Dharma Buddha

 
Buddhisme, Satu-Satunya Sains Yang Sejati

Buddhisme, Satu-Satunya Sains Yang Sejati

 

Perth, Australia -- Saya dulunya seorang ilmuwan. Saya belajar Ilmu Fisika Teoritis di Universitas Cambridge, berada di dalam gedung yang sama dengan seseorang yang kemudian dikenal sebagai Profesor Stephen Hawking. Saya menjadi kecewa dengan sains ketika sebagai orang-dalam, saya melihat betapa menjadi dogmatisnya seorang ilmuwan. Dogma, menurut kamus, merupakan pernyataan arogan dari sebuah opini.(1)

Ini merupakan suatu uraian yang sesuai dari sains yang saya saksikan di laboratorium Cambridge. Sains telah kehilangan rasa malunya. Opini yang bersifat egoistis mengalahkan pencarian Kebenaran yang berimbang. Aforisme (peribahasa) favorit saya pada waktu itu adalah: “Keunggulan seorang ilmuwan besar diukur oleh banyaknya waktu yang mereka gunakan untuk MERINTANGI KEMAJUAN di dalam bidang mereka!”

Untuk memahami sains yang sebenarnya, seseorang bisa kembali kepada salah satu bapak pendirinya, seorang filosof Inggris, yaitu Francis Bacon (1561 – 1628). Ia menyelesaikan kerangka kerja yang dengannya sains mengalami kemajuan, yaitu “kekuatan besar dari kasus-kasus penolakan"

Ini berarti bahwa, dalam mengajukan sebuah teori untuk menjelaskan beberapa fenomena alam, maka seseorang harus mencoba sebaik mungkin untuk bisa membuktikan kebalikan dari teori itu! Seseorang seharusnya menguji teorinya dengan eksperimen yang menantang. Seseorang harus mengujinya dengan argumen yang ketat.

Hanya ketika suatu kelemahan muncul pada teori, maka sains itu mengalami kemajuan. Sebuah penemuan baru telah memungkinkan sebuah teori untuk dapat disesuaikan dan diperbaiki. Metodologi sains yang fundamendal dan murni ini memahami bahwa tidaklah mungkin untuk membuktikan semuanya dengan kepastian yang mutlak. Seseorang hanya bisa menyangkal (membuktikan kebalikan) dengan kepastian yang mutlak.

Sebagai contoh, bagaimana seseorang dapat membuktikan hukum dasar gravitasi yang mengatakan “apa yang naik akan turun dengan segera?” Seseorang bisa melempar ke atas beberapa objek sebanyak sejuta kali dan melihat objek-objek tersebut jatuh sebanyak sejuta kali. Tetapi tetap tidak membuktikan “apa yang naik akan turun”.

Bagi NASA, mungkin setelah “melempar” roket Saturnus ke atas, ke ruang angkasa untuk menjelajahi planet Mars, maka roket itu tidak pernah turun ke bumi lagi. Sebuah kasus negatif cukup untuk menyangkal (membuktikan kebalikan) dari teori dengan kepastian mulak.

Beberapa ilmuwan yang salah arah mempertahankan teori bahwa tidak ada kelahiran kembali, mengatakan bahwa arus kesadaran ini tidak dapat kembali kepada keberadaan manusia secara berlanjut. Menurut sains, seseorang perlu menyangkal (membuktikan kebalikan) teori ini, yaitu dengan menemukan satu kasus kelahiran kembali, hanya satu kasus!

Seperti beberapa dari Anda sudah mengetahuinya, Professor Ian Stevenson, telah mendemonstrasikan banyak kasus kelahiran kembali. Teori tidak ada kelahiran kembali telah dapat disangkal. Kelahiran kembali sekarang adalah sebuah fakta ilmiah!

Sains modern memberikan prioritas yang rendah bagi usaha apapun untuk menyangkal (membuktikan kebalikan) teori yang ia pelihara. Ada terlalu banyak kepentingan kekuasaan, gengsi dan dana penelitian. Komitmen yang berani untuk kebenaran akan membuat terlalu banyak ilmuwan keluar dari zona kenyamanan mereka.

Para ilmuwan, sebagian besar, telah dicuci otaknya oleh pendidikan mereka dan dalam kelompok mereka untuk melihat dunia dengan cara yang sangat sempit, sangat kecil sekali. Ilmuwan yang paling parah adalah mereka yang berkelakuan seperti evangelis eksentrik (2), mengklaim bahwa hanya mereka sajalah yang memiliki seluruh kebenaran, dan kemudian merasa berhak untuk memaksakan pandangan-pandangan mereka kepada orang lain.

Orang awam mengetahui begitu sedikit mengenai sains, bahkan mereka sukar untuk memahami bahasa yang digunakan sains.

Kemudian, jika mereka membaca di surat kabar atau majalah “seorang ilmuwan mengatakan demikian?”, maka mereka langsung secara otomatis menerima hal itu sebagai kebenaran. Bandingkan hal ini dengan reaksi kita ketika kita membaca dalam jurnal yang sama “seorang politikus mengatakan demikian?”! Mengapa para ilmuwan memiliki kredibilitas yang tidak tertandingi seperti itu?

Mungkin ini disebabkan oleh bahasa dan ritual sains menjadi begitu jauh beralih kepada orang awam, dimana para ilmuwan kini menjadi dipuja-puja dan menjadi keimamaman yang mistis.

Berpakaian dengan pakaian upacara berupa jas laboratorium putih mereka, melafalkan bahasa yang tidak dapat dimengerti mengenai fraktal multi dimensi alam semesta yang paralel, dan mempertunjukkan upacara gaib yang mengubah logam dan plastik menjadi TV dan komputer, pada masa modern ini para ahli kimia begitu hebatnya sehingga kita akan percaya apapun yang mereka katakan. Ke-elitan sains menjadi sesuatu yang mutlak seperti halnya seorang Paus.

Beberapa orang mengetahui lebih baik. Banyak dari apa yang telah saya pelajari 30 tahun yang lalu sekarang telah terbukti salah. Sayangnya, banyak para ilmuwan dengan integritas dan rasa malu, yang menegaskan apa itu sains sesungguhnya, pekerjaannya masih dalam pengembangan.

Mereka mengetahui bahwa sains hanya dapat mengusulkan sebuah kebenaran, tetapi tidak akan pernah mencapai sebuah kebenaran. Saya pernah diceritakan oleh seorang praktisi Buddhis, dimana pada hari pertamanya di sekolah medis di Sydney, seorang Profesor terkemuka, kepala dari Sekolah Medis tersebut, memulai pidato penyambutannya dengan menyatakan “Setengah dari apa yang akan kami ajarkan kepada kalian pada beberapa tahun ke depan adalah salah. Permasalahannya adalah kami tidak tahu apa yang setengahnya lagi!” Itulah perkataan dari seorang ilmuwan sejati.

Beberapa ilmuwan evangelis akan melakukan sebaik mungkin untuk mengungkapkan perkataan kuno (yang sudah digubah) “Ilmuwan datang saat para malaikat takut untuk melangkah” dan mereka berhenti untuk membahas mengenai sifat alami pikiran, kebahagiaan, apalagi Nibbana. Khususnya para ahli neurology (ahli urat saraf) cenderung mengalami neurosis. (Neurosis : suatu ketundukan yang di luar batas terhadap pikiran-pikiran atau benda-benda yang tidak realistis) (3) 

Mereka mengklaim bahwa pikiran, kesadaran dan kehendak, pada saat ini cukup dijelaskan melalui aktivitas di dalam otak. Teori ini telah disangkal lebih dari 20 tahun yang lalu oleh penemuan Prof. Lorber mengenai seorang pelajar di Universitas Sheffield yang memiliki IQ 126, lulusan terbaik dalam bidang matematika, tetapi ia tidak memiliki otak secara virtual (Science, Vol. 210, 12 Dec 1980)!

Yang terbaru, hal tersebut telah disangkal oleh Prof. Pim Van Lommel, yang mempertunjukkan keberadaan aktivitas kesadaran setelah kematian secara klinik, yaitu ketika seluruh aktivitas otak telah berhenti (Lancet, Vol. 358, 15 Desember 2001, p 2039).

Meskipun mungkin ada banyak hubungan antara sebuah aktivitas terukur di bagian otak dan kesan mental, beberapa peristiwa atau fakta yang ada secara berdampingan tidak selalu menyiratkan bahwa yang satu adalah penyebab dari yang lain. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu, sebuah penelitian memperlihatkan sebuah hubungan yang jelas antara perokok dan tidak terjadinya gejala penyakit Alzheimer.

Bukanlah karena merokok yang menyebabkan kekebalan terhadap penyakit Alzheimer, seperti yang diharapkan oleh perusahaan tembakau, ini hanyalah karena para perokok tidak memiliki hidup yang cukup panjang untuk mendapatkan penyakit Alzheimer!

Contoh di atas merupakan peristiwa yang bersamaan dari dua fenomena, bahkan ketika terulang kembali, bukanlah berarti salah satu fenomena tersebut merupakan penyebab dari fenomena yang lainnya. Mengklaim bahwa aktivitas di dalam otak menyebabkan suatu kesadaran, atau pikiran, jelaslah bukan merupakan hal yang bersifat ilmiah.

Buddhisme lebih bersifat ilmiah dibanding dengan sains modern. Seperti halnya sains, Buddhisme berdasarkan pada hubungan sebab-akibat yang dapat dibuktikan. Tetapi tidak seperti sains, Buddhisme menghadapi setiap kepercayaan dengan saksama.

Kalama Sutta yang terkenal dalam Buddhisme menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mempercayai secara penuh pada “apa yang seseorang ajarkan, pada tradisi, kabar burung, kitab suci, logika, kesimpulan, penampilan, kesepakatan berdasarkan pada opini, berdasarkan kesan atas kemampuan sang guru, atau bahkan pada guru pribadi seseorang”.

Berapa banyak ilmuwan yang tegas dalam pemikiran mereka seperti ini? Buddhisme menghadapi segalanya, termasuk logika.

Perlu dicatat adalah bahwa Teori Kuantum muncul sebagai sesuatu yang tidak logis, bahkan bagi seorang ilmuwan besar seperti Einstein, ketika teori tersebut diajukan untuk pertama kalinya. Teori tersebut belum disangkal. Logika hanya dapat dipercaya sebagai anggapan-anggapan sebagai dasarnya. Buddhisme hanya mempercayai pengalaman yang jelas/jernih dan objektif.

Pengalaman yang jelas atau jernih terjadi ketika alat ukur seseorang berupa pikiran sehatnya, cermelang dan tidak terganggu. Dalam Buddhisme, hal ini terjadi ketika rintangan berupa kelambanan dan kemalasan serta keresahan dan penyesalan, seluruhnya dapat diatasi. Pengalaman yang objektif merupakan pengalaman yang bebas dari segala penyimpangan (bias).

Dalam Buddhisme, tiga jenis penyimpangan (bias) adalah, napsu keinginan, kehendak buruk dan keragu-raguan yang bersifat tidak pasti. Napsu keinginan membuat seseorang hanya melihat apa yang ingin ia lihat, napsu keinginan membelokkan kebenaran sehingga sesuai dengan apa yang disukai oleh seseorang. Kehendak buruk membuat seseorang buta pada apapun juga yang mengganggu atau yang membingungkan pandangan seseorang dan ia mengubah kebenaran dengan penyangkalan.

Keraguan yang tak pasti dengan keras kepala menolak segala kebenaran tersebut, seperti kelahiran kembali (tumimbal lahir), yang merupakan hal benar-benar sahih, tapi yang jatuh di luar dari kesesuaian dengan pandangan dunia.

Singkatnya, pengalaman yang jelas atau jernih dan objektif hanya tejadi ketika “Lima Rintangan” dalam diri seorang Buddhis telah diatasi. Hanya setelah itulah seseorang dapat mempercayai data yang datang melalui pengertian seseorang.

Karena para ilmuwan tidaklah bebas dari kelima rintangan ini, mereka jarang berpikir jernih dan objektif. Sebagai contoh, hal ini biasa bagi para ilmuwan untuk mengabaikan data yang mengganggu, yang tidak sesuai dengan teori-teori berharga mereka, atau yang lainnya adalah membatasi bukti-bukti tersebut untuk dilupakan dengan menyimpannya sebagai suatu `anomali` (ketidaknormalan).

Bahkan sebagian besar umat Buddha tidaklah berpikir jelas dan objektif. Seseorang haruslah memiliki pengalaman Jhana untuk menyingkirkan lima rintangan ini secara efektif (menurut Nalakapana Sutta, Majjhima Nikaya 68). Jadi hanyalah para meditator yang sempurna yang dapat mengklaim dirinya ilmuwan sejati, yang memiliki pikiran jelas dan objektif.

Sains mengklaim untuk tidak hanya mengandalkan pengamatan yang jernih dan objektif, tetapi juga pada pengukuran. Tetapi dalam sains, apakah yang disebut dengan pengukuran itu? Untuk mengukur sesuatu, menurut sains murni dari Teori Kuantum, adalah meruntuhkan Persamaan Gelombang Schroedinger melalui tindakan pengamatan (observasi).

Selain itu, bentuk Persamaan Gelombang Schroedinger “yang tak teruntuhkan”, dimana sebelum pengukuran apapun dilakukan, mungkin merupakan deskripsi yang paling sempurna sains dari dunia.

Itu merupakan deskripsi yang aneh! Menurut sains murni, realitas tidaklah terdiri atas unsur yang teratur baik dengan massa yang tepat, energi dan posisi di angkasa yang kesemuanya hanya menunggu untuk diukur. Realitas merupakan ketidakjelasan yang luas dari segala kemungkinan, hanya beberapa saja yang menjadi lebih jelas dibanding dengan hal yang lainnya.

Bahkan kualitas dasar "yang dapat diukur" seperti “hidup” atau “mati” yang telah didemonstrasikan oleh sains terkadang menjadi tidak berlaku. Dalam eksperimen pikiran `Schroedinger`s Cat` yang jahat, kucing Prof. Schroedinger secara cerdik ditempatkan pada situasi sebenarnya dimana ia tidaklah mati ataupun hidup, dimana pengukuran semacam demikian menjadi tidak berarti. Realitas, berdasarkan Teori Kuantum, adalah di luar ambang pengukuran. Pengukuran mengganggu realitas, ia tidak pernah mendeskripsikan realitas dengan sempurna.

Adalah `Prinsip Ketidakpastian` yang terkenal dari Heisenberg yang menunjukkan kesalahan yang tidak dapat dielakkan antara dunia Kuantum asli dan dunia terukur dari sains palsu.

Lagi pula, bagaimana setiap orang dapat mengukur sang pengukur, yaitu pikiran? Pada sebuah seminar baru-baru ini mengenai Sains dan Agama, dimana saya menjadi pembicara, seorang Katholik di dalam hadirin dengan beraninya mengumumkan bahwa setiap kali ia melihat bintang-bintang melalui teleskop, ia merasa tidak nyaman karena agamanya menjadi terancam.

Saya mengomentarinya bahwa setiap kali seorang ilmuwan melihat dengan cara yang terbalik melalui teleskop, untuk observasi orang yang sedang melihat, maka mereka merasa tidak nyaman karena sains mereka terancam oleh apa yang dilakukan oleh penglihatannya! Jadi apa yang dilakukan oleh penglihatan, apakah pikiran ini yang menghindar dari sains modern?

Suatu saat, seorang guru kelas satu bertanya kepada kelasnya, "Apakah benda yang terbesar di dunia?" Seorang gadis kecil menjawab, "Papaku". Seorang anak laki-laki kecil berkata, "Seekor gajah." Karena dia pernah ke kebun binatang baru-baru ini. Gadis yang lain mengusulkan, "Sebuah gunung".

Puteri berusia enam tahun dari sahabat karibku menjawab, "Mataku adalah benda yang paling besar di dunia!" Kelas itu terhenti. Bahkan guru tersebut tidak mengerti apa yang dijawabnya. Jadi sang filosofis kecil ini menjelaskan, "Yah, mataku bisa melihat papanya, seekor gajah dan sebuah gunung juga. Ia juga bisa melihat banyak lagi. Jika semuanya bisa sesuai ke dalam mataku, maka mataku pastilah benda terbesar di dunia!" Luar biasa!

Namun begitu, gadis kecil itu tidak sepenuhnya benar. Pikiran bisa melihat segala sesuatu yang bisa dilihat mata seseorang, dan ia juga bisa membayangkan begitu lebih banyak lagi. Pikiran juga bisa mendengar, membaui, merasakan dan menyentuh, sama baiknya dengan berpikir. Faktanya, segala sesuatu yang bisa diketahui bisa muat ke dalam pikiran. Oleh karena itu, pikiran pastilah benda yang terbesar di dunia. Kesalahan sains sudah jelas sekarang. Pikiran tidaklah berada di dalam otak, begitu pula di dalam tubuh. Otak, tubuh dan dunia beserta sisanya, ada di dalam pikiran!

Pikiran adalah indera keenam dalam Buddhisme, dialah yang mana memandu kelima panca indera yakni penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapan dan sentuhan, dan melebihi mereka dengan daerah kekuasaannya sendiri. Ia bersesuaian bebas dengan "Akal Sehat" dari Aristoteles yang mana bertentangan dari panca indera.

Memang benar bahwa filsafat Yunani kuno, dari mana sains dikatakan berasal, mengajarkan indera keenam sama seperti Buddhisme. Di suatu tempat bersamaan dengan perjalanan sejarah dari pemikiran orang Eropa, mereka kehilangan pikirannya! Atau, sama seperti Aristoteles yang akan mengemukakan demikian, mereka dengan suatu cara telah mengesampingkan "Akal Sehat" mereka! Dan demikianlah kita mendapatkan sains. Kita mendapatkan materialistis tanpa hati sedikitpun. Orang bisa dengan akuratnya mengatakan bahwa Buddhisme adalah sains yang menyimpan hatinya, dan yang tidak kehilangan pikirannya!

Demikianlah Buddhisme bukan suatu sistem kepercayaan. Buddhisme adalah sains yang ditemukan dalam observasi yang objektif, yaitu meditasi, selalu seksama untuk tidak mengganggu realitas melalui pengukuran buatan yang mengesankan, dan ia secara jelas dapat diulang.

Manusia telah menciptakan kembali kondisi-kondisi eksperimental, dikenal dengan menetapkan faktor-faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, selama lebih dari duapuluh enam abad sekarang, lebih lama dibandingkan dengan sains. Dan mereka Professor-Professor Meditasi yang ternama, Arahat-Arahat pria dan wanita, kesemuanya telah tiba pada kesimpulan yang sama seperti Sang Buddha.

Mereka telah membuktikan Hukum Dhamma yang abadi, atau dikenal sebagai Buddhisme. Jadi Buddhisme adalah satu-satunya sains yang sejati, dan saya gembira untuk mengatakan bahwa saya masih seorang ilmuwan dalam hati saya, hanya saja seorang ilmuwan yang lebih baik daripada apa yang pernah saya dulunya dapatkan di Cambridge.

--end--

Y.M. Ajahn Brahmavamso Mahathera dilahirkan di Peter Betts di London, Inggris pada tanggal 7 Agustus 1951. Beliau adalah kepala bhikkhu dari Vihara Bodhinyana di Australia Barat, Direktur Spiritual dari Buddhist Society Australia Barat, Penasihat Spiritual dari Buddhist Society Victoria, Penasihat Spiritual dari Buddhist Society Australia Selatan, Pelindung Spiritual dari Buddhist Fellowship di Singapura, dan Pelindung Spiritual dari Bodhikusuma Centre di Sydney.

Courtesy: Buddhist Society of Western Australia.

Catatan:

  1. dogma: pokok ajaran tentang kepercayaan yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan.(sbr: KBBI)
  2. evangelis: seseorang yang berusaha mengalihyakinkan kepercayaan orang lain ke dalam ke-Kristen-an.(sbr: Oxford Dictionary)
  3. neurosis: penyakit syaraf yang berhubungan dengan fungsinya tanpa ada kerusakan organik pada bagian-bagian susunan syaraf.(sbr: KBBI)

Judul asli: Buddhism, The Only Real Science
Oleh: Ven. Ajahn Brahmavamso Mahathera
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com

 
Seni Hidup: Meditasi Vipassana

SENI HIDUP:
MEDITASI VIPASSANA

 

Setiap orang mencari kedamaian dan keharmonisan, karena inilah yang kurang dalam kehidupan kita. Dari waktu ke waktu kita semua mengalami gejolak, gangguan, ketidakharmonisan, penderitaan; dan ketika seseorang menderita karena bergejolak, seseorang tidaklah menyimpan gejolak ini untuk seorang diri saja. Ia juga akan membagikannya ke orang lain. Gejolak akan menyelimuti atmosfir di sekeliling orang yang menyedihkan tersebut. Setiap orang yang berhubungan dengannya juga menjadi terganggu dan bermasalah.  Ini pastilah bukan jalan yang tepat untuk hidup.

Seseorang seharusnya hidup dalam damai dengan dirinya sediri, dan dengan orang lain. Lagipula, manusia adalah makhluk sosial. Ia perlu hidup dalam masyarakat -- untuk hidup dan berhubungan dengan yang lain. Bagaimanakah kita hidup dengan penuh kedamaian? Bagaimanakah kita tetap harmonis dengan diri kita sendiri dan memelihara kedamaian dan keharmonisan di sekeliling kita, sehingga yang lain juga hidup dalam kedamaian dan penuh dengan keharmonisan?

Seseorang bermasalah. Untuk keluar dari permasalahan, seseorang harus mengetahui alasan dasarnya, penyebab dari penderitaan. Jika seseorang menyelidiki permasalahan, akan menjadi jelas bahwa kapan pun seseorang mulai membangkitkan kenegatifan atau kekotoran apapun dalam pikiran, seseorang menjadi bermasalah. Kenegatifan dalam pikiran, kekotoran atau ketidakmurnian batin tidak dapat eksis bersamaan dengan kedamaian dan keharmonisan.

Bagaimanakah seseorang mulai membangkitkan hal-hal yang negatif? Sekali lagi, dengan penyelidikan, hal ini akan menjadi jelas. Saya menjadi sangat tidak bahagia ketika saya menemukan seseorang yang bersikap dengan cara yang tidak saya sukai, ketika saya bertemu dengan peristiwa yang tidak saya sukai.  Hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dan saya menciptakan tekanan dalam diri saya sendiri. Hal-hal yang diinginkan tidak terjadi, beberapa rintangan datang dalam perjalanan, dan lagi saya menciptakan tekanan dalam diri saya sendiri, saya mulai mengikat jerat dalam diri saya. Dan seluruh hidup saya, hal-hal yang tidak diinginkan tetap terjadi, hal-hal yang diinginkan bisa atau pun tidak bisa terjadi, dan proses atau reaksi mengikat jerat – jerat Gordius -- membuat seluruh struktur batin dan fisik begitu tegang, begitu penuh akan hal-hal negatif, segingga hidup menjadi menyedihkan.

Sekarang sebuah cara untuk memecahkan masalah adalah dengan mengubah sehingga tak ada satu pun hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam hidup saya dan segalanya tetap terjadi persis seperti yang saya kehendaki. Saya harus mengembangkan sebuah kekuatan, atau orang lain harus memiliki kekuatan dan harus datang untuk membantu ketika saya memintanya, sehingga segala hal yang tidak diinginkan tidak terjadi dan segala yang saya inginkan terjadi. Tetapi hal ini tidak mungkin. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang keinginannya selalu terpenuhi, yang dalam hidupnya segalanya terjadi sesuai dengan keinginannya, tanpa terjadi adanya hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi pertanyaan yang muncul, bagaimanakah agar saya tidak bereaksi secara membabi buta dalam menghadapi segala hal yang tidak saya sukai? Bagaimanakah agar tidak tercipta suatu ketegangan? Bagaimanakah agar tetap penuh damai dan harmonis?

Di India seperti halnya di negara-negara lain, para orang suci bijaksana pada masa lampau telah mempelajari masalah ini -- masalah dari penderitaan manusia--dan menemukan solusinya: jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan seseorang mulai bereaksi dengan membangkitkan kemarahan, ketakutan atau hal-hal negatif lainnya, maka dengan sesegera mungkin ia harus mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain. Sebagai contoh, berdiri, mengambil segelas air, dan meminumnya -- kemarahan Anda tidak akan berlipat ganda dan Anda dapat keluar dari kemarahan. Atau mulai berhitung: satu, dua, tiga, empat. Atau  mengulang sebuah kata, atau kalimat, atau beberapa mantra, mungkin nama dewa atau seorang suciwan yang Anda puja; pikiran akan teralihkan, dan untuk lebih lanjut, Anda akan keluar dari kenegatifan, keluar dari kemarahan.

Solusi ini sangat membantu: dan berhasil . Solusi ini tetap berhasil. Melatih hal ini, pikiran akan merasa bebas dari gejolak. Namun faktanya, solusi ini akan bekerja hanya pada tingkat kesadaran. Sebenarnya, dengan mengalihkan perhatian, seseorang mendorong kenegatifan masuk ke dalam bawah sadarnya, dan pada tingkatan ini seseorang terus membangkitkan dan melipat gandakan kekotoran yang sama. Pada tingkat permukaan ditemukan lapisan kedamaian dan keharmonisan, tetapi jauh di dalam pikiran terdapat gunung berapi yang tertidur berasal dari kenegatifan yang ditekan, yang cepat atau lambat akan meledak dengan letusan yang merusak.

Para penjelajah kebenaran sejati tetap meneruskan pencarian mereka, dan dengan mengalami realita pikiran dan permasalahan dalam diri mereka sendiri mereka menyadari bahwa mengalihkan perhatian hanyalah merupakan pelarian diri dari permasalahan. Melarikan diri bukanlah sebuah solusi: seseorang harus mengadapi permasalahannya. Kapanpun kenegatifan bangkit dalam pikiran, cukup mengamatinya saja, hadapi dia. Setelah seseorang mengamati berbagai kekotoran batin, kekotoran batin tersebut akan kehilangan kekuatannya. Secara perlahan ia akan berkurang dan tercabut.

Sebuah solusi yang baik: hindarkanlah kedua hal ekstrem -- menekan dan membiarkan bebas. Dengan tetap menyimpan kenegatifan dalam bawah sadar tidak akan menghilangkannya; dan dengan membiarkannya bermanifestasi (berwujud) menjadi perbuatan fisik ataupun ucapan hanya akan menciptakan masalah lebih banyak. Tetapi jika seseorang hanya mengamatinya saja, maka kekotoran akan musnah, dan seseorang telah menghilangkan kenegatifan tersebut, seseorang terbebaskan dari kekotoran batin.

Hal ini kedengarannya sangat luar biasa, tetapi apakah benar-benar bisa dipraktikkan? Bagi kebanyakan orang, apakah mudah untuk menghadapi kekotoran batin? Ketika kemarahan bangkit, ia menguasai kita begitu cepat sehingga kita bahkan tidak menyadarinya. Kemudian dengan dikuasai oleh kemarahan, kita melakukan tindakan fisik atau ucapan tertentu yang menyakitkan bagi kita dan bagi pihak lain. Belakangan, setelah kemarahan berlalu, kita mulai menangis dan menyesal, memohon maaf kepada orang ataupun kepada tuhan: ”Oh, saya telah melakukan sebuah kesalahan, tolong maafkanlah saya!” Tetapi di lain waktu kita berada di dalam situasi yang sama, kita kembali bereaksi dengan cara yang sama. Semua penyesalan tersebut tidaklah menolong sama sekali.

Kesulitannya adalah saya tidak sadar kapan kekotoran batin itu mulai muncul. Ia dimulai jauh di dalam tingkat bawah sadar pikiran, dan seiring dengan waktu mencapai pada tingkat kesadaran, ia memiliki begitu banyak kekuatan yang menguasai saya, dan saya tidak dapat mengamatinya.

Maka saya harus mempekerjakan seorang sekretaris pribadi untuk saya, sehingga kapanpun kemarahan muncul, ia akan berkata, ”Lihat tuan, kemarahan mulai muncul!” Oleh karena saya tidak mengetahui kapan kemarahan ini akan mulai muncul, saya harus memiliki tiga sekretaris pribadi untuk tiga masa, selama 24 jam! Andai kata saya dapat melakukan hal itu dan ketika kemarahan mulai muncul, dengan segera sekretaris saya memberitahukan kepada saya, “Oh, tuan, lihatlah -- kemarahan mulai muncul!” Satu hal pertama yang akan saya lakukan adalah menampar dan menyerangnya: “Dasar bodoh! Kamu pikir kamu digaji untuk mengajari saya?” Saya begitu terlalu dikuasai oleh kemarahan dimana tidak ada nasihat yang baik yang akan membantu.

Bahkan seandainya kata-kata bijak tersebut berhasil dan saya tidak menamparnya. Dan saya berkata, “Terima kasih banyak. Sekarang saya harus duduk dan mengamati kemarahan saya.” Apakah hal ini mungkin? Setelah saya menutup mata saya dan mencoba mengamati kemarahan, dengan cepat obyek kemarahan datang dalam pikiran saya, seseorang atau peristiwa yang membuat saya menjadi marah. Lalu saya tidak mengamati kemarahan itu sendiri. Saya justru mengamati rangsangan emosi luar. Ini hanya akan melipatgandakan kemarahan; ini bukanlah solusinya. Sangat sulit mengamati beragam kenegatifan yang abstrak (tidak kelihatan), emosi yang abstrak yang terpisah dari obyek luar yang menyebabkannya muncul.

Namun, bagi seseorang yang telah mencapai kebenaran tertinggi menemukan solusi yang sebenarnya. Ia menemukan bahwa kapanpun kekotoran batin apapun muncul dalam pikiran, merangsang dua hal yang terjadi pada tingkat fisik. Pertama adalah napas yang kehilangan irama normalnya. Kita mulai sukar bernapas kapanpun kenegatifan datang pada pikiran. Ini mudah untuk diamati. Pada tingkat yang halus, suatu reaksi biokimia muncul dalam tubuh -- suatu perasaan. Setiap kekotoran batin akan membangkitkan sebuah perasaan atau yang lainnya di bagian dalam, di satu bagian tubuh atau yang lainnya.

Ini merupakan solusi praktis. Orang awam tidak dapat mengamati kekotoran-kekotoran pikiran yang abstrak -- ketakutan, kemarahan, atau napsu yang abstrak. Tetapi dengan latihan dan praktek yang tepat, sangatlah mudah untuk mengamati pernapasan dan perasaan-perasaan jasmaniah -- dimana keduanya berhubungan langsung dengan kekotoran-kekotoran batin.

Pernapasan dan perasaan jasmani akan membantu saya dengan dua cara. Yang pertama, keduanya seperti sekretaris pribadi saya. Segera saat kekotoran muncul dalam pikiran saya, napas saya kehilangan kenormalannya; napas saya akan mulai berteriak, ”Perhatikan, ada sesuatu yang tidak beres!” Saya tidak dapat menampar napas saya; saya harus menerimanya sebagai peringatan. Hal yang sama juga pada perasaan memberitahu kepada saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu setelah diperingatkan, saya mulai mengobservasi pernapasan saya, perasaan saya, dan saya menemukan dengan sangat cepat bahwa kekotoran batin menghilang.

Fenomena jasmani-batin ini seperti halnya sebuah mata uang bersisi dua. Pada sisi yang satu merupakan pikiran atau emosi apapun yang muncul dalam pikiran. Di satu sisi yang lain merupakan pernapasan dan perasaan dalam tubuh. Pikiran atau emosi apapun, kekotoran batin apapun, memanifestasikan (mewujudkan) dirinya dalam napas dan perasaan saat itu. Jadi, dengan mengamati pernapasan atau perasaan, pada dasarnya saya sedang mengamati kekotoran batin. Daripada melarikan diri dari permasalahan, saya menghadapai realitas sebagaimana adanya.  Lalu saya akan menemukan bahwa kekotoran batin kehilangan kekuatannya: ia tidak lagi menguasai saya sebagaimana terjadi di waktu lalu. Jika saya tetap melakukannya, kekotoran batin akhirnya akan menghilang secara keseluruhan, dan saya tinggal dalam penuh kedamaian dan kebahagiaan.

Dengan cara ini, teknik-teknik pengamatan diri menunjukkan kepada kita realitas kedua aspeknya, di dalam dan luar. Sebelumnya, seseorang selalu melihat dengan mata terbuka, dan kehilangan kebenaran bagaian dalam. Saya selalu melihat ke luar untuk melihat penyebab dari ketidakbahagiaan saya; saya selalu menyalahkan dan mencoba untuk merubah realitas di luar. Dengan ketidaktahuan akan realitas di dalam diri, Saya tidak pernah memahami bahwa penyebab dari penderitaan terletak di dalamnya, dengan reaksi membuta saya yang mengarah pada perasaan senang dan tidak senang.

Sekarang dengan latihan, saya dapat melihat sisi lain dari mata uang. Saya dapat menjadi sadar akan napas saya dan juga akan apa yang terjadi di dalam diri saya. Apapun itu, napas atau perasaan, saya belajar untuk hanya mengamatinya saja, tanpa kehilangan keseimbangan pikiran. Saya berhenti untuk bereaksi, berhenti melipatgandakan kesengsaraan saya. Sebaliknya, saya membiarkan kekotoran batin untuk muncul dan menghilang.

Lebih sering seseorang berlatih dengan teknik ini, lebih cepat seseorang akan menemukan dan keluar dari kenegatifan. Secara berangsur-angsur pikiran menjadi bebas dari kekotoran-kekotoran batin; pikiran akan menjadi murni. Pikiran yang murni selalu penuh dengan cinta kasih -- cinta kasih tanpa pamrih untuk semua orang; penuh dengan belas kasih bagi  kelemahan dan penderitaan orang lain; penuh dengan suka cita atas kebahagiaan dan kesuksesan mereka; penuh dengan keseimbangan dalam menghadapi berbagai situasi.

Ketika seseorang mencapai tahap ini, seluruh pola hidupnya mulai berubah. Tidak lagi memungkinkan untuk melakukan ucapan maupun perbuatan fisik yang akan mengganggu kedamaian dan kebahagiaan pihak lain. Sebaliknya, keseimbangan pikiran  tidak hanya membuat kedamaian bagi dirinya sendiri, tetapi membantu pihak lain menjadi penuh kedamaian. Atmosfir yang mengelilingi orang seperti itu akan menyebar dengan kedamaian dan keharmonisan, dan ini juga akan mulai mempengaruhi pihak lain.

Dengan belajar untuk tetap seimbang dalam menghadapi segala pengalamannya dalam diri, seseorang mengembangkan ketidakpengaruhan menghadapi semua hal yang ia temukan dalam situasi-situasi eksternal (luar) apapun. Namun, ketidakpengaruhan bukanlah penghindaran ataupun ketidakacuan terhadap berbagai masalah dunia. Seorang meditator Vipassana menjadi lebih sensitif terhadap berbagai penderitaan orang lain, dan berusaha sepenuhnya membebaskan penderitaan mereka dengan cara apapun yang ia bisa lakukan -- bukan dengan berupa gejolak (agitasi) tetapi dengan pikiran yang penuh dengan cinta kasih, belas kasih, dan keseimbangan batin. Ia belajar kesucian yang tanpa membedakan -- bagaimana melakukan sesuatu secara penuh, membantu orang lain secara penuh, sementara pada saat yang sama tetap menjaga keseimbangan pikirannya. Dengan cara ini ia tetap penuh kedamaian dan kebahagaian selagi ia bekerja untuk kedamaian dan kebahagiaan orang lain.

Inilah yang Sang Buddha ajarkan; sebuah seni kehidupan. Beliau tidak pernah menyatakan atau mengajarkan agama apapun, “isme” apapun. Beliau tidak pernah menginstruksikan para pengikutNya untuk berlatih upacara atau ritual apapun, formalitas yang kosong dan membuta apapun. Sebaliknya Beliau hanya mengajarkan untuk mengamati alam sebagaimana adanya dengan mengamati realitasi di dalam diri. Dikarenakan kebodohan batin, seseorang tetap bereaksi dengan cara yang menyakitkan bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Tetapi ketika kebijaksanaan muncul -- kebijaksanaan dari mengamati realita sebagaimana adanya -- seseorang keluar dari reaksi kebiasaannya ini. Ketika seseorang berhenti bereaksi secara membuta, maka seseorang mampu melakukan tindakan sesungguhnya, tindakan dari proses keseimbangan pikiran, pikiran yang melihat dan memahami kebenaran. Tindakan seperti itu hanya dapat menjadi positif, kreatif, sangat membantu bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.

Yang diperlukan setelah itu adalah “mengetahui diri sendiri” -- sebuah nasihat yang diberikan oleh setiap orang bijak. Seseorang harus mengetahui dirinya sendiri bukan hanya pada tingkat intelektual, tingkat ide-ide dan teori-teori. Ini juga bukan berarti hanya mengetahuinya pada tingkat emosional atau ketaatannya, menerima dengan mudah dan membuta apa yang ia dengar atau ia baca. Pengetahuan seperti itu tidaklah cukup. Sebaliknya seseorang harus mengetahui realitas pada tingkat yang sesungguhnya. Seseorang harus mengalami secara langsung realitas fenomena jasmani-batin ini. Hal ini saja yang akan membantu kita untuk keluar dari kekotoran batin, keluar dari penderitaan.

Pengalaman langsung realitas akan diri sendiri ini, teknik pengamatan diri ini, disebut sebagai meditasi `Vipasana`. Dalam bahasa India pada masa Sang Buddha, passana berarti melihat dengan mata terbuka, dengan cara yang biasa, tetapi Vipassana adalah mengamati segala sesuatu seperti apa sesungguhnya mereka, bukan hanya seperti apa yang terlihat. Kebenaran nyata perlu ditembus, sampai seseorang mencapai kebenaran tertinggi dari seluruh struktur fisik dan batin. Ketika seseorang mengalami kebenaran ini, maka ia akan belajar berhenti bertindak secara membuta, berhenti menciptakan kekotoran batin -- dan secara alamiah kekotoran yang lama secara berangsur-angsur akan terhapus. Ia keluar dari kesengsaraan dan mengalami kebahagiaan.

Ada tiga langkah untuk berlatih yang diberikan dalam pelajaran meditasi Vipassana. Pertama, seseorang harus menjauhkan diri dari tindakan, fisik atau ucapan apapun yang menggangu kedamaian dan keharmonisan pihak lain. Seseorang tidak bisa bekerja membebaskan diri sendiri dari kekotoran dalam pikiran ketika pada saat yang sama ia terus melakukan perbuatan fisik dan perkataan yang hanya melipatgandakan kekotoran batin tersebut. Oleh karena itu, aturan kemoralan merupakan awal yang penting dari latihan. Seseorang tidak melakukan pembunuhan, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan seksual yang tidak dibenarkan, tidak berkata bohong, dan tidak menggunakan obat-obat yang memabukkan. Dengan tidak melakukan perbuatan seperti itu, seseorang membiarkan pikirannya cukup tenang sehingga ia dapat mulai melakukan tugas yang ada.

Langkah selanjutnya adalah mengembangkan penguasaan atas pikiran yang liar ini, dengan melatihnya untuk tetap berada pada satu obyek yaitu napas. Seseorang berusaha untuk mempertahankan perhatiannya selama mungkin pada pernapasan. Ini bukanlah latihan bernapas: seseorang tidak mengatur napasnya. Sebaliknya ia mengamati pernapasan secara alami sebagaimana adanya, sebagaimana napas masuk dan keluar. Dengan cara ini seseorang lebih lanjut menenangkan pikirannya sehingga tidak lagi dikuasai oleh kenegatifan yang kuat. Pada saat yang sama, seseorang mengkonsentrasikan pikirannya, membuat pikirannya tajam dan menembus, sanggup untuk melakukan pekerjaan akan pemahaman mendalam (insight).

Dua langkah awal ini yaitu hidup dalam kehidupan yang bermoral dan mengendalikan pikiran sangatlah diperlukan dan dengan sendirinya sangat menguntungkan; tetapi keduanya akan mengarah pada pengekangan diri, kecuali ia mengambil langkah ketiga -- memurnikan pikiran dari kekotoran batin dengan mengembangkan pengetahuan mendalam ke dalam sifat alami dirinya. Inilah Vipassana: mengalami realitas akan diri sendiri, dengan pengamatan yang sistematis dan tanpa emosi atas fenomena perubahan menerus dari fisik dan batin yang mewujudkan dirinya sebagai perasaan yang ada di dalam diri seseorang. Inilah puncak dari ajaran Sang Buddha: pemurnian diri sendiri dengan mengamati diri sendiri.

Hal ini dapat dipraktikkan oleh semua orang. Setiap orang menghadapi masalah penderitaan. Ini adalah penyakit universal yang membutuhkan obat universal -- bukan obat sekelompok orang. Ketika seseorang menderita karena kemarahan, ini bukan kemarahan Buddhis, kemarahan Hindu, atau kemarahan Kristiani. Kemarahan adalah kemarahan. Ketika seseorang bergejolak sebagai akibat dari kemarahan ini, gejolak ini bukanlah Kristiani atau Hindu, atau Buddhis. Penyakit tersebut bersifat universal. Obatnya pun harus bersifat universal.

Vipassana merupakan obat universal. Tak seorang pun akan merasa keberatan atas aturan hidup yang menghargai kedamaian dan keharmonisan orang lain. Tak seorang pun akan menolak untuk mengembangkan pengendalian atas pikiran. Tak seorang pun akan keberatan untuk mengembangkan pengetahuan mendalam ke dalam sifat alami dirinya, yang dengannya memungkinkan untuk membebaskan pikiran dari kenegatifan. Vipassana adalah jalan yang universal.

Mengamati realitas sebagaimana adanya dengan mengamati kebenaran yang ada di dalam diri -- ini berarti mengetahu diri sendiri pada tingkat sebenarnya, tingkat pengalaman. Ketika seseorang berlatih, ia berangsur-angsur keluar dari kesengsaraan akan kekotoran batin. Dari kebenaran yang kasar, eksternal, nyata, seseorang menembus kepada kebenaran tertinggi dari pikiran dan fisik. Kemudian ia melampaui semuanya, dan mengalami sebuah kebenaran yang melampaui pikiran dan fisik, melampaui ruang dan waktu, melampaui kondisi medan relatifitas: kebenaran dari pembebasan total dari segala kekotoran batin, ketidakmurnian, penderitaan. Apapun nama yang seseorang berikan kepada kebenaran tertinggi ini adalah tidak relevan; ini merupakan tujuan akhir bagi semua orang.

Semoga Anda semua mengalami kebenaran tertinggi ini. Semoga semua orang keluar dari kekotoran batin dan kesengsaraan mereka. Semoga mereka menikmati kebahagiaan, kedamaian, keharmonisan sejati.

Semoga semua makhluk berbahagia.


--end--


Tulisan di atas berdasarkan pada permbicaraan yang diberikan oleh Mr. S.N. Goenka pada bulan Juli 1980 di Berne, Switzerland.

Tentang Penulis:

S.N. Goenka lahir di Mandalay, Myanmar pada tahun 1924. Beliau adalah seorang guru meditasi dengan metode Vipassana; Beliau telah memiliki beberapa pusat Vipassana di seluruh dunia. Beliau berasal dari keluarga India yang kaya di Myanmar dan dulunya Beliau sebagai pemimpin perusahaan yang terkenal di komunitas India. Pada tahun 1969, Beliau mengundurkan diri dari semua kegiatan bisnisnya dan mengabdikan seluruh kehidupannya untuk menyebarkan meditasi Vipassana. Beliau mempimpin ratusan pelatihan diseluruh dunia. Goenka menulis dalam bahasa Inggris, Hindi, dan Rajasthan. Sejauh ini pekerjaannya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia.


Judul asli: The Art of Living: Vipassana Meditation
Oleh: S.N. Goenka 
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com

 
Seni Hidup: Meditasi Vipassana

SENI HIDUP:
MEDITASI VIPASSANA

 

Setiap orang mencari kedamaian dan keharmonisan, karena inilah yang kurang dalam kehidupan kita. Dari waktu ke waktu kita semua mengalami gejolak, gangguan, ketidakharmonisan, penderitaan; dan ketika seseorang menderita karena bergejolak, seseorang tidaklah menyimpan gejolak ini untuk seorang diri saja. Ia juga akan membagikannya ke orang lain. Gejolak akan menyelimuti atmosfir di sekeliling orang yang menyedihkan tersebut. Setiap orang yang berhubungan dengannya juga menjadi terganggu dan bermasalah.  Ini pastilah bukan jalan yang tepat untuk hidup.

Seseorang seharusnya hidup dalam damai dengan dirinya sediri, dan dengan orang lain. Lagipula, manusia adalah makhluk sosial. Ia perlu hidup dalam masyarakat -- untuk hidup dan berhubungan dengan yang lain. Bagaimanakah kita hidup dengan penuh kedamaian? Bagaimanakah kita tetap harmonis dengan diri kita sendiri dan memelihara kedamaian dan keharmonisan di sekeliling kita, sehingga yang lain juga hidup dalam kedamaian dan penuh dengan keharmonisan?

Seseorang bermasalah. Untuk keluar dari permasalahan, seseorang harus mengetahui alasan dasarnya, penyebab dari penderitaan. Jika seseorang menyelidiki permasalahan, akan menjadi jelas bahwa kapan pun seseorang mulai membangkitkan kenegatifan atau kekotoran apapun dalam pikiran, seseorang menjadi bermasalah. Kenegatifan dalam pikiran, kekotoran atau ketidakmurnian batin tidak dapat eksis bersamaan dengan kedamaian dan keharmonisan.

Bagaimanakah seseorang mulai membangkitkan hal-hal yang negatif? Sekali lagi, dengan penyelidikan, hal ini akan menjadi jelas. Saya menjadi sangat tidak bahagia ketika saya menemukan seseorang yang bersikap dengan cara yang tidak saya sukai, ketika saya bertemu dengan peristiwa yang tidak saya sukai.  Hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dan saya menciptakan tekanan dalam diri saya sendiri. Hal-hal yang diinginkan tidak terjadi, beberapa rintangan datang dalam perjalanan, dan lagi saya menciptakan tekanan dalam diri saya sendiri, saya mulai mengikat jerat dalam diri saya. Dan seluruh hidup saya, hal-hal yang tidak diinginkan tetap terjadi, hal-hal yang diinginkan bisa atau pun tidak bisa terjadi, dan proses atau reaksi mengikat jerat – jerat Gordius -- membuat seluruh struktur batin dan fisik begitu tegang, begitu penuh akan hal-hal negatif, segingga hidup menjadi menyedihkan.

Sekarang sebuah cara untuk memecahkan masalah adalah dengan mengubah sehingga tak ada satu pun hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam hidup saya dan segalanya tetap terjadi persis seperti yang saya kehendaki. Saya harus mengembangkan sebuah kekuatan, atau orang lain harus memiliki kekuatan dan harus datang untuk membantu ketika saya memintanya, sehingga segala hal yang tidak diinginkan tidak terjadi dan segala yang saya inginkan terjadi. Tetapi hal ini tidak mungkin. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang keinginannya selalu terpenuhi, yang dalam hidupnya segalanya terjadi sesuai dengan keinginannya, tanpa terjadi adanya hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi pertanyaan yang muncul, bagaimanakah agar saya tidak bereaksi secara membabi buta dalam menghadapi segala hal yang tidak saya sukai? Bagaimanakah agar tidak tercipta suatu ketegangan? Bagaimanakah agar tetap penuh damai dan harmonis?

Di India seperti halnya di negara-negara lain, para orang suci bijaksana pada masa lampau telah mempelajari masalah ini -- masalah dari penderitaan manusia--dan menemukan solusinya: jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan seseorang mulai bereaksi dengan membangkitkan kemarahan, ketakutan atau hal-hal negatif lainnya, maka dengan sesegera mungkin ia harus mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain. Sebagai contoh, berdiri, mengambil segelas air, dan meminumnya -- kemarahan Anda tidak akan berlipat ganda dan Anda dapat keluar dari kemarahan. Atau mulai berhitung: satu, dua, tiga, empat. Atau  mengulang sebuah kata, atau kalimat, atau beberapa mantra, mungkin nama dewa atau seorang suciwan yang Anda puja; pikiran akan teralihkan, dan untuk lebih lanjut, Anda akan keluar dari kenegatifan, keluar dari kemarahan.

Solusi ini sangat membantu: dan berhasil . Solusi ini tetap berhasil. Melatih hal ini, pikiran akan merasa bebas dari gejolak. Namun faktanya, solusi ini akan bekerja hanya pada tingkat kesadaran. Sebenarnya, dengan mengalihkan perhatian, seseorang mendorong kenegatifan masuk ke dalam bawah sadarnya, dan pada tingkatan ini seseorang terus membangkitkan dan melipat gandakan kekotoran yang sama. Pada tingkat permukaan ditemukan lapisan kedamaian dan keharmonisan, tetapi jauh di dalam pikiran terdapat gunung berapi yang tertidur berasal dari kenegatifan yang ditekan, yang cepat atau lambat akan meledak dengan letusan yang merusak.

Para penjelajah kebenaran sejati tetap meneruskan pencarian mereka, dan dengan mengalami realita pikiran dan permasalahan dalam diri mereka sendiri mereka menyadari bahwa mengalihkan perhatian hanyalah merupakan pelarian diri dari permasalahan. Melarikan diri bukanlah sebuah solusi: seseorang harus mengadapi permasalahannya. Kapanpun kenegatifan bangkit dalam pikiran, cukup mengamatinya saja, hadapi dia. Setelah seseorang mengamati berbagai kekotoran batin, kekotoran batin tersebut akan kehilangan kekuatannya. Secara perlahan ia akan berkurang dan tercabut.

Sebuah solusi yang baik: hindarkanlah kedua hal ekstrem -- menekan dan membiarkan bebas. Dengan tetap menyimpan kenegatifan dalam bawah sadar tidak akan menghilangkannya; dan dengan membiarkannya bermanifestasi (berwujud) menjadi perbuatan fisik ataupun ucapan hanya akan menciptakan masalah lebih banyak. Tetapi jika seseorang hanya mengamatinya saja, maka kekotoran akan musnah, dan seseorang telah menghilangkan kenegatifan tersebut, seseorang terbebaskan dari kekotoran batin.

Hal ini kedengarannya sangat luar biasa, tetapi apakah benar-benar bisa dipraktikkan? Bagi kebanyakan orang, apakah mudah untuk menghadapi kekotoran batin? Ketika kemarahan bangkit, ia menguasai kita begitu cepat sehingga kita bahkan tidak menyadarinya. Kemudian dengan dikuasai oleh kemarahan, kita melakukan tindakan fisik atau ucapan tertentu yang menyakitkan bagi kita dan bagi pihak lain. Belakangan, setelah kemarahan berlalu, kita mulai menangis dan menyesal, memohon maaf kepada orang ataupun kepada tuhan: ”Oh, saya telah melakukan sebuah kesalahan, tolong maafkanlah saya!” Tetapi di lain waktu kita berada di dalam situasi yang sama, kita kembali bereaksi dengan cara yang sama. Semua penyesalan tersebut tidaklah menolong sama sekali.

Kesulitannya adalah saya tidak sadar kapan kekotoran batin itu mulai muncul. Ia dimulai jauh di dalam tingkat bawah sadar pikiran, dan seiring dengan waktu mencapai pada tingkat kesadaran, ia memiliki begitu banyak kekuatan yang menguasai saya, dan saya tidak dapat mengamatinya.

Maka saya harus mempekerjakan seorang sekretaris pribadi untuk saya, sehingga kapanpun kemarahan muncul, ia akan berkata, ”Lihat tuan, kemarahan mulai muncul!” Oleh karena saya tidak mengetahui kapan kemarahan ini akan mulai muncul, saya harus memiliki tiga sekretaris pribadi untuk tiga masa, selama 24 jam! Andai kata saya dapat melakukan hal itu dan ketika kemarahan mulai muncul, dengan segera sekretaris saya memberitahukan kepada saya, “Oh, tuan, lihatlah -- kemarahan mulai muncul!” Satu hal pertama yang akan saya lakukan adalah menampar dan menyerangnya: “Dasar bodoh! Kamu pikir kamu digaji untuk mengajari saya?” Saya begitu terlalu dikuasai oleh kemarahan dimana tidak ada nasihat yang baik yang akan membantu.

Bahkan seandainya kata-kata bijak tersebut berhasil dan saya tidak menamparnya. Dan saya berkata, “Terima kasih banyak. Sekarang saya harus duduk dan mengamati kemarahan saya.” Apakah hal ini mungkin? Setelah saya menutup mata saya dan mencoba mengamati kemarahan, dengan cepat obyek kemarahan datang dalam pikiran saya, seseorang atau peristiwa yang membuat saya menjadi marah. Lalu saya tidak mengamati kemarahan itu sendiri. Saya justru mengamati rangsangan emosi luar. Ini hanya akan melipatgandakan kemarahan; ini bukanlah solusinya. Sangat sulit mengamati beragam kenegatifan yang abstrak (tidak kelihatan), emosi yang abstrak yang terpisah dari obyek luar yang menyebabkannya muncul.

Namun, bagi seseorang yang telah mencapai kebenaran tertinggi menemukan solusi yang sebenarnya. Ia menemukan bahwa kapanpun kekotoran batin apapun muncul dalam pikiran, merangsang dua hal yang terjadi pada tingkat fisik. Pertama adalah napas yang kehilangan irama normalnya. Kita mulai sukar bernapas kapanpun kenegatifan datang pada pikiran. Ini mudah untuk diamati. Pada tingkat yang halus, suatu reaksi biokimia muncul dalam tubuh -- suatu perasaan. Setiap kekotoran batin akan membangkitkan sebuah perasaan atau yang lainnya di bagian dalam, di satu bagian tubuh atau yang lainnya.

Ini merupakan solusi praktis. Orang awam tidak dapat mengamati kekotoran-kekotoran pikiran yang abstrak -- ketakutan, kemarahan, atau napsu yang abstrak. Tetapi dengan latihan dan praktek yang tepat, sangatlah mudah untuk mengamati pernapasan dan perasaan-perasaan jasmaniah -- dimana keduanya berhubungan langsung dengan kekotoran-kekotoran batin.

Pernapasan dan perasaan jasmani akan membantu saya dengan dua cara. Yang pertama, keduanya seperti sekretaris pribadi saya. Segera saat kekotoran muncul dalam pikiran saya, napas saya kehilangan kenormalannya; napas saya akan mulai berteriak, ”Perhatikan, ada sesuatu yang tidak beres!” Saya tidak dapat menampar napas saya; saya harus menerimanya sebagai peringatan. Hal yang sama juga pada perasaan memberitahu kepada saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu setelah diperingatkan, saya mulai mengobservasi pernapasan saya, perasaan saya, dan saya menemukan dengan sangat cepat bahwa kekotoran batin menghilang.

Fenomena jasmani-batin ini seperti halnya sebuah mata uang bersisi dua. Pada sisi yang satu merupakan pikiran atau emosi apapun yang muncul dalam pikiran. Di satu sisi yang lain merupakan pernapasan dan perasaan dalam tubuh. Pikiran atau emosi apapun, kekotoran batin apapun, memanifestasikan (mewujudkan) dirinya dalam napas dan perasaan saat itu. Jadi, dengan mengamati pernapasan atau perasaan, pada dasarnya saya sedang mengamati kekotoran batin. Daripada melarikan diri dari permasalahan, saya menghadapai realitas sebagaimana adanya.  Lalu saya akan menemukan bahwa kekotoran batin kehilangan kekuatannya: ia tidak lagi menguasai saya sebagaimana terjadi di waktu lalu. Jika saya tetap melakukannya, kekotoran batin akhirnya akan menghilang secara keseluruhan, dan saya tinggal dalam penuh kedamaian dan kebahagiaan.

Dengan cara ini, teknik-teknik pengamatan diri menunjukkan kepada kita realitas kedua aspeknya, di dalam dan luar. Sebelumnya, seseorang selalu melihat dengan mata terbuka, dan kehilangan kebenaran bagaian dalam. Saya selalu melihat ke luar untuk melihat penyebab dari ketidakbahagiaan saya; saya selalu menyalahkan dan mencoba untuk merubah realitas di luar. Dengan ketidaktahuan akan realitas di dalam diri, Saya tidak pernah memahami bahwa penyebab dari penderitaan terletak di dalamnya, dengan reaksi membuta saya yang mengarah pada perasaan senang dan tidak senang.

Sekarang dengan latihan, saya dapat melihat sisi lain dari mata uang. Saya dapat menjadi sadar akan napas saya dan juga akan apa yang terjadi di dalam diri saya. Apapun itu, napas atau perasaan, saya belajar untuk hanya mengamatinya saja, tanpa kehilangan keseimbangan pikiran. Saya berhenti untuk bereaksi, berhenti melipatgandakan kesengsaraan saya. Sebaliknya, saya membiarkan kekotoran batin untuk muncul dan menghilang.

Lebih sering seseorang berlatih dengan teknik ini, lebih cepat seseorang akan menemukan dan keluar dari kenegatifan. Secara berangsur-angsur pikiran menjadi bebas dari kekotoran-kekotoran batin; pikiran akan menjadi murni. Pikiran yang murni selalu penuh dengan cinta kasih -- cinta kasih tanpa pamrih untuk semua orang; penuh dengan belas kasih bagi  kelemahan dan penderitaan orang lain; penuh dengan suka cita atas kebahagiaan dan kesuksesan mereka; penuh dengan keseimbangan dalam menghadapi berbagai situasi.

Ketika seseorang mencapai tahap ini, seluruh pola hidupnya mulai berubah. Tidak lagi memungkinkan untuk melakukan ucapan maupun perbuatan fisik yang akan mengganggu kedamaian dan kebahagiaan pihak lain. Sebaliknya, keseimbangan pikiran  tidak hanya membuat kedamaian bagi dirinya sendiri, tetapi membantu pihak lain menjadi penuh kedamaian. Atmosfir yang mengelilingi orang seperti itu akan menyebar dengan kedamaian dan keharmonisan, dan ini juga akan mulai mempengaruhi pihak lain.

Dengan belajar untuk tetap seimbang dalam menghadapi segala pengalamannya dalam diri, seseorang mengembangkan ketidakpengaruhan menghadapi semua hal yang ia temukan dalam situasi-situasi eksternal (luar) apapun. Namun, ketidakpengaruhan bukanlah penghindaran ataupun ketidakacuan terhadap berbagai masalah dunia. Seorang meditator Vipassana menjadi lebih sensitif terhadap berbagai penderitaan orang lain, dan berusaha sepenuhnya membebaskan penderitaan mereka dengan cara apapun yang ia bisa lakukan -- bukan dengan berupa gejolak (agitasi) tetapi dengan pikiran yang penuh dengan cinta kasih, belas kasih, dan keseimbangan batin. Ia belajar kesucian yang tanpa membedakan -- bagaimana melakukan sesuatu secara penuh, membantu orang lain secara penuh, sementara pada saat yang sama tetap menjaga keseimbangan pikirannya. Dengan cara ini ia tetap penuh kedamaian dan kebahagaian selagi ia bekerja untuk kedamaian dan kebahagiaan orang lain.

Inilah yang Sang Buddha ajarkan; sebuah seni kehidupan. Beliau tidak pernah menyatakan atau mengajarkan agama apapun, “isme” apapun. Beliau tidak pernah menginstruksikan para pengikutNya untuk berlatih upacara atau ritual apapun, formalitas yang kosong dan membuta apapun. Sebaliknya Beliau hanya mengajarkan untuk mengamati alam sebagaimana adanya dengan mengamati realitasi di dalam diri. Dikarenakan kebodohan batin, seseorang tetap bereaksi dengan cara yang menyakitkan bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Tetapi ketika kebijaksanaan muncul -- kebijaksanaan dari mengamati realita sebagaimana adanya -- seseorang keluar dari reaksi kebiasaannya ini. Ketika seseorang berhenti bereaksi secara membuta, maka seseorang mampu melakukan tindakan sesungguhnya, tindakan dari proses keseimbangan pikiran, pikiran yang melihat dan memahami kebenaran. Tindakan seperti itu hanya dapat menjadi positif, kreatif, sangat membantu bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.

Yang diperlukan setelah itu adalah “mengetahui diri sendiri” -- sebuah nasihat yang diberikan oleh setiap orang bijak. Seseorang harus mengetahui dirinya sendiri bukan hanya pada tingkat intelektual, tingkat ide-ide dan teori-teori. Ini juga bukan berarti hanya mengetahuinya pada tingkat emosional atau ketaatannya, menerima dengan mudah dan membuta apa yang ia dengar atau ia baca. Pengetahuan seperti itu tidaklah cukup. Sebaliknya seseorang harus mengetahui realitas pada tingkat yang sesungguhnya. Seseorang harus mengalami secara langsung realitas fenomena jasmani-batin ini. Hal ini saja yang akan membantu kita untuk keluar dari kekotoran batin, keluar dari penderitaan.

Pengalaman langsung realitas akan diri sendiri ini, teknik pengamatan diri ini, disebut sebagai meditasi `Vipasana`. Dalam bahasa India pada masa Sang Buddha, passana berarti melihat dengan mata terbuka, dengan cara yang biasa, tetapi Vipassana adalah mengamati segala sesuatu seperti apa sesungguhnya mereka, bukan hanya seperti apa yang terlihat. Kebenaran nyata perlu ditembus, sampai seseorang mencapai kebenaran tertinggi dari seluruh struktur fisik dan batin. Ketika seseorang mengalami kebenaran ini, maka ia akan belajar berhenti bertindak secara membuta, berhenti menciptakan kekotoran batin -- dan secara alamiah kekotoran yang lama secara berangsur-angsur akan terhapus. Ia keluar dari kesengsaraan dan mengalami kebahagiaan.

Ada tiga langkah untuk berlatih yang diberikan dalam pelajaran meditasi Vipassana. Pertama, seseorang harus menjauhkan diri dari tindakan, fisik atau ucapan apapun yang menggangu kedamaian dan keharmonisan pihak lain. Seseorang tidak bisa bekerja membebaskan diri sendiri dari kekotoran dalam pikiran ketika pada saat yang sama ia terus melakukan perbuatan fisik dan perkataan yang hanya melipatgandakan kekotoran batin tersebut. Oleh karena itu, aturan kemoralan merupakan awal yang penting dari latihan. Seseorang tidak melakukan pembunuhan, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan seksual yang tidak dibenarkan, tidak berkata bohong, dan tidak menggunakan obat-obat yang memabukkan. Dengan tidak melakukan perbuatan seperti itu, seseorang membiarkan pikirannya cukup tenang sehingga ia dapat mulai melakukan tugas yang ada.

Langkah selanjutnya adalah mengembangkan penguasaan atas pikiran yang liar ini, dengan melatihnya untuk tetap berada pada satu obyek yaitu napas. Seseorang berusaha untuk mempertahankan perhatiannya selama mungkin pada pernapasan. Ini bukanlah latihan bernapas: seseorang tidak mengatur napasnya. Sebaliknya ia mengamati pernapasan secara alami sebagaimana adanya, sebagaimana napas masuk dan keluar. Dengan cara ini seseorang lebih lanjut menenangkan pikirannya sehingga tidak lagi dikuasai oleh kenegatifan yang kuat. Pada saat yang sama, seseorang mengkonsentrasikan pikirannya, membuat pikirannya tajam dan menembus, sanggup untuk melakukan pekerjaan akan pemahaman mendalam (insight).

Dua langkah awal ini yaitu hidup dalam kehidupan yang bermoral dan mengendalikan pikiran sangatlah diperlukan dan dengan sendirinya sangat menguntungkan; tetapi keduanya akan mengarah pada pengekangan diri, kecuali ia mengambil langkah ketiga -- memurnikan pikiran dari kekotoran batin dengan mengembangkan pengetahuan mendalam ke dalam sifat alami dirinya. Inilah Vipassana: mengalami realitas akan diri sendiri, dengan pengamatan yang sistematis dan tanpa emosi atas fenomena perubahan menerus dari fisik dan batin yang mewujudkan dirinya sebagai perasaan yang ada di dalam diri seseorang. Inilah puncak dari ajaran Sang Buddha: pemurnian diri sendiri dengan mengamati diri sendiri.

Hal ini dapat dipraktikkan oleh semua orang. Setiap orang menghadapi masalah penderitaan. Ini adalah penyakit universal yang membutuhkan obat universal -- bukan obat sekelompok orang. Ketika seseorang menderita karena kemarahan, ini bukan kemarahan Buddhis, kemarahan Hindu, atau kemarahan Kristiani. Kemarahan adalah kemarahan. Ketika seseorang bergejolak sebagai akibat dari kemarahan ini, gejolak ini bukanlah Kristiani atau Hindu, atau Buddhis. Penyakit tersebut bersifat universal. Obatnya pun harus bersifat universal.

Vipassana merupakan obat universal. Tak seorang pun akan merasa keberatan atas aturan hidup yang menghargai kedamaian dan keharmonisan orang lain. Tak seorang pun akan menolak untuk mengembangkan pengendalian atas pikiran. Tak seorang pun akan keberatan untuk mengembangkan pengetahuan mendalam ke dalam sifat alami dirinya, yang dengannya memungkinkan untuk membebaskan pikiran dari kenegatifan. Vipassana adalah jalan yang universal.

Mengamati realitas sebagaimana adanya dengan mengamati kebenaran yang ada di dalam diri -- ini berarti mengetahu diri sendiri pada tingkat sebenarnya, tingkat pengalaman. Ketika seseorang berlatih, ia berangsur-angsur keluar dari kesengsaraan akan kekotoran batin. Dari kebenaran yang kasar, eksternal, nyata, seseorang menembus kepada kebenaran tertinggi dari pikiran dan fisik. Kemudian ia melampaui semuanya, dan mengalami sebuah kebenaran yang melampaui pikiran dan fisik, melampaui ruang dan waktu, melampaui kondisi medan relatifitas: kebenaran dari pembebasan total dari segala kekotoran batin, ketidakmurnian, penderitaan. Apapun nama yang seseorang berikan kepada kebenaran tertinggi ini adalah tidak relevan; ini merupakan tujuan akhir bagi semua orang.

Semoga Anda semua mengalami kebenaran tertinggi ini. Semoga semua orang keluar dari kekotoran batin dan kesengsaraan mereka. Semoga mereka menikmati kebahagiaan, kedamaian, keharmonisan sejati.

Semoga semua makhluk berbahagia.


--end--


Tulisan di atas berdasarkan pada permbicaraan yang diberikan oleh Mr. S.N. Goenka pada bulan Juli 1980 di Berne, Switzerland.

Tentang Penulis:

S.N. Goenka lahir di Mandalay, Myanmar pada tahun 1924. Beliau adalah seorang guru meditasi dengan metode Vipassana; Beliau telah memiliki beberapa pusat Vipassana di seluruh dunia. Beliau berasal dari keluarga India yang kaya di Myanmar dan dulunya Beliau sebagai pemimpin perusahaan yang terkenal di komunitas India. Pada tahun 1969, Beliau mengundurkan diri dari semua kegiatan bisnisnya dan mengabdikan seluruh kehidupannya untuk menyebarkan meditasi Vipassana. Beliau mempimpin ratusan pelatihan diseluruh dunia. Goenka menulis dalam bahasa Inggris, Hindi, dan Rajasthan. Sejauh ini pekerjaannya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia.


Judul asli: The Art of Living: Vipassana Meditation
Oleh: S.N. Goenka 
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com

 
Apakah Umat Buddha Penyembah Berhala?

Apakah Umat Buddha Penyembah Berhala?

 

Penghormatan Terhadap Objek

Dalam setiap agama pasti terdapat objek-objek atau simbol-simbol yang ditujukan untuk penghormatan. Dalam Buddhisme terdapat tiga objek agama yang utama untuk tujuan tersebut, yaitu:

  1. Saririka atau relik-relik jasmani Sang Buddha;
  2. Uddesika atau simbol-simbol agama seperti rupang (patung, gambar) Sang Buddha dan cetiya atau pagoda;
  3. Paribhogika atau barang-barang pribadi yang pernah digunakan oleh Buddha.

Sudah menjadi hal yang biasa bagi semua umat Buddha di seluruh dunia untuk memberikan penghormatan kepada objek-objek di atas. Dan juga merupakan tradisi umat Buddha untuk membangun rupang Sang Buddha, cetiya atau pagoda pagoda serta menanam pohon Bodhi di setiap Vihara sebagai objek penghormatan keagamaan.

Banyak orang salah paham dan menggangap umat Buddha sebagai penyembah berhala. Kesalahpahaman ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang ajaran Buddha serta adat istiadat dan tradisi Buddhis.

Penyembahan berhala secara umum berarti mendirikan patung dewa-dewi di beberapa agama theistik dalam berbagai bentuk oleh pemeluknya untuk disembah, mencari berkah dan perlindungan serta untuk berkah kemewahan, kesehatan dan kekayaan para pemohon. Beberapa pemohon bahkan memohon kepada patung untuk memenuhi bermacam kekuasaan pribadi walaupun kekuasaan itu diperolehi dengan cara yang salah. Mereka juga berdoa agar dosa mereka diampuni.

Pemujaan terhadap rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebenarnya berbeda dengan aspek yang diterangkan diatas. Bahkan istilah "menyembah" ini sendiri tidak sesuai dengan sudut pandang Buddhis. "Memberi penghormatan" merupakan istilah yang lebih tepat. Umat Buddha tidak berdoa kepada patung atau berhala; apa yang mereka lakukan adalah memberi penghormatan kepada seorang guru agama yang agung yang layak diberi penghormatan. Rupang-rupang didirikan sebagai tanda penghormatan dan penghargaan untuk pencapaian tertinggi dari Pencerahan dan kesempurnaan yang dicapai oleh seorang guru agama yang luar biasa. Bagi seseorang Buddhis, rupang (gambar/patung)  Sang Buddha hanya merupakan suatu tanda, simbol yang membantunya mengingat Sang Buddha.

Umat Buddha berlutut dan memberi hormat kepada rupang (gambar/patung) sebenarnya memberi hormat kepada apa yang di wakili dari rupang (gambar/patung) itu. Mereka mencari keinginan duniawi dari rupang (gambar/patung) tersebut. Mereka merenung dan bermeditasi untuk mendapatkan inspirasi dari kepribadian mulia Sang Buddha. Mereka berusaha menyamakan kesempurnaanNya dengan mengikuti ajaran-ajaran mulia Sang Buddha.

Umat Buddha menghormati kebajikan dan kesucian guru agamanya yang diwakili oleh rupang (gambar/patung) tersebut. Faktanya semua penganut agama menciptakan rupang (gambar/patung) yang mewakili guru agama mereka baik dalam bentuk visual atau dalam bentuk penggambaran secara pikiran untuk penghormatan. Oleh karena itu, tidak tepat dan tidak adil untuk mengkritik dan menyatakan bahwa umat Buddha adalah penyembah berhala.

Tindakan memberi penghormatan kepada seorang yang mulia, Sang Buddha, bukanlah suatu perbuatan yang dilakukan atas dasar rasa takut atau perbuatan untuk memohon kebahagiaan duniawi. Umat Buddha percaya bahwa perbuatan menghargai dan menghormati ciri-ciri suci yang dimiliki oleh guru agama mereka merupakan suatu perbuatan yang berpahala dan membawa berkah. Umat Buddha juga percaya bahwa mereka sendiri yang bertanggungjawab atas keselamatan diri mereka sendiri dan tidak harus bergantung kepada pihak ketiga. Meskipun demikian, ada pihak lain yang percaya bahwa mereka bisa mendapat keselamatan mereka melalui perantaran pihak ketiga dan mereka inilah yang mengkritik umat Buddha sebagai penyembah rupang (gambar/patung) seorang yang sudah tiada lagi di dunia. Fisik seseorang bisa mengalami disintegrasi dan terurai menjadi empat unsur tetapi kebajikannya akan kekal selamanya. Seorang Buddhis menghargai dan menghormati sifat-sifat mulia ini. Oleh itu, tuduhan terus mmenerus terhadap umat Buddha sanagt disayangkan, sama sekali salah serta tidak berdasar.

Ketika kita mempelajari ajaran Sang Buddha, kita dapat memahami Sang Bhagava telah mengatakan bahwa Sang Buddha hanyalah seorang guru yang telah menunjukkan jalan yang benar untuk keselamatan dan berpulang kembali kepada penganutnya untuk menjalani kehidupan beragama dan menyucikan pikiran mereka untuk mendapatkan keselamatan tanpa bergantung kepada guru agama mereka. Menurut Sang Buddha, tidak ada tuhan atau guru agama manapun yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga atau neraka. Manusia menciptakan surga dan nerakanya sendiri melalui pikiran, tindak-tanduk serta perkataan mereka sendiri.

Oleh karena itu, berdoa kepada pihak ketiga untuk keselamatan diri tanpa menyingkirkan pikiran jahat merupakan satu perbuatan yang sia-sia. Namun begitu, ada beberapa orang termasuk umat Buddha dalam melakukan sembahyang tradisonal di hadapan rupang (gambar/patung) akan mencurahkan masalah-masalah mereka, nasib malang yang dialami serta kesulitan yang dihadapi dan memohon pertolongan Sang Buddha untuk membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Walaupun perbuatan tersebut bukan suatu praktik Buddhis yang sebenar, tetapi perbuatan demikian dapat mengurangi ketegangan emosi, memberi inspirasi kepada pemohon untuk mendapatkan keberanian dan ketetapan hati untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Hal ini juga umum dilakukan dibeberapa agama lain. Tetapi bagi mereka yang dapat memahami sebenarnya penyebab dasar dari permasalahan mereka, mereka tidak membutuhkan tindakan seperti itu. Ketika umat Buddha menghormati Sang Buddha, mereka menghormatiNya dengan malafalkan kalimat-kalimat yang memuliakan kebajikan murniNya. Kalimat-kalimat ini bukanlah doa-doa dalam hal meminta kepada tuhan atau dewa untuk menghapus dosa mereka. Kalimat-kalimat ini hanya bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada seorang Guru Agung yang  telah mencapai Pencerahan dan menunjukkan cara hidup yang benar untuk kebaikan manusia. Umat Buddha menghormati guru agama mereka atas dasar rasa berterima kasih sedangkan penganut agama lain berdoa dan membuat permohonan untuk mendapatkan keuntungan dan manfaat bagi mereka. Sang Buddha juga menasihati kita untuk “menghormati mereka yang pantas dihormati.” Oleh karena itu, seorang Buddhis boleh mengakui dan menghormati guru agama manapun yang pantas dan layak dihormati.

Di tempat puja bakti, umat Buddha melaksanakan meditasi untuk melatih pikiran dan disiplin diri. Untuk tujuan meditasi, sebuah objek diperlukan; tanpa suatu objek untuk dipegang, tidaklah mudah untuk berkonsentrasi. Umat Buddha kadangkala menggunakan rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebagai objek dimana mereka dapat berkonsentrasi dan mengontrol pikiran mereka.

Di antara banyak objek meditasi, objek visual (yang bisa dilihat dengan nyata) memiliki efek yang lebih baik dalam pikiran. Di antara lima pancaindera, objek yang kita tangkap melalui kesadaran penglihatan (mata) memiliki pengaruh lebih besar pada pikiran dibanding dengan objek-objek yang ditangkap melalui kesadaran indera lainnya. Indera penglihatan dapat mempengaruhi pikiran lebih dari indera lainnya. Oleh karena itu, objek yang dapat ditangkap oleh mata membantu pikiran untuk konsentrasi secara lebih mudah dan lebih baik.

Gambar atau bentuk adalah bahasa bawah sadar (sub-conscious). Jika demikian,  rupang (gambar/patung) Sang Buddha tereflesikan dalam pikiran seseorang sebagai penjelmaan seorang yang sempurna, refleksi ini akan menembus pikiran bawah sadar seseorang dan jika cukup kuat, secara otomatis akan bertidak sebagai pengerem keinginan jahat.

Sebagai suatu objek visual, rupang (gambar/patung) Buddha mempunyai dampak yang baik dalam pikiran; perenungan akan pencapaian dari Sang Buddha dapat menghasilkan kegembiraan, kesegaran pikiran dan menghilangkan ketegangan, keresahan dan frutasi di dalam diri seseorang.

Salah satu tujuan dalam meditasi “Buddha – nussati” (Perenungan Terhadap Buddha), yaitu untuk menciptakan rasa bakti dan keyakinan terhadap Sang Buddha dengan menyadari dan menghargai keagungan Beliau. Oleh karena itu, “menyembah” rupang (gambar/patung) Sang Buddha, dimana tidak terdapat doa permohonan, sumpah-sumpah atau ritual tidak bisa dianggap sebagai menyembah berhala, tetapi sebagai suatu bentuk penghormatan yang ideal.


Penghormatan

Beberapa kalimat yang dibacakan oleh umat  Buddha untuk mengenang Guru Agung mereka sebagai tanda penghormatan dalam rasa terima kasih dan dalam pujian kepada Sang Buddha berbunyi seperti berikut:

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa
Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna.
Selanjutnya mereka membaca kalimat yang menjelaskan ciri-ciri agung dan kebajikan Sang Buddha seperti berikut:

“Iti pi so Bhagava Araham Samma sambuddho vijja carana–sampanno Sugato Lokavidu Anuttaro Purisa dammasarathi Sattha Devamanussanam Buddho Bhagava ti”
Keseluruhan kalimat ini di dalam bahasa Pali. Jika anda tidak terbiasa dengan bahasa ini, anda d melafalkan kalimat tersebut dalam berbagai bahasa yang anda ketahui. Terjemahannya di dalam bahasa Indonesia seperti berikut:

“Demikianlah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna: Sempurna pengetahuan serta tindak–tandukNya, Sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbana), Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, Yang Sadar , Yang Patut Dimuliakan”

Beberapa kalimat yang dibacakan oleh umat  Buddha untuk mengenang Guru Agung mereka sebagai tanda penghormatan dalam rasa terima kasih dan dalam pujian kepada Sang Buddha berbunyi seperti berikut: Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna. Selanjutnya mereka membaca kalimat yang menjelaskan ciri-ciri agung dan kebajikan Sang Buddha seperti berikut:Keseluruhan kalimat ini di dalam bahasa Pali. Jika anda tidak terbiasa dengan bahasa ini, anda d melafalkan kalimat tersebut dalam berbagai bahasa yang anda ketahui. Terjemahannya di dalam bahasa Indonesia seperti berikut:


Sebuah Kisah Buddhis

Ada sebuah kisah yang akan membantu kita memahami mengapa rupang (gambar/patung) Sang Buddha penting untuk memberi inspirasi pikiran kita serta mengenang Sang Buddha dalam pikiran kita. Kisah ini terdapat di dalam kitab suci Buddhis tetapi tidak di dalam Tipitaka Pali.

Beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha mangkat, ada seorang bhikkhu yang taat di India bernama Upagupta. Beliau adalah penyebar agama yang paling popular pada masa itu. Setiap kali Beliau menyampaikan ceramah Dhamma, beribu–ribu orang akan datang mendengarkan ceramah Dhamma yang disampaikannya.

Pada suatu hari, Mara, si penggoda, merasa iri hati dengan kemasyhuran Yang Mulia Upagupta. Mara mengetahui bahwa kemasyhuran Upagupta membantu penyebaran ajaran Sang Buddha. Mara tidak menyukai melihat perkataan Sang Buddha memenuhi pikiran dan hati banyak orang. Mara membuat rencana untuk menghentikan orang-orang orang mendengarkan ceramah-ceramah Upagupta. Suatu hari, ketika Upagupta memulai ceramahnya, Mara mengadakan suatu pertunjukan bersebelahan dengan tempat dimana Upagupta berkotbah. Sebuah pentas yang indah muncul dengan tiba–tiba. Terdapat gadis-gadis penari yang cantik dan musisi yang lincah.

Orang-orang segera melupakan ceramah Upagupta dan beralih ke pertunjukkan untuk menikmati pernampilannya. Upagupta memperhatikan orang-orang perlahan-lahan meninggalkannya. Kemudian Beliau juga memutuskan untuk bergabung dalam kerumunan. Setelah itu ia memutuskan untuk memberikan pelajaran kepada Mara.

Ketika pertunjukkan itu berakhir, Upagupta menghadiahkan sebuah kalung bunga kepada Mara.

“Kau telah menyusun suatu pertunjukkan yang luar biasa,“
kata Yang Mulia Upagupta.
Mara tentu saja merasa senang dan bangga dengan pencapaiannya. Dengan sukacitanya, Mara menerima kalung bunga dari Upagupta dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

Tiba–tiba kalung bunga itu berubah menjadi lilitan menyerupai ular. Perlahan-lahan lilitan itu menjadi semakin ketat dan mencekik leher Mara. Lilitan itu mencengkram lehernya begitu sakitnya, sehingga ia mencoba menarik lilitan itu hingga putus. Walau seberapa kuat Mara menariknya, ia tidak bisa melepaskan lilitan itu dari lehernya. Ia pergi mencari Sakka untu membuka lilitan itu. Sakka juga tidak bisa melepasnya. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini,” kata Sakka. “Pergilah dan temui Maha Brahma yang paling kuat.”

Lalu, Mara pun pergi menemui Maha Brahma dan meminta pertolongannya; tapi Maha Brahma juga tidak bisa berbuat apapun. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini, satu-satunya orang yang dapat melepaskan lilitan ini adalah orang yang memakaikannya kepadamu," kata Maha Brahma.

Lalu, Mara terpaksa kembali ke Yang Mulia Upagupta.

“Tolong bukakan lilitan ini; ia sangat menyakitkan,” Mara memohon.

“Baiklah, saya akan melakukannya tetapi dengan dua kondisi,” kata Upagupta. “Kondisi pertama yaitu kau harus berjanji untuk tidak mengganggu para penganut di masa depan. Kondisi kedua yaitu kau harus menunjukkan kepadaku wujud Sang Buddha yang sebenarnya. Karena saya tahu engkau pernah melihat Sang Buddha dalam beberapa kesempatan, tapi saya tidak pernah melihatNya. Saya ingin melihat wujud sebenarnya dari Sang Buddha sama persis, dengan 32 tanda istimewa yang terdapat pada fisikNya.”

Mara merasa sangat gembira. Ia setuju dengan Upagupta. “Tapi satu hal", pinta Mara. “Jika saya merubah diri saya menjadi rupa Sang Buddha, kau harus berjanji untuk tidak akan menyembah saya kerena saya bukan orang suci sepertimu.”

“Saya tidak akan menyembahmu,” janji Upagupta.

Tiba-tiba Mara merubah dirinya menjadi rupa yang terlihat persis sama seperti Sang Buddha. Ketika Upagupta melihat rupa itu, pikirannya dipenuhi dengan inspirasi besar; rasa baktinya muncul dari dalam hatinya. Dengan tangan beranjali, dengan segera Beliau menyembah figur Buddha itu.

“Kau telah melanggar janjimu,” teriak Mara. “Engkau berjanji tidak akan menyembah saya. Sekarang, kenapa kau menyembah saya?”

“Saya tidak menyembahmu. Kau harus memahami saya sedang menyembah Sang Buddha,” kata Yang Mulia Upagupta.

Berdasarkan kisah ini, kita dapat memahami mengapa rupang (gambar/patung) Sang Buddha penting untuk memberi inspirasi kepada kita dan mengingat kemuliaan Sang Buddha dalam pikiran kita sehingga kita dapat memuliakannya. Kita sebagai Buddhis tidak menyembah simbol  material atau wujud yang hanya mewakili Sang Buddha. Tetapi kita memberi penghormatan kepada Sang Buddha.


Inspirasi dari Rupa Sang Buddha

Sang Buddha telah mangkat dan mencapai Nibbana. Sang Buddha tidak memerlukan penghormatan atau persembahan ,tetapi hasil dari penghormatan akan mengikuti kita dan orang-orang akan mendapatkan manfaat dengan mengikuti teladanNya serta merefleksikan melalui pengorbanan tertinggi dan kualitas agungNya.

Seorang Buddhis tidak melakukan pengorbanan binatang atas nama Sang Buddha.
Ketika beberapa Buddhis melihat rupang (gambar/patung) Sang Buddha, rasa bakti dan kebahagiaan muncul dalam pikirannya. Rasa bakti atau kebahagiaan ini merupakan suatu objek yang menciptakan pikiran luhur di dalam pikiran seorang Buddhis yang berbakti. Rupang (gambar/patung) Sang Buddha ini juga membantu orang untuk melupakan kerisauan mereka, kekecewaan dan masalah-masalah serta membantu mereka mengontrol pikiran mereka.

Beberapa filosof terkenal dunia, para sejarahwan dan sarjana menyimpan rupang (gambar/patung) Sang Buddha di atas meja di dalam ruang baca mereka untuk mendapatkan inspirasi kehidupan dan pemikiran yang lebih tinggi. Kebanyakan dari mereka adalah non-Buddhis. Banyak orang menghormati kedua orang tua mereka yang telah meninggal, guru, para pahlawan besar, para raja dan ratu, pemimpin nasional dan politik serta orang-orang lain yang disayangi dengan menyimpan gambar-gambar untuk menghargai memori mereka. Mereka mempersembahkan bunga untuk menyatakan perasaan kasih, terima kasih, penghargaan, penghormatan dan bakti mereka. Mereka mengenang kembali kualitas mulia dan mengingatnya dengan bangga atas pengorbanan dan pelayanan yang diberikan oleh para tokoh ketika mereka masih hidup.

Orang-orang juga mendirikan patung untuk mengenang beberapa tokoh pemimpin politik tertentu yang telah membantai berjuta nyawa yang tidak bersalah. Karena kejahatan dan ketamakan mereka untuk mendapatkan kekuasaan, mereka menjajah negara-negara yang miski dan menciptakan penderitaan, kekejaman, dan kesengsaraan yang tak terkira dengan tindakan perampasan mereka. Namun, mereka masih dianggap sebagai pahlawan besar; dan peringatan tanda jasa diselenggarakan untuk menghormati mereka, dan memberikan bunga-bunga di atas makam dan kuburan mereka. Jika perbuatan tersebut dapat dibenarkan mengapa sebagian orang mengejek umat Buddha sebagai pemuja berhala ketika mereka memberikan penghormatan kepada guru agama mereka yang telah melayani umat manusia tanpa merugikan yang lain dan yang telah menaklukkan seluruh dunia melalui kasih sayang, belas kasih dan kebijaksanaanNya?

Bisakah seseorang dengan pikiran sehat mengatakan bahwa menghormati rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebagai sesuatu yang tidak berbudaya, tidak bermoral atau tindakan yang merugikan  seperti mengganggu kedamaian dan kebahagiaan orang lain?

Apabila sebuah rupang (gambar/patung) sama sekali tidak penting bagi manusia dalam menjalankan agama maka simbol-simbol agama tertentu dan tempat-tempat beribadat juga tidak diperlukan. Umat Buddha dikecam oleh beberapa orang sebagai penyembah batu. Tetapi menyembah batu tidak berbahaya dan lebih terhormat dibandingkan dengan umat agama lain yang melakukan pelemparan batu.


Pentingnya Praktek

Bagaimanapun juga, untuk mempraktekkan ajaran-ajaran Sang Buddha, keberadaan rupang (gambar/patung) Sang Buddha bukanlah suatu keharusan . Seorang Buddhis dapat mempraktekkan agama mereka tanpa rupang (gambar/patung) Sang Buddha; mereka bisa melakukan hal ini kerena Sang Buddha tidak menganjurkan manusia untuk mengembangkan pengkultusan individu, dimana menurut ajaran Sang Buddha, seorang Buddhis tidak sepatutnya bergantung kepada orang lain bahkan kepada Sang Buddha sendiri untuk keselamatan dirinya.

Semasa kehidupan Sang Buddha, ada seorang bhikkhu bernama Wakkali. Bhikkhu ini selalu duduk di hadapan Sang Buddha dan mengagumi keindahan ciri-ciri fisik Sang Buddha. Wakkali mengatakan bahwa ia mendapat kebahagiaan dan inspirasi yang besar dengan mengagumi keindahan Sang Buddha. Sang Buddha menjawab, “Engkau tidak dapat melihat Buddha yang sebenarnya dengan hanya melihat tubuh fisiknya saja. Mereka yang melihat ajaran saya maka melihat saya”.

Aspek yang paling penting sekali dalam Buddhisme adalah mempraktekkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha. Di dalam hal ini, tidak ada bedanya antara seorang Buddhis yang memberi penghormatan kepada Sang Buddha dengan yang tidak. Tetapi bagi beberapa umat, penghormatan ini sangat penting. Bagaimanapun juga, Sang Buddha tidak mengatakan bahwa Beliau mengharapkan penghormatan.


Asal Muasal Rupang Buddha

Lalu, Bagaimanakah rupang (gambar/patung) Buddha bermula? Sukar untuk mengetahui apakah ide ini diberikan oleh Sang Buddha atau tidak. Tidak ada satupun dalam kitab suci Buddhis bahwa Sang Buddha meminta untuk membuat rupang (gambar/patung) Nya. Namun, Sang Buddha memberikan ijin untuk menyimpan relik-relik Beliau.

Suatu ketika Yang Mulia Ananda pernah ingin mengetahui mengetahui apakah diijinkan mendirikan pagoda (cetiya) untuk mengenang Sang Buddha sebagai cara menghormati Beliau. Kemudian Yang Mulia Ananda bertanya kepada Sang Buddha, ”Apakah layak, Yang Mulia, untuk membangun sebuah pagoda ketika Sang Bhagava masih hidup?”

Sang Buddha menjawab, “Tidak, adalah tidak layak ketika Saya masih hidup. Engkau bisa membangun objek penghormatan ini hanya setelah Saya tiada.”

Juga dalam kotbah terakhirNya, Maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha menasihati para siswaNya bahwa jika mereka ingin menghormati Sang Buddha setelah Ia tiada, mereka boleh membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik tubuhNya. Nasihat ini sesuai dengan kebiasaan di India pada masa itu: kebiasaan membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik orang–orang yang suci. Relik ini disimpan sebagai suatu kenangan sebagai tanda penghormatan kepada orang-orang suci. Pada saat yang sama, Sang Buddha sendiri tidak menganjurkan dan juga tidak melarang para siswaNya untuk mendirikan rupang (gambar/patung)Nya setelah Ia meninggal dunia. Idea untuk menciptakan rupang (gambar/patung) Buddha datang dari pengikut-pengikutNya yang ingin memuja pemimpin terkasih mereka dan bertujuan mendapat inspirasi dari pribadi Sang Buddha yang luhur. Mereka juga menggunakannya untuk menyimpan sebagian dari relik Sang Buddha di dalam rupang (gambar/patung) tersebut setelah didirikan.

Fa-hsien, yang mengunjungi India pada akhir abad keempat menyebutkan dalam catatannya bagaimana rupang (gambar/patung) Sang Buddha yang pertama didirikan. Bagaimanapun, kitab-kitab suci Buddhis tidak menyebut apa-apa tentang pengamatan Fa-hsien tersebut. Meskipun demikian, mitologi mencatat sebagai berikut:

Pada suatu ketika, Sang Buddha menghabiskan waktu selama tiga bulan di surga mengajarkan Abhidhamma atau Dhamma Yang Tertinggi. Selama kepergian Beliau, orang-orang yang pergi ke vihara merasa sangat tidak gembira kerena mereka tidak dapat melihat Sang Buddha. Mereka mulai mengeluh. Siswa Utama, Yang Mulia Sariputta, pergi menemui dan melaporkan situasi itu kepada Sang Buddha. Sang Buddha menasihati Beliau untuk mencari seseorang yang dapat membuat rupang (gambar/patung) yang sama persis dengan diri Sang Buddha; kemudian orang-orang akan menjadi gembira melihat rupang Sang Buddha. Sariputta pun kembali dan menemui raja untuk meminta kebaikannya untuk menolong mencari seseorang yang dapat membuat tiruan Sang Buddha. Tidak lama kemudian, orang yang dicari ditemukan; dia mengukir rupang dari kayu cedana. Setelah rupang itu diletakkan di vihara, orang-orang menjadi sangat gembira. Sejak saat itu, selanjutnya, menurut Fa-hsien, orang-orang mulai meniru replika Sang Buddha tersebut.

Tetapi hal yang sukar untuk menemukan bukti di dalam literatur Buddhis dan sejarah untuk mendukung keberadaan Rupang Sang Buddha di India sampai hampir 500 tahun setelah Sang Buddha mangkat. Pada masa itu, para umat  biasanya menghormati Sang Buddha dengan menyimpan bunga teratai atau gambar telapak kaki Sang Buddha. Nampaknya, pada permulaan beberapa umat Buddha tidak menyukai membuat rupang Sang Buddha, mengingat memungkinkan terjadinya penyimpangan terhadap ciri-ciri penting Sang Buddha.

Banyak para sejarahwan mengklaim bahwa rupang (gambar/patung) Sang Buddha dibuat pertama kali di India pada masa pendudukan bangsa Yunani. Orang–orang Yunani membantu dan menganjurkan orang–orang India dalam seni membangun rupang Sang Buddha. Sejak saat itu, orang-orang di berbagai negara mulai mendirikan rupang Sang Buddha. Rupang-rupang  di berbagai negara diukir dan dibentuk mengikut gaya dan seni yang menggambarkan ciri–ciri fisik orang–orang di negara tersebut. Di dalanm negara Buddhis itu sendiri, gaya dari Rupang Sang Buddha pun berkembang menjadi beragam bentuk dan gaya disesuaikan dengan perubahan jaman dan sejarah.


Pendapat Para Intelektual Mengenai Rupang Buddha

Pendit Nehru, mantan Perdana Menteri India, mengulas tentang rupang (gambar/patung) Buddha seperti berikut:

“MataNya tertutup, tetapi ada suatu kekuatan spiritual yang keluar dari matanya dan energi vital memenuhi strukturnya. Banyak jaman bergulir, dan nampaknya Sang Buddha tidak pergi terlalu jauh; suaranNya berbisik di telinga kita dan memberitahu kita supaya jangan lari dari perjuangan tetapi, menghadapinya dengan pandangan tenang, dan melihat peluang–peluang besar dalam hidup untuk terus berkembang dan maju.” Nehru juga pernah berkata, “Semasa saya berada di dalam penjara, saya sentiasa memikirkan tentang rupang (gambar/patung) Buddha yang merupakan sumber inspirasi yang luar biasa untuk saya.”

Semasa Perang Dunia Kedua, General Ian Hamilton menemukan sebuah rupang Buddha di dalam sebuah reruntuhan vihara di Burma. Ia mengirim rupang tersebut ke Winston Churchill yang pada waktu itu menjadi Perdana Menteri Inggris dengan satu pesanan:

“Ketika anda khawatir, lihatlah  rupang yang wajahnya begitu tenang dan tersenyumlah kepada kekhawatiran anda.”
Count Keyserling, seorang filosof berkata:

“Saya tidak mengetahui hal lain yang lebih agung di dunia ini selain dari figur seorang Buddha; yang merupakan suatu penjelmaan spiritual yang sungguh sempurna di dalam dunia nyata (visible domain)”

Sarjana lain berkata:

“Rupang (gambar/patung) Buddha yang kita lihat merupakan suatu simbol yang mewakili kualitas. Pujian dan penghormatan kepada Sang Buddha tidak lain merupakan suatu simbol penghargaan atas keagungan dan kebahagian yang kita ketemui melalui ajaranNya.”

Ketenangan dan ketentraman rupang Sang Buddha telah menjadi konsep umum kecantikan dari keindahan yang ideal. Rupang Sang Buddha merupakan sesuatu yang sangat berharga, aset kebudayaan Asia yang paling berharga dan dipunyai oleh banyak orang. Tanpa rupang Buddha, Asia hanya akan dikenali sebagai suatu kawasan geografi saja mespikun semakmur apapun.

Umat Buddhis menghormati patung Sang Buddha sebagai monumen keagungan, kebijaksanaan, yang paling sempurna, dan penuh belas kasih dari seorang guru agama yang pernah hidup di dunia ini. Rupang ini diperlukan untuk mengingat kembali Sang Buddha dan kualitas agungNya yang memberikan inspirasi kepada jutaan manusia dari generasi ke generasi dalam dunia yang berbudaya. Rupang ini menolong mereka berkonsentrasi kepada Buddha. Mereka merasakan kehadiran Sang Guru di dalam pikiran mereka, dan dengan demikian menjadikan penghormatan mereka lebih jelas dan bermakna.

Sebagai seorang Buddhis, akan sangat tepat sekiranya untuk anda mempunyai rupang atau gambar Buddha di dalam rumah anda. Simpanlah rupang atau gambar ini bukan sebagai pajangan yang dipamerkan tetapi sebagai objek puja, penghormatan, dan inspirasi. Ketentraman rupang Buddha merupakan satu simbol yang memancarkan kasih sayang, kesucian dan kesempurnaan yang menjadi sumber penghibur dan inspirasi dalam membantu anda mengatasi berbagai permasalahan dan kekhawatiran yang harus anda hadapi dalam akitivitas keseharian di dunia yang bermasalah ini.

Ketika anda memberi penghormatan kepada Sang Buddha, anda akan mendapat banyak manfaat apabila anda bermeditasi beberapa saat dengan memfokuskuskan pikiran anda pada kualitas agung dan mulia Sang Buddha. Jika anda memikirkan Guru Agung, anda dapat menyempurnakan diri anda melalui bimbinganNya. Oleh karena itu, bukan hal yang tidak wajar penghormatan ini terekspresikan di dalam bentuk seni dan pahatan yang terbaik dan terindah di dunia.

Seorang penulis terkenal lainnya mengatakan di dalam bahasa filsafatnya mengenai arti sebenarnya di dalam memberi penghormatan kepada Sang Buddha, seperti berikut:

“Kita juga perlu memberi penghormatan meskipun pemujaan itu diarahkan bukan untuk seorang-karena sebenarnya semua personalitas merupakan mimpi, tetapi pemujaan itu diarahkan kepada kesesuaian hati kita. Dengan itu, kita dapat menemui kekuatan baru dan membangun mahligai kehidupan kita sendiri, membersihkan hati kita sampai layak untuk membawa rupang tersebut di dalam tempat perlindungan kasih sayang yang mendalam. Di atas altarnya, kita semua perlu mempersembahkan hadiah bukan cahaya yang padam, bunga-bunga yang layu, tetapi tindakan kasih sayang, pengorbanan dan tanpa keakuan terhadap semua yang berada di sekeliling kita.”

Anatol France, di dalam autobiografinya menulis, “Di awal bulan Mei, 1890, kesempatan membawaku untuk mengunjungi sebuah musium di Paris. Di sana berdiri dewa-dewa Asia dalam kesunyian dan kesederhanaan, pandanganku jatuh pada patung Sang Buddha yang memberi isyarat kepada penderitaan manusia untuk mengembangkan pemahaman dan belas kasih. Jika ada tuhan yang pernah berjalan di atas muka bumi ini, saya merasakan Beliaulah (Buddha) orangnya. Saya merasa seperti berlutut dan berdoa kepadaNya seperti kepada Tuhan.”

Mr. Ouspensky, seorang penulis Barat lainnya, mengekspresikan perasaannya terhadap rupang Buddha yang ia temukan di Sri Lanka. Ia berkata, “Rupang Buddha ini merupakan suatu bagian seni yang sungguh istimewa. Saya tidak mengetahui hasil karya seni lainnya yang sejajar dengan rupang Buddha dengan mata dari batu safir, dimana sepengetahuan saya tidak ada karya seni yang dapat mengekspresikan dengan sempurna idea suatu agama seperti wajah rupang Buddha yang mengekspresikan ide Buddhisme.” Selanjutnya ia berkata, ”Tidak perlu membaca banyak buku tentang Buddhisme atau berjalan bersama dengan para professor yang mempelajari agama–agama Timur atau belajar dengan para bhikkhu. Seseorang harus datang ke sini, berdiri di hadapan rupang Buddha ini dan biarkan pancaran mata birunya menembus kehidupannya, dan dia akan memahami apa itu Buddhisme.”

Kesenian Buddhis yang indah dari membangun rupang, menciptakan lukisan dinding tentang beragam kisah Buddhis telah memberikan inspirasi yang sangat besar pada kekayaan seni dan budaya di hampir setiap negara Asia lebih dari 2000 tahun.

Apakah yang membuat pesan-pesan Sang Buddha begitu diminati oleh orang yang telah mengembangkan intelektual mereka? Jawabannya mungkin terlihat pada ketentraman rupang Sang Buddha. Bukan hanya dalam warna dan garis manusia mengekspresikan keyakinannya terhadap Sang Buddha dan ajaranNya. Tangan manusia menempa logam dan batu memproduksi rupang Buddha yang merupakan salah satu ciptaan terbesar dari kejeniusan manusia.

Jika umat Buddha benar–benar ingin melihat kehadiran Sang Buddha dalam segala keagungan dan keindahanNya, mereka harus menerjemahkan ajaran-ajaranNya ke dalam tindakan dan situasi praktis pada kehidupan sehari-hari mereka. Dengan mempraktekkan ajaran-ajaranNya mereka dapat mendekatkan diri dan merasakan pancaran yang luar biasa dari kebijaksanaan dan belas kasihNya yang tidak kunjung padam. Hanya menghormati rupang Sang Buddha tanpa mengikuti ajaran muliaNya bukannya cara untuk menemukan keselamatan.

KehidupanNya begitu indah, hatiNya begitu suci dan baik, pikiranNya begitu dalam dan tercerahkan, kepribadianNya begitu menginspirasikan dan tanpa ke-aku-an - kehidupan yang sangat sempurna, hati yang sangat berbelas kasih, pikiran yang sangat tenang, kepribadian yang sangat tentram yang patut di hormati, layak diberi penghormatan dan layak diberi persembahan. Sang Buddha yang merupakan kesempurnaan tertinggi dari umat manusia, dan keindahan dari kemanusiaan.

Sir Edwin Arnold menjelaskan sifat alami Kebuddhaan di dalam bukunya ”Light of Asia” (Cahaya Asia) seperti berikut:

“Ini adalah bunga dari pohon manusia kita yang berkembang dalam beribu–ribu tahun. Takkala berkembang, mengisi dunia dengan harum kebijaksanaan dan menjatuhkan madu kasih sayang.”

Seorang penyair terkemuka India, Rabindranath Tagore menyebutkan hal penting dari penampilan Sang Buddha dalam bahasa puitisnya dengan cara berikut:

Semua makhluk menangis atas kelahiran baru mereka.
Oh, Engkau yang hidup tanpa batas
Selamatkanlah mereka, bangkitkanlah suara harapan abadiMu
Biarkan teratai cinta dengan harta madu yang tak terhingga itu,
membuka kelopaknya dalam cahayanya.
Oh Kedamaian, Oh Kebebasan,
Di dalam belas kasih dan kebaikanMu yang tidak terukur,
Singkirkanlah semua noda gelap dari hati dunia ini.

Namo Buddhaya – Terpujilah Sang Buddha.


-end-


Judul Asli: Are Buddhist Idol - Worshippers?
Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com


 
Mengapa Kita Ada Di Sini ?

MENGAPA KITA ADA DI SINI ?

 

Pada Masa Vassa kali ini, saya tidak mempunyai banyak tenaga, saya tidak begitu sehat, jadi saya datang ke pegunungan ini untuk mendapatkan udara segar. Orang-orang datang berkunjung, tetapi saya tidak benar-benar dapat menerima mereka seperti biasanya karena suara saya sudah hampir habis, dan nafas saya sudah hampir tiada. Kalian dapat menganggapnya sebagai sebuah berkah dengan masih adanya tubuh yang sedang duduk di sini untuk kalian lihat sekarang. Ini adalah pemberkahan di dalam dirinya sendiri. Tak lama lagi kalian tidak akan melihatnya lagi. Nafas akan berakhir, suara akan hilang. Sang Buddha menyebutnya khaya-vayam, kemerosotan dan penghancuran semua fenomena yang berkondisi.

Bagaimana caranya mereka mengalami kemerosotan? Ambil contoh sebongkah es. Pada mulanya ia hanyalah air… mereka membekukannya dan ia menjadi es. Tapi tidak diperlukan waktu yang lama sebelum ia mencair. Ambil sebongkah es yang besar, katakanlah sebesar tape recoder ini, dan biarkanlah ia diterpa sinar matahari. Kalian dapat melihat bagaimana ia berkurang, seperti halnya dengan tubuh kita. Ia akan secara bertahap terurai. Dalam beberapa jam atau menit saja, yang tinggal hanyalah kubangan air. Ini yang disebut khaya-vayam, melapuk dan terurainya semua benda-benda yang berkomposisi. Hal ini telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama, dimulai sejak berawalnya waktu. Ketika kita lahir, kita membawa sifat alamiah yang tak terpisahkan ini ke dunia bersama kita, kita tidak dapat menghindarinya. Pada saat lahir, kita membawa usia tua, sakit dan kematian bersama kita.

Jadi, inilah mengapa Sang Buddha menyebutnya khaya-vayam, melapuk dan terurainya semua benda-benda berkomposisi. Kita semua yang duduk di ruangan ini sekarang, para bhikkhu, samanera, umat awam pria dan wanita, tidak terkecuali adalah “bongkahan yang akan hancur”. Untuk saat ini bongkahannya masih keras, seperti bongkahan es. Ia bermula dari air, menjadi es untuk beberapa saat dan kemudian mencair lagi. Dapatkah kalian lihat perubahan ini di dalam diri kalian? Lihatlah tubuh ini. Dia menjadi semakin tua setiap hari… rambut menua, kuku menua… semuanya menjadi tua!

Kalian tidak seperti ini sebelumnya, bukan ? Kalian mungkin jauh lebih kecil. Sekarang kalian sudah tumbuh berkembang dan dewasa. Mulai dari sekarang kalian akan merosot, mengikuti jalan alamiah. Tubuh akan melapuk, sama seperti bongkahan es. Tak lama lagi, seperti es, semuanya akan hilang. Semua tubuh terdiri dari empat unsur dari tanah, air, angin dan api. Tubuh adalah tempat pertemuan dari tanah, air, angin dan api, yang kemudian kita sebut sebagai orang. Awalnya sangat sulit untuk menyebutkan panggilan apa yang akan kalian pakai, tetapi kini kita menyebutnya “orang”. Kita dibodohi olehnya, menyebutnya seorang pria, wanita, memberinya nama-nama, Tuan, Nyonya, dan seterusnya, supaya kita dapat menandai satu sama lain dengan lebih mudah. Tetapi sebenarnya tidak ada seorang pun di sana. Mereka hanyalah tanah, air, angin, dan api. Ketika mereka datang berkumpul dalam bentuk ini, kita menyebutnya sebagai “orang”. Sekarang, janganlah terlalu bersemangat akan hal ini. Jika kalian benar-benar melihat ke dalamnya, tidak ada seorang pun di sana.

Yang bersifat padat di dalam tubuh, daging, kulit, tulang dan seterusnya, disebut unsur tanah. Bagian-bagian tubuh yang bersifat cair adalah unsur air. Bagian tubuh yang hangat adalah unsur api, sedangkan udara yang mengalir dalam tubuh adalah unsur angin.

Di Wat Pah Pong, kita mempunyai sebuah tubuh yang bukan pria maupun wanita. Ia adalah tengkorak yang tergantung di ruangan utama. Dengan melihatnya, kalian tidak memiliki perasaan bahwa ia adalah pria ataupun wanita. Orang-orang saling bertanya apakah itu seorang pria atau wanita dan kemudian satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah melongo satu sama lain. Ia hanyalah sebuah tengkorak, semua kulit dan dagingnya telah hilang.

Kebanyakan orang tidak memperdulikan hal-hal ini. Beberapa orang pergi ke Wat Pah Pong, masuk ke ruangan utama, melihat tengkorak… dan mereka langsung berlarian keluar lagi! Mereka tidak tahan melihatnya. Mereka takut, takut kepada tengkorak. Saya menduga orang-orang ini tidak pernah melihat diri mereka sendiri sebelumnya. Takut akan tengkorak… mereka tidak merenungkan nilai yang begitu besar dari sebuah tengkorak. Untuk pergi ke vihara, mereka harus mengendarai mobil atau berjalan kaki… jika mereka tidak mempunyai tulang, akan bagaimana mereka jadinya ? Dapatkah mereka berjalan seperti itu ? Tapi mereka mengendarai mobil ke Wat Pah Pong, masuk ke ruang utama, melihat tengkorak dan langsung berlarian keluar lagi! Mereka tidak pernah melihat benda seperti ini sebelumnya. Mereka dilahirkan dengan tengkorak, namun mereka tidak pernah melihatnya. Sangatlah beruntung jika mereka mempunyai kesempatan untuk melihatnya sekarang. Bahkan orang-orang tua ketika melihat tengkorak, menjadi takut… Ada gerangan apa ini semua? Ini menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak dekat dengan diri mereka sendiri, mereka tidak benar-benar mengenali diri mereka sendiri. Mungkin mereka pulang ke rumah dan tetap tidak bisa tidur selama tiga atau empat hari… namun sebenarnya mereka sendiri tidur dengan tengkorak! Mereka berpakaian dengannya, makan dengannya, melakukan semuanya dengannya….namun mereka takut kepadanya.

Ini menunjukkan sudah sebegitu jauh orang-orang dari diri mereka sendiri. Begitu memprihatinkan! Mereka selalu melihat ke luar, pada pohon-pohon, pada orang-orang lain, pada objek-objek eksternal, mengatakan “yang satu ini besar”, “yang itu kecil”, “yang itu pendek”, “yang itu panjang”. Mereka begitu sibuk memperhatikan benda-benda yang tidak pernah mereka lihat sendiri sebelumnya. Secara jujur, orang-orang sungguh memprihatinkan. Mereka tidak mempunyai tempat berlindung.

Pada upacara pentahbisan, yang ditahbiskan harus mempelajari lima objek dasar meditasi: “kesa”, rambut kepala; “loma”, bulu roma tubuh; “nakha”, kuku; “danta”, gigi; “taco”, kulit. Beberapa orang mahasiswa dan kaum terpelajar tertawa cekikikan ketika mendengar bagian dari upacara pentahbisan ini… “Apa sih yang coba diajarkan oleh Ajahn kepada kita di sini? Mengajarkan kita tentang rambut ketika kita sudah memilikinya bertahun-tahun. Dia tidak perlu mengajari kita tentang ini, kita sudah mengetahuinya. Kenapa harus repot-repot mengajari kita sesuatu yang sudah kita ketahui?”. Orang-orang yang bodoh adalah seperti ini, mereka mengira mereka sudah dapat melihat rambut mereka. Saya mengatakan kepada mereka, ketika saya menyuruh untuk “melihat rambut”, maksud saya adalah untuk melihatnya sebagaimana adanya. Melihat bulu roma tubuh sebagaimana adanya, memandang kuku, gigi dan kulit sebagaimana adanya. Itulah yang saya sebut “melihat” – bukan melihat dengan cara yang dangkal, tetapi melihat sesuai dengan kebenaran. Kita tidak akan terbenam dalam benda-benda, bila kita dapat melihat benda-benda sebagaimana mereka adanya. Rambut, kuku, gigi dan kulit… Apakah sebenarnya mereka itu? Apakah mereka cantik? Apakah mereka bersih? Apakah mereka memiliki substansi yang nyata? Apakah mereka stabil? Tidak… mereka itu tidak ada apa-apanya. Mereka tidak cantik, tapi kitalah yang membayangkan mereka cantik. Mereka tidak memiliki substansi, tapi kitalah yang membayangkan mereka seolah-olah memiliki substansi.

Rambut, kuku, gigi, kulit… orang benar-benar terpaku pada hal-hal ini. Sang Buddha menetapkan ini sebagai objek dasar untuk meditasi, beliau mengajarkan kita untuk mengetahui hal-hal ini. Mereka itu fana, tidak sempurna dan tidak mempunyai pemilik; mereka bukanlah “saya” atau “mereka”. Kita lahir dengan diikuti dan dibohongi oleh hal-hal ini, tapi memang benar mereka itu kotor. Anggaplah kita tidak mandi selama seminggu, sanggupkah kita untuk berdekatan satu sama lain ? Kita akan menjadi sangat bau. Ketika orang berkeringat banyak, misalnya ketika banyak orang bekerja keras bersama-sama, baunya minta ampun. Kita pulang ke rumah dan membasuh diri kita dengan sabun dan air dan baunya hilang seketika, wangi dari sabun menggantikannya. Menggosokkan sabun ke tubuh bisa saja membuatnya seolah-olah wangi, tapi sebenarnya bau busuk dari tubuh itu tetap di sana, hanya untuk sementara saja ditutupi. Ketika wangi sabun hilang, bau badan akan kembali lagi.

Sekarang, kita cenderung berpikir bahwa tubuh kita ini indah, penuh kenikmatan, tahan lama dan kuat. Kita cenderung berpikir bahwa kita tidak akan pernah tua, sakit atau mati. Kita dirayu dan ditipu oleh tubuh kita, dan kita begitu mengacuhkan tempat perlindungan yang sebenarnya di dalam diri kita sendiri. Tempat berlindung yang sebenarnya adalah batin kita. Batin adalah tempat perlindungan kita yang sejati. Ruangan ini bisa saja cukup besar tetapi ia tidak bisa menjadi tempat perlindungan yang sejati. Burung merpati berlindung di sini, tokek berlindung di sini, kadal pun berlindung di sini…. Kita boleh berpikir bahwa ruangan ini milik kita, tapi sebenarnya bukan. Kita tinggal di sini bersama-sama dengan semua yang lain. Ini hanya tempat perlindungan sementara, tak lama lagi kita harus meninggalkannya. Orang-orang menganggap tempat ini sebagai tempat untuk berlindung.

Jadi, Sang Buddha mengajarkan untuk menemukan tempat perlindungan kalian. Itu artinya untuk menemukan batin kalian yang sebenarnya. Batin ini sangatlah penting. Orang-orang jarang melihat pada hal-hal yang penting, mereka menghabiskan kebanyakan waktu mereka untuk memperhatikan hal-hal yang tidak penting. Sebagai contoh, ketika mereka membersihkan rumah, mereka begitu berkonsentrasi membersihkan rumah, mencuci piring dan seterusnya, tapi mereka gagal memperhatikan batin mereka sendiri. Batin mereka mungkin sudah busuk, mereka mungkin merasa marah, mencuci piring dengan wajah cemberut. Ketika batin mereka tidak begitu bersih, mereka gagal memperhatikannya. Inilah yang saya sebut “mengambil tempat perlindungan yang sementara”. Mereka memperindah rumah dan tempat tinggal, tapi mereka tidak berpikir untuk memperindah batin mereka. Mereka tidak mengkaji penderitaan. Batin ini adalah sesuatu yang penting. Sang Buddha mengajarkan untuk menemukan tempat perlindungan di dalam batin kalian sendiri: Atta hi attano natho – “Jadikanlah dirimu sebagai tempat berlindung bagi dirimu sendiri”. Siapa lagi yang bisa menjadi tempat perlindungan bagi kalian? Tempat perlindungan yang sejati adalah batin, tidak ada yang lain. Kalian bisa saja mencoba untuk bergantung kepada hal-hal lain, tapi mereka semua bukanlah hal yang pasti. Kalian baru dapat benar-benar bergantung pada yang lain, hanya jika kalian sudah menemukan tempat perlindungan di dalam diri kalian sendiri. Kalian harus memiliki tempat perlindungan sendiri terlebih dahulu sebelum kalian dapat bergantung pada yang lainnya, apakah itu seorang guru, keluarga, teman-teman ataupun kerabat.

Jadi, kalian semuanya, baik umat awam maupun yang sudah meninggalkan rumah, yang telah berkunjung hari ini, tolong pertimbangkan ajaran ini. Tanyakanlah diri kalian sendiri, “Siapakah saya? Mengapa saya ada di sini?” Tanyalah diri kalian sendiri, “Mengapa saya dilahirkan?” Beberapa orang tidak mengetahuinya. Mereka menginginkan kebahagiaan, tetapi penderitaan tak pernah berhenti. Kaya atau miskin, muda atau tua, mereka sama-sama menderita. Semuanya adalah penderitaan. Dan mengapa? Karena mereka tidak memiliki kebijaksanaan. Yang miskin tidak bahagia karena mereka tak berkecukupan, dan yang kaya tidak bahagia karena terlalu banyak yang harus mereka jaga.

Di masa lalu, sebagai seorang samanera muda, saya memberikan khotbah Dhamma. Saya berbicara tentang kebahagiaan karena memiliki kekayaan dan harta benda, memiliki pembantu-pembantu dan seterusnya. Seratus orang pembantu pria, seratus orang pembantu wanita, seratus ekor gajah, seratus ekor sapi, seratus ekor kerbau… seratus dari semuanya! Umat awam sungguh mendambakannya. Tetapi bisakah kalian bayangkan untuk menjaga seratus ekor kerbau? Atau seratus ekor sapi, seratus orang pembantu pria dan wanita… dapatkah kalian bayangkan kewajiban untuk menjaga semuanya itu? Apakah itu menyenangkan? Orang-orang tidak mempertimbangkan dari sisi ini. Mereka bernafsu untuk memiliki… memiliki sapi, kerbau, pembantu… ratusan dari mereka. Tetapi saya katakan lima puluh ekor kerbau saja sudah terlalu banyak. Hanya mengikat tali untuk hewan-hewan liar itu saja sudah terlalu banyak! Tetapi orang tidak mempertimbangkan hal ini, mereka hanya memikirkan kenikmatan untuk memiliki. Mereka tak mempertimbangkan kesulitan yang akan timbul.

Jika kita tidak mempunyai kebijaksanaan, semua yang ada di sekeliling kita akan menjadi sumber penderitaan. Jika kita bijaksana, maka hal-hal ini akan menuntun kita untuk bebas dari penderitaan. Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran… Mata tidak sepenuhnya benda yang baik, kalian tahu. Jika suasana hati kalian sedang tidak bagus, hanya dengan melihat orang lain saja akan membuat kalian marah dan mengakibatkan kalian tidak bisa tidur. Atau kalian bisa jatuh cinta pada orang lain. Cinta itu juga penderitaan, jika kalian tak mendapatkan apa yang kalian inginkan. Cinta dan benci dua-duanya merupakan penderitaan, disebabkan karena adanya nafsu. Keinginan adalah penderitaan, ketidakinginan adalah penderitaan. Keinginan untuk memiliki sesuatu… bahkan jikalau kalian mendapatkannya, tetap merupakan penderitaan karena kalian takut akan kehilangannya. Hanya ada penderitaan. Bagaimana kalian akan hidup dengan semua itu? Kalian mungkin memiliki rumah yang besar dan mewah, tapi batin kalian tidak bagus, ia tidak pernah benar-benar bekerja seperti yang kalian harapkan.

Oleh sebab itu, kalian semua seharusnya memperhatikan diri kalian sendiri. Mengapa kita dilahirkan? Apakah kita benar-benar sudah mencapai sesuatu dalam hidup ini? Di pedesaan di sini, orang-orang mulai menanam padi sejak masih kanak-kanak. Ketika mereka mencapai usia tujuh belas atau delapan belas, mereka cepat-cepat menikah, khawatir kalau-kalau mereka tidak memiliki cukup waktu untuk memperbaiki nasib mereka. Mereka mulai bekerja sejak usia muda, mengira mereka akan menjadi kaya dengan cara itu. Mereka menanam padi sampai mereka berusia tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Saya tanya mereka, “Sejak dari lahir, anda sudah bekerja. Sekarang, waktunya hampir tiba untuk pergi, apa yang akan anda bawa pergi bersama anda?” Mereka tidak tahu apa yang harus diucapkan. Satu-satunya yang bisa mereka katakan adalah, “Pukullah saya!” Kita mempunyai sebuah peribahasa untuk yang satu ini, “Jangan menunggu sambil memunguti biji berry sepanjang jalan… sebelum anda menyadarinya, malam telah tiba.” Hanya karena ini “Pukullah saya!” Mereka tidak di sini ataupun di sana, puas hanya dengan sebuah “pukullah saya” … duduk di antara cabang-cabang dari pohon berry, sambil menelan biji berry… “Pukullah saya, pukullah saya…”

Ketika kalian masih muda, kalian berpikir bahwa menjadi seorang single tidaklah begitu bagus, kalian merasa agak kesepian. Jadi kalian mencari pasangan untuk hidup bersama. Bersama-sama berdua dan selanjutnya, timbullah perselisihan! Hidup sendiri terlalu sepi, tapi tinggal dengan yang lain menyebabkan perselisihan.

Ketika anak-anak masih kecil, para orang tua berpikir, “Ketika mereka sudah lebih besar, kita akan lebih baik dari sekarang.” Mereka membesarkan anak-anak mereka, tiga, empat, atau lima orang, sambil berpikir bahwa bila anak-anak sudah besar, beban mereka akan menjadi lebih ringan. Tetapi ketika anak-anak tumbuh besar, mereka malah semakin memberatkan. Seperti dua potong kayu, satu besar dan satu lagi kecil. Kalian membuang yang kecil dan mengambil yang lebih besar, mengira yang satu ini lebih ringan, tapi tentu saja tidak. Ketika anak-anak masih kecil, mereka tidak banyak mengganggu kalian, hanya semangkuk nasi dan pisang pada saat itu. Ketika mereka tumbuh besar, mereka menginginkan sepeda motor atau mobil! Begitulah, kalian menyayangi anak-anak kalian, kalian tak bisa menolak. Jadi kalian mencoba memberikan apa yang mereka inginkan. Masalah… Kadang-kadang para orangtua sampai berdebat tentang hal ini… Jangan pergi dan membelikannya mobil, kita belum punya uang yang cukup! Tetapi ketika kalian menyayangi anak-anak kalian, kalian terpaksa meminjam uang dari suatu tempat. Atau barangkali si orangtua bahkan harus pergi dengan tangan kosong untuk mendapatkan apa yang diinginkan anak-anak mereka. Lalu ada lagi yang namanya pendidikan. Ketika mereka sudah menyelesaikan pendidikan mereka, kita akan baik-baik saja. Tak akan ada akhirnya dalam menuntut ilmu! Apa yang akan mereka selesaikan? Hanya di dalam ilmu pengetahuan dari agama Buddha saja terdapat titik penyelesaian, ilmu-ilmu pengetahuan yang lain hanya berputar-putar dalam lingkaran. Pada akhirnya, benar-benar sakit kepala. Jika ada sebuah rumah dengan empat atau lima anak di dalamnya, orangtua akan bertengkar terus setiap hari.

Penderitaan yang sedang menunggu di masa depan, kita gagal melihatnya, kita mengira ia tidak akan pernah terjadi. Ketika ia terjadi, baru kita menyadarinya. Penderitaan jenis ini, penderitaan yang tak terpisahkan di dalam tubuh kita, sangat sulit untuk diantisipasi. Ketika saya masih seorang anak kecil penggembala kerbau, saya akan mengambil kapur dan menggosokkannya ke gigi saya untuk membuatnya menjadi putih. Saya akan pulang ke rumah dan berkaca dan melihat mereka sungguh indah dan putih… Saya sedang ditipu oleh gigi-gigi saya sendiri, itu saja. Ketika saya mencapai usia lima puluh atau enam puluh, gigi-gigi saya mulai rontok. Ketika gigi mulai lepas, ia sangat menyakitkan, ketika kalian makan, rasanya seperti ditendang di mulut. Ia benar-benar menyakitkan. Saya sudah pernah mengalaminya sekali. Jadi saya meminta dokter gigi untuk mencabut semuanya. Kini, saya memakai gigi palsu. Gigi asli saya begitu merepotkan sehingga saya harus mencabut semuanya, enam belas buah sekaligus. Si dokter gigi tersebut enggan mencabut ke enam belas gigi sekaligus, tapi saya bilang kepadanya, “Cabut saja semuanya, saya yang akan menanggung akibatnya.” Jadi dia pun mencabut semuanya sekaligus. Beberapa buah ada yang masih bagus, paling tidak ada lima. Cabut semuanya. Tapi keadaannya cukup kritis. Setelah mencabut semuanya, saya tidak dapat makan apapun selama dua atau tiga hari.

Sebelumnya, sebagai seorang anak kecil penggembala kerbau, saya biasanya berpikir bahwa menggosok-gosok gigi sampai kilat adalah tindakan yang bagus. Saya menyayangi gigi saya, saya berpikir mereka adalah benda-benda yang bagus. Tapi pada akhirnya mereka harus pergi. Sakitnya hampir membunuh saya. Saya menderita sakit gigi selama berbulan-bulan, bertahun-tahun. Kadang-kadang gusi saya juga bengkak.

Beberapa dari kalian mungkin memiliki kesempatan untuk mengalami sendiri hal ini suatu hari nanti. Kalau gigi kalian masih bagus dan kalian menggosoknya setiap hari untuk membuatnya tetap indah dan putih… berhati-hatilah! Mereka akan mulai bermain-main dengan kalian selanjutnya.

Sekarang, saya hanya memberitahukan kalian tentang hal-hal ini… penderitaan yang timbul dari dalam, yang muncul dari dalam tubuh kita sendiri. Tidak ada apa pun dalam tubuh yang bisa kalian jadikan pegangan. Dia tidak begitu buruk ketika kalian masih muda, tapi ketika kalian mulai beranjak tua, semuanya mulai rusak. Semuanya mulai tercerai berai. Kondisi ini berjalan sesuai sifat alamiah mereka. Apakah kita menertawai ataupun menangisi mereka, mereka tetap akan melalui jalan mereka. Tak ada perbedaan bagaimana cara kita hidup atau mati, tidak ada bedanya bagi mereka. Dan tidak ada ilmu pengetahuan ataupun sains yang mampu mencegah jalur alamiah dari semua benda ini. Kalian mungkin menemui dokter gigi untuk merawat gigi kalian, tapi bahkan jikalau dia mampu mengobatinya, mereka selanjutnya akan tetap pergi menurut jalur alamiah mereka. Selanjutnya bahkan si dokter gigi sendiri akan mendapatkan masalah yang sama. Semuanya akan hancur tercerai berai.

Inilah hal-hal yang seharusnya kita renungkan selagi kita masih mempunyai tenaga, kita seharusnya berlatih selagi kita masih muda. Jika kalian ingin melakukan kebajikan, maka lakukanlah segera, jangan tunggu sampai tua. Kebanyakan orang hanya menunggu sampai mereka tua sebelum akhirnya mereka pergi ke vihara dan mencoba mempraktekkan Dhamma. Wanita dan pria mengatakan hal yang sama… “Tunggu sampai saya tua dulu.” Saya tidak tahu mengapa mereka berkata seperti itu, apakah orang yang tua memiliki tenaga yang lebih besar? Biarkan mereka mencoba berlomba lari dengan orang yang muda dan lihatlah perbedaannya. Mengapa mereka membiarkannya sampai mereka tua? Seolah-olah mereka tidak akan pernah mati. Ketika mereka mencapai usia lima puluh atau enam puluh tahun atau lebih… “Hai, Nenek! Mari kita pergi ke vihara!” “Kamu saja yang pergi, telinga saya tidak begitu bagus lagi.” Kalian lihat apa yang saya maksud? Ketika telinganya masih bagus apa yang dia dengarkan? “Pukullah saya!”… hanya tergila-gila dengan biji berry. Pada akhirnya ketika pendengarannya menghilang, dia baru pergi ke vihara. Sungguh tidak ada harapan. Dia mendengarkan khotbah tapi dia tidak memahami apa yang dibicarakan. Orang-orang menunggu sampai mereka tidak berguna lagi sebelum akhirnya mereka berpikir untuk mempraktekkan Dhamma.

Pembicaraan hari ini mungkin berguna bagi anda-anda yang bisa memahaminya. Ini adalah hal-hal yang seharusnya mulai kalian perhatikan, mereka adalah warisan kita. Mereka akan setahap demi setahap semakin berat dan semakin berat, sebuah beban yang harus kita tanggung. Di masa lalu kaki-kaki saya begitu kuat, saya dapat berlari. Kini, hanya berjalan berkeliling saja sudah terasa berat. Sebelumnya, kaki-kaki ini menopang saya. Sekarang, saya lah yang harus membawa mereka. Ketika saya masih seorang anak kecil, saya melihat orang-orang tua bangkit dari tempat duduk mereka… “Oh!” Bangkit dari duduk, mereka mengerang, “Oh!” Selalu saja ada ini “Oh!” Tetapi mereka tidak mengetahui apa yang menyebabkan mereka mengerang seperti itu.

Bahkan ketika sudah sampai pada tahapan ini, orang-orang tidak juga melihat racun dari tubuh ini. Kalian tidak pernah tahu kapan kalian akan berpisah darinya. Apa yang menyebabkan semua rasa sakit ini hanyalah suatu kondisi yang berjalan sesuai jalur alamiahnya. Orang menyebutnya arthritis, rematik, penyakit tulang dan seterusnya, dokter memberikan resep obat, tapi itu tidak pernah menyembuhkannya secara total. Pada akhirnya, ia akan tercerai berai, bahkan si dokter sendiri! Ini adalah kondisi yang berjalan sesuai dengan jalur alamiahnya. Ini adalah jalan mereka, sifat alamiah mereka.

Sekarang, coba lihatlah ini. Jika kalian memperhatikannya sedari awal, akan lebih baik bagi kalian, seperti melihat seekor ular berbisa di jalan yang akan kalian lalui. Jika kalian melihatnya di sana, kalian bisa menghindarinya dan tidak terkena gigitannya. Jika kalian tidak melihatnya, kalian akan terus berjalan dan menginjaknya. Dan kemudian ia akan menggigit.

Jika penderitaan muncul, orang tidak tahu apa yang akan dilakukan. Ke mana untuk mengobatinya? Mereka ingin menghindari penderitaan, mereka ingin bebas darinya, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengobatinya ketika ia muncul. Dan mereka terus-menerus hidup seperti ini sampai mereka tua… dan sakit… dan mati….

Di zaman dahulu, dikatakan bahwa jika seseorang sudah hampir mati karena penyakit parah, orang yang berada di dekatnya seharusnya membisikkan “Bud-dho, Bud-dho” di telinga mereka. Apa yang akan mereka lakukan dengan Buddho? Kebaikan apa dari Buddho bagi mereka yang sudah hampir berada di atas kayu pembakaran jenazah? Mengapa mereka tidak mempelajari Buddho selagi mereka muda dan sehat? Kini, dengan nafas yang tidak teratur, kalian ke atas dan berkata, “Ibu… Buddho, Buddho!” Mengapa membuang-buang waktu kalian? Kalian hanya akan membingungkan ibu kalian, biarkanlah dia pergi dengan damai.

Orang-orang tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah-masalah di dalam batin mereka, mereka tidak memiliki tempat berlindung. Mereka mudah marah dan memiliki banyak sekali nafsu keinginan. Mengapa demikian? Karena mereka tidak memiliki tempat berlindung.

Ketika orang baru saja menikah, mereka dapat hidup bersama-sama dengan baik, tetapi setelah berusia lima puluh tahun atau lebih, mereka tidak dapat lagi mengerti satu sama lain. Apapun yang dikatakan istri, sang suami menganggapnya tidak dapat ditolerir. Apapun yang dikatakan suami, sang istri tidak akan mau mendengarkannya. Mereka saling mengabaikan.

Sekarang, saya hanya bisa berbicara karena saya tidak pernah berkeluarga sebelumnya. Mengapa saya tidak pernah berkeluarga? Hanya memperhatikan kata ini “rumah tangga/household” (note: Ada sebuah permainan kata-kata dalam bahasa Thai di sini yang berdasarkan pada kata yang artinya keluarga – krorp krua – yang secara harfiah berarti “bingkai dapur” atau “lingkaran penggorengan.” Dalam terjemahan bahasa Inggris, kami memutuskan untuk mengambil kata Inggris yang cocok, daripada mencoba menerjemahkan secara harfiah dari bahasa Thai). Saya memahami apa itu sesungguhnya. Apa yang dimaksud “rumah tangga/household” itu? Ini adalah sebuah “hold/pegang/tahan”: jika seseorang mengambil tali dan mengikat kita ketika kita sedang duduk di sini, bagaimanakah rasanya? Itu disebut “dipegang/ditahan.” Bagaimana pun rasanya, “dipegang/ditahan” adalah seperti itu. Ada sebuah lingkaran pembatas. Yang pria hidup di dalam lingkaran pembatasnya sendiri, dan yang wanita juga hidup di dalam lingkaran pembatasnya sendiri pula.

Ketika saya membaca kata ini “rumah tangga/household”… ini adalah sesuatu yang berat. Kata ini bukanlah hal yang sepele, ia benar-benar seorang pembunuh. Kata “hold/pegang” adalah suatu lambang dari penderitaan. Kalian tidak dapat ke mana-mana, kalian harus tinggal di dalam lingkaran pembatas.

Sekarang, kita tiba pada kata “house/rumah.” Ini artinya “sesuatu yang mengganggu.” Pernahkah kalian memasak cabai? Seisi rumah tercekik dan bersin-bersin. Kata ini “rumah tangga/household” menimbulkan kebingungan, ia sungguh tidak layak untuk itu. Oleh karena kata inilah, saya bisa ditahbiskan dan tidak melepaskan jubah. “Rumah tangga/household” sungguh menakutkan. Kalian terhenti dan tidak dapat ke mana-mana. Masalah dengan anak-anak, dengan uang dan semua yang lain. Tetapi ke mana kalian bisa pergi? Kalian sudah terikat. Ada anak laki-laki dan perempuan, perdebatan-perdebatan yang berlebihan sampai pada hari kematian kalian, dan tidak ada tempat lain untuk pergi, tidak peduli betapa beratnya penderitaan. Air mata menetes dan terus menetes. Air mata ini tidak akan pernah berhenti menetes dengan “rumah tangga” ini, kalian tahu. Jika tidak ada rumah tangga, kalian mungkin dapat menghentikan tetesan air mata ini, namun tidak sebaliknya.

Pertimbangkanlah hal ini. Jika kalian belum menemukannya, kalian bisa melakukannya di kemudian hari. Beberapa orang sudah mengalaminya sampai pada tingkatan tertentu. Beberapa di antaranya sudah kehilangan akalnya… “Akankah saya menetap atau pergi?” Di Wat Pah Pong, terdapat sekitar tujuh puluh atau delapan puluh gubuk (kuti). Ketika gubuk-gubuk itu hampir penuh, saya meminta seorang bhikkhu yang mengurusnya untuk membiarkan beberapa gubuk tetap kosong, jikalau ada seseorang berdebat dengan pasangannya… Dan tentu saja, dalam waktu yang tidak lama seorang wanita akan tiba dengan tas-tasnya… “Saya sudah muak dengan dunia ini, Luang Por.” “Whoa! Jangan katakan itu. Kata-kata itu sungguh berat.” Lalu, sang suami datang dan berkata bahwa dia juga sudah muak. Setelah dua atau tiga hari di vihara, kejemuan mereka akan dunia akan segera lenyap.

Mereka bilang mereka muak, tetapi mereka hanya menipu diri sendiri. Ketika mereka masuk ke dalam kuti dan duduk sendirian dengan tenang, setelah beberapa saat pikiran-pikiran akan muncul… “Kapan ya istriku akan datang dan mengajakku untuk pulang ke rumah?” Mereka tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apa yang disebut “mereka jemu akan dunia” ini? Mereka merasa sedih akan sesuatu dan berlarian datang ke vihara. Di rumah segalanya kelihatan salah… sang suami salah, sang istri juga salah… setelah berpikir dengan tenang selama tiga hari… “Hmmm, istriku memang benar, ternyata diriku lah yang bersalah.” “Suamiku benar, saya tidak seharusnya begitu bersedih hati.” Mereka bertukar tempat. Beginilah ceritanya, itulah sebabnya mengapa saya tidak menanggapi dunia ini terlalu serius. Saya sudah tahu kelebihan dan kekurangannya, itulah mengapa saya memilih hidup menjadi seorang bhikkhu.

Saya ingin mempersembahkan pembicaraan hari ini kepada kalian semua untuk dijadikan pekerjaan rumah. Apakah kalian berada di sawah atau bekerja di kota, ambillah kata-kata ini dan pertimbangkanlah… “Mengapa saya dilahirkan? Apa yang bisa saya bawa bersama saya?” Tanyakan diri kalian berulang-ulang. Jika kalian menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini pada diri sendiri, seringkali kalian akan menjadi bijaksana. Jika kalian tidak merenungkan hal-hal ini, kalian akan tetap bodoh. Mendengarkan pembicaraan hari ini, kalian akan bisa mendapatkan beberapa pemahaman, jika bukan sekarang, mungkin pada saat kalian tiba di rumah. Barangkali sore ini. Ketika kalian sedang mendengarkan pembicaraan ini, segala sesuatunya pun ditaklukkan, tapi mungkin ada yang sedang menunggu kalian di dalam mobil. Ketika kalian masuk ke mobil, ia bisa saja ikut masuk dengan kalian. Ketika kalian tiba di rumah, ia akan menjadi jelas… “Oh, itulah yang Luang Por maksudkan. Saya tidak mampu memahaminya sebelumnya.”

Saya rasa cukup sekian untuk hari ini. Jika saya berbicara terlalu lama, tubuh yang tua ini menjadi lelah.

 

--end--

Catatan: Ceramah ini ditujukan kepada umat awam yang berkunjung ke Wat Tham Saeng Phet (Vihara Gua Cahaya Intan), pada Masa Vassa tahun 1981, sesaat sebelum kesehatan Ajahn Chah memburuk.

 

Sumber: “The Teachings Of Ajahn Chah”, Sub judul: “Living Dhamma – Why Are We Here ?”
Oleh: Ven. Ajahn Chah
Diterjemahkan oleh: NN


 Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana

Pokok-Pokok Dasar
Pemersatu Theravada dan Mahayana

 

Pendahuluan

Dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tentunya memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun ajarannya yang membedakannya satu dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang beraneka ragam, namun pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep ajaran yang mendasar yang menghubungan satu dengan yang lain sehingga aliran-aliran tersebut masih dapat digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun agama induknya.

Buddhisme merupakan agama yang juga tidak lepas dari keberagaman aliran ataupun tradisi. Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi dalam Buddhisme, yaitu Theravada dan Mahayana (dengan mempertimbangkan Vajrayana merupakan bagian dari Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada maupun Mahayana sebagai bagian dari Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan yang mendasar dalam beberapa konsep ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha Dhamma.

Dalam tulisan kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok dasar yang terdapat dua aliran besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu keduanya. Pokok-pokok dasar pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang sebelumnya telah dipelajari, disusun, dan diterima oleh para rohaniawan khususnya yang tergabung dalam Dewan Sangha Buddhis Sedunia.


Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia

Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.

WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.

Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan. Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana”:

  1. Sang Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.

  2. Kami berlindung dalam Ti Ratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).[1]

  3. Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan.[2]

  4. Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Arya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).

  5. Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).

  6. Kami menerima Tigapuluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.

  7. Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Samyaksambuddha / Sammasambuddha. Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain. [3]

  8. Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.


Perluasan Rumusan

Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:

  1. Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Sang Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaranNya.

  2. Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Sang Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaranNya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.

  3. Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan atas kehendaknya.

  4. Mengikuti keteladanan Sang Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.

  5. Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).

  6. Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.

  7. Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Sang Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).

  8. Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:
    1. Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);
    2. Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);
    3. Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);
    4. Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
    5. Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
    6. Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);
    7. Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).

  9. Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan  tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan  Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.

  10. Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Rumusan Lain

Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.

Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:

  1. Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.
  2. Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.
  3. Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.
  4. Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.
  5. Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.
  6. Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.


Rumusan dari Oo Maung:

  1. Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Arya.
  2. Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.
  3. Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.
  4. Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.
  5. Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.
  6. Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.

Rumusan dari Tan Swee Eng:

  1. Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.
  2. Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.
  3. Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.
  4. Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.
  5. Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.


Penutup

Dengan rumusan pokok-pokok dasar pemersatu ini, diharapkan kita dapat memahami ciri khas ajaran yang ada dalam Buddhisme yang membedakan agama besar ini dengan agama atau kepercayaan lainnya yang ada di dunia. Kita dapat memahami bahwa meskipun terdapat perbedaan antar aliran, namun memiliki ajaran pokok yang sama yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengarahkan kita pada akhir penderitaan, Nibbana / Nirvana.

--End--

 

Catatan:

  1. Berlindung dalam Ti Ratana bukan berarti berserah diri. Buddha dalam pengertian Guru pembimbing, dimana Sakyamuni Buddha adalah Buddha Sejarah. Dan Buddha dalam pengertian Kesadaran. Dhamma dalam pengertian Kebenaran ataupun Ajaran Buddha. Sangha dalam pengertian persaudaraan / perkumpulan para Bhikkhu Arya.
  2. tuhan yang dimaksud adalah yang memiliki definisi: berpersonal, pencipta semesta, prima causa, ayah/ibu dari semua makhluk, paramatman, yang maha segalanya.  
  3. Savakabuddha: pencapaian Pencerahan melalui mendengar ajaran dari Sammasambuddha.  Paccekabuddha: pencapaian Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa mengajar. Sammasambuddha: pencapaian pencerahan dengan usaha sendiri dan mengajar.

Literatur:

  1. The Heritage of the Bhikkhu; Walpola Rahula; New York, Grove Press, 1974; hal. 100, 137-138.
  2. Two Main Schools of Buddhism; K. Sri Dhammananda; Brickfields, Kuala Lumpur.
  3. Common Ground Between Theravada and Mahayana Buddhism; Tan Swee Eng; www.buddhanet.net
  4. Theravada Versus Mahayana; Oo Maung, 2006
Disusun oleh: Bhagavant.com
Bagaimanakah Memilih Agama?

BAGAIMANAKAH MEMILIH AGAMA?

 

Pada masa Sang Buddha, telah ada banyak aktivitas intelektual besar di India. Beberapa orang terpandai yang diketahui oleh dunia telah berkecimpung di dalam kontroversi keagamaan besar sepanjang masa.

Apakah ada Sang Pencipta? Tidak adakah Sang Pencipta? Adakah jiwa itu? Tidak adakah jiwa itu? Apakah dunia tanpa awal? Apakah ada awal permulaan?

Ini merupakan beberapa topik yang hangat diperdebatkan sepanjang waktu. Dan tentu saja, seperti saat ini, semua mengklaim bahwa hanya dialah yang memiliki semua jawaban dan siapapun yang tidak mengikutinya akan dikutuk dan dimasukkan ke dalam neraka! Sebenarnya, semua pencarian keras atas kebenaran ini hanya akan menghasilkan lebih banyak lagi kebingungan.

Sekelompok pemuda yang saleh dari suku Kalama pergi menghadap Sang Buddha untuk menyampaikan kebingungan mereka. Mereka bertanya kepadaNya apa yang seseorang harus lakukan sebelum menerima atau menolak suatu ajaran.


1.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Berita Semata

Nasihat Sang Buddha seperti yang disebutkan dalam Kalama Sutta adalah untuk tidak menerima apapun berdasarkan pada berita, tradisi, kabar angin semata. Biasanya orang mengembangkan keyakinan mereka setelah mendengarkan perkataan orang lain. Tanpa berpikir mereka menerima apa yang orang lain katakan mengenai agama mereka atau apa yang telah tercatat dalam buku-buku keagamaan mereka. Kebanyakan orang jarang sekali mengambil resiko untuk menyelidiki, untuk menemukan apakah yang dikatakannya benar atau tidak. Sikap umum seperti ini sukar untuk dipahami, khususnya di dalam era modern saat ini ketika pendidikan sains mengajarkan orang untuk tidak menerima sama sekali apapun yang tidak bisa dijelaskan secara rasional. Bahkan sekarang ini banyak yang disebut sebagai pemuda berpendidikan  hanya menggunakan emosi atau ketaatan mereka tanpa menggunakan pikiran naralnya.

Dalam Kalama Sutta, Sang Buddha memberikan nasihat yang sangat liberal (bebas) kepada sekelompok pemuda dalam menerima suatu agama secara rasional. Ketika orang-orang muda ini tidak dapat memutuskan bagaimana memilih agama yang sesuai, mereka menghadap kepada Sang Buddha untuk mendapatkan nasihatNya. Mereka mengatakan kepadaNya bahwa semenjak berbagai kelompok agama memperkenalkan agamanya dalam berbagai cara, mereka mengalami kebingungan dan tidak bisa memahami cara keagamaan mana yang benar. Para pemuda ini bisa diibaratkan dalam istilah modern sebagai para pemikir bebas (free thinkers), atau para pencari kebenaran (truth seekers). Inilah mengapa mereka memutuskan untuk mendiskusikan hal ini dengan Sang Buddha. Mereka memohon kepada Sang Buddha untuk memberikan beberapa garis pedoman untuk membantu mereka menemukan suatu agama yang sesuai dimana dengannya mereka dapat menemukan kebenaran.

Dalam menjawab pertanyaan mereka, Sang Buddha tidak mengklaim bahwa Dhamma (ajaranNya) merupakan satu-satunya ajaran yang bernilai dan siapapun yang mempercayai hal lain akan masuk ke neraka. Justru Beliau memberikan beberapa nasihat yang penting untuk mereka pertimbangkan. Sang Buddha tidak pernah menganjurkan orang untuk menerima suatu agama hanya melalui iman (faith) semata tetapi Beliau menganjurkan mereka untuk mempertimbangkan dan memahami segala sesuatunya tanpa bias (praduga/menyimpang). Beliau juga tidak menganjurkan orang untuk menggunakan emosi atau ketaatan semata yang berdasarkan pada kepercayaan yang membuta di dalam menerima suatu agama. Inilah mengapa agama yang berdasarkan pada ajaranNya sering digambarkan sebagai agama rasional. Agama ini juga dikenal sebagai agama merdeka dan beralasan (religion of freedom and reason). Kita seharusnya tidak menerima apapun melalui iman atau emosi untuk mempraktikkan suatu agama. Kita seharusnya tidak menerima suatu agama begitu saja dikarenakan agama itu menghilangkan ketakutan bodoh kita mengenai apa yang akan terjadi pada diri kita, kapan kita mati ataupun ketakutan kita ketika diancam oleh api neraka jika kita tidak menerima beberapa ajaran atau yang lainnya. Agama harus diterima melalui pilihan bebas. Setiap pribadi harus menerima suatu agama karena pemahaman dan bukan karena agama itu merupakan hukum yang diberikan oleh suatu penguasa atau kekuatan-kekuatan supernatural. Menerima suatu agama haruslah bersifat pribadi dan berdasarkan pada kepastian rasional akan agama yang akan diterima.

Orang dapat membuat berbagai macam klaiman mengenai agama mereka dengan membesar-besarkan berbagai macam peristiwa untuk mempengaruhi orang lain. Kemudian, mereka dapat memperkenalkannya sebagai pesan surgawi untuk menumbuhkan iman atau rasa percaya. Tetapi kita harus membaca apa yang tertulis secara analitis dengan menggunakan akal sehat dan kekuatan pikiran. Itulah mengapa Sang Buddha menasihatkan kita untuk tidak menerima secara tergesa-gesa apapun yang tercatat, tradisi, atau kabar angin semata. Orang mempraktikkan tradisi-tradisi tertentu yang berdasarkan pada kepercayaan, kebiasaan atau cara hidup komunitas dimana mereka berada. Namun, beberapa tradisi sangatlah penting dan berarti. Oleh karena itu, Sang Buddha tidak mengecam semua tradisi adalah salah tetapi menasihatkan kita untuk mempertimbangkannya dengan sangat berhati-hati praktik mana yang penuh arti dan mana yang tidak. Kita harus mengetahui bahwa beberapa tradisi tertentu tersebut menjadi ketinggalan jaman dan tidak berarti lagi setelah beberapa periode waktu. Hal ini mungkin disebabkan karena kebanyakan di antaranya diperkenalkan dan dipraktikkan oleh orang-orang primitif dan pemahaman mereka tentang kehidupan manusia dan alam sangatlah terbatas pada masa itu. Jadi, pada masa sekarang ini ketika kita menggunakan pendidikan sains modern kita dan pengetahuan akan alam semesta, kita dapat melihat sifat sesungguhnya dari kepercayaan mereka. Kepercayaan yang dimiliki orang-orang primitif mengenai matahari, bulan, dan bintang-bintang, bumi, angin, halilintar, guntur dan halilintar, hujan dan gempa bumi, berdasarkan pada usaha mereka untuk menjelaskan fenomena alam yang nampaknya sangat mengerikan. Mereka memperkenalkan fenomena alam tersebut sebagai tuhan-tuhan (dewa) atau perbuatan-perbuatan tuhan dan kekuatan-kekuatan supernatural.


2.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Tradisi Semata

Dengan pengetahuan kita yang telah maju, kita dapat menjelaskan fenomena alam yang nampaknya mengerikan ini sebagaimana apa adanya. Itulah mengapa Sang Buddha mengatakan, “Janganlah menerima dengan segera apa yang kau dengar. Janganlah mencoba untuk membenarkan perilaku tidak rasionalmu dengan mengatakan ini adalah tradisi-tradisi kami dan kita harus menerimanya.” Kita seharusnya tidak percaya begitu saja kepada takhayul ataupun dogma agama karena orang yang dituakan melakukan hal yang sama. Ini bukan berarti kita tidak menghormati para sesepuh kita, tetapi kita harus melaju bersama waktu. Kita seharusnya memelihara kepercayaan-kepercayaan yang sesuai dengan pandangan dan nilai-nilai modern dan menolak apapun yang tidak diperlukan atau yang tidak sesuai karena waktu telah berubah. Dengan cara ini kita akan dapat hidup dengan lebih baik.

Satu generasi yang lalu, seorang pendeta Anglikan, Uskup dari Woolich menyatakan sebuah kalimat, “Tuhan dari celah“ (God of the gaps) untuk menjelaskan bahwa apapun yang tidak kita pahami merupakan atribut tuhan. Karena pengetahuan kita terhadap dunia telah berkembang, kekuatan tuhan pun berkurang secara bersamaan.


3.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Kabar Angin Semata

Semua orang suka mendengarkan cerita. Mungkin itulah mengapa orang mempercayai kabar angin. Anggaplah ada seratus orang yang telah melihat sebuah peristiwa tertentu dan ketika setiap orang menceritakannya kembali kepada yang lain, ia akan menghubungkannya dengan cara yang berbeda dengan menambahkan lebih banyak hal lainnya dan membesar-besarkan hal yang kecilnya. Ia akan menambahkan “garam dan bumbu” untuk membuat ceritanya lebih seru dan menarik dan untuk memperindahnya. Umumnya setiap orang akan menceritakan suatu kisah seolah-olah dialah satu-satunya yang dapat menceritakan kepada orang lain apa yang benar-benar terjadi. Inilah sifat sesungguhnya dari cerita yang dibuat dan disebarkan oleh orang. Ketika Anda membaca beberapa kisah dalam agama apapun, cobalah untuk ingat bahwa kebanyakan dari interpretasinya adalah hanya untuk menghias peristiwa kecil untuk menarik perhatian orang. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada apapun bagi mereka untuk diceritakan kepada orang lain dan tak seorang pun akan menaruh perhatian pada kisah itu.

Di sisi lain cerita dapat sangat bermanfaat. Cerita merupakan cara yang menarik untuk menyampaikan pelajaran moral. Literatur Buddhis merupakan gudang yang besar dari beragam kisah cerita. Tetapi itu hanyalah cerita. Kita harus tidak mempercayainya seperti seolah-olah cerita itu adalah kebenaran mutlak. Kita seharusnya tidak seperti anak kecil yang percaya bahwa seekor serigala dapat menelan hidup-hidup seorang nenek dan berbicara kepada manusia! Orang dapat berbicara mengenai berbagai macam keajaiban, tuhan-tuhan/dewa, dewi, bidadari-bidadari dan kekuatan mereka berdasarkan pada kepercayaan mereka. Kebanyakan orang cenderung untuk menerima dengan segera hal-hal tersebut tanpa penyelidikan apapun, tetapi menurut Sang Buddha, kita seharusnya tidak mempercayai dengan segera apapun karena mereka yang menceritakannya kepada kita akan hal itu pun terpedaya olehnya. Kebanyakan orang di dunia ini masih berada dalam kegelapan dan kemampuan mereka untuk memahami kebenaran sangatlah miskin. Hanya beberapa orang yang memhami segala sesuatu secara sewajarnya. Bagaimana mungkin seorang buta menuntun seorang buta lainnya? Kemudian ada perkataan lain, ”Jack  si mata satu dapat menjadi raja dikerajaan orang buta.” Beberapa orang mungkin hanya mengetahui sebagian dari kebenaran. Kita perlu berhati-hati dalam menjelaskan kebenaran mutlak ini kepada mereka.


4.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Otoritas Teks-Teks Keagamaan Semata

Selanjutnya Sang Buddha memperingati kita untuk tidak mempercayai apapun berdasarkan pada otoritas teks-teks keagamaan ataupun kitab-kitab suci. Beberapa orang selalu mengatakan bahwa semua pesan-pesan yang terdapat dalam kitab-kitab suci mereka disampaikan secara langsung oleh tuhan mereka. Sekarang ini, mereka mencoba untuk memperkenalkan buku-buku tersebut sebagai pesan dari surga. Hal ini sukar untuk dipercaya bahwa mereka menerima pesan ini dari surga dan mencatatnya dalam kitab suci mereka hanya pada beberapa ribu tahun yang lampau. Mengapa wahyu ini tidak diberikan lebih awal? (Menimbang bawa planet bumi ini berusia empat setengah miliar tahun). Mengapa wahyu tersebut dibuat hanya untuk menyenangkan beberapa orang tertentu saja?  Tentunya akan jauh lebih efektif jika mengumpulkan semua orang dalam suatu tempat dan menyatakan kebenaran kepada banyak orang daripada bergantung pada satu orang untuk melakukan pekerjaan itu. Bukankah tetap lebih baik jika tuhan-tuhan mereka menampakkan diri pada hari-hari penting tertentu dalam setahun untuk membuktikan keberadaan dirinya secara berkala? Dengan cara demikian tentunya mereka tidak akan memiliki kesulitan sama sekali untuk mengubah seluruh dunia!

Umat Buddha tidak berusaha untuk memperkenalkan ajaran Sang Buddha sebagai pesan surgawi, dan mereka mengajarkan tanpa menggunakan kekuatan mistik apapun. Menurut Sang Buddha, kita tidak seharusnya menerima ajaranNya seperti yang tercatat dalam kitab suci Buddhis secara membuta dan tanpa pemahaman yang benar. Ini merupakan kebebasan yang luar biasa yang Sang Buddha berikan kepada kita. Meskipun Beliau tidak pernah mengklaim bahwa umat Buddha adalah orang-orang pilihan tuhan, Beliau memberikan penghargaan jauh lebih besar kepada kecerdasan manusia dibanding dengan yang pernah dilakukan oleh agama manapun.

Cara yang terbaik bagi seseorang yang berasional untuk mengikuti adalah mempertimbangkan secara hati-hati sebelum ia menerima atau menolak segala sesuatu. Mempelajari, berpikir, menyelidiki sampai Anda menyadari apa yang ada sebenarnya. Jika Anda menerimanya hanya berdasarkan pada perintah atau kitab-kitab suci, Anda tidak akan menyadari kebenaran bagi diri Anda sendiri. 


5.
Janganlah Bergantung Pada Logika dan Argumentasi Pribadi Saja

“Janganlah bergantung pada logika dan argumentasi pribadi saja” merupakan nasihat lain dari Sang Buddha. Janganlah berpikir bahwa penalaran Anda adalah hal yang mutlak. Kalau tidak demikian, Anda akan berbangga diri dan tidak mendengarkan orang lain yang lebih mengetahui dibandingkan dengan diri Anda. Biasanya kita menasihatkan orang lain untuk menggunakan penalaran. Benar, dengan menggunakan daya pikiran dan akal yang terbatas, manusia berbeda dengan hewan dalam hal menggunakan pikirannya. Bahkan seorang anak kecil dan orang yang tidak berpendidikan pun menggunakan penalaran sesuai dengan usia, kedewasaan, pendidikan, dan pemahaman. Tetapi penalaran ini berbeda berdasarkan pada kedewasaan, pengetahuan, dan pengalaman. Sekali lagi, penalaran ini merupakan subjek dari perubahan, dari waktu ke waktu. Identitas seseorang atau pengenalan akan konsep-konsep juga berubah dari waktu ke waktu. Dalam penalaran seperti itu tidak ada analisa terakhir atau kebenaran mutlak. Karena kita tidak memiliki pilihan lain, kita harus menggunakan penalaran terbatas kita secara keras sampai kita mendapatkan pemahaman yang sebenarnya. Tujuan kita seharusnya adalah mengembangkan pikiran kita secara berkesinambungan dengan bersiap diri untuk belajar dari orang lain tanpa menjadi masuk ke dalam kepercayaan membuta. Dengan membuka diri kita pada cara berpikir yang berbeda, dengan membiarkan kepercayaan kita tertantang/teruji, dengan selalu tetap membuka pikiran, kita mengembangkan pemahaman kita atas diri kita sendiri dan dunia di sekeliling kita. Sang Buddha mengunjungi setiap guru yang dapat Beliau temukan sebelum Beliau mencapai Pencerahan terakhir. Meskipun kemudian Beliau tidak menerima apapun yang mereka ajarkan. Justru, Beliau menggunakan penalaranNya untuk memahami Kebenaran. Dan ketika Beliau mencapai Penerangan Agung, Beliau tidak pernah marah atau mengancam siapapun yang tidak setuju dengan ajaranNya.

Sekarang marilah kita mempertimbangkan argumen dan logika. Kapanpun kita berpikir bahwa suatu hal tertentu dapat kita terima, kita mengatakan hal itu adalah logika. Sebenarnya, seni logika merupakan alat yang bermanfaat bagi sebuah argumen. Logika dapat diekploitasi oleh para orator (ahli pidato) berbakat yang menggunakan kepandaian dan kecerdikan. Seseorang yang mengetahui cara berbicara dapat menjatuhkan kebenaran dan keadilan serta mengalahkan orang lain. Seperti para pengacara berargumen di pengadilan. Kelompok-kelompok agama yang berbeda berargumen untuk membuktikan bahwa agama mereka lebih baik dari agama-agama yang lainnya. Argumen-argumen mereka berdasarkan pada bakat dan kemampuan mereka untuk menyampaikan pandangan-pandangan mereka tetapi sebenarnya mereka tidak tertarik kepada kebenaran. Inilah sifat dasar dari argumen. Untuk mencapai kebenaran, Sang Buddha menasihatkan kita untuk tidak terpengaruh oleh argumen atau logika tetapi menasihatkan kita untuk menggunakan penyelidikan yang tidak bias. Ketika orang-orang mulai berargumen, secara alami emosi mereka juga muncul dan hasilnya adalah argumen yang memanas. Kemudian, egoisme manusia menambah lebih banyak lagi api dalam perang kata-kata ini. Pada akhirnya, menciptakan permusuhan karena tak ada seorang pun yang mau menyerah. Oleh karena itu, seseorang seharusnya tidak memperkenalkan kebenaran agama melalui argumen. Ini merupakan nasihat penting lainnya dari Sang Buddha. 


6.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Pengaruh Pribadi Seseorang Semata

Kemudian nasihat selanjutnya adalah janganlah menerima apapun sebagai kebenaran mutlak berdasarkan pada pengaruh pribadi seseorang. Hal ini mengacu pada kepercayaan yang dilihat sebagai kebenaran melalui imajinasi pribadi seseorang. Meskipun kita memiliki keraguan dalam pikiran kita, kita menerima hal-hal tertentu sebagai kebenaran setelah penyelidikan yang terbatas. Semenjak pikiran kita terpedaya oleh banyaknya keinginan dan perasaan-perasaan emosional, sikap batin ini menciptakan banyak ilusi. Dan kita juga sebenarnya memiliki kebodohan batin. Semua orang menderita yang diakibatkan dari kebodohan batin dan ilusi. Kekotoran batin menyelimuti pikiran yang kemudian menjadi bias dan tidak dapat membedakan antara kebenaran dan ilusi. Sebagai hasilnya, kita menjadi percaya bahwa hanya kepercayaan kitalah yang benar. Nasihat Sang Buddha adalah untuk tidak mengambil sebuah kesimpulan dengan segera dengan menggunakan perasaan emosional kita tetapi untuk mendapatkan lebih banyak lagi informasi dan penyelidikan sebelum kita mengambil kesimpulan terhadap sesuatu. Ini berarti kita harus bersedia mendengarkan terlebih dulu apa yang orang lain katakan. Mungkin mereka dapat menjernihkan keragu-raguan kita dan membantu kita untuk mengenali kesalahan atas apa yang kita percayai sebagai kebenaran. Sebagai contoh untuk hal ini adalah suatu masa ketika orang-orang pernah mengatakan bahwa matahari mengelilingi bumi dimana bumi berbentuk datar seperti layaknya uang logam. Hal ini berdasarkan pada keterbatasannya pengetahuan mereka, tetapi mereka bersiap untuk membakar hidup-hidup siapapun yang berani mengemukakan pandangan yang lain. Terima kasih kepada Guru Tercerahkan kita, Buddhisme dalam sejarahnya tidak memiliki catatan gelap dimana orang tidak diperkenankan untuk menentang apapun yang tidak masuk akal seperti itu. Inilah mengapa begitu banyak aliran Buddhisme saling bertautan secara damai tanpa mengecam satu sama yang lain. Berdasarkan pada petunjuk-petunjuk yang jelas dari Sang Buddha, umat Buddha menghormati hak-hak orang lain untuk memegang pandangan yang berbeda.


7.
Janganlah Menerima Apapun Yang Kelihatannya Benar

Nasihat selanjutnya adalah janganlah menerima apapun yang kelihatannya benar. Ketika Anda melihat segala hal dan mendengarkan beberapa tafsiran yang diberikan oleh orang lain, Anda hanyalah menerima penampilan luar dari obyek-obyek tersebut tanpa menggunakan pengetahuan anda secara mendalam. Kadangkala konsep atau identitas yang Anda ciptakan mengenai suatu obyek adalah jauh dari kebenaran hakikinya.

Cobalah untuk melihat segala sesuatu dalam sudut pandang yang sebagaimana mestinya. Buddhisme dikenal sebagai Ajaran Analisis (Doktrin of Analysis). Hanya dengan melalui analisa kita dapat memahami apa yang sebenarnya terdapat pada sebuah obyek dan apakah jenis dari elemen-lemen dan energi-energi yang berkerja dan bagaimanakah hal-hal itu bisa ada, mengapa mengalami kelapukan dan menghilang. Jika Anda menelaah sifat alami dari hal-hal ini, Anda akan menyadari bahwa segala sesuatu yang ada adalah tidak kekal dan kemelekatan terhadap obyek-obyek tersebut dapat menimbulkan kekecewaan. Juga, Anda akan menyadari bahwa tidak ada hal penting dalam pertengkaran mengenai ide-ide ketika dalam analisa terakhir, ketika melihat hal-hal tersebut dalam sudut pandang yang sebebarnya, ternyata hal-hal tersebut hanyalah ilusi belaka. Umat Buddha tidaklah terjebak dalam hal-hal kontoversial mengenai kapan dunia akan berakhir karena mereka melihat bahwa secara pasti segala sesuatu yang terdiri dari perpaduan akan mengalami kehancuran. Dunia akan berakir. Tidak ada keraguan akan hal itu. Kita berakhir setiap waktu kita menarik napas masuk dan keluar. Akhir dunia (yang disampaikan oleh Sang Buddha) hanya semata-mata peristiwa dramatis dari sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan ilmu astronomi modern mengatakan pada kita bahwa dunia bergejolak setiap saat. “Mereka yang tidak mengkhawatikan masa lalu, mereka yang tidak mengkhawatirkan masa depan, maka mereka hidup dalam ketenangan” (Sang Buddha). Ketika kita mengetahui kebenaran ini, maka akhir dunia tidak lagi menjadi hal yang begitu menakutkan dan tidaklah pantas untuk dikhawatirkan.


8.
Janganlah Bergantung Pada Pengalaman Spekulasi Pribadi Seseorang.

Sang Buddha kemudian memperingati para pengikutnya untuk tidak bergantung pada pengalaman spekulasi pribadi seseorang. Setelah mendengarkan atau membaca beberapa teori tertentu, orang dengan mudah tiba pada kesimpulan tertentu dan memelihara kepercayaan ini. Mereka menolak dengan sangat keras untuk mengubah pandangan mereka karena pikiran mereka telah terbentuk atau karena sewaktu beralih pada kepercayaan tertentu, mereka telah diperingatkan bahwa mereka akan dibakar di dalam neraka jika mereka mengubah pendiriannya. Dalam kebodohan dan rasa takut, orang-orang malang ini hidup dalam surga kebodohan, mereka berpikir bahwa kesalahan-kesalahan mereka secara ajaib akan diampuni. Nasihat Sang Buddha adalah untuk tidak membuat kesimpulan gegabah apapun untuk memutuskan apakah sesuatu itu benar atau sebaliknya. Manusia dapat menemukan berbagai macam hal di dunia ini tetapi hal yang paling sukar bagi mereka untuk dilihat adalah kebenaran atau realita dari segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan. Kita seharusnya tidak bergantung pada desas-desus spekulasi untuk memahami kebenaran. Kita boleh menerima beberapa hal tertentu sebagai dasar yang digunakan untuk memulai sebuah penyelidikan yang akhirnya akan memberikan kepuasan pada pikiran. Keputusan yang kita ambil dengan cara spekulasi dapat dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh sekelompok orang buta yang menyentuh bagian berbeda dari tubuh seekor gajah. Setiap orang buta tersebut memiliki keputusan sendiri mengenai apa yang ia pikirkan tentang bentuk dari gajah tersebut. Bagi masing-masing orang buta tersebut, apa yang ia katakan adalah benar. Meskipun mereka yang dapat melihat hal-hal tersebut tahu bahwa semua orang buta tersebut salah, dalam pikiran orang-orang buta tersebut mereka berpikir bahwa merekalah yang benar. Juga janganlah seperti katak dalam tempurung kelapa yang berpikir bahwa tidak ada dunia lain di luar apa yang dapat ia lihat.

Kita terbutakan oleh kekotoran batin kita. Inilah mengapa kita tidak dapat memahami kebenaran. Inilah mengapa orang lain dapat menyesatkan dan mempengaruhi kita dengan sangat mudah. Kita selalu mudah mengganti kepercayaan yang telah kita terima sebagai kebenaran karena kita tidak memiliki pemahaman yang mendalam. Orang-orang mengubah lebel agama mereka dari waktu ke waktu karena mereka mudah terpengaruh oleh emosi manusia. Ketika kita sudah menyadari kebenaran tertinggi, kita tidak perlu lagi mengubahnya dalam keadaan apapun karena dalam kebenaran terakhir tidak ada hal yang diubah, ia adalah Mutlak.


9.
Janganlah Dengan Mudah Mengubah Pandangan Kita Karena Kita Terkesan Oleh Kemampuan Mengesankan Seseorang

Kita seharusnya tidak mengubah pandangan-pandangan kita dengan mudah karena kita terkesan oleh kemampuan mengesankan seseorang merupakan nasihat selanjutnya Sang Buddha yang diberikan kepada orang-orang muda yang disebut dengan suku Kalama. Seberapa orang memiliki kemampuan yang mengesankan Anda dengan perilaku dan kemampuan nyata untuk melakukan hal-hal tertentu. Sebagai contoh, akankah Anda mempercayai secara membuta seorang gadis yang ada di iklan televisi yang mengatakan kepada Anda bahwa Anda juga dapat menjadi cantik secantik dirinya, memiliki gigi seindah giginya, jika Anda menggunakan pasta gigi merek tertentu?  Tentu tidak.Anda tidak akan menerima apa yang ia katakan tanpa memeriksa secara hati-hati kebenaran akan pernyataanya. Ini juga sama dengan para pembicara fasih yang mengetuk pintu Anda untuk menceritakan cerita yang mempesona tentang “kebenaran” mereka. Mereka mungkin berbicara mengenai beragam guru-guru agama, guru-guru, dan ahli-ahli meditasi. Mereka juga akan menikmati memberi pernyataan yang dilebih-lebihkan untuk membuktikan kekuatan dari guru-guru mereka untuk mempengaruhi pikiran Anda. Jika Anda secara membuta menerima perkataan-perkataan mereka sebagai Kebenaran, Anda akan memelihara pandangan yang goyah dan dangkal karena Anda tidak sepenuhnya yakin. Anda dapat mengikuti mereka dengan iman untuk beberapa saat, tetapi suatu hari Anda akan merasa kecewa, karena Anda tidak menerimanya melalui pemahaman dan pengalaman Anda. Dan segera setelah guru mengesankan lainnya datang, Anda akan meninggalkan yang pertama.

Telaahlah nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha. Pikirkan bagaimana beralasannya, masuk akalnya, dan ilmiahnya cara pengajaranNya. “Janganlah mendengarkan orang lain dengan kepercayaan membuta. Dengarkanlah mereka dengan segala pengertiannya, tetapi tetaplah penuh perhatian dan dengarlah dengan pikiran terbuka. Anda tidak seharusnya menyerahkan pendidikan dan kecerdasan Anda kepada orang lain ketika Anda sedang mendengarkan mereka. Mereka mungkin mencoba untuk membangkitkan emosi Anda dan mempengaruhi pikiran Anda sesuai dengan kebutuhan duniawi Anda untuk memuaskan keinginan Anda. Tetapi tujuan mereka mungkin bukan berkepentingan untuk menyatakan kebenaran.”


10.
Janganlah Menerima Apapun Atas Pertimbangan Bahwa “Inilah Guru Kami”

Janganlah menerima apapun atas pertimbangan bahwa “Inilah guru kami”, merupakan nasihat terakhir Sang Buddha dalam konteks ini. Pernahkah Anda mendengar guru agama lain manapun yang mengutarakan kata-kata seperti ini? Yang lainnya semua mengatakan, “Sayalah satu-satunya guru terhebat, Saya adalah Tuhan. Ikutilah aku, sembahlah aku, berdoalah padaku, jika tidak kau tidak akan memiliki keselamatan.” Mereka juga mengatakan, “Janganlah kau menyembah tuhan lain atau guru lain.” Berpikirlah untuk sejenak untuk memahami sikap Sang Buddha. Sang Buddha mengatakan, “Kau seharusnya tidak bergantung secara membuta kepada gurumu. Ia mungkin saja adalah penemu sebuah agama atau guru yang terkenal, tetapi meskipun demikian kau tidak seharusnya mengembangkan kemelekatanmu terhadapnya sekali pun.”

Beginilah caranya Sang Buddha memberikan penghargaan yang semestinya kepada kecerdasan seseorang dan memperkenankan manusia menggunakan kehendak bebasnya tanpa bergantung pada orang lain. Sang Buddha mengatakan, “Kau bisa menjadi tuan atas dirimu sendiri.” Sang Buddha tidak pernah mengatakan kepada kita bahwa Beliau-lah satu-satunya Guru Yang Tercerahkan dimana para pengikutnya tidak diperkenankan untuk memuja tuhan/dewa dan guru agama lain. Beliau juga tidak menjanjikan para pengikutnya bahwa mereka dapat dengan mudah pergi ke surga atau mencapai Nibbana jika mereka memujaNya secara membuta. Jika kita mempraktikkan agama begitu saja dengan bergantung kepada seorang guru, kita tidak akan pernah menyadari kebenaran. Tanpa menyadari kebenaran mengenai agama yang kita praktikkan kita dapat menjadi korban dari kepercayaan yang membuta dan memenjarakan kebebasan berpikir kita dan akhirnya menjadi budak bagi seorang guru tertentu dan mendiskriminasikan guru yang lain.

Kita harus menyadari bahwa kita harus tidak bergantung pada orang lain dalam penyelamatan diri kita. Tetapi kita dapat menghormati guru agama manapun yang sungguh dan pantas untuk dihormati. Para guru agama dapat mengatakan kepada kita bagaimana untuk meraih keselamatan kita, tetapi seseorang tidak dapat menyelamatkan orang lain. Penyelamatan ini bukan seperti menyelamatkan sebuah kehidupan ketika dalam bahaya. Ini adalah pembebasan terakhir dari kekotoran batin dan penderitaan duniawi. Inilah mengapa kita harus berkerja secara individual (sendiri) untuk meraih pembebasan kita atau kemerdekaan penuh berdasarkan pada nasihat yang diberikan oleh guru-guru agama.

“Tidak ada orang lain yang menyelamatkan kita selain diri kita. Sang Buddha hanyalah menunjukkan jalannya.”

Dapatkah Anda pikiran guru agama manapun yang pernah mengatakan hal ini? Inilah kebebasan yang kita miliki dalam Buddhisme.

Inilah sepuluh nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha kepada sekelompok pemuda yang disebut suku Kalama yang datang menemui Sang Buddha untuk mengetahui bagaimana menerima suatu agama dan bagaimana untuk memutuskan mana agama yang benar.

Nasihat Beliau adalah: “Janganlah mementingkan diri sendiri dan janganlah menjadi budak bagi yang lain; Janganlah melakukan apapun hanya untuk kepentingan pribadi tetapi pertimbangkan untuk kepentingan pihak lain.” Beliau mengatakan kepada suku Kalama agar mereka dapat memahami hal ini berdasarkan pada pengalaman pribadi mereka. Beliau juga mengatakan bahwa di antara beragam praktik dan kepercayaan, ada hal-hal tertentu yang baik bagi seseorang tetapi tidak baik bagi yang lain. Dan sebaliknya, ada hal-hal tertentu yang baik bagi orang lain tetapi tidak baik bagi seseorang. Sebelum Anda melakukan apapun, Anda harus mempertimbangkan baik manfaat maupun ketidakmanfaatan yang akan bertambah pada diri Anda. Inilah garis pedoman untuk pertimbangan sebelum Anda menerima suatu agama. Oleh karena itu, Sang Buddha telah memberikan kebebasan secara penuh kepada kita untuk memilih suatu agama berdasarkan pada pendirian diri sendiri.

Buddhisme merupakan suatu agama yang mengajarkan seseorang untuk memahami bahwa manusia bukanlah untuk agama tetapi agama itulah yang untuk manusia gunakan. Agama dapat diibaratkan sebagai rakit yang digunakan manusia untuk menyeberangi sungai. Ketika orang itu sampai di pinggiran sungai, ia dapat meninggalkannya dan melanjutkan perjalanannya. Seseorang seharusnya menggunakan agama untuk perbaikan dirinya dan untuk mengalami kebebasan, kedamaian, dan kebahagiaan. Buddhisme merupakan suatu agama yang dapat kita gunakan untuk hidup penih kedamaian dan membiarkan yang lain untuk juga hidup penuh kedamaian. Saat mempraktikkan agama ini kita diperkenankan untuk menghormati agama lain. Jika sukar untuk menghormati sikap dan perilaku agama lain maka setidaknya kita perlu bertoleransi tanpa mengganggu atau mengecam agama lain. Sangatlah sedikit agama lain yang mengajarkan para pengikutnya untuk mengadopsi sikap bertoleransi ini.


-end-


Judul Asli:
How To Choose A Religion?
Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com

 
 
Tsunami - Dalam Pandangan Buddhis

TSUNAMI
Dalam Sudut Pandang Buddhis

 

Buddhisme mengajarkan mengenai penyebab, bahwa seluruh alam semesta merupakan jaringan sebab akibat yang saling berhubungan. Ada dua jenis dari penyebab -- penyebab alami dan penyebab moral. Penyebab alami tidak ada kaitannya dengan prilaku baik atau buruk manusia, ia hanya merupakan  beragam kekuatan di alam semesta yang bekerja satu sama yang lain. Hujan badai ataupun tanaman yang masak, merupakan contoh dari penyebab alami. Penyebab alami tentu saja dapat mempengaruhi kita -- terjebak dalam hujan badai dapat membuat kita pilek. Tetapi menderita karena pilek tidak ada hubungannya dengan perbuatan baik maupun tidak baik pada masa lampau -- Ini merupakan efek alami dari sebuah sebab alami. 

Penyebab moral adalah mengenai bagaimana manusia berpikir, berbicara dan berbuat dan apa yang mereka rasakan sebagai hasilnya. Ajaran Sang Buddha mengenai Kamma hanya menitikberatkan pada penyebab moral. Menjadi penolong bagi seseorang, mendapatkan ucapan terima kasih dari mereka dan merasakan kebahagiaan karenanya; mencuri sesuatu, tertangkap dan akhirnya mengalami hal yang memalukan, ini merupakan contoh dari penyebab moral. Kebahagiaan atau ketidaknyamanan seseorang merupakan hasil langsung dari bagaimana seseorang telah bertindak. Seseorang tidaklah sedang mendapatkan `imbalan` ataupun `hukuman` atas perbuatan-perbuatan mereka, kebahagiaan atau ketidaknyamanan mereka hanyalah merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan mereka. Sekarang marilah kita melihat pada peristiwa tsunami baru-baru ini dari sudut pandang ajaran tentang Kamma.

Tsunami merupakan sebuah contoh dari peristiwa yang disebabkan oleh penyebab alami. Lempengan-lempengan tektonik pada permukaan bumi bergerak disebabkan karena gempa bumi, energi yang dilepaskan menciptakan gelombang yang sangat besar dimana, ketika mengenai pantai menyebabkan kerusakan. Orang-orang yang berada di daerah dimana tertimpa tsunami baru-baru ini mengalami dua jenis penderitaan -- penderitaan yang disebabkan oleh penyebab alam dan penderitaan yang disebabkan oleh penyebab moral, yaitu Kamma. Saat terjadi banjir besar seseorang mungkin terhantam oleh pohon yang jatuh, tergores oleh serpihan logam atau terhempas ke dinding. Ini merupakan contoh efek yang menyakitkan dari penyebab alami dan tidak ada hubungannya dengan perbuatan baik atau buruk pada masa lampau.

Kamma menitikberatkan pada pikiran, ucapan dan perbuatan (kamma) seseorang yang disengaja dan dampak-dampak dari reaksi-reaksi tersebut (vipaka). Saya akan memberikan beberapa contoh berbagai sikap yang berbeda dari reaksi orang-orang terhadap tsunami dan berbagai efek yang mereka dapatkan. Katakanlah ada dua orang – seorang pria dan wanita – keduanya terluka dalam tsunami dan kehilangan rumah dan penghidupan mereka. Sang pria berputus asa, “Mengapa saya?” ia menangis. “Jika saja hari ini saya telah keluar dari kota”, ia berkata dalam kemarahan dan penyesalan. Dengan berpikir seperti ini ia melipatgandakan penderitaannya. Namun pemikirannya segera berubah. Ia menyadari bahwa rumah tetangganya mengalami kerusakan kecil dan ia berpikir, ”Sial, saya tidak pernah menyukainya, sayang sekali rumahnya tidak hancur.” Ia terus melipatgandakan penderitaannya dan begitu juga pikiran buruk dan negatifnya terus menguat. Selanjutnya ia berpikir, ”Baiklah, semua orang mementingkan dirinya sendiri.” Dan ia mulai berjalan berkeliling mencari jikalau ia dapat mencuri apapun dari rumah-rumah yang ditinggalkan. Sekarang pikiran dan perasaan buruk pria itu mengarah pada perbuatan-perbuatan negatif.

Sekarang mari kita lihat reaksi pada wanita tersebut. Setelah ia pulih dari trauma awalnya, pikiran pertamanya adalah, ”Betapa beruntungnya saya bisa tetap hidup”. Ia menderita tetapi ia ia tidak menambahkan penderitaannya dengan penyesalan, keputusasaan atau kemarahan. Kemudian ia berpikir, ”Pasti ada orang lain yang lebih parah dari saya. Saya harus melihat apa yang dapat saya lakukan untuk menolong,” dan ia mulai berkeliling mencari orang-orang yang terluka. Memikirkan orang lain memberikan peningkatan atas ketidakhirauannya akan keadaannya sendiri dan dengan begitu, sekali lagi, hal ini tidak menambah penderitaannya. Hari berikutnya ia mengatur untuk mendapatkan beberapa makanan yang didistribusikan oleh pemerintah dan sepanjang perjalanannya ia menyadari ada seorang anak yang tidak mendapatkan makanan apapun. Ia menenangkan anak itu dan membagi makanannya kepada anak itu. Melihat anak itu sedirian ia memutuskan untuk menjaganya. Setelah beberapa hari ayah si anak melihat anaknya dan sangat bersyukur kepada wanita itu karena telah menjaga anaknya. Sang ayah sekarang tinggal dengan saudara perempuannya di kota terdekat yang tak terjangkau tsunami dan mengundang wanita itu untuk datang dan tinggal dengannya dimana ia mendapatkan makanan dan tempat berlindung. Pikiran dan tindakan positif wanita itu sekarang memiliki dampak positif yang nyata pada kehidupannya.

Sekarang mengapa pria tersebut bereaksi secara berbeda dengan wanita tersebut? Karena reaksi mereka terhadap pengalamannya pada masa lampau, tidak lain yaitu karena Kamma masa lampau mereka. Kecenderungan batin negatif pria tersebut pada masa lampau (kamma) telah membuat ia memiliki kecenderungan batin negatif pada masa sekarang dan pada gilirannya mungkin akan membuat ia memiliki kecenderungan batin negatif pada masa depan. Kecenderungan batin seperti ini membuat penderitaannya lebih besar dari apa yang seharusnya ia dapatkan (vipaka). Wanita tersebut (ia mungkin seorang Muslim, Buddhis, Kristiani, atau tidak memiliki agama) telah diajarkan dan selalu mempercayai bahwa adalah penting untuk memiliki pikiran dan perbuatan yang baik dan ia selalu berusaha untuk mengembangkannya. Kecenderungan batin positif wanita tersebut pada masa lampau (kamma) telah membuat ia memiliki kecenderungan batin positif pada masa sekarang dan pada gilirannya mungkin akan membuat ia memiliki kecenderungan batin positif pada masa depan. Kecenderungan batin seperti ini mengurangi penderitaannya dan mengarahkan dirinya sehingga mendapat perlindungan dari ayah anak itu. Dengan kata lain, perbuatan (kamma) positif masa lampaunya menuai dampak positif (vipaka) pada masa sekarang.

Jadi menurut Buddhisme sakit fisik yang dialami oleh para korban tsunami disebabkan oleh beragam penyebab alami. Bagaimana mereka bereaksi terhadap penyebab alami ini merupakan kamma mereka, hasil dari reaksi positif maupun negatif mereka pada masa depan (besok), bulan depan, tahun depan, mungkin kehidupan mendatang), akan menjadi vipaka mereka. Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan akan pengetahuan dan kekuatan kita hanya bisa mengurangi pengaruh dari beragam penyebab alami. Bagaimanapun kita juga memiliki kemampuan untuk membentuk  dan mengontrol reaksi-reaksi kita terhadap berbagai situasi. Jika kita tidak membuat upaya dalam mengembangkan  pikiran kita di jalan yang positif mungkin kita di masa depan menemukan diri kita kewalahan oleh keadaan yang tidak diharapkan. Jika kita membuat upaya dalam mengembangkan pikiran kita, terutama melalui meditasi, kita dapat lebih siap untuk memikul bahkan memenangkan kemalangan di masa depan.

Pemberitaan penuh dengan contoh keduanya. Orang-orang bertanya, “Bagaimana mungkin untuk tetap bebas dari kesedihan, kegelisahan dan ketakuatan dalam kondisi yang mengerikan?” Tetapi beberapa orang dapat melakukannya. Seorang pria  di Sri Lanka kehilangan isteri dan kedua anaknya dan tentu saja ini adalah hal yang sangat buruk. Namun, menjadi seorang praktisi Buddhis, ia pulih dari duka citanya sekitar dua hari kemudian ketika ia menemukan dua orang anak kelaparan, menangis dengan kedua orang tuanya yang meninggal didekatnya, dan ia memutuskan untuk mengadopsi mereka. Rupanya, orang lain penah melihat kedua anak ini tetapi tidak melakukan apapun untuk menolongnya. Ketika diwawancarai pria itu mengatakan bahwa dua anak adopsinya telah memberikan sebuah arti baru bagi kehidupannya dan memberikan kekuatan untuk mengatasi berbagai kesulitan. Kita membaca kisah lain dari orang-orang yang emngambil keuntungan dari bencana ini untuk merampas, merampok dan mencuri. Masing-masing dari kita memilih untuk menjalani jalan yang kita lakukan dan kita akan mengalami hasilnya yang sesuai. Ketika seorang pria Singapura mendengar bencana itu ia mengemasi barang-barang ke mobil vannya dan mengemudi  ke Thailand dengan tujuan menyalurkan makanan dan air kepada para korban. Sayangnya, dalam perjalanan mobil vannya tergelincir dan ia pun tewas. Orang-orang bertanya, ”Mengapa pria itu menderita dalam perbuatan baiknya?” Tetapi pertanyaan seperti itu merupakan sebuah kebingungan antara penyebab alami dan penyebab moral. Ketangkasan dan tanggapan nyata pria ini terhadap penderitaan orang lain memperlihatkan belas kasih yang sangat besar dan akan berdampak positif bagi kehidupan berikutnya. Kecelakaan yang dialaminya tidak ada hubungannya dengan perbuatan baik ataupun buruk yang telah ia lakukan – ini merupakan hasil dari penyebab alami – ketiadaan perhatian sesaat, rem yang blong, jalanan yang licin karena hujan, dan sebagainya. Menjadi seseorang yang baik bukan berarti kita tidak akan pernah menderita akibat penyebab alami, tetapi ini lebih berarti bahwa ketika kita menderita karena penyebab alami, dengan melakukan kebaikan kita setidaknya mengurangi reaksi negatif yang akan menambah penderitaan kita.

Beberapa umat Buddha yang kurang akan informasi mungkin akan berkata bahwa kematian dan kecelakaan yang disebabkan oleh tsunami merupakan hasil dari Kamma buruk yang lampau. Perlu ditekankan di sini bahwa pernyataan tersebut bertolak belakang dengan apa yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Dalam Devadaha Sutta (Majjhima Nikaya II.214, dan juga Anguttara Nikaya I.173) Sang Buddha mengatakan bahwa kepercayaan yang mengatakan bahwa setiap pengalaman yang kita alami sekarang merupakan hasil dari Kamma kehidupan masa lampau (sabbam tam pubbe katahetu) adalah salah dan merupakan pandangan keliru (miccha ditthi). Dalam Sivaka Sutta (Samyutta Nikaya IV. 228)* Beliau mengatakan bahwa penderitaan yang kadangkala kita alami dapat merupakan akibat dari Kamma tetapi juga bisa karena penyakit, cuaca, kelalaian ataupun sebab-sebab eksternal (opakkamikani). Tsunami merupakan contoh yang baik dari penyebab ketiga dan yang terakhir. Semua Kamma, baik Kamma baik maupun buruk, pastilah memiliki dampak, tetapi tidak semua dampak berhubungan dengan Kamma.

Tetapi apa yang ada pada diri kita yang cukup beruntung tidak terlibat dalam bencana ini? Bagaimana mungkin ajaran Sang Buddha mengenai Kamma berhubungan dengan diri kita? Seperti pria dan wanita yang dikisahkan di atas, reaksi kita akan tsunami dapat berupa reaksi negatif maupun positif. Seseorang mungkin membaca mengenai tragedi yang terjadi, mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh dan kemudian membalikkan halaman ke halaman olahraga. Ketika diminta untuk menyumbang bagi para korban ia mungkin menolak untuk memberikan sesuatu, dengan mengatakan bahwa minggu ini ia kekurangan uang tunai. Atau ia mungkin memberikan sumbangan tetapi kemudian memberitahukan kepada setiap orang berharap agar mendapatkan pengakuan dan rasa hormat dari mereka. Ia telah diberikan sebuah kesempatan untuk bereaksi secara berbeda dari apa yang telah sering ia lakukan tetapi ia telah gagal untuk mengambil kesempatan tersebut. Ia telah gagal untuk menumbuhkan dan mengubahnya, ia hanya memperkenankan dirinya terbawa oleh kebiasaan lamanya yang bodoh, ketamakan, harga diri dan miskinnya belas kasih.

Tetapi katakanlah ada seseorang yang selalu sangat tak perduli dan selalu memuja diri sendiri tetapi ketika ia melihat para korban tsunami di televisi, ia merasakan belas kasih yang menusuk. Kemudian, daripada mengacuhkan percikan belas kasih seperti yang selalu ia lakukan di masa lalu, ia memutuskan untuk bertindak. Ia pergi ke Palang Merah dan melakukan sumbangan yang sangat mulia. Ketika disana ia melihat tanda pengumuman yang meminta untuk menjadi sukarelawan dan secara spontan ia mendaftar dan untuk beberapa minggu ke depan ia menghabiskan waktu luangnya untuk mengumpulkan dana dan membantu dengan beragam cara. Sebagai hasilnya ia telah memperlemah kecenderungan batinnya yang mementingkan diri sendiri dan meningkatkan kecenderungan batinnya yang positif, ia telah menumbuhkan dan merubahnya ke beberapa tingkatan. Jika di masa mendatang ia tetap meneruskan perbuatannya dalam cara-cara yang positif ini, maka kapan pun ia memiliki kesempatan, ia akan secara berkala menjadi orang yang lebih menyenangkan dan mungkin juga menjadi seseorang yang lebih bahagia.

Jadi, bahkan tragedi seperti tsunami sesungguhnya dapat memiliki sisi yang positif. Pertama-tama, ia dapat menjadi sebuah kesempatan untuk mengembangkan kedermawanan, keperdulian, dan belas kasih. Kedua, ia dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk merenungkan mengenai kebenaran akan Dukkha, sebuah ajaran Sang Buddha yang mengajarkan bahwa kehidupan di dunia yang berkondisi merupakan sesuatu yang tidak memuaskan. Dengan perenungan seperti ini dapat membangunkan kita dari kepuasan akan diri, mengingatkan kita bahwa bagaimanapun nyamannya kehidupan kita, ia dapat berubah kapan saja. Hal ini dapat membantu untuk mengubah diri kita dari pengejaran keduniawian yang tidak menentu ke tujuan spiritual yang penuh arti.


-end-

* PTS: Sivaka Sutta; Samyutta Nikaya 4.229


Judul Asli: The Tsunami - A Buddhist View
Oleh: Ven. S. Dhammika
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com

 
Dimanakah Sang Buddha?

 DIMANAKAH SANG BUDDHA?

 

Orang-orang sering menanyakan pertanyaan ini, kemanakah Sang Buddha pergi atau dimanakah Ia sekarang tinggal? Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit dijawab bagi mereka yang belum mengembangkan jalan hidup spiritual. Ini disebabkan setiap orang memikirkan mengenai hidup dengan cara pandang duniawi. Suatu hal yang sulit bagi orang-orang untuk memahami konsep tentang Buddha. Beberapa misionaris agama tertentu mendatangi umat Buddha dan berkata bahwa Sang Buddha bukanlah dewa (tuhan), Ia adalah manusia. Ia telah mati dan menghilang. Bagaimana seseorang mendapatkan manfaat dari menyembah orang yang sudah mati? Tetapi kita perlu memahami bahwa Sang Buddha disebut sebagai Sattha Deva-manussanam, Guru para dewa (tuhan)  dan manusia. Kapan saja para dewa memiliki masalah, mereka mendatangi Sang Buddha untuk mendapatkan nasihatNya. Kemudian para misionaris tersebut mengklaim dewa (tuhan) mereka adalah dewa (tuhan) yang hidup dan itulah kenapa setiap orang harus menyembahnya.

Menurut ilmu pengetahuan, memerlukan jutaan tahun bagi kita untuk mengembangkan pikiran dan pemahaman kita. Ketika pikiran manusia belum sepenuhnya berkembang, mereka menyadari akan adanya kekuatan-kekuatan yang membuat alam bekerja. Karena mereka tidak dapat memahami bagaimana persisnya alam itu bekerja, mereka mulai berpikir pastilah ada seseorang yang menciptakan dan memelihara peristiwa ini. Untuk membantu yang lain memahami konsep ini, mereka mengubah energi ini menjadi suatu bentuk dan mewakilinya secara fisik sebagai patung-patung dan lukisan-lukisan. “Roh-roh” atau kekuatan-kekuatan ini begitu penting untuk membuat manusia melakukan sesuatu yang baik dan tidak melakukan sesuatu yang buruk dan untuk memberi mereka pahala jika mereka melakukan hal yang baik. Kita selalu memiliki rasa takut, khawatir, curiga, ketidakamanan, sehingga kita membutuhkan seseorang untuk bergantung padanya, untuk melindungi kita. Seringkali kekuatan ini dirubah menjadi tuhan yang tunggal. Sekarang sebagian orang bergantung pada tuhan untuk segalanya. Demikianlah mengapa mereka mencoba memperkenalkan ide mengenai roh yang kekal yang pergi dari sini dan tinggal di surga yang abadi. Hal itu memuaskan kehausan akan kehidupan kekal. Sang Buddha mengatakan bahwa segala sesuatu yang muncul dalam suatu keberadaan adalah subjek dari perubahan, kehancuran dan kelapukan.

Ketika kita menganalisa kehidupan Sang Buddha, kita melihat Ia tidak pernah memperkenalkan diriNya sebagai anak tuhan atau pembawa pesan (nabi) tetapi sebagai Guru agama yang tercerahkan. Pada saat yang sama Sang Buddha juga tidak memperkenalkan diriNya sebagai inkarnasi dari Buddha lain. Sang Buddha tidak diciptakan oleh Buddha yang lain, jadi Buddha bukanlah reinkarnasi dari Buddha yang lain. Beliau adalah seorang individu yang dengan bekerja dalam periode waktu yang lama, mengembangkan kehidupan setelah kehidupan dan menanam semua kualitas, kebajikan, kebijaksanaan agung yang kita sebut sebagai paramita atau kesempurnaan. Ketika Beliau menyempurnakan semua kualitas yang baik Ia mencapai Pencerahan dimana merupakan pemahaman yang sempurna akan bagaimana alam semesta bekerja. Ia menemukan bahwa tidak ada tuhan yang menciptakan alam semesta.

Orang-orang bertanya bagaimana Sang Buddha dapat mencapai Pencerahan tanpa dukungan dari tuhan manapun. Umat Buddha mempertahankan bahwa setiap individu dapat mengembangkan pikiran untuk memahami segalanya. Arti kata ”manussa”, dalam berbagai bahasa berarti makhluk manusia. Tetapi arti dari kata ”mana” adalah pikiran. Oleh karena itu ”manussa” adalah manusia yang dapat membangun dan mengembangkan pikiran menuju ke kesempurnaan. Selain manusia tidak ada makhluk-makhluk hidup lain di alam semesta ini yang dapat mengembangkan pikirannya sampai sedemikian luas, untuk mencapai Pencerahan. Bahkan tidak ada makhluk-makhluk adikuasa yang bisa menjadi Buddha karena mereka tidak bisa mengembangkan pikirannya sedemikian luas. Mereka memiliki sensualitas duniawi, kedamaian, kehidupan yang sejahtera, tetapi kekuatan pikiran mereka sangat lemah. Hanya manussa atau manusia yang bisa menjadi Buddha atau Ia Yang Tercerahkan. Ketika orang-orang mengatakan bahwa Buddha bukanlah tuhan, kita tidak seharusnya mencoba membuktikan bahwa Ia adalah tuhan. Jika kita mencoba membuktikan hal ini maka sebenarnya kita merendahkan konsep Pencerahan. Beberapa orang mengklaim bahwa tuhan mereka telah memberikan pesan kepada umat manusia. Jika pesan itu adalah untuk semua umat manusia di dunia ini, mengapa tuhan tidak menyatakan pesannya kepada orang banyak, tetapi justru menyatakannya kepada satu orang. Sang Buddha tidak mendorong siapapun untuk percaya apapun atau mengklaim bahwa Beliau di perintahkan oleh kekuatan tertinggi untuk melakukan sesuatu.

Suatu hari, seorang pendeta Kristiani datang menemui saya bersama dengan pengikutnya untuk berdiskusi mengenai Buddhisme dan bertanya, ”Sebenarnya dapatkah anda mengatakan kepada saya apa yang umat Buddha percayai?” Kemudian saya mengatakan kepadanya yang sebenarnya bahwa umat Buddha tidak “percaya” apapun. Kemudian ia menunjuk pada buku saya "What Buddhists Believe" (Apa yang Umat Buddha Percaya) dan ia bertanya “mengapa anda menulis buku ini?” Saya mengatakan kepadanya, “Itulah mengapa saya menulis buku ini, untuk anda membacanya, untuk melihat apakah ada sesuatu yang anda percayai.” Saya mengatakan kepadanya, Sang Buddha telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu, Sang Buddha telah menasihati kita apa yang sebaiknya kita lakukan. Daripada mempercayai, seseorang seharusnya berlatih pariyatti, patipatti dan pativedha (1). Ada tiga cara untuk berlatih. Pertama kita harus mencoba untuk memahami karena kita tidak seharusnya mempercayai secara membuta apapun yang tidak dapat kita pahami. Sang Buddha mengatakan bahwa pertama anda harus mencoba untuk memahami.

Dalam ajaranNya mengenai Jalan Utama Berunsur Delapan, hal yang pertama adalah sammaditthi, pengertian (pemahaman) benar. Sang Buddha memulai misiNya dengan meminta kepada pengikutnya untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman benar bukannya iman atau kepercayaan yang membuta. Setelah belajar kita mendapatkan pengetahuan yang luar biasa mengenai Sang Buddha dan ajaran-ajaranNya. Anda harus melatih apa yang telah anda pelajari.  Jika anda belum memahaminya anda akan mencoba menciptakan ide-ide berdasarkan imajinasi anda sendiri. Nasihat Beliau adalah melatih apa yang telah anda pelajari dengan pemahaman. Setelah berlatih anda akan mengalami hasil atau efeknya. Inilah tiga metode yang Sang Buddha ajarkan, yaitu belajar, memahami, dan berlatih. Inilah jalan untuk hidup di dunia ini untuk terlepas dari penderitaan. Sekarang anda dapat memahami bahwa jalan Sang Buddha dalam memperkenalkan agama dengan tidak meminta kita untuk percaya apapun tetapi untuk belajar, berlatih, dan mengalami hasilnya.

Sebagai contoh, Sang Buddha mengatakan bahwa anda harus berbaik hati, anda harus jujur. Setelah memahami ajaran ini, anda mencoba untuk melatihnya dan setelah itu setiap orang menghormati anda ketika mereka mengetahui bahwa anda sangat baik hati, sangat jujur. Tak seorang pun ingin mengganggu anda atau menyalahkan anda, tetapi mereka menghormati anda. Itulah hasil yang baik yang anda alami. Pada saat yang sama Sang Buddha mengatakan bahwa anda harus mencoba untuk memahami sesuai dengan tingkat pengalaman anda sendiri. Anda dapat melakukan tes pada hasil latihan anda sendiri. Anda memahami mengapa beberapa hal adalah salah dan mengapa beberapa hal adalah benar dan anda tidak mengikutinya karena suruhan atau perintah yang datang dari surga. Anda memiliki pemikiran dan akal sehat untuk memahami. Pemahaman kita dan pengalaman pribadi kita cukup untuk memahami mengapa sesuatu itu adalah salah atau benar. Sebagai contoh Sang Buddha menasihati kita untuk tidak menghancurkan kehidupan makhluk lain. Beliau tidak memperkenalkan hal ini sebagai hukum agama karena pemahaman manusia pasti dapat mengetahui bahwa membunuh itu adalah kejam. Tidaklah sukar bagi kita untuk memahami mengapa hal ini buruk karena ketika orang lain datang dan mencoba membunuh kita, pastilah kita tidak akan menyukainya. Lagi, beliau mengatakan bahwa ketika anda memiliki sesuatu yang berharga telah dicuri oleh seseorang, bagaimanakah perasaan anda? Dalam cara yang sama ketika kita mencuri milik orang lain mereka juga tidak menyukainya. Tidaklah diperlukan bagi kita untuk menerima perintah dari tuhan manapun atau dari Buddha atau Yesus untuk memahami konsep sederhana ini. Guru-guru agama muncul di dunia untuk mengingatkan kita apa yang telah kita lalaikan atau lupakan. Pengalaman dan pemahaman pribadi anda sendiri lebih dari cukup untuk anda mengetahui mengapa hal-hal tertentu adalah benar atau salah.

Sang Buddha menasihati kita untuk berpikir dan memahami. Kita memiliki pikiran yang beralasan. Kita memiliki akal sehat tidak seperti makhluk hidup lainnya yang juga memiliki pikiran tetapi tidak dapat berpikir secara rasional. Pikiran mereka terbatas untuk mencari makanan, tempat bernaung, perlindungan dan kenikmatan sensual. Mereka tidak meningkatkan pikiran mereka lebih luas. Tetapi manusia memiliki pikiran untuk berpikir dan memahami sampai tahap maksimal. Inilah kenapa para ilmuwan telah menyelidiki dan menemukan berbagai hal yang belum pernah kita dengar sebelumnya. Tidak ada makhluk hidup lain di dunia ini yang dapat mengembangkan pikirannya sampai seluas itu. Karena itulah hanya manusia saja yang dapat menjadi Buddha. Hanya dengan mengembangkan pikiran mereka, manusia dapat mencapai Pencerahan.

Sang Buddha mengatakan kepada kita, untuk bertindak sesuai dengan pengalaman kita. Kemudian kita dapat mengalami hasilnya. Pengikut dari semua agama lain, memberi salam kepada yang lain, dengan mengucapkan, ”Tuhan memberkatimu”, tetapi umat Buddha sangat jarang memberi salam kepada yang lain dengan mengucapkan Buddha memberkatimu. Tetapi mereka membaca berulang ”Buddham Saranam Gacchami” (Saya berlindung kepada Buddha). Jika mereka percaya bahwa mereka mendapatkan perlindungan dari Buddha mengapa mereka tidak memberi salam kepada yang lain dengan mengatakan, ”Sang Buddha memberkatimu”. Sang Buddha juga menasihati orang-orang untuk mengingat Sang Buddha ketika mereka merasa takut.

Jadi, “Dimanakah Sang Buddha?” adalah topik kita. Dapatkah kita katakan bahwa Ia berada di surga atau Ia tinggal di dalam Nirvana atau Ia tinggal di suatu tempat lainnya? Kemanakah Ia pergi? Kita harus mengingat bahwa apapun yang kita tanyakan adalah bentuk dari sudut pandang keduniawian. Setelah mencapai Pencerahan Sang Buddha berkata (2),  "ayam antimaa jati, natthi daani punabbavo", inilah kelahiranKu yang terakhir, tidak ada lagi tumimbal lahir. Aku telah menghentikan tumimbal lahir yang tidak ada habisnya di dunia ini, kehidupan ke kehidupan, dan mengalami penderitaan yang tidak ada akhirnya. Kenikmatan atau hiburan yang orang-orang alami merupakan kepuasan emosi sementara yang akan menghilang dalam waktu yang singkat. Hal ini menciptakan ketidakpuasan. Dalam sepanjang hidup, secara batin dan fisik kita mengalami penderitaan, kekhawatiran, permasalahan, kesakitan, kesukaran, bencana, dan ketidakpuasan yang sangat besar. Tak seorang pun di dunia ini yang mengatakan bahwa ia puas dengan kehidupan ini. Semua orang mengeluh dan menggerutu tentang masalah fisik ataupun batin. Dengan memahami situasi ini Sang Buddha telah menghentikan tumimbal lahir (rebirth). Hal tersebut disebut sebagai keselamatan. Keselamatan berarti bebas dari penderitaan fisik maupun batin. Dengan berada dalam wujud fisik maupun wujud apapun kita tidak dapat mengatasi penderitaan fisik dan batin kita. Oleh karena itu jika kita tidak menyukai penderitaan, hal yang terbaik adalah menghentikan kelahiran. Kita haus akan perwujudan/keberadaan. Kehausan dan kemelekatan ini sangat kuat dalam pikiran kita.

Tetapi kita ingin berada dalam semua kejengkelan atas penderitaan dan masalah, kesedihan, kesakitan dan bermacam masalah lainnya karena kehausan dan kebodohan kita. Sekarang lihatlah apa yang terjadi di dunia ini. Seluruh dunia adalah medan pertempuran, orang-orang di seluruh dunia menciptakan kekerasan dan pertumpahan darah dan perang dan kehancuran. Hewan-hewan tidak hidup dengan menciptakan banyak masalah yang tidak perlu untuk menderita. Ketika mereka lapar mereka pergi keluar dan menangkap makhluk hidup lain, menghilangkan rasa lapar mereka dan pergi tidur. Tetapi manusia tidak dapat merasa puas tanpa haus terhadap begitu banyak hal lainnya. Kehausan, kemelekatan sangat kuat dalam pikiran manusia kita. Oleh karena kecemburuan, permusuhan, kemarahan, kehendak buruk itu, kekejaman dan kejahatan muncul. Makhluk hidup lain tidak mengembangkan kekejaman mereka sampai sedemikian besar.

Manusia memiliki agama. Agama bukan sekedar menyembah dan berdoa tetapi melakukan suatu pelayanan kepada makhluk hidup lain dengan menjauhkan diri dari pikiran buruk sehingga kita dapat melayani makhluk lain. Aspek pemujaan dalam agama adalah penting tetapi dengan hal itu saja tidak akan bisa mengembangkan pikiran untuk mencapai pemahaman yang semestinya atau kebijaksanaan. Sebelum kemangkatan Sang Buddha banyak orang menyerahkan bunga-bunga dan menghormati Beliau. Sang Buddha meminta mereka untuk pulang ke rumah. Beliau mengatakan bahwa jika mereka benar-benar ingin menghormatiNya, selain dengan bunga-bunga dan penyembahan, mereka harus melatih setidaknya satu dari nasihat-nasihat yang pernah Beliau berikan. Dengan demikian mereka benar-benar menghormati Sang Buddha.

Sekarang anda dapat memahami apa yang Sang Buddha inginkan. Jalan hidup keagamaan bukan hanya untuk berdoa tetapi meneladani beberapa nasihat yang diberikan olehNya. Suatu ketika seorang bhikkhu bernama Bakkula datang dan duduk di hadapan Sang Buddha dan memandangiNya setiap hari. Suatu hari Sang Buddha bertanya kepadanya, ”Apa yang engkau lakukan di sini?” ia menjawab, ” Ketika saya melihat tubuh fisik Sang Bhagava, hal itu memberikanku banyak kebahagiaan.” Kemudian Sang Buddha berkata, ”Bakkula, dengan memandangi tubuh fisik yang kotor, menjijikkan, tidak kekal ini, apa yang kau dapatkan? Engkau hanya menyenangkan perasaanmu saja, engkau tidak akan pernah mencapai pengetahuan atau pemahaman tetapi menyenangkan perasaanmu. Engkau tidak dapat melihat Buddha yang sesungguhnya melalui tubuh fisik. Buddha bukanlah tubuh fisik.” Kemudian Sang Buddha berkata, ”Hanya ia yang memahami Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha melihat Buddha yang sebenarnya.” Buddha yang sesungguhnya muncul di dalam pikiran ketika kita memahami apa yang Sang Buddha ajarkan. Di sini anda dapat memahami bahwa Sang Buddha bukanlah seputar masalah tubuh fisik. Ketika anda belajar sejarah India, dalam hampir 500 tahun (setelah Sang Buddha parinibbana) tidak ada satu pun rupang (patung, gambar) Sang Buddha karena Sang Buddha tidak menganjurkan setiap orang untuk mendirikan rupang diriNya. Adalah bangsa Yunani yang menciptakan rupang Sang Buddha dan bentuk-bentuk simbol keagamaan lainnya. Sekarang tentu saja bentuk-bentuk rupang Sang Buddha yang berbeda-beda telah menyebar ke seluruh dunia.

Penganut beberapa agama lain mengutuk kita sebagai pemuja berhala. Padahal mereka tidak mengetahui apa yang umat Buddha lakukan. Beberapa ratus tahun setelah kehidupan Sang Buddha, ada seorang bhikkhu terkenal yang dipanggil Upagupta. Ia adalah seorang penceramah yang sangat terkenal. Ketika ia memberikan ceramah, ribuan orang berkumpul. Mara si jahat sangat tidak senang karena lebih banyak lagi orang yang menjadi religius.

Mara bukanlah makhluk hidup tetapi gangguan dan rintangan batin yang kuat yang menghalangi seseorang menuju ke jalan kehidupan spiritual. Kemudian Mara dipersonifikasikan sebagai Yang Jahat. Mara ini mulai menampilkan pertunjukkan, tarian, nyanyian, kesukariaan yang menarik di depan vihara. Kemudian para umat perlahan-lahan mulai beralih untuk melihat Mara. Tak seorang pun yang mendengarkan ceramah Upagupta. Upagupta memutuskan untuk memberikan pelajaran yang baik kepada Mara dan ia juga pergi melihat pertunjukkan itu. Ketika pertunjukkan itu berakhir, Upaguptha mengatakan bahwa ia sangat menghargainya. ”Untuk menghargai pertunjukkanmu saya ingin menaruh rangkaian kalung bunga ini ke lehermu.” Mara sangat bangga. Ketika Upagutha menaruh rangkaian kalung bunga Mara merasa kalung bunga itu membelit di sekitar lehernya seperti seekor ular python. Ia berusaha melepaskannya tetapi tidak bisa. Kemudian ia pergi menemui Sakka, raja para dewa dan meminta kepadanya untuk melepaskan kalung tersebut. Sakka juga berusaha sebaiknya tetapi ia juga tidak bisa melepaskannya. Kemudian Mara pergi menemui Brahma yang pada masa itu dipandang sebagai tuhan pencipta dan meminta kepadanya untuk melepaskan kalung itu. Brahma juga mencoba melepaskannya tetapi tidak berhasil melepaskannya. Kemudian Brahma mengatakan kepada Mara bahwa hanya satu orang yang meletakkannya yang bisa melepaskannya. Lalu Mara harus kembali ke Yang Mulia Upagupta dan memohon kepadanya untuk melepaskannya kalau tidak Mara akan mati. Kemudian Upagupta berkata, ”Tidaklah sukar tetapi saya hanya dapat melakukannya dengan 2 kondisi. Pertama, engkau harus berjanji di masa yang akan datang engkau tidak akan mengganggu apapun terhadap kegiatan keagamaan kami.” Mara setuju. ”Hal kedua yaitu engkau telah melihat Sang Buddha karena dalam beberapa kesempatan kau berusaha mengganggu Sang Buddha. Kau hidup beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha. Kau memiliki kekuatan batin untuk menampilkan tubuh fisik Sang Buddha.” Mara berkata, ”Ya, saya akan melakukannya jika anda berjanji untuk tidak menyembahku ketika aku muncul sebagai Sang Buddha karena aku bukanlah orang yang suci.” Kemudian Y.M. Upagupta berkata, ”Saya tidak akan menyembahmu.” Namun ketika Mara muncul sebagai wujud Sang Buddha, Y.M. Upagupta segera menghormatinya. Kemudian Mara berteriak, ”Engkau berjanji untuk tidak menyembah.” Kemudian Upagupta berkata, ”Saya tidak menyembah Mara tetapi menghormati Sang Buddha.”

Ini adalah contoh yang baik bagi orang-orang untuk mengatakan kepada yang lain arti dari menghormati rupang (patung/gambar) Sang Buddha. Ketika anda menyimpan rupang Sang Buddha dan menghormatinya, anda juga dapat menggunakannya sebagai objek untuk meditasi. Hal ini bukanlah bentuk penyembahan berhala. Anda mengundang Sang Buddha ke dalam pikiran anda melalui simbol ini. Ini adalah simbol keagamaan. Bagaimana rupang Sang Buddha berdaya tarik bagi pikiran manusia dapat dipahami melalui peristiwa berikut. Selama Perang Dunia Kedua di Burma kepala komandan pasukan menemukan rupang kecil Buddha yang indah. Rupang itu begitu menarik bagi pikirannya. Ia mengirim rupang itu ke Sir Winston Churchill, yang pada waktu itu adalah Perdana Menteri Inggris, dengan catatan yang berbunyi, “ simpanlah patung ini di atas meja anda. Kapan pun anda merasa khawatir atau permasalahan, lihatlah pada wajah patung ini. Saya yakin anda akan dapat menenangkan pikiran anda.”

Mr. Nehru, Perdana Menteri India yang terdahulu penah ditangkap oleh pemerintah Inggris. Ketika ia berada di tahanan ia memiliki patung kecil Buddha di dalam sakunya. Ia mengeluarkan patung itu dan menaruhnya di atas meja dan memandangnya serta berpikir, ”Dalam kejengkelan atas begitu banyak gangguan, permasalahan dan kesusahan di dunia ini, jika Sang Buddha dapat mengatur memelihara wajah tersenyumNya, mengapa kita tidak meneladani manusia agung ini?”

Anatole France yang merupakan sarjana Perancis, mengunjungi Musium London dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat patung Buddha. Setelah melihat patung Buddha itu, ia berkata, “Jika tuhan telah turun ke bumi dari surga, ia  tidak lain adalah sosok ini.” Namun rupang bukanlah hal yang terpenting. Banyak orang yang dapat berlatih ajaran Sang Buddha tanpa rupang (patung/gambar)  apapun. Bukanlah suatu kewajiban mereka harus memiliki rupang (patung/gambar)  . Kita tidak menyembah, kita tidak berdoa, kita tidak memohon apapun dari rupang (patung/gambar) tetapi kita memuja, kita memberi penghormatan manusia spiritual agung.  

Salah satu anggota kita telah menyimpan rupang Buddha selama 45 tahun di dalam rumahnya. Suatu hari beberapa misionaris dari agama lain datang dan mengatakan kepadanya bahwa ia menyembah setan. Ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Hal ini mengejutkan karena untuk 45 tahun ia telah mengormati rupang itu dan ia tidak tahu apa yang harus dikatakan ketika orang lain mengutuknya. Ini adalah kelemahan dari beberapa umat Buddha kita. Mereka mengikuti tradisi, menyembah, berdoa, melakukan persembahan, chanting (3) tetapi mereka tidak mencoba memahami ajaran Sang Buddha. Sekarang anda dapat memahami bahwa dengan atau tidak dengan rupang (patung/gambar) Buddha anda bisa berlatih ajaran Sang Buddha. Karena tubuh fisik bukanlah Sang Buddha.

Menurut aliran Buddhisme Mahayana ada 3 tubuh Sang Buddha atau 3 kaya, yaitu sambhogakaya, nirmanakaya, dharmakaya. Ia menggunakan sambhogakaya and nirmanakaya untuk melakukan makan, tidur, berjalan, berbicara, menasihati, mengajar. Semua aktivitas ini Ia lakukan dengan tubuh fisik. Ketika Sang Buddha mencapai parinibbana kedua tubuh ini menghilang. Tetapi dharmakaya atau tubuh dharma Sang Buddha tidak pernah dapat menghilang. Menurut aliran Buddhisme Mahayana, Sang Buddha Amitabha berada di tanah suci Sukhavati. Mereka yang melafalkan namaNya dengan hormat dan mereka yang menghormatiNya akan lahir di tanah suci dan mendapatkan kesempatan untuk mencapai nirvana. Menurut cara berpikir dan kepercayaan mereka, konsep ini memberikan banyak harapan dan kepercayaan bahwa Sang Buddha masih tetap hidup sampai semua makhluk mencapai keselamatan terakhir.

Sang Buddha pernah menyatakan, “Apakah Sang Buddha muncul atau tidak, dharma tetap ada selamanya di dunia ini.” Ketika seorang Buddha muncul, Ia menyadari bahwa orang-orang telah melupakan Dharma yang sejati. “Dharma yang saya pahami ini bukanlah Dharma yang diciptakan olehKu”, kata Sang Buddha. Dharma ini selalu eksis tetapi orang-orang telah salah menafsirkannya, menciptakan konsep yang salah menurut imajinasi diri mereka sendiri dan secara keseluruhan mencemarkan kemurnian Dharma. Bahkan hal ini terjadi sekarang, setelah 2500 tahun Sang Buddha mengungkapkan kebenaran sebagai Dharma. Orang-orang melakukan kesalahan-kesalahan  dalam berabad-abad lamanya di dalam nama Buddha. Hal ini bukan berarti mereka benar-benar mengikuti nasihat yang diberi oleh Sang Buddha. Tetapi mereka memperkenalkan praktik kebudayaan tradisional mereka yang dicampur dengan Buddhisme dan memperkenalkannya sebagai Buddhisme. Sebagai umat Buddha, kita harus berusaha untuk mempelajari apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dan berusaha untuk melatih apa yang Sang Buddha ajarkan untuk mencari keselamatan kita.

Orang-orang bertanya dimanakah Sang Buddha. Untuk berlatih Buddhisme tidak perlu bagi kita untuk mengetahui dimanakah Sang Buddha, atau kemanakah Ia telah pergi.  Ambillah sebagai perumpamaan, kita memiliki listrik yang ditemukan oleh seseorang. Apakah penting bagi kita untuk mengetahui orang yang menemukan listri, dimanakah dia dan dari negara mana dia datang dan siapa namanya? Tugas kita adalah menggunakan listrik itu. Lagi, mereka yang menemukan atom atau energi atom, dapat menggunakan energi atom ini untuk tujuan pembangunan ataupun penghancuran. Jadi adalah tugas kita untuk menggunakan energi ini dalam cara-cara yang patut. Tidaklah perlu untuk mengetahui sesungguhnya siapa yang menemukan energi atom ini. Manusia telah menemukan komputer dan televisi tetapi bukanlah hal yang penting bagi kita untuk mengetahui nama dan hal-hal mendetail lainnya dari mereka, tugas kita adalah menggunakannya.

Dengan cara yang sama janganlah bertanya dimanakah Sang Buddha, atau kemanakah Ia telah pergi. Jika Dharma, apa yang Ia ajarkan adalah benar, tersedia, dan efektif mengapa perlu untuk mengetahui dimana Sang Buddha. Sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa Ia dapat memasukan kita ke dalam surga atau neraka. Sang Buddha dapat memberitahu anda apa yang tidak dilakukan dan apa yang dilakukan untuk mencapai keselamatan kita, itulah satu-satunya yang dapat Sang Buddha lakukan. Ia tidak dapat melakukan apapun untuk anda. Tugas anda adalah berlatih apa yang telah Sang Buddha ajarkan kepada kita. Orang lain mengatakan bahwa tuhan mereka bisa menghapus kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh manusia. Sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa kesalahan yang diciptakan oleh seseorang dapat dihapus oleh orang lain. Buddha, dewa/tuhan juga tidak dapat melakukannya. Ketika seseorang hendak meninggal dan berkata ia percaya akan tuhan setelah semua kesalahan yang dilakukannya dapatkah tuhan menghapus kesalahan-kesalahannya? Sebagai perumpamaan mungkin anda adalah seorang yang bertemperamen sangat tinggi dan anda tahu hal ini adalah salah tetapi anda tidak tahu bagaimana menyingkirkannya. Lalu anda pergi berdoa kepada tuhan dan memohon kepadanya untuk menghilangkan keburukan dalam pikiran anda, apakah anda pikir tuhan manapun dapat melakukannya? Anda boleh pergi menyembah Sang Buddha dan meminta kepada Sang Buddha untuk menyingkirkan keburukan anda. Tapi Sang Buddha juga tidak dapat menyingkirkannya dari pikiran anda. Sang Buddha hanya dapat memberitahukan anda bagaimana memindahkan kemarahan anda dengan usaha anda sendiri. Tak seorang pun dapat menolong anda, melainkan diri anda sendiri melalui pemahaman anda. Diri anda sendirilah yang harus menyadari, ”Kemarahan ini berbahaya, dapat menimbulkan banyak masalah, gangguan, dan kesulitan dan menyakiti dan mengganggu yang lain. Saya harus berusaha mengurangi rasa marah dengan kekuatan batin saya dan menimbulkan keinginan kuat untuk menarik kemarahan dari pikiran.” Jadi Sang Buddha ataupun tuhan tidak dapat menghapus kesalahan yang dibuat oleh kita, tetapi kita sendiri yang dapat melakukannya. Ada nasihat yang baik yang diberikan oleh Sang Buddha. Jika siapapun yang telah melakukan sebuah perbuatan buruk atau karma buruk, mereka tidak dapat menghapus dampaknya dengan berdoa kepada tuhan atau Buddha. Namun ketika mereka mengetahui bahwa mereka telah melakukan perbuatan buruk, maka mereka harus menghentikan melakukan perbuatan buruk lagi. Anda karus menimbulkan tekad yang kuat dalam pikiran untuk menciptakan lebih dan lebih banyak lagi karma baik atau perbuatan bajik. Ketika anda mengembangkan perbuatan bajik anda, dampak dari karma buruk yang anda perbuat sebelumnya akan dapat teratasi oleh karma baik.

Ambil sebagai contoh Angulimala, seorang pembunuh yang membunuh hampir seribu manusia. Ketika Sang Buddha mengetahuinya Beliau datang menemuinya. Angulimala ingin membunuh Sang Buddha karena ia telah menyelesaikan 999 pembunuhan.Ia bersumpah untuk membunuh seribu orang, sehingga ia sangat senang ketika ia melihat Sang Buddha dan ia berusaha untuk menangkapNya. Sekali-kali Sang Buddha menunjukkan sedikit keajaiban. Mengetahui bahwa sukar untuk mengajar orang ini, Sang Buddha berjalan secara normal dan membiarkan Angulimala untuk lari mengejar. Meskipun Angulimala telah berlari hampir 4 mil, ia tidak dapat mendekati Sang Buddha. Kemudian Angulimala meminta kepada Sang Buddha untuk berhenti dan Sang Buddha mengetahuinya bahwa sudah saatnya bagi Sang Buddha untuk berbicara kepada Angulimala. Sang Buddha berkata, ”Saya telah berhenti, engkaulah yang berlari.” Angulimala berkata, ”Bagaimana Engkau bisa katakan bahwa Kau telah berhenti, saya melihatMu berjalan.” Sang Buddha menjawab, ”Saya telah berhenti berarti saya telah berhenti membunuh atau menghancurkan kehidupan makhluk hidup. Kau yang berlari berarti kau masih melakukan kejahatan. Jika kau berhenti berlari maka kau dapat menangkapKu.” Kemudian Angulimala berkata, “Saya tidak dapat memahami apa yang Kau katakan.” Kemudian Sang Buddha berkata, ”Saya telah berhenti membunuh dan kau masih melakukannya, itulah artinya berlari. Kau berlari dalam samsara.” Lalu Angulimala mengetahui bahwa ia bersalah dan memutuskan untuk mengikuti Sang Buddha dan ia menjadi bhikkhu dan mulai bermeditasi. Kemudian ia mencapai kearahatan dan menggapai nirvana. Karma buruk tidak memiliki kesempatan untuk datang kepadanya (4). Ia mengembangkan karma baik dan karma buruk tidak memiliki kesempatan untuk berbuah padanya. Itulah yang Sang Buddha telah katakan. Sang Buddha mengajarkan medote ini untuk mengatasi efek atau dampak dari karma buruk bukan dengan berdoa kepada tuhan manapun tetapi dengan melakukan lebih dan lebih banyak perbuatan bajik.

Jika saya mengatakan Sang Buddha tinggal di salah satu bagian dari alam semesta dalam wujud fisik hal ini bertolak belakang dengan ajaran Sang Buddha. Di lain hal jika saya mengatakan bahwa Sang Buddha tidak tinggal di salah satu bagian alam semesta dalam wujud fisik banyak orang sangat tidak senang karena mereka haus akan perwujudan/keberadaan dimana tidak dapat dipuaskan. Selain itu mereka mengatakan hal ini merupakan ketidakadaan. Hal ini bukanlah ketidakadaan; ini adalah akhir dari penderitaan fisik dan batin dan pengalaman nirvana atau pembebasan. Di lain pihak ada beberapa orang yang sangat membutuhkan wujud fisik dari rupang Sang Buddha untuk menenangkan pikiran mereka, mengurangi ketegangan, ketakutan dan kekhawatiran. Meskipun demikian tidaklah benar bagi kita untuk mengatakan bahwa Sang Buddha hidup atau tidak. Lebih dari cukup bagi kita jika doktrin atau ajaran Sang Buddha bermanfaat bagi kita untuk mengalami kedamaian, kepuasan dalam kehidupan. Sebagai contoh seorang dokter yang menemukan obat yang sangat efektif. Jika obat itu bermanfaat, dapat menyembuhkan penyakit, tidaklah perlu bagi kita untuk mengetahui dimana dokter ini dan apakah ia masih hidup atau tidak? Hal yang penting adalah menyembuhkan penyakit kita dengan meminum obat tersebut. Demikian pula halnya ajaran Sang Buddha lebih dari cukup bagi kita untuk menyingkirkan segala penderitaan kita. Sang Buddha telah memberikan kita hak untuk berpikir bebas dalam memahami apakah suatu hal adalah salah dengan menggunakan akal sehat kita atau alasan bagi kita untuk memahami hakikat sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada.

Di lain pihak tidak ada satupun yang eksis di bagian alam semesta yang tanpa mengalami perubahan, tanpa kelapukan dan tanpa kehancuran karena semuanya ini adalah perpaduan dari unsur-unsur, energi dan kekuatan batin dan kekuatan karma. Oleh karena itu mustahil bagi energi-energi dan unsur-unsur atau kekuatan batin, kekuatan karma ini untuk tetap selamanya tanpa perubahan. Jika anda bisa memahami hal ini maka ajaran Sang Buddha akan membantu anda untuk memahami bagaimana menghadapi permasalahan dan kesukaran anda, untuk mengatasi ketidakpuasan kita. Jika tidak kita akan menghadapi penderitaan fisik dan batin, ketidakpuasan dan kekecewaan.  Kita perlu bertindak dengan bijaksana untuk menyingkirkan permasalahan kita. Adalah sulit bagi kita untuk menyingkirkan penderitaan kita hanya dengan berdoa, menyembah kepada siapa saja, tetapi dengan melalui pemahaman akan permasalahan dan kesulitan yang sebenarnya, kita akan mampu menyingkirkan berbagai permasalahan.  

Banyak orang bertanya kemana Sang Buddha pergi? Jika seseorang mengatakan bahwa Sang Buddha pergi ke nirvana maka mereka berpikir bahwa nirvana itu adalah suatu tempat. Nirvana bukanlah suatu tempat, nirvana merupakan kondisi batin bagi kita yang mencapai pengalaman akan pembebasan akhir. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Sang Buddha telah pergi ke suatu tempat atau Sang Buddha tetap ada tetapi ia mengalami nirvana atau tujuan akhir dalam hidup. Jadi jawaban terbaik untuk pertanyaan ”Dimanakah Sang Buddha?” adalah Sang Buddha berada dalam pikiran anda yang telah merealisasikan Kebenaran Tertinggi.


--End--

(Mengenang Venerable Dr. K. Sri Dhammananda Nayaka Maha Thera 18 Maret 1919 – 31 Agustus 2006. Ini adalah artikel terakhir yang disampaikan Venerable Dr. K. Sri Dhammananda )

Catatan Penerjemah:

(1) Pariyatti (pariyatti): memahami Dhamma secara teoritis melalui membaca, belajar, 
       mendengar.
       Patipatti (pa.tipatti): mempraktekkan Dhamma. 
       Pativedha (pa.tivedha): penembusan, pencapaian, realisasi Dhamma.

(2) Dalam Mahapadana Sutta (Digha Nikaya 14) dikisahkan setiap Bodhisatta, calon
       Samma Sambuddha lahir, Ia mengucapkan "ayam antimaa jati, natthi daani punabbavo"
       (inilah kelahiranKu yang terakhir, tidak ada lagi tumimbal lahir bagiKu).

(3) Chanting: melantunkan mantra atau paritta.

(4) Dalam Angulimala Sutta (Majjhima Nikaya 86) dikisahkan Y.A. Angulimala pun
       tidak lepas dari buah karma buruk yang telah Ia lakukan yang seharusnya
       membuat Ia menderita di neraka. Ia ditimpuk dengan batu oleh sekelompok orang
       ketika hendak menerima dana, sehingga kepalanya berdarah.


Judul Asli: Where is The Buddha?
Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com

 
Yang Merupakan Ajaran Sang Buddha

YANG MERUPAKAN AJARAN SANG BUDDHA

 

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa

”Ada kemungkinan, bahwa di antara kalian ada yang berpikir: `Berakhirlah kata-kata Sang Guru; kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.` Tetapi, Ananda, hendaknya tidak berpikir demikian. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma dan Vinaya, Ananda, itulah kelak yang menjadi Guru-mu, ketika Aku pergi.”
(Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya 16)


Dewasa ini banyak di antara kita yang dibingungkan oleh kehadiran kelompok-kelompok yang mengajarkan suatu ajaran dengan mengatasnamakan Buddhisme. Banyak pertanyaan yang dilontarkan seperti : Apakah kelompok ini adalah salah satu aliran Buddhisme ? Apakah aliran ini merupakan aliran sesat ? Apakah ajaran ini merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha ? Dan sebagainya.

Dari kebingungan tersebut timbul sebuah pertanyaan : Bagaimana kita membedakan mana yang merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha dengan yang bukan ? Apakah Sang Buddha pernah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini ? Jawabannya ya, Sang Buddha telah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini.

Di bumi ini tidak ada Guru lain seperti Sang Buddha. Sang Buddha adalah Guru yang penuh dengan ketelitian, memiliki kecermatan, dan pandangan luas ke depan. Di saat-saat menjelang Parnibbana, sebelum Ia Parinibbana, Ia sudah mempersiapkan, dan memastikan secara benar kesiapan, keutuhan apa yang telah Ia temukan dan ia rintis yaitu keberadaan Dhamma, Vinaya, dan Sangha. Beliau mengatakan bahwa yang menggantian Beliau setelah Ia tiada bukanlah salah satu siswa UtamaNya, bukan Y.A Maha Kasappa yang ahli dalam latihan, bukan Y.A Upali yang ahli dalam Vinaya, dan bukan juga Ananda yang merupakan Bendahara Dhamma. Tetapi yang menggantikan Beliau sebagai Guru bagi para siswaNya adalah Dhamma (ajaran) dan Vinaya (tata tertib). Selain untuk menghindari perselisihan , hal ini ditetapkan juga untuk menghindari pengkultusan individu di masa yang akan datang yang akan menimbulkan kemelekatan pada diri seseorang, dan ini akan mengganggu pencapaian seseorang.

Dengan demikian setelah Sang Buddha parinibbana sampai sekarang tidak ada pengganti diriNya selain Dhamma dan Vinaya.

Lebih jauh seseorang mungkin akan bertanya, ”Bagaimana kita mengetahui dan memastikan bahwa Dhamma dan Vinaya yang kita pelajari sekarang adalah Dhamma dan Vinaya yang di ajarkan oleh Sang Buddha?” Pertanyaan kritis ini sangat penting karena akan menepis kepercayaan membuta terhadap suatu ajaran.

Jauh sebelum Sang Buddha Parinibbana, Ia juga telah memberikan batasan mengenai apa-apa saja yang termasuk dalam Dhamma dan Vinaya. Hal ini berguna untuk membedakan mana yang merupakan ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan, yang mana Dhamma dan yang mana Vinaya.

Dalam Gotami Sutta (Anguttara Nikaya VIII. 53) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Mahapajapati Gotami:

"Bila, Gotami, engkau mengetahui hal-hal secara pasti: `Hal-hal ini menuju pada nafsu, bukan pada tanpa-nafsu; pada kemelekatan, bukan pada tanpa-kemelekatan; pada pengumpulan, bukan pada pelepasan; pada memiliki banyak keinginan, bukan pada memiliki sedikit keinginan; pada ketidakpuasan, bukan pada kepuasan; pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian; pada kelambanan, bukan pada kebangkitan semangat; pada kehidupan yang mewah, bukan pada kesederhanaan` - tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: `Ini bukanlah Dhamma; ini bukanlah Vinaya; ini bukanlah Ajaran Sang Guru.`”

"Tetapi, Gotami, bila engkau mengetahui hal-hal secara pasti: `Hal-hal ini menuju pada tanpa-nafsu, bukan pada nafsu; pada tanpa-kemelekatan, bukan pada kemelekatan; pada pelepasan, bukan pada pengumpulan; pada memiliki sedikit keinginan, bukan pada memiliki banyak keinginan; pada kepuasan, bukan pada ketidakpuasan; pada kesendirian, bukan pada berkumpul; pada kebangkitan semangat, bukan pada kelambanan; pada kesederhanaan, bukan pada kehidupan mewah` - tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: `Ini adalah Dhamma; ini adalah Vinaya; ini adalah Ajaran Sang Guru.`”

Begitu juga dalam SatthuSasana Sutta (Anguttara Nikaya VII. 80) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Upali :

"Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini tidak membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` - dari ajaran-ajaran seperti itu engkau bisa merasa yakin: Ini bukan Dhamma; ini bukan Vinaya; ini bukan Ajaran Sang Guru.`"

"Tetapi Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` - dari hal-hal semacam itu engkau bisa merasa yakin: Inilah Dhamma; inilah Vinaya; inilah Ajaran Sang Guru.`”

Dari petunjuk Sang Buddha berupa kriteria Dhamma dan Vinaya dalam Gotami Sutta maupun SatthuSasana Sutta kita bisa melihat, menganalisa, meneliti secara hati-hati terhadap berbagai macam ajaran yang kita temui dewasa ini, sehingga kita bisa menemukan mana yang bukan ajaran Sang Buddha (yang menyimpang dari ajaran Sang Buddha), mana yang tidak. Misalnya ketika kita menemukan sebuah ajaran yang mengajarkan untuk membunuh dengan alasan tertentu, kita bisa menjadikan penjelasan Sang Budda mengenai apa itu Dhamma dan Vinaya sebagai panduan. Setelah kita menganalisanya, kita dapat mengetahui bahwa membunuh itu menuju pada nafsu dan tidak menuju pada pelepasan, maka ajaran yang mengajarkan untuk membunuh tersebut bukan merupakan Dhamma dan Vinaya, bukan ajaran Sang Buddha. Dan kita perlu menghindarinya.

Dari apa yang disampaikan di atas, semoga kebingungan kita akan pembedaan antara mana yang merupakan ajaran Sang Guru Buddha atau bukan, yang merupakan Dhamma dan Vinaya atau bukan, serta yang merupakan aliran Buddhisme atau bukan, dapat kita ketahui dan pahami.

Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan.


Disusun oleh: Bhagavant.com

 
Meditasi

MEDITASI

 

Para pencari kebajikan yang telah berkumpul di sini, mohon dengarkanlah dengan tenang. Mendengarkan Dhamma dengan tenang artinya mendengarkan dengan pikiran yang terpusat, memperhatikan apa yang kalian dengar dan kemudian melepaskannya. Mendengarkan Dhamma sangatlah bermanfaat. Ketika mendengarkan Dhamma, kita diajak untuk secara teguh membuat tubuh dan pikiran berada dalam keadaan samadhi, karena ia merupakan salah satu dari praktek Dhamma. Pada zaman Sang Buddha, orang-orang mendengarkan khotbah Dhamma dengan sungguh-sungguh, dengan pikiran yang bertekad untuk memahami segala sesuatu dengan sebenar-benarnya, dan ada di antara mereka yang benar-benar menyadari dan memahami Dhamma ketika sedang mendengarkan.

Tempat ini sangat cocok untuk berlatih meditasi. Setelah tinggal di sini untuk beberapa malam, saya mengetahui bahwa di sini adalah tempat yang penting. Di bagian luarnya, ia sudah damai, dan tinggal yang bagian dalamnya saja, hati dan pikiran kalian. Jadi, saya minta kalian semua untuk berusaha keras memperhatikan dengan seksama.

Mengapa kalian berkumpul di sini untuk berlatih meditasi? Itu karena hati dan pikiran kalian tidak memahami apa yang seharusnya dipahami. Dengan kata lain, kalian tidak benar-benar mengetahui bagaimana segala sesuatunya itu, atau segala sesuatunya itu apa. Kalian tidak mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, apa yang menyebabkan kalian menderita dan ragu-ragu. Jadi, pertama-tama kalian harus menenangkan diri kalian sendiri. Alasan kalian datang ke sini guna mengembangkan ketenangan dan ketahanan diri dari hawa nafsu, adalah karena hati dan pikiran kalian tidak nyaman. Pikiran kalian tidak tenang, tidak mampu menahan diri dari hawa nafsu. Mereka diombang-ambingkan oleh keragu-raguan dan godaan. Inilah alasannya mengapa kalian datang ke sini pada hari ini dan sekarang sedang mendengarkan Dhamma.

Saya harap kalian berkonsentrasi dan mendengarkan dengan cermat apa yang saya katakan, dan saya meminta izin untuk berbicara dengan terus terang, karena memang begitulah saya. Harap dimengerti walaupun saya berbicara dengan kesan agak memaksa, saya melakukannya dengan maksud dan tujuan yang baik. Saya meminta maaf kepada kalian, jika ada ucapan-ucapan saya yang menyinggung hati kalian, karena budaya Thailand dan budaya Barat tidaklah sama. Sebenarnya, berbicara dengan sedikit memaksa bisa jadi bermanfaat, karena ia dapat membantu memancing semangat orang-orang yang lesu atau mengantuk, yang bukannya memaksa diri mereka sendiri untuk mendengarkan Dhamma tetapi sebaliknya malah terhanyut dalam kepuasan diri dan sebagai akibatnya mereka tidak mengerti apa pun.

Walaupun kelihatannya terdapat banyak cara untuk berlatih, tetapi sebenarnya hanya ada satu cara saja. Seperti tanaman-tanaman buah, bisa saja kita mempercepatnya untuk berbuah dengan cara menanam cangkokannya, tetapi tanaman tersebut tidak akan bertahan lama. Cara lain adalah dengan menanam tanaman tersebut dari benihnya, yang akan menghasilkan tanaman yang kuat dan tahan lama. Berlatih adalah sama seperti ini.

Ketika saya berlatih untuk pertama kalinya, saya menghadapi kendala untuk memahami hal ini. Selama saya tidak mengetahui sesuatunya itu apa, meditasi duduk adalah hal yang benar-benar sulit, bahkan bisa sampai membuat saya menangis. Kadang-kadang target saya akan terlalu tinggi, di lain waktu kurang tinggi, tak pernah menemukan titik keseimbangan. Berlatih dengan cara yang damai artinya adalah menempatkan pikiran tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, tetapi pada titik keseimbangan.
Saya dapat melihat bahwa hal ini sungguh membingungkan kalian, yang datang dari berbagai tempat yang berbeda-beda dan telah berlatih dengan cara yang berbeda-beda dengan dibimbing oleh guru yang berbeda-beda pula. Datang ke sini untuk berlatih, kalian pasti telah dicemari dengan berbagai jenis keragu-raguan. Guru yang satu bilang kalian harus berlatih dengan cara yang ini, guru yang lain mengatakan kalian seharusnya berlatih dengan cara yang lain pula. Kalian bertanya-tanya cara yang mana yang harus dipakai, tanpa memahami esensi dari latihan. Hasilnya adalah kebingungan. Begitu banyak guru dan begitu banyak ajaran sehingga tidak seorang pun yang tahu bagaimana cara menyelaraskan latihan mereka. Dan sebagai akibatnya, terdapat begitu banyak keragu-raguan dan ketidakpastian.

Jadi, kalian harus mencoba untuk tidak berpikir terlalu banyak. Jika kalian memang benar-benar berpikir, maka lakukanlah dengan penuh kesadaran. Tetapi sejauh ini, pemikiran kalian telah diwujudkan tanpa melalui kesadaran yang tinggi. Pertama-tama, kalian harus membuat pikiran kalian tenang. Di mana ada yang mengetahui, maka di sana tidak ada keperluan untuk berpikir, kesadaran akan muncul pada tempatnya, dan ini selanjutnya akan menjadi kebijaksanaan (panna). Tetapi jenis pikiran yang biasa, bukanlah kebijaksanaan, ia hanyalah pikiran yang tidak mempunyai tujuan dan yang berkelana secara tidak sadar, dan yang tak terelakkan lagi akan berubah menjadi godaan dan hasutan. Ini bukanlah kebijaksanaan.

Pada tahap ini, kalian tidak perlu berpikir. Kalian telah banyak berpikir di rumah, bukan? Ia hanya akan memanas-manasi hati. Kalian harus membangkitkan sedikit kesadaran. Pikiran yang terlalu menggebu-gebu bahkan akan membuat kalian menangis, cobalah saja. Tersesat di dalam gerbong kereta api pikiran, tidak akan menuntun kalian kepada kebenaran, ia bukanlah kebijaksanaan. Sang Buddha adalah orang yang sangat bijaksana, dia telah mempelajari cara untuk menghentikan pikiran. Dengan cara yang sama, kalian juga sedang berlatih untuk menghentikan pikiran dan tiba pada kedamaian. Jika kalian sudah tenang, maka kalian tidak perlu lagi untuk berpikir, kebijaksanaan akan muncul pada tempatnya.

Untuk bermeditasi, kalian tidak perlu berpikir lebih banyak ketimbang bertekad bahwa saat ini adalah waktunya untuk melatih pikiran dan tidak ada yang lain. Jangan biarkan pikiran bergerak ke kiri atau ke kanan, ke depan atau ke belakang, ke atas atau ke bawah. Satu-satunya tugas kita sekarang adalah berlatih untuk memperhatikan nafas dengan penuh perhatian. Pusatkan perhatian kalian di kepala dan gerakkanlah ia ke bawah melalui tubuh menuju ke ujung kaki, dan kemudian kembali ke atas menuju puncak kepala. Arahkan kesadaran kalian ke bawah melewati tubuh, meneliti dengan kebijaksanaan. Kita melakukan ini untuk mencapai suatu pemahaman awal tentang sifat-sifat sejati tubuh ini. Kemudian meditasi barulah dimulai, dengan mengingat bahwa kali ini, satu-satunya tugas kalian adalah untuk memperhatikan nafas masuk dan nafas keluar. Jangan memaksa nafas agar menjadi lebih panjang atau lebih pendek dari biasanya, biarkan saja ia seperti apa adanya. Jangan memberi tekanan apa pun pada nafas, biarkan ia mengalir secara seimbang, lepaskanlah dengan setiap tarikan dan hembusan nafas.

Kalian harus memahami bahwa kalian sedang melepaskan ketika kalian melakukan hal ini, tetapi di sana seharusnya tetap ada kesadaran yang tinggi. Kalian harus mempertahankan kesadaran ini, membiarkan nafas masuk dan keluar dengan nyaman. Tidak perlu memaksakan nafas, biarkan saja ia mengalir dengan mudah dan alami. Pertahankanlah tekad bahwa pada saat ini kalian tidak mempunyai tugas atau tanggung jawab yang lain. Pikiran-pikiran tentang apa yang akan terjadi, apa yang akan kalian ketahui atau lihat selama bermeditasi, bisa saja muncul dari waktu ke waktu, tetapi begitu mereka muncul, biarkan saja mereka berhenti sendiri, jangan dengan sia-sia mengkhawatirkan mereka.

Selama meditasi, adalah tidak perlu untuk memperhatikan kesan-kesan indera. Bilamana pikiran dipengaruhi oleh benturan-benturan sensasi, bilamana terdapat perasaan atau sensasi di dalam pikiran, lepaskan saja dia. Apakah sensasi-sensasi itu baik atau buruk, itu tidaklah penting. Tidak perlu membentuk apa pun dari sensasi-sensasi itu, lepaskan saja mereka pergi dan kembalilah untuk memperhatikan nafas. Pertahankanlah kesadaran pada nafas masuk dan keluar. Jangan membuat penderitaan gara-gara nafas yang terlalu panjang atau terlalu pendek, hanya perhatikan saja dia tanpa mencoba untuk mengatur atau menekannya dengan cara apa pun. Dengan kata lain, jangan melekat. Biarkan nafas berlanjut seperti apa adanya, dan pikiran akan menjadi tenang. Selanjutnya, pikiran akan secara bertahap meletakkan semuanya dan beristirahat, nafas menjadi semakin ringan dan semakin ringan, hingga ia menjadi begitu lemah seolah-olah ia tidak berada di sana sama sekali. Baik tubuh maupun pikiran akan terasa ringan dan berenergi. Dan semua yang tersisa adalah sang mengetahui yang terpusat pada satu titik. Kalian dapat mengatakan bahwa pikiran telah berubah dan mencapai suatu keadaan yang tenang.

Jika pikiran tergoda, bangkitkan perhatian penuh dan tarik nafas dalam-dalam sampai tidak ada ruang kosong lagi untuk menampung udara, lalu lepaskan semuanya hingga tak ada yang tersisa. Ikuti dengan tarikan nafas dalam-dalam yang lain sampai kalian penuh, kemudian hembuskan udara keluar lagi. Lakukan ini dua atau tiga kali, setelah itu bangunlah kembali konsentrasi. Pikiran seharusnya menjadi lebih tenang. Jika ada lagi kesan-kesan indera yang menyebabkan pikiran menjadi terpancing, ulangi langkah ini di setiap kesempatan. Sama halnya dengan meditasi berjalan. Jika pada saat berjalan, pikiran menjadi tergoda, berhentilah tanpa bergerak, tenangkan pikiran, bangkitkan kembali kesadaran diri dengan objek meditasi dan kemudian lanjutkan kembali berjalan. Meditasi duduk dan berjalan pada intinya adalah sama, berbeda hanya pada posisi tubuh.

Kadang-kadang akan ada keragu-raguan, jadi kalian harus memiliki sati, menjadi yang mengetahui, yang secara terus-menerus mengikuti dan memeriksa pikiran yang tergoda, dalam bentuk apa pun ia. Ini artinya untuk memiliki sati. Sati mengawasi dan menjaga pikiran kita. Kalian harus mempertahankan yang mengetahui ini dan tidak ceroboh atau tersesat, tidak perduli dalam kondisi apa pun pikiran itu.

Taktiknya adalah dengan menjadikan sati sebagai pengatur dan pengawas pikiran. Begitu pikiran dipersatukan dengan sati, kesadaran diri yang baru akan muncul. Pikiran yang telah mengembangkan ketenangannya, ditahan untuk diperiksa oleh ketenangan itu, seperti seekor ayam yang dikurung di sangkarnya… si ayam tidak bisa keluar ke mana-mana, tetapi ia tetap bisa bergerak di dalam sangkar itu. Ia berjalan ke sana ke mari, tak menyebabkan masalah pada dirinya, karena ia dikurung di dalam sangkar. Begitu pula halnya dengan kesadaran yang muncul ketika pikiran memiliki sati dan dalam keadaan yang tenang, tidak akan menyebabkan masalah. Tidak ada satu pun pikiran atau perasaan yang muncul di dalam pikiran yang tenang, yang akan menimbulkan bahaya atau gangguan.

Beberapa orang tidak ingin mengalami bentuk-bentuk pikiran atau perasaan-perasaan sama sekali, tetapi ini sudah terlalu jauh. Perasaan muncul di dalam keadaan yang tenang. Pikiran mengalami bentuk-bentuk perasaan dan ketenangan sekaligus pada waktu yang sama, tanpa ada gangguan. Bila ada ketenangan seperti ini, tidak ada akibat yang membahayakan. Persoalan muncul bilamana “ayam” keluar dari “sangkarnya”. Sebagai contoh, kalian mungkin sedang mengawasi nafas masuk dan keluar dan kalian melupakan diri kalian sendiri, membiarkan pikiran mengembara ke mana-mana menjauhi nafas, kembali ke rumah, pergi ke toko-toko atau ke beberapa tempat yang berbeda-beda. Bahkan mungkin sesudah setengah jam lewat, kalian tiba-tiba menyadari bahwa kalian seharusnya berlatih meditasi dan menghukum diri kalian sendiri karena tidak memiliki sati. Di sini kalian harus benar-benar waspada, karena di sinilah tempat di mana ayam keluar dari sarangnya – pikiran meninggalkan dasar ketenangannya.

Kalian harus berhati-hati dalam mempertahankan kesadaran dengan sati dan mencoba menarik kembali pikiran kalian. Walaupun saya memakai kata “menarik kembali pikiran”, tetapi pada kenyataannya pikiran sebenarnya tidak pergi ke mana-mana. Selama ada sati, pikiran akan hadir di sana. Kelihatannya kalian seperti menarik kembali pikiran, tetapi sebenarnya ia belum pergi ke mana pun, ia hanya berubah sedikit. Kelihatannya pikiran pergi ke sana dan ke sini, tetapi kenyataannya perubahan terjadi tepat pada satu titik. Bila sati telah dicapai kembali, dalam sekejap kalian kembali bersama-sama dengan pikiran tanpa perlu membawanya dari tempat lain.

Bila ada pengetahuan secara total, suatu kesadaran yang berkelanjutan dan tidak putus pada setiap saat, ini yang disebut kehadiran pikiran. Jika perhatian kalian melenceng dari nafas ke tempat-tempat yang lain, maka yang mengetahui ini akan putus. Bilamana ada kesadaran terhadap pernafasan, pikiran ada di sana. Dengan adanya nafas dan kesadaran yang berkelanjutan dan seimbang ini saja, kalian telah memiliki pikiran yang hadir di sana.

Harus ada sati dan sampajanna. Sati adalah perhatian penuh dan sampajanna adalah kesadaran diri. Kini, kalian telah menyadari nafas secara jelas. Latihan untuk mengawasi nafas ini membantu sati dan sampajanna untuk berkembang bersama-sama. Mereka berbagi pekerjaan. Memiliki baik sati maupun sampajanna adalah seperti menyuruh dua orang pekerja untuk mengangkat sebuah papan kayu yang berat. Anggap saja ada dua orang yang mencoba mengangkat beberapa papan yang berat, tetapi beratnya begitu hebat, mereka harus bekerja keras, hingga mereka hampir saja menyerah. Lalu ada orang lain, dengan maksud hati yang baik, melihat mereka dan bergegas membantu mereka. Dengan cara yang sama, bila ada sati dan sampajanna, maka panna (kebijaksanaan) akan muncul pada tempat yang sama untuk datang memberikan pertolongan. Lalu mereka bertiga akan saling membantu.

Dengan panna, maka di sana akan ada pemahaman terhadap objek-objek indera. Sebagai contoh, selama bermeditasi, objek-objek indera akan dialami, yang akan menimbulkan perasaan dan suasana hati. Kalian mungkin berpikir tentang seorang sahabat, tetapi kemudian panna seharusnya mengatasinya dengan segera. “Itu tidak masalah”, “Berhenti” atau “Lupakan saja dia”. Atau jika ada pikiran-pikiran tentang ke mana kalian akan pergi esok hari, dan tanggapannya adalah, “Saya tidak tertarik, saya tidak mau membebani diri saya dengan hal-hal semacam itu”. Mungkin kalian mulai memikirkan orang lain, maka kalian seharusnya berpikir, “Tidak, saya tak mau terlibat”. “Lepaskan saja”, atau “Mereka semua tidak pasti dan tidak pernah menjadi sesuatu yang pasti”. Beginilah seharusnya kalian menghadapi hal-hal seperti ini di dalam meditasi, kenali mereka sebagai “tidak pasti, tidak pasti”, dan pertahankanlah kesadaran semacam ini.

Kalian harus melepaskan semua pikiran, percakapan di dalam batin dan keragu-raguan. Jangan terjebak oleh hal-hal semacam ini selama bermeditasi. Pada akhirnya, semua yang tersisa di dalam pikiran yang berada dalam bentuknya yang paling murni adalah sati, sampajanna dan panna. Bilamana ketiganya lemah, keragu-raguan akan muncul, tetapi cobalah untuk mengabaikan keragu-raguan itu secepatnya, menyisakan hanya sati, sampajanna dan panna. Cobalah untuk mengembangkan sati seperti ini hingga ia dapat dipertahankan pada setiap saat. Lalu kalian akan memahami sati, sampajanna dan samadhi secara mendalam.

Memusatkan perhatian pada titik ini, kalian akan melihat sati, sampajanna, samadhi dan panna sekaligus. Apabila kalian tertarik kepada atau ditolak oleh objek-objek indera yang ada di luar, kalian akan mampu berkata pada diri sendiri, “Ia tidak pasti”. Apa pun itu, mereka hanyalah hambatan-hambatan yang akan disapu hingga pikiran menjadi bersih. Yang seharusnya tersisa adalah sati, perhatian penuh; sampajanna, kesadaran diri yang jernih; samadhi, pikiran yang kokoh dan tidak tergoyahkan; dan panna, atau kebijaksanaan yang sempurna. Untuk sementara, hanya ini saja yang akan saya sampaikan mengenai subjek meditasi.

Sekarang, tentang alat-alat bantu untuk latihan meditasi – metta (kebaikan hati) di dalam batin kalian, dengan kata lain, kualitas dari kemurahan hati, kebaikan dan keinginan membantu yang lain. Ini semua harus dipertahankan sebagai dasar dari kemurnian mental. Sebagai contoh, mulailah mengatasi lobha, atau sifat mementingkan diri sendiri, dengan memberi. Bila orang-orang mementingkan diri sendiri, mereka tidak bahagia. Sifat mementingkan diri sendiri akan menuntun kepada perasaan tidak puas, namun orang cenderung menjadi begitu egois tanpa menyadari akibatnya terhadap mereka.

Kalian dapat mengalami hal ini pada setiap saat, terutama ketika kalian lapar. Anggap saja kalian mendapatkan beberapa buah apel dan kalian memiliki kesempatan untuk membaginya dengan seorang teman; kalian memikirkannya sebentar, dan, tentu saja, keinginan untuk memberi memang ada, tetapi kalian ingin memberikan apel yang lebih kecil. Memberikan apel yang lebih besar akan… yah, memang sesuatu yang memalukan. Sungguh sulit untuk berpikir dengan ketulusan hati. Kalian mempersilahkan mereka untuk mengambil sebuah, tetapi kemudian kalian berkata, “Ambil saja yang ini!”… dan memberikan mereka apel yang lebih kecil! Ini adalah salah satu jenis sifat egois yang biasanya tak diperhatikan orang. Pernahkah kalian menjadi seperti ini?

Kalian benar-benar harus melawan kecenderungan di dalam diri, untuk memberi. Walaupun kalian benar-benar ingin memberikan apel yang lebih kecil, kalian harus memaksa diri kalian sendiri untuk memberikan apel yang lebih besar. Tentu saja, begitu kalian memberikannya kepada teman kalian, kalian merasa enak di dalam batin. Melatih pikiran dengan cara melawan kecenderungan di dalam diri seperti ini, memerlukan disiplin diri – kalian harus tahu bagaimana caranya untuk memberi dan cara untuk melepaskan, dengan tidak membiarkan sifat egois tersebut menetap di sana. Begitu kalian mempelajari bagaimana cara untuk memberi, jika kalian tetap merasa ragu tentang buah apa yang akan diberikan, lalu ketika kalian sedang mempertimbangkannya, kalian akan menghadapi kesulitan, dan walaupun kalian memberikan buah yang lebih besar, tetap akan ada suatu perasaan enggan di sana. Tetapi segera setelah kalian memutuskan secara tegas untuk memberikan buah yang lebih besar, masalahnya pun berakhir dan selesai. Inilah yang dinamakan berusaha melawan kecenderungan di dalam diri sendiri dengan cara yang benar.

Melakukan hal ini, kalian telah memenangkan penguasaan atas diri kalian sendiri. Jika kalian tidak dapat melakukannya, kalian akan menjadi mangsa diri kalian sendiri dan terus menerus menjadi egois. Kita semua pernah menjadi egois di masa lalu. Ini adalah kekotoran batin yang perlu dihentikan. Di dalam kitab suci berbahasa Pali, memberi disebut sebagai “dana”, yang artinya membawa kebahagiaan bagi pihak lain. Ia adalah salah satu dari kondisi-kondisi yang membantu membersihkan pikiran dari kekotoran batin. Renungkan hal ini dan kembangkanlah ia di dalam latihan kalian.

Kalian mungkin berpikir bahwa berlatih dengan cara ini adalah seperti memburu diri kalian sendiri, tetapi ia tidaklah demikian. Sebenarnya, ia memburu nafsu keinginan dan kekotoran batin. Jika kekotoran batin muncul di dalam diri kalian, kalian melakukan sesuatu untuk mengatasi mereka. Kekotoran batin mirip seperti kucing liar. Jika kalian memberikannya makanan sebanyak yang ia inginkan, ia akan selalu datang kembali untuk mencari makanan yang lebih banyak lagi, tetapi jika kalian berhenti memberikannya makan, setelah beberapa hari, ia tidak akan datang lagi. Sama halnya dengan kekotoran batin, mereka tidak akan datang mengganggu kalian, mereka akan meninggalkan batin kalian dalam keadaan damai. Jadi, daripada merasa takut akan kekotoran batin, sebaliknya buatlah kekotoran batin itu agar menjadi takut terhadap kalian. Untuk membuat kekotoran batin menjadi takut kepada kalian, kalian harus melihat Dhamma di dalam batin kalian.

Di manakah Dhamma muncul? Ia muncul begitu kita mengetahui dan memahami dengan cara ini. Setiap orang memiliki kemampuan untuk mengetahui dan memahami Dhamma. Ia bukan sesuatu yang harus dicari di buku-buku, kalian tidak perlu banyak-banyak mempelajarinya dari buku untuk memahaminya, renungkan saja ia sekarang dan kalian akan memahami apa yang sedang saya bicarakan. Setiap orang dapat melihatnya karena ia berada tepat di dalam hati kita. Semua orang memiliki kekotoran batin, bukan? Jika kalian mampu melihat mereka, maka kalian akan mengerti. Di masa lalu, kalian telah menjaga dan mengasuh kekotoran batin kalian, tetapi kini kalian harus mengetahui kekotoran batin kalian dan tidak membiarkan mereka datang dan mengganggu kalian.

Latihan yang berikutnya adalah ketahanan moral (sila). Sila mengawasi dan mengasuh latihan kita dengan cara yang sama seperti orangtua yang menjaga anak-anak mereka. Memelihara ketahanan moral berarti tidak hanya menghindari diri dari menyakiti pihak lain, tetapi juga untuk menolong dan mendukung mereka. Kalian seharusnya menjaga sedikitnya lima aturan, yakni :

  1. Tak hanya tidak membunuh atau secara sengaja menyakiti pihak lain saja, tetapi juga menyebarkan kebaikan hati terhadap semua makhluk.

  2. Jujur, menahan diri dari pelanggaran hak-hak pihak lain, dengan kata lain, tidak mencuri.

  3. Mengetahui bagaimana ukuran yang moderat dalam hubungan seksual: Dalam kehidupan rumah tangga terdapat struktur keluarga, berdasarkan pada hubungan antara suami dan istri. Mengetahui siapa suami atau istri kalian, mengetahui ukuran yang moderat, mengetahui batasan-batasan yang layak di dalam kegiatan seksual. Beberapa orang tidak tahu batas. Satu suami atau istri saja tidak cukup, mereka perlu memiliki yang kedua atau yang ketiga. Kalau menurut saya, kalian tak akan dapat memakai bahkan satu orang pendamping pun secara penuh, jadi untuk memiliki dua atau tiga lagi hanyalah untuk menuruti hawa nafsu saja. Kalian harus mencoba untuk membersihkan pikiran dan melatihnya untuk mengetahui ukuran yang moderat. Mengetahui ukuran yang moderat adalah kemurnian yang sebenarnya, tanpanya tindak tanduk kalian tidak akan ada batasnya. Ketika memakan makanan yang enak, jangan terlalu berkutat pada bagaimana rasanya, pikirkan perut kalian dan pertimbangkan berapa jumlah yang cukup untuk keperluannya. Jika kalian makan terlalu banyak, kalian akan menghadapi masalah, jadi kalian harus mengetahui ukuran yang moderat.

  4. Jujur dalam berbicara – ini juga adalah alat untuk melenyapkan kekotoran batin. Kalian harus jujur dan tulus, menyukai kebenaran dan adil.

  5. Menghindarkan diri dari pemakaian zat-zat yang memabukkan. Kalian harus menahan diri dan memilih untuk melepaskan hal-hal ini sama sekali. Orang-orang telah cukup dimabukkan oleh keluarga mereka, sanak saudara dan sahabat-sahabat, kepemilikan benda-benda materi, harta kekayaan dan semua yang lain. Itu sebenarnya sudah cukup tanpa harus membuat keadaan menjadi lebih buruk lagi dengan memakai zat-zat yang memabukkan. Mereka yang memakai dengan jumlah yang banyak, seharusnya mencoba untuk secara bertahap menguranginya dan pada akhirnya melepaskannya semua. Mungkin saya seharusnya meminta maaf kepada kalian, tetapi cara saya berbicara seperti ini adalah untuk kebaikan kalian sendiri, sehingga kalian bisa memahami mana yang baik. Kalian perlu mengetahui sesuatunya itu apa. Hal-hal apa yang menindas kalian di dalam kehidupan sehari-hari kalian? Tindakan-tindakan apa yang menyebabkan kalian tertekan? Perbuatan yang baik memberikan hasil yang baik, dan perbuatan buruk memberikan hasil yang buruk pula. Inilah penyebabnya.


Begitu ketahanan mental menjadi murni, akan ada suatu perasaan jujur dan baik terhadap pihak lain. Ini akan membawa kepada kepuasan dan kebebasan dari kekhawatiran dan penyesalan. Penyesalan yang berasal dari perilaku yang agresif dan merugikan, tidak akan berada di sana. Ini adalah suatu bentuk kebahagiaan. Ia hampir menyerupai suatu keadaan surgawi. Ada kenyamanan, kalian makan dan tidur dengan nyaman, dibarengi dengan kebahagiaan yang muncul dari ketahanan moral. Inilah hasilnya; memelihara ketahanan moral adalah penyebabnya. Ini adalah prinsip dari praktek Dhamma – menahan diri dari perbuatan yang buruk sehingga kebaikan bisa muncul. Jika ketahanan moral dijaga dengan cara ini, kejahatan akan hilang dan kebaikan akan muncul pada tempatnya. Ini adalah hasil dari praktek yang benar.

Tetapi ini bukanlah akhir dari cerita. Begitu orang-orang mencapai sedikit kebahagiaan, mereka cenderung menjadi tidak perduli dan tidak melanjutkan latihan mereka lagi. Mereka terjebak di dalam kebahagiaan. Mereka tak ingin mengalami kemajuan lagi, mereka lebih menyukai kebahagiaan “di surga”. Ia memang menyenangkan, tetapi di sana tidak ada pemahaman yang sebenarnya. Kalian harus terus merenungkannya agar tidak terperdaya. Renungkanlah lagi dan lagi, tentang kekurangan-kekurangan dari kebahagiaan yang satu ini. Ia fana, ia takkan bertahan selama-lamanya. Tidak lama lagi, kalian akan berpisah darinya. Ia bukanlah hal yang pasti, begitu kebahagiaan hilang maka penderitaan pun muncul pada tempatnya dan air mata menetes lagi. Bahkan makhluk-makhluk surgawi pun akan berakhir di dalam tangisan dan penderitaan.

Jadi, Sang Buddha mengajarkan kita untuk merenungkan kekurangan-kekurangan tersebut, bahwa ada sisi-sisi yang tidak memuaskan dari kebahagiaan. Biasanya, ketika jenis kebahagiaan seperti ini dialami, di sana tidak ada pemahaman yang sebenarnya tentangnya. Kedamaian yang benar-benar pasti dan tahan lama, telah ditutupi oleh kebahagiaan yang penuh tipu daya ini. Kebahagiaan yang satu ini bukanlah jenis kedamaian yang pasti atau kekal, melainkan suatu bentuk kekotoran batin, sejenis kekotoran batin yang lebih halus, yang kita lekati. Setiap orang ingin bahagia. Kebahagiaan muncul disebabkan oleh kesukaan kita terhadap sesuatu. Begitu rasa suka tersebut berubah menjadi ketidaksukaan, penderitaan muncul. Kita harus merenungkan kebahagiaan ini untuk memahami ketidakpastian dan keterbatasannya. Begitu segala sesuatunya berubah, penderitaan pun muncul. Penderitaan ini juga tidak pasti, janganlah berpikir bahwa ia tetap dan mutlak. Perenungan semacam ini disebut adinavakatha, perenungan terhadap ketidakcukupan dan keterbatasan dari dunia yang berkondisi. Ini artinya untuk merenungkan kebahagiaan, daripada menerimanya begitu saja. Memahami bahwa ia tidak pasti, kalian seharusnya tidak cepat-cepat melekat kepadanya. Kalian seharusnya memegangnya tetapi kemudian lepaskanlah ia, untuk melihat manfaat dan bahaya dari kebahagiaan. Untuk bermeditasi dengan terampil, kalian harus melihat kekurangan-kekurangan yang bersatu-padu di dalam kebahagiaan. Renungkan dengan cara ini. Bila kebahagiaan muncul, renungkanlah ia dengan seksama hingga kekurangan-kekurangan itu menjadi jelas.

Ketika kalian melihat bahwa segala sesuatunya itu tidak sempurna (dukkha), batin kalian akan memahami nekkhammakatha, perenungan tentang pembebasan dari hawa nafsu. Pikiran ini akan menjadi tidak tertarik dan mencari jalan keluar. Ketidaktertarikan muncul setelah melihat bagaimana bentuk-bentuk itu sebenarnya, bagaimana citarasa-citarasa itu sebenarnya, bagaimana cinta dan benci itu sebenarnya. Menjadi tidak tertarik artinya bahwa tidak ada lagi keinginan untuk melekat atau terikat pada segala sesuatunya. Ada penarikan mundur dari kemelekatan, sampai pada suatu titik di mana kalian bisa tinggal dengan nyaman, memperhatikan dengan suatu ketenangan yang bebas dari keterikatan. Inilah kedamaian yang muncul dari latihan.

 

--end--

Catatan: Ceramah ini diberikan di Vihara Hampstead, London, pada tahun 1977.

 

Sumber: “The Teachings Of Ajahn Chah”, Sub judul: “Living Dhamma – Meditation”
Oleh: Ven. Ajahn Chah
Diterjemahkan oleh: NN


 
Apakah Guru Buddha Seorang Seksis ? (Opini)

APAKAH GURU BUDDHA SEORANG SEKSIS ?

 

Pertanyaan ini bukan dimaksudkan sebagai penghinaan terhadap Guru Buddha ataupun ajaran-ajaranNya, tetapi hal ini berhubungan dengan keberlangsungan dan kemajuan Buddhisme di dunia modern.


Bangkok, Thailand -- Menentukan sikap Guru Buddha terhadap kaum wanita, secara langsung berhubungan dengan sifat teralami dari Buddhisme itu sendiri dan berhubungan dengan apakah Buddhisme mendukung pergerakan hak azasi manusia untuk demokrasi dan persamaan atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan ini, seseorang akan selalu dapat berargumen bahwa tidak mungkin untuk memeriksa kebenaran atas jawabannya, karena Guru Buddha telah lama Parinirvana. Namun, bagian-bagian yang terdapat dalam Tripitaka, yang merupakan kumpulan terbesar dari suatu ajaran agama di dunia, menyajikan referensi yang baik dalam pertanyaan kita.

Dalam rangka menemukan apakah Sang Buddha melakukan diskriminasi terhadap kaum wanita atau tidak, Tripitaka adalah satu-satunya sumber historis yang tepat sebagai acuan. Meskipun demikian, caranya tidaklah sederhana.

Penafsiran teks-teks Buddhis sebagian besar tergantung pada cara penggunaannya dalam pembacaan, yaitu, mengambil kata-kata secara harafiah seperti yang dilakukan oleh banyak Buddhis tradisional, atau menggunakan suatu pendekatan yang lebih holistik di dalam memahaminya, seperti yang dilakukan oleh banyak sarjana modern.

Terakhir juga memerlukan analisis kritis dan seni dalam memahami hal yang tersirat. Seperti kebanyakan teks keagamaan yang diwariskan dari jaman dahulu, Tripitaka memberikan informasi yang bertentangan mengenai status kaum wanita.
Salah satu referensi kunci yang betul-betul mendiskriminasikan kaum wanita adalah legenda asal muasal para bhikkhuni, di mana Sang Buddha menunjukkan penolakan yang sangat terhadap penahbisan (umpasampada) kaum wanita seperti yang diminta oleh Prajapati Gautami, ibu tiri sekaligus bibiNya. Ananda, pelayan dekat Sang Buddha ikut serta dan merundingkannya atas nama Prajapati Gautami. Sebagai hasilnya, Sang Buddha meletakkan satu set peraturan khusus, atau yang disebut Delapan Kewajiban Berat (Garudhamma) yang ditetapkan sebagai kondisi-kondisi untuk penahbisan kaum wanita, dan para bhikkhuni diwajibkan untuk menaatinya sampai akhir hidup mereka.

Delapan Kewajiban Berat yaitu:

  1. Seorang bhikkhuni, walaupun sudah di-upasampada (ditahbiskan) selama 100 tahun, harus menghormati seorang bhikkhu, menyambutnya, bersujud dengan hormat, meskipun bhikkhu itu baru ditahbiskan hari itu. (Para bhikkhu memberikan hormat satu dengan yang lain berdasarkan kesenioran mereka, atau berdasarkan banyaknya tahun setelah mereka ditahbiskan.)

  2. Seorang bhikkhuni tidak boleh menjalani masa pengasingan diri (vassa) di tempat di mana tidak ada bhikkhu. (seorang bhikkhu boleh menempati tempat seorang diri)

  3. Seorang bhikkhuni menantikan dua kewajiban: setiap dua minggu seorang bhikkhuni harus meminta pertemuan Uposatha kepada Sangha Bhikkhuni dan menerima nasihat dari seorang bhikkhu setiap dua minggu. (Para bhikkhu tidak bergantung kepada para bhikkhuni untuk upacara wajib ini, dan juga tidak meminta untuk mendapatkan nasihat apapun.)

  4. Seorang bhikkhuni yang telah menyelesaikan masa vassa-nya harus mengajukan dirinya untuk menerima nasihat dari kedua Sangha, Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni (Upacara Pavarana) untuk menanyakan apakah melalui 3 cara penglihatan, pendengaran, atau kecurigaan suatu kesalahan telah dilakukan. (Para bhikkhu mengajukan diri mereka sendiri ke komunitas para bhikkhu)

  5. Seorang bhikkhuni yang dikenakan masa percobaan karena pelanggaran suatu peraturan kebhikkhunian, Sanghadisesa,  harus menjalani masa percobaan minimum 15 hari, untuk pemulihan kembali menuntut persetujuan dari kedua Sangha, Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni. (Untuk para bhikkhu minimum lima hari masa percobaan dengan tidak memerlukan persetujuan dari para bhikkhuni untuk pemulihan kembali.)

  6. Seorang wanita harus ditahbiskan oleh para bhikkhu dan bhikkhuni dan hanya dapat ditahbiskan setelah dua tahun masa pencalonan, dan pelatihan pada enam pelatihan. (Seorang pria tidak memiliki masa pencalonan wajib dan pentahbisan mereka dilakukan oleh para bhikkhu saja).

  7. Seorang bhikkhuni tidak boleh memarahi seorang bhikkhu. (Seorang bhikkhu boleh memarahi  bhikkhu lain, dan semua bhikkhu boleh memarahi bhikkhuni.)

  8. Untuk selanjutnya, tak seorang bhikkhuni pun boleh sama sekali memberi pengajaran/teguran kepada para bhikkhu. Namun, para bhikkhu boleh memberikan pengajaran/teguran (Tidak ada batasan kepada siapa seorang bhikkhu boleh memberi pengajaran/teguran.)

Legenda tersebut mengingatkan kembali bahwa, setelah memberikan Delapan Kewajiban Berat, siswa Guru Buddha, Ananda,  kembali dan menginformasikan kepada Prajapati, sang bibi, akan perkataan Sang Buddha. Prajapati menerima semua delapan peraturan tanpa keberatan. Dengan suka cita, ia berkata:
"Saya menerima semua Delapan Kewajiban Berat, dan akan menaati tanpa melanggarnya sepanjang hidup saya, seperti seorang anak perempuan atau anak laki-laki yang menikmati kecantikannya, setelah mandi dan berkeramas, menerima kalung bunga melati atau lilac, menerimanya dengan tangannya dan meletakkannya di atas kepalanya."

Terlepas dari peraturan yang bersifat diskriminasi terhadap kaum wanita ini, lebih lanjut Sang Buddha menyampaikan pandangan Beliau di masa yang akan datang bahwa karena penahbisan kaum wanita maka Kehidupan Suci tidak akan berlangsung lama dan Dhamma Yang Mulia hanya akan bertahan dari 1000 tahun menjadi 500 tahun. Hal ini dinyatakan pada bagian dalam Tripitaka berikut:

Pada saat itu, Y.M. Ananda pergi menemui Sang Bhagava. Setelah duduk disalah satu sisi, Ia berkata kepada Sang Bhagava, "Yang Mulia, Mahaprajapati Gautami menerima Delapan Kewajiban Berat. Sekarang bibi dari  Yang Mulia telah ditahbiskan." Sang Bhagava berkata kepada Ananda, “Ananda, apabila wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki kehidupan suci dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Tathagata, Kehidupan Suci akan berlangsung dalam masa yang lama sekali dan Dhamma Yang Mulia akan bertahan seribu tahun lamanya. Tetapi sejak wanita diizinkan meninggalkan kehidupan duniawi, maka Kehidupan Suci tidak akan berlangsung lama dan Dhamma Yang Mulia hanya akan bertahan selama lima ratus tahun. Ananda dalam agama manapun ketika kaum wanitanya ditahbiskan, maka agama tersebut tidak akan bertahan lama. Seperti perumpamaan ini, Ananda, rumah yang dihuni oleh lebih banyak wanita dan laki-lakinya sedikit akan mudah dirampok. Demikian pula dimana Ajaran dan Peraturan yang mengizinkan wanita meninggalkan Kehidupan Suci tidak akan bertahan lama. Dan seperti seorang laki-laki yang akan membangun terlebih dahulu sebuah bendungan yang besar sehingga dapat menampung air, demikian pula Tathagata membentenginya dengan Delapan Peraturan Utama untuk Sangha Bhikkhuni, yang tidak boleh dilanggar selama hidup mereka.” (Vin. II, 256)

Tentu saja, Buddhis yang terlatih secara tradisional membenarkan bahwa pesan di atas tersebut merupakan kutipan aktual dari sabda Sang Buddha. Oleh karena itu, mereka menerima dan mengartikannya bahwa kaum wanita lebih rendah dari kaum pria, dan mereka adalah penyebab kehancuran agama.

Jika hal ini benar, maka hanya ada satu kesimpulan: Sang Buddha adalah seorang seksis (orang yang bersikap diskriminasi terhadap gender/jenis kelamin). Namun, kata "seksis" terlalu keras bagi sebagian besar umat Buddha. Tidak seorang Buddhis tradisional pun yang akan menerima prasangka terhadap Sang Buddha seperti itu. Sebaliknya, mereka pada umumnya menantang  untuk mempertahankan pesan dari  Delapan Kewajiban Berat, dengan mengklaim, "Demikianlah jalannya. Ini adalah Dharma Universal, dan tidak ada yang dapat kita lakukan selain menerimanya sebagai pesan asli Sang Buddha."

Penafsiran fundamentalis ini telah mengisolasi umat Buddha dari kepercayaan akan demokrasi yang berdasarkan pada hak azasi manusia dan persamaan gender. Buddhisme menjadi alat yang digunakan untuk memojokkan setengah dari populasi dunia. Orang-orang terpelajar sering berpaling dari Buddhisme karena tidak menyukainya setelah mereka melihat agama ini merupakan bagian dari masalah bukan sebagai solusi untuk kemajuan sosial.

Namun, cara lain untuk menjawab pertanyaan ini yaitu melalui pembacaan Tripitaka secara kritis. Inilah metodologi/cara dari para sarjana modern. Hal ini akan menunjukkan secara jelas penggambaran yang berbeda terhadap sikap Sang Buddha terhadap kaum wanita. Menurut bagian lain dari Tripitaka, Delapan Kewajiban Berat bertentangan dengan prinsip belas kasih dan sifat alami manusia. Menurut versi Sang Buddha mengenai Genesis (asal usul), karakteristik perempuan dan lelaki muncul sebagai akibat dari kemerosotan dunia fisik yang berkelanjutan, dimana, karakteristik itu bukanlah sifat alami sejati dari apa sesungguhnya kita. Karena jenis kelamin hanya merupakan penampilan luar dari sifat alami sejati kita, maka baik pria maupun wanita dengan kemampuan yang sama sanggup untuk mencapai Percerahan Sempurna.

Lebih lanjut, ketika bagian dari Tripitaka ini - legenda asal muasal Sangha Bhikkhuni dan Delapan Kewajiban Berat - dibandingkan dengan bagian lain dari Tripitaka, terdapat banyak perbedaan dan pertentangan. Sebagai contoh, di dalam  Buku Theragatha dan Therigatha ( syair yang disusun oleh para bhikkhu dan bhikkhuni yang tercerahkan) kita melihat sebuah situasi di mana seorang bhikkhu  menjadi tercerahkan oleh pengajaran dari seorang bhikkhuni, yang kemudian dihormati seperti ibunya. Hal ini bertentangan dengan peraturan terakhir dari Delapan Kewajiban Berat , dimana melarang seorang bhikkhuni untuk mengajar seorang bhikkhu.

Juga, perkataan "untuk selanjutnya" (dalam peraturan nomor 8) memberi kesan  bahwa sebelumnya telah terjadi dimana para bhikkhuni  memberikan pengajaran kepada para bhikkhu, dan peraturan dikeluarkan untuk menghentikan kegiatan itu atas nama Sang Buddha. Hal ini didukung pula oleh perumpamaan "bendungan" yang digunakan di bagian akhir kisah itu. Bagian dari kisah ini menceritakan mengenai sebuah bendungan yang dibangun untuk menjaga ladang-ladang padi dan tebu di India ketika seorang petani menemukan ladang-ladang tersebut sedang diserang hama padi atau debu merah. Bendungan harus dibangun secepatnya setelah petani itu menemukan gangguan hama itu, tapi tidak lebih awal dari itu. Penggunaan perumpamaan tersebut bertentangan dengan logika terhadap kondisi yang ada, dimana peraturan tersebut dikeluarkan sebelum Sangha Bhikkhuni terbentuk. Seharusnya, Delapan Kewajiban Berat ini dikeluarkan beberapa waktu setelah pembentukan Sangha Bhikkhuni.  Hubungan kecil ini memberikan pesan bahwa legenda Delapan Kewajiban Berat telah disisipkan di dalam Tripitaka sebagai bagian dari ajaran Sang Buddha. Dan nampak Kewajiban tersebut merupakan pekerjaan para bhikkhu generasi lebih muda yang memiliki sikap negatif terhadap kaum wanita.

Di bagian lain dalam Tripitaka, kita tidak melihat adanya bukti tentang tindakan para bhikkhuni sebagai suatu penyebab dari kemunduran Buddhisme. Sebaliknya, beberapa sutra, pada masa sebelum wafatnya Sang Buddha,  tidak pernah menguraikan sebuah kunjungan seorang raja kepada seorang bhikkhu dalam rangka mempelajari Dharma. Namun, tiga referensi dalam Tripitaka menyebutkan kunjungan seorang raja untuk bertemu seorang bhikkhuni ketika Sang Buddha masih hidup. Dalam salah satu kisah, Raja Pasenadi dari Kosala memuji di depan Sang Buddha akan kemampuan mengajar Bhikkhuni Khema; ia mengklaim bahwa pengajarannya sebagus Guru Buddha sendiri!

Juga, di dalam Buku Theragatha dan Therigatha, kita melihat bahwa para bhikkhuni lebih aktif dibanding para bhikkhu dalam  menyebarkan Dharma. Sementara para bhikkhu cenderung untuk menikmati hidup menyendiri dibanding tinggal dalam komunitas, para bhikkhuni mempunyai ikatan komunitas yang kuat dimana mereka sangat disibukkan dengan mengajar dan belajar. Salah satu bagian bahkan menguraikan seorang bhikkhuni yang  menyatakan dengan berani kepada publik, datang dan dengarkan ajaranku! Ungkapan “evangelis” seperti itu tidak diuraikan dalam Tripitaka yang diarahkan kepada para bhikkhu manapun. Buku Therigatha adalah literatur keagamaan pertama yang dikenal dunia yang diketahui disusun oleh kaum wanita.  Buku itu memperlihatkan periode pada sejarah awal Buddhism ketika kaum wanita menikmati persamaan hak dengan rekan pria mereka.

Serpihan-serpihan kecil bukti ini yang tersebar dalam Tripitaka mengkonfirmasikan bahwa ajaran asli Sang Buddha tidak meninggikan kaum pria di atas kaum wanita. Malangnya, meskipun demikian, unsur-unsur seksisme menemukan jalan masuk ke dalam masyarakat Buddhis segera setelah wafatnya Guru Buddha dalam rangka memperkuat status superior kaum pria atas kaum wanita. Delapan Kewajiban Berat , seperti yang telah diformulasikan dalam legenda asal muasal Sangha Bhikkhuni, menjadi alat sosial untuk mendapatkan kendali atas para bhikkhuni yang banyak dari mereka merupakan guru-guru terkemuka dan cukup sukses mencerahkan beberapa bhikkhu.

Peraturan tersebut bukan hanya menjadi bagian dari kanon Buddhis, tetapi diwajibkan dalam Sangha Bhikkhuni melalui pernyataan dan pengulangan setiap dua minggu. Periode penindasan para bhikkhuni dicurigai memiliki sedikit generasi penerus terakhir sebelum akhirnya Sangha Bhikkhuni menghilang dari India. Tidak lama sebelum Buddhisme ikut menghilang. Hipotesa ini diperkuat ketika membandingkan Buddhisme dengan Jainisme, atau “saudari” dari Buddhisme, yang ditemukan oleh Mahavira, seorang pemimpin spiritual sejaman dengan Sang Buddha.

Seperti Buddhisme, Jainisme dipandang sebagai heterodoks (menyimpang) oleh orang Hindu dan kemudian oleh orang Muslim. Masyarakat Buddhis dan masyarakat Jain berbagi struktur yang sama, terdiri atas para biarawan, biarawati, umat awam pria dan wanita; umat Buddhis memuja patung Sang Buddha, sedangkan umat Jain memuja patung Mahavira.

Selagi Buddhisme menghilang dari India, Jainisme tidak menghilang. Banyak sejarahwan menyalahkan penindasan orang Muslim atas pemadaman Buddhisme di  tanah airnya sendiri, tetapi teori ini tidak bisa menjelaskan mengapa Jainisme juga tidak dibinasakan mengingat kedua agama tersebut memiliki posisi yang sama dihadapan orang Muslim. Perbedaan yang berarti terletak pada perlakuan terhadap para biarawati: dalam Jainisme, para biarawati tidak didiskriminasikan seperti di Buddhisme. Sekarangpun, biarawati dalam Jainisme menikmati kebebasan mereka dalam pengajaran yang sepadan dengan rekan pria mereka. Tidak ada peraturan Delapan Kewajiban Berat  di dalam ajaran Mahavira.

Dalam  penerangan analisa ini, bukti menunjuk kepada fakta bahwa seksisme dalam masyarakat Buddhis bertanggung jawab atas hancur dan padamnya  agama Buddha dari tanah airnya sendiri. Ini adalah hasil dari  karma yang dilakukan oleh para bhikkhu seksis dari generasi belakangan segera setelah Sang Buddha wafat.
Diskriminasi seksual atau seksisme sama sekali bukan bagian dari ajaran asli Sang Buddha, ajaran yang tidak akan menyingkirkan siapapun. Guru Buddha, dapat kita simpulkan, bukanlah seorang seksis.

Sangat disayangkan, sekarang ini karma seksisme masih kuat dan sehat di banyak negara-negara Buddhist seperti Srilanka, Myanmar, Thailand, Kamboja dan Laos. Hanya beberapa komunitas di Sri Lanka yang menahbiskan kaum wanita.

Di tempat lain di Asia Tenggara, penahbisan kaum wanita adalah ilegal. Sebagai contoh, Dewan Sangha Raja di Thailand, mengumumkan di depan publik bahwa bhikkhu manapun yang mendukung penahbisan kaum wanita akan dijatuhi hukuman yang berat.

Meskipun demikian, dalam tradisi Theravada secara keseluruhan, Delapan Kewajiban Berat  diikuti dengan penuh keyakinan sebagai sabda asli Guru Buddha.
Di negara-negara Theravada, agama Buddha belum pernah menjadi pendukung hak azasi manusia dan keadilan sosial. Sepanjang tidak ada reformasi sistem pendidikan agama dalam Buddhisme dan Tripitaka, agama akan tetap menjadi rintangan terbesar untuk pengembangan demokrasi dan keadilan sosial dalam negara-negara ini.


--end—


Bhikkhu Mettanando adalah seorang bhikkhu Thailand yang sebelumnya adalah seorang  dokter. Ia belajar di Universitas Chulalongkorn, Oxford dan Harvard, dan mendapat gelar PhD dari Universitas Hamburg. Beliau adalah penasihat khusus urusan agama Buddha pada sekretaris-jenderal World Conference of Religions for Peace.




Sumber: Bangkok Post, 9 Mei 2006
Judul asli: Was the Lord Buddha a Sexist?
Oleh: Bhikkhu Mettanando
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com


 
Hinayana, Sebuah Mitos Kuno

HINAYANA, SEBUAH MITOS KUNO

 

Beberapa di antara kita mungkin sering mendengar bahkan mungkin ada yang menggunakan istilah Hinayana. Ada yang berpendapat bahwa Hinayana adalah salah satu aliran/sekte dari Buddhisme yang berarti Kendaraan Kecil. Dan ada yang berpendapat bahwa aliran Hinayana adalah aliran Theravada. Dan ada juga yang berpendapat bahwa Hinayana berarti kendaraan berkapasitas kurang ? Benarkah demikian ? Mari kita ulas.


Kerancuan

Kita semua pasti sependapat bahwa pada masa kehidupan Sang Buddha tidak ada sekte atau aliran dalam Buddhisme. Apa yang diajarkan Sang Buddha pada saat itu hanyalah disebut Dhamma dan Vinaya. Oleh karena itu tidak mungkin aliran yang bernama Hinayana itu ada pada masa itu. Tetapi di antara abad ke-1 SM sampai abad ke-1 M istilah Mahayana dan Hinayana muncul dalam Saddharma Pundarika Sutra Atau Sutra Teratai. Istilah ini terdapat pada bab 3 dari Sutra Teratai. Ini menjadi hal yang menarik. Jika pada masa kehidupan Sang Buddha tidak ada sekte atau aliran dalam Buddhisme, mengapa terdapat istilah Mahayana dan Hinayana dalam Sutra Teratai yang dikatakan dibabarkan sendiri oleh Sang Buddha? Mengacu pada aliran manakah Hinayana ini? Theravada kah?

Pada masa sekarang terjadi kerancuan dalam umat Mahayana ataupun Vajrayana di dalam menggunakan istilah Hinayana dengan tiga cara yang berbeda, yaitu:

  1. Dalam pemahaman sejarah; aliran Pra-Mahayana di anggap sebagai Hinayana.
  2. Theravada modern dianggap sebagai Hinayana.
  3. Istilah Hinayana digunakan sebagai bagian internal dari ajaran Mahayana
Mari kita lihat lebih dekat penggunaan tiga cara ini.
  1. Beberapa orang menyatakan bahwa kata Hinayana adalah sebagai istilah untuk aliran lebih awal yang penggunaannya hanya digunakan pada masa lalu saja. Ini tidak benar. Hal tersebut dapat ditemukan di beberapa karya referensi modern, dan dalam literatur spesial lainnya, sebagai contoh dapat ditemukan di Buddhist Philosophy In Theory and Practice, H.V. Guenther, yang mengutip sebuah karya Tibet dari abad ke-18 dan 20.

  2. Sebagai contoh kerancuan istilah Hinayana dengan Theravada, terdapat dalam kutipan Bibliografi Jane Hope (Jane Hope pernah belajar kepada Chogyam Trungpa Rinpoche.), Buddha for beginners, dicetak tahun 1995, berikut terjemahan dari versi Norwegia: ”Buddhisme Hinayana. Suatu pengenalan yang baik untuk tradisi Hinayana adalah ’What the Buddha Taught’, karya Walpola Rahula ... Berasal sudut pandang masa sekarang dan ditulis oleh dua orang Barat yang berlatih tradisi Theravada, adalah... Seeking the Heart of Wisdom, oleh Joseph Goldstein & Jack Kornfield ...”

  3. Sekarang untuk kerancuan yang kuat, terdapat dalam Buddhisme Tibet. Beberapa orang mengatakan bahwa Hinayana dan Mahayana pada awalnya adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan dua sikap spiritual yang berbeda, dan dikutip dari Bab ke-7 ("Loving Kindness and Compassion") dari karya Tibet klasik, The Jewel Ornament of Liberation, yang ditulis pada abad ke-10, dimana penulis, Jé Gampopa mengacu Hinayana sebagai “kapasitas sedikit” ("theg pa dman pa"). Paragrafnya terbaca sebagai berikut: “Berhubungan dengan kebaikan diri atas kedamaian semata (1) menandakan suatu sikap kapasitas yang rendah (2) dimana keinginan untuk menghapus penderitaan hanya dipusatkan pada dirinya sendiri. Dengan penghindaran penghargaan terhadap orang lain ini maka hanya ada sedikit pengembangan akan kepedulian terhadap yang lain. [...] Ketika Kasih Sayang dan Belas Kasih menjadi satu, begitu banyak rasa keperdulian terhadap kesadaran makhluk-makhluk lain sehingga seseorang tidak bisa hanya membebaskan dirinya sendiri saja. [...] Guru Manjushrikirti pernah mengatakan: ’Pengikut Mahayana seharusnya tidak tanpa memiliki kasih sayang dan belas kasih meskipun sekejap saja’, dan’bukanlah kemarahan dan kebencian tetapi kasih sayang dan belas kasih-lah yang bersedia memberikan kesejahteraan orang lain’.”

Catatan kaki pada bagian buku ini adalah sebagai berikut:

(1) Kata zhi.ba dalam bahasa Tibet berarti ”damai”(peace). Pada bagian buku tersebut diterjemahkan sebagai ”kedamaian semata” (mere peace), sejak buku tersebut digunakan oleh Gampopa untuk menunjukkan hubungan kedamaian tanpa belas kasih yang merupakan hasil dari pengembangan meditasi konsentrasi semata saja.
(2) Hinayana: ”kapasitas sedikit” sering diterjemahkan sebagai ”kendaraan kecil”. Istilah ini menyiratkan kemampuan untuk membawa beban. Dalam kasus ini beban tersebut adalah diri sendiri sejak seseorang berkomitmen untuk membawa diri sendiri pada pembebasan sendiri, bukan semua orang (dalam hal ini Mahayana, ”kapasitas besar”).

Masalah dan kerancuan di sini tentunya bukanlah sebuah analisa yang mengacu secara langsung pada kata hinayana dalam bahasa Pali/Sanskerta, tetapi mengacu pada terjemahan bahasa Tibet  "theg pa dman pa". Inilah kunci permasalahannya.


Pengertian Hinayana

Kita mulai dengan pengertian dari kata Hinayana. Kata Hinayana bukanlah berasal dari bahasa Tibet, bukan berasal dari bahasa China, Inggris ataupun Bantu, tetapi berasal dari bahasa Pali dan Sanskerta. Oleh karena itu, satu-satunya pendekatan yang masuk akal untuk menemukan arti dari kata tersebut, adalah mempelajari bagaimana kata hiinayaana digunakan dalam teks Pali dan Sanskerta.

Kata hiinayaana berasal dari 2 kata, yaitu ”hiina” dan ”yana”. Kata ”yana” berarti kendaraan, tidak ada yang berselisih paham mengenai kata ini. Sedangkan beberapa orang mengatakan kata ”hiina” adalah lawan dari kata ”maha”. Padahal bila kita menengok bahasa Sanskerta maupun bahasa Pali, lawan kata dari kata ”maha” yang berarti besar bukanlah ”hiina” tetapi kata ”cuula” yang berarti ”kecil”. Lalu apakah arti kata ”hiina”? Kata ”hiina” sendiri berarti rendah, buruk, amoral. Hal ini dapat dibuktikan dengan kata ”hina” dalam kosakata Indonesia yang sedikit banyak dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta.

Selain itu, di dalam kitab Pali, dimana setiap Buddhist tentu tahu kotbah pertama Sang Buddha yaitu Dhammacakkappavattana Sutta, sebuah kotbah yang disampaikan kepada lima petapa yang menjadi lima bhikkhu pertama, di dalamnya terdapat kata ”hiina”. Sang Buddha bersabda: ”Dua pinggiran yang ekstrim, O para bhikkhu, yang harus dihindari oleh seseorang bhikkhu (yang meninggalkan keduniawian). Pinggiran ekstrim pertama ialah mengumbar napsu-napsu, kemewahan, hal yang rendah (hiina), kasar, vulgar, tidak mulia, berbahaya...”

Mengingat bahwa sutta memiliki gaya yang sering mengunakan kata-kata yang bersinonim, sehingga saling menguatkan dan menjelaskan  satu sama yang lain, maka dalam hal ini dapat dilihat bahwa, kasar, vulgar, tidak mulia, berbahaya adalah sebagai definisi pelengkap dari kata ”hiina”.

Di sini Sang Buddha menunjukkan dengan jelas bahwa jalan yang harus dihindari untuk dilatih merupakan sesuatu yang hiina.

Dalam teks Pali dan komentar lainnya, hiina sering digunakan dalam kombinasi kata hiina-majjhima-pa.niita, yaitu : buruk – menengah – baik. Dalam konteks hiina- majjhima-pa.niita (atau kadang hanya hiina- pa.niita), kata ”hiina” selalu digunakan sebagai suatu istilah untuk kualitas yang dihindari seperti kebencian, keserakahan, dan kegelapan batin. Hal ini jelas bahwa kata ”hiina” berarti ”rendah, yang harus dihindari, tercela”, dan bukannya ”kecil” atau ”kurang”.

Sekarang dalam teks Sanskerta. Dalam Lalitavistara kita dapat menemukan versi Dhammacakkappavattana Sutta, dimana kata ”hiina” digunakan tepat seperti kutipan dalam sutta versi Pali.

Dalam Mahayanasutralankara karya Asanga, yang mewakili seluruh teks Mahayana, kita menemukan sesuatu yang menarik bagi pertanyaan kita. Asanga mengatakan: ”Ada tiga kelompok manusia: hiina-madhyama-vishishta…(buruk-menengah-terbaik).” Ungkapan ini sesuai dengan teks Pali: hiina-majjhima-pa.niita, dan ini menunjukkan bahwa umat Mahayana yang menggunakan istilah ”hinayana”, melihat ”hiina” sebagai istilah penjelekkan (penghinaan), dengan arti yang sama seperti dalam teks Pali.

Teks yang sangat menarik yaitu edisi dari  Catushparishatsutra dimana teks tersebut di tampilkan dalam 4 kolom sejajar: terjemahan Sanskerta, Pali (Mahavagga), Tibet dan  Jerman yang berasal dari versi bahasa China. Di ini, kembali, kita menemukan Dhammacakkappavattana Sutta. Kita telah melihat terjemahannya dalam bahasa Sankerta dan Pali. Versi Jerman dari bahasa China mengatakan: “Erstens: Gefallen zu finden an und anzunehmen die niedrigen und üblen Sitten der gewöhnliche Personen ..." Sedikit kurang jelas apakah  kata "niedrigen" (hina) atau "üblen" (jahat, buruk) berhubungan dengan ”hiina”. Tapi pada akhirnya, jelas bahwa konotasi yang sangat negatif dari kata ”hiina” terdapat pada terjemahan bahasa China.

Dalam kolom terjemahan bahasa Tibet, kita menemukan kata Tibet "dman-pa" berhubungan dengan kata ”hiina” dalam bahasa Sanskerta, sesuai dengan kutipan Jé Gampopa di atas. Dan di ini kita memiliki penyebab dari kerancuan dan kesalahpahaman kemudian atas istilah hiiinayana.  Mari kita lihat kamus bahasa Tibet-Inggris tentang "dman-pa": Kamus Sarat Chandra Das mengatakan : ” dman-pa: sedikit (low) mengacu pada kuantitas atau kualitas, kecil (little)”. Kamus Jäschke bahkan lebih menjelaskan: “"dman-pa": 1.  sddikit (low), mengacu pada kuantitas, kecil (little). 2. mengacu pada kualitas: acuh tak acuh (indifferent), hina/buruk (inferior) (Ssk :hiina).”

Berdasarkan hal itu nampaknya kata hiina dalam bahasa Sanskerta, tanpa diragukan lagi berarti ”kualitas rendah/buruk” yang diterjemahkan dalam bahasa Tibet sebagai ”dman-pa” memiliki dua arti yaitu ”kualitas rendah” dan ”kuantitas sedikit”. Dan petikan dari Jé Gampopa di atas nampaknya mengindikasikan bahwa banyak orang Tibet untuk selanjutnya membaca pada arti yang terakhir dari kedua arti tersebut sebagai ”kapasitas sedikit”, ”kapasitas kecil”, jadi artinya mengalami distorsi dari ”kualitas rendah/buruk” menjadi ”kuantitas sedikit ”.

Dengan demikian kita melihat bahwa kerancuan timbul dari fakta bahwa kata ”dman-pa” memiliki dua arti dalam bahasa Tibet. Hinayana – semula berarti ”kendaraan kualitas buruk.” – yang kemudian memiliki arti baru ”kendaraan kapasitas rendah”. Tapi hal ini berasal dari cara yang salah. Tentu adalah sebuah kesalahan  menerapkan suatu arti dalam bahasa Tibet yang baru ke dalam bahasa Sanskerta/Pali, dan mengatakan, ”Inilah arti dari Hinayana, karena inilah bagaimana para Guru di Tibet menjelaskannya.” Apa yang para Guru Tibet jelaskan adalah kata ”dman-pa” dalam bahasa Tibet, bukan kata hiina dalam bahasa Sanskerta.

Oleh karena itu jelas sudah bahwa seseorang tidak dapat menyatakan bahwa Hinayana memiliki pengertian yang ”lembut” seperti yang diberikan oleh tradisi Tibet melalui kata ”dman-pa”. Hinayana bukanlah bahasa Tibet, tetapi Sanskerta/Pali, dan memiliki arti yang kasar, arti yang bersifat menghina yang tidak dapat dirubah oleh usaha perlunakkan apapun.


Hinayana sebuah aliran Buddhisme?

Di mulai pada Sidang Agung Sangha ke-2 dimana Buddhisme terbagi menjadi 2. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya, disisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada.

Sidang Agung Sangha ke-3 (abad ke-3 SM), Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya, dan Moggaliputta Tissa sebagai pimpinan sidang menyelesaikan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis dan disahkan oleh sidang. Kemudian  Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan menyebarkan Buddha Dhamma di sana. Di sana ajaran ini dikenal sebagai Theravada.

Setelah Sidang Agung Sangha ke-3, Buddhisme terdiri dari 18 aliran yaitu:

(1) Thera-vadino, (2) Vajjiputtaka, (3) Mahigsasaka, (4) Dhammuttarika, (5) Bhaddayanika, (6) Channagarika, (7) Sammitiya, (8) Sabbatthivada, (9) Dhammaguttika, (10) Kassapika, (11) Sankantika, (12) Suttavada, (13) Mahasamghika, (14) Gokulika, (15) Ekabyoharika, (16) Bahulika, (17) Pannatti-vada, (18) Cetiya-vada.

Banyak hal-hal yang terjadi pada masa itu di India Pusat. Di antaranya adanya beberapa kelompok bhikkhu yang menjalankan Buddha Dhamma secara ekstrim dengan hanya mementingkan intelektual semata dan lupa dengan hal yang utama yaitu praktek dan pengamalan. Kemudian kelompok lain yang memegang prinsip pengamalan mulai melakukan kritik dan menerapkan konsep bodhisatta, namun mereka pun menjadi ekstrim sehingga menciptakan figur-figur bodhisatta.

Akhirnya antara abad ke-1 SM sampai abad ke-1 M, muncullah Saddharma Pundarika Sutra dengan istilah Hinayana dan Mahayana. Dan sekitar abad ke-2 M, aliran Mahayana menjadi nyata dan utuh setelah Nagajurna mengembangkan filsafat Sunyata dalam teks kecil yaitu Madhyamika-karika. Abad ke- 4 M , Asanga dan Vasubandhu menulis banyak karya mengenai Mahayana.

Dari sejarah yang telah di sampaikan di atas, tidak ada aliran yang bernama Hinayana pada 18 aliran Buddhsime terdahulu. Lalu siapa yang dimaksud dengan Hinayana dalam Sutra Teratai ? Apakah Theravada ? Tidak, ketika Mahayana muncul dengan Sutra Teratainya, Theravada yang dulunya bernama Sthaviravada telah ”hijrah” atau ”beremigrasi” ke Sri Lanka dan ketika perdebatan Mahayana-Hinayana terjadi, sukar untuk menghitung aliran mana yang mendominasi di India Pusat. Aliran tua yang sangat berpengaruhi saat itu adalah Sarvastivada, jadi mungkin saja aliran ini, tapi sukar dikatakan jika hanya aliran ini saja yang merupakan target satu-satunya dari ejekan ”Hinayana”.

Sekarang Sarvastivada dan aliran-aliran Buddhisme lain di India Pusat yang ada pada saat itu sudah lama mati, kecuali Theravada. Tidak bisa dipastikan siapa sebenarnya Hinayana itu. Hinayana itu tidak ada. Hinayana hanyalah sebuah mitos.

Istilah Hinayana yang berkonotasi negatif ini hanya bisa dipastikan sebagai suatu kritikan bahkan ejekan untuk aliran terdahulu yang masih ada pada waktu itu yang melakukan hal yang tidak sesuai Dhamma dan Vinaya seperti misalnya hanya mementingkan intelektual semata dan lupa dengan hal yang utama yaitu praktek dan pengamalan. Istilah ”Hinayana” tidak lain juga merupakan bentuk defensive kelompok Mahayana terhadap kritikan dari aliran lama yang mengkritik umat Mahayana, khususnya mengenai penciptaan sutra-sutra baru dan ”penempaan” sabda-sabda Sang Buddha. Demikianlah mengapa istilah Hinayana mendapat sebutan ”miring” sebagai aliran yang mementingkan pribadi. Dan istilah ”Hinayana” ini terus berlangsung dan dipegang oleh beberapa umat Mahayana dan Vajrayana untuk menamai aliran/sekte di luar Mahayana dan Vajrayana.

Pada tahun 1950, World Fellowship of Buddhists dalam World Council di Colombo telah menyepakati bersama bahwa istilah Hinayana harus disingkirkan dari penamaan terhadap aliran lain. Dan sangat disayangkan jika dewasa ini masih ada yang memegang mitos ini sampai sekarang.

 

 --end--

 


Literatur:

The Myth of Hinayana - Kare A. Lie
Theravada - Mahayana Buddhism - Ven. Dr. W. Rahula
Two Main Schools of Buddhism – Ven. K. Sri Dhammananda
The Sects of the Buddhists, T. W. Rhys Davids, The Journal of the Royal Asiatic Society,1891
The Lotus Sutra - Soothill And Kern

 

Disusun oleh: Bhagavant.com


 
Bagaimana Sang Buddha Wafat

BAGAIMANA SANG BUDDHA WAFAT ?

 

Selama hari Vesak, kita telah diberitahukan bahwa hari itu juga merupakan hari dimana Sang Buddha mencapai Parinibbana. Tetapi tidak banyak orang mengetahui bagaimana Sang Buddha wafat. Teks-teks kuno menampilkan dua kisah tentang wafatnya Sang Buddha. Apakah wafatnya Sang Buddha direncanakan dan merupakan kehendak Sang Buddha, atau apakah karena keracunan makanan, atau ada hal lain yang berkaitan satu sama dengan yang lain ? Inilah jawabannya.

Mahaparinibbana Sutta, yang merupakan kotbah panjang dalam Tipitaka Pali, tidak diragukan lagi merupakan sumber yang paling dapat dipercaya untuk perincian atas wafatnya Siddhattha Gotama (563-483 SM), Sang Buddha. Mahaparinibbana Sutta disusun dalam bentuk naratif yang membiarkan para pembaca untuk mengikuti kisah hari-hari terakhir Sang Buddha, yang dimulai dari beberapa bulan sebelum Beliau wafat.

Walaupun demikian, untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Sang Buddha adalah suatu hal yang tidak sederhana. Sutta, atau kotbah, melukiskan dua kepribadian Sang Buddha yang saling bertolak belakang, yang satu mengesampingkan yang lainnya.

Kepribadian Sang Buddha yang pertama adalah sebagai pembuat keajaiban yang menyeberangkan diriNya dan rombongan para bhikkhu ke seberang Sungai Gangga (D II, 89), Yang dengan mata batin melihat keberadaan para dewa di atas bumi (D II, 87), Yang dapat hidup sampai akhir dunia dengan syarat seseorang mengundangNya untuk melakukan hal itu ( D II, 103), Yang menentukan waktu kemangkatanNya ( D II, 105), dan Yang kemangkatanNya dimuliakan dengan hujan bunga surgawi, serbuk kayu cendana dan musik surgawi (D II, 138).

Kepribadian Sang Buddha yang lainnya adalah sebagai layaknya makhluk berusia lanjut yang jatuh sakit ( D II, 120), Yang hampir kehilangan hidupNya karena sakit yang teramat sangat selama masa vassaNya (retreat musim hujan)yang terakhir di Vesali( D II, 100), dan Yang harus menghadapi penyakit dan kemangkatanNya yang tak didugaNya setelah mengkonsumsi hidangan khusus yang ditawarkan oleh penjamuNya yang dermawan.

Dua kepribadian ini bergantian muncul dalam bagian-bagian yang berbeda dari cerita naratif tersebut. Lebih dari itu, di dalamnya juga nampak dua penjelasan mengenai penyebab mangkatnya Sang Buddha : Yang pertama, kemangkatan Sang Buddha disebabkan oleh pengiringNya, Ananda, yang gagal mengundang Sang Buddha untuk tetap hidup sampai akhir dunia atau bahkan lebih lama dari itu (D II, 117). Yang kedua adalah bahwa Sang Buddha mangkat karena sakit yang mendadak yang dimulai setelah Beliau makan makanan yang dikenal sebagai "Sukaramaddava" (D II, 127-157).

Kisah yang pertama mungkin suatu legenda, atau hasil dari suatu pergumulan politik di dalam komunitas Buddhist selama tahap transisi, sedangkan kisah yang terakhir terdengar lebih realistis dan akurat dalam menggambarkan situasi kehidupan nyata yang terjadi di dalam hari-hari terakhir Sang Buddha.

Sejumlah studi telah memusatkan perhatian pada asal-muasal hidangan khusus yang dimakan oleh Sang Buddha selama makanan terakhirNya sebagai penyebab kemangkatanNya. Bagaimanapun juga, ada pendekatan lain  yang didasarkan pada deskripsi tentang gejala-gejala dan tanda-tanda yang diberikan dalam Sutta, yang bisa dijelaskan oleh pengetahuan medis modern.

Dalam salah satu lukisan dinding yang berada di Wat (Vihara) Ratchasittharam, Sang Buddha dalam keadaan mendekati ajalNya, tetapi Beliau masih menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh petapa Subhadda, yang menjadi siswa terakhirNya, yang setelah ditahbis menjadi anggota sangha, kemudian menjadi seorang Arahat.


Apa yang kita ketahui

Dalam Mahaparinibbana Sutta, kita diberitahukan bahwa Sang Buddha menderita sakit secara tiba-tiba setelah Beliau memakan suatu hidangan khusus yang lezat, Sukaramaddava, yang secara harafiah diterjemahkan sebagai "daging babi lunak", yang telah disiapkan oleh penjamu dermawanNya, Cunda Kammaraputta. Nama dari  hidangan tersebut menarik perhatian dari banyak sarjana, dan hal itu menjadi fokus dari riset akademis terhadap asal muasal makanan hidangan atau bahan baku yang digunakan di dalam memasak hidangan khusus ini.

Dalam Sutta sendiri selain menyediakan detil-detil yang berkaitan dengan tanda-tanda dan gejala-gejala dari penyakit Sang Buddha, juga menyertakan beberapa informasi yang dapat diandalkan mengenai keadaan Sang Buddha selama empat bulan sebelumnya, dan uraian ini juga sangat berarti secara medis.

Sutta di awali dengan rencana Raja Ajatasattu untuk menaklukkan negara saingannya, kerajaan Vajji. Sang Buddha melakukan perjalanan ke Vajji untuk memulai vassa (retreat musim hujan) terakhirNya. Dalam masa vassa ini Beliau jatuh sakit. Gejala dari  penyakiNya adalah tiba-tiba dan sakit yang teramat sangat.

Walau demikian, di dalam Sutta tidak diuraikan tentang ciri-ciri dan letak penyakitNya. Sutta itu hanya menyinggung sekilas penyakit Beliau, dan dikatakan penyakitnya sangat keras, dan hampir membunuhNya.

Sesudah itu, Sang Buddha dikunjungi oleh Mara, Dewa Kematian, yang mengundang Beliau untuk mangkat. Sang Buddha tidak menerima undangan dengan segera. Hanya setelah Ananda, pengiringNya, gagal untuk mengenali isyarat yang diberikanNya mengenai kemangkatan Beliau. Sepotong pesan ini, meskipun terkait erat dengan mitos dan hal supernatural, memberikan kita beberapa informasi medis yang sangat berarti. Saat sutta ini disusun, penulisnya berada dalam keadaan terkesan bahwa Sang Buddha wafat bukan oleh karena makanan yang Beliau makan, tetapi dikarenakan Beliau telah memiliki penyakit yang serius dan akut serta memiliki gejala-gejala yang sama dengan  penyakit yang pada akhirnya membuatNya mangkat.


Waktu Kejadian

Umat Buddha tradisi Theravada berpegang pada asumsi bahwa Buddha Historis wafat pada malam bulan purnama dalam penanggalan bulan di bulan Visakha (yang kadangkala jatuh pada bulan Mei sampai Juni). Tetapi waktu tersebut bertolak belakang dengan informasi yang terdapat dalam Sutta, dimana secara jelas bahwa Sang Buddha segera mangkat setelah masa vassa (retreat musim hujan), kemungkinan besar adalah pada musim gugur atau pertengahan musim dingin, yaitu antara bulan November hingga Januari.

Uraian tentang keajaiban akan mekarnya daun-daun dan bunga-bunga pada pohon-pohon sala ketika Sang Buddha berbaring di antaranya, menunjukkan periode waktu yang diberikan dalam sutta.

Bagaimanapun juga, musim gugur dan musim dingin adalah musim yang tidak cocok untuk pertumbuhan jamur, yang menurut beberapa sarjana dipercaya sebagai sumber racun yang dimakan Sang Buddha selama memakan makanan terakhirNya.


Diagnosa

Sutta menceritakan kepada kita bahwa Sang Buddha jatuh sakit dengan seketika setelah menyantap Sukaramaddava. Karena kita tidak mengetahui segalanya tentang sifat dasar makanan ini, menjadi sukar bagi kita untuk mengatakannya sebagai penyebab langsung dari penyakit Sang Buddha. Tetapi dari uraian yang diberikan, diketahui bahwa serangan penyakit tersebut berlangsung cepat.

Ketika menyantap, Sang Buddha merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan makanan itu dan ia menyarankan penjamuNya untuk menguburkan makanan tersebut. Segera setelah itu, Sang Buddha menderita sakit perut yang parah dan mengeluarkan darah dari rektumNya.

Masuk akal untuk kita asumsikan bahwa penyakit itu dimulai ketika Sang Buddha sedang menikmati makananNya, sehingga membuatNya berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan makanan yang tidak familiar itu. Karena kasih sayangNya kepada orang lain, maka Beliau sarankan agar makanan itu dikubur.

Apakah makanan yang beracun sebagai penyebab dari  penyakit itu? Sepertinya tidak demikian. Gejala-gejala yang diuraikan tidak mengindikasikan keracunan makanan, yang bisa sangat akut , tetapi dapat dipastikan menyebabkan diare dengan darah. Umumnya, makanan beracun disebabkan oleh bakteri yang tidak segera membelah diri, tetapi mengalami suatu masa inkubasi selama dua sampai 12 jam untuk membelah diri, umumnya disertai dengan diare dan muntah-muntah yang akut, bukan dengan pendarahan.

Kemungkinan yang lain  adalah bahan kimia beracun, yang juga memiliki  efek cepat, tetapi bukanlah hal yang biasa bagi bahan kimia beracun menjadi penyebab pendarahan usus yang sangat parah. Makanan yang beracun dengan pendarahan usus langsung hanya bisa disebabkan oleh bahan kimia yang bersifat menghancurkan (korosif) seperti asam cuka yang keras, yang dapat dengan mudah menimbulkan penyakit seketika. Tetapi bahan kimia yang bersifat menghancurkan tersebut sudah pasti akan menyebabkan pendarahan pada usus bagian atas, yang menimbulkan muntah darah. Tidak satupun tanda-tanda parah tersebut disebutkan dalam teks.

Penyakit-penyakit radang dinding lambung juga dapat diabaikan dari daftar penyakit tersebut. Kendati faktanya bahwa penyakit ini menyerang dengan cepat, penyakit ini jarang diikuti oleh kotoran (feces) berdarah. Radang lambung dengan pendarahan usus menghasilkan kotoran berwarna hitam ketika radang menembus suatu pembuluh darah. Tukak pada saluran pencernaan yang lebih atas akan lebih memungkinkan mengakibatkan muntah darah, bukan pendarahan melalui rektum.

Bukti lain yang menyangkal kemungkinan ini adalah seorang pasien dengan radang lambung yang besar pada umumnya tidak mempunyai selera makan. Dengan menerima undangan untuk makan siang bersama sang penjamu, kita dapat berasumsi bahwa Sang Buddha merasa sesehat yang dirasakan orang manapun yang berada di awal usia 80nya. Dengan usiaNya yang demikian, kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa Sang Buddha tidak mempunyai suatu penyakit kronis, seperti TBC atau kanker atau suatu infeksi/peradangan tropis seperti penyakit tipus atau disentri, yang sangat lazim di jamanNya.

Penyakit-penyakit ini bisa mengakibatkan pendarahan usus bawah, tergantung pada letaknya. Penyakit-penyakit ini juga sesuai dengan sejarah dari penyakit awal Sang Buddha sepanjang masa vassa (retreat musim hujan). Tetapi penyakit-penyakit ini dapat dikesampingkan, karena pada umumnya penyakit-penyakit ini diikuti oleh gejala lain, seperti kelesuan, hilangnya selera makan, penurunan berat badan, busung atau buncit pada perut bagian bawah (abdomen). Tidak satupun gejala tersebut di sebutkan dalam sutta.

Wasir besar dapat menyebabkan pendarahan parah pada daerah pembuangan, tetapi sepertinya wasir mustahil dapat menyebabkan sakit yang sangat parah pada perut bagian bawah (abdomen) kecuali jika tersumbat. Tetapi hal itu akan sangat mengganggu perjalanan Sang Buddha ke rumah penjamuNya, dan jarang sekali pendarahan wasir disebabkan oleh makanan.


Mesenteric infarction

Penyakit yang sesuai dengan gejala-gejala yang yang telah dideskripsikan, yang disertai rasa sakit hebat pada perut bagian bawah (abdominal) dan mencret darah, umumnya ditemukan pada orang-orang usia lanjut, dan dipicu oleh makanan adalah mesenteric infarction (terganggunya jaringan pembuluh darah sekita usus), yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah di mesentery. Hal ini sangat mematikan. Ischaemia Mesenteric akut (berkurangnya suplai darah ke mesentery)adalah suatu kondisi yang parah dengan resiko kematian yang  tinggi.

Mesentery adalah bagian dari dinding usus yang mengikat  keseluruhan bidang usus sampai rongga abdominal. Terhambatnya suplai darah di sekitar usus biasanya menyebabkan kematian pada jaringan tisu di bagian besar dari saluran usus bagian akhir (intestinal tract), yang akan mengakibatkan luka sayatan pada dinding saluran usus bagian akhir.

Secara normal hal ini menghasilkan sakit yang teramat sangat pada perut bagian atas (abdomen) dan mencret darah. Pasien pada umumnya meninggal karena kekurangan darah yang sangat parah. Kondisi ini sesuai dengan informasi yang diberikan dalam sutta. Hal ini juga dikuatkan kemudiannya ketika Sang Buddha meminta Ananda untuk mengambil sedikit air untukNya untuk diminum, yang menandakan Beliau sangat haus.

Seperti yang dikisahkan, Ananda menolak, karena Ananda tidak menemukan sumber air bersih. Ananda berargumen dengan Sang Buddha bahwa aliran sungai yang terdekat telah dikeruhkan oleh rombongan kereta besar. Tetapi Sang Buddha meminta Ananda dengan tegas untuk mengambil air bagaimanapun juga.

Sebuah pertanyaan muncul pada poin ini: Mengapa Sang Buddha tidak pergi sendiri saja ke sumber air, daripada mendesak Ananda yang enggan untuk melakukannya ? Jawabannya sederhana. Sang Buddha  sedang menderita shock yang disebabkan oleh kehilangan banyak darah. Beliau tidak mampu berjalan lagi, dan dari saat itu sampai ke tempat peristirahatan terakhirNya Beliau hampir dapat dipastikan berada dalam tandu.

Jika situasinya memang demikian, sutta tidak mengisahkan tentang perjalanan Sang Buddha ke peristirahatan terakhirnya, kemungkinannya  karena si penulis merasa bahwa hal itu akan memalukan Sang Buddha. Secara geografis, kita mengetahui bahwa jarak antara tempat yang di percaya sebagai rumah Cunda dengan tempat dimana Sang Buddha mangkat adalah sekitar 15 sampai 20 kilometer. Tidaklah mungkin bagi seorang pasien penderita penyakit yang mematikan seperti itu untuk berjalan kaki dengan jarak seperti itu.

Lebih memungkinkan, apa yang terjadi adalah Sang Buddha dibawa dalam sebuah tandu oleh sekelompok bhikkhu ke Kusinara (Kushinagara).

Yang menjadi point perdebatan adalah apakah Sang Buddha benar-benar bertekad untuk mangkat di kota ini (Kusinara), mengingat bahwa kota ini diperkirakan tidak lebih besar dari dari sebuah kota kecil. Dari arah perjalanan Sang Buddha yang diberikan dalam sutta, Beliau menuju ke utara dari Rajagaha. Ada kemungkinan Beliau tidak berniat untuk mangkat di sana, tetapi di kota tempat kelahiranNya dimana membutuhkan waktu tiga bulan untuk sampai ke sana.

Dari sutta, sudah jelas bahwa Sang Buddha tidak mengantisipasi penyakit mendadakNya, jika tidak, Beliau tidak akan menerima undangan penjamuNya. Kusinara mungkin merupakan kota yang terdekat dimana Beliau bisa menemukan seorang dokter untuk merawat diriNya. Tidaklah sukar untuk membayangkan sekelompok bhikkhu dengan terburu-buru membawa Sang Buddha di atas sebuah tandu menuju ke kota yang terdekat untuk menyelamatkan hidupNya.

Sebelum mangkat, Sang Buddha menjelaskan kepada Ananda untuk tidak menyalahkan Cunda atas kemangkatanNya dan Beliau mangkat bukan disebabkan memakan Sukaramaddava. Pernyataan ini sangat penting. Makanan tersebut bukanlah penyebab secara langsung atas kemangkatanNya. Sang Buddha mengetahui bahwa gejala penyakit yang muncul merupakan  gejala yang pernah Beliau alami beberapa bulan lebih awal, yang telah hampir membunuhNya.

Sukaramaddava, apapun bahannya ataupun cara memasaknya, bukanlah penyebab langsung dari penyakit mendadakNya.


Tahapan perkembangan penyakit

Mesenteric infarction adalah suatu penyakit yang biasanya ditemukan di antara orang lanjut usia, disebabkan oleh penyumbatan pada  pembuluh darah utama yang menyuplai bagian tengah dinding saluran usus kecil bagian akhir dengan darah. Penyebab yang paling umum dari  penyumbatan ini adalah melemahnya dinding pembuluh darah (vessel), pembuluh darah besar mesenteric, yang menyebabkan sakit yang teramat sangat pada perut bagian atas (abdomen), yang juga dikenal sebagai abdominal angina (keram perut).

Secara normal, rasa sakit dipicu oleh makanan yang berat (besar), yang memerlukan aliran darah lebih tinggi ke saluran pencernaan. Ketika penyumbatan terjadi, saluran usus kecil kehilangan  persediaan darah nya , yang kemudian terjadi hambatan suplai darah, atau mati rasa setempat (gangrene), pada bagian saluran usus akhir (intestinal tract). Hal ini pada gilirannya mengakibatkan luka sayatan pada dinding saluran usus akhir, pendarahan yang sangat dalam pada saluran usus akhir, dan kemudian diare berdarah.

Penyakit menjadi tambah parah ketika cairan dan isi usus mengalir ke luar melalui rongga peritoneal, sehingga menyebabkan radang selaput perut atau radang dinding abdominal.

Ini sudah merupakan kondisi yang mematikan bagi si pasien, yang sering kali meninggal karena kehilangan darah dan cairan tubuh lainnya. Jika tidak diperbaikan dengan pembedahan, penyakit ini sering berkembang menjadi septic shock karena masuknya racun-racun bakteri ke dalam aliran darah.


Analisa Retrospektif (kebelakang)

Dari hasil diagnosa tersebut di atas, kita dapat lebih memastikan  bahwa  Sang Buddha menderita mesenteric infarction yang disebabkan oleh penyumbatan pada superior mesenteric artery. Inilah penyebab rasa sakit yang hampir saja merenggut ajal Beliau beberapa bulan lalu saat vassa (retret) musim hujan terakhirNya.

Dengan berkembangnya penyakit itu, sebagian dari selaput lender usus Beliau terkelupas, dan di sinilah yang menjadi menjadi asal muasal  pendarahan tersebut. Arteriosclerosis, pengerasan dinding pembuluh darah akibat penuaan, merupakan penyebab dari  tersumbatnya pembuluh darah, penyumbatan kecil yang tidak akan mengakibatkan diare berdarah, tapi merupakan gejala, yang juga kita kenal sebagai abdominal angina (keram perut).

Beliau mendapat serangan kedua ketika sedangan makan Sukaramaddava. Pada awalnya rasa sakit itu tidak begitu hebat, tapi membuat Beliau merasa ada yang sesuatu yang tidak beres. Mempertanyakan akan makanan itu, Beliau lalu meminta tuan rumah untuk menguburkan makanan itu sehingga yang lain tidak akan menderita karenanya. 

Segera, Sang Buddha menyadari bahwa penyakit itu serius, dengan adanya mencret darah yang disertai rasa sakit yang hebat pada bagian perut. Karena kehilangan banyak darah, Beliau mengalami shock. Tingkat dehidrasi atau kehilangan cairan darah sudah sedemikian parah sehingga Beliau tidak sanggup lagi mempertahankan diri dan harus berteduh di sebuah pohon di sekitar situ.

Merasa sangat haus dan kelelahan, Beliau meminta Ananda untuk pergi mengambilkan air untuk diminumNya, walaupun Beliau mengetahui bahwa airnya keruh. Di sanalah Beliau pingsan  sehingga rombongan pengiring Nya membawa Beliau ke kota terdekat, Kusinara, dimana ada peluang untuk menemukan dokter atau penginapan untuk memulihkan diriNya.

Mungkin benar Sang Buddha menjadi lebih baik setelah minum untuk menggantikan cairan tubuhNya yang hilang, dan beristirahat di atas tandu. Pengalaman dengan gejala-gejala yang sama memberitahukan Beliau bahwa penyakitNya yang tiba-tiba ituadalah serangan kedua dari penyakit yang sudah ada. Beliau memberitahukan Ananda bahwa bukan makanan itu sebagai penyebab penyakitNya, dan Cunda jangan di salahkan.

Pasien yang mengalami shock, dehidrasi, dan kehilangan banyak darah biasanya merasa sangat dingin. Inilah sebabnya Beliau meminta pengiringNya untuk menyiapkan pembaringan yang dialasi dengan empat lembar Sanghati. Sesuai dengan disiplin monastic Buddhist (Vinaya), Sanghati adalah selembar kain atau seprei, yang diijinkan oleh Sang Buddha utnuk dipakai oleh para bhikkhu dan bhikkhuni pada musim dingin.

Informasi ini mencerminkan betapa Sang Buddha merasa dingin karena kehilangan darahNya. Secara klinis, tidaklah memungkinkan bagi pasien yang sedang dalam keadaan shock dengan rasa sakit yang hebat di bagian perut, kemungkinan besar mengalami peritonitis atau peradangan pada dinding perut, pucat, dan sedang menggigil kedinginan, untuk bisa berjalan.

Kemungkinan terbesar Sang Buddha diistirahatkan di sebuah penginapan yang terletak di kota Kusinara, di mana Beliau dirawat dan diberi kehangatan. Pandangan ini juga sesuai dengan deskripsi tentang Ananda yang menangis, tidak sadarkan diri, dan berpegangan pada pintu penginapan setelah tahu Sang Buddha akan segera wafat.  

Secara normal,pasien yang menderita mesenteric infarction dapat hidup 10 sampai dengan 20 jam. Dari sutta kita tahu Sang Buddha wafat sekitar 15 sampai 18 jam setelah serangan itu. Selama jangka waktu itu, para pengiringNya telah mengusahakan upaya terbaik mereka untuk menyamankan Beliau, misalnya, dengan menghangatkan kamar istirahatNya, atau dengan meneteskan beberapa tetes air ke mulut Beliau untuk menghilangkan rasa hausNya yang terus-menerus, atau dengan memberikan Beliau minuman herbal. Namun kecil sekali kemungkinannya pasien yang sedang mengigil kedinginan akan membutuhkan seseorang untuk mengipasi diriNya sebagaimana yang dideskripsikan dalam sutta.   

Beliau mungkin silih berganti pulih dari kndisi kelelahan sehingga memungkinkan diriNya untuk melanjutkan pembicaraan dengan beberapa orang. Kebanyakan kata-kata terakhir Beliau kemungkinan benar adanya, dan kata-kata tersebut dihafal dari satu generasi bhikkhu ke generasi bhikkhu lainnya hingga ditranskripkan. Tapi pada akhirnya, di malam yang semakin larut, Sang Buddha wafat saat septic shock kedua menyerang. Penyakit Beliau berasal dari sebab-sebab yang alami ditambah usia lanjut, sebagaimana yang bisa menimpa siapa saja.


Kesimpulan

Hipotesisa yang secara garis besar di uraikan di atas menjelaskan beberapa kejadian dari kisah di dalam sutta, sebut saja, desakan agar Ananda pergi mengambilkan air, permintaan Sang Buddha agar tempat tidurnya dilapisi empat lembar kain, permintaan agar makanan itu dikubur, dan lain sebagainya.

Hipotesa ini juga menyingkap kemungkinan lain yaitu sarana transportasi yang digunakan oleh Sang Buddha untuk pergi ke Kusinara dan ranjang kemangkatanNya. Sukaramaddava, apapun sifat dasarnya, sepertinya bukanlah penyebab langsung dari penyakit Beliau. Sang Buddha wafat bukan karena keracunan mankanan. Melainkan, karena porsi makan, yang relatif terlalu besar untuk saluran pencernaanNya yang sudah bermasalah. Porsi makan inilah yang memicu serangan mesenteric infarction kedua yang mengakhiri hidupNya.   


-End-



*)Dr. Bhikkhu Mettanando adalah Bhikkhu Thailand yang telah mengajar meditasi selama lebih dari tiga puluh tahun. Beliau mendapatkan S1 untuk sains dan gelar dokter dari Universitas Chulalongkorn, Thailand, dan menguasai bahasa Sanskerta dan kebudayaan agama India kuno berkat gelas Master yang diperolehnya dari Universitas Oxford. Beliau juga mendapat gelar Master Theologi dari Havard Divinity School dan PhD. dari Universitas Hamburg, Jerman. Tesisnya difokuskan pada Meditasi dan Penyembuhan dari Tradisi Theravada di Thailand dan Laos. Saat ini mengajar Agama Buddha dan Meditasi di Universitas Chulalongkorn dan Universitas Assumption, juga aktif di bidang pengobatan alternatif dalam hospice and palliative care, dan mengajar etika medis pada dokter dan perawat Thailand maupun secara internasional. 


Judul asli: How Buddha Died
Oleh: Dr. Bhikkhu Mettanando
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com


 Dikutip dari : http://bhagavant.com/home.php?link=naskah_dhamma_article
 
Buddhisme di Mata Para Intelektual

BUDDHISME DI MATA PARA INTELEKTUAL

 

Daftar Isi Agama Buddha di Mata Para Intelek Dunia

Pengantar Penyusun
BAB 1 : SANG BUDDHA
BAB 2 : AGAMA BUDDHA
BAB 3 : MORALITAS
BAB 4 : TOLERANSI – KEDAMAIAN – CINTA KASIH
BAB 5 : KEDUDUKAN MANUSIA DALAM AGAMA BUDDHA
BAB 6 : JIWA / ROH
BAB 7 : AGAMA BUDDHA DAN ILMU PENGETAHUAN
BAB 8 : NIBBANA
BAB 9 : KEPERCAYAAN
BAB 10 : AGAMA BUDDHA DAN AGAMA – AGAMA LAINNYA
BAB 11: DUNIA DAN ALAM SEMESTA

 

Pengantar Penyusun

Buddhisme merupakan sebuah agama besar yang menerangi umat manusia lebih dari dua puluh lima abad yang lalu dan membebaskannya dari segala perbudakan dan praktik – praktik ketakhyulan . Buddhisme adalah suatu agama yang bersifat ilmiah . Buddha Gotama dewasa ini dipuja oleh setiap orang yang berbudaya dan berintelek, tidak peduli agama apapun yang mereka anut, sementara penemu sebagian besar agama lainnya hanya dipuja oleh para pengikutnya saja. Bukan hanya mereka – mereka yang menganut agama – agama tertentu, akan tetapi para pemikir bebas pun memuja Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna junjungan dunia ini. Dari kaca mata sejarah, tiada Guru lainnya yang pernah hidup di dunia ini yang telah memberikan begitu besar kebebasan religius dan juga hak menentukan keyakinan bagi umat manusia. Sebelum munculnya Sang Buddha, agama hanya dimiliki dan dimonopoli oleh suatu kelompok tertentu dari masyarakat. Sang Buddha adalah Guru dalam sejarah yang membuka pintu gerbang agama bagi setiap orang di masyarakat dengan tanpa membeda – bedakan atau diskriminasi. Sang Buddha telah menasihati siswa – siswaNya untuk melatih dan mengembangkan kekuatan laten manusia serta menunjukan bagaimana cara terbaik untuk menggunakan kekuatan – kekuatan dan kecerdasannya tanpa harus menjadi budak / hamba dari suatu mahluk yang tak dikenal, untuk mendapatkan suatu kebahagiaan abadi yang Beliau umumkan kepada dunia melalui pengalamanNya sendiri dan bukan melalui teori – teori, kepercayaan – kepercayaan maupun praktik – praktik tradisional. AjaranNya adalah sedemikian rupa sehingga siapa saja dapat mempraktikannya tanpa menyandang merek agama tertentu. Untuk menyusun buku ini, saya telah menyeleksi berbagai pernyataan yang dibuat oleh para filsuf, sarjana, sejarawan, ilmuwan, penulis, pemuka agama, reformis sosial dan politisi yang terkenal bagi dunia modern ini sebagai orang – orang yang sangat intelek. Di antara mereka banyak terdapat orang – orang non-Buddhis serta para pemikir bebas. Menurut mereka, Buddhisme adalah agama yang paling praktis dan rasional yang akan menarik perhatian ilmu pengetahuan dan yang sungguh – sungguh dapat merupakan suatu pelajaran yang lebih baik bagi manusia jika para penganutnya mempraktikkan agama dengan semestinya. Oleh karena itu, adalah suatu kegembiraan yang besar bagi saya dapat mempersembahkan kutipan – kutipan berharga yang disarikan dari berbagai buku dan artikel. Apapun pendapat mereka yang telah menempatkan Buddhisme pada tempat teratas di bidang agama, penyusun buku ini tidak bermaksud untuk mengecilkan arti kepercayaan agama lainnya, karena ide penerbitan ini tidaklah untuk menunjukkan superioritas agama Buddha terhadap agama – agama lainnya, tapi sebaliknya untuk menggambarkan pandangan – pandangan dengan tanpa memihak yang dikemukakan oleh berbagai kalangan intelektual. Seluruh judul dari pernyataan – pernyataan di dalam buku ini adalah diberikan oleh penyusun.


Penyusun :

 

K. Sri Dhammananda
25-11-1992 ( B.E.2536 )

 

 

BAB 1 Sang Buddha


Kebesaran Sang Buddha
Saya sendiri tidak dapat merasakan bahwasanya, baik dalam hal kebijaksanaan maupun dalam hal kebajikan, Kristus berdiri sama tinggi dengan sejumlah orang lainnya yang dikenal sejarah –saya pikir saya semestinya menempatkan Sang Buddha di atas Kristus dalam kedua hal tersebut.
--(Bertrand Russell, “Why I am not a Christian”)

Perwujudan Kebajikan
Sang Buddha merupakan perwujudan dari seluruh kebajikan yang telah Beliau babarkan. Selama 45 tahun pembabaran DhammaNya yang sukses dan diwarnai berbagai peristiwa, Beliau menerjemahkan semua kata – kataNya ke dalam tindakan nyata; dan tiada celah sedikit pun yang disediakan bagi munculnya bebagai nafsu keinginan rendah. Aturan kemoralan dari Sang Buddha adalah yang paling sempurna yang pernah dikenal oleh dunia.
--(Prof. Max Muller, sarjana Jerman)

Bunga Pohon Kemanusiaan
Inilah sang bunga yang tumbuh pada pohon kemanusiaan kita, Yang bermekaran beribu – ribu tahun, dan merekahnya, memenuhi dunia dengan harumnya kebijaksana-an dan tetesan madu cinta kasih.
--(Sir Edwin Arnold, “Light Of Asia”)


Sang Buddha Lebih Bersesuaian Dengan Kita
Anda melihat dengan jelas seorang manusia, sederhana, penuh bakti, menyendiri, berjuang untuk mencapai pencerahan, suatu pribadi manusia yang begitu hidup, bukan suatu mitos. Di dalam aneka ragam kisah yang menakjubkan, saya merasa bahwa disana juga terdapat seorang manusia. Beliau juga, menyampaikan suatu pesan yang bersifat universal dalam karakter kepada umat manusia. Banyak ide modern terbaik kita yang sangat bersesuaian dengan pesannya itu. Ia mengajarkan bahwa semua kesengsaraan dan ketidakpuasan hidup adalah disebabkan oleh sifat mementingkan diri sendiri. Sifat ini mempunyai tiga bentuk --pertama, keinginan untuk memuaskan kelima indera; kedua, keinginan untuk hidup selamanya; dan ketiga, keinginan untuk memperoleh kemakmuran dan kenikmatan duniawi. Sebelum seseorang dapat menjadi tenang dan damai, ia harus menghentikan hidup demi memuaskan indera – inderanya atau dirinya sendiri. Setelah itu ia lebur menjadi suatu mahluk agung. Sang Buddha lima ratus tahun sebelum Kristus lahir, dengan bahasa yang berbeda mengajarkan bersesuaian dengan kita dan kebutuhan – kebutuhan kita. Sang Buddha lebih nyata dan mudah dipahami daripada Kristus, perihal dengan pentingnya diri kita dalam pelayanan, serta perihal mengurangi keraguan atas pertanyaan tentang pribadi yang kekal / roh abadi.
--(HG. Wells)

Manusia Termulia
Bila anda ingin menjumpai seorang manusia yang paling mulia, tengoklah seorang raja dalam pakaian pengemis; Dialah orang yang paling suci di antara manusia.
--(Abdul Atahiya, Seorang Penyair Muslim)

Metode Sang Buddha
Jika suatu pertanyaan harus dipertimbangkan, ia harus dipertimbangkan dengan tenang dan demokratis seperti cara yang diajarkan oleh Sang Buddha.
--(Nehru)

Orang gila dan Orang Waras
Perbedaan antara seorang Buddha dengan seorang biasa ialah seperti perbedaan antara orang waras dengan orang gila.
--(Seorang penulis)

Pujian Bagi Sang Buddha
Sang Buddha dengan mudah dipilih sebagai satu – satunya orang yang dikenal oleh manusia yang menerima pujian dari begitu banyak umat manusia.
--(Prof. Saunders, Literary secretary YMCA, India, Myanmar, Ceylon)


Pesan Sang Buddha
Sang Buddha merupakan sesuatu yang lebih hebat / besar daripada segala doktrin maupun dogma, dan pesan abadiNya telah menggetarkan umat manusia sepanjang masa. Barangkali pesanNya tentang perdamaian lebih dibutuhkan bagi umat manusia yang sengsara dan kacau sekarang ini, daripada pada masa sejarah yang lampau.
--(Nehru)

Sangkalan dari Sang Buddha
Jika misalnya kita bertanya, apakah posisi elektron itu tetap sama, kita harus mengatakan ‘tidak’; bila kita bertanya apakah posisi electron itu berubah bersama waktu, kita harus mengatakan ‘tidak’; jika kita bertanya apakah ia dalam keadaan bergerak, kita harus mengatakan “tidak”. Sang Buddha telah memberikan jawaban yang serupa ketika ditanya tentang keadaan diri / jiwa seseorang setelah ia mati; akan tetapi jawaban tersebut tidak dikenal oleh tradisi sains abad ketujuh belas dan kedelapan belas.
--(J.Robert Oppenheimer)

Kita Terkesan oleh Semangat RasionalitasNya 
Ketika kita membaca khotbah – khotbahNya, kita terkesan oleh semangat rasionalitasNya. Jalan etika Sang Buddha yang pertama ialah pandangan / pengertian benar, suatu pandangan yang rasional. Beliau berusaha menyingkirkan segala perangkap yang merintangi pandangan / penglihatan manusia terhadap dirinya serta nasibnya.
--(Dr. S. Radhakrishnan, “Gautama The Buddha”)

Kepala Dingin dan Hati Penuh Kasih
Hal yang paling menarik perhatian dari Sang Buddha adalah perpaduan yang unik dari suatu kepala dingin yang ilmiah dan suatu hati yang hangat penuh cinta kasih dan rasa simpati yang dalam. Dunia dewasa ini semakin dan semakin berpaling kepada Sang Buddha karena Beliau sendiri menggambarkan suara hati dari umat manusia.
--(Moni Bagghee, “Our Buddha”)

Jenius Filosofis
Sang Buddha adalah seorang pelopor yang mencintai umat manusia, dan suatu kejeniusan filosofis mengalir ke dalam suatu kepribadian yang penuh semangat dan bercahaya. Ia memiliki sesuatu untuk disampaikan yaitu bahwa tiada pria atau wanita, setelah 2500 tahun hilir mudik bersibuk diri dan berceloteh tentang sumber pengetahuan, dapat menghalau kebodohan. Yang lebih besar dari kebijaksanaanNya, barangkali, adalah keteladanan yang dilakoniNya.
--(Moni Bagghee, “Our Buddha”)

Ia tidak berbicara tentang "dosa"
Ketenangan batin dan cinta kepada semua makhluk sangat ditekankan oleh Sang Buddha. Ia tidak berbicara tentang "dosa", tapi hanyalah tentang ketidaktahuan dan kebodohan yang dapat dilenyapkan dengan pencerahan dan simpati.
--(Dr. S. Radhakrishnan, “Gautama The Buddha”)

Sang Buddha Laksana seorang Dokter
Sang Buddha adalah mirip seorang dokter. Sama halnya seperti seorang dokter yang harus mengetahui diagnosa dari berbagai jenis penyakit, sebab – sebabnya, obatnya dan penyembuhannya, serta harus mampu mengaplikasikannya; demikian pula halnya Sang Buddha telah mengajarkan Empat Kesunyataan Mulia yang menunjukkan derita, sumbernya, akhir derita, serta jalan menuju akhir derita.
--(Dr. Edward Conze, “Buddhism”)

Sang Buddha untuk Semua Umat manusia
Sang Buddha bukanlah merupakan milik umat Buddha saja. Beliau adalah milik semua umat manusia. AjaranNya adalah umum untuk setiap orang. Setiap agama yang muncul sesudah masa Sang Buddha, telah meminjam banyak ide – ide bijak dari Beliau.
--(Seorang Sarjana Muslim)

Seorang Ayah yang Bijak
Sang Buddha adalah seseorang yang melihat anak – anaknya sedang bermain – main menikmati api kesenangan duniawi, dan menggunakan berbagai cara yang bijaksana untuk membawa mereka ke luar dari rumah yang sedang terbakar ini serta menuntun mereka ke tempat yang aman, Nibbana.
--(Prof. Lakshimi Narasu, “The Essense of Buddhism”)

Buddha adalah Sang Jalan
Saya semakin dan semakin merasakan bahwa Sakyamuni adalah yang paling serasi, baik dalam karakter maupun pengaruh dalam diriNya, Ia yang merupakan Sang Jalan, Sang Kebenaran, dan Sang Kehidupan.
--(Bishop Milman)


Sang Mentari yang Cemerlang
Di dunia yang penuh badai dan pertengkaran, kebencian dan kekerasan, pesan Sang Buddha bersinar laksana sang mentari nan cemerlang. Barangkali pesan tersebut tak pernah lebih dibutuhkan daripada di dunia zaman bom Atom dan Hidrogen ini. Dua ribu lima ratus tahun adalah semata – mata telah menambah vitalitas dan kebenaran dari pesan tersebut. Marilah kita mengingat pesan abadi itu dan mencoba membentuk pikiran – pikiran dan perbuatan – perbuatan kita di dalam terangnya ajaran tersebut. Kita bahkan mungkin dapat menghadapi dengan batin yang penuh keseimbangan, teror – teror dari zaman bom Atom ini dan menolong beberapa orang dalam mengembangkan pikiran benar dan perbuatan benar.
--(Nehru)

Manusia Terbesar Yang Pernah Lahir
Inilah suatu ajaran yang dapat kita ikuti dengan penuh keyakinan. Dalam dunia aneka ragam agama, pemujaan – pemujaan serta kepercayaan – kepercayaan, di manakah dapat kita temukan seorang guru yang demikian sempurna? Di antara taburan bintang – bintang, Beliau adalah sebuah raksasa dari rangkaian yang terbesar. Tidak begitu mengherankan bahwasanya para ilmuwan, filsuf, dan para sastrawan telah memproklamasikannya sebagai “manusia terbesar yang pernah lahir”. Cahaya dari guru besar ini menembus dunia yang penuh derita dan kegelapan, laksana cahaya mercusuar yang menuntun dan menerangi umat manusia.
--(Seorang Penulis Eropa)

 

BAB 2 Buddhisme

Ajaran Dasar dari Sang Buddha
Kelembutan, ketenangan, belas kasih, dengan pembebasan dari kemelekatan dan keakuan –inilah ajaran dasar dari agama besar dari Timur, Buddhisme.
--(E.A. Burtt, “The Compassionate Buddha”)

Jembatan yang Kokoh
Buddha Dharma laksana sebuah jembatan yang dibangun kokoh dari baja fleksibel, ia hanya sedikit memberi pengaruh terhadap angin dan air, ia menyesuaikan diri terhadap keadaan – keadaan yang berubah, tapi pada saat yang sama ia memiliki pondasi – pondasi yang aman dan menawarkan suatu jalan aman menuju ke Alam Tanpa – Kematian, ke Nibbana.
--(Phra Khantipalo, “Tolerance”)

Membangunkan Nurani Manusia
Memang dunia Timur yang misterius, ibu yang subur dari agama – agama, telah memberikan kita melalui Buddhisme suatu penyingkapan (dari rahasia semesta) yang sejati, karena ia memberitahukan kita tentang keindahan dan kesucian moral, yang terbaring jauh di dalam sifat manusia yang tidak memerlukan makhluk (dewa) lainnya selain yang ada dalam nurani manusia untuk membangunkannya menuju kemulia-an hidup.
--(Charles T. Gorham)

Tidak Ada yang Melebihi Agama Buddha
Sebagai umat Buddha atau bukan umat Buddha, saya telah memeriksa setiap sistem agama – agama besar di dunia ini, dan tidak ada sesuatu pun di dalam agama – agama itu saya temukan yang melebihi, keindahan dan kesempurnaan dari Jalan Mulia Berunsur Delapan serta Empat Kesunyataan Mulia dari Sang Buddha. Saya merasa puas menyesuaikan kehidupan saya menurut jalan tersebut.
--(Prof. Rhys Davids)

Buddhisme Tidak Menuntun kita ke Surga Orang Dungu 
Buddhisme adalah agama yang realistis, karena ia menganut suatu pandangan yang realistis tentang kehidupan dan dunia ini. Ia tidak secara salah menarik kita untuk hidup ke dalam surga seorang dungu, pun ia tidak menakut – nakuti dan menyiksa kita dengan segala macam rasa takut dan rasa dosa yang khayal. Ia secara tepat dan obyektif menyatakan siapa / apa sesungguhnya diri kita dan dunia di sekeliling kita, serta menunjukkan kita jalan menuju kebebasan, kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan yang sempurna.
--(Ven. Dr. W. Rahula)

Misi Sang Buddha
Misi Sang Buddha benar – benar unik dalam sifatnya, karena itu ia berdiri jauh terpisah dari banyak agama – agama lainnya di dunia. Misinya adalah untuk menggiring burung – burung idealisme yang sedang terbang melayang di angkasa untuk lebih mendekat ke bumi karena makanan bagi tubuh – tubuh mereka adalah milik sang bumi.
--(Hazrat Inayat Khan, “The Sufi Message”)

Suatu Agama Kosmis
Agama masa depan akan merupakan suatu agama kosmis. Ia harus melampaui suatu ‘Tuhan yang berpribadi’ dan menghindari dogma – dogma dan teologi. Meliputi baik hal yang bersifat natural maupun spiritual, ia harus berdasarkan pada pengertian religius yang timbul dari pengalaman berbagai hal, yang natural dan spiritual, sebagai suatu kesatuan yang berarti. Buddhisme memenuhi penjabaran ini.
--(Albert Einstein)

Agama Buddha Tetap Tidak Akan Terpengaruh
Dokrin Buddha Dhamma yang ada dewasa ini tidak terpengaruh oleh perjalanan waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan, dan masih tetap seperti ketika petama kali Ia ucapkan. Tidak peduli seberapa jauh pengetahuan ilmiah dapat memperluas cakrawala mental seseorang, di dalam kerangka kerja Dhamma terdapatlah ruang untuk penerimaan dan asimilasi terhadap penemuan yang lebih jauh / baru. Ia tidak bergantung kepada konsep – konsep terbatas dari pikiran – pikiran yang primitif / kuno juga tidak pada kekuatan pikiran yang negatif.
--(Francis story, “Buddhisme as World Religion”)

Agama yang Gembira / Ceria 
Buddhisme sama sekali bertentangan dengan sikap mental yang murung, sendu, penuh penyesalan, dan pesimis, yang dipandang sebagai perintang menuju perealisasian Kebenaran. Sebaliknya, menarik sekali untuk diingat di sini bahwa kegembiraan merupakan salah satu dari tujuh “Faktor Pencerahan”, kualitas penting yang harus dikembangkan untuk perealisasian Nibbana.
--(Ven. Dr. W. Rahula, “What the Buddha Taught”)

Tantangan bagi Agama – agama Lainnya
Memang benar bahwa Buddhisme seperti yang kita temukan benar – benar tercatat, bukanlah merupakan suatu sistem hipotesis kuno, yang masih tetap merupakan tantangan bagi agama – agama lainnya.
--(Bishop Gore, “Buddha and the Christ”)

Tidak ada Asumsi dalam Agama Buddha
Adalah suatu kemuliaan dari Buddhisme bahwasanya ia menjadikan pencerahan intelektual sebagai syarat utama dari keselamatan. Dalam Buddhisme, moralitas dan pencerahan intelektual adalah tak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Moralitas adalah membentuk dasar bagi kehidupan yang lebih tinggi, sedangkan pengetahuan dan kebijaksanaan melengkapinya. Tanpa pemahaman yang sempurna terhadap hukum sebab akibat dan penjelmaan (pratityasamutpada), tak seorang pun dapat dikatakan sungguh – sungguh bermoral bila ia tidak memiliki pemahaman / pengertian dan pengetahuan yang semestinya. Dalam hal ini Buddhisme berbeda dengan semua agama lainnya. Semua agama monoteistik diawali dengan asumsi – asumsi tertentu, dan bilamana asumsi – asumsi ini bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ia menambah kesengsaraan. Akan tetapi Buddhisme tidak diawali oleh asumsi – asumsi. Ia berdiri di atas batu karang yang tegar dari fakta – fakta, dan karena itu tidak pernah menghindari cahaya kering dari pengetahuan.
--(Prof. Lakhsmi Narasu, “The Essence of Buddhism”)

Buddha Melihat Lebih Dalam daripada Kaum Idealis Modern
Gautama menghalau kegelapan dari bayang – bayang suatu eksistensi yang kekal dengan suatu penjelajahan metafisik yang sangat menarik perhatian para siswa filsafat, yang melihat bahwa hal itu melengkapi separuh argumen yang kurang dari Bishop Berkey, seorang idealis terkenal. Hal ini merupakan suatu
indikasi yang mencengangkan dari perenungan yang amat halus dari orang India bahwasanya Gautama telah melihat lebih dalam daripada kaum idealis modern terbesar. Kecenderungan dari pencerahan pikiran sekarang ini di seluruh dunia bukanlah pencerahan terhadap teologi, tetapi terhadap filsafat dan psikologi. Gonggongan dari dualisme teologis sedang menyimpang menuju bahaya. Prinsip – prinsip fundamental tentang evolusi dan monisme mulai dapat diterima oleh para pemikir.
--(Prof. Huxley, “Evolution And Ethics”)

Revolusi Religius
Dua puluh lima abad yang lalu India menyaksikan suatu revolusi intelektual dan religius yang berpuncak pada runtuhnya monoteisme, keegoisan yang berkenaan dengan kependetaan, serta pendirian suatu agama sintetis, dengan suatu sistem pencerahan dan pandangan yang dengan tepatnya disebut Dhamma, Agama Filosofis.
--(Anagarika Dharmapala, “The World’s Debt to Buddha”)

Suatu Rencana untuk Menjalani Hidup 
Buddhisme merupakan sebuah rencana untuk menjalani hidup dalam jalan sedemikian rupa untuk memperoleh manfaat / keuntungan yang setinggi – tingginya dari kehidupan. Ia merupakan suatu agama kebijaksanaan dimana pengetahuan dan kecerdasan lebih berperan. Sang Buddha berkhotbah bukan untuk mendapatkan pengikut – pengikut baru, tapi untuk menerangi para pendengarnya.
--(Seorang Penulis Baru)

Datang dan Buktikan 
Buddhisme adalah selalu merupakan pertanyaan tentang pengetahuan dan pembuktian; bukan tentang kepercayaan. Ajaran Sang Buddha memenuhi syarat sebagai Ehi-Passiko, mengundang anda untuk datang dan membuktikan, bukannya datang dan percaya.
--(Ven. Dr. W. Rahula, “What the Buddha Taught”)

Agama bagi Manusia 
Buddhisme akan tetap bertahan sepanjang sang mentari dan sang rembulan masih ada dan bangsa manusia masih ada di Bumi ini, karena ia adalah agama bagi manusia, bagi umat manusia sebagai suatu keseluruhan.
--(Bandaranaike, Mantan P.M. Srilanka)

Umat Buddha bukanlah Budak Siapa – siapa
Seorang umat Buddha bukanlah merupakan budak dari sebuah buku ataupun dari seseorang. Tapi juga bukan dengan mengorbankan kebebasannya dalam berpikir hanya karena ia menjadi seorang pengikut Sang Buddha. Ia dapat melatih keinginannya yang bebas dan mengembangkan pengetahuannya bahkan hingga dirinya sendiri mencapai tingkat kebuddhaan, karena semua orang memiliki benih – benih kebuddhaan.
--(Ven. Narada Maha Thera, ‘What is Buddhism’)

Hidup dengan Prinsip 
Buddhisme mengajarkan suatu kehidupan bukan dengan perintah, tetapi dengan prinsip, suatu kehidupan yang indah; dan sebagai konsekuensinya, ia merupakan suatu agama yang penuh toleransi. Ia adalah sistem yang paling penuh toleransi di kolong langit ini.
--(Rev. Joseph Wain)

Buddhisme akan Tetap Bertahan 
Buddhisme akan tetap bertahan seperti apa adanya meskipun bila seandainya dibuktikan kalau Sang Buddha itu tidak pernah hidup.
--(Christmas Humphreys, “Buddhism”)

Problem Modern
Membaca mengenai Buddhisme adalah untuk menyadari bahwa umat Buddha itu mengetahui -- pada dua ribu lima ratus tahun yang lalu --, jauh lebih banyak tentang problem – problem psikologi modern daripada setelah mereka diakui. Mereka mempelajari masalah – masalah ini jauh di waktu yang lampau dan mereka telah menemukan pula jawaban – jawabannya.
--(Dr. Graham Howe)

Latihan Pikiran
Dewasa ini kita mendengar banyak sekali tentang kekuatan pikiran, tapi Buddhisme adalah suatu sistem latihan pikiran yang paling lengkap dan efektif yang tersedia hingga kini bagi dunia ini.
--(Dudley Wright)

Bangsa Baru
Sang Buddha menciptakan suatu bangsa manusia baru, suatu bangsa dari para pahlawan moral, suatu bangsa dari para pekerja – keselamatan, suatu bangsa dari para Buddha.
--(Manmatha Nath Sastri)

Pembabar (misionaris) yang Pertama 
Buddhisme adalah agama misionaris yang pertama dalam sejarah kemanusiaan dengan suatu pesan keselamatan yang universal bagi semua umat manusia. Sang Buddha setelah mencapai Pencerah-an / Penerangan Sempurna, mengutus enam puluh satu siswaNya ke berbagai arah yang berlainan dan meminta mereka untuk membabarkan Dhamma demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia.
--(Dr. K .N. Jayatilleke, “Buddhism and Peace”)

Tiada Paksaan bagi Umat Baru
Bagaimanapun juga, tidak pernah cara Buddhis itu untuk menarik masuk pengikut baru dalam artian memaksakan ide – ide dan keyakinannya terhadap para pendengar yang enggan, sedikit ataupun banyak dengan menggunakan berbagai tekanan atau berbagai bujukan, penipuan, penyesatan, untuk mendapatkan pengikut terhadap pandangan seseorang. Para misionaris Buddhis tidak pernah berlomba untuk mendapatkan pengikut baru.
--(Dr. G. P. Malalasekara)

Fakta Realitas yang Terakhir
Di sini adalah perlu untuk diberikan perhatian kepada sifat unik lainnya dari Buddhisme, yakni bahwa ia adalah satu – satunya agama dari seorang guru agama, yang merupakan hasil dari filosofi yang konsisten, yang dengan tegas memberitahukan kita mengenai fakta kehidupan dan realitas yang terakhir. Buddhisme adalah suatu pedoman hidup yang dihasilkan dari penerimaan terhadap pandangan tentang kehidupan, yang dikatakan sebagai kenyataan yang sesungguhnya. Filsafatnya bukanlah tanpa memperhitungkan sifat alamiah dari pengetahuan.
--(Dr. K. N. Jayatilleke,”Buddhism and Peace”)

Tiada Fanatisme
Dalam Buddhisme sendiri dapat diyakini bahwa ia bebas dari segala fanatisme. Tujuan Buddhisme adalah untuk menghasilkan suatu perubahan internal / di dalam diri setiap orang yang menyeluruh dengan suatu penaklukan diri, karena itu bagaimana mungkin ia menggunakan kekuasaan atau uang atau bahkan bujukan untuk suatu pencarian penganut baru yang efektif? Sang Buddha telah menunjukan jalan menuju keselamatan, dan jalan tersebut diserahkan kepada tiap- tiap individu untuk menentukan apakah mereka sendiri akan mengikuti jalan tersebut atau tidak.
--(Prof. Lakshmi Narasu, “The Essence of Buddhism”)

Buddhisme dan Kepercayaan Lainnya 
Buddhisme bagaikan telapak tangan, sedangkan agama – agama lainnya sebagai jemarinya.
--(The great Khan Mongka)

Buddhisme Bukanlah suatu Agama yang Melankolik
Sebagian orang berpikir bahwa Buddhisme adalah suatu agama yang suram dan melankolik / sendu. Ia tidaklah demikian; ia akan membuat penganut – prnganutnya menjadi cerah dan gembira. Apabila kita membaca kisah – kisah kelahiran Bodhisatva, Buddha yang akan datang, kita mempelajari bagaimana Beliau mengembangkan kesempurnaan kesabaran dan pengendalian diri. Hal ini akan membantu kita untuk menjadi gembira meskipun kita sedang berada di tengah – tengah kesulitan – kesulitan besar, dengan merasa senang terhadap kesejahteraan orang lain.
--(Ven. Gnanatiloka, seorang Sarjana Buddhis berkebangsaan Jerman)


Buddhisme dan Kesejahteraan Sosial
Mereka yang berpikir bahwa Buddhisme hanya tertarik pada kesempurnaan – kesempurnaan yang mulia, moralitas yang tinggi, pemikiran yang filosofis, dan mengabaikan berbagai kesejahteraan sosial dan ekonomi manusia, itu adalah keliru. Sang Buddha menaruh perhatian pada kebahagiaan manusia. BagiNya kebahagiaan tidaklah mungkin tanpa menapaki suatu kehidupan suci yang didasari atas prinsip – prinsip moral dan spiritual. Akan tetapi Beliau tahu bahwa menjalani kehidupan semacam itu adalah sulit dalam kondisi – kondisi sosial dan material yang tidak menguntungkan. Buddhisme tidak menganggap kesejahteraan materi sebagai suatu akhir; ia hanyalah suatu alat untuk mencapai tujuan akhir --suatu akhir yang lebih tinggi dan lebih mulia. Akan tetapi ia merupakan suatu sarana yang tak bisa ditawar, tak bisa ditawar dalam hal pencapaian suatu tujuan yang lebih tinggi bagi kebahagiaan manusia. Oleh karena itu Buddhisme mengenal syarat kebutuhan materi minimum yang menguntungkan bagi suksesnya latihan spiritual --bahkan bagi seorang Bhikkhu yang berlatih meditasi di suatu tempat terpencil sekalipun.
--(Ven. Dr. W. Rahula, “What The Buddha Taught”)

Teladan dari Asoka 
Lihatlah Buddhisme, dan anda akan membaca bahwa Asoka tidak hanya berkhotbah tentang suatu moralitas yang luhur, tetapi mempraktikkan kekuasaan kerajaannya dalam suatu cara yang membuat malu pemerintahan – pemerintahan modern kita dari kepercayaan – kepercayaan lainnya.
--(Geoffrey Mortimer, Seorang Penulis Barat)

Dhamma adalah Sang Hukum
Seluruh ajaran dari Sang Buddha dapat diringkas ke dalam satu kata : “Dhamma”. Hukum tentang kebajikan / keadilan ini, tidak hanya ada di dalam hati manusia akan tetapi ia juga ada di seisi alam semesta. Seluruh semesta adalah
perwujudan atau penyingkapan dari Dhamma. Hukum - hukum alam yang telah ditemukan oleh sains modern adalah merupakan penyingkapan dari Dhamma. Bila Bulan timbul dan tenggelam, hal ini dikarenakan oleh Dhamma, karena Dhamma adalah hukum yang terdapat di alam semesta yang membuat benda – benda bereaksi menurut cara – cara yang dipelajari di dalam ilmu fisika, kimia, zoologi, botani, dan astronomi. Dhamma ada di alam semesta sama seperti halnya Dhamma ada di dalam hati manusia. Jika seseorang mau hidup dengan Dhamma, ia akan terhindar dari kesengsaraan dan mencapai Nibbana.
--(Ven. A. Mahinda)

Penganiayaan
Dari agama – agama besar dalam sejarah, saya lebih menyukai Buddhisme, khususnya dalam bentuknya yang paling awal, karena Buddhisme memiliki paling minim unsur penganiayaan.
--(Bertrand Russel)

Penghargaan terhadap Buddhisme
Meskipun seseorang semula mungkin tertarik oleh keasingan / keterpencilannya, ia dapat menghargai nilai yang sejati dari Buddhisme hanya bila ia menilainya dari hasil yang ditimbulkan Buddhisme dalam kehidupannya dari hari ke hari.
--(Dr. Edward Conze, Seorang Sarjana agama Buddha Barat)

Pengetahuan adalah Kunci bagi Jalan yang Lebih Tinggi
Tanpa kesenangan inderawi akankah hidup dapat terus bertahan? Tanpa percaya akan keabadian / kekekalan dapatkah manusia menjadi bermoral? Tanpa menyembah suatu Tuhan dapatkah manusia maju menuju ke kebajikan? Dapat, jawab Sang Buddha. Akhir / tujuan ini dapat dicapai dengan pengetahuan; pengetahuan adalah kunci menuju jalan yang lebih tinggi, sesuatu yang berharga untuk dikejar dalam hidup ini; pengetahuan adalah sesuatu yang mendatangkan ketenangan dan kedamaian dalam hidup ini, hal mana menjadikan seseorang tidak merasa cemas terhadap badai – badai dari dunia yang penuh fenomena ini.
--(Prof. Karl Pearson)

Umat Buddha yang Beruntung
Betapa beruntungnya umat Buddha yang rendah hati, yang tidak mewarisi buah pikiran yang keliru tentang keadaan dari berbagai kitab suci yang tidak bisa disalahkan (selalu dianggap benar) sejak zaman yang permulaan sekali.
--(Ven. Prof. Ananda Kaushalyayana)

Buddhisme dan Upacara Keagamaan
Dengan demikian, Buddhisme adalah suatu agama personal, dan terdapat sedikit ruang didalamnya bagi upacara ritual dan keagamaan. Suatu perbuatan yang dilakukan dengan perenungan tentang dirinya sendiri, akan mengkondisikan berhentinya upacara keagamaan. Sebagian besar yang kelihatannya seperti upacara keagamaan dari Buddhisme dewasa ini, bila dipandang secara demikian sesungguhnya bukan merupakan upacara – upacara keagamaan.
--(Dr. W. F. Jayasuriya, “The Psychology and Philosophy of Buddhism”)

Sang Penyelamat
Jika Sang Buddha akan disebut sebagai seorang “Juru Selamat” yang sepenuhnya, hal ini hanya dalam artian bahwa Beliau menemukan dan menunjukkan Jalan menuju Pembebasan, Nibbana. Tapi diri kita sendirilah yang harus menapaki Sang Jalan itu.
--(Dr. W. Rahula, “What The Buddha Taught”)

Tanpa Paksaan
Memaksa seseorang untuk percaya dan menerima suatu hal tanpa pengertian adalah berkenaan dengan sifat politik, bukannya bersifat spiritual ataupun intelektual.
--(Dr. W. Rahula, “What The Buddha Taught”)

Menghormati Agama – Agama Lainnya
Seseorang seharusnya tidak hanya menghormati agamanya sendiri dan menyalahkan agama – agama orang lain, melainkan ia harus menghormati agama – agama orang lain karena berbagai alasan. Dengan berlaku demikian, seseorang telah membantu perkembangan agamanya sendiri dan juga memberikan pelayanan kepada agama – agama orang lain. Bila bertindak sebaliknya, ia menggali lubang kubur bagi agamanya sendiri dan juga membahayakan agama – agama lainnya. Siapa saja yang menghormati agamanya sendiri dan menyalahkan agama – agama lainnya, itu dilakukan karena bakti terhadap agamanya sendiri, dengan berpikir bahwa “Aku akan memuliakan agamaku sendiri”. Akan tetapi sebaliknya, dengan berbuat demikian ia semakin dalam melukai agamanya sendiri. Karenanya kerukunan adalah baik. Mari kita semua mendengarkan, dan dengan ikhlas mendengarkan ajaran – ajaran yang dianut orang lain.
--(Raja Asoka)

Kemuliaan yang Sejati
Suatu agama atau suatu pedoman hidup dinilai tidak hanya dari kebenaran yang dinyatakannya, tapi juga dari perubahan yang ditimbulkannya dalam kehidupan para penganutnya. Sebegitu jauh bila pengujian ini diterapkan, Buddhisme memiliki rekor pencapaian – pencapaian dalam mana kita dapat memperoleh suatu kemuliaan yang sejati.
--(D. Valisinha, Sekjen Maha Bodhi Society, “Buddhist way of life”)

Keadaan Bawah Sadar (unconsciousness)
Dapat juga dikatakan bahwa India menemukan keadaan bawah sadar lebih dulu dibandingkan dengan para psikolog Barat. Bagi mereka, keadaan bawah sadar itu terdiri atas keseluruhan kesan – kesan yang mengendap di dalam individu sebagai warisan dari kehidupannya yang sebelumnya / terdahulu. Oleh karena itu, teknik Meditasi Buddhis, yang berkaitan dengan kekuatan – kekuatan laten tersebut, merupakan suatu pendobrak / pendahulu bagi psikoanalisis modern, bagi latihan mental autogenik, dan lain – lain.
--(Prof. Von Glasenapp, Seorang Sarjana Jerman)

Analisa Rasional
Buddhisme merupakan satu – satunya agama besar di dunia ini yang secara sadar dan terus terang berlandaskan kepada suatu analisa rasional yang sistematis terhadap problem – problem kehidupan serta jalan pemecahannya.
--(Moni Bagghee, “Our Buddha”)

Musuh Agama
Cuma ada sedikit apa yang disebut dogma dalam ajaran Sang Buddha. Dengan luasnya pandangan yang sangat jarang pada masa itu dan tidak biasa dalam masa kita ini, Beliau menolak membuat kritik yang memojokkan kepercayaan lain. Ketidaktoleranan bagiNya merupakan musuh agama yang paling besar.
--(Dr. S. Radhakrishnan, “Gautama The Buddha”)

Sekterianisme
Kebanyakan orang – orang baru yang memeluk agama – agama lainnya dikontrol oleh Guru mereka serta dilarang membaca kitab – kitab suci, ajaran – ajaran, majalah – majalah, buklet – buklet, dan risalat – risalat dari agama – agama lainnya. Namun hal ini amatlah jarang terjadi dalam Buddhisme.
--(Phra Khantipalo, “Tolerance”)

Peraturan Lima Sila
Kelima sila ini, menunjukkan lima arah yang penting dalam mana pengendalian diri umat Buddha mesti dilatih. Yakni, aturan pertama menyerukan kepadanya untuk mengendalikan nafsu amarah, yang kedua, nafsu keinginan untuk memiliki materi, yang ketiga, nafsu keinginan akan badan jasmani, yang keempat, ketakutan dan kebusukan hati (penyebab ketidakjujuran), yang kelima, keinginan akan kegairahan – kegairahan yang tak berguna.
--(Edmond Holmes, “The creed of Buddha”)

Manusia dengan Suatu Kemenangan Besar
Salah seorang dari para sarjana pertama yang memulai pekerjaan menerjemahkan Literatur Pali ke dalam bahasa Inggris, adalah putra dari seorang pastur terkenal. Tujuannya menerima pekerjaan tersebut adalah untuk membuktikan superioritas Kristen terhadap Buddhisme. Ia gagal dalam tugas tersebut, tetapi ia memperoleh suatu kemenangan yang lebih besar daripada yang ia harapkan. Ia menjadi seorang penganut Buddha. Kita tidak boleh pernah melupakan kesempatan yang membahagiakan itu yang telah mendorong ia untuk menerima pekerjaan tersebut, dan dengan demikian membuat Dhamma yang berharga ini dapat dinikmati oleh ribuan orang di Barat. Nama dari sarjana besar ini adalah Dr. Rhys Davids.
--(Ven. A. Mahinda, “Blue Print of Happines”)

Nasib Manusia
Di atas dunia yang maha luas ini ia masih tetap bertahan hidup. Adalah mungkin bahwa dalam hubungannya dengan sains Barat, dan diilhami oleh jiwa sejarah, ajaran asli dari Gotama yang bangkit kembali dan dimurnikan; masih dapat memainkan peran yang besar dalam mengarahkan nasib manusia
--(H. G. Wells)

Sistem Parlemen Yang dipinjam dari Buddhisme
Mungkin sekali bahwa kecenderungan akan pemerintahan yang bersifat otonomi, yang ditunjukkan oleh berbagai bentuk kegiatan yang bersifat badan hukum ini, mendapat dorongan segar dari penolakan Buddhis terhadap kekuasaan / otoritas kependetaan dan lebih jauh lagi, karena ajarannya tentang persamaan hak seperti yang ditunjukkan oleh penolakannya terhadap kasta. Sudah tentu kita harus berpaling kepada buku – buku Buddhisme untuk memperhitungkan cara – cara dalam mana urusan – urusan lembaga – lembaga pemerintahan otonomi yang dipilih oleh rakyat pada awal mulanya itu dilaksanakan. Mungkin akan merupakan suatu kejutan bagi banyak orang bila mengetahui bahwa dalam perkumpulan / majelis umat Buddha di India, lebih dari 2500 tahun yang lalu, ditemukan cikal bakal dari praktik – praktik parlementer kita dewasa ini. Kemuliaan /martabat dari majelis tersebut dipelihara dengan mengangkat seorang petugas khusus --cikal – bakal dari “Juru Bicara” dalam majelis perwakilan rakyat kita. Seorang petugas kedua ditunjuk untuk mengamati bahwa bilamana diperlukan suatu jaminan terhadap kourum --bentuk asli dari Kepala Pengawas Parlementer, dalam sistem milik kita. Seorang anggota yang memulai perkara melakukannya dalam bentuk suatu mosi / usulan yang selanjutnya akan didiskusikan. Dalam kasus – kasus tertentu, hal ini dilakukan hanya satu kali, sedangkan dalam kasus – kasus lainnya dilaksanakan tiga kali, dengan demikian ia memelopori praktik parlemen yang menghendaki suatu rancangan undang – undang
dibaca tiga kali sebelum ia disahkan menjadi undang – undang. Jika perdebatan memperlihatkan suatu perbedaan pendapat, hal tersebut diputuskan oleh suara mayoritas, pemungutan suara dilaksanakan dengan kartu pemungutan suara ( secara rahasia).
--(Marquess of Zetland, seorang mantan Rajamuda India, “Legacy of India”)

 

BAB 3 Moralitas

Demokrasi
Buddhisme adalah suatu gerakan demokrasi, yang menjunjung demokrasi dalam agama, demokrasi dalam masyarakat, dan demokrasi dalam politik.
--(Dr. Ambedkar)

Seorang Jenius yang Etis
Dalam lingkup ini Beliau memberikan pernyataan tentang kebenaran yang bernilai abadi dan memajukan etika, bukan di India saja tetapi mencakup umat manusia pada umumnya. Sang Buddha adalah seorang jenius yang etis terbesar yang pernah dianugerahkan kepada dunia ini.
--(Albert Schweitzer, seorang filsuf Barat terkemuka)

Kebudayaan Dunia
Buddhisme telah berbuat lebih banyak bagi kemajuan peradaban dunia dan kebudayaan yang sejati daripada berbagai pengaruh lainnya dalam sejarah kemanusiaan.
--(H. G. Wells)

 

BAB 4 Toleransi – Kedamaian – Cinta Kasih

Memenangkan Kedamaian
Pertanyaan yang tak terelakkan yang muncul dengan sendirinya adalah, seberapa jauh pesan agung Sang Buddha dapat diterapkan terhadap dunia – kita dewasa ini? Mungkin ia dapat diterapkan, mungkin juga tidak; akan tetapi bila kita mengikuti prinsip – prinsip yang disampaikan oleh Sang Buddha, kita pada akhirnya akan memenangkan kedamaian dan ketenangan atas dunia ini.
--(Nehru)


Kebijaksanaan adalah Pedang dan Kebodohan adalah Musuhnya
Tiada selembar halaman pun dalam sejarah Buddhisme yang telah diserami oleh sinar api – api pengadilan terhadap para pembangkang, atau digelapi oleh asap dari kota – kota para pembangkang ataupun kaum kafir yang terbakar, atau dimerahi oleh darah korban – korban tak berdosa akibat kebencian keagamaan. Buddhisme menggunakan hanya sebilah pedang --pedang kebijaksanaan, dan mengenal hanya satu musuh --kebodohan. Ini adalah pembuktian sejarah, yang tak terbantahkan.
--(Prof. Bapat, “2500 years of Buddhism”)

Tiada Kata – kata yang Tak Sedap
Tiada pernah terjadi dimana Sang Buddha terbakar oleh kemarahan, tiada pernah terjadi suatu peristiwa dimana kata – kata yang tak sedap meluncur dari bibirNya.
--(Dr. S. Radhakrishnan)

Praktik dari Kebijaksanaan dan Belas Kasih
Nampaknya bahwa sifat keindahan yang baik itu akan tetap muda selamanya, duduk bersila di atas kesucian teratai dengan tangan kananNya terangkat menasehati, memberikan jawaban dalam kedua frase berikut: “Bila engkau berharap bebas dari penderitaan rasa takut, praktikanlah kebijaksanaan dan belas kasih”.
--(Anatole France)

Tiada Penganiayaan
Tiada catatan yang saya ketahui dalam keseluruhan sejarah Buddhisme yang panjang, melalui abad – abad yang demikian banyak, dimana para penganutnya yang telah selama periode sedemikian panjang menduduki kekuasaan tertinggi, melakukan suatu penganiyaan / penindasan terhadap penganut – penganut kepercayaan lainnya.
--(Prof. Rhys. Davids)

 

BAB 5 Kedudukan Manusia dalam Buddhisme

Manusia Memberi Hukum Kepada Alam
Hukum dalam pengertian ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah produk dari pikiran manusia dan tidak memiliki arti yang terpisah dari manusia. Terdapat arti yang lebih dalam suatu pernyataan bahwa manusia memberikan hukum kepada alam daripada dalam kebalikannya bahwa alam memberikan hukum – hukum bagi manusia.
--(Prof. Karl Pearson)

Manusia Bukanlah Barang yang Sudah Jadi
Manusia saat sekarang adalah merupakan hasil dari berjuta – juta pengulangan pikiran dan perbuatan. Ia bukanlah barang yang sudah jadi; ia melewati satu kondisi / kehidupan ke kondisi / kehidupan yang lain, dan hal ini masih akan terus berlangsung. Karakternya ditentukan oleh pilihannya sendiri, --pikirannya, perbuatannya yang ia pilih --, yakni oleh kebiasaan, ia terbentuk.
--(Ven. Piyadassi)

Manusia Mampu Mandiri
Buddhisme menjadikan manusia mandiri dan membangkitkan rasa percaya – diri dan semangat.
--(Ven. Narada Thera, “Buddhism in a nutshell”)

Manusia Tidak lagi Dapat Dihancurkan
Manusia adalah lebih besar daripada kekuatan – kekuatan alam yang membuta karena meskipun ia dihancurkan oleh kekuatan – kekuatan tersebut ia tetap unggul dalam hal kebajikan dari pengertian atau pemahamannya terhadap kekuatan – kekuatan tersebut. Terlebih – lebih lagi, agama Buddha membawa kebenaran tersebut lebih jauh lagi: ia menunjukkan bahwa dengan jalan memiliki pengertian, manusia juga dapat mengendalikan keadaan / lingkungannya. Ia tidak lagi bisa dihancurkan oleh kekuatan – kekuatan itu, tetapi menggunakan hukum – hukum alam tersebut untuk membangun dirinya sendiri
--(Pascal)

 

BAB 6 Jiwa / Roh

Percaya akan Adanya Jiwa / Roh adalah Sumber Segala Kesulitan
Buddhisme menduduki posisi unik dalam sejarah pemikiran manusia dalam hal penolakannya terhadap adanya suatu Roh / Jiwa, Diri atau Atma. Menurut ajaran Sang Buddha, pandangan tentang adanya diri adalah suatu khayalan, kepercayaan yang keliru / salah yang tidak berkaitan dengan kenyataan, dan hal itu menghasilkan pikiran – pikiran yang membahayakan dari “Aku” dan “Milikku”, keinginan yang egois, nafsu, kemelekatan, kebencian, niat jahat, kepongahan, kesombongan, egoisme, dan noda – noda lainnya, serta ketidakmurnian dan problem – problem. Hal ini merupakan sumber dari segala kesulitan di dunia ini, dari konflik pribadi hingga peperangan antar bangsa. Singkatnya, semua keburukan / kejahatan di dunia ini dapat ditelusuri sumbernya yakni dari pandangan keliru / salah tersebut.
--(Ven. Dr. W. Rahula, “What The Buddha Taught”)

Kehidupan Sesudah Kematian Bukanlah Sebuah Misteri
Perbedaan antara kematian dan kelahiran hanyalah satu momen – pikiran (saat-berpikir): Momen pikiran yang terakhir dalam kehidupan ini mengkondisikan momen pikiran yang pertama (paling awal) dalam kehidupan berikutnya, yang mana pada kenyataannya, adalah kontinuitas dari rentetan / rangkaian yang sama. Sepanjang kehidupan ini juga, satu momen – pikiran mengkondisikan momen pikiran berikutnya. Jadi dari sudut pandangan Buddhisme, pertanyaan tentang kehidupan sesudah kematian bukanlah merupakan suatu misteri besar, dan seorang umat Buddha tidak pernah cemas tentang masalah ini.
--(Ven. Dr. W. Rahula, “What The Buddha Taught)

 

BAB 7 Agama Buddha dan Ilmu pengetahuan Agama

Buddha dan Ilmu Pengetahuan Modern
“Saya sudah sering mengatakan, dan saya akan lagi dan lagi mengatakan, bahwa antara Buddhisme dan Ilmu Pengetahuan modern terdapat suatu keterkaitan intelektual yang begitu erat.
--(Sir Edwin Arnold)

Agama Buddha Memenuhi Tuntutan Ilmu Pengetahuan
Jika ada suatu agama yang akan memenuhi tuntutan kebutuhan ilmu pengetahuan modern, maka agama tersebut adalah Buddhisme.
--(Albert Einstein)

Ilmu Pengetahuan yang Bersifat spiritual
Buddhisme, sebaliknya merupakan suatu sistem berpikir, suatu agama, suatu sains spiritual, dan suatu pandangan hidup, yang masuk akal, praktis dan menyeluruh. Selama 2500 tahun ia telah memuaskan kebutuhan spiritual dari hampir sepertiga jumlah umat manusia. Ia menarik perhatian dunia Barat, yang menekankan pada kepercayaan diri yang disertai dengan rasa toleransi terhadap pandangan orang lain, termasuk ilmu pengetahuan, agama, filsafat, psikologi, etika dan seni, dan menunjuk manusia sendiri sebagai si pencipta dari kehidupannya saat ini serta perancang tunggal atas nasibnya.
--(Christmas Humpreys)

Buddhisme Bertitik Awal di mana Ilmu Pengetahuan berakhir
Ilmu pengetahuan tidak dapat memberikan jaminan dalam hal ini. Akan tetapi Buddhisme dapat memenuhi tantangan Atomik, karena pengetahuan adi-duniawi dari Buddhisme bertitik awal di mana ilmu pengetahuan berakhir. Dan hal ini cukup jelas bagi seseorang yang telah mempelajari Buddhisme. Karena, melalui Meditasi Buddhis, unsur – unsur atomik penyusun materi telah dilihat dan dirasakan, dan juga penderitaan, atau ketidakpuasan (dukkha), tentang “kemunculannya dan kelenyapannya” (yang tergantung pada sebab – sebab) yang sering telah menjadikan dirinya sendiri sebagai apa yang kita sebut “jiwa / roh” atau “atma” --sebuah khayalan tentang Sakkayaditthi--, demikian ia dinamakan di dalam ajaran Sang Buddha.
--(Egerton C. Baptist, “Supreme Science of the Buddha”)

Sebab dan Akibat Bukannya Ganjaran dan hukuman
Menurut Sang Buddha, dunia ini tidak terbentuk secara demikian. Umat Buddha percaya pada hukum Kamma yang rasional yang berjalan secara otomatis dan dinyatakan dengan istilah “Sebab dan akibat” dan bukannya “Ganjaran dan Hukuman”.
--(Seorang Penulis)

 

BAB 8 Nibbana

Keselamatan tanpa Tuhan
Untuk pertama kali dalam sejarah dunia ini, Sang Buddha memproklamasikan suatu keselamatan, yang dapat dicapai oleh setiap orang untuk dirinya sendiri dan oleh dirinya sendiri di dunia ini dalam kehidupan sekarang ini, tanpa pertolongan sedikit pun dari suatu ‘Tuhan yang Berpribadi’ (Personal God) ataupun dari para dewa. Sang Buddha sangat menekankan ajaran tentang kemampuan diri sendiri, tentang penyucian, tentang kemoralan, tentang pencerahan, tentang kedamaian dan cinta kasih yang universal. Beliau amat menekankan tentang perlunya pengetahuan, karena tanpa kebijaksanaan, pemahaman terhadap batin tidak akan diperoleh dalam kehidupan ini.
--(Prof. Eliot, “Buddhism and Hinduism”)

Sang Buddha dan keselamatan
Bukanlah Sang Buddha yang membebaskan manusia, akan tetapi Beliau mengajarkan mereka untuk membebaskan diri mereka sendiri, sama seperti Beliau telah membebaskan diriNya sendiri. Mereka menerima ajaran Beliau tentang kebenaran, bukan karena hal itu berasal dariNya, tetapi karena keyakinan pribadi, yang dibangkitkan oleh kata – kataNya, yang timbul dari cahaya semangat mereka sendiri.
--(Dr. Oldenburg, Seorang Sarjana Buddhis Jerman)

 

BAB 9 Kepercayaan

Sang Buddha Tidak Meminta Kepercayaan
Sang Buddha tidak hanya telah menyadari realitas yang terakhir: Beliau juga membabarkan pengetahuanNya yang lebih tinggi, yang merupakan ajaran terunggul, kepada “semua dewa dan manusia” secara amat jelas dan bebas dari segala tabir mitologi dan selaput misteri. Akan tetapi, disini diberikan suatu bentuk yang begitu meyakinkan bahwa ia mewujudkan dirinya sebagai hal yang nyata dan positif dari pembuktian-sendiri bagi orang yang mampu mengikutiNya. Karena alasan ini Sang Buddha tidak menuntut berbagai kepercayaan, tetapi menjanjikan pengetahuan.
--(George Grimm, “The Doctrine of the Buddha”)

 

BAB 10 Agama Buddha dan Agama – agama Lainnya

Agama Hindu Sesudah Era – Buddhis
Berbagai jalan dalam mana Buddhisme telah mempengaruhi, memodifikasi, mentransformasi, dan menghidupkan kembali agama Hindu di antara semua sutra Filosofi Hindu, adalah diakui sebagai era sesudah – Buddhis. Pemikiran terdahulu dari filsafat India berkenaan dengan ajaran Kamma dan Tumimbal Lahir serta sistem pra- Buddhis lainnya telah mencapai pengembangan sepenuhnya dari literatur Buddhis dan telah disusun di atas dasar filosofis.
--(Dr. S. N. Dasgupta)

Etika Universal
Tidak ada agama – agama di India sebelum masa Buddhisme dapat dikatakan telah mampu merumuskan suatu kode etik dan kode agama yang secara universal dan diwajibkan berlaku sah bagi semua orang.
--(Dr. S. N. Dasgupta)

Buddhisme adalah Buddhisme
Agama Buddha (Buddhisme) dan agama Jain (Jainisme) sudah pasti bukanlah agama Hindu atau bahkan Veda Dharma, meskipun mereka muncul di India dan merupakan bagian yang menyatu dari kehidupan budaya dan filsafat bangsa India. Penganut Buddha ataupun penganut Jaina memang seratus persen produk pemikiran dan budaya India, akan tetapi tidak satu pun dari keduanya merupakan penganut Hindu. Adalah suatu kekeliruan besar untuk menyatakan kebudayaan India sebagai kebudayaan Hindu.
--(Nehru, “Discovery of India)

Hutang Abadi kepada Sang Buddha
Merupakan pendapat saya yang berhati – hati bahwa bagian penting dari ajaran Sang Buddha sekarang ini membentuk bagian yang integral pada Hinduisme. Tidaklah mungkin bagi Hindu India dewasa ini untuk menelusuri kembali langkah – langkahnya dan melampaui reformasi besar yang dibuat oleh Gautama yang dapat memberi pengaruh terhadap Hinduisme. Dengan pengorbananNya yang demikian besar, dengan pelepasan – agungNya, dan dengan kesucian yang tak bernoda dari hidupNya, Beliau meninggalkan kesan yang tak terhapuskan pada Hinduisme, dan Hinduisme berhutang suatu hutang budi yang abadi kepada Sang Guru Agung tersebut.
--(Mahatma Gandhi, “Maha Bodhi”)

Prinsip – prinsip yang Dominan
Suatu sistem yang tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta seperti dalam pengertian Barat, yang menyangkal adanya suatu jiwa / roh bagi manusia, yang menganggap kepercayaan terhadap jiwa / roh yang abadi sebagai suatu kesalahan, yang menolak berbagai keefektifan / kemanjuran dari pemujaan dan persembahan kurban, yang menetapkan manusia untuk tidak bergantung pada apapun melainkan kepada daya upaya mereka sendiri dalam mencapai keselamatan, yang dalam bentuk aslinya tidak mengenal kaul atau sumpah – sumpah untuk taat / patuh, sebagai hamba, serta tidak pernah mencari pertolongan dari kekuasaan duniawi. Meskipun ia menyebar pada keanekaragaman yang cukup besar dari dunia-kuno itu, ia menyebar dengan kecepatan yang mengagumkan, dan masih tetap merupakan prinsip – prinsip yang dominan bagi sebagian besar umat manusia saat ini.
--(T. H. Huxley)

Pemikiran Buddhis Tentang Dosa
Pemikiran Buddhis tentang dosa agak berbeda dengan pemikiran Kristen. Dosa menurut paham Buddhis hanyalah merupakan suatu ketidaktahuan atau kebodohan. Manusia yang buruk adalah manusia yang bodoh. Ia tidak memerlukan hukuman dan penebusan dosa atau penghukuman yang demikian besar sebagaimana ia memerlukan perintah – perintah. Ia tidak dipandang sebagai “Melanggar Perintah Tuhan” ataupun sebagai seseorang yang harus mengemis belas kasihan malaikat dan pengampunan surgawi. Akan tetapi adalah perlu bagi sahabat – sahabat dari orang tersebut untuk menjadikannya berakal sehat di dalam jalan kemanusiaan. Umat Buddha tidak percaya si pendosa tersebut akan dapat meloloskan dirinya dari akibat – akibat perbuatannya dengan upaya berdoa untuk tawar-menawar dengan Tuhan.
--(John Walters, “Mind Unshaken”)

Para Dewa Butuh Keselamatan
Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia Sang Buddha menasehati, meminta, dan memohon kepada manusia agar tidak menyakiti suatu makhluk hidup, tidak memberikan pemujaan atau pujian atau kurban kepada para dewa. Dengan segala kefasihannya dalam memberikan nasihat, Yang Maha Agung mengumumkan dengan tegas bahwasanya para dewa sendiri juga amat butuh keselamatan.
--(Prof. Rhys Davids)

 

BAB 11 Dunia dan Alam Semesta

Dunia yang Tidak Memuaskan
Sang Buddha tidak murka kepada dunia ini. Beliau memandang dunia ini sebagai sesuatu yang tidak memuaskan dan bersifat sementara, bukannya dianggap sebagai sesuatu yang kejam atau buruk; adalah suatu ketidaktahuan / kebodohan, bukannya sebagai suatu pemberontakan. Beliau tidak sedikit pun terusik terhadap orang – orang yang tidak mau mendengarkan kepadaNya, serta tidak menunjukkan kegelisahan dan sifat yang lekas marah.
--(Prof. Eliot, “Buddhism and Hinduism”)

Pertempuran Akbar
Keseluruhan alam semesta merupakan sebuah medan pertempuran yang maha luas. Di mana – mana terjadi pertempuran. Suatu kehidupan (eksistensi) tidak lain adalah suatu perjuangan yang sia – sia melawan kuman – kuman penyakit yang mengerikan, molekul – molekul melawan molekul – molekul, atom – atom melawan atom – atom, elektron – elektron melawan elektron – elektron. Terlebih lebih lagi, batin merupakan suatu kancah pertempuran yang lebih dramatis. Bentuk – bentuk, bunyi – bunyi, cita rasa, dan lain-lain merupakan perpaduan kekuatan – kekuatan yang saling berinteraksi dan saling bertempur. Keberadaan yang nyata dari perang membuktikan bahwa terdapat suatu keadaan kedamaian sempurna. Inilah yang kita namakan Nibbana.
--(Ven. Narada Thera, “The Bodhisatta Ideal”)

--End--

 

Judul asli: Buddhism in the Eyes of Intellectuals
Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com