Dharma Buddha

  Belajar dari Sang Anjing

Seekor 'Anjing' kita menyebutnya. Ada banyak jenis anjing, dari anjing biasa yang berkeliaran di jalanan tanpa tahu tempat tinggal atau pemiliknya. Ada juga anjing piaraan yang harganya berjuta-juta, yang biaya perawatannya saja melampaui biaya hidup seorang mahasiswa. Tapi, bagaimana pun keadaannya, sebutannya tetap sama, "Anjing".
Nama "Anjing" memang tidak baik ataupun tidak jelek, tergantung bagaimana kita menanggapinya. Ada orang yang sedang emosi akan mengumpat orang lain dengan sebutan "Anjing...", ada juga yang menyayangi anjing bagaikan menyayangi anak sendiri sehingga tak ada terlintas sedikitpun pikiran bahwa 'Anjing' adalah makhluk rendah yang dipakai untuk memaki orang lain.
Terlepas dari semua itu, "anjing" adalah salah satu dari sekian banyak makhluk Tuhan yang ada di bumi ini, tinggal bersama di atas bumi yang sama, di bawah langit yang sama. Seperti halnya manusia dan makhluk lainnya, "Anjing" juga merupakan bagian dari Samudera Roh Suci LAOMU yang mewujud. Karena itulah, pada dasarnya tiada beda kita sebagai manusia dan anjing serta makhluk lainnya. Inilah yang diajarkan Kakek Guru kita, Sang Maitreya yang penuh kasih, yang telah berikrar untuk menyelamatkan makhluk triloka dari maha bencana akhir zaman, menyelamatkan kita, manusia, dan sesemua makhluk lainnya, tentu saja termasuk anjing.
Misi Buddha Maitreya sungguh besar, merupakan misi akbar yang menggetarkan triloka. Dalam misi besar seperti ini, Buddha Maitreya tetap berpikir demi semua makhluk, tak peduli apakah 'cuma' seeekor anjing atau semut sekalipun. Bagi Beliau semua adalah sama. Bila Sang Maitreya yang begitu agung pun begitu menghormati kehidupan makhluk-makhluk kecil seperti itu, apakah lantas kita boleh menghina apalagi mengambil kehidupan dari mereka.
Seekor anjing ternyata juga memiliki 'posisi' yang teramat istimewa. Bahkan Yang Suci Hao Che Ta Ti menampilkan sosok dan pribadi seekor anjing kecil dalam tembang suci Maitreya "Anjing Kecil Yang Setia". Mungkin tidak ada makhluk lain lagi yang seberuntung sang anjing, yang terpilih untuk masuk dalam tembang suci Maitreya, kumpulan syair-syair suci yang menggugah nurani melalui alunan nada nan indah.
Apakah keistimewaan dari sang Anjing ini, sehingga Yang Arya harus merasa 'pantas' memasukkannya dalam Tembang Suci Maitreya (satu lagu penuh). Tiada lain adalah pribadi luhurnya yang sangat pantas untuk dijadikan teladan bagi kita umat manusia, terlebih bagi para Pembina Maitreyani yang mengutamakan keindahan nurani. Pribadi Sang Anjing yang paling kita kenal adalah kesetiaannya, bakti dan kejujurannya.
Mungkin ada yang bertanya, apakah pantas kita sebagai manusia yang memiliki kesadaran, kecerdasan, akal budi, naluri dan segalanya yang lebih sempurna dibandingkan seekor anjing, harus belajar bahkan meneladani pribadi seekor anjing. Apa nggak salah? Salah atau tidak sangat tergantung cara kita memandang. Bila kita memandang diri kita manusia sebagai makhluk superior yang begitu hebat, tentu tak perlu sampai harus belajar dari seekor anjing. Namun bila kita menyadari bahwa semua makhluk memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, maka percayalah kita dapat belajar banyak dari makhluk-makhluk yang ada di sekitar kita. Kita tentu pernah merasa iri melihat burung-burung yang begitu bebas terbang kesana kemari, atau melihat anak ikan yang sangat kecil yang begitu mudah berenang tanpa harus mendapat bimbingan dari seorang pelatih. Atau seekor semut kecil yang tak pernah lupa jalan pulang ke sarangnya. Semua ini menunjukkan kepada kita bahwa selalu ada hal positif dari setiap makhluk, dan menjadi sebuah keberuntungan bagi kita bila kita dapat mengambil manfaat dari pribadi yang ditampilkannya.
Anjing, kejujuran, bakti dan kesetiaannya, tak perlu lagi dibahas panjang lebar, karena sudah bukan menjadi rahasia lagi. Seekor anjing akan senantiasa menunjukkan kesetiaannya kepada sang pemilik, saat sehat maupun sakit, tak pernah luntur sedikitpun kesetiaannya. Tak peduli dimarah ataupun ditendang, kesetiaan dan baktinya tak terganggu sedikitpun. Sungguh kesetiaan seperti inilah yang mutlak kita miliki sebagai manusia, sebagai anak kepada orang tua dan saudara kita. Sebagai pembina nurani, sebagai putra-putri LAOMU yang berbakti.
Sayangnya terkadang kita terlalu sombong, tak mau menerima keadaan bahwa untuk urusan yang satu ini kita kalah jauh dari seekor anjing, yang mungkin dengan mudah kita tendang jauh-jauh ketika kita tidak menyukainya. Kita menganggap diri terlalu hebat untuk perlu belajar dari seekor anjing.
Di dalam bimbingan Buddha Maitreya dan Dwi Guru Nurani, serta kasih Yang Suci Hao Che Ta Ti, kita dibimbing untuk dapat senantiasa mengambil manfaat dan hikmah dari segala keadaan dan kondisi di sekitar kita, dari segala makhluk yang ada, dari segala benda dan setiap momen yang ada. Semua ini tentu akan bermanfaat bagi kita untuk mengasah kebijaksanaan dan kearifan kita.
Bao Sheng Da Di

Bao Sheng Da Di disebut juga Da Dao Gong [Tao Too Kong], Hua Qiao Gong [Hoa Kio Kong], atau Wu Zhen Ren [Go Cin Jin] yang berarti Dewa Wu.

Ada dua pendapat yang sama-sama mempunyai dasar mengenai asal usul dari Bao Sheng Da Di ( ).

Pendapat pertama mengatakan bahwa Wu Zhen Ren memiliki nama asli Ben [Pun].

Wu Ben adalah seorang yang dilahirkan di desa Bai Jiao (Karang Putih), kabupaten Tong-an, wilayah Quan Zhou [Coan Ciu], propinsi Fujian. Ia lahir pada pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Xing Guo ke-empat bulan tiga tanggal 15 Imlek pada masa Dinasti Song.

Sejak masih kecil Wu Ben telah tertarik pada masalah pengobatan. Seorang pertapa, karena tertarik akan bakat anak ini, mengajarkan bermacam-macam ilmu pengobatan dan memberikan kitab yang berisi kumpulan obat-obat. Setelah dewasa, ia terkenal sebagai seorang tabib dewa. Ia pernah mengikuti ujian sastra dan lulus. Kemudian ia memangku jabatan sebagai Yu Shi, jabatan di istana yang mengurus pencatatan sejarah.

Nama Wu Ben menjadi terkenal setelah ia berhasil mengobati penyakit yang diderita permaisuri Kaisar Ren Zong.

Setelah mengundurkan diri, Wu Ben berkelana mengobati penyakit. Kemudian Wu Ben memiliki beberapa murid, antara lain Huang Yi Guan (Huang si Menteri Tabib), Cheng Zhen Ren (Cheng si Manusia Dewa) dan Yin Xian Gu (Yin si Dewi).

Rakyat, karena mengingat budi baik Wu Ben, banyak yang mendirikan kelenteng dan diberi nama Ci Ji Gong yang berarti "Kuil Penolong Yang Welas Asih".

Para kaisar juga tidak ketinggalan menganugerahkan gelar kepadanya. Kaisar Song Gao Zong menganugerahkan gelar Da Dao Zhen Ren yang berarti "Dewa Jalan Nan Agung". Gelar ini menyebabkan Bao Sheng Da Di ( ) terkenal dengan sebutan Da Dao Gong yang berarti "Paduka Jalan Nan Agung".

Kaisar Song Ning Zong memberikan gelar kehormatan Zhong Xian Hou yang berarti "Pangeran Teladan Kesetiaan". Kaisar Ming yang pertama, Ming Tai Zu, memberikan gelar Hao Tian Yu Shi Yi Ling Zhen Jun [Ho Thian Gi Su It Leng Cin Kun] yang berarti "Dewa Sejati Ahli Pengobatan dan Menteri Pencatat Sejarah".

Pendapat yang satu lagi mengatakan bahwa Bao Sheng Da Di ( ) adalah Wu Meng [Go Beng] yang hidup pada masa Dinasti Jin, penduduk asli dari Henan. Wu Meng sejak kecil terkenal karena baktinya kepada orang tua. Setelah dewasa ia berkelana dan melakukan pengobatan kepada penduduk yang tidak mampu. Kemudian ia dipanggil dengan nama Wu Zhen Jun [Go Cin Kun] yang berarti "Wu Si Dewa Sejati".

Jika ditinjau dari sudut sejarah, maka Wu Meng lebih terkenal dari pada Wu Ben, sebab Wu Ben meskipun memiliki reputasi sebagai tabib yang hebat, tetapi ia hanya dipuja di sekitar propinsi Fujian saja. Namun jika ditinjau dari tempat asalnya, maka Wu Ben lebih mendekati kenyataan, karena Wu Ben di propinsi Fujian dipuja sebagai Bao Sheng Da Di.

Kuil Bao Sheng Da Di ( ) di propinsi Fujian yang terkenal terdapat di dusun Bai Jiao, tempat Wu Ben berasal. Di kuil itu terdapat papan yang dihadiahkan oleh Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming.

Kisah-kisah kehebatan Wu Ben di kalangan rakyat memang banyak beredar, terutama di propinsi Fujian dan sekitarnya.

Diceritakan pada suatu hari, ia sampai di sebuah jalan pegunungan. Ia berjumpa 4 orang memanggul sebuah peti jenasah. Peti jenasah itu sangat sederhana, terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk, menandakan bahwa keluarga si jenasah adalah keluarga yang melarat. Darah tampak mengalir dari celah-celah peti jenasah itu, menandakan bahwa orang dalam peti jenasah itu belum lama meninggal.

Wu Ben melihat hal itu lalu berpikir sebentar, ia yakin bahwa yang di dalam peti belum meninggal. Ia meminta iring-iringan tersebut berhenti dan bersedia membuka tutup peti mati itu. Seorang wanita terbaring di dalamnya dan usianya sekitar 30 tahun.

Sekilas Wu Ben mengetahui bahwa wanita itu baru saja melahirkan dan mengalami pendarahan. Wu Ben meminta bantuan agar wanita tersebut diangkat keluar dari peti jenasah. Setelah dirawat dengan seksama akhirnya beberapa hari kemudian wanita yang sudah dianggap meninggal itu menjadi sehat kembali.

Kejadian ini tersebar dari mulut ke mulut dan meluas ke seluruh pelosok negeri. Semua menganggap bahwa Wu Ben dapat menghidupkan orang mati.

Ketenarannya sampai ke telinga Kaisar Ren Zong, yang sedang risau karena permaisurinya sedang sakit dan sudah banyak tabib tersohor yang didatangkan namun penyakit tidak kunjung sembuh. Tanpa memperdulikan jarak, Wu Ben datang ke istana untuk memenuhi panggilan kaisar.

Karena kebiasaan waktu itu yang melarang orang awam menyentuh tubuh kaisar atau keluarganya, maka Wu Ben memeriksa denyut nadi permaisuri dengan bantuan seutas tali sutera yang diikat pada pergelangan tangan sang permaisuri. Setelah yakin akan penyakit yang diderita sang permaisuri, Wu Ben menulis resep. Berkat obat itulah, tidak lama kemudian sang permaisuri sembuh kembali.

Ketika kaisar menanyakan hadiah apa yang diinginkannya, Wu Ben mengatakan bahwa ia ingin memakai jubah kebesaran yang pernah dipakai ayahnda kaisar. Kaisar Ren Zong mengabulkan permintaan tersebut.

Saat Wu Ben memakai jubah tersebut, Kaisar Ren Zong lalu berlutut. Wu Ben buru-buru mencegah dan menolak kehormatan itu.

Sejak itulah Wu Ben dikenal sebagai Bao Sheng Da Di ( ) atau Maharaja Pelindung Kehidupan.

Bersama dengan menyebarnya imigran dari Quan Zhou, pemujaan terhadap Bao Sheng Da Di ( ) tersebar ke Taiwan, lalu ke Asia Tenggara. Di Taiwan, karena imigran Quan Zhou banyak jumlahnya, maka kelenteng yang memuja Bao Sheng Da Di ( ) terdapat dimana-mana.

Yang tertua adalah yang didirikan pada masa Dinasti Ming, saat pemerintahan Kaisar Wan Li, yaitu Kaisar Kai Shan Gong [Khai San Kong]. Masih ada juga yang lebih besar yaitu Xing Ji Gong, Yuan He Gong, Liang Huang Gong, Fu Long Gong, Guang Ji Gong, Miao Shou Gong, dan lain-lain. Di Singapura pemujaan Bao Sheng Da Di ( ) terdapat di kelenteng Tian Fu Gong [Thian Hok Keng] di Telok Anyer Street.
 
 Er Lang Shen

Menurut sejarah, Er Lang Shen (Ji Long Sin) adalah putra dari seorang gubernur dari propinsi Sichuan yang hidup pada jaman Dinasti Qin, dengan nama Li Bing.

Pada waktu itu Sungai Min (Min-jiang, salah satu cabang Sungai Yang Zi yang bermata air di wilayah Sichuan) seringkali mengakibatkan banjir di wilayah Guan-kou (dekat Chengdu).

Sebagai gubernur yang peka akan penderitaan rakyat, Li Bing segera mengajak putranya Li Er Lang meninjau daerah bencana dan memikirkan penanggulangannya.

Rakyat Guan-kou yang sudah putus asa menghadapi bencana banjir yang selalu menghancurkan rumah dan sawah ladang, tampak pasrah dan mengandalkan para dukun untuk menghindarkan bencana. Para dukun menggunakan kesempatan ini untuk memeras dan menakut-nakuti rakyat.

Dikatakan bencana banjir itu diakibatkan karena Raja Naga ingin mencari istri. Maka penduduk diharuskan setiap tahun mengirimkan seorang gadis untuk dijadikan pengantin Raja Naga di Sungai Min itu.

Maka tiap tahun diadakan upacara penceburan gadis di sungai yang dipimpin oleh dukun dan diiringi oleh ratap tangis orang tua sang gadis.

Li Bing bertekad mengakhiri semua ini dan berusaha menyadarkan rakyat bahwa bencana dapat dihindari asalkan mereka bersedia bergotong-royong memperbaiki aliran sungai. Usaha ini tentu saja ditentang keras oleh para dukun yang melihat bahwa mereka akan rugi apabila rakyat tidak percaya lagi pada mereka.

Untuk menghadapi mereka, Li Bing mengatakan bahwa putrinya bersedia menjadi pengantin Raja Naga untuk tahun itu. Dia minta sang dukun untuk memimpin upacara. Sebelumnya Li Bing memerintahkan Er Lang untuk menangkap seekor ular air yang sangat besar, dimasukkan dalam karung dan disembunyikan di dasar sungai.

Pada saat diadakan upacara mengantar pengantin di tepi sungai, Li Bing mengatakan pada dukun kepala, bahwa ia ingin sang Raja Naga menampakkan diri agar rakyat bisa melihat wajahnya. Sang dukun marah dan mengeluarkan ancaman. Tapi Li Bing yang telah bertekad mengakhiri praktek yang kejam dan curang ini bersikeras agar sang dukun menampilkan wujud Raja Naga.

Pada saat yang memungkinkan untuk bertindak, Li Bing memerintahkan Er Lang untuk terjun ke sungai dan memaksa sang Raja Naga untuk keluar. Setelah menyelam sejenak Er Lang muncul kembali sambil menyeret bangkai ular air itu ke tepi. Penduduk menjadi gempar. Li Bing menyatakan bahwa sang Raja Naga yang jahat sudah dibunuh, rakyat tidak usah risau akan gangguannya lagi dan tidak perlu mengorbankan anak gadis setiap tahun.

Setelah itu Li Bing mengajak rakyat untuk bergotong-royong membangun bendungan untuk mengendalikan Sungai Min. Usaha ini akhirnya berhasil dan rakyat di daerah itu terbebas dari bencana banjir. Untuk memperingati jasa-jasa Li Bing dan Er Lang di tempat itu kemudian didirikanlah klenteng peringatan.

Pendapat lain mengatakan bahwa sebetulnya Er Lang Shen ( ) adalah Zhao Yu yang hidup pada jaman Dinasti Sui (581-618 SM). Kaisar Sui Yang Di (605-617 SM) mengangkatnya sebagai walikota Jia Zhou. Ia pernah membunuh seekor naga yang ganas di sungai dekat kota itu. Oleh penduduk kota Ia kemudian diangkat menjadi Er Lang Shen ( ). Pada saat itu Ia berumur 26 tahun.

Setelah kerajaan Sui runtuh, Ia menghilang tidak tentu rimbanya. Pada suatu ketika Sungai Jia Zhou kembali meluap, di antara halimun dan kabut yang menyelimuti daerah itu, terlihat seorang pemuda menunggang kuda putih, diiringi beberapa pengawal, membawa anjing dan burung elang, lewat di atas sungai itu. Itulah Zhao Yu yang turun dari langit.

Untuk mengenang jasa-jasanya penduduk mendirikan klenteng di Guan-kou dan menyebutnya Er Lang dari Guan-kou. Oleh Kaisar Zheng-zong dari dinasti Song, Ia diberi gelar Qing Yuan Miao Dao Zhen Jun (Ceng Goan Biau To Cin Kun) atau malaikat berkesusilaan bagus dari sumber yang jernih.

Hari besarnya diperingati pada tanggal 28 bulan 8 Imlek.

Er Lang Shen ( ) banyak dipuja di Propinsi Sichuan. Beberapa klenteng besar yang didirikan khusus untuknya terdapat di Chengdu yaitu Er Lang Miao, di Guan Xian dengan nama Guan Kou Miao, di Baoning, Ya-an dan beberapa tempat lain dengan nama Er Lang Miao. Kecuali Sichuan, Propinsi Hunan juga memiliki beberapa klenteng Er Lang yang cukup kuno.

Er Lang Shen ( ) ditampilkan sebagai seorang pemuda tampan bermata tiga, memakai jubah keemasan, membawa tombak bermata tiga, diikuti seekor anjing, kadang-kadang ditambah dengan seekor elang.

Dia dianggap sebagai Dewa Pelindung Kota-Kota di tepi sungai dan sering ditampilkan bersama Maha Dewa Tai Shang Lao Jun ( ) sebagai pengawal.

Bagi kita umat Tao (), Er Lang Shen ( ) mempunyai kesaktian yang luar biasa untuk menghadapi roh atau setan yang jahat.
 Jiu Tian Xuan Nu

Penulisan lain: Ciu Thian Sian Nie

Seperti yang sudah umat TAO ketahui, Jiu Tian Xuan Nu ( ) merupakan salah satu Dewi Besar TAO. Jiu Tian Xuan Nu ( ) adalah Dewi yang sering membantu pahlawan-pahlawan.

Konon, cerita pada jaman raja satria Huang Ti yang pernah mengajarkan rakyat menanam palawija.

Sebelum Huang Ti menyatukan negara, Beliau pernah perang dasyat melawan Je Yu. Je Yu itu adalah sebangsa hewan yang aneh, badannya merupakan binatang tapi dia memakai bahasa manusia, juga makan batu dan pasir untuk hidup. Je Yu ini biasa disebut badan kuningan kepala besi.

Pada waktu perang di daerah Juk Luk, Je Yu ini membuat kabut besar yang menyebabkan tentara-tentara Huang Ti menjadi kehilangan arah. Tetapi untungnya para anak buah itu menciptakan kereta kompas. Dengan kereta tersebut, mereka baru bisa lolos dari kepungan kabut tadi.

Sedang pusing dengan taktik perang, malamnya Huang Ti bermimpi bertemu dengan Dewi SI WANG MU dan berkata padanya: "Saya akan mengirimkan utusan untuk membantu kamu, kamu akan menang perang". Lalu Huang Ti membuat altar dan berdoa / sembahyang tiga hari tiga malam. Hasilnya, nampaklah Jiu Tian Xuan Nu ( ), memberinya Kitab Suci, Pusaka, Buku Perang dan lain-lainnya; hingga Huang Ti dapat mengalahkan Je Yu dan dapat menyatukan negara.

Waktu itu, yang Huang Ti dapatkan adalah Buku Suci HUANG TI YIN FU CING yang dihargai oleh generasi selanjutnya.

Konon, Jiu Tian Xuan Nu ( ) pernah mambantu Sung Ciang.

Sung Ciang ini merupakan Ketua daerah Liang San Be yang sering membantu orang-orang miskin yang kekurangan.

Dalam cerita buku "SUI HU JUAN", pada waktu Sung Ciang dalam perjalanan menuju Liang San Be, dia dikejar-kejar oleh musuh. Lalu dia bersembunyi di dalam sebuah kuil, ternyata dia diketahui oleh musuhnya, kelihatan maut sudah menunggu. Namun, pada saat detik-detik bahaya, di belakang altar dalam kuil tersebut timbul gumpalan awan hitam dan meniupkan seuntai angin keras yang dingin. Musuh yang mengejar ketakutan melihat keadaan aneh mendadak itu dan lari tunggang langgang.

Tidak lama kemudian, tampak dua anak perempuan berbaju hijau di hadapan Sung Ciang dan mengajaknya pergi untuk menemui Seorang Dewi. Dewi tersebut adalah Jiu Tian Xuan Nu ( ). Kemudian, Sung Ciang diajak makan kurma dari DIAN dan minum arak yang harum. Jiu Tian Xuan Nu ( ) juga berkata padanya: "Saya akan memberitahu kamu tiga jilid Buku Langit, kamu harus bisa menjalankan TAO dengan baik, jadi orang harus jujur, setia kawan, setia pada negara, yang jelek dan yang sesat dikikis semua dan dikembalikan pada kebenaran". Dewi Jiu Tian Xuan Nu ( ) juga berpesan bahwa buku-buku itu tidak boleh diperlihatkan pada orang lain, sesudah mantap, bakarlah buku-buku tersebut. Dewi juga menurunkan empat kata-kata langit yang cocok menjadi ramalan hidup Sung Ciang di kemudian hari.

Sesudah kejadian itu, Sung Ciang masih pernah bertemu lagi dengan Dewi Jiu Tian Xuan Nu ( ), yaitu pada waktu dia jadi Jendral Dinasti Sung yang sedang perang sengit dengan tentara-tentara negeri Liaw. Dewi Jiu Tian Xuan Nu ( ) mangajarkan tehnik perang yang kongkrit.

Dewi Jiu Tian Xuan Nu ( ) selalu mengulurkan tangan waktu raja kesatria dan pahlawan-pahlawan sedang mengalami kesulitan, sehingga boleh dikata sebagai "DEWI MEMBANTU".

Selain itu Dewi Jiu Tian Xuan Nu ( ) juga mengajarkan cara-cara perang yang kongkrit. Oleh karena itu, ada orang yang menganggap Dewi Jiu Tian Xuan Nu ( ) sebagai "DEWI PERANG".
 Lu Ban Gong


Lu Ban Gong [Law Pan Kong], yang kadang dikenal sebagai Qiao Sheng Xian Shi (Guru Besar Pertukangan), hidup pada masa Musim Semi dan Musim Gugur di negara Lu.

Lu Ban Gong ( ) adalah seorang tukang yang mahir. Kemampuan banyak digunakan untuk membangun tempat-tempat yang mengagumkan. Meskipun begitu, Lu Ban Gong ( ) bukanlah orang kaya, dia hidup di rumah yang sangat sederhana.

Orang awam mungkin menganggap bahwa dengan ketrampilan yang ada, Lu Ban Gong ( ) dapat memperoleh kekayaan dengan mudah. Namun bagi dirinya, pengabdian kepada dunia pertukangan lebih memiliki peran daripada sekedar kekayaan.

Dia juga menemukan berbagai peralatan pertukangan, seperti gergaji, kapak, gerinda, dan bor yang banyak dipakai hingga sekarang.

Suatu ketika saat sedang bekerja, kakinya terluka oleh sejenis rumput. Setelah diperhatikan baik-baik, rumput itu ternyata bergerigi tajam. Dari titik itulah dia mendapatkan ide untuk membuat gergaji.

Berbagai karya besar dihasilkan, seperti pahatan burung bangau di puncak Gunung Tianmu, pahatan kura-kura darat dari batu di Danau Yan di daerah Timur Laut Tiongkok, dan elang kayu di Propinsi Ganshu. Bangunan-bangunan indah, jembatan megah dan banyak karya besar lainnya lahir dari tangan Lu Ban Gong ( ).

Kisah mengenai Lu Ban Gong ( ) diceritakan dari mulut ke mulut dan dari masa ke masa hingga saat ini.

Lu Ban Gong ( ) mengabdikan seluruh hidupnya dalam dunia pertukangan, dan meninggalkan berbagai penemuan serta ciptaannya bagi generasi berikutnya.
 Tai Shang Lao Jun Zhen Jing


Kitab Suci Tai Shang Lao Jun
[Kitab Suci Thay Sang Lauw Cin]

# Sang Dewa tertua pertama. Disebut-sebut Thay Sang Lauw Cin namanya.
Berkali-kali turun ke dunia. Menciptakan Tao yang jujur menjadi aliran utama.

# Mula-mula beliau menjadi Ban Ku She si pembuka dunia, Kemudian menjadi Hwang Tee raja ksatria. Kemudian menjadi professor Lau Tze ahli filsafat. Seterusnya makmur dan berkembanglah Tao dimana-mana.

# Tao adalah Tao yang tertinggi. Agung adalah yang teragung diagungi.
Penolong manusia dan penyelamat duniawi. Semua aliran layak menjunjung tinggi.

# Setiap manusia memakai Tao (aturan-aturan) sehari-hari. Banyak terdapat ilmu pengetahuan yang tinggi ditengah-tengah yang berarti. Dewa-Dewa dan Budha-Budha adalah satu inti. Karena dapat Tao (jasa-jasa) manusia menghormati.

# Para guru besar mementingkan keberadaban dan kebudian.
Budi pekerti dengan Tao erat bergabungan. Asal Yin Yang timbul dari Wu Cik (out of which) luar bilangan. Wu Cik adalah sama dengan Thay Cik (the absolute) tak terbataskan.

#Thay Cik (the absolute) adalah permulaan langit bumi belaka.
Abstrak kongkrit saling jelma menjelma.
Tumbuh musnah hanya mengikuti kodrat alam dan spirit yang tak nyata (skilful contrivance). Keseluruhan menjadi tak ada batasnya.

# Tombak dan tameng adalah lawan.
Semua jenis benda dapat disatukan.
Diam mencapai titik terakhir timbul gerakan-gerakan.
Gerak diam adalah prinsip Yin Yang.

# Teori ilmiah sering berselisih berlawanan.
Dapatlah dibahas dengan teori Yin Yang.
Kekuatan (power) Tao tak ada taranya.
Sehatkan badan berdasarkan cara keDewaan (Divine art).

# Berkesempatan belajar cara latihan keDewaan (Divine art).
Anggota badan oleh Dewa-Dewa digerak-gerakkan.
Darah mengalir teratur dalam saluran-saluran.
Lama berlatih semua lancar tak ada yang tersumbatkan.

# Tiap manusia dapat mempelajarinya.
Kata-kata murni (Cen Yen) daya tarik berguna.
Dewa-Dewa datang membantu anda.
Ide belas kasih harus tetap berada.

# Para Dewa dan Budha mendapat Tao-nya (tingkatannya).
Thay Sang Lauw Cin yang meneliti / menilai jasa-jasa.
Kekuatan Dewa-Dewa tak ada batasnya.
Mohon kepada Dewa dapatlah makmur jaya.

# Siu Tao (bertapa / mendekati Dewa) langkah pertama.
Belajarlah dulu cara pembukaannya (Tao Ying Suk).
Daya gaib menguatkan urat-urat didalam tubuh manusia.
Setelah badan sehat baru memuncak kepernapasannya (breathing exercise).

# Kata-kata dan kelakuan-kelakuan mengikuti kebenaran.
Dunia sebetulnya kepunyaan sesama.
Hindarkanlah bertengkar serahkanlah segalanya kepada Yang Kuasa.
Dunia sudah lama damai dan makmur jaya.

# Semua manusia harus belajar Tao (cara mencari dan mendekati Dewa).
Mentaati hukum dan peraturan-peraturan akan timbul dalam sanubari anda.
Hemat dan giat bekerja utamakan rumah tangga.
Berfoya-foya tidak aturan jasa tidak akan ada.

# Linglung malas menggunakan pikiran.
Bagaimana dapat belas kasih oleh Dewa-Dewa.
Dewa-Dewa semuanya adalah agung mulia.
Semua bergabung dalam lingkaran Thay Cik (absolute) bermula.

# Diluar langit-langit ke tiga puluh tiga.
Megah perkasa sebagai istana-istana mulia (Tao Sway Kung).
Maha Dewa Thay Sang Lauw Cin menempatinya.
Menunjukkan kekuatan Dewa-Dewa (power of divine) yang tiada tara.

# Siu Tao (cari jalan mendekati Dewa), yang utama adalah cara pembukaannya (Tao Ying Suk).
Latihan-latihan dibagi jenis dalam dan luar.
Bersemedi datangkan ketentraman dan kecerdasan.
Seluruh badan dikelilingi kekuatan yang tak terbayang (constitution).

# Spiritual dan material.
Dua-duanya sama dipentingkan.
Mengerti diri juga lainnya dimengertikan.
Hingga menginjak taraf yang tinggi puncak lapisan.

# Siu Tao (menemukan jalan yang benar) harus mengerti apa yang baik dan dijalani.
Ketemu jalan berarti peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang berlaku sudah dimengerti.
Mengerti itulah pedoman semula Tao.
Belajar Tao barulah tidak sesat lagi.

# Abstrak sebetulnya adalah kongkrit yang merupakan abstrak saja.
Kehidupan sehari-hari harus mengikuti yang lazim dan biasa.
Abstrak-abstrak menjelma-jelma akan menjadi kongkrit juga.
Tidak berbuat berarti tidak tidak berbuat artinya.

# Tao menguasai kongkrit dan abstrak.
Kaum cerdas dipandang seperti kebodoh-bodohan.
Kekuatan (Power) Tao tidak terbataskan.
Tao yang jujur mengandung kebenaran-kebenaran.

# Roh-roh jahat tak akan berani terhadap kejujuran.
Menghadap Tao yang tinggi roh-roh jahat jadi berantakan.
Tao yang jujur diumpamakan lautan-lautan.
Semua aliran mengalir ke laut akhir tujuan.

# Sedikit sajalah persoalkan nama dan benda.
Yang penting adalah keuletan dan keyakinan.
Menyendiri akan banyak derita dan sengsara.
Hidup begitu terang tak normal juga.

# Mengerti ajaran Tao keluarlah dari kebingungan.
Betul tetap betul jangan disalah-salahkan.
Belajar Tao tak ada simpang jalannya.
Kemantapan hatilah yang menjadi pegangan.

# Derita sakit disertai sengsara.
Harus cari dokter dan mohon kepada Dewa-Dewa.
Kebodohan hingga menelan abu Yu Sua (Siang Hwe).
Tak luput jadi tawaan belaka.

# Mohon kepada Maha Dewa untuk mengusir roh-roh jahat.
Derita sakit haruslah memakai obat.
Takdir itu ternyata memang ada.
Budi hati dapat sedikit merubah.

# Menurut jasa-jasa anda dapat merubah rejeki.
Timbul karena hati wajah berseri-seri.
Asalnya bukan turun-temurun kedudukan atau pangkat tinggi.
Pikiran jujur dan baik budi selalu terpendam dalam hati.

# Tak satupun benda yang tak mengandung Yin Yang (dualisme).
Sian Li (abstruse principles / arti mendalam) adalah Philosophy.
Maksud keDewaan dan manusianya menjadi satu.
KeDewaan (theology) merangkap ilmu pengetahuan (science).

# Kera besar (Anthropoid Apes) kuno kebetulan ada yang pandai luar biasa.
Lama mencari jalan dapat petunjuk Dewa-Dewa.
Muncullah manusia pertama menjalani Tao sesama.
Berevolusi terus hingga jaman terakhir mengikuti langkah-langkah.

# Pelihara badan tak ada rahasianya.
Penghidupan terus maju terus bergairah.
Siu Tao bahagia laksana Dewa-Dewa.
Kembalilah cepat-cepat yang tersesat dijalan-jalan bahaya.

# Tao adalah sesuatu yang nyata (kongkrit).
Dikatakan abstrak sukar untuk menerimanya.
Tiap manusia menghendaki kaya raya.
Siu Tao akan lepas dari jurang sengsara.

# Siu Tao tak mengerti apa sebenarnya Tao.
Seumur hidup pun akan nihil belaka.
Dimanakah Dewa-Dewa berada?
Antara jarak tiga meter diatas kepala.

# Anda dapat memohon datangnya Dewa-Dewa.
Dapat mengupas kesulitan-kesulitan yang ada.
Rejeki-rejeki Maha Kuasa yang memberikannya.
Mengapa harus bersembunyi di dalam gua-gua.

# Siu Tao tidak memelihara badannya.
Dewa-Dewa pun melihat jadi kecewa.
Didalam gua-gua tidak bersembunyi Dewa-Dewa.
Selalu berbudi akan tinggi jasa.

# Siu Tao mencapai tingkat tinggi dapat kegaiban.
Sesuatu keanehan atau keunggulan akan luar biasa.
Mencari harta benda tempuhlah jalan kebenaran.
Belajar Tao utamakan kebaktian.

# Tingkatkanlah kesehatan jasmani dan rohani.
Dua-duanya prihatin panjang usia terjadi.
Mohon (sembahyang) kepada Maha Dewa maju selangkah lagi.
Siu Tao patut ada kejodohan (affinity) mendekat lebih-lebih.

# Dewa - Dewa dan Budha - Budha rupawan semua.
Haruslah diteliti keagungan dan kemuliaannya.
Menggambar melukis jadi jelek rupa tak sedap dipandang mata.
Berarti menodai tentu akan berdosa.

# Anak cucu berbuat kebajikan dan berjasa.
Nenek moyang selalu bergembira.
Foya-foya membakar rumah-rumahan kertas (Ling Wuk) apa gunanya.
Karena bodoh dan tak ada pengertian belaka.

# Kesabaran dan kelakuan baik merupakan kebajikan (amal bakti).
Telitilah segala secermat-cermatnya.
Tunduk kepada orang tua haruslah dimasa muda.
Bibit baik adalah sumber baik juga.

# Belajar Tao dibagi dalam tahap ke tahap.
Carilah guru mempelajari cara pembukaannya (Tao Ying Suk).
Tak mendapatkan guru menempuh jalan kedua.
Cara semedi dipakai terpaksa.

# Rohani, jasmani dan pikiran tiga bersatu.
Pendidik penggerak berpadu.
Sukma asli mendapatkan tenaga gaib gayu.
Roh jahat tak bisa menembus selubung baju.

# Hidup itu adalah bersaingan.
Ketentuan-ketentuan dan kuasa (destiny) tiap hari membaru.
Tidaklah negatif bila Siu Tao (belajar ilmu Tao).
Negatif akan menyesatkan rakyat seluruh.


# Siu Tao mempelajari kekuatan gaib (divine art).
Menolong manusia keluar dari kesesatan.
Menghina merusak mendatangkan malapetaka.
Sembarang bicara adalah setengah gila.

# Kekuatan gaib (divine art) diumpamakan kekuatan listrik.
Mata biasa tak dapat memandang wujudnya.
Membuktikan cukup dengan cara pembukaannya (Tao Ying Suk).
Semua manusia mempunyai hasrat belajar ilmu kedewaan. (divine art Tao).

# Dapat mengetahui kejadian-kejadian di dunia.
Dewa-Dewa tak perlu memperhatikan bentuk kongkrit dirinya.
Siu Tao belajar kekuatan Tao Fak (divine power).
Rejeki akan mengungguli sesama.

# Di sorga ada peraturan-peraturan sorga.
Manusia ada takdirnya.
Ketemu cara mendekati Dewa-Dewa (Tao).
Nasib yang keruh dapat jernih juga.

# Kaya raya seperti sekuntum bunga.
Angin salju tak mengerti apa-apa.
Bunga mekar ada waktu-waktunya.
Belajar Tao, mohon kepada Dewa-Dewa barulah akan selamat selamanya.

# Kehidupan seperti biasa saja.
Giatlah jadi manusia yang berguna.
Rumah susun tinggi mula-mula dari dataran juga.
Siu Tao dapat menenangkan pikiran anda.

# Kelenteng-kelenteng adalah pos-pos jalan Dewa-Dewa.
Harus singkat dan hikmat upacara-upacara.
Memohon berdasarkan kemantapan hati anda.
Sedikit barang sembahyangnya juga berfaedah.

# Adu kaya memakai Hio dan lilin-lilin besar segajah.
Lebih baik berbuatlah amal kepada yang menderita.
Sembahyang menyajikan ikan dan daging diatas meja.
Tanda tidak mengerti apa kehendak para Dewa dan Budha.

# Si penjaga kelenteng harus mengerti Tao (aturan-aturan / pengertian tentang Dewa-Dewa).
Jangan sembarang bicara menyesatkan tamu-tamunya.
Apalagi memakai nama Dewa-Dewa.
Berbicara tanpa pikir adalah ngawur belaka.

# Ide budi beramal selalu dalam hati.
Para Dewa dan Budha tentu menyenangi.
Manusia mengejar kedudukan, umur panjang dan rejeki.
Maha Dewalah yang paling welas asih.

# Siu Tao mengikuti peraturan-peraturan yang layak sehari-hari.
Rintangan akan berkurang untuk semua pekerjaan diri sendiri.
Dapat mengetahui tiga kehidupan lampau, sekarang dan kemudian hari.
Merubah nasibpun jalannya akan diberi.

# Diatas landasan yang kongkrit Tao berdiri.
Ide kosong jauh dari arti inti sari.
Arti yang mendalam bukannya sukar dimengerti.
Salah menerima (salah tangkap) adalah kurang rendah hati.

# Belajar Tao berguna untuk semua manusia.
Sukma-sukma asli akan naik ke sorga.
Dewa-Dewa yang menilai jasa dan dosa.
Jasanya yang tinggi ditingkatkan jadi Dewa juga.

# Tak berarti lagi berbuat yang aneh-aneh (to release soul from suffering) untuk para almarhum dan almarhumah.
Jasa-jasa semuanya dilihat masa hidupnya.
Nenek moyang yang pernah Siu Tao ada yang jadi Dewa.
Anak cucu akan banyak rejekinya.

# Anak cucu berbuat budi dan amal.
Jasa-jasa melebihi bertobat-tobat dan menyesal-nyesal.
Nenek moyang dapat meringankan kesalahan.
Jasanya bertambah akan dapat meningkat menjadi Dewa berawal.

# Yang menentukan tingkat Dewa-Dewa adalah Yi Hwang Ta Tee (Thian Kung) Dewa Agung.
Dewa tetaplah Dewa, Agung tetaplah Agung.
Ada lagi Budha-Budha dan Busak-Busak.
Mendapat Tao (tingkatan) juga dapat duduk di istana sorga yang bergabung.

# Menyebar luaskan ajaran-ajaran Tao.
Sekeluarga akan selamat dan banyak rejeki.
Soal panjang pendek usia yang dikehendaki.
Siu Tao lah dapat merubah menurut kondisi.

# Usia panjang Dewa Usia (Sou Sing Kung) yang memberi.
Semua karena sehat rohani dan jasmani.
Menjalani Tao rejeki dan kedudukan menyertai.
Sukma asli akan hidup abadi (eternal life).

# Sandang pangan dengan pondokan dan jalan.
Tak dapat dihindari dalam keduniawian.
Rajin dan hemat pokok penghidupan.
Berkembang biak anak cucu baik-baik seluruh turunan.

# Akan subur sabar keluarga.
Jahat dan kejam sukar bekerja.
Menolong orang dahulukan menolong dirinya.
Menyebar Tao adalah taman bahagia.

# Tao bukan memandang matahari dan rembulan.
Matahari dan rembulan hanya benda alam saja.
Dalam tubuh manusia bersembunyi sukma-sukma.
Bagaikan manusia menghuni rumah-rumah.

# Badan diumpamakan rumah.
Sedikit demi sedikit tambal dan jagalah supaya tetap kuat.
Tiap hari latihan gerak badan Tao (divine art).
Mencapai usia lanjut bukan apa-apa.

# Pembawaan dapat mendengar suara Dewa-Dewa.
Lingkaran kecil melingkar menjadi besar.
Pembawaan mata gaib penglihatan.
Ribuan kilometer tak ada halangan.

# Semua pekerjaan diayomi Dewa-Dewa.
Penghidupan tak akan sengsara.
Hidup manusia ada jalan yang lapang juga.
Siu Tao dapat memperpanjang usia.

# Jaga kesehatan bagian dalam diutamakan.
Kelebihan gizi dan lemak mudah menimbulkan penyakit jadi siksaan.
Hari ulang tahun masing-masing tak makan daging-dagingan.
Tahun ke tahun dilalui dengan gampang.

# Makan minum secara sederhana.
Lebih baik daripada banyak daging dan lemaknya.
Perhatikan vitamin-vitamin dan mineral-mineral secukupnya.
Tahan uji tahan lama daya bekerja.

# Perumahan harus dalam keadaan bersih.
Sinar matahari dan hawa sejuk harus mencukupi.
Tidur malam hanya beberapa meter persegi.
Kerja dan istirahat janganlah melampaui batas aturlah sendiri.

# Hati-hatilah berbicara dan cerdaslah berpikir.
Tiap-tiap pekerjaan sudah dibagi mendetil.
Kesalahan sedikitpun akan luas akibatnya tak berakhir.
Bersainglah cepat-cepat jangan terlambat dan terkucil.

# Sopan santun (gentle) tak bergara-gara.
Dengan sungguh-sungguh giat bekerja saja.
Hati mantap mendapatkan lindungan Dewa-Dewa.
Tak terletak pada banyaknya Hio atau lilin-lilinnya.

# Siu Tao (semedi) menenangkan hati sanubari anda.
Gerak diam jangan terlalu kelewat batasnya.
Mengerti Tao (peraturan-peraturan) digemari sesama.
Cepat-cepat jangan ragu hingga lewat saatnya.

# Ajaib sungguh cara latih badan Thay Sang Lauw Cin Maha Dewa.
Menyehatkan badan sungguh gaib hasil-hasilnya.
Luar biasa mengherankan dunia.
Badan sehat menambah sehat pikiran pula.

# Keuletan dapat mengalahkan kekerasan.
Ulet dan keras harus diseimbangkan.
Keras barulah memakai kekerasan.
Menghadapi segala haruslah memakai akal pikiran.

# Betul adalah tetap betul.
Salah adalah tetap salah.
Bandel dimusuhkan bandel pula.
Aturan dihadapi aturan saja.

# Membanggakan diri sering datangkan rugi.
Merendahkan diri tak hilang apapun sejari.
Kalau pandai jangan menonjol-nonjolkan diri.
Yang pandai ilmu tinggi biasanya seperti terendah tak kuat berdiri.

# Seperti roda-roda berputar semuanya dalam dunia ini.
Penuh-penuh, kosong-kosong, teratur sendiri-sendiri.
Yang tak beraturan lebih rendah daripada yang tinggi.
Yang ngawur akan layu lenyap tak tahan uji.

# Kekerasan adalah tetap kekerasan (kekuasaan).
Peraturan adalah tetap peraturan.
Peraturan didampingi kekuasaan.
Cerdaslah yang paling ampuh menguasai peranan.

# Harus duduk bersila waktu berlatihnya.
Belajar Tao mumpung masih muda belia.
Tiap hari latihan divine art Dewa-Dewa (Thay Shang Sen Kung).
Tak berpenyakit ringan badan anda.

# Hidup selalu banyak rintangan.
Dapat berpikir adalah bawaan manusia.
Bebas duniawi berarti sudah habis nyawanya.
Mengerti Tao buah pikiran terbuka.

# Banyak rintangan usaha-usaha.
Buanglah kecemasan dan nyanyikanlah lagu-lagu Tao saja.
Belajar hingga dapat berdialog dengan Dewa-Dewa.
Dewa-Dewa tentu lebih perhatian padanya.

# Hidup dikarenakan bernyawa.
Latihan Tao (divine art) untuk lindungi anda.
Sehatkanlah badan dan sayangilah nyawa.
Manusia harus memperhatikan rohaniah dan jasmaniah.

# Sehari tiga kali santapan hanya karena ingin kenyang saja.
Pesiar melihat-lihat tambah pengetahuan baru yang berguna.
Mode baju karena jaman dapat dirombak ubah.
Asal masuk diakal boleh saja diperbaharui.

# Sebatang Hio lambang selamat jaya.
Menghadap Dewa sujudlah diatas kepala.
Menghadap lainnya didepan dahi dan didepan dada.
Dua tangan sungkem didepan atau satu saja terang cara-caranya.
Tian Shang Sheng Mu


Tian Shang Sheng Mu [Thian Sang Sen Mu / Thian Siang Sing Bo] dikenal dengan sebutan Ma Zu [Mak Co] atau Tian Hou. Tian Shang Sheng Mu adalah seorang wanita yang pernah hidup di daerah Fujian, tepatnya di Pulau Mei Zhou [Meizhou] dekat Pu Tian. Nama aslinya Lin Mo Niang [Lim Bik Nio]. Ayahnya Lin Yuan pernah menduduki jabatan sebagai pengurus di Propinsi Fujian.



Karena kehidupan yang sederhana dan gemar berbuat kebaikan, orang menyebut diriNya sebagai Lin San Ren, yang berarti Lin orang yang baik. Lin Mo Niang dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian-long pertama, tanggal 23 bulan 3 Imlek, tahun A.D. 960.

Selama sebulan sejak dilahirkan, Ia tidak pernah menangis sama sekali. Sebab itulah sang ayah memberi nama Mo Niang kepadaNya. Huruf "mo" berarti diam.

Sejak kecil Lin Mo Niang telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Pada usia 7 tahun Ia telah masuk sekolah dan semua pelajaran yang telah diterima tidak pernah dilupakan.

Kecuali belajar, Ia juga tekun sekali bersembahyang. Ia sangat berbakti pada orang tua dan suka menolong tetangga-tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Sebab itu penduduk desa sangat menghormatiNya.

Kehidupan di tepi laut menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tidak gentar menghadapi dahsyatnya gelombang dan angin taufan yang menghantui para pelaut. Selain itu, Ia dapat juga menyembuhkan orang sakit. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan orang-orang di desa menyebutNya sebagai ling nu (gadis mukjijat), long nu (gadis naga) dan shen gu (bibi yang sakti).

Dalam legenda diceritakan bahwa pada usia 23 tahun, Ia berhasil menaklukkan 2 siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Kedua siluman itu adalah Qian Li Yan yang dapat melihat sejauh ribuan li, dan Sun Feng Er yang dapat mendengar ribuan pal. Setelah dikalahkan akhirnya mereka menjadi pengawalNya.

Pada usia 28 tahun, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Yong-xi ke-4, tanggal 16 bulan 2 Imlek, bersama sang ayah, Ia berlayar. Tapi di tengah jalan perahunya dihantam gelombang dan badai lalu tenggelam. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri, Ia berusaha menolong sang ayah.

Tapi akhirnya keduanya tewas bersama-sama. Sebuah versi lain mengatakan bahwa Ia tidak tewas tetapi "diangkat ke langit" bersama raganya. Dikisahkan bahwa pagi itu, penduduk Meizhou melihat bahwa awan warna-warni sedang menyelimuti pulaunya. Di angkasa terdengar musik yang sangat merdu dan terlihat Lin Mo Niang perlahan-lahan naik ke angkasa untuk dinobatkan menjadi Dewi.

Penduduk dengan tulus hati lalu mendirikan sebuah kelenteng di tempat Lin Mo Niang diangkat ke surga setahun kemudian. Kelenteng yang didirikan di Meizhou ini merupakan kelenteng Tian Shang Sheng Mu ( ) yang pertama di Tiongkok.

Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim dari Propinsi Fujian sangat berkembang. Tapi para pelaut sadar bahwa hidup di tengah lautan selalu penuh dengan mara-bahaya yang bisa mengancam setiap saat. Untuk memohon perlindungan dan keselamatan, mereka menganggap Lin Mo Niang sebagai Dewi Pelindung Pelaut. Dan kemana-mana patungNya selalu dibawa serta.

Keselamatan mereka dalam pelayaran dianggap anugerah dan perlindungan dari Dewi ini. Dan kisah-kisah tentang pemunculan sang Dewi dalam memberi pertolongan pada para pelaut mulai satu-persatu tersebar.

Pada tahun 1122 M, Kaisar Song Hui Zong memerintahkan seorang menteri bernama Lu Yun Di untuk menjadi duta ke negeri Gaoli (Korea sekarang). Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai. Dari 8 buah kapal yang ada, 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang ditumpangi oleh Lu Yun Di saja yang terselamatkan. Sang Duta heran bukan main.

Ia bertanya kepada para anak buahnya, siapakah Dewa yang menyelamatkan mereka. Di antara pengiringnya itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian dan biasa bersembahyang kepada Dewi Lin Mo Niang ini. Ia lalu mengatakan pada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi Lin Mo Niang yang berasal dari Pulau Meizhou. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini pada Kaisar Song Hui Zong.

Sebagai rasa penghormatan sang Kaisar memberi gelar "Sun Ji Fu Ren" kepada Lin Mo Niang dan sebuah papan bertuliskan "Sun-ji" yang berarti "pertolongan yang sangat dibutuhkan", hasil tulisan tangan sang Kaisar sendiri lalu dipasang di kelenteng di Meizhou.

Sejak dari masa Dinasti Song sampai Qing, tidak kurang dari 28 gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh kerajaan kepada Lin Mo Niang. Gelar-gelar itu antara lain adalah Fu Ren (Nyonya Agung), Tian Hou atau Tian Fei (Permaisuri Surgawi), Tian Shang Sheng Mu (Bunda Suci dari Langit) dan Ma Zu Po (Bunda Ma Zu).

Sejak jaman Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok timur yang memanjang dari utara ke selatan seperti Dandong, Yantai, Qinhuangdao, Tianjin, Shanghai, Ningpo, Hangzhou, Fuzhou, Xiamen, Guangzhou, Macao dan lain-lain bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Pelaut ini.

Tian Shang Sheng Mu ( ) sudah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Meizhou saja. Sudah menjadi kebiasaan pada saat itu, sebelum pelayaran dimulai akan diadakan sembahyang besar untuk memohon perlindunganNya. Pada tiap-tiap kapal pun selalu disediakan ruang pemujaan untuk patungNya.

Gelar "Tian Fei" dianugerahkan kepada Tian Shang Sheng Mu ( ) oleh Kaisar Yong Le.

Kira-kira pada masa Dinasti Ming, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk Propinsi Fujian yang pergi merantau, pemujaan terhadap Tian Shang Sheng Mu memasuki Pulau Taiwan. Kelenteng tertua Tian Shang Sheng Mu ( ) di Taiwan adalah terdapat di kota Magong, Kepulauan Penghu.

Dewasa ini di Taiwan terdapat tidak kurang dari 800 buah kelenteng Tian Shang Sheng Mu. Dan hampir dua per tiga penduduknya memuja arcaNya di dalam rumah. Kelenteng Tian Shang Sheng Mu ( ) yang paling ramai dikunjungi orang dan mungkin terbesar di Taiwan adalah di Beigang. Patung yang dipuja di sini berasal dari Meizhou yang dibawa ke sana pada tahun ke-33 pemerintahan Kaisar Kang Xi.

Gelar kehormatan Tian Hou adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan.

Tiap tahun bertepatan dengan hari kelahirannya yang jatuh pada tanggal 23 bulan 3 Imlek, ratusan ribu warga Taiwan membanjiri kota ini untuk bersembahyang.

Tempat sembahyang Tian Shang Sheng Mu ( ), bersamaan dengan menyebarnya para perantau Tionghoa ke berbagai tempat, juga bermunculan di banyak negeri. Di negeri seperti Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Indonesia, Philipina dan lain-lain; dimana banyak bermukim para Tionghoa perantau banyak dijumpai kelenteng dan patung Tian Shang Sheng Mu ( ).

Di Jepang, pemujaan Tian Shang Sheng Mu ( ) diperkirakan mulai ada pada akhir Dinasti Ming. Di salah satu kota kecil di Jepang yang dalam bahasa Tionghoa disebut Sui-hu, Tian Shang Sheng Mu ( ) telah dimasukkan dalam jajaran Dewata Jepang dan dipuja di kuil utama kota itu. Jepang terdapat tidak kurang dari 100 buah kuil Tian Shang Sheng Mu ( ).

Pada tanggal 31 Oktober 1987, bertepatan dengan hari wafatnya Tian Shang Sheng Mu ( ) yang ke 1000, dilangsungkan upacara peringatan besar-besaran di Mei-zhou.

Di antara khalayak yang berbondong-bondong itu terdapat beberapa ratus warga Taiwan yang mengkhususkan diri untuk hadir di situ, sekaligus melampiaskan keinginannya untuk mengunjungi dan bersembahyang ke kelenteng leluhur. Banyak di antara mereka yang membawa patung Tian Shang Sheng Mu ( ) dari Taiwan untuk disembahyangkan di sana, dalam upacara yang disebut "Tian Shang Sheng Mu ( ) pulang ke kampung halaman".

Juga tidak sedikit yang membawa pulang patung-patung Tian Shang Sheng Mu (Tian1 Shang4 Sheng4 Mu3) yang disediakan oleh kelenteng Tian Shang Sheng Mu ( ) untuk dipuja di Taiwan. Dalam kesempatan itu juga diadakan seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 60 orang ahli sejarah untuk membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan pemujaan Tian Shang Sheng Mu ( ).

Kemudian diadakan pula upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan patung peringatan untuk Tian Shang Sheng Mu ( ), dan pembukaan selubung untuk miniaturnya, di puncak bukit Mei-feng Shan di tengah pulau itu. Dua belas orang dari wakil-wakil perantau Tionghoa dari luar negeri, Taiwan, Hongkong dan Macao melakukan acara timbun tanah untuk pondasi patung tersebut.

Pada tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun A.D. 1989, bertepatan dengan hari kelahiran Tian Shang Sheng Mu ( ), patung Dewi Pelindung Pelaut yang sangat dihormati itu sudah berdiri tegak di puncak Mei-feng Shan menghadap ke Selat Taiwan.

Mengenai mengapa Tian Shang Sheng Mu ( ) disebut Ma Zu (Ma Couw) atau Ma Zu Po (Ma Couw Po), dalam buku Tian Shang Sheng Mu Jing ( ) atau kitab pujian kepada Tian Shang Sheng Mu disebut seperti ini : "Pada Dinasti Tang ada seorang pendeta suci yang disebut Dao Yi Chan Shi (To It Sian Su), beliau bernama Ma Zu". Sheng Mu yang hidup pada jaman Dinasti Song adalah penitisan dari Ma Zu yang hidup pada jaman Dinasti Tang ini. Hanya kemudian huruf Ma pada nama keluarga pendeta Ma Zu diganti dengan huruf Ma yang berarti ibu, agar sesuai dengan Sheng Mu yang berarti "Ibu yang suci". Dari sinilah sebutan Ma Zu berasal.

Tian Shang Sheng Mu ( ) selalu ditampilkan sebagai dewi yang cantik dan berpakaian kebesaran seorang permaisuri, dan dikawal oleh kedua iblis yang pernah ditaklukkan, yaitu Qian Li Yan (Si Mata Seribu Li) dan Sun Feng Er (Si Kuping Angin Baik).

Qian Li Yan dapat melihat jauh sekali, berkulit hijau kebiru-biruan, mulutnya bertaring, senjatanya tombak. Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, mulutnya juga bertaring, bersenjata kapak bergagang panjang, dan dapat mendengar sampai jauh sekali.
 
 Xuan Tian Shang Di


Xuan Tian Shang Di [Hian Thian Siang Te - Hokkian] adalah salah satu Dewa yang paling populer, wilayah pemujaannya sangat luas, dari Tiongkok utara sampai selatan, Taiwan, Malaysia dan Indonesia.

Pemujaan terhadap Xuan Tian Shang Di ( ) mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakannya, Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di pegunungan Wu Dang Shan (Bu Tong San - Hokkian], di propinsi Hubei, dalam sebuah kelenteng Shang Di Miao.

Berkat perlindungan Shang Di Gong (sebutan populer Xuan Tian Shang Di), Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya. Kemudian berkat bantuan Xuan Tian Shang Di ( ), maka Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongol dan menumbangkan Dinasti Yuan. Ia mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.

Untuk mengenang jasa-jasa Xuan Tian Shang Di ( ) dan berterima kasih atas perlindungannya, ia lalu mendirikan kelenteng pemujaan di ibu kota Nanjing (Nanking) dan di gunung Wu Dang Shan.

Sejak itu Wu Dang Shan menjadi tempat suci bagi penganut Tao. Kelentengnya, dengan patung Xuan Tian Shang Di ( ) juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara. Tiap tahun tanggal 3 bulan 3 Imlek ditetapkan sebagai hari She-jietnya dan tanggal 9 bulan 9 Imlek adalah hari beliau mencapai kesempurnaan dan diadakan upacara sembahyangan besar-besaran pada hari itu.

Sejak itulah pemujaan Shang Di Gong meluas ke seluruh negeri, dan hampir setiap kota besar ada kelenteng yang memujanya.

Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah, dan menjadi pusat pemujaan bersama rakyat dan tentara. Oleh sebab itu, maka kelenteng Shang Di Miao tersebar diberbagai tempat. Diantaranya yang terbesar adalah di Taiwan yang dibangun pada waktu Belanda berkuasa di Taiwan.

Setelah jatuhnya Zheng Cheng Gong, Dinasti Qing yang berkuasa mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebetulnya adalah seorang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan dan mengkikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng aliran Buddha tentang seorang jagal yang telah bertobat lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya dan menjadi pengikut Buddha. Kura-kura dan ular yang diinjak itu dikatakan sebagai usus dan jeroan si jagal.

Pembangunan kelenteng-kelenteng Shang Di Miao sejak itu sangat berkurang. Pada masa Dinasti Wing ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu She Miao di Tainan. Tetapi sebetulnya kaisar-kaisar Qing sangat menghormati Xuan Tian Shang Di ( ), ini terbukti dengan dibangunnya kelenteng pemujaan khusus untuk Shang Di Gong di komplek kota terlarang, yaitu Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian dan satu lagi di Istana Persinggahan di Chengde.

Mengenai riwayat Xuan Tian Shang Di ( ) ini, seorang pengarang yang hidup pada akhir Dinasti Ming, Yu Xiang Tou telah menulis sebuah novel yang bersifat dongeng yang berjudul "Bei You Ji" atau "Catatan Perjalanan Ke Utara".

Adapun ringkasan riwayat Xuan Tian Shang Di ( ) seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut adalah sebagai berikut:

Lahir pada keluarga Liu. Ayahnya Liu Tian Jun, kemudian memberi nama Zhang Sheng yang berarti "Tumbuh Subur". Liu Zhang Sheng tumbuh menjadi anak yang cerdas. Pada usia tiga tahun ia sudah dapat membawakan sajak dan membuat syair.

Kembali Liu Zhang Sheng menitis di dunia, kali ini menjadi seorang putra raja yang bernama Xuan Ming. Karena kegagahannya Xuan Ming akhirnya diangkat menggantikan ayahnya yang wafat dan menjadi raja di negeri itu. Pada suatu hari Miao Le Tian Zun [Biauw Lok Thian Cun - Hokkian] datang dan mendidiknya memahami masalah kedewaan.

Titisan berikutnya adalah sebagai seorang putera raja di negeri Jing Luo Guo [Ceng Lok Kok - Hokkian] yang bernama Xuan Yuan Tai Zi.

Setelah melewati beberapa ujian dalam hidupnya, Xuan Yuan berhasil mencapai kesempurnaan dan menjadi Dewa dengan gelar Xuan Tian Shang Di ( ).

Selanjutnya dikisahkan Xuan Tian Shang Di ( ) turun ke bumi menaklukkan berbagai siluman, antara lain siluman ular dan kura-kura, yang kemudian menjadi pengikutnya. Disamping itu seorang tokoh dunia gelap Zhao Gong Ming [Tio Kong Bing - Hokkian] juga ditaklukkan dan menjadi pengawalnya, sebagai pembawa bendera berwarna hitam.

Kelenteng Xuan Tian Shang Di ( ) yang pertama di Indonesia adalah Kelenteng Welahan, Jawa Tengah. Di Semarang sebagian besar kelenteng ada tempat pemujaan untuknya, sedangkan yang khusus memuja Xuan Tian Shang Di ( ) sebagai tuan rumah adalah Kelenteng Gerajen dan Bugangan.
Ze Hai Zhen Ren


Ze Hai Zhen Ren [Cek Hay Cen Ren] dipuja dibeberapa klenteng di Jawa. Selain di klenteng Cek Hay Kung di Jalan Gurami Tegal, patungnya terdapat pula di klenteng Cin Tek Yen di Jakarta, Pekalongan (Klenteng Pao An Thian), Indramayu dan Semarang.

Khususnya di Semarang, Ze Hai Zhen Ren ( ) secara lazim disebut Guo Liuk Kwan [Kwee Lak Kwa], dipuja di klenteng milik keluarga Guo (Kwee) di Jalan Sebandaran (Klenteng Cek Hay Miaw - Kuil Penenang Samudera).

Guo Liuk Kwan digambarkan sebagai seorang Pejabat Tinggi yang berpakaian ala dinasti Han disertai dua orang pengiringnya. Salah satu dari dua pengiringnya itu, jelas seorang suku Jawa, dilihat dari corak pakaian dan ikat kepalanya.

Dari kisah yang beredar dari mulut ke mulut, disebutkan bahwa Guo Liuk Kwan adalah seorang utusan perdangangan Tiongkok yang datang ke Indonesia untuk melakukan kegiatan perekonomian. Oleh karena itu, ia sering melakukan perjalanan dari kota-kota di pesisir utara Jawa, yang dibantu oleh dua orang asistennya.

Suatu hari, dalam pelayarannya di sekitar pantai Tegal, beliau berhadapan dengan segerombolan bajak laut yang berusaha menaiki perahunya. Dengan wajah tenang, Guo meminta para pembajak bersabar, agar dia diperkenankan mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Guo bersama kedua pegawainya turun ke darat meninggalkan perahunya. Sekonyong-konyong angin bertiup dengan dahsyatnya, dan ombak menggulung lenyap perahu beserta para pembajak yang tidak sempat melarikan diri. Sejak itu Guo beserta kedua pengiringnya lenyap.

Tetapi orang-orang dari beberapa tempat mengaku pernah bertemu dia pada waktu yang bersamaan. Karena hal-hal itulah mereka percaya bahwa Guo sesungguhnya adalah seorang yang sakti. Sebenarnya Guo adalah seorang Tao yang telah mencapai taraf cukup tinggi.

Para peneliti beranggapan bahwa Guo Liuk Kwan mungkin adalah salah satu tokoh dalam pemberontakan melawan VOC pada tahun 1741-1742 yang dikenal dengan sebutan "Perang China". Pasukan Tionghoa dipukul mundur oleh VOC lalu mundur ke Tegal. Dari Tegal mereka terus didesak. Dalam keadaan pasukan yang tercerai berai itulah Guo Liuk Kwan kemudian tidak tentu rimbanya.

Cerita lain mengatakan, bahwa Guo Liuk Kwan sempat tinggal di daerah Tegal, dia membantu rakyat setempat membangun daerah tersebut, dengan mengajarkan cara-cara bertani dan bernelayan. Pada masa tuanya, karena mengingat masa lalunya, beliau ingin mengenang kembali pelayarannya. Maka pada suatu hari ia pergi berlayar secara diam-diam dan kemudian tidak kembali lagi sejak itu.

Karena telah berjasa besar, masyarakat setempat menganggap beliau telah mendapatkan Tao-nya serta mencapai tingkat Cen Ren (Dewa), maka kemudian dibangunlah Cen Ren Miaw di Tegal untuk memuja dan mengenangnya.

Pada tahun 1837 bulan kedua Imlek seluruh bangunan diperbaiki dan direnovasi oleh Kapiten Tan Kun Hway dan sejak itu namanya berubah menjadi Cek Hay Kung. Salah satu klenteng Ze Hai Zhen Ren ( ) juga dibangun di Banjar oleh Tan Se Guan (putra Tan Kun Hway).

Selain itu untuk memperingati saat beliau pergi, setiap tahun dilakukan sebuah upacara untuk mengantar Ze Hai Zhen Ren ( ) ke pantai tempat dia pergi berlayar. Upacara sembahyangan tersebut dilakukan di pesisir pantai dengan menempatkan patung Ze Hai Zhen Ren ( ) menghadap ke arah laut.