Dharma Buddha

MANTRA OF KUNRIG (VAIROCHANA)

Dalam tradisi Buddhisme Tibet, terdapat 10 mantra utama (Ten Great Mantras). Mantra tersebut digunakan sebagai arahan untuk pemusatan pemikiran dan pengendalian tingkah laku.

Ke-sepuluh mantra utama tersebut adalah :
1. om mani padme hum (Tchènrézi / Avalokitesvara Bodhisatva)
2. tayata om bhekandze bhekandze maha bhekandze randza samungate soha (Bhaisjayaguru Buddha)
3. om pemo unika bimale hung phat (Buddha Rinchen Tsultor – Wish Granting Wheel Mantra)
4. om namo bhagawati / sarva dukha te pari shodhani razaya / tata gataya / arhate samyaksam buddhaya / tayata / om shudhani / shudhani / sarwa parpum bishudhani / shudhay bisudhay / sarwa karma awarana vishudhaniyay soha (Mantra of Kunrig / Vairochana – The deity who liberates from lower realms)
5. om dhrum soha / om amrita ayur dande soha
6. namo ratna trayaya om kham khani kham khani rotsani rotsani totani totani trasani trasani pratihana pratihana sarwa karma parampara nimay sarwa sato naytsa soha (Buddha Mitrukpa/ Buddha Akshobhya)
7. om pema shawari pay nanapari shig naganana tayata sarwa birita hana hana bendza narakya rakya soha nama tsapanam samyaksam buddha kotanam parishudhay manasi abhay sita prati tita nam namo bagawatay amritayu yakshashya tathagatasya om sarwa tathagata shudhi ayur bishudhani samhara samhara sarwa tathagata birab len prati sam haryu tsara tsara sarwa tathagata samaya bodhi bodhi buddhaya buddhaya bodhaya bodhaya mama sarwa papam alana bishudhay bikata mala sarasuwatay buddha huru huru soha.
8. nama nawa nawa tinam tathagata kam kamna dewa lukanam kotini yutashata saha sanam om bobo ri sarinisari mo ri kuri tsala wari soha
9. namo bhagawati narwa narwa tinam samya sambudhay kotini utah shara sanam nama sarwa ni bara na bikami nibodhi sataya om turu turu mama sarwa awarana bishudhani sarwa tathagata ayur balani bipulani ramalay sarwa siddhi nama tita bhara bhara sarwa satam awalokini om sarwa ni barana bikama bini mama sarwa papam bishudhani kuru soha
10. om ah hum bendza guru pema siddhi hum (Gourou Rinpoché)
Mantra of Kunrig merupakan mantra pujaan ditujukan untuk Buddha Vairochana, dimana Buddha Vairochana merupakan salah satu dari 5 Dhyani Buddha yang bertugas pada ke-empat arah mata angin yaitu : Dhyani Buddha Vairochana, Dhyani Buddha Akshobhya, Dhyani Buddha Ratnasambhava, Dhyani Buddha Amitabha dan Dhyani Buddha Amoghasiddhi.

Dalam agama Buddha, diketahui bahwa segala sesuatu itu tidak kekal, bahkan dunia ini juga tidak kekal dan selalu akan muncul zaman baru. Setiap zaman akan muncul Dhyani-Buddha, Buddha yang selalu tafakur dan berada di langit, serta wakilnya yang bertugas memelihara ajaran Buddha di dunia, Dhyani-Bodhisattva. Setiap Dhyani-Buddha dan wakilnya menempati arah mata angin sendiri-sendiri, dan satu berada pada posisi tengah. Di Candi Borobudur, patung-patung Dhyani Buddha mempunyai posisi masing-masing dan sikap tangan, mudra sesuai dengan kepercayaan tersebut.

Dhyani-Buddha Aksobhbya, dengan Bhumisparçamudra, sikap yang menyentuh bumi sebagai saksi. Dhyani-Bodhisattva Vrajapani. Berada pada sisi Timur.

Dhyani-Buddha Ratnasambhawa, dengan Varamudra, sikap yang mengisyaratkan kedermawanan atau mengabulkan permohonan. Dhyani-Bodhisattva, Ratnapani. Berada pada sisi Selatan.

Dhyani-Buddha Amitabha, dengan Dhyana-mudra, sikap mengheningkan cipta, mengisyaratkan ketika sang Buddha bermeditasi di bawah pohon Bodhi. Dhyani-Bodhisattva Avalokiteçvara. Berada pada sisi Barat.

Dhyani-Buddha Amogasiddha, dengan Abhayamudra, sikap yang melambangkan jangan takut bahaya. Dhyani-Bodhisattva Wiçwapani. Berada pada sisi Utara.

Dhyani-Buddha Vairoçana, dengan Vitarkamudra, sikap yang mengisyaratkan memberi pelajaran. Dhyani-Bodhisattva Samantabhadra. Berada pada bagian tengah.

Mantra of Kunrig ini sangat baik untuk membangkitkan bodhicitta dan menolong makhluk-makhluk dari alam rendah / menyedihkan. Dilafalkan dan diperdengarkan pada saat pelepasan makhluk hidup, kepada binatang atau kepada orang-orang yang menjelang kematiannya untuk menghindari terlahir di alam menyedihkan.

KELAHIRAN BUDDHA UNTUK KEBAHAGIAAN SEMUA MAKHLUK HIDUP

Jangan Berbuat jahat, tambahkan kebajikan dan sucikan hati dan pikiran. Inilah inti ajaran para Buddha.

Kelahiran seorang calon Buddha memerlukan kondisi yang sesuai, yaitu: apakah sudah tiba waktu yang tepat baginya untuk dilahirkan kembali, keadaan benua, negara, keluarga, ibu, waktu dalam rahim, bulan kelahiran dan waktu untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

Selain itu dalam Milinda Panha disebutkan, tidak mungkin ada kelahiran dua Buddha secara bersamaan. Karena bumi ini tidak mampu untuk menahan beban kebajikan mereka berdua.  Bumi akan bergetar, bergoyang dan hancur. Seperti : orang yang telah makan begitu banyak sehingga tidak ada tempat lagi yang tersisa di perutnya lagi. Dia tidak akan merasa nyaman. Jika dia makan lagi maka dia akan mati.

Seorang Buddha memiliki 32 (tiga puluh dua) tanda-tanda fisik, yang merupakan hasil kesempurnaan dari perbuatan kebajikan sebelumnya. Seperti apa yang kita ketahui apa yang kita tabur, demikian pun hasilnya. Perbuatan kebaikan akan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya perbuatan jahat menimbulkan penderitaan.
Kesucian yang direalisasi merupakan suatu pencapaian atas usaha yang luar biasa. Selama kehidupan beliau selalu melakukan kebajikan. Seperti Pada saat masih kecil, sifat kebajikan ini dapat kita jumpai pada kisah seekor burung pelipis yang ditembak oleh sepupuhnya. Melihat hewan yang tidak berdaya, beliau merawatnya dengan baik.

Sampai saat dewasa saat mengelilingi istana. Sebagai putra Mahkota, Beliau melihat ada orang yang sakit, tua dan mati. Membuat dirinya tidak bisa diam begitu saja menghadapi kenyataan tersebut.

Pada saat melihat pertapa niat kebajikan ini pun diperkuat dengan meninggalkan segala harta, kekayaan dan pewaris tahta. Menempuh kehiudpan sederhana sebagai seorang pertapa. Ini beliau lakukan demi kebahagiaan semua makhluk.
Pada saat pencapaian pencerahan, dengan lantang beliau menyuarakan kemenangan, sebagai berikut :

“Dengan sia-sia aku mencari pembuat rumah ini. Berlari berputar-putaran dalam lingkaran tumimbal lahir. Menyakitkan tumimbal lahir yang tiada habis-habisnya. O, Pembuat rumah, sekarang telah ku ketahui. Engkau tak akan dapat membuat rumah lagi. Semua atapmu telah kurobohkan. Semua sendi-sendimu telah kubongkar. Batinku sekarang mencapai keadaan Nibbana dan berakhirlah s emua nafsu-nasu keinginan.

Syair ini merupakan pekik kemenangan

Tidak hanya berhenti disitu saja, namun Beliau dengan cinta kasih dan kasih sayang terus membantu memecahkan problema kehidupan manusia dan dewa. Perjuangan ini tidak membeda-bedakan apakah pengikutnya bangsawan atau rakyat jalata, orang kaya atau orang miskin, orang pandai atau bodoh, orang terhormat atau orang biasa. Belaiu memperlakukan dengan adil dan bijaksana. Semua beliau menyambut dengan pancaran cinta kasih dan kasih sayang.

Apalagi pada saat itu perbedaan tingkat kehidupan yang terjadi di masyarakat begitu tinggi. Beliau tidak membeda-bedakan. Bahkan beliau terima semua sebagai muridnya. Pada saat tersebut, beliau pun tidak membeda-bedakan gender. Semua memiliki kesempatan yang sama dalam pencapaian kebenaran.
Dharma yang dibabarkan tersebut adalah kebenaran yang hakiki. Berlaku bagi siapapun yang hidup dan terlahir di tiga puluh satu alam kehidupan.
Apabila kita lihat kebiasaan Buddha, setiap pagi dengan sikap meditasi beliau menelusuri kehidupan. Apakah ada orang yang siap untuk merealisasi kebenaran dan berada di mana.

Meskipun Dharma ini berlaku dan terbuka bagi siapapun. Namun tidak semua orang dapat menerima dan mau melaksanakan apa yang telah beliau babarkan. Hal ini disebabkan nilai praktek dan pemahaman setiap orang berbeda-beda. Semua itu tergantung dari tekad dan semangatnya masing-masing. Sehingga amatlah wajar apabila disebutkan Dharma ini untuk orang bijaksana yang dapat mengerti dan memahami hidup ini senyatanya.

Kebanyakan dari kita selalu hidup diluar diri kita sendiri. Apalagi kalau kita kaitkan dalam pencapaian kebahagiaan dan kekayaan. Kita terkadang lupa untuk menggali potensi yang kita miliki. Dharma ini akan memiliki manfaat yang begitu luar biasa, apabila mereka yang mendengar, mempraktekkan dan merealisasi sendiri. Penegasan betapa pentingnya Dharma dapat kita jumpai, saat Buddha mau memasuki Maha Parinibbana (meninggal dunia), beliau bersabda kepada murid-muridnya untuk menjadikan Dharma sebagi pelindung dan pelita kehidupan. Semoga kita selalu berada dalam Dharma yang akan membawa kita kemajuan. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Banyak orang berpendapat bahwa membakar kertas sembanhyang sebagai persembahan kepada Budha , Bodhisatva , Dewa pelindung, Para pemeluk suci, maupun roh leluhur adalah sesuatu yang sama sekali tidak berguna dan harus dihentikan.

Namun, coba di[ikirkan hal berikut ini. Bila membakar kertas sembahyang adalah suatu hal yang semu dan tak ada gunamua, bukankah memelihara dan memuja patung buddha juga merupakan hal yang semu juga?

sebenarnya kedua hal tersebut di atas, membakar kertas sembahyang dan memuja patung buddha merupakan contoh dari menggunakan metode yang semu untuk melatih sesuatu yang asli

contoh yang lain adalah tubuh fisik kita sendiri dimama tubuh kita ini terdiri dari 4 unsur : air, apo, udara dan tanah serta panca skandha.
untuk mencapai penerangan sempurna, kita menggunakan tubuh fisik kita yang semu ini untuk menemukan diri kita yang asli (ebudhaan) . Dalam arti kita melatih diri kita sendiri terus menerus sehingga sifat Budha dalam diri kita ini menampakkan diri. Jadi penekanannya adalah pada MEMBINA DIRI

sewaktu kita melakukan puja bhakti kepada Budha dan Bidhisatva, sepertinya kita seakan-akan memuja obyek2 seperti kayu, batu, tembaga dan porselin. Namun dengan bervisualisasi bahwa para buddha dan boddhisatva yang sebenarnya menampakkan diri mereka di hadapan kita dalam bentuk yang terukir pada patung2 tersebut, kita sebenarnya melatih diri dengan MENGGUNAKAN SESUATU YANG PALSU UNTUK MELATIH SESUATU YANG ASLI.

Ketika kita membakar kertas sembahyang sebagai sesuatu persembahan kepada Budha, Bodhisatva, Dewa Pelindung dan makhluk suci lainnya, kita berharap mereka menampakkan diri PRIBADI mereka untuk menerima persembahan kita tersebut. Bila hal yang sama dilakukan sebagai persembahan kepada roh2 leluhur, kita mendoakan mereka supaya mendapatkan kebahagiaan dan kesehatan. Sekali lagi, ini merupakan metode MENGGUNAKAN YANG PALSU UNTUK MELATIH YANG ASLI

membakar kertas sembahyang memang sesuatu yang semu. demikian pula semua dharmapun sebenarnya adalah semu. Namun dengan membayangkan bahwa hal tersebut tidak semu maka benar2 terjadilah bahwa hal tersebut tidaklah semu. agar hasilnya menjadi efektif, kita harus mempunyai keyakinan bahwa membakar kertas sembahyangini adalah sesuatu yang nyata dan bernilai. karena daya pikir kita itu maka terjadilah kegiatan itu suatu hal yang nyata dan bernilai. ROh2 leluhur kita memang menginginkan kertas-kertas sembahyang tersebut. Sedangkan kita membakar kertas2 sembahyang itu sebagai cara kita untuk menyampaikan rasa hormat dan rasa welas asih kepada mereka. Bila keiinginan dan tujuan kedua belah pihak dapat tercapai dengan teknik membakar kertas sembahyang ini, mengapa kita harus mengharamkan teknik ini ?

Membakar kertas sembahyang, memuja batung buddha, menyebut nama buddha dan membahyangkan nama budha yang agung, semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu melatih pikiran kita untuk selalu berpikir dan bertindak welas asih seperti sang buddha.

membakar kertas sembahyang dengan menggunakan kekuatan pikiran dapat mengundang kehadiran para Budha dan Bodhisatva serta para roh leluhur kita. Para roh leluhur kita akan terlahir di tanah suci amitabha (Surga)
ada sebuah kisah nyata yang dikisahkan oleh salah satu teman sedharma kita...
cerita tersebut adalah sebagai berikut:

ada seorang anak muda yang menderita penyakit yang sudah tidak dapat disembuhkan lagi. Sehari sebelumnya ajalnya tiba, Ia masih merasa segar. Ada pepatah yang mengatakan bahwa sebuah lilin api, jika akan habis, nyala api saat penghabisan tersebut amat sangat terang dan sempurna.
Demikianlah yang terjadi dengan anak muda ini.
Sehari sebelum ajalnya tiba, ia terlihat amat segar bugar, seperti tidak menderita penyakit apapun
Kedua matanya masih terang, ucapannya masih dapat dimengerti, ia bahkan tidak terlihat sedang kebingungan.

Namun ia berkata kepada kedua orang tuanya "ada banyak orang berdiri mengelilingi saya" Sebagian di antara mereka saya mengenalnya , namun sebagian lagi saya tidak mengenalnya. Mereka meminta uang dari saya. Bila tidak saya berikan maka mereka tidak akan membiarkan saya pergi.

Sang orangtua berkata kepada anaknya : "Tetapi tidak ada orang di sini, hanya kami berdua"
"sungguh mereka ada di sini. Bahkan paman yang meninggal tahun lalu juga ada di sini. Ia berusaha menarik saya tetapi tidak berhasil"

Kedua orang tuanya terkejut dan segera memberikan sejumlah uang kepada putranya tersebut. sang putra melihat apa yang diberikan oleh orangtuanya dan berkata" ayah dan ibu, apa yang kalian berikan kepada saya bukanlah jenis uang yang mereka inginkan."

Orang tuanya berkata dengan rasa takut " Ini adalah uang yang sesungguhnya anakku"
"Sungguh ini bukan uang"

Sang ibu tiba2 mendapat ilham dan segera pergi ke toko terdekat untuk membeli banyak uang kertas sembahyangan dan kemudian menaruhnya di tangan putranya sambil bertanya apakah itu uang yang dimaksudkan.

Sang putra menjawab sambil tersenyum ,"benar, ini adalah uang yang sebenarnya" Sehari sesudah kejadian tersebut, sang putrapun meninggal dunia

kisah cerita di atas adalah kisah nyata yang diceritakan oleh sang orang tua putra tersebut.
Pada saat seseorang akan mendekati ajalnya , biasanya terjadi banyak kejadian aneh. Kebanyakan pihak keluarga mempunyai pengalaman yang serupa seperti kisah di atas.
Timbul pertanyaan, mengapa kertas sembahyang yang dicetak di dunia ini dapat digunakan di dunia lain? Ini merupakan sebuah topik yang kontroversil. Neraka merupakan sebuah dunia roh. Kertas sembahyang yang dicetak oleh manusia, setelah dibakar, dapat berubah menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai kebhatinan dengan mengunakan kekuatan kemauan kita yang tulus....
 Beberapa umat Buddha keliru dengan mengartikan memuja Buddha rupang sebagai memuja atau berbakti kepada PRIBADI para Buddha ataupun bodhisatva. Semasa hidupNya Buddha Gotama menolak dipuja sebagai pribadi bahkan sampai menjelang parinibbana, Beliau menasihati bahwa pemujaan tertinggi adalah melaksanakan Dhamma yang telah diajarkanNya. Beberapa umat Buddha karena terlalu terobsesi dengan rupa Sang Buddha yang terwujudkan dalam rupang/gambar sehingga bermimpi bertemu dengan Buddha/bodhisatva. Adalah hal yang baik jika seseorang bermimpi seperti itu, tetapi perlu diwaspadai bahwa mimpi itu adalah hanya refleksi pikiran yang terobsesi. Dan kadang-kadang beberapa orang justru menyalahartikan dan memanfaatkan mimpi seperti itu untuk hal-hal yang didasarkan pada ego semata.

Umat Buddha sebaiknya memuja Buddha Rupang sebagai penghormatan akan sifat-sifat kebuddhaan, bukan PRIBADI Buddha, sehingga apa yang diingat setelah puja bakti adalah sifat-sifat Buddha bukan pribadi Buddha. Selain itu Buddha rupang juga digunakan sebagai objek konsentrasi.

Pembakaran kertas sendiri bermula dari daratan Tiongkok dan tidak ada hubungannya dengan Buddhisme. Tradisi ini bermula dari rasa kekhawatiran masyarakat Tiongkok akan familinya yang meninggal. Bahkan tradisi ini merupakan bentuk pengalihan dari tradisi sebelumnya yaitu membakar hal-hal yang sebenarnya seperti baju famili yang meninggal sampai pada membakar seorang prajurit sebagai penjaga Kaisar yang meninggal. Karena tradisi ini dilihat terlalu kejam dan memekan biaya yang besar, maka digunakan kertas yang menyerupai benda aslinya.

Dan akhirnya tradisi ini merambat pada umat Buddha di Tiongkok. Dari rasa kekhawatiran masyarakat Tiongkok akan familinya yang meninggal, tradisi ini dialih fungsikan sebagai persembahan kepada para Buddha dan bodhisatva. Meskipun dialih fungsikan ternyata tradisi ini intinya adalah pemujaan terhadap PRIBADI bukan sifat kebuddhaan. Beberapa umat Buddha tradisional bahkan masih menganggap dengan melakukan tradisi ini akan mendapatkan balasan secara langsung dari para Buddha maupun bodhisatva, bahkan mengharapkan balasan yang lebih banyak/besar jumlahnya dari yang ia bakar.

ANDAIKATA para Buddha yang sudah parinirvana itu bisa menerima kertas yang dibakar, pertanyaannya, untuk apa uang kertas itu bagi para Buddha ? Jika suatu bentuk persembahan, bakti mengapa tidak berbentuk buah saja sehingga para Buddha bisa langsung memakannya.

Mengikuti tradisi setempat tidaklah dilarang dalam Buddhisme selama tidak bersifat negatif.Dan sebagai umat Buddha kita harus mengetahui dan meluruskan bahwa tradisi ini BUKAN ajaran Buddhisme. Sehingga di masa depan generasi kita tidak dibingungkan oleh tradisi yang dianggap sebagai ajaran Buddhisme.
Dikutip dari : http://www.wihara.com/forum/archive/index.php/t-1091.html
 Banyak murid saya menulis surat kepada saya. Mereka menceritakan bahwa mereka telah berkonsultasi dengan ahli Dharma dan ahli bumi mengenai kebaikan dari rumahnya.

Menghadapi nasib buruk yang teramat, orang-orang biasanya ingin tahu nasib mereka. Dan selalu, sang para ahli akan selalu memberitahu mereka bahwa terdapatnya hantu-hantu di dalam rumah mereka. Ketika mendengar kabar buruk ini, mereka akan jadi gugup dan meminta petunjuk dari saya.

Terlalu banyak kejadian-kejadian serupa. Pertama-tama, saya ingin memberitahu anda semua : "Kita tak boleh takut akan hantu-hantu." Sejujurnya, di setiap rumah di permukaan bumi ini terdapat hantu-hantu di dalamnya. Terkecuali anda menetap di tempat yang tinggi tingkatnya semacam surga dan Tanah Suciloka, anda tak dapat mengelak darinya. Mereka yang memiliki mata dewata dapat meyakinkan anda bahwa terdapat hantu dimana-mana. Makadari itu, kita tak semestinya takut olehnya. Mengapa saya berkata demikian? Dewa bangunan dalam rumah kita mungkin saja seseorang yang dekat dengan kita bahkan mungkin nenek moyang kita.

Sebagaimana Dewa rumah berasal dari akhirat, dia semestinya dipanggil hantu sebelumnya. Bahkan dewa-dewa rejeki (dewa-dewa tanah) yang banyak dari kita membikin altar termasuk hantu-hantu-mereka memiliki harta kekayaan yang cukup banyak. Jika kita membikin altar buat nenek moyang kita dan gambar-gambar dari dewa-dewa Tao "Jiu Xun Qi Zhu" di rumah kita, sekali kita memberikan sesajian kepada mereka, mereka akan datang dan menjadi tamu-tamu kita untuk beberapa hari sebagaimana mereka bukanlah dewa-dewa yang menetap di alam surga. Maka dari itu selalu terdapat hantu-hantu di setiap rumah. Dikarenakan kita tak dapat menghindarkan diri kita dari mereka, kita harus bersiap-siap mental jadi kita tak menjadi takut akan mereka.

Beberapa dari dewa-dewa rejeki yang hadir muncul untuk membayar seberapa jumlah yang mereka hutang dari kita sebelumnya, beberapa dari mereka membalas jasa baik yang telah kita lakukan pada masa lampau. Kita tidak akan mempunyai rejeki, jika kita mengusir mereka semua pergi dari rumah kita. Bahkan ada prakata: "Dimana ada hantu, ada rejeki." Mereka yang mempunyai mata dewa, ahli Dharma, dan peramal segera akan menjumpai bahwa terdapatnya hantu-hantu di setiap rumah. Makadari itu kita seharusnya rileks sebagaimana hantu-hantu tersebut akan berbuat baik terhadap kita dan membantu kita dalam berbagai hal.


Kita selama ini selalu beranggapan mereka yang memiliki kekuatan gaib "dewa", dan mereka dengan kekuatan gaib yang terbatas "hantu". Dan selaras dengan hati baik atau jahat akan mendaptakan jenis hantu yang sama pula. Dikatakan dalam kitab-kitab Tao "Tai Shang telepathy" "Tak ada pintu yang menuju ke kejahatan atau kebaikan, manusialah yang membuatnya." Makadari itu kita semestinya tak takut sama sekali. Sebagaimana dengan nasib baik kita, kita seharusnya berkata kepada diri kita sendiri: jika kita berbaik hati, hantu-hantu rejeki akan membantu kita. Kebalikannya, jika kita bermaksud jahat, hantu-hantu nakal akan mengganggu kita. Kita harus selalu mengingat ungkapan Chinese "Manusia hidup bertanggung jawab akan nasib baik mereka sendiri ataupun nasib buruk mereka." Kita belajar dari banyak Sutra dan buku-buku yang lainnya, jika kita mempunyai pikiran yang benar, ketika seseorang mengetuk pintu kita di tengah hari, kita tak akan mempunyai rasa takut apa-apa. Kita merasa takut dikarenakan hati naruni kita merasa bersalah terlebih dahulu. Orang yang lurus tak akan takut apa-apa.


Malahan banyak sekali terdapat hantu-hantu yang berhati baik yang akan selalu bersama kita untuk menjadi pelindung-pelindung Dharma kita. Hantu-hantu tersebut datang untuk melindungi kita yang sedang berupaya berlatih. Jika kita telah mencapai tingkat kerohanian tertentu, mereka juga akan mendapatkan penyeberangan yang lebih baik. Hantu-hantu ini membantu kita dalam kegelapan, dan kita mengumpulkan jasa-jasa baik untuk mereka juga. Jika kita memiliki pandangan yang benar terhadap hantu-hantu tersebut, kita tidak akan tertipu oleh para penipu.


Tak perlu membuang uang banyak untuk memburu hantu-hantu ini keluar, sebagaimana hantu-hantu tak akan menyerah kalah. Dewa rumah dari rumah anda juga adalah seorang hantu juga dan pula nenek-moyang anda dan "Jiu Xun Qi Zhu." Kadang-kadang hantu-hantu dapat menjadi Dharma pelindung kita. Jika anda berhati baik semua mahluk-mahluk suci dan hantu-hantu akan menjadi Dharma pelindung anda, jika anda berhati jahat, mereka akan mengganggu anda.

Om Mani Padme Hum
PENDAPAT!!!


hantu memang ada dimana-mana...
ditempat anda sekarang duduk juga ada .....:eek::eek::eek:
banyak tau...hantu apakah ganggu???
sering juga karena mereka itu memiliki perasaan dendam tapi ada juga yang iseng....
aduh soal dewa bumi = hantu,....wah
parah.....kalau dewa bumi hantu kenapa dianggap dewa...
dewa bumi atau dalam hokkien Fu De Zheng Shen Zhen itu dewa rejeki dalam Taoist namun dalam budhsit Dewa itu menjadi Amurva Bumi....dia itu dulu seorang pejabat pemerintah yang mengurusi pajak rakyat...tetapi karena usia tua ia meninggal...dan pajak rakyat dinaikan oleh pejabat penggantinya, dan karena ada seorang yang begitu percaya dan mengharapkan ia ( Shen Zheng ) kembali dan memerintah ia mendirikan sebuah altar kecil apa adanya, dengan tulisan Fu De Zheng Shen Zhen, maka lama kelamaan panen orang itu melimpah, dan orang2 yg percaya membangun juga dan akhirnya semua org yakin, Fu De Zheng Shen Zhen adalah dewa harta...kemakmuran dan kesuburan...
nah begitu menurut info yg sy dapat....
Dikutip dari :
http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-66219-Download-Paritta-Mp3.html
http://www.wihara.com/forum/archive/index.php/t-747.html