Dharma Buddha

 Syair Istana Sang Buddha
(Jinapanjara Gatha)

Para Pahlawan, telah mengalahkan kejahatan,
bersama pasukannya, menduduki bangku Kemenangan.
Para Pemimpin manusia telah meminum inti sari
Empat Kebenaran Mulia.

Semoga dua puluh delapan Buddha, seperti
Buddha Tamhankara dan Para Arahat
berdiam di kepalaku.
Semoga Sang Buddha berdiam di kepalaku;
Sang Dhamma di mataku;
Sang Sangha, Ladang segala Kebajikan di pundakku.

Semoga Anuruddha berdiam di hatiku;
Sariputta di kananku; Kondanna di punggungku dan Maha Mogalana di kiriku.
Ananda dan Rahula berada di telinga kananku;
Kassapa dan Mahanama berada di telinga kiriku.

Di tengkukku duduklah
Sobhita Agung, yang bersinar bagaikan Matahari.
Penutur Dhamma, Yang Mulia Kumara Kassapa,
Ladang segala Kebajikan, berdiam di mulutku.

Di dahiku ada lima Thera:
Punna, Angulimala, Upali, Nanda, dan Sivali.
Tiga puluh delapan Thera yang lain,
Para Murid dari Sang Penakluk,
bercahaya dalam Kemenangan akan Kebajikan,
berdiam di bagian tubuhku yang lain.

Sutta Permata ada didepanku,
di sebelah kananku Sutta Cinta Kasih.
Sutta Perlindungan di punggungku,
di sebelah kiriku ada Sutta Angulimala.

Sutta perlindungan: Khanda, Mora, dan Atanatiya bagaikan Pilar Surgawi.
Sutta yang lain bagai Tembok Pelindung disekelilingku.

Semoga semua Manusia Besar tersebut selalu melindungiku yang berada
di tengah-tengah Istana Buddha dalam dunia ini.
Dengan Kekuatan Kebaikan Mereka yang tak terbatas,
Semoga semua halangan dari dalam dan luarku hilang tanpa terkecuali.
Semoga Mereka melindungiku dalam setiap kesempatan.
Mengatasi semua halangan dengan Kekuatan Sang Penakluk
(Sang Buddha, Sang Dhamma, dan Sang Sangha)
Semoga aku mengalahkan tentara nafsu dan hidup dalam
Perlindungan Sang Dhamma yang Sempurna!

----------------------------------------

Jinapanjara Gatha atau Chinabunchorn (bhs Thai) berasal dari sebuah gulungan naskah tua dari Sri Lanka yang kemudian diterjemahkan, digubah dan dipopulerkan oleh seorang bhikkhu Thailand terkenal yaitu Phra Buddhacharn Toh Phomarangsi (Phra Somdej To). Konon, Phra Somdej To, dalam meditasinya melihat penampakan suatu makhluk (dewa) yang mengaku bernama Tao Maha Phrom Chinabunchara yang dulunya merupakan siswa Y.A. Maha Monggalana. Karena adanya kasus tertentu, ia mati tidak pada waktunya (bunuh diri, mungkin), sehingga ia tidak bisa mengikuti jejak Sang Buddha dan Gurunya, Y.A. Maha Monggalana “ke pantai seberang” (baca: merealisasikan Nibbana akhir). Akhirnya ia dilahirkan di alam dewa. Nah, Phra (Ven.) Somdej To memberi nama gatha dari gulungan tsb sama dengan nama makhluk tsb.

Penamaan gatha tersebut sesuai dengan nama dewa tersebut merupakan bentuk penghormatan Phra Somdej To kepada dewa tersebut dimana setiap Phra Somdej To memanggilnya maka ia akan muncul dan memberikan bimbingan dalam latihan. Hubungan yang saya tahu hanya antara penamaan gatha dan kejadian tsb saja. Isi gatha itu sendiri memang diharapkan mendatangkan berkah yang sebenarnya datang dari pikiran si pembaca gatha sendiri yang mengingat dan meneladani terus segala kebaikan yang ada dari para suciwan yang disebutkan dalam gatha. Konon, Phra Somdej To menggunakan gatha ini untuk memberkati sebuah image Buddha yang ia buat. Sekarang di Thailand banyak yang menjual image Buddha (secara kasarnya bisa dikatakan sebagai jimat) yang konon sudah diberkati oleh gatha ini.

Jinapanjara Gatha adalah gatha yang sering dikumandangkan oleh Phra Somdej To atau lebih dikenal dengan Ajahn To....

Ajahn To adalah seorang bhikkhu pengelana Thailand yang sangat terkenal di Thailand Tengah. Hidup pada awal tahun 1800-an. Ajahn To terkenal akan welas asih dan pencapaian yang tinggi.
Dikutip dari : http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-66219-Download-Paritta-Mp3.html
 
KEVADDHA SUTTA (SUTTA PITAKA DIGHANIKAYA X)


Demikianlah yang saya dengar.

Pada suatu ketika Bhagava berada di di Pavarikambavana, Nalanda. Waktu itu seorang perumah-tangga muda bernama Kevaddha pergi menemui Bhagava, ia menghormati beliau dan duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk ia berkata kepada Bhagava:

“Bhante, kota Nalanda kami ini sangat makmur dan berpengaruh, penuh dengan penduduk, banyak orang yang menjadi pengikut Bhagava. Baik sekali bilamana Bhagava memberikan perintah kepada beberapa Bhikkhu untuk mempertunjukan kekuatan batin yang melebihi kemampuan manusia biasa. Maka keyakinan penduduk Nalanda kami ini kepada Bhagava akan lebih bertambah”
Setelah ia berkata begitu, Bhagava berkata kepadanya: “Kevaddha, tetapi bukan dengan cara begitu saya mengajar para Bhikkhu: ‘Para Bhikkhu, pertunjukkanlah kekuatan batin yang melebihi kemampuan manusia biasa kepada para umat awam’”

2— Untuk kedua kali Kevaddha memohon hal yang sama kepada Bhagava, namun ia mendapat jawaban yang sama.

3— Untuk ketiga kali Kevaddha berkata kepada Bhagava: “Saya tidak bermaksud melukai kepada Bhagava. Saya hanya berkata bahwa 'Kota Nalanda kami ini sangat makmur dan berpengaruh, penuh dengan penduduk, banyak orang yang menjadi pengikut Bhagava. Baik sekali bilamana Sang Bhagava memberikan perintah kepada beberapa Bhikkhu untuk mempertunjukkan kekuatan batin yang melebihi kemampuan manusia biasa. Maka keyakinan penduduk Nalanda kami ini kepada Bhagava akan bertambah’”.
[Bhagava]: “Kevaddha, ada tiga macam keajaiban (patihariya) yang saya sendiri telah mengerti dan realisasikan, dan telah saya ajarakan kepada orang lain”.
“Apakah tiga macam keajaiban, yaitu: 'keajaiban kekuatan-batin fisik (iddhi patihariya), keajaiban kemampuan-batin mengetahui-pikiran orang lain (adesana patihariya) dan keajaiban ajaran (anusasana patihari)`”.

4— [Bhagava]: “Kevaddha, apakah yang dimaksud dengan keajaiban kekuatan-batin fisik (iddhi patihariya)?
“Kevaddha, dalam hal ini seandainya seorang Bhikkhu memiliki dan dalam berbagai cara menikmati keajaiban kekuatan-batin fisik yaitu: merubah diri dari seorang menjadi banyak; dari banyak orang menjadi seorang saja; menghilangkan diri atau sebaliknya; berjalan menembus dinding, benteng atau gunung tanpa ada hambatan; ia menyelam ke dalam dan keluar tanah bagaikan dalam air; berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang di angkasa bagaikan burung terbang; menyentuh dan merasakan bulan dan matahari yang perkasa dengan tangannya; dengan tubuhnya ia dapat mengunjungi alam-alam dewa Brahma. Mereka yang melihat itu percaya dan yakin ia melakukannya”.

5— [Selanjutnya Bhagava berkata] “Mereka yang berkeyakinan harus menyatakan fakta kepada yang tak berkeyakinan, dengan berkata: ‘Saudara-saudara, mengagumkan dan menakjubkan kekuatan dan kemampuan seorang Bhikkhu yang memiliki keajaiban-batin fisik. Karena saya sendiri melihat Bhikkhu itu dalam berbagai cara menikmati keajaiban kekuatan-batin fisik, yaitu: merubah diri dari seorang menjadi banyak; dari banyak orang menjadi seorang saja; meng-hilangkan diri atau sebaliknya; berjalan menembus dinding, benteng atau gunung tanpa ada hambatan; ia menyelam ke dalam dan keluar tanah bagaikan dalam air; berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang di angkasa bagaikan burung terbang; menyentuh dan merasakan bulan dan matahari yang perkasa dengan tangannya; dengan tubuhnya ia dapat mengunjungi alam-alam dewa Brahma’”.

[Bhagava]: “Mungkin orang tak berkeyakinan itu akan mengatakan: ‘Saudara, namun ada mantra Gandhari. Berdasarkan pada kemanjuran mantra itu maka Bhikkhu itu dalam berbagai cara menikmati keajaiban kekuatan-batin fisik, yaitu: merubah diri dari seorang menjadi banyak; dari banyak orang menjadi seorang saja; menghilangkan diri atau sebaliknya; berjalan menembus dinding, benteng atau gunung tanpa ada hambatan; ia menyelam ke dalam dan keluar tanah bagaikan dalam air; berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang di angkasa bagaikan burung terbang; menyentuh dan merasakan bulan dan matahari yang perkasa dengan tangannya; dengan tubuhnya ia dapat mengunjungi alam-alam dewa Brahma’”.
“Kevaddha, bagaimana pendapatmu? Mungkinkan orang tak berkeyakinan berkata begitu?”
[Kevaddha]: “Bhante, ia akan mengatakan itu”.
[Bhagava]: ‘Kevaddha, baiklah. Karena saya melihat bahaya dalam mempraktikkan keajaiban kekuatan-batin fisik, maka saya enggan, bosan dan malu melakukannya.’

6— [Bhagava]: “Kevaddha, apakah yang dimaksud dengan keajaiban kemampuan-batin mengetahui pikiran orang lain (adesana-patihariya)?”
[Selanjutnya Bhagava menjelaskan ]: “Kevaddha, dalam hal ini seorang Bhikkhu mengetahui isi hati nurani dan perasaan, pikiran dan pendapat makhluk-makhluk lain atau orang-orang lain, dengan berkata: ‘Pikiran anda begini dan begitu. Anda sedang berpikir tentang hal ini dan itu. Perasaan anda begini dan begitu.’ Orang-orang yang berkeyakinan dan percaya melihatnya berbuat seperti itu.”

7— [Bhagava]: ”Orang yang berkeyakinan harus menyatakan fakta kepada orang tak berkeyakinan, dengan berkata: ‘Saudara-saudara, mengagumkan dan menakjubkan kekuatan dan kemampuan seorang Bhikkhu yang memiliki keajaiban kemampuan-batin mengetahi pikiran orang lain’. Karena saya sendiri melihat Bhikkhu itu mengetahui perasaan-perasaan, pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat makhluk-makhluk lain dan orang-orang lain, dengan berkata: ‘Pikiran anda begini dan begitu. Anda sedang berpikir tentang hal ini dan itu. Perasaan anda begini dan begitu. Mungkin orang tak berkeyakinan itu akan mengatakan: ‘Saudara, namun ada mantra Manika. Berdasarkan pada kemanjuran mantra itu maka Bhikkhu itu mempunyai kemampuan untuk mengetahui isi pikiran makhluk-makhluk lain atau orang-orang lain.’
‘Kevaddha, bagaimana pendapatmu? Mungkinkan orang tak berkeyakinan berkata begitu?’
[Kevaddha]: “Bhante, ia akan mengatakan itu.”
[Bhagava]: “Kevaddha, baiklah. Karena saya melihat bahaya dalam mempraktikkan keajaiban memampuan-batin mengetahui pikiran orang lain, maka saya enggan, bosan dan malu melakukannya”.

8— [Bhagava]: “Kevaddha, apa yang dimaksud dengan keajaiban ajaran (anusasana-patihariya)?’
‘Kevaddha, misalnya seorang Bhikkhu mengajar: ‘Berpikirlah seperti ini, dan jangan berpikir seperti itu. Berpikiranlah yang jernih seperti ini, jangan berpikiran tidak jernih seperti itu. Lenyapkanlah hal-hal ini, latihlah diri anda seperti ini, dan tetap melakukannya seperti ini. ‘Kevaddha inilah yang dimaksud dengan keajaiban ajaran.’

9(40)— ’Kevaddha , seandainya di dunia ini muncul seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usahanya sendiri kepada orang-orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah di peroleh melalui usahanya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahmanya; para petapa, Brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan kebenaran (Dhamma) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan penghidupan suci (Brahmacariya) yang sempurna dan suci.

10(41)— “Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengar-nya ia memperoleh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Setelah ia memiliki keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya: ‘sesungguhnya, hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh dengan kekotoran nafsu. Bebas seperti udara bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup Brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta dalam seluruh kegemilangan kesem-purnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggut-ku, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup keluarga untuk menempuh hidup pabbajja.

11(42)— “Setelah menjadi Bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan peraturan-peraturan Bhikkhu (patimokkha), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-perhatian seksama dan pengertian jelas (sati sampajjana); dan hidup puas”

(12)43— “Kevaddha, bagaimanakah seorang Bhikkhu yang sempurna silanya? Kevaddha, dalam hal ini seorang Bhikkhu [menjalankan sila]:
‘menjauhi pembunuhan’,
‘menahan diri dari pembunuhan mahkluk-makhluk’.
‘Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan kasar’;
‘ia hidup dengan penuh cinta kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua makhluk, semua yang hidup’,
‘inilah sila yang dimilikinya’,
‘Menjauhi pencurian’,
‘menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan’,
‘ia hanya mengambil apa yang tidak diberikan’,
‘ia hanya mengambil apa yang diberikan dan ’,
‘tergantung pada pemberian’,
‘ia hidup jujur dan suci’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’,

‘Menjauhi hubungan kelamin’,
‘menjalankan penghidupan suci atau selibat (Brahmacariya) ’,
‘ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’.

(13)44— ’Menjauhi kedustaan’,
‘menahan diri dari dusta’,
‘ia berbicara benar’,
‘tidak menyimpang dari kebenaran’,
‘jujur dan dapat dipercaya’,
‘serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia’,
‘Menjauhi ucapan fitnah’,
‘menahan diri dari memfitnah’,
‘apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini’,
‘Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana’,
‘Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah’,
‘pemersatu dan mencintai persatuan’,
‘mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pembicaraannya’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’,
‘Menjauhi ucapan kasar’,
‘menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar; ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang’,
‘Inilah sila yang dimilikinya
‘Menjauhi pembicaraan sia-sia’,
‘menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat’,
‘ia berbicara pada saat yang tepat’,
‘sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang Dhamma dan vinaya’,
‘Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah yang dimilikinya’,

(14)45— ‘Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh-tumbuhan’,
‘Ia makan sehari sekali’,
‘tidak makan setelah tengah hari’,
‘Ia menahan diri dari menonton pertunjukkan-pertunjukkan’,
‘tari-tarian, nyanyian dan musik.
Ia menahan dari penggunaan alat-alat kosmetik’,
‘karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan’,
‘Ia menahan diri dari penggunaan tempat tidur yang besar dan mewah. ’,
‘Ia menahan diri dari menerima emas dan perak’,
‘Ia menahan diri dari menerima gandum (padi) yang belum dimasak. Ia menahan diri dari menerima daging yang belum dimasak’,
‘Ia menahan diri dari menerima wanita dan perempuan-perempuan muda’,
‘Ia menahan diri dari menerima budak belian lelaki dan budak belian perempuan’,
‘Ia menahan diri dari menerima biri-biri atau kambing, Ia menahan diri dari menerima bagi dan unggas’,
‘Ia menahan diri dari menerima gajah, sapi dan kuda’,
‘Ia menahan diri dari menerima tanah-tanah pertanian’,
‘Ia menahan diri dari menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran’,
‘Ia menahan diri dari perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan’,
‘Ia menahan diri dari perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya. Inilah sila yang dimilikinya’,

(15)46— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti: tumbuhan yang berkembang biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang berkembang biak dari ruas-ruas atau tumbuhan yang berkembang biak dari kecambah-kecambahan; namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan. Inilah sila yang dimilikinya’
(16)47— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan barang-barang yang ditimbun, simpanan, seperti: bahan makanan simpanan, minuman simpanan, jubah simpanan, perkakas-perkakas simpanan, bumbu makanan simpanan; namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari menggunakan barang-barang yang ditimbun semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

(17)48— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton aneka macam pertunjukkan, seperti:
‘tari-tarian, nyanyian-nyanyian musik, pertunjukkan panggung, opera, musik yang diiringi dengan tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian, permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu kuda, adu sapi, adu banteng, pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang perangan, pawai, inspeksi, parade;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari menonton aneka macam pertunjukkan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

(18)49-- ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti:
‘permianan catur dengan papan berpetak delapan baris’,
‘permainan catur dengan papan berpetak sepuluh baris’,
‘permainan dengan membayangkan papan catur tersebut di udara’,
‘permainan melangkah satu kali pada diagram yang digariskan di atas tanah’,
‘permainan dengan cara memindahkan benda-benda atau orang dari satu tempat ke lain tempat tanpa menggoncang-kannya’,
‘permainan lempar dadu’,
‘permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang’,
‘permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding’,
‘permainan bola’,
‘permainan meniup sempritan yang dibuat dari daun palem’,
‘permainan meluku dengan bajak mainan’,
‘permainan jungkir balik (salto) ’,
‘permainan dengan kitiran yang dibuat dari daun palem’,
‘bermain dengan timbangan mainan yang dibuat dari daun palem’,
‘bermain dengan kereta perang mainan’,
‘bermain dengan panah-panah mainan’,
‘menebak tulisan-tulisan yang digoreskan di udara atau pada punggung seseorang’,
‘menebak pikiran teman bermain’,
‘seorang Bhikkhu menahan diri dari aneka macam permainan dan rekreasi semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’

(19)50— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah, seperti:
‘dipan tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki’,
‘dipan dengan tiang-tiang berukiran gambar binatang-binatang’,
‘seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal’,
‘seprei dengan bordiran warna warni’,
‘selimut putih’,
‘seprei dari wol yang disulam dengan motif bunga-bunga’,
‘selimut yang diisi dengan kapas dan wol’,
‘seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa’,
‘seprei dengan bulu binatang pada kedua tepinya’,
‘seprei dengan bulu binatang pada salah satu tepinya’,
‘seprei dengan sulaman permata’,
‘seprei dari sutra’,
‘selimut yang dapat dipergunakan oleh enam belas orang’,
‘selimut gajah’,
‘selimut kuda atau selimut kereta’,
‘selimut kulit kijang yang dijahi’,
‘selimut dari kulit sebangsa kijang’,
‘permadani dengan tutup kepala dan kaki’,
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri untuk tidak mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu’.
‘Inilah sila yang dimilikinya.’

(20)51— “Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih memakai perhiasan-perhiasan dan alat-alat memper-indah diri, seperti:
‘melumuri, mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi’,
‘memukuli tubuhnya dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat’,
‘memakai kaca’,
‘memakai minyak mata (bukan obat) ’,
‘memakai bunga-bunga’,
‘memakai pemerah pipi, kosmetika, gelang, kalung’,
‘memakai tongkat jalan (untuk bergaya) ’,
‘memakai tabung bambu untuk menyimpan obat, pedang’,
‘memakai alat penahan sinar matahari’,
‘memakai sandal bersulam’,
‘memakai sorban’,
‘memakai perhiasan dahi’,
‘memakai sikat dari ekor binatang yak’,
‘memakai jubah putih panjang yang banyak lipatannya;
‘namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri semacam itu.
Inilah sila yang dimilikinya’.

(21)52— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam percakapan-percakapan yang rendah, seperti:
‘percakapan tentang raja-raja’,
‘percakapan tentang mencuri’,
‘percakapan tentang menteri-menteri’,
‘percakapan tentang angkatan-angkatan perang’,
‘percakapan tentang pembunuhan-pembunuhan’,
‘percakapan tentang pertempuran pertempuran’,
‘percakapan tentang makanan’,
‘percakapan tentang minuman’,
‘percakapan tentang pakaian’,
‘percakapan tentang tempat tidur’,
‘percakapan tentang karangan-karangan bunga’,
‘percakapan tentang wangi-wangian’,
‘pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga’,
‘percakapan tentang kendaraan’,
‘percakapan tentang desa’,
‘percakapan tentang kampung’,
‘percakapan tentang kota’,
‘percakapan tentang negara’,
‘percapakan tentang wanita’,
‘percakapan tentang lelaki’,
‘percakapan di sudut-sudut jalanan’,
‘percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu’,
‘percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya’,
‘spekulasi tentang terciptanya daratan’,
‘spekulasi tentang terciptanya lautan’,
‘percakapan tentang perwujudan dan bukan perwujudan (eksistensi dan non eksistensi);
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah semacam itu.
Inilah sila yang dimilikinya.

(22)53— ‘Meskipun beberapa petapa Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam kata-kata perdebatan, seperti:
‘Bagaimana seharusnya engkau mengerti Dhamma Vinaya ini?’
‘Engkau menganut pandangan-pandangan keliru, tetapi aku menganut pandangan-pandangan benar’,
‘Aku berbicara langsung pada pokok persoalan, tetapi engkau tidak berbicara langsung pada pokok persoalan’,
‘Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir’,
‘Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan, semuanya itu telah usang’,
‘Kata-kata bantahanmu itu telah ditentang, dan engkau ternyata salah’,
‘Berusahalah untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; namun’,
‘seorang Bhikkhu menahan diri dari kata-kata perdebatan semacam itu’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’.

(23)54— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, Brahmana,orang berkeluarga atau pemuda-pemuda,yang berkata: “Pergilah ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana’; namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.’

(24)55— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan tindakan-tindakan penipuan dengan cara: merapalkan kata-kata suci, meramal tanda-tanda dan mengusir dengan tujuan memperoleh keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun seorang Bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.’

(25)56— “Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disedikan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti:
‘meramal dengan melihat guratan-guratan tangan’,
‘meramal melalui tanda-tanda dan alamat-alamat’,
‘menujumkan sesuatu dari halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya’,
‘meramal dengan mengartikan mimpi-mimpi’,
‘meramal dengan melihat tanda-tanda pada bagian tubuh’,
‘meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang digigit tikus’,
‘mengadakan korban pada api’,
‘mengadakan selamatan yang dituang dari sendok’,
‘memberikan persembahan dengan sekam untuk dewa-dewa’,
‘memberikan persembahan dengan bekatul untuk dewa-dewa’,
‘memberikan persembahan dengan mentega untuk dewa-dewa’,
‘memberikan persembahan dengan minyak untuk dewa’,
‘mempersembahkan biji wijen dengan menyemburkannya dari mulut ke api’,
‘mengeluarkan darah dari lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa’,
‘melihat dan meramalkan apakah orang itu mujur, beruntung atau sial’,
‘menentukan apakah letak rumah itu baik atau tidak’,
‘menasehati cara-cara pengukuran tanah’,
‘mengusir setan-setan di kuburan’,
‘mengusir hantu’,
‘[menggunakan] mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah’,
‘[menggunakan] mantra untuk kelajengking’,
‘[menggunakan] mantra tikus’,
‘[menggunakan] mantra burung’,
‘[menggunakan] mantra burung gagak’,
‘[menggunakan] meramal umur’,
‘[menggunakan] mantra melepas panah’,
‘[memamerkan] keahlian untuk mengerti bahasa binatang;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-limu rendah semacam itu’.

Inilah sila yang dimilikinya”.

(26)57— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti:
‘pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan dari pemiliknya, seperti: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak lelaki, anak perempuan, budak lelaki, budak perempuan gajah, kuda, kerbau , sapi jantan, sapi betina, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang lainnya’,
‘namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu’.

‘Inilah sila yang dimilikinya.’

(27)58— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan akibat: pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur, pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak ini dan kekalahan ada di pihak itu;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu.
Inilah sila yang dimilikinya.

(28)59— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang yang menyimpang dari garis edahnya, bintang akan kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa bumi, halilintar, matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam, bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut akan terjadi yang akan mengakibatkan sesuatu’;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu rendah semacam itu.
Inilah sila yang dimilikinya.’

(29)60— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah sampar, musim baik; meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian rakyat yang popular dan ada kebiasaan’;
‘namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu’.
‘Inilah sila yang dimilikinya’.

(30)61— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti:
‘mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dibawa pulang’,
‘mengatur hari baik baik mempelai pria atau wanita untuk dikirim pergi’,
‘menentukan saat baik untuk menentukan perjanjian damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra) ’,
‘menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan’,
‘menentukan saat baik untuk menagih hutang’,
‘menentukan saat baik untuk memberi pinjaman’,
‘menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung’,
‘menggunakan mantra untuk membuat orang sial’,
‘menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan’,
‘menggunakan mantra untuk mendiamkan rahang seseorang’,
‘menggunakan mantra untuk membuat orang lain mengangkat tangannya’,
‘menggunakan mantra untuk menimbulkan ketulian’,
‘mencari jawaban dengan melihat-lihat kaca ajaib’,
‘mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan’,
‘mencari jawaban dari dewa’,
‘memuja matahari memuja maha ibu (dewa tanah) ’,
‘mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewi Sri atau dewi keberuntungan’,

‘namun, seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu’.

‘Inilah sila yang dimilikinya’.

(31)62— ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti:
‘berjanji akan memberikan persembahan-persembahan kepada para dewa apabila keinginan nya terkabul’,
‘melaksanakan janji-janji semacam itu’,
‘mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah’,
‘mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan’,
‘mengucapkan mantrea untuk membuat pria menjadi impotent’,
‘menentukan letak yang tepat untuk membangun rumah’,
‘mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat’,
‘melakukan upacara pembersihan mulut’,
‘melakukan upacara mandi’,
‘mempersembahkan korban’,
‘memberikan obat bersin untuk mengobat sakit kepala’,
‘meminyaki telinga orang lain’,
‘merawat mata mata orang’,
‘memberikan obat melalui hidung’,
‘memberi collyrium (minyak mata bukan obat) di mata’,
‘memberikan obat tetes pada mata’,
‘menjalankan praktek sebagai okultis’,
‘menjalankan praktek sebagai dokter anak-anak’,
‘meramu obat-obatan dari bahan-bahan akar-akaran’,
‘membuat obat-obatan’;
‘namun seorang Bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu’,
‘Inilah sila yang dimilikinya’.

(32)63— ’Kevaddha, selanjutnya seorang Bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenan dengan pengendalian terhadap sila’,
‘Kevaddha, sama seperti seorang kesatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuh telah di kalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh; demikian pula, seorang Bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila.
‘Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukkham). Kevaddha, demikianlah seorang Bhikkhu yang memiliki sila sempurna”.


"Ada penderitaan, tapi tidak ada yang menderita,
Ada jalan, tapi tidak ada yang menempuhnya,
Ada nibbana, tapi tidak ada yang mencapainya."


 (33)64— ’Kevaddha, bagaimanakah seorang Bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya?
‘Kevaddha, bilamana seorang Bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya [sebagian] Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya, Ia menjaga indera penglihatannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengelihatannya.
‘Bilamana ia mendengar suara dengan telinganya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pendengarnya. Ia menjaga indera pendengarannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pendengarannya.
Bilamana ia mencium bau dengan hidungnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penciumannya. Ia menjaga indera penciumannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera penciumannya.
Bilamana ia mengecap rasa lidahnya, Ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pengecapannya. Ia menjaga indera pengecapannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengecapannya.
Bilamana ia merasakan suatu sentuhan dengan tubuhnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera perabanya. Ia menjaga indera perabanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera perabanya.
Bilamana ia mengetahui sesuatu (Dhamma) dengan pikirannya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk; keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera pikirannya. Ia menjaga indera pikirannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pikirannya.
Dengan memiliki pengendalian diri yang mulia ini terhadap indera-inderanya, ia merasakan suatu kebahagiaan yang tidak dapat diterobos oleh noda apapun. Kevaddha, demikianlah seorang Bhikkhu yang memiliki pengendalian atas pintu-pintu inderanya’

(34)65— ’Kevaddha, bagaimankah seorang Bhikkhu memilki perhatian-seksama dan pengerti jelas?
‘Kevaddha, dalam hal ini seorang Bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali; ia mengerti denganjelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping; ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk-makan (patta); ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan; ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing; ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, berbicara atau diam. Kevaddha, demikianlah seorang Bhikkhu yang memiliki perhatian seksama murni dan pengertian jelas’

(36)66— ’Kevaddha, bagaimanakah seorang Bhikkhu merasa puas? Kevaddha, dalam hal ini seorang Bhikkhu merasa puas dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Dan kemana pun ia akan pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini. Kevaddha, sama seperti seekor burung dengan sayapnya, ke manapun akan terbang, burung itu terbang hanya dengan membawa sayapnya. Kevaddha, demikian pula seorang Bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Maka, ke mana pun ia akan pergi, ia hanya dengan membawa hal-hal ini. Kevaddha, demikianlah seorang Bhikkhu merasa puas’

(37)67— ’Setelah memiliki kelompok sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian seksama dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah-kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’.

(38)68— ’Dengan menyingkirkan kerinduan terhadap dunia, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari kerinduan, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu. Dengan menyingkirkan itikad jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itika jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pikirannya dari itikad jahat.
‘Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada pencerapan terhadap cahaya (alokasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan.
‘Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran.
‘Dengan menyingkirkan keragu-raguan,ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan’.

(39)69— ’Kevaddha, sama halnya seperti seseorang, yang setelah berhutang, ia berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja ia mampu membayar kembali pinjaman hutangnya,tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja aku dapat membayar kembali pinjaman hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri”. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

(40)70— ’Kevaddha, sama halnya seperti seorang yang diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaannya, tidak dapat mencerna makanannya, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya; namun setelah beberapa waktu ia sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanannya sehingga kekuatannya pulih. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaanku, tidak dapat mencerna makananku, sehinga tidak ada lagi kekuatan dalam diriku; namun, sekarang aku telah sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanan sehingga kekuatanku pulih’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

(41)71— ’Kevaddha, sama halnya seperti seorang yang ditahan dalam rumah penjara, dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari tahanannya, aman dan sehat, barang-barangnya tidak ada yang dirampas. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku ditahan dalam rumah penjara, dan sekarang aku telah bebas dari tahanan, aman dan sehat, barang-barangku tidak ada yang dirampas’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’

(42)72— ’Kevaddha, sama halnya seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan bagi dirinya sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana ia suka; dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari perbudakan itu, menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas pergi ke mana ia suka. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku seorang budak, bukan tuan bagi diriku sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana aku suka; dan sekarang aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan bagi diriku sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas, bebas ke mana aku suka’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu.’

(43)73— ’Kevaddha, sema halnya seperti seorang yang dengan membawa kekayaan dan barang-barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan setelah beberapa waktu ia berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu, dengan membawa kekayaan dan barang-barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan sekarang akut elah berhasil keluar daripadang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya’. Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

(44)74-- ’Kevaddha, demikianlah selama lima rintangan-batin (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang Bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Kevaddha, tetapi setelah lima rintangan batin itu disingkirkan, maka seorang Bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit, keluar dari penjara, bebas dari pebudakan, sampai di tempat yang aman.

(45)75— ’Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan batin itu telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuhnya terasa nyaman, karena tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat. Kemudian, setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana pertama; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan pengarahan pikiran pada obyek (vitakka) dan mempertahankan pikiran pada obyek (vicara).
‘Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebesan (viveka).

(46)76— ’Kevaddha, sama halnya seperti tukang memandikan yang pandai atau pembantunya akan menebarkan bubuk sabun wangi dalam sebuah mangkuk logam, memercikinya dengan air setetes demi setetes dan kemudian ia meramasnya bersama sehingga bubukan sabun itu dapat menyerap seluruh cairan; dibasahi, diserapi dan diliputi dengannya, baik dalam maupun luar, dan tidak ada yang mengalir keluar’.
‘Kevaddha, demikian pula Bhikkhu itu seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia,yang timbul dari kebebasan itu’.
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi dari pada yang terdahulu’.

47)77— ’Kevaddha, selanjutnya seorang Bhikkhu yang telah membebaskan diri dari vitakka dan vicara, memasuki dan berdiam dalam Jhana kedua; yaitu keadaan batin yang tergiur dan bahagia, yang timbul dari ketenangan konsentrasi, tanpa disertai dengan vitakka dan vicara, keadaan batin yang memusat. Demikianlah seluruh tubuhnya di penuhi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari konsentrasi, dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari konsentrasi’.

(48)78— ’Kevaddha, bagaikan sebuah kolam yang dalam, yang mempunyai sumber air di bawahnya, tanpa lubang masuk dari timur atau barat, waktu ke waktu tidak turun hujan; namun arus air yang sejuk, yang berasal dari sumber itu akan tetap memenuhi, menggenangi, meresapi dan meliputi kolam itu, sehingga tidak ada satu bagian pun dari kolam itu, yang tidak diliputi oleh air yang sejuk itu’
‘Kevaddha, demikian pula Bhikkhu itu seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari konsentrasi; sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia yang timbul dari konsentrasi itu’.
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi dari pada yang terdahulu’.

(49)79— ’Kevaddha, selanjutnya seorang Bhikkhu yang telah membebaskan dirinya dari perasaan tergiur, berdiam dalam keadaan seimbang yang disertai dengan perhatian murni dan pengertian jelas. Tubuhnya diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh para ariya sebagai ‘kebahagiaan yang dikatakan oleh para ariya sebagai ‘kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang batinnya seimbang dan penuh perhatian murni’; ia memasuki dan berdiam dalam Jhana ketiga.
‘Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur itu’

(50)80— ’Kevaddha, seperti dalam sebuah kolam yang berisi bunga-bunga teratai: merah, putih atau biru, yang beberapa di antaranya bunga-bunga teratai merah, putih atau biru yang bersemi dalam air, tumbuh dalam air, tidak muncul di atas permukaan air serta menghisap makanan dari dalam air itu adalah dipenuhi, digenangi diresapi serta diliputi dengan air dingin: sehingga tidak ada satu bagian pun dari bunga-bunga teratai merah, putih atau biru itu mulai dari ujung daun sampai ke akarnya yang tidak diliputi dengannya’.
‘Kevaddha, demikian pula Bhikkhu itu seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur; sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur itu’.
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu’.

(51)81— ’Kevaddha, selanjutnya dengan menyingkirkan perasaan bahagia dan tidak bahagia, dengan menghilangkan perasaan-perasaan senang dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya, Bhikkhu itu memasuki dan berdiam dalam Jhana seimbang, yang memilki perhatian seksama yang suci (satiparisuddhi), bebas dari perasaan bahagia dan tidak bahagia. Demikianlah ia duduk di sana, meliputi seluruh tubuhnya dengan perasaan batin yang bersih dan jernih’.

(52)82— ‘Kevaddha, sama seperti seorang yang sedang duduk, diselubungi denganjubah putih mulai dari kepala sampai ke kaki, sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak bersentuhan dengan jubah putih itu’.
‘Kevaddha, demikian pula Bhikkhu itu duduk di sana, meliputi seluruh tubuhnya dengan perasaan batin yang bersih dan jernih; sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi dengan perasaan batin yang bersih dan jernih itu’.
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi dari pada yang terdahulu’.
(53)83--’ ‘Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dantidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan terang yang timbul dari pengetahuan karena pengalaman (ñäna dassana). Demikianlah ia mengerti: ‘tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri atas empat unsur pokok (mahabhuta rupa), berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus menerus, bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran, dan kematian; begitu pula halnya dengan kesadaran (vinñäna) yang terikat dengannya’.

(54)84— ’Kevaddha, sama seperti halnya dengan permata veluriya, yang gemerlapan, bersih, mempunyai delapan sudut yang terpotong rapi, jernih, murni, tanpa cacat, sempurna dalam keadaan apa pun. Di tengahnya dimasuki seutas benang, yang berwarna biru, jingga, merah, putih atau kuning. Seandainya seseorang yang memiliki mata meletakannya di atas tangannya, maka ia akan merenung: ‘Permata veluriya ini adalah gemerlapan, bersih, mempunyai delapan sudut yang terpotong rapi, jernih, murni, tanpa cacat, sempurna dalam keadaan apa pun. Sekarang permata itu diikatkan pada seutas benang yang berwarna biru, jingga, merah, putih atau kuning.’
‘Kevaddha, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Bhikkhu itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan terang yang timbul dari pengetahuan. Demikianlah ia mengerti: ‘Tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri empat unsur pokok, berasal ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran dan kematian. Begitu pula halnya dengan kesadaranku yang terikat dengannya’.
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.’

(55)85— ’Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan tubuh-ciptaan-batin (mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan tubuh-ciptaan-batin melalui pikirannya; yang memiliki bentuk, memilki anggauta-anggauta dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu apapun’.
 USNISA VIJAYA DHARANI
(Mantra of Namgyalma)

(FUK TING CUN SEN TO LO NI CING)


Usnisa Vijaya Dharani adalah sebuah sutra Mahayana. Sutra ini berisi khotbah Sang Buddha mengenai seorang putra dewa bernama Susthita yang seharusnya menjalani hukuman karma-nya akibat buah perbuatannya di masa lalu, namun berkat "Usnisa Vijaya Dharani" menjadi terbebaskan. Sutra ini adalah versi terjemahan dari Guru Buddhapala di jaman Dinasti Tang. Isi sutra tersebut adalah sebagai berikut:


Demikianlah yang telah saya dengar, pada suatu waktu, Sang Bhagavan Buddha yang menetap dalam kota Shravasti di Jetavana (Hutan Jeta), di Taman Anathapindika (Taman Dermawan untuk Yatim dan Tanpa Saudara), bersama dengan pengikut tetapnya yang kesemua berjumlah seribu dua ratus lima puluh bikkhu terpandang dan dua belas ribu Maha Bodhisattva Sangha.

Saat itu, dewa-dewa di Surga Trayastrimsha juga tengah berkumpul dalam Aula Kebajikan Dharma. Di antara mereka terdapat seorang putra dewa bernama Susthita, bersama-sama dengan putra-putra dewa terpandang lainnya, sedang bersuka-ria di taman dan lapangan, menikmati kebahagiaan luar biasa dalam kehidupan surgawi. Dikelilingi oleh dewi-dewi, mereka dengan penuh kegembiraan – menyanyi, menari, dan menghibur diri mereka sendiri.

Segera malam tiba, Susthita putra dewa tiba-tiba mendengar suara dari angkasa yang berkata “Susthita putra dewa, engkau hanya mempunyai tujuh hari lagi untuk hidup. Setelah meninggal, engkau akan dilahirkan kembali di Jambudwipa (Bumi) sebagai seekor binatang selama tujuh kehidupan berturut-turut. Setelahnya, engkau akan masuk ke dalam neraka untuk menjalani penderitaan tambahan. Hanya setelah hukuman karmamu tergenapi, kamu akan dilahirkan kembali di alam manusia, tetapi terlahir di keluarga sederhana dan melarat. Saat berada dalam rahim ibumu, kamu tidak akan mempunyai mata dan terlahir buta.

Mendengar ini, Susthita putra dewa sangat takut hingga bulu kuduknya berdiri pada akhirnya. Merasa ketakutan dan tertekan, dia lari ke istana Raja Sakra. Meledak dalam tangis dan tidak tahu apalagi yang harus diperbuat, dia bersujud di kaki Raja Sakra, memberitahukan Raja Sakra apa yang telah terjadi.

“Ketika saya sedang bersuka ria menikmati tarian dan nyanyian bersama dewi-dewi surga, saya tiba-tiba mendengar suara dari angkasa yang memberitahukan saya bahwa saya hanya tinggal mempunyai tujuh hari saja, dan saya akan terperosok ke dalam Jambudwipa (Bumi) setelah mati, tinggal di sana dalam alam binatang selama tujuh kehidupan berturut-turut. Setelahnya, saya terperosok dalam bermacam neraka untuk menjalani penderitaan yang lebih berat. Hanya setelah hukuman karmaku digenapi, saya akan dilahirkan kembali sebagai manusia, dan sesudahnya saya akan terlahir tanpa mempunyai mata dalam keluarga miskin dan terhina. Raja Surga, bagaimana saya dapat melepaskan diri dari penderitaan seperti ini?”

Mendengar permohonan Susthita putradewa yang penuh tangisan, Raja Sakra sangat heran dan berpikir, “Dalam tujuh jalan sengsara berturut-turut dan wujud-wujud apakah yang akan dijalani Susthita putradewa?”

Raja Sakra segera menenangkan pikirannya memasuki samadhi dan mengamati secara seksama. Segera, dia melihat Susthita menjalani tujuh jalan sengsara dalam wujud babi, anjing, serigala, monyet, ular sawah, burung gagak dan burung bangkai, yang kesemuanya hidup dari sampah dan bangkai. Setelah melihat tujuh masa depan wujud kelahiran kembali Susthita putradewa, Raja Sakra merasa hancur dan sangat sedih, tetapi tidak dapat memikirkan jalan lain untuk menolong Susthita. Dia merasa hanya Sang Tathagata, Arahat, Samyak-sambuddha yang dapat menyelamatkan Susthita dari kejatuhan ke dalam penderitaan hebat di jalan sengsara.

Maka, segera setelah malam tiba, Raja Sakra menyiapkan berbagai macam rangkaian bunga, wewangian dan dupa. Menghiasi dirinya dengan bahan kain dewa terbaik dan membawa sesajian ini, Raja Sakra menuju taman Anathapindika, tempat kediaman Bhagavan Buddha. Saat tiba, Raja Sakra pertama-tama bersujud di kaki Buddha sebagai penghormatan, kemudian berjalan perlahan-lahan searah jarum jam mengelilingi Sang Buddha untuk pemujaan, sebelum meletakkan persembahan agungnya. Sambil berlutut di depan Sang Buddha, Raja Sakra menjelaskan takdir akhir dari Susthita putra dewa yang akan terperosok ke dalam jalan sengsara dengan tujuh kelahiran kembali berturut-turut ke dalam alam binatang dengan rincian dari hukuman karma lanjutannya.

Seketika, Usnisa (mahkota) dari Sang Tathagata memancarkan bermacam-macam sinar terang benderang, menerangi dunia di sepuluh penjuru, dan cahaya tersebut memantul kembali, melingkari Buddha tiga kali sebelum masuk ke dalam mulut-NYA. Kemudian Sang Buddha tersenyum dan berkata kepada Raja Sakra. “Raja Surga, terdapat Dharani yang dikenal sebagai “Usnisa Vijaya Dharani”. Dharani ini dapat menyucikan semua jalan sengsara, melenyapkan penderitaan atas kelahiran dan kematian secara menyeluruh. Dharani ini juga dapat membebaskan semua kesengsaraan dan penderitaan mahluk hidup di alam neraka, Raja Yama dan binatang, menghancurkan semua neraka, dan menghantarkan semua mahluk hidup ke jalan suci.

“Raja Surga, jikalau seseorang mendengar Usnisa Vijaya Dharani sekali saja, semua karma buruk dari kehidupan sebelumnya yang seharusnya menyebabkan ia terlahir di neraka akan terhancurkan semuanya. Sebaliknya, ia akan memperoleh badan yang baik dan bersih. Dimanapun ia dilahirkan kembali, dia akan mengingat Dharani ini secara jelas – dari satu kebuddhaan ke lainnya, dari satu alam surgawi ke alam surgawi lainnya. Sesungguhnya, melalui Surga Trayastrimsha, dimanapun ia terlahir kembali, dia tidak akan lupa.”

“Raja Surga, jikalau seseorang menjelang kematian mengingat Dharani suci ini, walaupun hanya sekejap, masa hidupnya akan diperpanjang dan ia akan memperoleh kesucian dalam raga, perkataan dan pikirannya. Tanpa penderitaan dan kesakitan badaniah dan sesuai dengan perbuatan baiknya, dia akan menikmati ketentraman di mana saja. Menerima berkah dari semua Tathagata, dan senantiasa dijaga dewa-dewa, dan dilindungi oleh Bodhisatva, ia akan dihormati dan dimuliakan masyarakat, dan semua rintangan kesengsaraan akan terhapuskan.”

“Raja Surga, jikalau seseorang dengan ikhlas membaca dan melafalkan Dharani ini, walaupun sekejap saja, semua hukuman karmanya yang akan menyebabkan ia menderita di alam neraka, binatang, Raja Yama, setan lapar, akan dihancurkan seluruhnya dan dihapuskan tanpa meninggalkan jejak. Ia akan bebas pergi ke tanah suci Buddha dan istana surga manapun, semua pintu gerbang ke kediaman Bodhisatva akan terbuka untuknya tanpa hambatan.”
Setelah mendengar ajaran ini, Raja Sakra segera memohon kepada Sang Buddha, “Demi semua mahluk hidup, semoga Bhagavan Buddha memberikan ajaran mengenai bagaimana usia hidup seseorang dapat diperpanjang.” Sang Buddha mengetahui keinginan Raja Sakra dan keinginannya untuk mendengar ajaran-NYA mengenai Dharani ini dan segera mengucapkan Mantra ini seperti demikian:

"NAMO BHAGAVATE TRAILOKYA PRATIVISISTAYA BUDDHAYA BHAGAVATE.
TADYATHA, OM, VISUDDHAYA-VISUDDHAYA,
ASAMA-SAMA SAMANTAVABHASA-SPHARANA
GATI GAHANA SVABHAVA VISUDDHE, ABHINSINCATU MAM. SUGATAVARA VACANA AMRTA ABHISEKAI MAHA MANTRA-PADAI.
AHARA-AHARA AYUH SAM-DHARANI.
SODHAYA-SODHAYA, GAGANA VISUDDHE.
USNISA VIJAYA VISUDDHE. SAHASRA-RASMI, SAMCODITE,
SARVA TATHAGATA AVALOKANI, SAT-PARAMITA, PARIPURANI,
SARVA TATHAGATA MATI DASA-BHUMI, PRATI-STHITE,
SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE.
VAJRA KAYA, SAM-HATANA VISUDDHE.
SARVAVARANA APAYA DURGATI, PARI-VISUDDHE, PRATI-NIVARTAYA AYUH SUDDHE.
SAMAYA ADHISTHITE. MANI-MANI MAHA MANI.
TATHATA BHUTAKOTI PARISUDDHE. VISPHUTA BUDDHI SUDDHE.
JAYA-JAYA, VIJAYA-VIJAYA, SMARA-SMARA. SARVA BUDDHA ADHISTHITA SUDDHE.
VAJRI VAJRAGARBHE, VAJRAM BHAVATU MAMA SARIRAM.
SARVA SATTVANAM CA KAYA PARI VISUDDHE. SARVA GATI PARISUDDHE.
SARVA TATHAGATA SINCA ME SAMASVASAYANTU.
SARVA TATHAGATA SAMASVASA ADHISTHITE, BUDDHYA-BUDDHYA,
VIBUDDHYA-VIBUDDHYA, BODHAYA-BODHAYA,
VIBODHAYA-VIBODHAYA.
SAMANTA PARISUDDHE. SARVA TATHAGATA HRDAYA
ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE SVAHA."
(Usnisa Vijaya Dharani ini adalah versi perbaikan dengan beberapa tambahan pada naskah asli terjemahan Sanskerta)

Kemudian Buddha berkata kepada Raja Sakra, “Mantra ini dikenal sebagai 'Yang Mensucikan Semua Jalan Sengsara Usnisa Vijaya Dharani'. Dharani ini dapat menghilangkan semua rintangan karma buruk dan menghapuskan penderitaan di semua jalan sengsara.”

“Raja Surga, Dharani termasyur ini dinyatakan serentak oleh Buddha-Buddha sebanyak delapan puluh delapan koti (ratusan juta) sejumlah butiran-butiran pasir di Sungai Gangga. Semua Buddha bergembira dan menjunjung tinggi Dharani ini yang dibuktikan dengan tanda bukti kebijaksanaan dari Maha Vairocana Tathagata. Ini karena di dalam jalan sengsara, untuk membebaskan mereka dari hukuman menyakitkan dalam alam neraka, binatang dan Raja Yama; untuk melepaskan semua mahluk yang menghadapi bahaya keterperosokan ke dalam lautan lingkaran kelahiran dan kematian (samsara); untuk membimbing mahluk-mahluk lemah yang berusia pendek dan kurang beruntung dan untuk melepaskan mahluk-mahluk yang suka melakukan semua perbuatan jahat. Selain itu, karena ia berdiam dan dijunjung tinggi di dunia Jambudwipa, kekuatan yang ditunjukkan oleh Dharani ini akan mengakibatkan semua mahluk dalam neraka dan alam setan lainnya; orang yang kurang beruntung dan berpusar dalam lingkaran kelahiran dan kematian; orang yang tidak percaya adanya perbuatan baik dan jahat dan yang menyimpang dari jalan benar, untuk mencapai pelepasan.”

Kembali Buddha mengingatkan Raja Sakra, “Saya sekarang mempercayakan Dharani suci ini kepadamu. Giliranmu untuk meneruskannya kepada Susthita putra dewa. Sebagai tambahan, kamu, dirimu sendiri harus menerima dan menunjung tinggi, melafal, merenung, dan menghargainya, menghafal dan menghormatinya. Mudra Dharani ini harus disebarluaskan kepada semua makluk hidup di dunia Jambudwipa. Saya juga mempercayakan hal ini kepadamu, untuk kebaikan semua mahluk-mahluk surgawi, dimana Mudra Dharani ini harus disebarluaskan. Raja Surga, kamu harus tekun menjunjung tinggi dan melindunginya, jangan pernah membiarkan Dharani ini dilupakan atau hilang.”

“Raja Surga, bila seseorang mendengar Dharani ini walaupun sekejap saja, dia tidak akan menjalani hukuman karma yang berasal dari karma jahat dan dosa-dosa berat yang terakumulasi dari ribuan kalpa lalu, yang sepantasnya menyebabkan ia berpusar dalam lingkaran kelahiran dan kematian – dalam semua bentuk kehidupan di jalan sengsara – neraka, setan lapar, binatang, alam Raja Yama, Asura, Yaksa, Raksasa, setan dan roh, Putana, Kataputana, Apasmara, nyamuk, kutu, kura-kura, anjing, ular phiton, burung, binatang buas, binatang merayap dan bahkan semut dan bentuk-bentuk kehidupan lainnya. Hasil dari kebaikan yang terkumpul dari mendengar sekejap Dharani ini, ketika kehidupan fana ini berakhir, dia akan terlahir kembali ke tanah Buddha, bersama dengan semua Buddha-Buddha dan Ekajati-pratibaddha Bodhisatva, atau di dalam keluarga Brahmana atau ksatria termasyur, atau dalam beberapa keluarga kaya dan terhormat lainnya. Raja Surga, manusia ini dapat terlahir kembali dalam salah satu dari keluarga makmur dan terhormat di atas hanya karena dia telah mendengar Dharani ini, dan karenanya terlahir kembali di tempat suci.”

“Raja Surga, bahkan memperoleh kemenangan gilang gemilang Bodhimanda adalah hasil dari menjunjung kebajikan dari Dharani ini. Oleh sebab itu, Dharani ini juga dikenal sebagai Dharani Bertuah, yang dapat mensucikan semua jalan sengsara. Usnisa Vijaya Dharani ini sama seperti Harta dari Mutiara Mani Matahari – murni dan tanpa cacat, jernih seperti langit, bersinar gemilang dan terpancar. Jika makluk apapun menjunjung tinggi Dharani ini, sama halnya mereka akan turut cemerlang dan murni. Dharani ini menyerupai emas Jambunada - cemerlang, murni, dan lembut, tidak dapat dinodai oleh kotoran dan semua yang menyaksikannya turut berkenan. Raja Surga, mahluk-mahluk yang menjunjung tinggi Dharani ini juga turut suci. Dengan kebajikan dari amalan murni, mereka akan terlahir kembali di jalan yang benar.”

“Raja Surga, kemanapun Dharani ini berada, jika ditulis untuk disebarluaskan, diperbanyak, diterima dan disimpan, dibaca dan dilafalkan, didengar dan dipuja, ini akan mengakibatkan semua jalan sengsara termurnikan; kesengsaraan dan penderitaan dalam semua neraka akan terhapuskan seluruhnya.”

Buddha menceritakan kembali kepada Raja Sakra secara seksama, “Jika seseorang dapat menulis Dharani ini dan meletakkan-Nya di puncak dari panji tinggi, gunung tinggi atau dalam bangunan tinggi atau menyimpannya di dalam stupa; Raja Surga! Jika di sana terdapat Bikkhu atau Bikkhuni, Upasaka atau Upasika, kaum pria atau wanita jelata yang melihat Dharani ini di atas bangunan tersebut; atau jika bayangan dari bangunan tersebut menimpa mahluk yang mendekati bangunan, atau butiran debu dari Dharani tertulis ini ditiup mengenai badan mereka; Raja Surga: “Bila karma jahat yang terkumpul dari mahluk-mahluk ini yang sepantasnya mengakibatkan mereka jatuh ke dalam jalan sengsara seperti alam neraka, binatang, Raja Yama, setan lapar, Asura dan lainnya, mereka semuanya akan terlepaskan dari jalan sengsara, dan mereka tidak akan ternoda oleh kenajisan dan kotoran. Raja Surga! Sebaliknya, semua Buddha akan melimpahkan amal (Vyakarana) kepada mahluk-mahluk yang tidak akan pernah surut dari jalan menuju Anuttara-samyak-sambodhi (pencerahan sempurna)”.

“Raja Surga, bagaimanapun jikalau seseorang memberikan berbagai persembahan seperti rangkaian bunga, wewangian, dupa, panji dan bendera, tenda yang dihiasi permata, pakaian, kalung dari batu berharga, dan lain-lain untuk menghiasi dan menghormati Dharani ini; Dan pada jalan utama, jika seseorang membuat stupa khusus untuk rumah tempat Dharani ini, dan dengan hormat dengan tangan memuja berjalan perlahan-lahan mengelilingi pagoda, merunduk dan meminta perlindungan, Raja Surga, mereka yang membuat persembahan ini disebut Mahasatva terpandang, pengikut Buddha sejati, dan penyokong Dharma. Stupa-stupa tersebut dapat dianggap sebagai Stupa-Sharira seluruh wujud Sang Tathagata.”

Saat itu, sore menjelang malam, penguasa alam neraka – Raja Yama, datang untuk ke kediaman Sang Buddha. Pertama-tama, menggunakan berbagai bahan kain Dewa, bunga-bunga cantik, wewangian dan hiasan-hiasan lainnya, beliau membuat persembahan kepada Sang Buddha, dan berjalan perlahan-lahan mengelilingi Sang Buddha tujuh kali sebelum bersujud di hadapan kaki Sang Buddha untuk penghormatan, kemudian berkata, “Saya mendengar Sang Tathagata memberikan ajaran untuk memuja menjunjung tinggi Dharani agung. Saya datang dengan maksud untuk belajar dan mengamalkannya. Saya akan senantiasa mengawal dan melindungi mereka yang menjunjung tinggi, membaca, dan melafalkan Dharani agung ini, tidak membiarkan mereka jatuh dalam neraka karena mereka telah mengikuti ajaran Sang Tathagata.”

Saat ini, ke-empat pengawal dunia – Sang Caturmaharaja (Empat Raja Surgawi) berjalan perlahan-lahan mengelilingi Buddha tiga kali, dengan sangat hormat mengatakan, “Bhagavan Buddha, bolehkan Sang Tathagata menjelaskan secara rinci jalan untuk menjunjung tinggi Dharani ini.”

Sang Buddha lalu mengatakan kepada Empat Raja Surgawi , “Silakan didengarkan secara seksama, untuk kebaikan kalian sebagaimana kebaikan untuk semua mahluk hidup yang berusia pendek, Saya sekarang akan menjelaskan cara untuk menjunjung tinggi Dharani ini.”

Pada hari bulan purnama – hari ke-15 penanggalan lunar, seseorang harus mandi dahulu dan mengenakan pakaian bersih, menjunjung tinggi ajaran kesempurnaan dan melafalkan Dharani ini 1000 kali. Ini akan mengakibatkannya panjang umur, dan bebas selamanya dari penderitaan karena sakit; semua halangan karmanya akan dihapuskan seluruhnya. Seseorang akan dibebaskan dari penderitaan di neraka. Jika burung, binatang dan mahluk-mahluk hidup lainnya mendengar Dharani ini sekali saja, mereka tidak akan pernah terlahir kembali ke dalam bentuk ketidaksempurnaan dan badan kasar ini ketika hidup mereka berakhir.”

Buddha melanjutkan, “Jika seseorang yang menderita penyakit parah mendengar Dharani ini, dia akan terbebas dari penyakitnya. Semua penyakit lainnya juga akan terhapuskan, demikian juga dengan karma jahat yang akan mengakibatkannya jatuh dalam jalan sengsara. Dia akan terlahir kembali ke Tanah Kebahagiaan Tertinggi setelah akhir hidupnya. Sejak saat itu dan setelahnya dia tidak akan lagi terlahir dari rahim. Sebaliknya, dimanapun dia dilahirkan kembali, dia akan dilahirkan menjelma dari bunga teratai dan akan selalu mengingat dan menjunjung tinggi Dharani ini dan mendapatkan pengetahuan mengenai kehidupan lalunya.”

Buddha menambahkan, “Jika seseorang telah melakukan semua perbuatan sangat jahat sebelum kematiannya, menurut perbuatan dosanya, dia sepantasnya jatuh ke dalam alam neraka, binatang, Raja Yama atau setan lapar, atau bahkan kedalam neraka Avichi besar, atau dilahirkan kembali menjadi mahluk air, atau dalam salah satu dari bentuk burung dan binatang. Jika seseorang bisa mendapatkan bagian tulang dari jasad mendiang, dan mengenggam segenggam penuh tanah, membacakan Dharani ini 21 kali sebelum menaburkan tanah ini di atas tulang-tulang itu, maka si mendiang tersebut akan terlahir kembali di surga.”

Buddha menambahkan kembali, “Jika seseorang dapat melafalkan Dharani ini 21 kali sehari, seseorang berhak menerima semua berkah berkelimpahan dan akan terlahir kembali ke Tanah Kebahagiaan Tertinggi setelah kematiannya. Jika seseorang melafalkan Dharani ini secara rutin, seseorang akan mencapai Maha Parinirvana dan akan memperpanjang usia hidupnya disamping menikmati kebahagiaan yang sangat luar biasa. Setelah kehidupannya berakhir, dia akan terlahir kembali ke salah satu tanah tujuh hari, datanglah bertemu saya bersama-sama Susthita putra dewa.”
Demikianlah, di tempat Bhagavan Buddha, Raja Surga secara hormat menerima amalan Dharani ini dan kembali ke istana surgawi untuk menyerahkannya kepada Susthita putra dewa.

Setelah menerima Dharani ini, Susthita putra dewa terus menerus mengamalkannya seperti diajarkan selama enam hari dan enam malam, setelahnya semua keinginannya tercapai seluruhnya. Karma yang seharusnya menyebabkan dia menderita di semua jalan sengsara terlenyapkan seluruhnya. Dia tetap berada di Jalan Bodhi dan menambah usia hidupnya untuk periode waktu yang tidak terhingga. Demikianlah, dia sangat senang, berteriak untuk memuji, “Tathagata Luar Biasa! Dharma yang sangat bagus dan jarang! Kemanjurannya telah terbuktikan! Sungguh-sungguh jarang! Saya benar-benar telah terlepaskan!”

Ketika lewat tujuh hari, Raja Sakra membawa Susthita putra dewa bersama-sama dengan semua mahluk-mahluk surgawi, dengan hormat membawa perhiasan terbagus dan terbaik yang terdiri dari rangkaian bunga, wewangian, dupa, panji berpermata, tenda yang dihiasi batu berharga, bahan kain dewa dan kalungan batu pertama, mendatangi kediaman Buddha dan menyerahkan persembahan agung ini. Dengan menggunakan bahan kain surgawi dan berbagai kalungan batu permata mengadakan persembahan untuk Bhagavan Buddha, kemudian mereka dengan hormat berjalan mengelilingi Sang Buddha seratus ribu kali, memberi penghormatan kepada Sang Buddha, kemudian dengan senang hati duduk di tempat duduk mereka dan mendengarkan Sang Buddha berkhotbah Dharma.

Bhagavan Buddha kemudian memanjangkan tangan emasnya dan menyentuh mahkota Susthita putra dewa, yang mana kepadanya tidak hanya diberikan khotbah Dharma tetapi juga melimpahkan amal kepada Susthita putra dewa untuk mencapai Bodhi.

Akhirnya, Sang Buddha berkata, “Sutra ini akan dikenal sebagai 'Yang Mensucikan Semua Jalan Sengsara Usnisa Vijaya Dharani'. Kamu harus tekun menjunjung tingginya.” Setelah mendengar Dharma ini, seluruh anggota pertemuan sangat gembira. Mereka menerima dengan iman kepercayaan dan mengamalkan Dharani ini dengan rasa hormat.
ASAL MULA KARMA SUSTHITA PUTRA DEWA

Pada masa itu, dengan serta merta, dari usnisa (puncak mahkota) Tathagata, berbagai sinaran cahaya memancar dan menerangi seluruh pelosok dunia dalam kesemua sepuluh arah. Berpencarlah lima warna dalam cahaya itu - hijau, merah, kuning, putih dan hitam, dengan kegemilangan dan pantulan yang berkilau-kilau. Cahaya itu kemudiannya memancar mengikut arah jam mengelilingi Bhagavan Buddha tiga kali lalu memantul ke tempat Bhagavan Buddha dan kembali ke mulut-Nya.

Selepas mengumpulkan pancaran cahaya itu, Bhagavan Buddha tersenyum dan berkata kepada Dewaraja Sakra, "Raja Syurga, dengarlah dengan penuh perhatian. Pada waktu asamkhyeya eon yang tidak terkira dahulu, terdapat seorang Buddha yang bergelar Vipasyin Tathagata, Arhat, Samyak-sambuddha, Yang Dianugerahkan dengan Pengetahuan dan Budi Pekerti, Yang Mangkat dengan Baik, Yang Mengetahui dan Memahami Dunia, Pejuang yang Tiada Taranya, Wira Penjinak, Guru kepada Dewa dan Manusia, Yang Sedar dan Yang Disanjungi Dunia, lengkap dengan sepuluh gelaran bagi seorang Buddha. Selepas afiniti untuk menyelamatkan makhluk-makhluk didunia ini berakhir, Vipasyin Buddha telah memasuki Maha Parinirvana. Pada Zaman Dharma Buddha itu, terdapat sebuah negara yang dikenali sebagai Varanasi. Di dalam negara tersebut, terdapat seorang Brahma yang telah meninggal dunia sewaktu isterinya melahirkan seorang cahaya mata lelaki. Anak yatim ini dibesarkan ibunya. Setelah dewasa, dia bertani untuk menyambung hidup. Namun, disebabkan mereka amat miskin, ibunya terpaksa mengemis kemana-mana untuk mendapatkan makanan bagi anaknya.

Pada suatu hari, ibunya gagal mendapatkan makanan dan ketika waktu makan tiba. Anaknya menjadi marah lalu mendendami ibunya disebabkan kelaparan dan kehausan. Dengan api kemarahan yang besar, dia tidak terhenti-henti menyalahkan ibunya, "Mengapakah ibu belum menghantarkan makanan ke sini pada hari ini?"

Lantas, dia mengutuk lagi, "Cis! Ibu saya tidak pun layak dibandingkan dengan binatang. Saya melihat babi, anjing, musang, monyet, ular sawa, gagak serta burung nasar semuanya menjaga dan membesarkan anak-anak dengan begitu penuh belas kasihan. Anak-anak tidak dibiarkan kelaparan atau kehausan, malah tidak seketika pun ditinggalkan. Mengapakah ibu saya masih belum datang? Saya sudah merasa amat lapar dan haus dan ibu masih belum mengantarkan makanan ke sini!"
Tidak lama setelah hatinya menaruh dendam, ibunya berhasil mendapatkan makanan dari mengemis, lantas bergegas ke sawah sambil membujuk anaknya supaya ia tidak marah. Mereka baru saja duduk untuk makan, tiba-tiba, seorang pacekka buddha muncul dalam rupa seorang bhiksu, dan terbang di angkasa dari arah selatan ke utara. Anak yatim ini melihat fenomena yang ganjil tersebut lalu merasa hormat dan kagum. Dia dengan serta-merta bangun dan merapatkan kedua-dua tapak tangannya bersama lalu bersujud penuh sambil menyambut pacceka buddha itu turun. Pada masa itu, pacceka buddha itu telah menerima sambutannya. Dia amat gembira dan giat menyediakan tempat duduk dengan lalang putih. Selain itu, dengan penuh hormat, dia telah menyembahkan bunga yang bersih dan suci, serta sebahagian daripada makanannya kepada pacceka buddha itu dengan dua belah tangan. Selepas makan, bhiksu itu menkhutbahkan ajaran penting Dharma Buddha kepadanya agar dia berasa sukacita. Atas sebab dan afiniti ini, anak yatim tersebut kemudiannya menjadi bhikkhu dan juga dilantik sebagai bhiksu yang menguruskan hal umum dalam biara.

Pada waktu itu, seorang Brahma telah mendirikan sebuah biara untuk penginapan para Sangha. Seorang lagi penderma juga menghadiahkan banyak mentega dan makanan kepada mereka. Secara kebetulan, terdapat banyak bhiksu mengembara yang menetap di situ dan sedang makan pada masa itu, Bhiksu yang menguruskan hal umum biara itu melihat keadaan itu lalu melahirkan perasaan dendam dan tamak. Dia menganggap para bhiksu yang mengembara itu sebagai orang yang amat menyusahkan dan menimbulkan masalah. Oleh itu, dia telah menyimpan semua mentega dan makanan yang dihadiahkan lalu tidak membenarkan mereka makan. Oleh yang demikian, bhiksu yang mengembara itu telah bertanya, "Penyembahan ini telah dimaksudkan untuk semua anggota Sangha yang berada di dalam biara. Mengapakah kamu menyimpan penyembahan makanan tersebut dan tidak membenarkan semua orang memakannya? "

Bhiksu yang menguruskan hal umum biara itu berasa tersinggung lalu melepaskan kemarahannya, "Kamu semua, bhiksu yang mengembara, mengapakah kamu tidak makan saja kotoran dan kencing? Kenapa kamu meminta mentega? Sudahkah mata kamu menjadi buta? Bilakah kamu melihat saya menyembunyikan mentega itu?" "Bhagavan Buddha memberitahu Dewaraja Sakra, "Anak yatim lelaki Brahma pada waktu itu ialah Dewaputra Susthita sekarang. Disebabkan dia mendendami dan membandingkan ibunya dengan binatang, kini dia akan menerima pembalasan dalam rupa binatang untuk tujuh hayat berturut-turut. Tambahan lagi, sewaktu dia menjadi bhiksu yang menguruskan hal umum biara, dia telah mengeluarkan ucapan-ucapan memakan kotoran dan kencing yang kotor. Dan pembalasan karmanya ialah dia akan selalu makan makanan yang tidak bersih. Kerana tamak dan takut berkongsi makanan yang disembahkan kepada para Sangha, dia akan menderita di alam neraka. Sebagai pembalasan memarahi Sangha sebagai buta, dia tidak akan mempunyai mata. Untuk tujuh ratus hayat, dia akan sentiasa buta dan hidup dalam kegelapan serta mengalami kesengsaraan yang amat.

Raja Syurga! Kamu harus sedar bahawa karma-karma berdosa sebegini pasti akan menerima pembalasan daripada kelakuan buruknya. Dosa ini tidak mungkin luntur atau dihapuskan. Yang keduanya, Raja Syurga! Kebahagiaan hidup di syurga yang dinikmati Dewaputra Susthita adalah disebabkan ia pernah membuat penyembahan kepada pacceka buddha, menyediakan tempat duduk, menyembahkan bunga-bungaan, mendermakan makanannya dengan penuh hormat dan pernah mendengar Dharma Buddha. Setelah kalpa yang tidak terkira banyaknya berlalu, dia masih dapat mengecapi kebahagiaan yang agung dan tiada terukur tandingnya. Di samping itu, sewaktu pacceka buddha terbang merentasi langit, dia telah memandang ke atas dan melahirkan perasaan penuh hormat lalu bersujud penuh. Disebabkan kebaktian dan jasa ini, dia telah diberitahu terlebih dahulu akan pembalasannya oleh suara dewa dari langit. Dewa itu sebenarnya ialah Dewa Istana Dewaputra Susthita!"
 Dikutip dari : http://www.indoforum.org/showthread.php?t=40122
 (56)86— ‘Kevaddha, sama seperti halnya seseorang menarik sebatang ilalang keluar dari pelepahnya. Maka ia akan mengerti: ‘Inilah ilalang, inilah pelepah. Ilalang adalah satu hal. Pelepah adalah hal yang lain. Adalah dari pelepah bahwasanya ilalang itu telah ditarik ke luar’.
‘Kevaddha, sama seperti halnya seorang mengeluarkan ular dari selongsongnya. Maka ia akan tahu: ‘Inilah ular, inilah selonsong. Ular adalah satu hal, selongsong adalah hal yang lain. Adalah dari selongsong adalah hal lain. Dari selongsong, ular itu telah dikeluarkan’.
‘Kevaddha, sama seperti halnya seseorang menghunus pedang dari sarungnya. Maka ia akan tahu: ‘Inilah pedang, inilah sarung pedang, Pedang adalah satu hal, sarung pedang adalah hal yang lain. Dari sarung pedang, pedang itu telah dihunus’.
‘Kevaddha, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Bhikkhu itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan tubuh-ciptaan-batin (mano maya kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan ‘tubuh ciptaan batin melalui pikirannya; yang memiliki bentuk, memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apapun’.
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu’.

(57)87-- ’Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan; ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk perbuatan-perbuatan gaib (iddhi), Ia melakukan iddhi dalam aneka ragam bentuknya: dari satu ia menjadi banyak, atau dari banyak kembali menjadi satu; ia menjadikan dirinya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat; tanpa merasa terhalang, ia berjalan menembusi dinding, benteng atau gunung, seolah-olah berjalan melalui ruang kosong; ia menyelam dan timbul melalui tanah, seolah-olah berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang layang di udara, seperti seekor burung dengan sayapnya; dengan tangan ia dapat menyentuh dan meraba bulan dan matahari yang dahsyat dan perkasa; ia dapat pergi mengunjungi alam-alam dewa Brahma dengan membawa tubuh kasarnya’.

(58)88— ’Kevaddha, sama seperti halnya seorang pembuat barang-barang tembikar atau pembantunya, dapat membuat, berhasil menciptakan berbagai bentuk barang tembikar yang mengkilap menurut keinginannya’.
‘Kevaddha, sama seperti halnya pemahat gading atau pembantunya, dapat memilih gading serta berhasil memahatnya menjadi berbagai bentuk pahatan-gading menurut keinginannya’.
‘Kevaddha, sama seperti halnya tukan gemas atau pembantunya, dapat menjadikan, berhasil membuat berbagai bentuk barang dari emas, menurut keinginannya’.
‘Kevaddha, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Bhikkhu itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk kemampuan batin fisik (iddhi).
Demikianlah ia melakukan iddhi dalam aneka ragam bentuknya: dari satu ia menjadi banyak, atau dari banyak kembali menjadi satu; ia menjadikan dirinya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat; tanpa merasa terhalang, ia berjalan menembus dinding, benteng atau gunung, seolah olah berjalan melalui ruang kosong; Ia menyelam dan timbul melalui tanah, seolah-olah berenang, seolah-olah berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang-layang di udara, seperti seekor burung dengan sayapnya; dengan tangan ia dapat menyentuh dan meraba bulan dan matahari yang begitu dahsyat dan perkasa; ia pergi mengunjungi alam-alam dewa Brahma dengan membawa tubuh kasarnya’.
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi dari pada yang terdahulu’.

(59)89— ’Dengan pikirannya yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan-kemampuan mendengar sebagai telinga dewa (dibbasota). Dengan kemampuan-kemampuan dibbasotta yang jernih, yang melebihi telinga manusia, ia mendengar suara-suara manusia dan dewa, yang jauh atau yang dekat’.

(60)90— Kevaddha, sama seperti halnya seseorang yang sedang berada di jalan raya, dapat mendengar suara genderang besar, suara tembur, suara tiupan terompet kulit kerang, suara genderang kecil. Maka ia akan tahu: ‘Inilah suara genderang besar, ini suara tambur, ini suara tiupan terompet kulit kerang, ini suara gendering kecil’.
‘Kevaddha, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Bhikkhu itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan-kemampuan dibbasotta (telinga dewa). Dan dengan kemampuan-kemampuan dibbasotta yang jernih, yang melebihi telinga manusia, ia mendengar suara-suara manusia dan dewa, yang jauh atau yang dekat.’
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu.’

(61)91— ’Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan mengetahui pikiran orang lain (cetopariyañäna). Dengan pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain atau pikiran orang-orang lain.
Ia mengetahui:
‘Pikiran yang disertai sebagai pikiran yang disertai nafsu’.
‘Pikiran tanpa nafsu sebagai tanpa nafsu’.
‘Pikiran yang disertai kebencian sebagai pikiran yang disertai kebencian’.
‘Pikiran tanpa kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian’.
‘Pikiran yang disertai ketidaktahuan sebagai pikiran yang disertai ketidaktahuan’.
‘Pikiran tanpa ketidaktahuan sebagai pikiran tanpa ketidaktahuan’.
‘Pikiran yang teguh sebagai pikiran yang teguh’.
‘Pikiran yang ragu-ragu sebagai pikiran yang ragu-ragu’.
‘Pikiran yang berkembang sebagai pikiran yang berkembang’.
‘Pikiran yang tidak berkembang sebagai pikiran yang tidak berkembang’.
‘Pikiran yang rendah sebagai pikiran yang rendah’.
‘Pikiran yang luhur sebagai pikiran yang luhur’.
‘Pikiran yang terpusat sebagai pikiran yang terpusat’.
‘Pikiran yang berhamburan (kacau) sebagai pikiran yang berhamburan (kacau)’.
‘Pikiran yang bebas sebagai pikiran yang bebas’.
‘Pikiran yang tidak bebas sebagai pikiran yang tidak bebas.’

(62)92— ‘Kevaddha, sama halnya seperti seorang wanita, lelaki atau anak kecil, yang ingin memperindah diri dengan melihat wajahnya pada permukaan sebuah kaca yang bersih dan jernih atau pada sebuah tempayan yang berisikan air jernih; maka apabila wajahnya memiliki tahi lalat, ia tahu bahwa wajahnya memiliki tahi lalat; apabila wajahnya tidak memiliki tahi lalat, ia tahu bahwa wajahnya tidak memiliki tahi lalat.’
‘Kevaddha, demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Bhikkhu itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada ceto pariyañäna (pengetahuan mengetahui pikiran orang lain). Dengan menembus melalui pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain, pikiran orang-orang lain dan ia mengetahui:
‘Pikiran yang disertai nafsu sebagai pikiran yang disertai nafsu’.
‘Pikiran tanpa napsu sebagai pikiran tanpa nafsu’.
‘Pikiran tanpa kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian’.
‘Pikiran yang disertai ketidaktahuan sebagai pikiran yang disertai ketidaktahuan’.
‘Pikiran tanpa ketidaktahuan sebagai pikiran tanpa ketidaktahuan’.
‘Pikiran yang teguh sebagai pikiran yang teguh’.
‘Pikiran yang ragu-ragu sebagai pikiran yang ragu-ragu’.
‘Pikiran yang berkembang sebagai pikiran yang berkembang’.
‘Pikiran yang tidak berkembang sebagai pikiran yang tidak berkembang’.
‘Pikiran yang rendah sebagai pikiran yang rendah’.
‘Pikiran yang luhur sebagai pikiran yang luhur’.
‘Pikiran yang terpusat sebagai pikiran yang terpusat’.
‘Pikiran yang berhamburan (kacau) sebagai pikiran yang berhamburan (kacau)’.
‘Pikiran yang bebas sebagai pikiran yang bebas’.
‘Pikiran yang tidak bebas sebagai pikiran yang tidak bebas’.

‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi dari pada yang terdahulu’.

(63)93— ‘Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang kemampuan mengingat kelahiran-kelahiran lampau (pubbenivasanussati).
Demikialah ia ingat tentang bermacam-macam kelahirannya yang lampau, seperti: satu kelahiran, dua kelahiran, sepuluh kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, melalui banyak masa perkembangan menjadi bumi (samvatta-kappa), melalui banyak masa perkembangan-kehancuran bumi (samvata-vivatta-kappa). ‘Di suatu tempat demikian, suku bangsaku adalah demikian aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang demikian, batas umurku adalah demikian. Kemudian, setelah aku berlalu dari keadaan itu, aku lahir kembali di suatu tempat demikian: di sana namaku adalah demikian, makananku adalah demikian, keluargaku adalah demikian, suku bangsaku adalah demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang demikian, batas umurku adalah demikian. Setelah aku berlalu dari keadaan itu, kemudian aku lahir kembali di sini’. Demikianlah ia mengingat kembali tentang bermacam-macam kelahirannya di masa lampau, dalam seluruh seluk beluknya dalam seluruh macamnya’.

(64)94— ‘Kevaddha, sama halnya seperti seseorang yang pergi dari desanya menuju ke lain desa, dan dari desa itu ia pergi ke desa lainnya lagi, serta dari desa itu ia pulang kembali ke desanya sendiri; maka ia akan tahu: ‘Dari desaku sendiri, aku pergi ke lain desa. Di sana aku berdiri di tempat-tempat demikian, duduk demikian, berbicara demikian, berdiam diri demikian. Dari tempat itu aku datang ke desa lainnya; di sana aku berdiri di tempat-tempat demikian, duduk demikian, berbicara demikian, berdiam diri demikian. Dan sekarang, dari desa itu aku pulang ke desaku sendiri!.
‘Kevaddha, demikian pula dengan pikirannya yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Bhikkhu itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang pubbenivasanussati (ingatan terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Demikianlah ia ingat tentang bermacam-macam kelahirannya yang lampau, seperti: satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, duapuluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, melalui banyak masa-perkembangan (samvatta kappa), melalui banyak masa kehancuran (vivatta-kehancuran), dan melalui banyak masa perkembangan kehancuran (samvata-vivatta-kappa). ‘Di suatu tempat kelahiran, namaku adalah demikian, makananku adalah demikian, keluargaku adalah demikian, suku bangsaku adalah demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang demikian, batas umurku adalah demikian. Kemudian, setelah aku berlalu dari keadaan itu, aku lahir kembali di suatu tempat demikian; di sana, namaku adalah demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang demikian, batas umurku adalah demikian. Setelah aku berlalu dari keadaan itu, kemudian aku lahir kembali di sini’.
Demikianlah ia mengingat kembali tentang bermacam-macam kelahirannya di masa lampau, dalam seluruh seluk beluknya, dalam seluruh macamnya.’
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang petapa dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu’.

(65)95— ‘Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya mahkluk-makhluk (cutupapatta ñäna).
Dengan kemampuan mata dewa (dibbacakkhu) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu perwujudan, muncul dalam perwujudan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk makhluk itu muncul sesuai dengan perbuatan-perbuatannya: ‘Saudara, makhluk-makhluk ini memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang jahat, penghina para suci, pengikut pandangan-pandangan keliru, dan melakukan perbuatan menurut pandangan keliru. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati mereka terlahir kembali dalam alam celaka, alam sengsara, alam neraka. Tetapi, makhluk-makhluk yang lain, saudara, memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang baik, bukan penghina para suci, pengikut pandangan-pandangan bensar dan melakukan perbuatan menurut pandangan benar. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga’.
Demikianlah, dengan kemampuan dibbacakku yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu perwujudan, muncul dalam perwujudan lain; rendah, mulia, indah jelek, bahagia dan menderita’.

(66)96— ‘Kevaddha, sama halnya seperti di sana terdapat sebuah rumah bertingkat, terletak di suatu tempat yang menghadap ke perempatan jalan; dan seandainya seseorang yang memilki mata berdiri di atasnya, mengamati orang-orang memasuki rumah, keluar dari rumah, berjalan hilir mudik sepanjang jalan, duduk di tengah perempatan jalan; maka ia akan tahu: ‘Orang-orang itu memasuki rumah; orang-orang itu keluar dari rumah; orang-orang itu berjalan hilir mudik sepanjang jalan; orang-orang itu duduk di tengah perempatan jalan’.
‘Kevaddha, demikian pula dengan pikirannya yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Bhikkhu itu mempergunakan dan mengarahkannya pada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk (cutupapata ñäna). Dan dengan kemampuan mata dewa (dibbacakku) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu perwujudan, muncul dalam perwujudan lain; rendah mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk-makhluk itu muncul sesuai dengan perbuatan-perbuatannya: ‘Saudara, makhluk-makhluk ini memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang jahat, penghina para suci, pengikut pandangan-pandangan keliru, dan melakukan perbuatan-perbuatan menurut pandangan-pandangan keliru.
Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam cela, alam sengsara, alam neraka. Tetapi, makhluk-makhluk lain, saudara, memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang baik, bukan penghina para suci, pengikut perbuatan menurut tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga. Demikianlah, dengan kemampuan mata dewa (dibbacakkhu) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu perwujudan, muncul dalam perwujudan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita’.
‘Kevaddha, inilah faedah nyata dari kehidupan seorang peta dalam masa sekarang ini, yang lebih indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu’.
(67)97— ‘Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda batin (asava).
Demikianlah,
‘ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah dukkha’.
‘Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah sebab dukkha’.
‘Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah akhir dukkha’.
‘Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah Jalan yang menuju pada lenyapnya dukkha’.
‘Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah asava’.
‘Ia mengetahui sebagaimana adanya: Inilah akhir akhir asava’.
‘Ia mengetahui sebagaimana adanya: Inilah jalan yang menuju pada lenyapnya asava’.
‘Dengan mengetahui, melihat demikian, maka pikirannya terbebas dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda perwujudan (bhavasana) dan noda-noda ketidaktahuaan (avijjasava). Dengan terbebas demikian, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya, dan ia mengetahui: ‘Berakhirlah kelahiran kembali, terjalani kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan sesudah ini’.
‘Kevaddha, inilah yang disebut keajaiban ajaran (anusasani-patiariya).’

(68) (67)— ‘Kevaddha, inilah tiga keajaiban yang telah saya mengerti dan realisasikan serta telah saya ajarkan kepada orang lain.
Pada suatu ketika di antara para Bhikkhu sangha ada seorang Bhikkhu yang menjadi ragu-ragu tentang: ‘Ke manakah empat unsur (mahabhutarupa) padat, cair, panas dan udara lenyap, tanpa meninggalkan bekas.’ Kevaddha, Bhikkhu itu mengembangkan batinnya dengan melakukan meditasi hingga ia mencapai tingkat meditasi tertentu dan memiliki kemampuan batin untuk mengunjungi alam para dewa.

(69)(68)— ‘Kevaddha, kemudian Bhikkhu itu pergi ke alam surga Catummaharajika, dan bertanya kepada para dewa: ‘Kawan-kawan, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, para dewa di alam surga Catummaharajika menjawab: ‘Bhikkhu, kami pun tidak tahu. Namun ada Empat Raja Dewa yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Mereka mengetahuinya.

(70)(69) ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui Empat Raja Dewa dan bertanya: ‘Saudara-saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, Empat Raja Dewa di alam surga Catummaharajika menjawab: ‘Bhikkhu, kami pun tidak tahu. Namun ada para dewa di alam surga Tavatimsa yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Mereka mengetahuinya.’

(71)(70) ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui para dewa di alam surga Tavatimsa dan bertanya: ‘Saudara-saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, para dewa di alam surga Tavatimsa menjawab: ‘Bhikkhu, kami pun tidak tahu. Namun ada Sakka, raja para dewa alam surga Tavatimsa, yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Ia mengetahuinya.’

(72)(71)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui Sakka, raja dewa dan bertanya: ‘Saudara ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, Sakka, raja dewa menjawab: ‘Bhikkhu, saya pun tidak tahu. Namun ada para dewa di alam surga Yama yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Mereka mengetahuinya.’

(73)(72)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui para dewa di alam surga Yama dan bertanya: ‘Saudara-saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, para dewa di alam surga Yama menjawab: ‘Bhikkhu, kami pun tidak tahu. Namun ada dewa Suyama, raja para dewa di alam surga Yama, yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Ia mengetahuinya.’

(74)(73)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui Suyama, raja para dewa alam surga Yama dan bertanya: ‘Saudara-saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas? Ketika ia telah berkata seperti itu, Suyama, raja para dewa di alam surga Yama menjawab: ‘Bhikkhu, saya pun tidak tahu. Namun ada para dewa di alam surga Tusita yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Mereka mengetahuinya.’

(75)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui para dewa di alam dewa surga Tusita dan bertanya: ‘Saudara-saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, para dewa di alam surga Tusita menjawab: ‘Bhikkhu, kami pun tidak tahu. Namun ada Santusita dewa-putta yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Ia mengetahuinya.’

(76)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui Santusita, raja para dewa alam surga Tusita, dan bertanya: ‘Saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, Santusita, raja para dewa alam surga Tusita, menjawab: ‘Bhikkhu, saya pun tidak tahu. Namun ada para dewa di alam surga Nimmanarati yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Mereka mengetahuinya.’

(77)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui para dewa di alam surga Nimmanarati dan bertanya: ‘Saudara-saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, para dewa di alam surga Nimmanarati menjawab: ‘Bhikkhu, kami pun tidak tahu. Namun ada Sunimmita, raja para dewa alam surga Nimmanarati, yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Ia mengetahuinya.’

(78)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui Sunimmita, raja para dewa alam surga Nimmanarati, dan bertanya: ‘Saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, Sunimmita deva-putta menjawab: ‘Bhikkhu, saya pun tidak tahu. Namun ada para dewa di alam surga Paranimmita-vasavatti yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Mereka mengetahuinya.’

(79)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui para dewa di alam surga Paranimmita-vasavatti dan bertanya: ‘Saudara-saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, para dewa di alam surga Paranimmita-vasavatti menjawab: ‘Bhikkhu, kami pun tidak tahu. Namun ada Vasavatti, raja dewa alam surga Parinimmita-vasavatti, yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Ia mengetahuinya.’

(80)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui Vasavatti, raja dewa alam surga Parinimmita-vasavatti dan bertanya: ‘Saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, Vasavatti raja para dewa alam surga Parimmita-vasavatti menjawab: ‘Bhikkhu, saya pun tidak tahu. Namun ada para dewa Brahma yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Mereka mengetahuinya.’

(81)— ‘Kevaddha, Bhikkhu itu pergi menemui para dewa di alam Brahma dan bertanya: ‘Saudara-saudara, ke mana empat unsur itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, para dewa di alam Brahma menjawab: ‘Bhikkhu, kami pun tidak tahu. Namun ada Brahma, maha Brahma, maha agung, maha kuasa, maha tahu, penguasa, tuan dari semua, pembuat, pencipta, kepala dari semua, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula segala sesuatu, ayah dari semua telah ada dan yang akan ada. Ia yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Ia mengetahui-nya.’
‘Saudara-saudara, di manakah Maha Brahma itu?’
‘Bhikkhu, kami tidak tahu di mana Brahma berada, ia bagaimana maupun ia ke mana. Bhikkhu, tetapi bila tanda kedatangannya muncul, ketika sinar muncul dan kegemilangan bercahaya, maka ia ada. Karena sinar dan kegemilangan itu merupakan tanda keberadaan Brahma.’

(82)— ‘Kevaddha, tidak lama kemudian Maha Brahma muncul. Bhikkhu itu mendekati beliau dan bertanya: ‘Saudara, ke mana empat unsur dasar (mahabhuta) – padat, cair, panas dan udara- itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?
Ketika ia telah berkata seperti itu, Maha Brahma menjawab: ‘Saya Brahma, maha Brahma, maha agung, maha kuasa, maha tahu, penguasa, tuan dari semua, pembuat, pencipta, kepala dari semua, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula segala sesuatu, ayah dari semua telah ada dan yang akan ada.’

(83)— ‘Kevaddha, untuk kedua kalinya Bhikkhu itu bertanya kepada Maha Brahma: ‘Saudara, saya tidak bertanya apakah anda adalah Brahma, maha Brahma, maha agung, maha kuasa, maha tahu, penguasa, tuan dari semua, pembuat, pencipta, kepala dari semua, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula segala sesuatu, ayah dari semua telah ada dan yang akan ada. Tetapi yang saya bertanya : “Ke mana empat unsur dasar (mahabhuta) – padat, cair, panas dan udara- itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?”

(84)— ’Kevaddha, Maha Brahma memberikan jawaban yang sama pula. Bhikkhu itu, untuk ketiga kalinya bertanya kepada Maha Brahma: ‘Saudara, ke mana empat unsur dasar (mahabhuta) – padat, cair, panas dan udara-- itu lenyap, tanpa meninggalkan bekas?’
‘Kevaddha, kemudian Maha Brahma memegang tangan Bhikkhu itu dan membawanya ke sampingnya dan berkata: ‘Bhikkhu, para dewa pengikut Brahma ini berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang tidak saya tidak tahu, tidak ada yang tidak saya mengerti, tidak ada yang saya tidak realisasikan. Maka saya tidak menjawab di depan mereka. Bhikkhu saya tidak tahu ke mana empat unsur-dasar itu pergi, lenyap tanpa bekas. Bhikkhu, anda telah berbuat salah, telah bertindak salah karena anda telah melupakan Bhagava, anda telah bersusah payah mencari tahu hal ini, di antaranya mencari jawaban untuk pertanyaanmu. Sekarang, kembalilah kepada Bhagava, tanyakan pertanyaan kepada beliau, dan terimalah jawaban apa pun yang akan dikatakannya.’

(85)— ‘Kevaddha, kemudian Bhikkhu itu dalam sekejap lenyap dari alam Brahma dan muncul di hadapan saya, ia memberi hormat dan duduk. Setelah duduk ia bertanya kepada saya: "Bhante, ke manakah empat unsur dasar (mahabhuta)–padat, cair, panas dan udara-- lenyap tanpa bekas?’

(86)— ‘Kevaddha, setelah ia berkata, saya menjawab: ’Bhikkhu, pertanyaan itu jangan tanyakan seperti yang kau katakan. Tetapi sebaliknya anda harus bertanya:
'Di manakah unsur padat, cair, panas dan udara, ‘panjang dan pendek, halus dan kasar, ‘bersih dan tak bersih, tidak di temukan?”
‘Di manakah jasmani dan batin dari orang meninggal, pergi tanpa bekas?'
Jawabannya:
'Kebijakan Arahat, yang tak tampak, tanpa akhir, yang dapat dicapai dari beberapa sisi -- Di situlah unsur padat, cair, panas dan udara, panjang dan pendek, kasar dan halus, bersih dan tak bersih, tidak di temukan. Di situlah jasmani dan batin dari orang yang meninggal pergi tanpa bekas.
Bilamana kesadaran lenyap, hal-hal itu pun lenyap.
Di akhir khotbah, Upasaka Kevaddha menjadi senang dan gembira.



"Janganlah melekat pada apa yang dicintai atau yang tidak dicintai.

Tidak bertemu dengan mereka yang dicintai dan bertemu dengan yang tidak dicintai,
keduanya merupakan penderitaan"

"Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan,
bagi orang yang telah bebas dari rasa cinta tiada lagi kesedihan dan ketakutan.

Na paro param nikubbetha Natimannetha katthanci nam kanci
Byarosana patighasanna
nannamannassa dukkhamiccheyya.

"Jangan menipu orang lain, atau menghina siapa saja, jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka"

SUTRA BAKTI 

Ayah Dan Ibu adalah dua Buddha yang hidup dalam keluarga. Sutra ini adalah sutra tentang kebaikan hati orang tua dan bagaimana sulitnya untuk membalas budi baik mereka.
 
Demikianlah yang aku dengar, suatu ketika Hyang Buddha berdiam di Shravasti, di Hutan Jeta, bersama-sama dengan sekumpulan bhiksu-bhiksu besar, yang seluruhnya berjumlah 1250, dan para Bodhisattva, yang semuanya berjumlah 38.000.
 
 
 
Pada saat itu, Sang Bhagava memimpin kumpulan besar tersebut dalam perjalanan menuju selatan. 
 
 
 
 
 
Tiba-tiba rombongan Hyang Buddha menjumpai seonggok tulang manusia disamping jalan. Hyang Bhagava berpaling menghadapinya, dan bersikap Anjali dengan penuh hormat. Guru Buddha lalu menghampiri sekumpulan tulang tersebut, seraya bersujud dan memberi hormat. Ananda dan anggota rombongan lainnya tidak mengerti mengapa Guru Buddha bertindak demikian.
 
Ananda dengan bersikap Anjali kemudian bertanya kepada Sang Bhagava, "Tathagata adalah Guru Agung dari Tri Loka dan bapak yang terkasih dari makhluk-makhluk yang berasal dari Empat Jenis Kelahiran. Beliau dihormati dan dicintai seluruh umat. Apakah sebabnya kini beliau menghormati seonggok tulang-tulang kering?" Buddha lalu menjawab kepada Ananda, "Meskipun Kalian adalah siswa-siswaku yang utama dan telah lama menjadi anggota Sangha, namun pengertian kalian belum cukup. Onggokan tulang ini mungkin adalah milik para leluhurku pada kehidupan yang lalu. Bagaimana mungkin manusia tidak menghormati orang tuanya, karena itulah Aku bersujud dan menghormat".
 
Sang Buddha menerangkan lebih lanjut  kepada Ananda, "Tulang-tulang yang kita lihat ini dapatlah dibagi menjadi dua kelompok. Yang satu adalah tulang-tulang Pria, yang berat dan putih warnanya. Kelompok yang lain adalah tulang-tulang Wanita, yang ringan dan warnanya hitam." Ananda lalu berkata, "Duhai Sang Bhagava, saat  masih hidup didunia para pria menghiasi badan mereka dengan jubah, pengikat pinggang, sepatu, topi dan pakaian-pakaian indah lainnya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pria perkasa. Ketika masih hidup para wanita, mereka mengenakan kosmetik, minyak wangi, bedak dan wangi-wangian yang menarik untuk menghiasi tubuh mereka, sehingga dengan jelas menampakkan kewanitaannya.
 
Namun tatkala para pria dan wanita itu meninggal, semua yang tertinggal adalah tulang-tulang. Bagaimana seseorang dapat membedakan nya? Mohon ajarilah kami Guru, bagaimana cara membedakannya?" Buddha menerangkan, ”Semasa hidup didunia ada pria yang rajin memasuki Vihara, mendengarkan penjelasan tentang Sutra dan Vinaya, menghormati Tri Ratna. Karena kebajikannya luar biasa, tatkala mereka meninggal tulang-tulangnya menjadi berat dan putih warnanya.
 
Wanita pada umumnya kurang bijaksana   dan terbawa emosi. Mereka melahirkan   dan membesarkan anak-anak, sebagai    suatu kewajiban. Setiap anak meminum 1200 galon susu ibunya. Ibu menjadi   letih dan menderita, dan karenanya tulang-tulang mereka berubah menjadi hitam & ringan ketika mereka meninggal."  Ketika Ananda mendengar kata-kata ini, dia merasakan kepedihan dalam hatinya, karena seolah-olah telah tertusuk pedang dan karenanya ia diam-diam menangis. Dia mengatakan kepada Sang Bhagava, "Bagaimanakah caranya seseorang dapat membalas kasih dan kebaikan ibunya?"
 
Sang Buddha mengatakan kepada Ananda, "Dengarkanlah baik-baik, Aku akan jelaskan hal ini kepadamu dengan terperinci. Janin tumbuh dalam kandungan selama sepuluh bulan perhitungan Candra Sengkala. Alangkah menderitanya ibu selama janin berada disitu! Pada bulan pertama kehamilan, hidup janin tidaklah menentu seperti titik embun pada daun yang kemungkinan tidak akan bertahan dari pagi hingga sore, tetapi akan menguap pada tengah hari!" "Pada bulan kedua, janin menjadi kental seperti susu kental.
 
Pada bulan ketiga, ia seperti darah yang mengental. Hingga pada bulan keempat, janin mulai berwujud sedikit seperti manusia. Selama bulan kelima dalam kandungan, kelima anggota badan anak (dua kaki,  dua tangan, dan kepala) mulai terbentuk. Pada bulan keenam kehamilan, anak mulai mengembangkan inti ke enam alat indera nya yaitu mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran.
 
Selama bulan ketujuh, ketiga ratus enam puluh tulang-tulang dan persendian terbentuk, dan kedelapan puluh empat ribu pori-pori rambut juga telah sempurna. Dalam bulan kedelapan kehamilan, kecerdasan dan kesembilan lubang terbentuk. Pada bulan kesembilan, janin suka meng-gerakkan tangan dan kakinya membuat ibu tidak nyaman dan kehilangan selera makan. Janin telah belajar menyerap berbagai zat makanan. misalnya janin dapat menyerap sari buah-buahan, akar tanaman tertentu, dan kelima macam padi-padian."
 
Selama kehamilan, pembekuan darah ibu dari organ-organ dalamnya membentuk zat tunggal yang menjadi makanan anak. Selama bulan ke sepuluh kehamilan, badan janin disempurnakan dan siap untuk dilahirkan. Setelah sepuluh bulan merasakan kesusahan, darah ibu akan mengalir deras seperti sungai agar janin bisa lahir dengan sempurna. Bila janin ini kelak akan menjadi anak yang ber-bakti, dia akan lahir dengan telapak tangan disatukan sebagai hormat dan kelahiran itu akan aman dan baik. Ibunya tidak akan terluka oleh kelahirannya dan tidak akan membawa derita kesakitan bagi sang Ibu.

Tetapi, bila anak tersebut akan menjadi pembangkang maka ia akan merusak dan melukai kandungan ibunya, membuatnya sangat menderita Saat melahirkan Ibu akan merasa seperti di sayat seribu pisau atau seperti ribuan pedang yang menikam jantungnya, mengoyak hati dan jantung, menyangkut ditulang ibunya. Itulah ke-sakitan yang dialami saat kelahiran anak yang nakal dan pembangkang. Sebagai seorang anak, kita tidak boleh melupa-kan penderitaan orang tua, dalam merawat dan membesarkan kita. Jika kita lupa, kita bahkan lebih kejam dan jahat dari binatang buas.Untuk menambah bakti kita dan lebih jelasnya, kita harus mengerti ada 10 jenis kebajikan yang diperbuat oleh seorang ibu kepada anaknya :

Kebaikan Pertama ialah kebaikan didalam mem berikan perlindungan dan penjagaan selama anak dalam kandungan. Kebaikan Kedua adalah kebaikan dalam menanggung penderitaan selama kelahiran. "Kebaikan pertama: Menyediakan makanan dan per-lindungan. Sungguh sulit terlahir sebagai manusia bagi kelahiran-kelahiran kita yang tak terhitung jumlahnya." "Tidak mudah bisa berada di dalam kandungan ibu, dibutuhkan hubungan karma dengan orang tua." "Dengan berlalunya bulan, kelima organ penting berkembang. Dalam waktu tujuh minggu, keenam alat indera mulai tumbuh, dan ter-bentuk." "Saat janin mulai tumbuh, beban ibu semakin berat dan badannya pun menjadi seberat gunung."

Diam atau gerakan-gerakan janin adalah laksana gempa bumi & bencana angin ribut, baju-baju ibu yang cantik tidak dapat dipakai dengan baik lagi, dan begitu juga cerminnya pun berdebu karena hanya memikirkan bayinya, ibu tidak sempat dan terlalu letih untuk berdandan. Kebaikan kedua: "Kehamilan berlangsung selama sepuluh bulan. Masa kehamilan semakin lama semakin tidak menyenangkan." "Saat kelahiran semakin dekat, kesusahan dan kesulitan ibu semakin berat." Setiap pagi ibu merasa sangat sakit, sepanjang hari terasa mengantuk dan lamban. Ketakutannya dan ke-gelisahannya sukar dilukiskan.

Dengan khawatir ibu memberitahu keluarganya, bahwa dia hanya takut maut akan menimpa bayi atau dirinya. Kebaikan Ketiga adalah kebaikan untuk melupa kan semua kesakitan begitu anak telah dilahirkan. Saat bersalin, kelima organ semua terbuka lebar, Membuat tubuh  dan pikiran Ibu sangat letih. Darah mengalir laksana seekor domba yang disembelih, hingga ibu pingsan beberapa kali. Tetapi ketika mendengar bahwa anaknya terlahir sehat, dia dipenuhi dengan kegembiraan yang me limpah, tetapi sesudah kegembiraan, rasa sakit kembali mengaduk-ngaduk bagian dalam tubuhnya.

Kebaikan Keempat adalah kebaikan dari me-makan bagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan yang manis bagi anak. Kebaikan kedua orangtua sangat besar dan dalam, penjagaan dan pengabdiannya tidak pernah ber henti, tidak pernah beristirahat, ibu senantiasa menyimpan yang manis untuk anak, dan tanpa mengeluh menelan yang pahit bagi dirinya. cintanya amat besar dan emosinya sukar ter tahankan, kebaikannya adalah mendalam dan begitu juga kasihnya, hanya menginginkan anak mendapat cukup makanan, ibu yang kasih tidak membicarakan kelaparannya sendiri. Asal anaknya bahagia, orang tua rela kedinginan dan menahan lapar. Cinta kasih dan kasih sayang mereka tidak terlukiskan.

Yang Kelima adalah kebaikan untuk memindah kan anak ke tempat yang kering dan dirinya sendiri berbaring di tempat yang basah. Ibu rela basah agar anaknya dapat berada di tempat yang kering. Ibu senantiasa melindungi anak dengan lengan nya dari angin dan dingin. Dalam kebaikannya, kepala ibu jarang lega di atas bantal, dan bahkan dia melakukannya dengan gembira selama anak dapat merasa senang, Ibu yang baik tidak mencari penghiburan bagi dirinya sendiri.

Kebaikan Keenam adalah menyusui anaknya pada payudaranya dan memberinya makan serta memelihara serta membesarkan anak. Dengan kedua payudaranya dia memuaskan rasa lapar dan haus sang anak, selama 3 tahun ibu menghidupi anaknya dengan air susu, yang se-benarnya adalah darahnya sendiri. Ibu yang baik adalah bagai kan bumi yang besar, Ayah yang tegar laksana langit yang mengasihi, yang satu melindungi dari atas, yang lainnya menunjang dari bawah,

Kebajikan semua orang-tua adalah se-demikian rupa sehingga mereka tidak membenci atau marah terhadap anaknya meskipun mereka terlahir jelek. Mereka juga tidak kecewa dan tetap menyukainya, sekalipun anak terlahir cacat. Setelah ibu mengandung dan melahirkan anaknya, ayah dan ibu bersama-sama merawat, membesarkan dan melindungi anaknya sampai akhir hayatnya. Sungguh luar biasa cinta kasih orang tua terhadap anaknya.

Kebaikan yang Ketujuh adalah rela  membersihkan kotoran anaknya. Pada mulanya ibu cantik dan memiliki tubuh yang indah, semangatnya kuat dan bergelora, alis matanya seperti daun willow yang segar, dan  kulitnya bersinar.Tetapi karena kebaikan ibu yang begitu men-dalam sehingga ia melupakan dan melepaskan kecantikannya. Sekalipun merawat dan mencuci anaknya, yang dapat membuat dirinya kotor dan merusak badannya. Ibu yang baik bertindak hanya demi untuk kepentingan putra-putrinya. Dan dengan rela menerima kecantikannya yang memudar.
 
Kebajikan yang Kedelapan adalah kebaikan dari selalu memikirkan anak bila dia berjalan jauh. Kematian dari orang yang dicintai sukar terlukiskan penderitaannya. Tetapi berpisah dari yang dikasihi juga sangat menyakitkan. Bila anak berjalan jauh, ibu merasa khawatir dikampungnya, dari pagi hingga malam, hatinya selalu bersama anaknya, sentiasa bersembahyang berharap anaknya selamat dan sukses agar dapat cepat pulang dan berkumpul kembali. Orang tua menunggu berita siang dan malam. Dan air mata jatuh berderai dari matanya, seperti monyet yang menangis diam diam, Sedikit demi sedikit hatinya hancur. Ketika tiada berita kunjung tiba. Demikian dalamnya cinta seorang ibu kepada anaknya.

Kebaikan Kesembilan adalah Kasih Sayang yang dalam berupa Pengabdian dan Perhatian orang tua terhadap anaknya. Sungguh sulit untuk dibalas. Mereka rela menderita demi kepentingan anaknya. Alangkah besarnya kebaikan orang tua dan gejolak emosinya! Ketika tahu atau mendengar  anaknya susah, Orang tua akan ikut bersusah hati. Bila anaknya bekerja berat, orang tua pun merasa tidak tenang. Bila mereka mendengar bahwa anak berjalan jauh, mereka khawatir bahwa pada waktu malam sang anak berbaring ke-dinginan. Bahkan sakit se bentar yang diderita putra atau putrinya, akan me-nyebabkan orang tua lama bersusah hati.
 
Yang Kesepuluh adalah kebaikan dari rasa kasihan yang dalam dan simpati dari Orang tua terhadap anaknya.Cinta kasih dan kasih sayang orang tua adalah besar dan penting. Perhatiannya yang lemah lembut tidak pernah berhenti, seperti cahaya abadi dari Bulan dan matahari yang menyinari seluruh dunia, tidak pernah akan sirna. Sejak bangun pagi, yang dipikirkan mereka adalah anaknya. Apakah anak-anak dekat atau jauh, orang tua selalu memikirkan mereka. Sekalipun seorang ibu hidup untuk seratus tahun. dia akan selalu mengkhawatirkan anaknya yang berumur delapan puluh tahun. Inginkah anda mengetahui "Kapan" kebaikan dan cinta yang demikian itu berakhir ? Ia bahkan tidak berkurang hingga akhir hidupnya. Meski menjadi hantu sekalipun, mereka masih terikat kepada anaknya. Mereka tidak bisa melepaskan keterikatan itu.

Sang Buddha berkata kepada Ananda "Bila Aku merenung tentang makhluk-makhluk hidup, Aku melihat bahwa sekalipun sebagian dari mereka terberkahi dilahirkan sebagai manusia, tetapi mereka bodoh dan dungu dalam pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan mereka. mereka tidak mempertimbangkan kebaikan dan kebajikan orang tua mereka. mereka tidak menghormati dan melupakan kebaikan dan apa yang benar. mereka kurang manusiawi dan kurang berbakti atau patuh pada orang tua.Mereka tidak menyadari kebaikan orang tua yang sangat luar biasa. Alangkah sedihnya bila acap kali anak justru tidak meng-hormati orang tua mereka. Bahkan mereka dengan mudah nya melupakan kebaikan orang tua mereka. Mereka sungguh anak-anak yang tidak berbakti dan berbudi.

Kebajikan dari orang tua sungguh tulus, luas dan tidak terbatas. Bila seseorang berbuat kesalahan karena tidak berbakti, sungguh sulit untuk membayar kembali kebaikan itu !" Setelah mendengar uraian Guru Buddha tentang betapa dalamnya kebaikan  orang tua, banyak yang menjatuhkan  diri mereka ke tanah dan bersujud  dalam kesedihan. Sebagian pingsan, yang lain menghentakkan kakinya ketanah. Bahkan ada yang ber   darah karena terluka dan sedih. Dengan suara lantang mereka meratap : "Sungguh menderitanya! Alangkah sakitnya! Betapa menyakitkan! Anak yang telah menyakiti hati orang tuanya." 

"Kami semua bersalah. Kami semua seperti penjahat yang tidak pernah sadar yang hidup bermabuk mabukan. Kami tidak sadar betapa dalamnya kelalaian kami." "Seperti mereka yang berjalan di malam yang gelap. Kami baru sekarang menyadari kesalahan-kesalahan kami dan hati kami tercabik-cabik. Dengan mendengarkan uraian Hyang Buddha kami terbangun dari alam mimpi yang panjang." "Kami hanya berharap Tathagata mengasihi   dan menyelamatkan kami. Mohon ajarilah  bagaimana membalas atau mengembalikan ke baikan yang mendalam dari kedua orang tua kami."
 
Pada waktu itu Tathagata memakai delapan macam suara yang sangat dalam dan bersih, seraya berkata kepada kumpulan besar itu, "Kalian semua harus mengerti dan mengetahui ini, sekarang akan Ku jelaskan beberapa segi dari hal ini." "Bila seseorang memikul ayahnya dengan bahu kirinya dan ibunya dengan bahu kanannya dan oleh karena beratnya menembus tulang sumsumnya sehingga tulang-tulangnya hancur menjadi debu karena beban berat mereka, dan anak tersebut mengelilingi Puncak Semeru selama seratus ribu kalpa lamanya, sehingga darah yang mengucur membasahi pergelangan kakinya, anak tersebut belum dapat membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya."

"Bila seorang anak selama waktu satu  kalpa yang penuh dengan kesukaran dan kelaparan, memotong sebagian dari daging badannya demi memberi makan kedua  orang tuanya dan ini diperbuatnya sebanyak debu yang dilalui dalam per-jalanan ratusan ribu kalpa, anak tersebut belum dapat membalas kebaikan yang dalam dari orang tuanya." "Bila ada seorang anak yang demi orang tuanya, mengambil sebuah pisau yang tajam dan mencungkil kedua belah matanya dan mempersembahkannya kepada Tathagata, dan terus dilakukannya hingga beratus-ratus ribu kalpa, anak tersebut masih tetap belum dapat membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya".

"Bila seorang anak demi ayah dan ibunya mengambil sebuah pisau tajam dan mengeluarkan jantung dan hatinya sehingga darah mengucur dan menutupi tanah dan ini ia lakukan dalam beratus ribu kalpa, tiada sekalipun mengeluh tentang kesakitannya, anak tersebut tetap belum dapat membalas kebaikan yang besar dari orang tuanya". "Bila seorang anak yang demi orang tua-nya menelan butiran-butiran besi yang mencair dan berbuat demikian hingga beratus ribu kalpa, orang itu tetap belum dapat membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya".

"Bila seorang anak demi orangtuanya, menghancur kan tulang-tulangnya sendiri sampai ke sumsum dan melakukannya hingga beratus ribu kalpa, anak tersebut tetap belum dapat membalas kebaikan yang besar dari orang tuanya". "Jika seorang anak demi orangtuanya, menahan ratusan ribu pisau dan panah pada tubuhnya, dan hal ini dilakukannya hingga beratus ribu kalpa, anak tersebut tetap belum dapat membalas budi baik yang besar dari orang tuanya"."Bila ada seorang anak yang demi orang tuanya, dalam keadaan terbakar mempersembahkan tubuhnya kepada Buddha, dan melakukannya selama ratusan ribu kalpa, anak tersebut masih tetap belum dapat membalas jasa kebajikan dari orang tuanya".
 
Ketika itu, setelah mendengar penjelasan Buddha tentang kebajikan orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu menangis dan merasakan kepedihan dalam hatinya. Mereka merenungkannya dan segera merasa malu dan berkata kepada Sang Bhagava, "Oh, Sang Bhagava, bagaimana kami dapat membalas kebaikan yang dalam dari orang tua kami?" Hyang Buddha menjawab, "Wahai siswa siswaku, jika kalian ingin membalas jasa kebajikan budi baik dari kedua orang tua..."

"Demi mereka tulis dan perbanyaklah Sutra ini, sebarluaskan demi kebajikan semua mahluk serta kumandangkanlah Sutra ini. Segeralah bertobat atas pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan. Atas nama orang tua kalian, berikanlah persembahan kepada Buddha, Dharma, Sangha." Demi orang tua, patuhlah kepada perintah dan hanya memakan makanan suci dan bersih. Tumbuh kembangkan kebajikan dari praktek berdana. Inilah kekuatan yang diperoleh, semua Buddha akan selalu melindungi orang yang demikian itu dan dapat dengan segera menyebabkan orang-orang tua mereka lahir kembali di surga, untuk menikmati segala kebahagiaan dan meninggalkan penderitaan-penderitaan neraka.

Pada saat, Ananda dan lain-lainya dalam kumpulan besar "Asura, Garuda, Kinnara,  Manusia, Bukan Manusia, dan lain-lainnya, demikian juga Dewa, Naga, Yaksha, Gandarwa, raja-raja bijaksana yang memutar roda, dan semua raja-raja yang lebih kecil, merasakan semua bulu pada badan mereka berdiri setelah mendengarkan apa yang disabda Hyang Buddha. Masing-masing dari mereka bertekad dan berkata, "Kami semua mulai sekarang sampai perwujudan akhir dari masa mendatang, akan lebih suka badan kami dilumatkan menjadi abu untuk beratus ribu kalpa daripada melanggar ajaran bijaksana dari Tathagata."Kami lebih suka lidah kami dicabut, sehingga akan memanjang sepanjang satu Yojana penuh, dan untuk selama seratus ribu kalpa sebuah luku besi ditarik diatasnya, daripada melanggar ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata."

"Kami lebih suka roda dengan seratus ribu pisau menggelinding dengan bebas diatas badan kami, Kami lebih suka badan kami diikat dengan jaring besi selama seratus ribu kalpa, daripada melanggar ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata." "Kami lebih suka badan kami dicincang, dipotong, dirusak dan dipahat menjadi sepuluh juta potong sehingga kulit, daging, persendian dan tulang-tulang kami betul-betul hancur, dari pada melanggar ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata."

Ketika itu, Ananda dengan agung dan perasaan damai, bangkit dari tempat duduknya dan bertanya kepada Hyang Buddha, "Bhagava, apakah nama Sutra ini bila kami ingin menjalankan dan menjaganya?" Buddha bersabda kepada Ananda, "Sutra ini disebut SUTRA KEBAIKAN DAN KASIH YANG MENDALAM DARI ORANG TUA DAN KESULITAN UNTUK MEMBALASNYA. Pakailah nama ini bila engkau INGIN mengikuti dan menjaganya". Pada saat itu, kumpulan besar, Dewa, Asura, Manusia, dan lain-lainnya, mendengar apa yang telah diuraikan oleh Hyang Buddha, mereka sangat gembira. Mereka mempercayainya, menerimanya, dan menyesuaikannya dengan tingkah laku mereka dan kemudian menunduk hormat dan berlalu.

Ada dua Buddha di setiap keluarga.
Tetapi sungguh sayang, tidak banyak yang mengerti hal ini.
Mereka tidak perlu dipuja dengan emas dan sebagainya, atau diukir dengan cendana.
Perhatikanlah ayah dan ibu, mereka adalah Sakyamuni dan Maitreya.
Jika sanggup memberikan persembahan kepada mereka,
Kebajikan yang lain tidaklah berarti.
 http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-66219-Download-Paritta-Mp3.html