Dharma Buddha

Paticca-Samuppada

Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan

Yo Paticcasamuppadam Passati,
So Dhammam Passati,
Yo Dhammam Passati,
So Paticcasamuppadam Passati.

Bagi Siapa Yang Dapat Melihat Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan, Ia Dapat Melihat Dharma,
Bagi Siapa Yang Dapat Melihat Dharma,
Ia Dapat Melihat Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan.
Majjhima–Nikaya I, Nal. 241, PTS 191

Minggu Pertama setelah Pencerahan – Dibawah Pohon Bodhi

Sepanjang Minggu Pertama setelah Penerangan Sempurna, Buddha duduk dibawah pohon Bodhi dengan Tenang dan Damainya meresapi Kebahagiaan dari Kebebasan, Penuh Keagungan. Dengan Pandangan Terang, Bebas dari Gagasan dan Pikiran yang mengganggu.

Pada malam akhir Minggu Pertama, didalam masa Jaga Pertama, Buddha Bangkit dari keadaan Konsentrasi dan dengan seksama mencermati Hukum ‘Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan’ (Paticca Samuppada) Dalam Susunan Yang Lurus / Urutan Maju

Pada malam saat masa Jaga Kedua, Beliau dengan teliti merenungkan Hukum ‘Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan’ (Pratitya Samutpada) Dalam Susunan Yang Terbalik / Urutan Balik. 

Pada malam saat masa Jaga Ketiga, Beliau dengan penuh kesadaran merenungkan Hukum ‘Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan Satu Sama Lain dari Segala Benda’ Dalam Susunan Yang Lurus Maupun Terbalik / Urutan Maju maupun Balik. 

PATICCA SAMUPPADA / PRATITYA SAMUTPADA

Hukum Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan adalah Salah Satu Ajaran Paling Penting dari Hyang Buddha, dan juga Sangat Mendalam.
Hukum Pratitya Samutpada adalah cara realistis untuk memahami alam semesta dan merupakan kesepadanan ajaran Buddha dengan Teori Relativitas Einstein & Teori Kuantum.

Hukum ini menekankan suatu prinsip penting bahwa semua fenomena di alam semesta ini merupakan keadaan relatif yang terkondisi dan tidak bisa muncul dengan sendirinya tanpa kondisi–kondisi yang mendukungnya.

Adanya kondisi pendukung ini, pada gilirannya, juga tergantung pada faktor–faktor lain bagi kemunculan, kesinambungan dan kelenyapannya. Fakta bahwa Segala Sesuatu Tidak Lebih Dari Sekelompok Hubungan, selaras dengan Pandangan Ilmiah Modern tentang Dunia Materi. Karena semuanya ter– kondisi, relatif, dan saling bergantungan, tidak ada hal di dunia ini yang dapat dianggap sebagai Sosok Permanen.

Paticca-Samuppada merupakan penjelasan tentang proses Kelahiran dan Kematian, bukan merupakan Teori Filsafat berkenaan dengan Evolusi Dunia. Hukum ini berhubungan dengan Sebab Kelahiran Kembali dan Penderitaan, dengan Pengharapan dapat membantu manusia membebaskan diri dari Penderitaan Hidup. Hukum ini tidak berusaha untuk memecahkan Teka–Teki Asal Mula Kehidupan Pertama.

Paticca = "Karena" atau "Bergantung Pada"
Samuppada = "Muncul" atau "Asal–Usul"
Paticca Samuppada = Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan Satu Sama Lain

Kata "Paticcasamuppada" mempunyai arti :
Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan atau Timbul Karena Kondisi-Kondisi Yang Saling bergantungan.

Methoda Paticca-Samuppada harus dipahami sebagai berikut:
Karena ‘A’ timbul ‘B’. Karena ‘B’ timbul ‘C’. Jika tidak ada ‘A’, tidak ada ‘B’. Ketika tidak ada ‘B’, maka tidak ada ‘C’.
Dengan kata lain Imasmim Sati Idam Hoti, Dengan Adanya Ini, maka terjadilah Itu; Imasmim Asati Idam Na Hoti. Dengan Tidak Adanya Ini, maka Tidak Ada Itu. Imassuppada Idam Uppajjati, Dengan Timbulnya Ini, maka Timbullah Itu; Imassa Nirodha Idam Nirujjati. Dengan Terhentinya Ini, maka Terhentilah Itu.

Paticcasamuppada ini adalah untuk memperlihatkan kebenaran dari keadaan yang sebenarnya, dimana tidak ada sesuatu itu timbul tanpa sebab. Bila kita mempelajari Hukum Paticcasamuppada ini dengan sungguh-sungguh, kita akan terbebas dari pandangan salah dan dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya.

Roda Kehidupan

Roda kehidupan dilukis berdasarkan instruksi Hyang Buddha sendiri. Roda kehidupan merupakan suatu lukisan yang mengilustrasikan ajaran Buddha. Lukisan ini menjelaskan keberadaan kita dalam samsara, sebab-sebab yang membelenggu kita dalam samsara, bagaimana seseorang berputar-putar dalam samsara, dst. Dengan 12 Mata Rantai Yang Saling Berkait

Lingkaran Kehidupan (Bhava – Cakra)

Terdapat Empat Lingkaran Pada Lukisan Lingkaran Kehidupan:

Lingkaran Dalam/Pertama (Pratitya Samutpada)

 Terdiri dari Gambar Hewan Babi, Ayam Jago dan Ular. Yang mewakili sifat Kebodohan, Keserakahan dan Kebencian – Ini merupakan 3 Akar Kejahatan sekaligus menjadi Penyebab Utama Pengembaraan kita di dalam Samsara.

Babi merupakan hewan yang rakus, yang mana kerjanya hanya makan tanpa pertimbangan dan tidur sesudahnya. Meskipun perutnya kenyang, rasa lapar selalu menghantui pikirannya. Hewan ini melambangkan Kebodohan dan Khayalan (Moha).

Ayam Jago adalah hewan yang penuh dengan Kesombongan dan Senang Pamer akan kekuatannya. Menganggap diri paling hebat dalam segala hal, juga suka mengaruk–garuk tanah. Ini menunjukkan Gerak Hati dan Emosi yang tidak terkendali. Hewan ini melambangkan Keserakahan (Lobha).

Ular merupakan hewan yang berbisa yang siap menggigit dan membunuh mangsanya dengan racun manakala lawannya lengah. Hewan ini mewakili Perasaan Dendam atau Kebencian (Dosa).

Ketiga Gambar Hewan ini terlihat saling menggigit ekor masing masing, yang bermakna ketiga Hewan ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, sehingga seseorang tidak dapat dikatakan “Serakah” tanpa memiliki sifat sifat lainnya seperti “Kebodohan” dan “Kebencian”.

Ketiga akar kejahatan ini saling berkait dan mereka merupakan penyebab sekaligus akibat dari masing masing. Saling membantu dan saling menimbulkan, mereka merupakan satu kesatuan yang kompak. Ketiga akar kejahatan ini Pasti dimiliki oleh setiap Mahluk. Yang mana sifat ini akan mempengaruhi setiap Tindakan yang dilakukan dengan Ucapan, Badan Jasmani dan Pikiran, manakala situasinya memungkinkan. Ketiga jenis hewan ini senantiasa bersemayam dan bergejolak dalam hati setiap Mahluk atau Insan di dalam Samsara, agar dapat memastikan mereka selalu akan mengalami Penderitaan. (Dukkha)

Lingkaran Kedua – Latar Belakang Putih

 Lingkaran Terbagi dalam dua warna, Setengah Lingkaran dengan latar belakang warna Putih dan Setengah Lingkaran lainnya dengan latar belakang warna Hitam.

Lingkaran ini menjelaskan suatu periode Alam Kehidupan, yaitu alam kehidupan antara kehidupan ini dan kehidupan mendatang, suatu periode kehidupan yang singkat. Biasa disebut Alam Bardo atau Antara Bhava. Alam ini mengambil tempat antara dua kehidupan – Ketika kehidupan ini berakhir, selanjutnya menuju ke kehidupan berikutnya. Diantara itu, akan mengalami suatu kehidupan Bardo. Hal ini menyerupai Persiapan – Suatu Persiapan Kehidupan menuju ke Kehidupan yang lain. Latar Warna Putih menunjuk pada Karma Putih yang berakibat Putih (Baik). Akibat pengaruh ajaran Buddha, membuat smua mahluk menjadi sadar dalam setiap tindakan melalui ucapan, pikiran & badan jasmani, baik dalam posisi duduk, berdiri, berjalan maupun berbaring. Sadar setiap saat. (Hidup dalam berkesadaran).Senantiasa berbuat baik mengakibatkan Karma Baik, yang akhirnya menuntun pada kehidupan yang lebih baik di kelahiran sekarang maupun di kelahiran yang akan datang.

Lingkaran Kedua – Latar Belakang Hitam

Sedangkan gambar setengah lingkaran dengan latar belakang Hitam, mengacu pada Karma Hitam yang berakibat Hitam (Buruk). Yang dilakukan melalui Jasmani, Ucapan dan Pikiran yang disebabkan karena Ketidak Tahuan atau Kebodohan (Avijja/Avidya/Ignorance). Mahluk yang berada dalam setengah lingkaran Hitam ini, di ibaratkan bagaikan orang yang berjalan di malam yang kelam tanpa penerangan, diselimuti oleh gelap, kotor dan sia sia. Mereka senantiasa melakukan Perbuatan Buruk yang mengakibatkan Karma Buruk. Enerji ini tentunya, akan mendorong mereka menuju pada kesengsaraan dalam kehidupan ini maupun pada kehidupan berikutnya. Atau pada alam kehidupan yang menyedihkan di kehidupan mendatang.

Lingkaran Ketiga – 6 Alam Kehidupan (Alam Neraka/Hell Realm / Naraka (Sanskrit) / Niraya (Pali))

 Alam Neraka/Hell Realm/Naraka (Sanskrit)/Niraya (Pali). Neraka adalah dimensi yang menyedihkan dengan Penderitaan dan Siksaan yang amat menyakitkan, tempat semua makhluk selalu hidup tersiksa. Suasana Neraka yang amat panas berhubungan dengan sifat mahluk yang penuh dengan kebencian dan ketakutan yang sangat dahsyat. Neraka terdiri dari beberapa tingkatan yang masing-masing akan memberikan hukuman yang sesuai dengan beratnya Karma dari Perbuatan Jahat. yang dilakukan. Makhluk yang tinggal di Neraka selain terbakar oleh Amarah, mereka juga tersiksa oleh Hawa Nafsu mereka sendiri. Mereka tidak melihat bahwa siksaan ini diakibatkan oleh Pikiran mereka sendiri Yang Salah, membunuh dan melakukan kekejaman. Kehidupan di Neraka lama sekali hingga karma negativenya habis, tetapi Tidak Abadi. Buddha dilukiskan dalam dimensi ini, muncul dengan membawa Nyala Api, seperti halnya membakar, ini dapat diartikan sebagai Pemurnian. Kondisi: Penganiayaan, Kelaparan, Penderitaan Fisik; Kena Tipu; Kamp Penyiksaan; Kemarahan yang membuta. Untuk dapat terbebas dari alam ini dengan mengembangkan Kesabaran, Sifat Menerima dan Penyesalan/Pertobatan

 Alam Setan Kelaparan/Hungry Ghost Realm/Preta (Sanskrit)/Peta (Pali). Dimensi dari Setan Kelaparan adalah makhluk seperti Setan yang mewakili gabungan dari sifat keTamakan dan keBencian. Mereka tersiksa oleh keTamakan yang tidak pernah terPuaskan dan keinginan yang Tidak Pernah Puas akan kesenangan yang mustahil diperoleh. Mereka adalah makhluk menyedihkan yang penuh kekurangan dalam diri mereka sendiri, yang tidak dapat melihat bahwa sesuatu yang telah tiada tidak mungkin didapatkan kembali. Keadaan mereka menunjukan Kemelekatan mereka terhadap masa lalu. Pada waktu mereka lapar dan haus, mereka tidak dapat makan ataupun minum yang mengakibatkan mereka sangat tersiksa. Tenggorokan mereka yang kurus panjang sangatlah Panas dan Sempit, sehingga bila mereka menelan, tenggorokan mereka akan terasa terbakar. Perut mereka yang Buncit pun tidak dapat mencerna makanan. Buddha dilukiskan dalam dimensi ini, muncul dengan membawa sebuah mangkuk penuh nectar sebagai lambang 'Pemberian dari para Boddhisattva' yang tersalurkan. Hal ini untuk memikat mahluk Alam Kelaparan agar mereka lebih menginginkan KEBENARAN yang dapat memuaskan Kerinduan/Hasrat yang dalam dan Semua penderitaan Kelaparan yang mereka alami. Kondisi: Kecanduan akan bermacam macam hal; Agar dapat di tolong dari alam ini, dengan membangkitkan sifat Kerelaan/Kesediaan untuk menjadi lebih Baik/Maju, Dapat melihat segala sesuatu yang melampaui Godaan Pikiran.

 Alam Binatang – Animal Realm Tiryakas {Tiryag-Yoni} (Sanskrit)/Tiracchana (Pali). Alam Binatang adalah pemuasan segala kebutuhan biologis, seperti rasa lapar, haus dan nafsu birahi dengan menggunakan insting. Semua usaha hanya ditujukan untuk Pemuasan Kebutuhan Fisik, dan untuk mempertahankan diri sendiri, mereka senantiasa diliputi oleh Kebodohan dan Rasa Cemas karena mereka saling memangsa satu dengan yang lainnya. Di alam ini, karena ketidaktahuannya, mereka tidak dapat melihat hal lain di luar Kebutuhan Alami dari Fisik. Buddha dilukiskan dalam dimensi ini, muncul dengan membawa sebuah buku untuk membangkitkan Kesadaran, Pikiran dan Akal Sehat (Penalaran). Kondisi: Punyaku; Milikku; Kegemaranku adalah hal yang paling penting; Untuk dapat bangkit dari keadaan ini, dengan mempraktekkan Pengendalian Diri dan Senantiasa Menjaga KeSadaran.

 Alam Asura (Setengah Dewa)/Asura Realm/Ashura (Sanskrit)/Asura (Pali). Alam Kehidupan Asura (Setengah Dewa) di surga yang lebih rendah, terdiri dari Mahluk Asura yang Ganas, Jelek dan Iri yang selalu bertengkar dengan para dewa untuk mendapatkan Kekuatan dan Kebahagiaan. Mereka berusaha keras untuk menambah kekuatan mereka, tetapi Mereka tidak pernah menang, karena para Dewa telah menciptakan Karma untuk Dapat menikmati Posisinya. Asura Wanita sama Iri dan Serakahnya, mereka memenangkan perang tidak menggunakan kekuatan tetapi dengan menggoda dan merayu. Asura adalah Dewa yang menyenangi kekuatannya walaupun mereka tidak bahagia sama sekali. Asura selalu berusaha untuk menjadi Lebih Pintar, Lebih Kuat, Lebih Kaya, atau Lebih Berpengalaman dibandingkan dengan yang lain. Mereka selalu berharap yang lain makin lemah supaya ia selalu tetap menjadi yang terkuat. Walaupun selalu ingin membuktikan superioritasnya, mereka sadar mengenai hirarki dan cenderung untuk membentuk struktur kekuatan, bersekutu dengan yang lain untuk menjegal yang lainnya — yang akhirnya demi mereka pribadi. Mereka dapat berkomunikasi dengan yang lain hanya berdasarkan dominasi atau perintah, tidak ada kesamaan, dan di mana ada kesempatan, mereka akan mendominasi. Menusuk dari belakang dan berkolusi adalah hal yang biasa. Kondisi ini melahirkan mahluk sebagai Asura jika dia Egois dan Gila Kekuatan. Bagaimanapun, mereka juga masih memerlukan karma baik untuk dapat dilahirkan kembali di surga yang memerlukan lebih banyak jasa kebajikan. Mahluk seperti itu didominasi oleh keadaan batin yang penuh dengan ketamakan dan kebencian, karena jasa-jasa kebajikannya dilakukan tanpa Kebijaksanaan. Seseorang yang meninggal dengan keadaan batin seperti di atas, akan cenderung terlahir kembali sebagai Asura (Setengah Dewa). Buddha dilukiskan dalam dimensi ini, muncul dengan membawa sebuah pedang, symbol dari Kebijaksanaan, untuk mendorong mahluk alam ini mau mencari Pemahaman dan Pengertian yang benar dari pada bersandar pada Kekuatan. Kondisi: Cara Keji Perusahaan Besar; Persaingan untuk mendapatkan Posisi; 

Alam Dewa/Heaven Realm/Svarga (Sanskrit)/Sagga (Pali).
Alam Dewa (dalam hal ini, dewa tidak mengacu pada Sang Pencipta).Surga merupakan lapisan-lapisan yang berbeda, dengan tingkat kepuasan dan kegembiraan yang berbeda-beda pula. Dewa dapat menikmati keindahan dengan kecantikan mereka sendiri. Mereka adalah makhluk dengan tubuh yang lembut dan cantik, menyukai musik dan tarian, karenanya mereka dapat menikmati kesenangan yang menghanyutkan. Kehidupan di Surga berlangsung lama sekali, tetapi Tidak Abadi. Pengalaman seperti itu dapat dikembangkan lewat meditasi, tetapi berbahaya karena seseorang akan berpuas diri pada tingkat spiritual itu, padahal hal ini hanya bersifat sementara. Setelah waktu yang lama, para dewa akan jatuh dari kebahagiaan mereka. Jika mereka tidak menyadari bahwa mereka tidak kekal dan mulai menjalani kehidupan spiritual, mereka akan terlahir kembali ke alam kehidupan yang lebih rendah, jika mereka telah menghabiskan karma baiknya di surga. Dari sudut pandang spiritual, kehidupan manusia jauh lebih berharga daripada para dewa, karena kehidupan mereka diwarnai oleh Kelengahan. Mereka menghabiskan semua kebajikan yang telah mereka kumpulkan di masa lampau dan tidak membuat kemajuan spiritual apapun. Buddha dilukiskan dalam dimensi ini, muncul dengan memainkan alat musik untuk me-nyadarkan mahluk pada alam ini agar tidak berPuas Diri. Kondisi: Pemandangan yang Indah dan Suara yang Merdu; Pelesir Ke Luar Negeri; Agar dapat terlepas dari alam ini melalui Seni yang dapat mengungkapkan kebenaran dengan keindahan seperti sebuah pertunjukan opera yang mengisahkan tragedi.

 Alam Manusia/Human Realm/Manusya (Sanskrit)/Manussa (Pali). Alam Kehidupan Manusia adalah dunia kita sehari-hari seperti sekarang ini, yang didasari oleh Nafsu, Hasrat dan Kebimbang an. Alam Manusia juga mengandung alam-alam kehidupan lain yang manusia ciptakan untuk dirinya sendiri. Dalam alam kehidupan ini, manusia mencari dirinya sendiri. Pada dasarnya manusia tidak yakin akan sifat sejati segala sesuatu termasuk siapa dirinya yang se benarnya. Tetapi dalam dunia inilah, Pandangan Transenden terhadap sifat sejati dari "diri" (aku) dapat dicapai. Dalam dunia ini pula seseorang dapat cukup sadar untuk menyadari keadaannya yang tidak memuaskan dan berusaha untuk mencari kebebasan, menjadi tercerahkan, dan terbebas dari rantai kelahiran dan kematian dan menjadi Buddha. Buddha dilukiskan dalam dimensi ini, muncul sebagai seorang Biku yang mem bawa bokor guna menunjukkan mahluk di alam ini kemungkinan pencapaian yang di raih melalui jalan spiritual, Jalan yang merujuk pada tanpa kemelekatan. Kondisi: Mengejar hal hal yang meyenangkan, menghindari yang tidak menyenangkan; Pasang Surutnya dinamika kehidupan; Ketika tidak memperoleh hal yang di inginkan maka sebagai gantinya mereka akan Merendahkan atau Meremehkan hal tersebut; Kehidupan para Biku.

 Secara umum faktor dasar bagi mahluk yang telah mengikuti Jalan Kesucian, dapat terlahir di Alam Manusia atau Alam Dewa. Dengan menerima Tri Sarana dan menjalankan Panca Sila Buddhis. Jalan menuju ke Surga dapat ditempuh bagi mereka yang berusaha secara sungguh sungguh hidup dalam Kemurnian dan Pengendalian Diri, Gemar Berbuat Kebajikan, Mengembangkan Kasih Sayang kepada semua mahluk dan Senantiasa Membersihkan Pikiran melalui Samadi.

Paticca-Samuppada (suatu penjelasan secara sederhana, berkenaan dengan Sebab Musabab suatu peristiwa tergantung pada kondisi terdahulu.) terdiri dari 12 mata rantai yang saling terkait, yang menjelaskan tentang Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan:

1. Ketidak – Tahuan 7. Perasaan
2. Bentuk Aktifitas8. Nafsu – Keinginan
3. Kesadaran Menyambung9. Kemelekatan
4. Batin & Jasmani10. Perwujudan
5. Enam Indriya11. Kelahiran
6. Kontak12. Kelapukan & Kematian

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Pertama

 Pada Lingkaran ke Empat terdapat 12 mata rantai yang saling berkaitan dalam menjelaskan Paticca Samupada/Pratityasamutpada. Avijja/Avidya (Kebodohan Batin / Ignorance): Diilustrasikan dengan Gambar Orang Buta. Ia dikuasai secara total oleh Ketidak Tahuan. Senantiasa Berpegang atau bersandar pada Khayalan dan Pandangan Salah tentang adanya "Diri yang Kekal" atau “Aku yang Kekal”. Karena tidak dapat menembus Empat Kesunyataan Mulia, sebagai akibat nya, ia Tergantung dan Haus terhadap Objek-objek kesenangan Indriya. Ketidak-tahuan tentang Kehidupan menyebabkan Kemelekatan tentang AKU, sebagai sesuatu yang abadi yang tidak akan hancur atau musnah. Khayalan ini berhubungan dengan gagasan untuk pertahanan diri karena kekurangan wawasan tentang kenyataan yang ada. Karena itu Avijja menggambarkan khayalan manusia, yang dipenuhi dengan kebodohan (Moha) dan tidak dapat menyadari kebenaran. Hingga hal ini di lukiskan dengan seorang Buta, yang tidak tahu kemana arah tujuannya karena tidak dapat melihat dan melakukannya dengan baik.

Ignorance – Avijja – Avidya – Kebodahan. Ketidak mengertian tetang Empat KeSunyataan Mulia adalah Penyebab Utama bermulanya Roda Kehidupan. Dengan kata lain, Ketidak tahuan dari sifat benda yang sejati sebagai mana adanya, atau karena Ketidak tahuan atas Hakekat dari Diri Sendiri. Pandangan Salah senantiasa menyelimuti semua Pengertian Benar. “Kebodohan merupakan khayalan yang paling dalam, yang mana membuat kita berkelana selama ini di dalam Samsara” Buddha Gautama. Bergantung pada Ketidak Tahuan timbul Bentuk Aktifitas (Sankhara/Samskara).

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Kedua

 Sankhara/Samskara (Volitional activities/Bentuk2 Aktifitas): Diwakilkan dengan gambar Tukang Keramik yang sedang membuat Guci. Ia mencoba membentuk sesuatu dari material yang telah tersedia. Ini menunjuk pada Bentuk, Rasa, Bau, Suara, Objek Yang Nyata dan Persepsi yang terbentuk melalui Kontak Pikiran. Pikiran yang tidak terkontrol selalu penuh dengan rangsangan, emosi dan bermacam macam pemikiran ketika terjadi kontak antara salah satu dari enam indera dengan objek. Hal ini akan menyebabkan bermacam macam bentuk KARMA. {Perasaan Suka (merit) dan Tidak Suka (demerit). Atau juga akan memunculkan perasaan Netral yang mana hal ini tidak dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang bajik maupun bukan bajik}. Jadi Sankhara adalah penyebab dari semua Dorongan Hati dan Emosi.

Activities – Sankhara – Samskara – Bentuk Aktifitas. Sankhara berarti semua KEHENDAK / KEINGINAN Tidak Baik (immoral/akusala), Baik (moral/kusala) dan yang tidak tergoyahkan (unshakable/anenja). Hal ini merupakan Karma Penghasil dari Tumimbal Lahir. Juga termasuk dalam Sankhara yaitu semua Pikiran, Ucapan dan Tindakan, Baik atau Buruk, yang langsung berakar pada, atau tak langsung ternoda oleh Kebodohan, hal ini tentunya menghasilkan akibat yang cenderung memperpanjang pengembaraan kita didalam samsara. Bergantung pada Bentuk Aktifitas menimbulkan Kesadaran Menyambung (patisandhi-vinnana) pada kelahiran yang berikut.

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Ketiga

 Vinnana/Vijnanam (Consciousness) Kesadaran Menyambung: yaitu Batin yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan yang berikut nya, terkadang ke alam yang lebih tinggi dan terkadang ke alam yang lebih rendah. Ini dilukiskan sebagai seekor Kera yang bergelantungan naik dan turun dari satu dahan ke dahan yang lainnya. dengan memegang Kristal yang melukiskan Pikiran Resah yang senantiasa melompat lompat, muncul dan lenyap. Kristal melambangkan Akibat dari Tindakan yang dilakukan. Apabila kristalnya Bening, berarti Kebajikan di sana; tetapi kalau Kristalnya Keruh, maka demikian pula Tindakan, Ucapan dan Pikirannya. Rumah melambangkan 6 landasan indera (Ayatana). Kesadaran menyambung sedang melirik atau mencari tempat/rahim yang sesuai untuk dapat di lahirkan kembali.

Rebirth-consciousness (or relinking-consciousness) Kesadaran Menyambung – patisandhi-vinnana. Disebut Kesadaran Menyambung karena yang menghubungkan masa lalu dengan kelahiran saat ini, proses ini yang menghasilkan kelompok Batin dan kelompok Materi pada saat pembuahan. Kesadaran awal yang disebut dengan istilah patisandhi vinnana (kesadaran kelahiran kembali). Janin yang di kandungan seorang ibu terbentuk oleh kombinasi ini, menghubungkan kesadaran untuk dilahirkan kembali dengan sel sperma dan ovum orang-tua (Organisme). Pada kesadaran ini terpendam atau tersembunyi semua Kesan, Sifat dan Kecenderungan setiap mahluk dalam Arus Lingkaran Kehidupan. Bergantung pada Kesadaran Menyambung timbullah Badan Jasmani Nama Rupa

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Keempat

 Mind and Matter – Nama-Rupa (Jasmani dan Batin). Digambarkan oleh sepasang pria dan wanita menumpang di atas sebuah kapal. Wujud/Bentuk Fisik dilambangkan oleh Kapal sedangkan Pikiran / Kesadaran diwakili oleh Orang / Penumpang. Kendati kedua hal ini berbeda, namun mereka Tergantung / Saling Membutuhkan satu sama lain. Demikian pula Tubuh dan Batin pada saat terlahir kembali, membutuhkan perahu untuk berlayar di lautan, Organisme tertentu membutuhkan Wadah Tubuh dan Batin untuk mengarungi samudera samsara.

Mind and matter – Nama-rupa. Nama menunjukkan 3 kelompok – perasaan (vedana), persepsi (sanna) dan keadaan mental (samkhara), muncul bersamaan kesadaran penyambung. Rupa menunjukkan 3 bagian – kaya (tubuh), bhava (Jenis Kelamin), and vatthu (unsur pokok) – juga muncul bersamaan dengan kesadaran penyambung, dan terkondisikan oleh karma lampau. Kondisi Badan Jasmani terdiri atas Empat Unsur – Padat (pathavi), Cair (apo), Panas (tejo) dan Gerak (vayo); dengan Empat Hal yang mengikuti – Warna (vanna), Bau (gandha), Rasa (rasa), Intisari Gizi (oja), ditambah dengan Tenaga Hidup/Vitalitas (jivitindria) dan Badan/Tubuh (kaya). Jenis Kelamin tidak berkembang pada saat pembuahan, tetapi berpotensi untuk terbentuk kemudian. Demikian pula Tak satu pun Jantung atau Otak yang berkembang pada saat Pembentukan. Banyak orang berpikir bahwa tempat Kedudukan Kesadaran (vatthu) terletak di jantung. Harus diperhatikan bahwa Buddha tidak menyetujui atau menolak teori jantung populer ini. Dalam Patthana yaitu ‘Buku Tentang Hubungan’, Buddha menyinggung Pusat Kesadaran dengan cara Tidak Langsung “Yam Rupam Nissaya – Bergantung pada Materi”, tidak dengan tegas menyatakan apakah Rupa sama dengan Jantung (Hadaya) atau Otak. Bergantung pada Nama Rupa timbullah Enam Landasan Indria

Lingkaran Keempat – Mata Rantai KeLima

 Salayatana – Sad-Ayatana (Six Sense Organs – Enam Landasan Indria). Diilustrasikan dengan gambar Rumah Kosong dengan Pintu dan Jendela sebagai Simbol dari Enam Landasan Indria. Gambar Rumah mewakili Badan Jasmani, Pintu melambangkan Pikiran, dan Jendela melukiskan Mata, Telinga, Hidung, Lidah dan Bentuk Fisik.

Six sense bases – Salayatana – Sad-Ayatana. Sejak masa pertumbuhan Janin, Enam Dasar Indria (Salayatana ) secara bertahap berkembang dengan pesat dari perwujudan Batin Dan Jasmani untuk terbentuk kemudian. Setelah melewati selang waktu tertentu, embrio yang setitik berkembang menjadi enam indria yang kompleks. Ke Enam Organ (Mata, Telinga, Hidung, Lidah, Tubuh dan Pikiran), Bersentuhan dengan masing masing Obyek (Bentuk, Suara, Bau, Rasa, Sesuatu yang dapat di Raba/Nyata dan Obyek Mental) membangkitkan keenam macam Kesadaran. Bergantung pada Enam Landasan Indria menimbulkan Kontak.

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Ke Enam

 Phassa – Sparsa – Contact – Sentuhan. Dilukiskan dengan: Gambar Pasangan yang berpelukan melambangkan Kontak dari Kesadaran Pria dan Wanita yang muncul ketika Enam Indria mulai bekerja. Pengertian Kontak adalah perpaduan diantara KESADARAN dan ALAT INDRIA (Mata, Telinga, Hidung, Lidah, dan Tubuh) dengan OBYEK sesuai fungsinya masing masing, adalah bersifat Pribadi (Subyektif) dan tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain (Impersonal). Sebagai akibatnya, Perasaan, Gerak Hati dan Emosi dihasilkan, juga Godaan, Rasa Rindu, Suka, Tidak Suka dan ke Tidak Seimbangan mengikuti.

Buddha mengatakan, Janganlah dianggap bahwa hanya dengan bersinggungan akan timbul Kontak (na sangatimatto eva phasso)
(GAMBAR kontak.jpg)
Bergantung Pada Kontak/Sentuhan muncul Perasaan–Sensasi

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Ke Tujuh

 Vedana – Sensation – Perasaan. Di refleksikan dengan gambar seorang pria dengan kedua matanya yang terkena panah dan Ia dalam ke-adaan menderita yang amat sangat (sengsara). Ini menunjukkan Perasaan yang kuat, yang timbul berdasarkan pengalaman yang dialami oleh Indria, Hal ini mendorong gerak hati yang menggugah Sensasi – Kesan – Keadaan Mental. (Yang Membutakan). Hal itu dapat berupa Perasaan Netral (adukkhamasukha), Tidak Menyenangkan (domanassa) atau Menyenangkan (somanassa).

Feeling – Vedana – Sensasi. Bergantung pada Kontak, Perasaan (vedana) terbangkitkan. Perasaan atau Kesan inilah yang merupakan Provokator untuk menghasilkan suatu Tindakan, Suatu Perasaan (menyenangkan) menimbulkan Keserakahan atau (tidak menyenangkan) menimbulkan Kebecian. Perasaan – Sensasi – Kesan, merupakan Keadaan Mental yang menyertai semua Bentuk Kesadaran.

Pratitya – Samutpada. Akibat dari pengalaman Kontak yang dialami dari Mendengar, Mengecap, Mencium, Meraba / Menyentuh, dan Melihat (Obyek). Membawa Kesan/Keadaan Mental. Harus diketahui bahwa Kebahagiaan NIBBANA tidak berhubungan dengan perasaan manapun. Kebahagiaan NIRVANA tentunya merupakan Kebahagiaan Tertinggi (Nibbanam Paramam Sukham), Ini merupakan Kebahagiaan karena Bebas dari Penderitaan. Bukan suatu Kenikmatan dari Obyek yang menyenangkan manapun. Bergantung pada Perasaan timbul Nafsu Keinginan Rendah Tanha

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Ke Delapan

 Tanha Trsna (Craving) Nafsu Keinginan Rendah. Terlukiskan dengan Gambar orang yang sedang menghisap Candu atau Narkoba. Ia mempunyai ketergantungan atau ketagihan, selalu mempunyai keinginan untuk menggunakan lebih dan lebih banyak lagi terhadap sesuatu yang memabukkan itu. Tidak ada Kata Puas, Ia tidak mengenal Rasa Cukup. Nafsu Keinginan Rendah tidak akan pernah Terpenuhi.

Craving – Tanha – Trsna – Nafsu Keinginan Rendah. Bergantung pada Perasaan menimbulkan Nafsu Keinginan Rendah (tanha), seperti halnya Kebodohan, merupakan faktor Penting dalam Pratitya Samutpada. Kemelekatan, Kehausan dan Cinta Individual merupakan pengejawantahan dari kata Tanha atau Trsna. Unsur Penting dalam Formula Roda Kehidupan adalah Ketidak tahuan dan Nafsu Keinginan, dua sebab utama Paticca Samuppada. Kebodohan menunjukkan pada sebab masa lalu yang membentuk saat ini. Nafsu Keinginan merupakan penyebab saat ini yang membentuk masa yang akan datang. (GAMBAR cewek.jpg)

Nafsu Keinginan di bedakan menjadi tiga:

  1. Keinginan yang berhubungan dengan Hawa Nafsu (Badaniah) yaitu Kesenangan Indria (kamatanha)
  2. Keinginan yang berhubungan dengan pandangan tentang Kekekalan/Keabadian, menggenggam erat-erat Lima Khanda (Materi, Perasaan, Persepsi, Niat dan Kesadaran) sebagai "aku" dan "milikku", sibuk di dalam berbagai Kegiatan yang bertujuan untuk Kelestarian Diri dan Pemuasan Pribadi (bhavatanha)
  3. Keinginan yang berhubungan dengan Nafsu Kesenangan Indria dengan pandangan Kekosongan (vibhavatanha), misalnya menikmati atau memikirkan bahwa semua akan hancur setelah kematian. Ini merupakan sudut pandang materialistic.

Sehingga, dapat dikatakan Kebodohan sebagai kondisi yang Menopang, Nafsu Keinginan sebagai Tenaga Pendorong, dan Karma sebagai Faktor yang Mengarahkan, Kombinasi ini merupakan Kondisi Paling Purba di dalam Mata Rantai Asal Mula, maka Arus Kesadaran pun berjalan terus dari satu kehidupan menuju kehidupan lain di dalam lingkaran Samsara. Bergantung pada Nafsu Keinginan Rendah muncul Kemelekatan.

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Ke Sembilan

 Upadana (Grasping) Kemelekatan. Dilukiskan dengan gambar Orang yang memetik buah dari sebuah pohon dengan Rakus. Meskipun keranjangnya telah penuh, Ia tetap saja memetik buah buah yang berada diatas pohon. Ia menjadi MELEKAT (Upadana) karena Nafsu Keinginan yang terus menerus (Tanha). Kemelekatan menimbulkan gagasan yang salah tentang “AKU” dan “Milikku”.

Grasping – Upadana – Kemelekatan. Bergantung pada Keinginan muncul Kemelekatan. Tanha bagaikan dalam gelap mencari benda untuk di curi. Upadana berhubungan dengan pencurian barang itu. Ada 4 macam Kemelekatan – yaitu, Kenikmatan Indria (sensualitas), Pandangan Salah, Ketergantungan pada Upacara (Protokol) Agama, dan Theory tentang Jiwa. Bergantung pada Kemelekatan timbul Bhava (Perwujudan)

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Ke Sepuluh

 Bhava – Becoming – Proses Perwujudan. Dilukiskan dengan seorang wanita hamil yang mengindikasikan janin yang berada di dalam kandungannya. Perwujudan (Proses Menjadi) menandakan berbagai wahana dari Eksistensi/Kehidupan berhubungan dengan kehendak. Keberadaan Badan Jasmani dan Batin. Mengikuti Proses atau Konsep ‘Aku’, ‘Diri’, ‘Kesenangan’ dan ‘Kebencian’. Melekat pada Kepemilikan dan Perwujudan disebut Bhava atau Proses Menjadi Lagi.

Proses Menjadi – Actions or Becoming – Bhava. Bergantung pada keinginan, mendorong munculnya kammabhava (tindakan/aksi). Hal ini merujuk pada segala Perbuatan baik ataupun buruk yang membentuk Karma. Terdapat perbedaan kecil antara samkhara (kesadaran menyambung) dan kammabhava (proses menjadi), yaitu yang pertama menunjukkan masa lalu sedangkan yang kedua menunjukkan kehidupan saat ini. Dengan kata lain Kammabhava membentuk Kelahiran yang akan datang.

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Ke Sebelas

 Jati – Birth – Kelahiran. Digambarkan dengan seorang wanita yang sedang melahirkan seorang bayi, refleksi Tumimbal Lahir dari berbagai mahluk ke Alam Kehidupan yang berbeda seperti; Pria, Wanita, Binatang dan sebagainya. Kelahiran merupakan akibat yang tidak dapat dielakkan dari Karma/Perbuatan masa lalu, yang dibentuk oleh Kemelekatan karena adanya Nafsu Keinginan Rendah. Nafsu keinginan hanya akan muncul jika ada Perasaan. Perasaan merupakan hasil dari Sentuhan/Kontak Indria dengan Obyeknya. Mengakibatkan Kelahiran dan Keberadaan berlangsung terus menerus tanpa akhir di Lingkaran Samsara. Bergantung pada Kelahiran menimbulkan Usia Tua dan Kematian.

Lingkaran Keempat – Mata Rantai Ke Duabelas

 Jara- Marana – Old age and Death – Usia Tua dan Kematian. Mata rantai terakhir ini, ditunjukkan oleh seorang tua yang meninggal kan rumahnya, dengan menggotong beban barang yang dimasukkan di dalam keranjang lalu diangkat dengan kedua pundaknya. Hal ini menjelaskan, Badan Jasmani akan ditinggalkan untuk selamanya dan tidak kembali lagi. Sementara barang yang dapat dibawa serta hanyalah Karma Baik dan Karma Buruk. Gambar Rumah, adalah representasi Badan Jasmani dan Harta Benda, serta semua yang kita Cintai, akan ditinggalkan. Kematian akan menimbulkan Kepedihan, Ratapan, Duka Cita, Kesedihan, Keputusasaan, Kekecewaan dan Perkabungan, pada saat berpisah dengan orang yang dicintai.

Birth – Jati – Kelahiran. Bergantung pada Proses Menjadi timbul Kelahiran (jati) dalam kehidupan selanjutnya. Yang dimaksud dengan Kelahiran adalah munculnya Perwujudan Batin dan Jasmani (the psycho-physical phenomena) khandhanam patubhavo. Old age & death – jaramarana – Kematian. Usia Tua dan Kematian jaramarana merupakan Hasil Kelahiran yang tidak dapat dielakkan.

Paticca Samuppada

Rumusan selengkapnya bisa disimpulkan sebagai berikut:
Bergantung pada Ketidak Tahuan muncul Bentuk Bentuk Aktifitas.
Bergantung pada Bentuk Bentuk Aktifitas muncul Kesadaran Menyambung.
Bergantung pada Kesadaran Menyambung muncul Batin dan Jasmani.
Bergantung pada Batin dan Jasmani muncul Enam Indria.
Bergantung pada Enam Indria muncul Kontak.
Bergantung pada Kontak muncul Perasaan.
Bergantung pada Perasaan muncul Nafsu Keinginan Rendah.
Bergantung pada Nafsu Keinginan Rendah muncul Kemelekatan.
Bergantung pada Kemelekatan muncul Perwujudan.
Bergantung pada Perwujudan muncul Kelahiran.
Bergantung pada Kelahiran muncul Usia tua dan Kematian.

Demikianlah keseluruhan Kelompok Penderitaan itu Muncul

Dalam Urutan Terbalik:
Dengan Padamnya Ketidak Tahuan menyebabkan berhentinya Bentuk Bentuk Aktifitas.
Dengan Padamnya Bentuk bentuk Aktifitas menyebabkan berhentinya Kesadaran Menyambung.
Dengan Padamnya Kesadaran Menyambung menyebabkan berhentinya Batin dan Jasmani.
Dengan Padamnya Batin dan Jasmani menyebabkan berhentinya Enam Indria.
Dengan Padamnya Enam Indria menyebabkan berhentinya Kontak.
Dengan Padamnya Dengan Padamnya Kontak menyebabkan berhentinya Perasaan.
Dengan Padamnya Perasaan menyebabkan berhentinya Nafsu Keinginan Rendah.
Dengan Padamnya Nafsu Keinginan Rendah menyebabkan berhentinya Kemelekatan.
Dengan Padamnya Kemelekatan menyebabkan berhentinya Perwujudan.
Dengan Padamnya Perwujudan menyebabkan berhentinya menyebabkan berhentinya Kelahiran Kembali.
Dengan Padamnya Kelahiran menyebabkan berhentinya Usia Tua dan Kematian.

Demikianlah hasil padamnya kelompok Penderitaan secara keseluruhan

 Proses Sebab Musabab Yang saling Menjadikan ini berlangsung terus menerus. Awal Pertama proses ini Tidak Bisa ditentukan karena tidak mungkin menelusuri Lingkaran Kehidupan ini hingga pada suatu saat, ketika Kehidupan ini tidak diliputi oleh KeBodohan atau KeTidak Tahuan. Tetapi jika Kebodohan diganti atau diisi dengan Kebijaksanaan / Wisdom dan dapat merealisasikan Nibbana Dhatu pada Lingkaran Kehidupan ini, maka pada saat itu juga Proses Tumimbal Lahir berhenti.

The Wheel Of Life

 Yaksha (Raksasa) melukiskan Penguasa Waktu yang siap memangsa dan memper-daya semua mahluk yang diliputi oleh Kebodohan baik Siang dan Malam. Ia merupakan mahluk yang Ganas dan Me-nakutkan yang mewakili 3 Kekotoran Batin. (Keserakahan, Kebodohan, Kebencian). Ia berpenampilan amat sangat mengerikan. Ia menyeret semua mahluk ke dalam api.

Kulit Harimau yang mengalasi Yaksha menandakan Pikiran yang Teracuni dan Watak Buruk yang Terpendam, yang menyelubungi dan melekat pada semua mahluk, setiap saat.

Mata Raksasa yang bermata Warna Putih mewakili Siang Hari dan mata yang berWarna Hitam mewakili Malam hari. Menandakan kehidupan dari semua mahluk senantiasa dicengkeram oleh Yaksa, Siang maupun Malam Hari.

5 Tengkorak melambangkan Ke 5 Khanda/Skhanda (Jasmani, Perasaan, Persepsi, Kehendak dan Kesadaran). Yang mana kita seharusnya tidak terikat/melekat oleh hal-hal tersebut karena sifatnya yang Berubah-Ubah, Tidak Kekal dan Tidak Stabil, serta menghanyutkan sepanjang Hidup Manusia.

Kuku jari tangannya, tajam dan mengerikan, mengilustrasikan Enam Alam Kehidupan dalam cengramannya, dan siap untuk di terkam olehnya. Sehingga mahluk Alam ini mengalami kesulitan untuk keluar dari (ten) Belenggu dan Watak Buruk yang Terpendam yang mengikat mereka didalam Lingkaran Kehidupan/Samsara.

Buddha diatas Lingkaran Kehidupan, berdiri dan menunjukkan Jalan bagi Siswanya, dengan membabarkan Empat Kesunyataan Mulia yang merupakan cara untuk memutuskan Lingkaran Penderitaan, menjelaskan bagaimana mempraktekkan Delapan Jalan Utama, serta mengerti Hukum Sebab Musabab Yang Saling Ber-gantungan, sehingga dapat bangkit dari segala Karma Baik maupun Karma Buruk. Sebagai Konsekuensi atau Akibatnya, Insan yang mengamal kan ajaran ini, dapat Lepas dari Lingkaran Kehidupan dan Akhirnya mencapai Nirvana atau Nibbana.

Roda Kehidupan yang dicengkeram oleh Yama, Dewa Kematian. Hal ini menunjukkan bahwa selama kita berada dalam samsara, kita tidak memiliki pilihan selain Mati dan Terlahir Kembali. Hyang Buddha berada di luar Roda Kehidupan ini, dan Beliau menunjuk ke arah Sukhawati, mengungkapkan bahwa kita juga dapat membebaskan diri dari samsara. Surga Sukhawati melambangkan Pembebasan, untuk memutus Lingkaran Kematian, Kelahiran Kembali, dan dari semua Penderitaan Samsara. Yang pada akhirnya merealisasikan pencapai-an Nirvana atau Nibbana.

The gift of Dhamma excels all gifts,
The taste of Dhamma excels all taste,
The delight in dhamma excels all delights,
The Craving-Freed vanquishes all suffering.
- Dhammapada verse 354 -