Dharma Buddha

TRIRATNA
(Tiga Mestika)

Kami berlindung pada Buddha, Kami berlindung pada Dharma, Kami berlindung pada Sangha. Berikut adalah penjelasan dan arti masing-masing perkataan di atas

Buddha
Demikianlah sesungguhnya Bhagava, Yang Maha Suci, yang telah mencapai penerangan sempurna. Yang Sempurna dalam Pengetahuan dan tindak tanduknya. Yang Berbahagia, pengenal semua alam. Pembimbing umat manusia yang tiada taranya. Guru para dewa dan manusia. Seorang Buddha Junjungan Yang Mulia.

(Buddha) Sebutan untuk orang yang telah mencapai pencerahan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi Buddha. Buddha yang kita jadikan perlindungan adalah Buddha yang ada dalam diri kita sendiri.

Mengapa Buddha dijadikan sebagai tempat perlindungan, yaitu
Buddha telah bebas dari segala ketakutan,
Buddha sangat mahir menunjukan jalan pembebasan,
Buddha memiliki belas kasih kepada semua makhluk tanpa diskriminasi dan
Buddha memberikan manfaat kepada semua makhluk apakah mereka harapkan atau tidak

Dharma
Dharma telah sempurna dibabarkan Bhagava. Tertampak, tanpa selang waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke dalam batin dapat diselami orang Bijaksana dalam batinnya sendiri.

Kebenaran ada kebenaran hakiki dan kebenaran konvensional
Kebenaran hakiki yaitu kebenaran tanpa mengenal ruang, waktu dan tempat.
Kebenaran konvensional, yaitu kebenaran yang masih diliputi oleh waktu, tempat dan ruang

Dharma ibarat rakit yang membawa orang menyebrang, setelah sampai diseberang rakit tersebut ditinggalkan

Sangha
Sangha adalah siswa Bhagava yang telah bertindak baik, lurus, berjalan di jalan yang benar dan berpenghidupan benar. Terdiri dari empat pasang makhluk suci. Patut untuk dimuliakan dan disambut dengan ramah tamah, patut menerima persembahan serta penghormatan. Inilah ladang pahala yang tiada taranya bagi dunia ini.

Sangha merupakan guru pembimbing yang tiada taranya, jujur, rendah hati, patut dipuja dan dihormati, patut diberi tempat untuk bernaung, makanan dan obat-obatan

Sangha merupakan persaudaraan para Bhikkhu - Bhikkhuni

Sangha ada dua macam, yaitu :-
Sangha yang terdiri dari orang-orang suci
Sangha yang terdiri dari orang-orang biasa

 
 

VINAYA PITAKA

Aturan-aturan disiplin yang disusun dalam dua himpunan berdiri sendiri, yang kemudian mendapat penambahan.

I. Suttavibhanga.
Penggolongan pelanggaran dalam delapan kelompok dimulai dengan empat aturan parajika mengenai pelanggaran-pelanggaran yang dapat menyebabkan seorang bhikkhu dikeluarkan dari Sangha. Pelanggaran-pelanggaran ini meliputi pelanggaran seks, pencurian, pembunuhan dan pembujukan untuk membunuh diri, kesombongan palsu akan kemampuan gaib diri sendiri. Aturan-aturan ini berjumlah 227. Seluruhnya sama dengan peraturan-peraturan Patimokkha yang diucapkan pada pertemuan Uposatha dari Sangha. Bagian ini dilanjutkan dengan Bhikkhuni-suttavibhanga, suatu rangkaian aturan untuk para bhikkhuni.

II. Khandhaka-khandhaka, yang disusun dalam dua seri.
1. Mahavagga
1. Aturan-aturan untuk memasuki Sangha.
2. Pertemuan Uposatha dan pengucapan Patimokkha.
3. Tempat tinggal selama musim hujan (vassa).
4. Upacara penutupan musim hujan (Pavarana).
5. Aturan untuk menggunakan pakaian dan perabot hidup.
6. Obat-obatan dan makanan.
7. Upacara Kathina, pembagian jubah tahunan.
8. Bahan jubah, aturan tidur dan aturan bagi bhikkhu yang sedang sakit.
9. Cara menjalankan keputusan oleh Sangha.
10. Cara menyelesaikan perselisihan dalam Sangha.

2. Cullavagga
1. Aturan-aturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran yang dihadapkan kepada Sangha.
2. Penerimaan kembali seorang bhikkhu.
3. Aturan-aturan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul.
4. Berbagai aturan untuk mandi, berpakaian, dan lain-lain.
5. Tempat tinggal, perabot, penginapan-penginapan.
6. Perpecahan.
7. Perlakuan pada berbagai golongan bhikkhu dan kewajiban para guru dan samanera.
8. Pengucilan dari Patimokkha.
9. Pentahbisan dan petunjuk bagi para bhikkhuni.
10. Sejarah Sidang Agung pertama di Rajagaha.
11. Sejarah Sidang Agung kedua di Vesali.

III. Parivara.
Ringkasan dan penggolongan aturan-aturan. Aturan-aturan dalam Suttavibhanga dan Khandhaka-khandhaka disertai cerita mengenai terjadinya aturan ini. Beberapa diantaranya benar-benar formal, yang semata-mata menunjukkan bahwa bhikkhu atau sekelompok bhikkhu telah melakukan pelanggaran atau mengikuti kebiasaan tertentu yang karenanya Sang Buddha menetapkan suatu keputusan. Akan tetapi, cerita-cerita nyata dimasukkan teristimewa dalam Mahavagga dan Cullavagga, serta khotbah-khotbah dari Nikaya-nikaya. Aturan-aturan penerimaan dalam Sangha didahului oleh cerita mengenai kejadian setelah mencapai penerangan, awal pembabaran Dhamma dan penerimaan siswa-siswa pertama. Cerita mengenai Rahula diberikan sehubungan dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk penerimaan, dan aturan-aturan mengenai perpecahan adalah cerita tentang komplotan Devadatta.