkan bahwa hal tersebut tidak ada dalam Dharma. Apabila kalian emosi, marah atau benci dapat menghalangi latihan.

Sebaliknya apabila ada orang yang mengagung-agungkan, memuji Dharma, jangalah kalian menjadi begitu bergembira, bersuka cita, meluapkan hawa nafsu. Klaian tunjukkan memang hal tersebut terdapat dalam Dharma. Apabila kalian terlalu gembira dan meluapkan emosi hal ini dapat mengganggu latihan.

KELAHIRAN BUDDHA UNTUK KEBAHAGIAN SEMUA MAKHLUK


Jangan Berbuat jahat, tambahkan kebajikan dan sucikan hati dan pikiran. Inilah inti ajaran para Buddha.

Kelahiran seorang calon Buddha memerlukan kondisi yang sesuai, yaitu: apakah sudah tiba waktu yang tepat baginya untuk dilahirkan kembali, keadaan benua, negara, keluarga, ibu, waktu dalam rahim, bulan kelahiran dan waktu untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

Selain itu dalam Milinda Panha disebutkan, tidak mungkin ada kelahiran dua Buddha secara bersamaan. Karena bumi ini tidak mampu untuk menahan beban kebajikan mereka berdua.  Bumi akan bergetar, bergoyang dan hancur. Seperti : orang yang telah makan begitu banyak sehingga tidak ada tempat lagi yang tersisa di perutnya lagi. Dia tidak akan merasa nyaman. Jika dia makan lagi maka dia akan mati.

Seorang Buddha memiliki 32 (tiga puluh dua) tanda-tanda fisik, yang merupakan hasil kesempurnaan dari perbuatan kebajikan sebelumnya. Seperti apa yang kita ketahui apa yang kita tabur, demikian pun hasilnya. Perbuatan kebaikan akan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya perbuatan jahat menimbulkan penderitaan.
Kesucian yang direalisasi merupakan suatu pencapaian atas usaha yang luar biasa. Selama kehidupan beliau selalu melakukan kebajikan. Seperti Pada saat masih kecil, sifat kebajikan ini dapat kita jumpai pada kisah seekor burung pelipis yang ditembak oleh sepupuhnya. Melihat hewan yang tidak berdaya, beliau merawatnya dengan baik.

Sampai saat dewasa saat mengelilingi istana. Sebagai putra Mahkota, Beliau melihat ada orang yang sakit, tua dan mati. Membuat dirinya tidak bisa diam begitu saja menghadapi kenyataan tersebut.

Pada saat melihat pertapa niat kebajikan ini pun diperkuat dengan meninggalkan segala harta, kekayaan dan pewaris tahta. Menempuh kehiudpan sederhana sebagai seorang pertapa. Ini beliau lakukan demi kebahagiaan semua makhluk.
Pada saat pencapaian pencerahan, dengan lantang beliau menyuarakan kemenangan, sebagai berikut :

“Dengan sia-sia aku mencari pembuat rumah ini. Berlari berputar-putaran dalam lingkaran tumimbal lahir. Menyakitkan tumimbal lahir yang tiada habis-habisnya. O, Pembuat rumah, sekarang telah ku ketahui. Engkau tak akan dapat membuat rumah lagi. Semua atapmu telah kurobohkan. Semua sendi-sendimu telah kubongkar. Batinku sekarang mencapai keadaan Nibbana dan berakhirlah s emua nafsu-nasu keinginan.

Syair ini merupakan pekik kemenangan

Tidak hanya berhenti disitu saja, namun Beliau dengan cinta kasih dan kasih sayang terus membantu memecahkan problema kehidupan manusia dan dewa. Perjuangan ini tidak membeda-bedakan apakah pengikutnya bangsawan atau rakyat jalata, orang kaya atau orang miskin, orang pandai atau bodoh, orang terhormat atau orang biasa. Belaiu memperlakukan dengan adil dan bijaksana. Semua beliau menyambut dengan pancaran cinta kasih dan kasih sayang.

Apalagi pada saat itu perbedaan tingkat kehidupan yang terjadi di masyarakat begitu tinggi. Beliau tidak membeda-bedakan. Bahkan beliau terima semua sebagai muridnya. Pada saat tersebut, beliau pun tidak membeda-bedakan gender. Semua memiliki kesempatan yang sama dalam pencapaian kebenaran.
Dharma yang dibabarkan tersebut adalah kebenaran yang hakiki. Berlaku bagi siapapun yang hidup dan terlahir di tiga puluh satu alam kehidupan.
Apabila kita lihat kebiasaan Buddha, setiap pagi dengan sikap meditasi beliau menelusuri kehidupan. Apakah ada orang yang siap untuk merealisasi kebenaran dan berada di mana.

Meskipun Dharma ini berlaku dan terbuka bagi siapapun. Namun tidak semua orang dapat menerima dan mau melaksanakan apa yang telah beliau babarkan. Hal ini disebabkan nilai praktek dan pemahaman setiap orang berbeda-beda. Semua itu tergantung dari tekad dan semangatnya masing-masing. Sehingga amatlah wajar apabila disebutkan Dharma ini untuk orang bijaksana yang dapat mengerti dan memahami hidup ini senyatanya.

Kebanyakan dari kita selalu hidup diluar diri kita sendiri. Apalagi kalau kita kaitkan dalam pencapaian kebahagiaan dan kekayaan. Kita terkadang lupa untuk menggali potensi yang kita miliki. Dharma ini akan memiliki manfaat yang begitu luar biasa, apabila mereka yang mendengar, mempraktekkan dan merealisasi sendiri. Penegasan betapa pentingnya Dharma dapat kita jumpai, saat Buddha mau memasuki Maha Parinibbana (meninggal dunia), beliau bersabda kepada murid-muridnya untuk menjadikan Dharma sebagi pelindung dan pelita kehidupan. Semoga kita selalu berada dalam Dharma yang akan membawa kita kemajuan. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

KELAHIRAN SEBAGAI MANUSIA ADALAH SUATU BERKAH


Daripada hidup seratus tahun yang penuh perbuatan jahat dan pikiran yang tidak terkendali, lebih baik hidup satu hari yang penuh dengan perbuatan baik dan pikiran yang terkendali (Dhammapada VIII : 110)

Ada hal yang menarik untuk kita simak, yaitu iklan yang ditanyakan oleh suatu stasiun Televisi swasta. Di sana terlihat seekor kera yang seakan-akan sedang berpikir sambil mengarut-garutkan kepala dan ada suatu kalimat tertulis, “Sungguh sulit menjadi manusia.”

Kalau kita perhatikan dengan seksama memang demikian adanya. Bagaimana mungkin dapat menjadi manusia, karena ia adalah seekor kera. Alamnya sendiri sudah berbeda.

Namun yang paling aneh adalah pernyataan yang sering terdengar dari kita, saat kita menghadapi masalah. Kita berkata, “Sungguh sulit menjadi manusia !” Pernyataan ini benar-benar sangat aneh dan janggal. Karena kita sudah menjadi manusia. Bagaimana akan mengalami kesulitan menjadi manusia.

Dalam Dharma disebutkan kelahiran sebagai manusia merupakan suatu berkah Utama. Karena untuk terlahir sebagai manusia itu memerlukan proses yang panjang dan perjuangan yang begitu panjang.

Sehingga tidaklah aneh kalau kita lihat sepintas lalu, tampak keberadaan manusia itu jauh lebih sedikit daripada hewan-hewan yang ada di sekitar kita. Apalagi kalau saat musim penghujan dan kita berada di daerah yang masih banyak tanaman dan pohon-pohonan. Kita akan melihat banyak sekali laron-laron yagn berterbangan dan mati. Jumlahnya bisa jutaan.

Sebetulnya terlahir di alam manusia, kita memiliki 8 (delapan) kebebasan, yaitu : terbebas dari kelahiran di alam neraka yang mengalami penderitaan dan tersiksa dalam masa yang panjang, terbebas dari kelahiran di alam hewan mengalami kebodohan dan ketakutan, terbebas dari alam hantu yang mengalami kehausan dan kelaparan, terbebas dari kelahiran di alam Dewa meskipun usia panjang tetapi tidak dapat merealisasikan Dharma.

Terbebas dari kelahiran dimana tidak ada ajaran agama. Sehingga memungkinkan kita mengenal Dharma dan mempraktekkannya. Apabila kita perhatikan dengan seksama ada tempat dimana ada ajaran agama namun aturan kenegaraan tidak memungkinkan pengakuan atas ajaran agama, bahkan mereka yang melaksanakannya akan mendapat hukuman dan siksaan. Ada pula tempat dimana tidak ada ajaran sama sekali sehingga kita tidak akan mengenal kebenaran lebih jauh.

Terbebas dari tempat tidak ada ajaran Buddha. Meskipun kita terlahir di tempat ada ajaran agama namun tidak ada orang yang mempraktekkan dan mengajarkan Dharma tersebut. Sehingga menyulitkan kita untuk mengmbangkan batin.

Terbebas dari fisik dan mental yang tidak sempurna. Cacat fisik atau cacat mental semata bukan halangan. Tetapi kalau mengalami keduanya tidak memungkinkan kita untuk mendengar, mempraktekkan dan merealisasi ajaran sepenuhnya.
Terbebas dari pandangan salah yang menghalangi kita untuk mengembangkan dan mempraktekkan Dharma lebih jauh. Malahan membuat kita semakin terperosok ke dalam penderitaan.

Sehingga dengan demikian alangkan beruntungkan kita terlahir dengan keadaan yang sempurna dan terbebas dari 8 (delapan) kebebasan tersebut.

Bahkan sebagai manusia kita diberkahiri 10 (sepuluh) kesempatan, yaitu : terlahir sebagai manusia yang memungkinkan kita melakukan banyak hal yang berfaedah dan bermanfaat bagi perkembangan batin, terlahir di daerah yang mana Dharma berkembang, terlahir dengan keadaan fisik dan mental yang sempurna, tidak melakukan lima macam perbuatan jahat yagn berat, yaitu membunuh Ibu, membunuh ayah, melukai seorang Buddha, membunuh seorang Arahat dan memecah belah sangha, terlahir dan memiliki keyakinan kepada Triratna (tiga mestika).

Terlahir di tempat di mana ajaran Buddha masih ada, terlahir pada Buddha masih mengajarkan ajaran. Karena ada kemunculan Buddha tetapi Buddha tersebut tidak mengajarkan Dharma. Terlahir ditempat dimana ajaran Dharma yang benar masih ada. Terlahir di tempat dimana orang-orang masih melaksanakan Dharma. Terlahir dimana masih banyak pemerhati dan pendukung Dharma.  

Dengan memahami delapan kebebasan dan sepuluh kesempatan, karena terlahir sebagai manusia yang luar biasa di banding dengan kesempatan makhluk-makhluk lainnya. Kita dapat memanfaatkan kehidupan ini secara maksimal dan dapat menghargai kehidupan ini sepenuhnya.

Setiap waktu yang kita lalui akan memiliki nilai manfaat baik bagi diri kita sendiri maupun makhluk-makhluk lainnya. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

KEKUATAN PIKIRAN


Segala keadaan adalah hasil dari apa yang telah dipikirkan dan dibentuk oleh pikiran. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati yang mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya. (Dhammapada)

 

Dharma yang telah dibabarkan Buddha begitu sempurna. Mengandung keindahan yang luar biasa, yaitu indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya. Mengudang siapa saja untuk mempelajari, meneliti, membuktikan dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dharma tersebut tidak ada yang dirahasiakan atau ditutup-tutupi, semua telah dibuka oleh Buddha yang Maha Suci dan Maha Sempurna, guru para dewa dan manusia. Sehingga siapapun yang mendengar, mempelajari dan melaksanakan akan memperoleh hasil yang sama, yaitu kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun kebahagiaan yang akan datang.

Kebahagiaan yang diharapkan dari pemahaman dan praktek dharma adalah tergantung dari diri sendiri, tergantung dari cara mempergunakan pikiran. Kebanyakan orang tidak terlatih dalam cara berpikir. Mereka membiarkan pikiran bebas begerak tanpa terkendali. Sehingga membuat mereka menjadi tidak sadar dan tidak waspada terhadap apa yang dilakukan.

Bagaimana pun kita harus memahami apa yang kita pikiran tersebut akan menentukan apa yang akan kita lakukan maupun apa yang akan kita ucapkan. Apabila pikiran kita tersebut dibiarkan berpikir secara negatif maka akan membawa kepada perilaku negatif baik lewat ucapan maupun perbuatan. Dengan perilaku negatif tersebut akibat yang terjadi adalah penderitaan dan ketidakbahagiaan.

Kita perlu memahami pula, kita adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Bukan ditentukan oleh orang lain. Adalah tidak tepat kalau kita mengalami kegagalan atau pencapaian yang tertunda kita menyalahkan orang lain. Apa yang kita kehendaki dan mau kita apakah tujuan hidup ini semua tergantung diri kita. Kita yang menentukan sendiri. Apakah kita mau menjadi seorang pemimpin, wiraswasta, seorang professional atau pengusaha. Semua tergantung dari cara kita berpikir. Jadi, dari cara berpikir benar tersebut akan menentukan apa yang hendak kita lakukan.

Begitu pula kita tidak dibentuk oleh lingkungan sekitar kita sepenuhnya. Lingkungan sekitar hanya menciptkan kondisi dan akan berpengaruh apabila kita mengikuti system dan cara kerjanya. Sebaliknya kalau kita mampu dengan pikiran terkendali. Dimana pun kita berada kita akan mampu untuk mempertahankan kebahagiaan.

Meskipun orang tersebut hidup di daerah yang tidak mendukung perbuatan baik. Dimana-mana terdapat perbuatan tercela. Kalau orang tersebut mampu mempertahankan cara berpikir baik maka dia tidak akan menjadi orang yang jahat.

Memang apabila menghadapi keadaan tersebut sebagian orang menyebutnya sebagai keadaan yang sangat sukar dan butuh komitmen kebaikan yang tinggi.

Kembali lagi kepada prinsip cara berpikir dan kekuatan pikiran bahwa sukar atau mudah adalah cara kita berpikir. Apabila kita menganggap sesuatu yang kita hadapi, alami atau terima sebagai keadaan yang sulit maka meskipun hal tersebut sederhana atau mudah maka akan menjadi sulit dengan sendirinya pada saat kita menjalaninya.

Kalau kita mengkaji atau menyelami lebih lanjut kebenaran pikiran kaitannya dengan kebahagiaan dan penderitaan. Kita akan menemukan hal yang sangat tipis sekali perbedaannya. Yaitu cara kita berpikir terhadap apa yang kita hadapi tersebut.

Meskipun sebagian orang menganggap sebagai pengalaman hidup yang tidak baik atau menyedikan kalau kita dapat melihat nilai kebaikannya maka kita pun tidak akan menyesali terhadap pengalaman hidup ini.

Jadi, Pikiran baik tidak akan pernah menghasilkan hal yang buruk atau membawa penderitaan bagi si pembuat. Begitu pula pikiran dan perilaku buruk tidak akan menghasilkan kebahagiaan bagi si pembuat.

Kekuatan pikiran itu begitu penting bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Apa pun yang kita pikirkan akan menentukan bobot kebahagiaan atau penderitaan kita sendiri. Pikiran yang diolah dengan baik akan selalu membawa kebahagiaan bagi siapapun juga. Semoga semua makhluk hidup berbahagia

MERAIH HARTA DENGAN ETIKA

Tidak untuk kepentingan diri sendiri, tidak juga untuk kepentingan orang lain ; tidak menginginkan anak, kekayaan atau kedudukan, tidak menginginkan kemuliaan dengan cara yang salah ; demikianlah seseorang hidup sesuai dengan kenyataan, menembus pengertian benar dan berkelakuan baik. (Dhammapada, Pandita Vagga, Bab VI : 84)

Seiring dengan berjalannya waktu, banyak perubahan yang dapat kita jumpai. Kehidupan manusia pun menjadi semakin kompleks. Apalagi kalau mereka hidup di kota, berbagai kesibukan terjadi pada mereka dan berpacu dengan waktu untuk meraih tujuan. Meskipun di jalanan terjadi kemacetan di mana-mana.

Semua aktivitas tersebut mereka lakukan adalah salah satu untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mana semakin ketat dengan persaingan. Apabila tidak hati-hati atau waspada setiap saat bisa tergilas dengan lajunya roda kehidupan.

Banyak cara hidup yang ditempuh oleh orang-orang dan beragam pula mata pencaharian yang ada di sekeliling kita. Ada orang yang menjalani sebagai profesi guru, petani, nelayan, pertenak, pengusaha dan lain-lainnya.

Namun dari semua itu dalam kaca mata Buddhis, orang meraih harta atau dalam memenuhi kebutuhan hidup diarahkan kepada tindakan positif. Maksudnya kita berupaya terus-menerus dalam mengumpulkan harta kekayaan semaksimal mungkin tidak merugikan makhluk lainnya. Batasan dalam hal ini sangat luas, bukan hanya tertuju pada manusia saja.

Ada orang yang menyatakan kalau kita ingin sukses harus mau menerima resiko dan tidak ragu-ragu menyakitkan orang lain. Pandangan tersebut tidaklah benar.

Kalau kita menelusuri orang-orang sukses dan ternama, mereka dalam meraih kesuksesan ternyata tidak sepenuhnya merugikan orang lain. Seperti Bill Gate, pendiri dari perusahaan Mikrosoft, Dia termasuk orang yang berpenghasilan terkaya di dunia saat ini. Dalam mengembangkan usahanya tersebut dia tidak harus menyakiti makhluk lain. Program komputer yang diperkenalkannya begitu bermanfaat bagi siapapun dan sangat membantu kegiatan kita sehari-hari.

Selain itu, kita pun mengenal Thommas Alfa Edison, penemu lampu listrik. Berkat penemuannya kita dapat menikmati. Pada malam hari tinggal menekan tombol ruangan yang semula gelap langsung berubah menjadi terang-benderang. 

Dalam Dharma pun disebutkan ada 5 (lima) mata pencaharian yang dianjurkan untuk dihindari, yaitu : memperdagangkan makhluk hidup, manusia, racun, senjata dan minuman keras.                 

Cara-cara kita mencari nafkah hendaknya tidak menghambat perkembangan rohani kita. Kita tidak dapat menemukan daftar lengkap tentang pekerjaan yang dianggap Mata pencaharian benar, tetapi Buddha memberikan panduan pekerjaan apapun dapat dianggap mata pencaharian yang benar selama tidak membahayakan orang yang  melaksanakan ataupun orang lainnya.

Satu-satunya mata pencaharian benar adalah pekerjaan yang dilakukan orang yang telah mencapai pencerahan sempurna. Seseorang yang telah sepenuhnya menghapuskan segala ketamakan, kebencian dan kebodohan. Tetapi kita yang berada dalam jalan menuju kesempurnaan masih dapat berbuat banyak untuk menjaga keseimbangan kehidupan dan pekerjaan dengan kehidupan rohani.
Semaksimal mungkin kita hindari pekerjaan yang dapat merugikan makhluk lain. Karena bagaimana pun apa yang kita lakukan kita sendiri yang bertanggung jawab atas hasil perbuatan tersebut.

Memang sangatlah sulit, apalagi pekerjaan tersebut merupakan naflkah. Sementara dalam kehidupan rohani, hal ini dianjurkan untuk dihindari. Meskipun demikian ada suatu tatanan yang membuat kita untuk lebih bijak dalam melangka.

Ada suatu rambu yang menarik meskipun kita tetap akan mengalami apa yang kita perbuat. Kalaupun kita tidak dapat menghindar dari perbuatan yang dianjurkan untuk dihindari. Kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk meredam dengan perbuatan baik yang lebih besar. Seperti timbangan kalau satu sisi terlalu berat, maka sisi yang ringan akan mengikuti yang berat.

Kalau perbuatan baik kita besar, meskipun kita harus mengalami efek dari perbuatan tidak baik. Kita tidak akan terpengaruh sepenuhnya dari akibat perbuatan yang terjadi. Semoga dengan pemahaman tersebut, semua makhluk hidup berbahagia.

 
SAHABAT SEJATI
 
Apabila seorang pengembara tidak berhasil menemukan teman yang setara atau lebih baik daripada dirinya, maka lebih baik dia mengembara seorang diri daripada ditemani oleh orang bodoh.

Dalam Sigalovada sutta disebutkan bagaimana kreteria dari seorang teman dikatakan sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat sejati dan seorang sahabat yang sejati. Sutta ini dibabarkan Buddha kepada seorang pemuda bernama Sigala yang ingin menaati pesan ayahnya yang telah meninggal dunia. Dalam sutta ini diuraikan secara panjang lebar apa yang perlu dilakukan oleh perumah tangga. Di antaranya adalah menghindari dari seorang musuh yang berura-pura menjadi sahabat sejati dan sahabat sejati.

Ada empat hal yang harus dipandang sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabatmu, yaitu : orang yang sangat tamak, orang yang banyak bicara tetapi tidak melakukan apa-apa, seorang penjilat, dan seorang pemboros.

Alasan seorang yang sangat tamak harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabatmu, yaitu sangat tamak, memberi sedikit meminta banyak, melakukan kewajiban karena takut dan hanya ingat kepentingannya sendiri.

Alasan seorang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat apa-apa harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabatmu, yaitu : dia mengucapkan kata-kata yang bersahabat mengenai hal-hal yang telah lewat, dia mengeluarkan penyataan bersahabat mengenai hal-hal yang akan datang, dia berusaha mendapatkan kesayanganmu dengan kata-kata kosong tetapi jika saatnya tiba untuk memberikan jasa kepadamu dia menyatakan tidak sanggup.

Alasan seorang penjilat dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabatmu, yaitu : dia membiarkan engkau berbuat salah, dia tidak mengajurkan engkau berbuat baik, di depanmu dia memuji-muji dan dibelakangmu dia menjelek-jelekkan dirimu.

Alasan seorang pemboros harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura sebagai sahabatmu, yaitu : dia menjadi sahabatmu jika engkau menyerah pada minuman keras, dia menjadi sahabatmu jika engkau sering berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak layak, dia menjadi sahabatmu jika engkau sering mengunjungi tempat pelesiran dan dia menjadi kawanmu jika engkau gemar berjudi.

Selanjutnya disebutkan pula ada empat hal seorang sahabat yang harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu penolong, Sahabat diwaktu senang dan susah, sahabat yang memberi nasehat baik dan sahabat yang bersimpati.

Seorang teman yang bersifat menolong harus dipandang teman yang berhati tulus, yaitu : dia menjaga dirimu sewaktu engkau tidak siap, dia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah, dia menjaga dirimu sewaktu engkau ketakutan dan jika engkau mau mengerjakan sesuatu, dia akan membantumu dengan bekal dua kali lipat dari apa yang engkau perlukan.

Seorang sahabat diwaktu senang dan susah yang harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu : dia menceritakan rahasianya kepadamu, tetapi dia merahasiakan rahasiamu, jika engkau dalam kesusahan dia tidak akan meninggalkanmu dan bahkan dia bersedia mengorbankan nyawanya untuk dirimu.

Seorang sahabat yang memberi nasehat baik harus dipadang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu : dia akan mencegah engkau berbuat jahat, dia akan menganjurkan engkau berbuat baik, dia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar dan dia menunjukkan engkau jalan kehidupan surga.

Seorang sahabat yang bersimpati harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu : dia tidak bergembira atas bencana yang menimpa dirimu, dia turut bergembira atas keberhasilanmu, dia mencegah orang lain berbicara jelek mengenai dirimu dan dia menyetujui setiap orang memuji dirimu.

Sebagai sahabat sejati dan menjaga dengan baik seperti seorang ibu menjaga anak kandungnya sendiri. Orang yang bajik dan cerdas bercahaya seperti api yang menyala di atas bukit. Baginya menimbun harta bagaikan kumbang yang menjelajah mengumpulkan madu tanpa menyakiti siapapun juga. Hartanya menumpuk seperti sarang semut yang semakin tinggi.

Semoga dengan pemahaman ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 Delapan Anjuran "Yang Perlu Dipupuk"

Delapan hal yang patut dilakukan dan dibina sepanjang masa adalah:

1. Banyak mendengarkan Tao .
Dari seluruh pelajaran-pelajaran Tao yang sudah diterangkan secara tidak tertulis, berapa banyak yang kita tangkap? Bukan saja hanya mendengar tetapi kita diharuskan menghayati maknanya, sehingga kita dapat maju selangkah. Dan dengan sering mendengarkan Tao maka akan lebih cepat maju kita melangkah.

2. Banyak membaca buku.
Banyak sekali buku yang dapat kita baca, namun yang terpenting adalah mengetahui isi dan makna dari buku tersebut. Dengan sering membaca buku maka dengan sendirinya banyak memiliki pengalaman-pengalaman. Tanamkan banyak membaca.

3. Banyak berdiskusi.
Dengan semakin banyak kita memperoleh pengetahuan-pengetahuan baik yang kita dapat dari membaca maupun mendengar, maka kita juga dianjurkan sering mengadakan diskusi. Dengan demikian kita mempunyai pandangan-pandangan yang lebih jauh terhadap apa yang telah kita peroleh. Dalam berdiskusi kita dituntut untuk selalu bersikap obyektif, dalam arti kita harus dapat menjelaskan pendapat kita, dan dengan berdiskusi akan sering menimbulkan ide-ide atau hal-hal baru.

4. Banyak berlatih.

Berlatih adalah suatu hal yang baik. Hal ini harus kita pertahankan dan jangan tidak berlatih karena alasan tidak ada waktu atau lelah karena seharian bekerja. Padahal kalau kita rajin berlatih akan dapat menghilangkan lelah dan dapat menambah semangat baru.

5. Banyak menyerap.
Disini diumpamakan sebuah hutan yang dapat menyerap banyak air, begitu pula diri kita sebanyak yang kita lihat atau dengar maka kita harus dapat menyerap pandangan-pandangan itu, dengan demikian dapat menambah wawasan pengetahuan, dan kepandaian.

6. Banyak bertanya.
Dalam kehidupan di dunia ini banyak hal yang tidak semuanya kita ketahui. Yang kita ketahui itu terbatas. Banyak bertanya akan mengakibatkan kita mengetahui lebih banyak. Gunakan kesempatan pada saat berdiskusi atau berkumpul untuk mengeluarkan pertanyaan.

7. Menghargai keunggulan orang lain.
Manusia itu tidak dapat menguasai semua bidang. Ada yang bisa dilakukan, ada juga yang tidak bisa dilakukan. Begitu pula dalam hal keunggulan seseorang memiliki perbedaan. Disini kita harus mengerti dan harus bisa menghargai keunggulan yang dimiliki orang lain, bukan melihat orang lain lebih unggul maka kita iri dan benci.

8. Banyak mawas diri.

Dengan mawas diri membuat orang tidak menjadi sombong. Orang menjadi rendah hati, lebih waspada dalam bertindak sehingga tidak sering melakukan kesalahan.

Dalam penggemblengan diri ini, kita mencoba memperbaiki keadaan sekarang agar lebih baik dari sebelumnya, dan ini perlu dilakukan terus menerus.
 
INDAHNYA AJARAN BUDDHA


Daya tarik Ajaran Buddha berkembang dengan Mantap di- seluruh dunia, khususnya bagi mereka yang mencari jawaban di arus globalisasi dari Ideologi yang 
Bertentangan, Perselisihan Fanatik dan Kekerasan Sia-Sia.
 
Jumlah pengikut Ajaran Buddha berkembang dengan Pesat di banyak bagian dunia, teristimewa di Australia, Amerika Serikat dan banyak negara di Eropa.

Sebagian negara di Asia di mana Ajaran Buddha pernah secara paksa digantikan oleh Ajaran Komunisme, sekarang muncul kembali dengan Gilang Gemilang.

Mengapa Ketertarikan terhadap Ajaran Buddha ini bertambah besar dan begitu cepat perkembangannya? Barangkali karena semakin banyak orang yang mengakui fakta-fakta di sekitar Buddhism. Yaitu: 

 
 
Agama Buddha mengedepankan PERDAMAIAN yang sebenarnya dan tidak pernah menganjurkan Kekerasan Apapun di atas namanya. 
 
Ajaran Buddha adalah salah satu Agama Dunia yang Paling Tua. Yang hingga kini, mempunyai Reputasi Terhormat sebagai satu-satunya agama yang belum pernah mempunyai Perang Suci.
 
Tak ada satu Lembagapun yang pernah pergi ke medan perang untuk menaklukkan kafir atau untuk mengubah orang lain menjadi Penganut Ajaran Buddha.
 
Tak seorangpun yang pernah diserahkan kepada pedang, atau dihukum gantung atau dengan kata lain dihukum karena tidak percaya pada Ajaran Buddha.
 
Di antara sekte berbeda Ajaran Budha, ada keramah-tamahan dan kerjasama yang luar biasa.
 
 
Agama yang menekankan Belas Kasih, Penerimaan dan Kebaikan
 
Gerombolan-Gerombolan Kasar dan Pengembara di Asia, diperkenalkan pada Peradaban, Seni, dan kebudayaan.
Alih alih, memaksakan kebudayaan Ajaran Buddha yang Agung dan Luhur.
 
Umat Budha dikenal akan Keteladanan, Kebajikan Hati dan Keramahan mereka, Bersifat Menerima dan Tidak Mengedepankan Cara-cara Penghakiman.
 
Hingga saat ini, Buddhism menyebar ke negeri baru, tidak disebabkan oleh Para Misionaris dengan tujuan Agresif guna mengubah keyakinan orang lain, tetapi biasanya didirikan oleh Inisiatif Orang Lokal yang mempersilahkan atau mengundang Para Guru agar dapat  berbagi ajaran.
 
 
Agama yang menyediakan Jalan Terang untuk perkembangan Rohani dan Pribadi.
 
Ajaran Buddha bukanlah sebuah koleksi Mitos dan Cerita untuk menguji penalaran kita.
 
Juga tidak hadir sebagai misteri yang hanya bisa dimengerti oleh para Biksu, Pandita atau sekelompok orang tertentu yang lebih disukai atau orang–orang Yang Terpilih.
 
Ajaran Buddha hadir sebagai Jalan Terang yang dapat di percaya dan bisa dilakukan siapa saja menurut Pengertian, Pemahaman dan Kemampuannya sendiri.
 
Merupakan suatu metode yang dapat diterapkan, dan memberikan hasil yang bisa dialami dengan segera.
 
 
Agama yang mengajarkan untuk mengambil Tanggung Jawab Penuh atas Tindakan yang dilakukan.
 
Buddhism tidak mencoba menerangkan masalah di dunia sebagai bagian dari rencana misterius Istadewata.
 
Tidak menyalahkan sesuatu pada nasib atau wangsit yang manapun terhadap apa saja yang terjadi, baik atau buruk atas pengalaman hidup yang dialami.
 
Malahan, Buddhism mengajarkan bahwa kita harus bertanggung-jawab untuk hasil tindakan yang telah dilakukan dan sebagai penentu Takdir kita sendiri.
 
Alih–alih menghindar atau lari dari Persoalan Hidup, kita di anjurkan untuk menghadapi dan menyelesaikan Masalah yang ada Tanpa Masalah.
  

Agama yang tidak mempunyai tempat untuk Kepercayaan Buta atau Pemujaan yang Tidak melalui Penalaran.
 
Banyak Agama yang menekankan pada Dogma dan menuntut pengikutnya untuk Percaya secara membabi buta, hal ini menjadi aneh atau tanpa dasar dari sudut pandang Ilmu Pengetahuan. Buddhism tidak mempunyai tempat untuk doktrin seperti itu.
   
Buddha tidak menginginkan Umatnya untuk percaya kepadanya secara membuta, melainkan mengajarkan  pengikutnya untuk berpikir, untuk mempertanyakan dan untuk memahami Ajarannya berdasarkan Pengertian. 
 
Ajaran tentang keterbukaan Pikiran dan Hati yang simpatik, yang menerangi dan menghangatkan alam semesta dengan sinar Kebijaksanaan dan Belas Kasih.
 
Oleh karena itu Ajaran Buddha disebut Agama yang berdasarkan Analisis.
 
 
EHIPASSIKO Datang dan Lihatlah Sendiri,
Agama yang menyambut baik Pertanyaan dan Pemeriksaan ke dalam Ajarannya sendiri.
 
Kebebasan berpikir sungguh penting. Ajaran Buddha dijalankan secara Ehipassiko, yang artinya mengundang untuk Datang dan Bukti kan, bukan Datang dan Percaya begitu saja.
 
Ajaran yang membuka diri untuk di Telaah, Di Amati dan di Selidiki. Tidak ada Kewajiban atau Paksaan apapun agar percaya atau menerima Ajaran Buddha.
 
Buddha menunjukkan Jalan Keselamatan, selanjutnya terserah setiap insan untuk memutuskan mau mengikutinya atau tidak.
 
Buddha mengibaratkan Ajarannya sebagai RAKIT.
 
 
Agama yang menekankan nilai–nilai Universal
 
Ajaran yang menitik beratkan pada Kebahagiaan Sejati Bagi Semua Mahluk. Ajaran yang dapat diPraktekkan dalam Masyarakat atau dalam Pertapaan, Oleh semua Ras dan Sistim Kepercayaan.
   
Ajaran Yang sama sekali tidak memihak, sehingga tidak ada ‘TEROR’ di dalam Agama Buddha. Ajaran yang membebaskan umatnya dari cengkraman para Imam dan juga merupa kan Jalan agar Bebas dari Kemunafikan dan Penindasan Keagamaan. 
 
Buddhism mengajarkan bahwa "Sesuai dengan benih yang telah ditabur, begitulah buah yang akan dituai. la yang berbuat baik akan menerima kebaikan, ia yang berbuat jahat akan menerima kejahatan".  Hukum yang tidak memerlukan Label Keagamaan.
 
 
Agama yang selaras dengan ilmu Pengetahuan Modern dan merupakan Agama Masa Depan
 
Ajaran Buddha tidak pernah merasa perlu untuk memberikan Tafsiran Baru terhadap ajarannya atas Penemuan Ilmiah yang ada belakangan ini.
 
Ilmu Pengetahuan tidak pernah bertentangan dengan Buddhism, karena Ajarannya yang bersifat Ilmiah.
 
Asas-asas Buddhism dapat dipertahankan dalam keadaan apapun tanpa mengubah Gagasan Dasar.
 
Ajaran Buddha dihargai Sepanjang Masa, oleh Para Cendikiawan, Ilmuwan, Ahli Filsafat, Kaum Rasionalis, bahkan Para Pemikir Bebas.
 
 
Albert Einstein, Ilmuwan Terkemuka abad ke-20:
 
“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya).
 
Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan).
   
Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti.
 
Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini.
 
Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”
 
 
Bertrand Russell, pemenang Nobel dan Filsuf Terkemuka abad ke-20
 
“Di antara agama-agama besar dalam sejarah, saya lebih menyukai Ajaran Buddha……….
 
Ajaran Buddha menganut Metode Ilmiah dan menjalankan nya sampai pada suatu kepastian yang dapat disebut Rasionalistik. Ajaran Buddha membahas sampai di luar jangkauan Ilmu Pengetahuan karena keterbatasan Peralatan Mutakhir.
 
Ajaran Buddha adalah ajaran mengenai “Penaklukan Pikiran.”
 
 
Dr. C.G. Jung, Pelopor Psikologi Modern
 
“Sebagai seorang Pelajar Studi Banding Agama, saya yakin bahwa Ajaran Buddha adalah yang paling sempurna yang pernah dikenal dunia.
 
Filsafat Teori Evolusi dan Hukum Karma jauh melebihi kepercayaan lainnya……
 
Tugas saya adalah menangani Penderitaan Batin, dan inilah yang mendorong saya menjadi akrab dengan Pandangan dan Metode Buddha, yang berTema Pokok mengenai Rantai Penderitaan, Ketuaan, Kesakitan, dan Kematian.”
 
 
Agama dengan Jalan Pencerahan Yang Unik
 
Bukan Metafisik (Tidak Kelihatan)
ataupun Ritualistik (Upacara)
Bukan Skeptik (Kesangsian)
ataupun Dogmatik (Wahyu)
Bukan Penyiksaan Diri
ataupun Pemanjaan Diri
Bukan Pesimisme
ataupun Optimisme
Bukan Eternalisme (KeAbadian)
ataupun Nihilisme (Pemusnahan)
Bukan Mutlak Dunia ini
ataupun Dunia Lain
Ajaran Buddha adalah Jalan Pencerahan Yang Unik
 

Pergilah Kalian,Demi Kesejahteraan Semua, Demi Kebahagiaan Semua, Atas Dasar Belas Kasih Kepada Dunia, Demi Manfaat, Kesejahteraan, Dan Kebahagiaan Para Dewa Dan Manusia.
 
Janganlah Pergi Berdua Dalam Satu Jalan,
Babarkanlah Dharma Ini,
Yang Indah Pada Awalnya,
Indah Pada Tengahnya,
Dan Indah Pada Akhirnya.
– Buddha Sakyamuni
 

AJARAN MISIONARI
 
Pergilah demi kebaikan dan kebahagiaan banyak makhluk, atas belas kasih pada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa dan manusia.
Babarkanlah Dharma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya,  dan indah pada akhirnya, dalam arti maupun isinya. Serukanlah hidup suci, yang sungguh sempurna dan murni.

HIDUP SAAT INI BEGITU BERHARGA

Dalam tradisi Zen, penekanan yang begitu tinggi adalah menjalani kehidupan saat ini. Hal ini terlihat amat sederhana dan mudah sekali. Nampaknya orang hidup harus demikian, menjalani hidup ini seperti itu.

Kenyataannya berbeda, umumnya orang hidup pada masa lalu dan hidup pada masa yang akan datang. Memang sulit untuk dikatakan tetapi itulah kenyataan yang kita hadapi.

Banyak orang yang mempunyai masalah dalam hidup ini masih belum dapat melepaskan dari pengalaman pahitnya kehidupan yang dialaminya. Terkadang kepahitan yang terjadi akibat perlakuan orang lain, tertanam menjadi kebencian, kemarahan dan ketidaksenangan yang luar biasa.

Meskipun semua itu telah terjadi bukan satu jam yang lalu, bukan satu hari, bukan pula satu bulan, tetapi bertahun-tahun yang lalu. Tetapi emosi yang dimilikinya tersebut tetap tersimpan seakan-akan baru terjadi. Setiap saat dapat timbul dengan mudahnya.

Seperti orang yang pernah diperlakukan tidak baik oleh orang lain. Atas perbuatan tersebut mereka tidak terima. Pada saat kejadian mereka tidak kuasa untuk menolak, membantah atau pun memberikan penjelasan. Ketidakpuasan tersebut kalau tidak diimbangi dengan hati yang baik. Dapat tertanam menjadi ketidakpuasan yang berkepanjangan.

Terkadang obyek yang tidak jelas/ tidak nyata menghantui pikiran kita. Tanpa kita sadari kita telah berada dalam kondisi kebencian yang begitu luar biasa. Hanya dengan mengingat saja kita menjadi begitu marah. Inilah bentuk kehidupan lampau.

Sebagai seorang yang terus berupaya melatih diri sepatutnya tidak membiarkan terus hidup dalam bayang-bayang kehidupan lampau. Bagaimana pun kejadian lampau tersebut telah terjadi. Kita tidak dapat membalikan waktu atau memperbaiki seperti yangn kita impiankan.

Justru apa yang telah kita lakukan merupakan pengalaman yagn begitu berharga. Menjadi modal bagi perjalanan kehidupan ini supaya kita selalu waspada terhadap apa yang kita lakukan.

Orang yang hidup selalu menuju kepada kemajuan. Tidak ada orang yang berharap terjadi kemunduran baik harta, kepandaian, kecantiakan/ ketampanan maupun posisi yang telah diterima

Kita pun tidak hidup pada masa akan datang. Tetapi hidup pada saat ini. Kita betul-betul hadir dalam kehidupan sendiri. Praktik ini dalam tradisi Zen setiap langkah adalah bentuk latihan.

Diilustrasikan pada saat mencuci piring pun merupakan ajaran yang sangat baik. Maksudnya setiap saat kita dapat melakukan bentuk latihan menuju kesempurnaan.

Kita tidak perlu menunggu di tempat ritual, tempat khusus, pelatihan berkala, tetapi setiap saat adalah bentuk latihan yang baik. Karena kebenaran ada dimana-mana. Selama kita mawas diri dan sadar kita akan mampu untuk melihat Dharma.

Buddha pun tidak menciptakan ajaran baru, tetapi Beliau menggali kebenaran yang telah dilupakan. Ada atau tidak adanya Buddha kebenaran tersebut tetap ada dalam kehidupan ini.

Buddha menunjukkan kembali kebenaran tersebut. Apa yang disebut kebaikan memberikan hasil positif dan apa yang disebut dengan kejahatan menimbulkan hasil negatif. Penekanan ajaran pada jangan berbuat jahat, tambahkan kebajikan dan sucikan hati dan pikiran. Ini adalah bentuk kebenaran yang berlaku dan dijadikan pedoman hidup bagi siapapun

Nilai yang paling penting dari pengertian hidup saat ini adalah kita dapat melatih perhatian dan kesadaran. Kalau hal tersebut dapat kita pertahankan kita dapat membangkitkan kebijaksanaan. Dalam pengertian mau kita arahkan kemana kehidupan ini.

Kita tidak menjalani kehidupan ini formalitas belaka. Tetapi memiliki arah dan langkah yang pasti. Punya peran dalam hidup bukan hanya sebagai pelengkap semata.

Apabila kita dapat mempertahankan setiap saat kita akan mudah menjalani kehidupan ini. Setiap rintangan, tantangan dan hambatan yang ada, tidak akan menggoyahkan tekad kita.

Dalam pengertian Dharma kita tidak akan membiarkan segala bentuk pikiran, ucapan dan perilaku negatif menghambat kehidupan kita. Sebaliknya malah menambah semangat yang luar biasa. Untuk berjuang lebih ulet dan gigih menuju kepada aspirasi kehidupan yang baik dan pembebasan penderitaan. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Kebahagiaan Duniawi

Kebahagiaan dan kesenangan adalah dua hal yang berbeda tetapi mempunyai kaitan satu sama lain. Dalam agama Buddha, istilah kesenangan lebih ditekankan pada pemuasan keinginan indra jasmani, sedangkan kebahagiaan mempunyai nilai kepuasan yang bersifat batiniah. Tegasnya kesenangan adalah suatu kegembiraan atau kepuasan yang diperoleh dari pemuasan keinginan jasmaniah, sedangkan kebahagiaan adalah kegembiraan yang bersifat batiniah, seperti ketentraman, ketenangan, bebas dari stress dan lain sebagainya.

Walaupun Sang Buddha menjelaskan bahwa semua corak kehidupan bersifat tidak kekal, karena itu selalu diliputi Dukkha, Beliau juga menjelaskan bahwa ada kebahagiaan yang bersifat duniawi yang dapat dinikmati oleh umat awam.

Menurut kotbah Sang Buddha dalam Pattakammavagga sutta Sang Buddha memberikan nasehat kepada Anathapindika mengenai empat kebahagiaan yang dapat dimiliki oleh umat awam. Dalam kotbah itu Beliau menjelaskan kepada Anathapindika bahwa kebahagiaan yang dapat dimiliki oleh umat biasa antara lain adalah:
- Atthisukha : Kebahagiaan memiliki harta benda.
- Bhogasukha : Kebahagiaan menikmati kekayaan yang dimiliki.
- Ananasukha : Kebahagiaan karena tidak mempunyai utang.
- Anavajjasukkha : Kebahagiaan karena tidak tercela.

KEBAIKAN ITU BEGITU INDAH


Dalam kehidupan ini kita selalu saja berjumpa dengan berbagai macam karakter dan sifat manusia. Umumnya, kita selalu berharap dapat berjumpa dengan orang-orang yang baik, penuh perhatian dan pengertian. Selain itu kalau kita mengalami kesusahaan ada yang membantu. Jadi, kita tidak menghadapi perjalanan hidup ini sendirian.

Harapan tersebut ternyata bukan kita saja, tetapi orang lain pun sama. Mereka ingin diperlakukan seperti itu juga. Harapan itu hanya tinggal sebatas harapan kalau tidak ada perbuatan nyata untuk mewujudkannya dalam kehidupan ini. Agar dapat terpenuhi maka kita pun perlu untuk bertindak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Setidak-tidaknya perbuatan kita tidak merugikan orang lain.

Sering kita melihat orang ingin diperlakukan dengan istimewa, tetapi perbuatannya sangat tidak baik, tidak sopan dan sangat menjengkelkan. Siapapun yang berjumpa dengannya akan merasa kecewa, kesal dan marah. Bagaimana dia dapat memperoleh harapan yang positif, kalau hal sederhana ternyata dia menciptakan iklin tidak bahagia.

Buddha Sakyamuni, pada kelahiran lampaunya, Beliau selalu bertekad memberikan apa yang orang harapkan darinya. Seperti pada suatu kelahiran sebagai seorang raja, Beliau penuh dengan sifat kemurahan hati. Sumber harapan bagi yang miskin dan membutuhkan. Beliau memberikan apapun yang diminta kepadanya. Berita kebaikan dan kemurahan hatinya tersebut terdengar dan dirasakan di mana-mana.
Pada suatu ketika ada seorang pengemis buta, dia pun ingin membuktikan kebaikan dari raja tersebut. maka dia pun melakukan perjalanan untuk menghadap raja pujaan setiap orang.

Saat bertemu, Raja dengan gembira menerima pengemis tua tersebut. Dengan lemah lembut beliau bertanya kepada pengemis tua itu, “Anda telah jauh-jauh kemari. Apa yang dapat Saya berikan kepada Anda?” Katakanlah !” Pengemis itu pun menjawab bahwa seumur hidup dia tidak dapat melihat bagaimana dunia ini. Alangkah bahagianya kalau dapat melihat dunia ini. Maka dia pun meminta bukan harta tetapi sebuah bola mata milik raja.
Para pengawal, penasehat raja karena rasa sayangnya kepada raja, mendengar hal tersebut sangatlah terkejut dan langsung memohon kepada raja untuk tidak mengabulkannya, tetapi memberikan barang lainnya. Seperti harta atau yang jauh lebih berharga daripada permintaan tersebut

Tetapi Boddhisatva, karena diliputi oleh belas kasih yang luar biasa. Beliau bukannya marah, sedih atau kecewa mendengar permintaan pengemis tersebut, tetapi malah sangat senang dan gembira. Selama dia memberi, umumnya orang-orang yang meminta hanya sebatas harta sehingga dia hanya dapat memberikan itu saja. Tetapi kali ini berbeda. Maka Beliau pun langsung menyetujui untuk memberikan apa yang diharapkan. Bukan hanya satu buah bola mata, tetapi Beliau memberikan kedua bola mata yang dia miliki satu-satunya tersebut.

Beliau melakukan hal ini dengan gembira dan bahagia. Bukan dilandasi oleh kesedihan dan penyesalan. Tetapi Beliau lakukan dengan kesadaran penuh dan telah mengetahui akibat yang bakal dia temui.

Hal ini menunjukkan betapa luar biasa Buddha dalam kelahiran sebelumnya. Tiap kehidupan yang dilalui, diisi dengan penuh arti dan membawa harapan kebahagiaan bagi makhluk lainnya.

Sebaliknya Kita terkadang menjalani kehidupan ini tidak tahu arah dan tujuannya. Sebagian hanya mengikuti sang waktu. Setiap hari dilalui hampir dengan pola yang sama, seakan-akan tanpa perubahan berarti. Apalagi sifat-sifat negatif dibiarkan tanpa ada suatu perbaikan yang berarti. Malah menikmati atas perbuatan tersebut. Ini seperti bom waktu yang setiap saat akan meledak yang mana akan membahayakan dirinya sendiri.

Hendaknya kita sebagai penganut Buddha setiap saat melakukan aktivitas dilandasi oleh kesadaran dan pengertian benar. Kita melakukan sesuatu karena kita mengerti bahwa hasil yang akan kita dapatkan positif.

Janganla kita berkeluh kesah dalam menjalani kehidupan ini. Karena hidup ini sifatnya netral. Tidak ada kebahagiaan dan tidak ada pula penderitaan. Semua bentuk kebahgiaan dan penderitaan adalah hasil dari perbuatan dan cara pandang kita sendiri. Janganlah dalam melakukan aktivitas membawa dampak ketidakbahagiaan bagi orang lain. Hendaknya kita selalu bertekad apa yang kita lakukan tidak membuat orang lain menderita atau orang akan berbuat negatif, sebagai reaksi atas perbuatan kita tersebut. Dalam hal ini kita tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi orang lain pun ikut kita perhatikan.

Dengan memahami seperti itu hendaknya dalam setiap aktivitas kita selalu mengembangkan kesadaran dan perhatian sehingga hidup ini akan bermakna bagi siapapun juga. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

KEYAKINAN PADA BUDDHA DAN BODHISATTVA DALAM MEMPERBAIKI WATAK

KALAMA SUTTA
Pada suatu ketika sewaktu Buddha melewati daerah suku Kalama, penduduk di sana mengalami kebinggungan mengenai ajaran dari para tokoh agama yang menyebarkan ajaran, dimana di sana satu sama lain saling menjelekkan dan mengunggulkan ajaran yang mereka anut. Mereka pun bertanya kepada Buddha, bagaimana cara menyingkapi hal seperti itu, Buddha pun bersabda kepada mereka sebagai berikut :

Janganlah percaya begitu saja karena berita yang disampaikan kepadamu
Janganlah percaya begitu saja karena tradisi
Janganlah percaya begitu saja karena desas desus
Janganlah percaya begitu saja karena sudah diramalkan oleh dalam kitab suci
Janganlah percaya begitu saja karena sesuai dengan logika
Janganlah percaya begitu saja karena hasil dari suatu penelitian
Janganlah percaya begitu saja karena katanya telah direnungkan
Janganlah percaya begitu saja karena kelihatannya cocok dengan pandanganmu
Janganlah percaya begitu saja karena ingin menghormati gurumu

Apabila ajaran yang disampaikan tersebut memberikan manfaat bagi diri kalian dan orang lain, dipuja dan dipuji oleh para bijaksana maka kalian sepatutnya untuk menerima. Sebaliknya apabila ajaran tersebut merugikan bagi dirimu dan orang lain, dicela oleh para bijaksana. Kalian sepatutnya untuk meninggalkan ajaran tersebut.

Klasifikasi Motivasi Manusia
Motivasi tahap awal
Motivasi tahap menengah
Motivasi akhir

Motivasi tahap awal terbagi atas 3 (tiga), yaitu :
Motivasi tahap awal yang rendah
Orang-orang yang hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Mereka mengejar kebahagiaan yang hanya tertampak di depan saja dan cenderung melakukan perbuatan yang merugikan orang lain dalam mengejar kebahagiaan tersebut. Mereka belum memiliki nilai religius

Motivasi tahap awal yang sedang
Dalam mengapai kebahagiaan meskipun terkadang merugikan orang lain, dia pun melakukan serangkaian perbuatan baik. Mereka telah memiliki nilai religius. Perbuatan kejahatan dan perbuatan kebaikannya yang dilakukan hampir seimbang

Motivasi tahap awal yang tinggi
Mereka telah memiliki pengertian bahwa kenikmatan hidup ini adalah terbatas. Kenikmatan kehidupan ini tidak dapat dipertahankan terus menerus dan tidak dapat membawanya setelah mati. Mereka menyadari kehidupan tidak kekal. Oleh karena itu merekaTidak menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan kehidupan ini semata. Tetapi melakukan serangkaian perbuatan baik agar terlahir di alam bahagia berikutnya

Motivasi tahap menengah
Orang-orang yang telah menyadari kehidupan manusia  itu merupakan suatu berkah yang berharga. Disebutkan dalam sutra bahwa Kesempatan untuk terlahir sebagai manusia diumpamakan seperti kesempatan seekor kura-kura untuk memasukan galang karet tepat ke lehernya, sementara ia muncul kepermukaan setiap seratus tahun sekali dan gelang karet terus bergerak terbawa ombak

Kelahiran manusia merupakan suatu berkah dan memiliki 8 (delapan) kelebihan, yaitu :
4 (empat) kesembatan terbebas kelahiran sebagai manusia
Tidak terlahir di alam neraka
Tidak terlahir di alam Setan kelapran
Tidak terlahir sebagai hewan
Tidak terlahir sebagai dewa

4 (empat) kesempatan tidak terlahir di tempat :
Negara tidak mengenal ajaran Agama
Negara di mana tidak ada ajaran Buddha Dharma
Tidak memiliki tubuh Fisik maupun mental cacat
Dimana pandangan salah berkembang

Mereka telah menyadari bahwa apa yang terbentuk adalah tidak kekal dan selalu mengalami perubahan. Meskipun dia dapat melihat 5 (lima) kehidupan mendatang penuh kebahagiaan. Hal ini masih belum cukup karena dia tidak tahu bagaimana dengan kehidupan yang keenam. Tekadnya untuk terlepas dari kelahiran kembali, dia ingin menjadi seorang Arahat

Motivasi Akhir
Mereka telah menyadari bahwa kehidupan ini tidak sendiri dan telah banyak orang yang telah berjasa membantu mendidik, mengarahkan sehingga dapat berbuat yang terbaik untuk mengapai kebahagiaan dan memiliki pemikiran adalah tidak baik hanya memikirkan diri sendiri sementara di luar jumlahnya lebih banyak. Tekadnya untuk menjadi Buddha

Dengan menjadi seorang Buddha dapat menolong makhluk tanpa batas, baik yang tertampak maupun yang tidak tertampak, manusia maupun bukan manusia

 
MENGEMBANGKAN CINTA KASIH


Kebencian tidak akan berakhir apabila dibalas dengan kebencian, kebencian akan berakhir apabila dibalas dengan cinta kasih.

Pada jaman dulu ada seorang pria yang telah berkeluarga. Dalam waktu yang lama tidak dikaruniai anak satupun. Orang tuanya lelaki mengharapkan anak untuk melanjutkan keturunannya. Atas persetujuan isterinya, suami tersebut diijinkan untuk menikah lagi dengan ketentuan calon isterinya harus dicari oleh isteri tuanya.

Lelaki ini pun menikah lagi dan tidak begitu lama isteri kedua pun mengandung. Isteri pertama mulai cemas, khawatir dan takut suaminya tidak memperdulikan lagi kepadanya. Maka dia pun dengan berbagai cara untuk menggugurkan kandungan isteri kedua. Perbuatan ini dilakukan 3 (tiga) kali.
Tetapi pada perbuatan ketiganya menyebabkan isteri kedua mati bersama dengan calon bayi. Sebelum meninggal dia dipenuhi kebencian untuk membalas dendam apa yang dilakukan oleh isteri pertama.
Dia pun terlahir sebagai seekor kucing, sedangkan isteri pertama sebagai seekor ayam betina. Setiap kali bertelur selalu diambil dan dimakan oleh kucing. Sampai suatu ketika karena begitu jengkel dan marah mendekati kematiannya ayam ini pun bertekad untuk membalas perbuatan kucing tersebut.
Ayam ini pun terlahir sebagai seekor harimau, sedangkan kucing sebagai seekor rusa. Setiap anak yang dilahirkan rusa selalu dimakan oleh harimau bahkan rusa itu sendiri. Namun kebencian rusa ini luar biasa dia pun bertekad untuk membalas perbuatan harimau tersebut.
Harimau terlahir sebagai seorang ibu rumah tangga, sedangkan rusa sebagai seorang peri. Setiap kelahiran anak ibu rumah tangga tersebut selalu diambil dan dimakan oleh peri. Namun pada kelahiran putranya yang ketiga, ibu rumah tangga tersebut meninggalkan tempat kediamannya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Peri ini pun mengikutinya.

Tanpa disadari ibu rumah tangga tersebut menuju tempat kediaman Buddha. Kebetulan pada saat tersebut Buddha sedang membabarkan Dharma. Ibu ini pun memasuki ruang Dharma. Melihat hal itu, Buddha bertanya mengapa Ibu terlihat  begitu ketakutan ada apa yang terjadi. Ibu itu pun menguraikan semua kejadiaanya dan mohon perlindungan Buddha.

Sementara peri tersebut berada di luar vihara tidak berani masuk karena dihalangi oleh dewa penjaga Dharma. Peri itu pun ketakuatan dan kecewa.
Buddha yang maha welas asih pun memanggil peri tersebut dan dengan kebijaksanaannya Buddha pun menjelaskan sebab musabab mengapa mereka dipenuhi kebencian yang tiada akhirnya. Buddha pun meminta mereka untuk mengahiri kebencian dengan cinta kasih. Bukan dengan kebencian. Setelah mendengar dharma tersebut mereka pun menjadi sahabat.

Memang sungguh luar biasa Dharma yang dibabarkan oleh Buddha tersebut. Terkadang kita tidak dapat menerima meskipun kita tahu bahwa kebencian itu sangat menyakitkan. Apalagi kita berhadapan dengan orang yang betul-betul menjengkelkan, membuat kita tidak senang baik tutur kata, maupun perbuatannya.
Namun semua itu adalah suatu kenyataan bahwa sebagai orang yang bijak kita tidak menginginkan hidup ini penuh penderitaan salah satunya sifat kebencian yang ada. Kita tidak leluasa untuk ke mana-mana, penuh rasa curiga dan marah. Padahal hal tersebut mungkin terjadi dalam waktu lama. Tetapi terus membekas dalam ingatan kita.

Suatu hal pula sebagai umat Buddha menyakini bahwa dalam kehidupan tanpa awal telah berapa kali kelahiran kita tidak mengetahui. Dalam beberapa kelahiran tersebut, telah begitu banyak orang yang telah menjadi orang tua kita, kakak-adik kita, saudara-saudara kita, teman-teman yang baik.

Dalam kelahiran yang satu mereka dapat menjadi orang yang kita anggap berjasa tetapi dalam kesempatan lain karena kegelapan batin kita tidak menyukai atau membenci mereka dan menganggap musuh yang paling berbahaya.
Sebetulnya kalau kita menyimak ajaran lebih jauh,  antara musuh dan teman itu perbedaannya sangat tipis sekali. Terhadap teman kita memperlakukan dengan prilaku yang luar biasa baiknya. Sebaliknya terhadap musuk kita perlakukan dengan sangat buruk dan tidak mau memperdulikan sama sekali.

Tetapi pada satu kesempatan teman dapat menjadi musuh dan musuh pun dapat menjadi teman yang baik bagi kita. Dalam meraih kehidupan ini menuju yang lebih baik. Dengan pemahaman seperti itu semoga kita pun dapat bertindak arif dan bijaksana dalam menyikapi sikap kebencian yang mana hasil akhirnya kita sendiri yang akan menerimanya. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.