Dharma Buddha

Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Selama masa ini, agama ini sementara berkembang, unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya ini, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia. Sejarah agama Buddha juga ditandai dengan perkembangan banyak aliran dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan. Yang utama di antaranya adalah aliran tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana (Bajrayana), yang sejarahnya ditandai dengan masa pasang dan surut.

Kehidupan Buddha


Menurut tradisi Buddha, tokoh historis Buddha Siddharta Gautama dilahirkan dari suku Sakya pada awal masa  Magadha (546-324 SM), di sebuah kota, selatan pegunungan Himalaya yang bernama Lumbini. Sekarang kota ini terletak di Nepal sebelah selatan. Beliau juga dikenal dengan nama Sakyamuni (harafiah: orang bijak dari kaum Sakya").

Setelah kehidupan awalnya yang penuh kemewahan di bawah perlindungan ayahnya, raja Kapilavastu (kemudian hari digabungkan pada kerajaan Magadha), Siddharta melihat kenyataan kehidupan sehari-hari dan menarik kesimpulan bahwa kehidupan nyata, pada hakekatnya adalah kesengsaraan yang tak dapat dihindari. Siddharta kemudian meninggalkan kehidupan mewahnya yang tak ada artinya lalu menjadi seorang pertapa. Kemudian ia berpendapat bahwa bertapa juga tak ada artinya, dan lalu mencari jalan tengah (majhima patipada ?). Jalan tengah ini merupakan sebuah kompromis antara kehidupan berfoya-foya yang terlalu memuaskan hawa nafsu dan kehidupan bertapa yang terlalu menyiksa diri.

Di bawah sebuah pohon bodhi, ia berkaul tidak akan pernah meninggalkan posisinya sampai ia menemukan  Kebenaran. Pada usia 35 tahun, ia mencapai Pencerahan. Pada saat itu ia dikenal sebagai Gautama Buddha, atau hanya "Buddha" saja, sebuah kata Sansekerta yang berarti "ia yang sadar" (dari kata budh+ta).

Untuk 45 tahun selanjutnya, ia menelusuri dataran Gangga di tengah india (daerah mengalirnya sungai Gangga dan anak-anak sungainya), sembari menyebarkan ajarannya kepada sejumlah orang yang berbeda-beda.

Keengganan Buddha untuk mengangkat seorang penerus atau meresmikan ajarannya mengakibatkan munculnya banyak aliran dalam waktu 400 tahun selanjutnya: pertama-tama aliran-aliran mazhab Buddha Nikaya, yang sekarang hanya masih tersisa Theravada, dan kemudian terbentuknya mazhab Mahayana, sebuah gerakan pan-Buddha yang didasarkan pada penerimaan kitab-kitab baru.

Tahap awal agama Buddha


Sebelum disebarkan di bawah perlindungan maharaja Asoka pada abad ke-3 SM, agama Buddha kelihatannya hanya sebuah fenomena kecil saja, dan sejarah peristiwa-peristiwa yang membentuk agama ini tidaklah banyak tercatat. Dua konsili (sidang umum) pembentukan dikatakan pernah terjadi, meski pengetahuan kita akan ini berdasarkan catatan-catatan dari kemudian hari. Konsili-konsili (juga disebut pasamuhan agung) ini berusaha membahas formalisasi doktrin-doktrin Buddhis, dan beberapa perpecahan dalam gerakan Buddha.

Konsili Buddha Pertama (abad ke-5 SM)


Konsili pertama Buddha diadakan tidak lama setelah Buddha wafat di bawah perlindungan raja Ajatasattu dari  Kekaisaran Magadha, dan dikepalai oleh seorang rahib bernama Mahakassapa, di Rajagaha(sekarang disebut Rajgir). Tujuan konsili ini adalah untuk menetapkan kutipan-kutipan Buddha (sutta (Buddha)) dan mengkodifikasikan hukum-hukum monastik (vinaya): Ananda, salah seorang murid utama Buddha dan saudara sepupunya, diundang untuk meresitasikan ajaran-ajaran Buddha, dan Upali, seorang murid lainnya, meresitasikan hukum-hukum vinaya. Ini kemudian menjadi dasar kanon Pali, yang telah menjadi teks rujukan dasar pada seluruh masa sejarah agama Buddha.

Konsili Kedua Buddha (383 SM)


Konsili kedua Buddha diadakan oleh raja Kalasoka di Vaisali, mengikuti konflik-konflik antara mazhab tradisionalis dan gerakan-gerakan yang lebih liberal dan menyebut diri mereka sendiri kaum Mahasanghika.

Mazhab-mazhab tradisional menganggap Buddha adalah seorang manusia biasa yang mencapai pencerahan, yang juga bisa dicapai oleh para bhiksu yang mentaati peraturan monastik dan mempraktekkan ajaran Buddha demi mengatasi samsara dan mencapai arhat. Namun kaum Mahasanghika yang ingin memisahkan diri, menganggap ini terlalu individualistis dan egois. Mereka menganggap bahwa tujuan untuk menjadi arhat tidak cukup, dan menyatakan bahwa tujuan yang sejati adalah mencapai status Buddha penuh, dalam arti membuka jalan paham Mahayana yang kelak muncul. Mereka menjadi pendukung peraturan monastik yang lebih longgar dan lebih menarik bagi sebagian besar kaum rohaniawan dan kaum awam (itulah makanya nama mereka berarti kumpulan "besar" atau "mayoritas").

Konsili ini berakhir dengan penolakan ajaran kaum Mahasanghika. Mereka meninggalkan sidang dan bertahan selama beberapa abad di Indian barat laut dan Asia Tengah menurut prasasti-prasasti Kharoshti yang ditemukan dekat Oxus dan bertarikh abad pertama.

Dakwah Asoka (+/- 260 SM)


Kapital (pucuk pilar) sebuah pilar yang didirikan oleh maharaja Asoka di Sarnath +/- 250 SM.
Kapital (pucuk pilar) sebuah pilar yang didirikan oleh maharaja  Asoka di Sarnath +/- 250  SM.

Maharaja Asoka dari Kekaisaran Maurya (273-232 SM) masuk agama Buddha setelah menaklukkan wilayah Kalingga (sekarang Orissa) di India timur secara berdarah. Karena menyesali perbuatannya yang keji, sang maharaja ini lalu memutuskan untuk meninggalkan kekerasan dan menyebarkan ajaran Buddha dengan membangun stupa-stupa dan pilar-pilar di mana ia menghimbau untuk menghormati segala makhluk hidup dan mengajak orang-orang untuk mentaati Dharma. Asoka juga membangun jalan-jalan dan rumah sakit-rumah sakit di seluruh negeri.

Periode ini menandai penyebaran agama Buddha di luar India. Menurut prasasti dan pilar yang ditinggalkan Asoka (piagam-piagam Asoka), utusan dikirimkan ke pelbagai negara untuk menyebarkan agama Buddha, sampai sejauh kerajaan-kerajaan Yunani di barat dan terutama di kerajaan Baktria-Yunani yang merupakan wilayah tetangga. Kemungkinan besar mereka juga sampai di daerah Laut Tengah menurut prasasti-prasasti Asoka.

Konsili Buddha Ketiga (+/- 250 SM)


Maharaja Asoka memprakarsai Konsili Buddha ketiga sekitar tahun 250 SM di Pataliputra (sekarang Patna). Konsili ini dipimpin oleh rahib Moggaliputta. Tujuan konsili adalah rekonsiliasi mazhab-mazhab Buddha yang berbeda-beda, memurnikan gerakan Buddha, terutama dari faksi-faksi oportunistik yang tertarik dengan perlindungan kerajaan dan organisasi pengiriman misionaris-misionaris Buddha ke dunia yang dikenal.

Kanon Pali (Tipitaka, atau Tripitaka dalam bahasa Sansekerta, dan secara harafiah berarti "Tiga Keranjang"), yang memuat teks-teks rujukan tradisional Buddha dan dianggap diturunkan langsung dari sang Buddha, diresmikan penggunaannya saat itu. Tipitaka terdiri dari doktrin (Sutra Pitaka), peraturan monastik (Vinaya Pitaka) dan ditambah dengan kumpulan filsafat (Abhidharma Pitaka).

Usaha-usaha Asoka untuk memurnikan agama Buddha juga mengakibatkan pengucilan gerakan-gerakan lain yang muncul. Terutama, setelah tahun 250 SM, kaum Sarvastidin (yang telah ditolak konsili ketiga, menurut tradisi Theravada) dan kaum Dharmaguptaka menjadi berpengaruh di India barat laut dan Asia Tengah, sampai masa Kekaisaran Kushan pada abad-abad pertama Masehi. Para pengikut Dharmaguptaka memiliki ciri khas kepercayaan mereka bahwa sang Buddha berada di atas dan terpisah dari anggota komunitas Buddha lainnya. Sedangkan kaum Sarvastivadin percaya bahwa masa lampau, masa kini dan masa depan terjadi pada saat yang sama.

Dunia Helenistik

Beberapa prasati Piagam Asoka menulis tentang usaha-usaha yang telah dilaksanakan oleh Asoka untuk mempromosikan agama Buddha di dunia Helenistik (Yunani), yang kala itu berkesinambungan tanpa putus dari India sampai Yunani. Piagam-piagam Asoka menunjukkan pengertian yang mendalam mengenai sistem politik di wilayah-wilayah Helenistik: tempat dan lokasi raja-raja Yunani penting disebutkan, dan mereka disebut sebagai penerima dakwah agama Buddha: Antiokhus II Theos dari Kerajaan Seleukus (261–246 SM), Ptolemeus II Filadelfos dari Mesir (285–247 SM), Antigonus Gonatas dari Makedonia (276–239 SM), Magas dari Kirene (288–258 SM), dan Alexander dari Epirus (272–255 SM).

Dakwah agama Buddha semasa pemerintahan maharaja Asoka (260–218 SM).
Dakwah agama Buddha semasa pemerintahan maharaja Asoka (260-218 SM).
"Penaklukan Dharma telah dilaksanakan dengan berhasil, pada perbatasan dan bahkan enam ratus yojana (6.400 kilometer) jauhnya, di mana sang raja Yunani Antiochos memerintah, di sana di mana empat raja bernama Ptolemeus, Antigonos, Magas dan Alexander bertakhta, dan juga di sebelah selatan di antara kaum Chola, Pandya, dan sejauh Tamraparni." (Piagam Asoka, Piagam Batu ke-13, S. Dhammika)

Kemudian, menurut beberapa sumber dalam bahasa Pali, beberapa utusan Asoka adalah bhiksu-bhiksu Yunani, yang menunjukkan eratnya pertukaran agama antara kedua budaya ini:

"Ketika sang thera (sesepuh) Moggaliputta, sang pencerah agama sang Penakluk (Asoka) telah menyelesaikan Konsili (ke-3) […], beliau mengirimkan thera-thera, yang satu kemari yang lain ke sana: […] dan ke Aparantaka (negeri-negeri barat yang biasanya merujuk Gujarat dan Sindhu), beliau mengirimkan seorang Yunani (Yona) bernama Dhammarakkhita". (Mahavamsa XII).

Tidaklah jelas seberapa jauh interaksi ini berpengaruh, tetapi beberapa pakar mengatakan bahwa sampai tingkat tertentu ada sinkretisme antara falsafah Yunani dan ajaran Buddha di tanah-tanah Helenik kala itu. Mereka terutama menunjukkan keberadaan komunitas Buddha di Dunia Helenistik kala itu, terutama di Alexandria (disebut oleh Clemens dari Alexandria), dan keberadaan sebuah ordo-monastik pra-Kristen bernama Therapeutae (kemungkinan diambil dari kata Pali "Theraputta"), yang kemungkinan "mengambil ilham dari ajaran-ajaran dan penerapan ilmu tapa-samadi Buddha" (Robert Lissen).

Koin raja Yahudi,  Raja Alexander Yaneus (103-76 SM), dengan sebuah cakra berisikan delapan ruji.
Koin raja Yahudi, Raja Alexander Yaneus (103-76 SM), dengan sebuah cakra berisikan delapan ruji.

Mulai dari tahun 100 SM, simbol "bintang di tengah mahkota", juga secara alternatif disebut "cakra berruji delapan" dan kemungkinan dipengaruhi desain Dharmacakra Buddha, mulai muncul di koin-koin raja Yahudi, Raja Alexander  Yaneus (103-76 SM). Alexander Yaneus dihubungkan dengan sekte falsafi Yunani, kaum Saduki dan dengan ordo monastik Essenes, yang merupakan cikal-bakal agama Kristen. Penggambaran cakra atau roda berruji delapan ini dilanjutkan oleh jandanya, Ratu Alexandra, sampai orang Romawi menginvasi Yudea pada 63 SM.

Batu-batu nisan Buddha dari era Ptolemeus juga ditemukan di kota Alexandria, dengan hiasan Dharmacakra (Tarn, "The Greeks in Bactria and India"). Dalam mengkomentari keberadaan orang-orang Buddha di Alexandria, beberapa pakar menyatakan bahwa “Kelak pada tempat ini juga beberapa pusat agama Kristen yang paling aktif didirikan” (Robert Linssen "Zen living").


Ekspansi ke Asia

Di daerah-daerah sebelah timur anak benua Hindia (sekarang Myanmar), Budaya India banyak mempengaruhi sukubangsa Mon. Dikatakan suku Mon mulai masuk agama Buddha sekitar tahun 200 SM berkat dakwah maharaja Asoka dari India, sebelum perpecahan antara aliran Mahayana dan Hinayana. Candi-candi Buddha Mon awal, seperti Peikthano di Myanmar tengah, ditarikh berasal dari abad pertama sampai abad ke-5 Masehi.

Penggambaran suku Mon mengenai (Dharmacakra), seni dari Dvaravati, +/-abad ke-8.
Penggambaran suku Mon mengenai (Dharmacakra), seni dari Dvaravati, +/-abad ke-8.

Seni Buddha suku Mon terutama dipengaruhi seni India kaum Gupta dan periode pasca Gupta. Gaya manneris mereka menyebar di Asia Tenggara mengikuti ekspansi kerajaan Mon antara abad ke-5 dan abad ke-8. Aliran Theravada meluas di bagian utara Asia Tenggara di bawah pengaruh Mon, sampai diganti secara bertahap dengan aliran Mahayana sejak abad ke-6.

Agama Buddha konon dibawa ke Sri Lanka oleh putra Asoka Mahinda dan enam kawannya semasa abad ke-2 SM. Mereka berhasil menarik Raja Devanampiva Tissa dan banyak anggota bangsawan masuk agama Buddha. Inilah waktunya kapan wihara Mahavihara, pusat aliran Ortodoks Singhala, dibangunt. Kanon Pali dimulai ditulis di Sri Lanka semasa kekuasaan Raja Vittagamani (memerintah 29-17 SM), dan tradisi Theravada berkembang di sana. Beberapa komentator agama Buddha juga bermukim di sana seperti Buddhaghosa (abad ke-4 sampai ke-5). Meski aliran Mahayana kemudian mendapatkan pengaruh kala itu, akhirnya aliran Theravada yang berjaya dan Sri Lanka akhirnya menjadi benteng terakhir aliran Theravada, dari mana aliran ini akan disebarkan lagi ke Asia Tenggara mulai abad ke-11.

Ada pula sebuah legenda, yang tidak didukung langsung oleh bukti-bukti piagam, bahwa Asoka pernah mengirim seorang misionaris ke utara, melalui pegunungan Himalaya, menuju ke Khotan di dataran rendah Tarim, kala itu tanah sebuah bangsa Indo-Eropa, bangsa Tokharia.

Penindasan oleh dinasti Sungga (abad ke-2 sampai abad ke-1 SM)


Dinasti Sungga (185-73 SM) didirikan pada tahun 185 SM, kurang lebih 50 tahun setelah mangkatnya maharaja Asoka. Setelah membunuh Raja Brhadrata (raja terakhir dinasti Maurya), hulubalang tentara Pusyamitra Sunga naik takhta. Ia adalah seorang Brahmana ortodoks, dan Sunga dikenal karena kebencian dan penindasannya terhadap kaum-kaum Buddha. Dicatat ia telah "merusak wihara dan membunuh para bhiksu" (Divyavadana, pp. 429–434): 84.000 stupa Buddha yang telah dibangun Asoka dirusak (R. Thaper), dan 100 keping koin emas ditawarkan untuk setiap kepala bhiksu Buddha (Indian Historical Quarterly Vol. XXII, halaman 81 dst. dikutip di Hars.407). Sejumlah besar wihara Buddha diubah menjadi kuil Hindu, seperti di Nalanda, Bodhgaya, Sarnath, dan Mathura.

Interaksi Buddha-Yunani (abad ke-2 sampai abad pertama Masehi)


Drakhma perak Menander I (berkuasa +/- 160–135 SM). Obv: huruf Yunani, BASILEOS SOTHROS MENANDROY secara harafiah "Raja Penyelamat Menander".
Drakhma perak Menander I (berkuasa +/- 160–135 SM).
Obv: huruf Yunani, BASILEOS SOTHROS MENANDROY secara harafiah "Raja Penyelamat Menander".

Di wilayah-wilayah barat Anak benua India, kerajaan-kerajaan Yunani yang bertetangga sudah ada di Baktria (sekarang di Afghanistan utara) semenjak penaklukan oleh Alexander yang Agung pada sekitar 326 SM: pertama-tama kaum Seleukus dari kurang lebih tahun 323 SM, lalu Kerajaan Baktria-Yunani dari kurang lebih tahun 250 SM.

Arca Buddha-Yunani, salah satu penggambaran Buddha, abad pertama sampai abad ke-2 Masehi, Gandhara.
Arca Buddha-Yunani, salah satu penggambaran Buddha, abad pertama sampai abad ke-2 Masehi, Gandhara.

Raja Baktria-Yunani Demetrius I dari Baktria, menginvasi India pada tahun 180 SM dan sampai sejauh Pataliputra. Kemudian sebuah Kerajaan Yunani-India didirikan yang akan lestari di India bagian utara sampai akhir abad pertama SM.

Agama Buddha berkembang di bawah naungan raja-raja Yunani-India, dan pernah diutarakan bahwa maksud mereka menginvasi India adalah untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap Kekaisaran Maurya dan melindungi para penganut Buddha dari penindasan kaum Sungga (185-73 SM).

Salah seorang raja Yunani-India yang termasyhur adalah Raja Menander I (yang berkuasa dari +/- 160-135 SM). Kelihatannya beliau masuk agama Buddha dan digambarkan dalam tradisi Mahayana sebagai salah satu sponsor agama ini, sama dengan maharaja Asoka atau seorang raja Kushan dari masa yang akan datang, raja Kaniska. Koin-koin Menander memuat tulisan "Raja Penyelamat" dalam bahasa Yunani, dan "Maharaja Dharma" dalam aksara Kharosti. Pertukaran budaya secara langsung ditunjukkan dalam dialog Milinda Panha antara raja Yunani Menander I dan sang bhiksu Nagasena pada sekitar tahun 160 SM. Setelah mangkatnya, maka demi menghormatinya, abu pembakarannya diklaim oleh kota-kota yang dikuasainya dan ditaruh di stupa-stupa tempat pemujaannya, mirip dengan sang Buddha Gautama (Plutarkhus, Praec. reip. ger. 28, 6).

Interaksi antara budaya Yunani dan Buddha kemungkinan memiliki pengaruh dalam perkembangan aliran Mahayana, sementara kepercayaan ini mengembangkan pendekatan falsafinya yang canggih dan perlakuan Buddha yang mirip dengan Dewa-Dewa Yunani. Kira-kira juga kala seperti ini pelukisan Buddha secara antropomorfis dilakukan, seringkali dalam bentuk gaya seni Buddha-Yunani: "One might regard the classical influence as including the general idea of representing a man-god in this purely human form, which was of course well familiar in the West, and it is very likely that the example of westerner's treatment of their gods was indeed an important factor in the innovation" (Boardman, "The Diffusion of Classical Art in Antiquity").

Berkembangnya aliran Mahayana (Abad Pertama SM-Abad ke-2)


Koin emas Kekaisaran Kushan memperlihatkan maharaja Kanishka I (~100–126 Masehi) dengan sebuah lukisan Helenistik Buddha, dan kata "Boddo" dalam huruf Yunani.
Koin emas Kekaisaran Kushan memperlihatkan maharaja Kanishka I (~100–126 Masehi) dengan sebuah lukisan Helenistik Buddha, dan kata "Boddo" dalam huruf Yunani.

Berkembangnya agama Buddha Mahayana dari abad ke-1 SM diiringi dengan perubahan kompleks politik di India barat laut. Kerajaan-kerajaan Yunani-India ini secara bertahap dikalahkan dan diasimilasi oleh kaum nomad Indo-Eropa yang berasal dari Asia Tengah, yaitu kaum Schytia India, dan lalu kaum Yuezhi, yang mendirikan Kekaisaran Kushan dari kira-kira tahun 12 SM.

Kaum Kushan menunjang agama Buddha dan konsili keempat Buddha kemudian dibuka oleh maharaja Kanishka, pada kira-kira tahun 100 Masehi di Jalandhar atau di Kashmir. Peristiwa ini seringkali diasosiasikan dengan munculnya aliran Mahayana secara resmi dan pecahnya aliran ini dengan aliran Theravada. Mazhab Theravada tidak mengakui keabsahan konsili ini dan seringkali menyebutnya "konsili rahib bidaah".

Konon Kanishka mengumpulkan 500 bhiksu di Kashmir, yang dikepalai oleh Vasumitra, untuk menyunting Tripitaka dan memberikan komentar. Maka konon pada konsili ini telah dihasilkan 300.000 bait dan lebih dari 9 juta dalil-dalil. Karya ini memerlukan waktu 12 tahun untuk diselesaikan.

Konsili ini tidak berdasarkan kanon Pali yang asli (Tipitaka). Sebaliknya, sekelompok teks-teks suci diabsahkan dan juga prinsip-prinsip dasar doktrin Mahayana disusun. Teks-teks suci yang baru ini, biasanya dalam bahasa Gandhari dan aksara Kharosthi kemudian ditulis ulang dalam bahasa Sansekerta yang sudah menjadi bahasa klasik. Bagi banyak pakar hal ini merupakan titik balik penting dalam penyebaran pemikiran Buddha.

Wujud baru Buddhisme ini ditandai dengan pelakuan Buddha yang mirip dilakukan bagaikan Dewa atau bahkan Tuhan. Gagasan yang berada di belakangnya ialah bahwa semua makhluk hidup memiliki alam dasar Buddha dan seyogyanya bercita-cita meraih "Kebuddhaan". Ada pula sinkretisme keagamaan terjadi karena pengaruh banyak kebudayaan yang berada di India bagian barat laut dan Kekaisaran Kushan.

Penyebaran Mahayana (Abad pertama sampai abad ke-10 Masehi)


Dari saat itu dan dalam kurun waktu beberapa abad, Mahayana berkembang dan menyebar ke arah timur. Dari India ke Asia Tenggara, lalu juga ke utara ke Asia Tengah, Tiongkok, Korea, dan akhirnya Jepang pada tahun 538.

Kelahiran kembali Theravada (abad ke-11 sampai sekarang)


Penyebaran aliran Mahayana antara abad pertama - abad ke-10 Masehi.
Penyebaran aliran Mahayana antara abad pertama - abad ke-10 Masehi.

Penyebaran aliran Buddha Theravada dari abad ke-11.
Penyebaran aliran Buddha Theravada dari abad ke-11.

Mulai abad ke-11, hancurnya agama Buddha di anak benua India oleh serbuan Islam menyebabkan kemunduran aliran Mahayana di Asia Tenggara. Rute daratan lewat anak benua India menjadi bahaya, maka arah perjalanan laut langsung di antara Timur Tengah lewat Sri Lanka dan ke China terjadi, menyebabkan dipeluknya aliran Theravada Pali kanon, lalu diperkenalkan ke daerah sekitarnya sekitar abad ke-11 dari Sri Lanka.

Raja Anawrahta (1044-1077), pendiri sejarah kekaisaran Birma, mempersatukan negara dan memeluk aliran Theravada. Ini memulai membangun ribuan candi Budha Pagan, ibu kota, di antara abad ke-11 dan abad ke-13. Sekitar 2.000 di antaranya masih berdiri. Kekuasaan orang Birma surut dengan kenaikan orang Thai, dan dengan ditaklukannya ibu kota Pagan oleh orang Mongolia pada 1287, tetapi aliran Buddha Theravada masih merupakan kepercayaan utama rakyat Myanmar sampai hari ini.

Kepercayaan Theravada juga dipeluk oleh kerajaan etnik Thai Sukhothai sekitar 1260. Theravada lebih jauh menjadi kuat selama masa Ayutthaya (abad ke-14 sampai abad ke-18), menjadi bagian integral masyarakat Thai. Di daratan Asia Tenggara, Theravada terus menyebar ke Laos dan Kamboja pada abad ke-13.

Tetapi, mulai abad ke-14, di daerah-daerah ujung pesisir dan kepulauan Asia Tenggara, pengaruh Islam ternyata lebih kuat, mengembang ke dalam Malaysia, Indonesia, dan kebanyakan pulau hingga ke selatan Filipina.


 

TIMELINE BUDDHISME

Inilah garis besar peristiwa sejarah Buddhisme di dunia berdasarkan kronologi waktu dari kehidupan Sang Buddha sampai abad ke-21.

Tahun Buddhis
(B.E)

Tahun Umum
(C.E)

Peristiwa Utama
-80
B.E

623 B.C.E
atau
563 B.C.E

Bodhisatta atau calon Buddha, lahir di Lumbini (Nepal saat ini) sebagai Siddhattha Gotama, pangeran dari suku Sakya, pada bulan Vesak. Berdasarkan penanggalan tradisional pada tahun 623 B.C.E (Sebelum Masehi). Dan berdasarkan pada penanggalan "sejarah" pada tahun 563.
-51
B.E

594 B.C.E atau
534 B.C.E

Pangeran Siddhattha meningggalkan istana dan kehidupan sebagai perumahtangga untuk menjadi seorang petapa.
-45
B.E
588 B.C.E
atau
528 B.C.E

Petapa Gotama mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Bodhi (Ficus religiosa) di hutan Gaya (Sekarang Bodhgaya, India) tepat saat bulan purnama Siddhi di Bulan Vesak (Mei) selama bermeditasi di bawah pohon Boddhi. Selama bulan purnama di bulan Juli, Sang Buddha membabarkan ajarannya yang pertama di daerah dekat Varanasi, menunjukkan kepada dunia Empat Kasunyataan Mulia dan memulai pembabaran Dhamma dan Vinaya selama 45 tahun.

1
B.E
543 B.C.E
atau
483 B.C.E
Buddha Gotama Parinibbana (kemangkatan mutlak) di Kusinara (Sekarang Kushinagar, India) pada usia 80 tahun. Selama masa musim hujan, setelah Sang Buddha parinibbana, diadakan Persamuhan Agung pertama di dekat Rajagaha, India, di Gua Sattapanni yang dihadiri oleh 500 orang bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat, yang dipimpin oleh Y.A. Mahakassapa Thera. Pada Persamuhan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Y.A. Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Y.A. Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka. Persamuhan ini di bawah naungan Raja Ajatasattu.

100
B.E

444 B.C.E
atau
384 B.C.E

Persamuhan Agung Kedua di Vesali, 100 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana. Persamuhan Agung ini diselenggarakan karena para bhikkhu Vajji dari Vesali telah melangggar pacittiya. Persamuhan ini di bawah naungan Raja Kalasoka dan dipimpin oleh YA. Revata dan dibantu oleh YA. Yasa serta dihadiri oleh 700 bhikkhu. Keretakan sangha yang pertama timbul antara aliran Mahasanghika dan Sthaviravada yang tradisional. Permasalahannya adalah Mahasanghika tidak mau menerima sutta dan vinaya sebagai sumber terakhir dari ajaran sang Buddha. Mahasanghika kemudian berkembang menjadi Mahayana yang mendominasi Agama Buddha di utara Asia (China, Tibet, Jepang dan Korea).

119
B.E
425 B.C.E
atau
365 B.C.E
Persamuhan Buddhis di Pataliputta (tidak membahas mengenai kitab suci).
231
B.E

313 B.C.E
atau
253 B.C.E

Persamuhan Agung Ketiga diselenggarakan di Pataliputta (India), dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta. Abhidhamma Pitaka diulang kembali pada persamuan ini, sehingga lengkaplah pengertian Tipitaka (Vinaya,Sutta, dan Abhidhamma). Y.A. Tissa Moggaliputta menyelesaikan kitab Kathavatthu. Kitab suci Tipitaka Pali telah lengkap secara keseluruhan. Dalam Pesamuhan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Persamuhan ini di bawah naungan Kaisar Asoka. Perselisihan perbedaan doktrin yang kemudian menimbulkan keretakan, melahirkan aliran Sarvastivada dan Vibhajjavada.

234
B.E
310 B.C.E
atau
250 B.C.E
Kaisar Asoka mengeluarkan beberapa ragam dekrit (edict) mengenai kerajaannya yang mendukung Agama Buddha. Kaisar Asoka mengirim putranya, Y.M. Mahinda Thera ke Sri Lanka dengan misi menyebarkan Buddha Dhamma di Sri Lanka, Kanara, Karnataka, Kashmir, wilayah Himalaya, Myanmar, Afghanistan dan bahkan Mesir, Macedonia dan Cyrene. Kemudian Raja Sri Lanka Devanampiya Tissa memeluk Agama Buddha. 

 241
B.E
303 B.C.E
atau
243 B.C.E
Y.M. Mahinda Thera mendirikan Mahavihara di Anuradhapura, Sri Lanka. Komunitas aliran Vibhajjavadin yang berdiam di Sri Lanka kemudian berkembang menjadi Theravada . Kemudian saudara perempuan Y.M. Mahinda Thera, Bhikkhuni Sanghamitta, tiba di Sri Lanka dengan membawa potongan pohon Bodhi dan mendirikan Sangha Bhikkhuni di Sri Lanka.

 284
B.E
260 B.C.E atau
200 B.C.E
Kemunculan benih awal aliran Mahayana.
Penyusunan literatur Prajnaparamita.
Pembangunan Stupa Sanchi di Amaravati, Bodh Gaya, India.
 
299
B.E
245 B.C.E atau
185 B.C.E
Runtuhnya dinasti Maurya dan digantikan oleh dinasti Sunga. Pada masa ini Agama Buddha mengalami tekanan oleh pemerintahan Pusyamitra Sunga.
304
B.E
240 B.C.E
atau
180 B.C.E
Demetrius, raja Greco-Bactrian, menginvasi India sampai ke Pataliputta dan mendirikan kerajaan Indo-Greek/India-Yunani (180-10 B.C.E), dimana di bawah kerajaan tersebut Agama Buddha kembali berkembang.
334
B.E
210 B.C.E atau
150 B.C.E
Menander I (Milinda), raja Indo-Greek/India-Yunani memeluk Agama Buddha setelah berdiskusi dengan Y.A. Nagasena. Kumpulan diskusi yang berisikan mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Raja Menander I (Milinda) kepada Y.A. Nagasena, mengenai Buddha Dhamma ini, kemudian dikenal dengan sebutan Milinda Panha atau Pertanyaan Milinda.
409
B.E
135 B.C.E
atau
75 B.C.E
Theodorus, gubernur Indo-Greek/India-Yunani, menyimpan relik Sang Buddha, mendedikasikannya untuk menghormati "Yang Termulia Shakyamuni".
450
B.E
94 B.C.E
atau
34 B.C.E
Peristiwa kelaparan dan perang yang terjadi di Sri Lanka menimbulkan kekhawatiran akan kemerosotan moral yang mengancam kelestarian Buddha Dhamma. Dengan alasan ini Persamuhan Agung Keempat diselenggarakan dan kitab suci Tipitaka ditulis untuk pertama kalinya pada daun lontar/palem. Persamuhan ini di bawah naungan Raja Vattagamani Abhaya dari Sri Lanka, diselenggarakan di Vihara Aloka, Desa Matale atau Malaya, Sri Lanka, dan dihadiri oleh 500 bhikkhu dan ahli tulis dari Mahavihara.

543
B.E
2 B.C.E
Catatan Sejarah Dinasti Han Timur (Hou Hanshu), mencatat kunjungan utusan Yuezhi ke ibu kota China, dan memberikan pengajaran Sutra Buddhis secara oral (diucapkan).

545
B.E
1 C.E
Dimulainya tahun umum (C.E) atau disebut dengan tahun Masehi
609
B.E
65 C.E
Pendanaan Agama Buddha oleh Liu Ying, putra Kiasar Guangwu dari dinasti Han, yang merupakan dokumentasi pertama atas praktik Agama Buddha dalam suatu komunitas.

611
B.E
67 C.E
Agama Buddha tiba di China dari India bersama dengan dua orang bhikshu dari India yaitu Kasyapa-Matanga dan Dharmaraksha. Mereka menerjemahkan berbagai teks Buddhis diantaranya yaitu Sutra 42 Bab.

612
B.E
68 C.E
Agama Buddha secara resmi bediri di China dengan didirikannya Kuil Kuda Putih (Baima), pada kekuasaan Kekaisaran Ming dari Dinasti Han Timur.

622
B.E
78 C.E
Jenderal China, Ban Chao, menduduki kerajaan Buddhis, Khotan (sekarang Hotan / Hetian).

633
B.E

89 C.E
Menurut aliran Mahayana, Raja Kaniska (78-101), mengadakan Persamuhan Agung Keempat di Jalandhar, India. (Persamuhan ini tidak diakui oleh aliran Theravada).
644
B.E
 100 C.E
Para bhikkhu dari Sri Lanka menyebarkan Agama Buddha aliran Theravada di Kamboja dan Thailand Tengah untuk pertama kalinya.
692
B.E
148 C.E
An Shih-Kao seorang pangeran dari Parthian (Ashkanian) dan para bhikkhu dari India tiba di China dan untuk pertama kalinya menerjemahkan teks Buddhis India ke dalam bahasa China dengan menggunakan terminologi Taoisme sehingga beberapa masyarakat China menganggap Agama Buddha sebagai bentuk lain dari Taoisme.

694
B.E
150 C.E
- Penyusunan Saddharma Pundarika Sutra (Sutra Teratai) dan teks-teks Mahayana lainnya.
- Kemunculan Mahayana sebagai aliran yang terpisah.
- Kedatangan Agama Buddha untuk pertama kalinya ke Vietnam dari Asia Tengah dan India.

712
B.E
168 C.E
Seorang bhikshu bernama Lokaksema dari Kushan, berkunjung ke ibu kota China, Loyang, untuk menerjemahkan teks-teks Mahayana untuk pertama kalinya ke dalam bahasa China.

744
B.E

200 C.E

- Jaman Filsuf Buddhis India.
- Nagarjuna, penemu aliran Madhyamika (Jalan Tengah) yang menekankan pada ajaran sunyata (kekosongan).
- Biara pertama di China didirikan.
- Dhamaraksa menerjemahkan banyak sutra ke dalam bahasa China diantaranya Sutra Teratai.
- Agama Buddha mulai masuk ke Tibet dan mempengaruhi kepercayaan setempat (Bon) di kerajaan Shang-Shung (Tibet Selatan).
- Pengaruh Buddhis di Persia menyebar melalui perdagangan.

840
B.E
296 C.E
- Penyusunan Zhu Fo Yao Ji Jing (kitab Buddhis China tertua yang baru ditemukan pada tahun 2005 C.E), telah rampung pada masa Dinasti Jin Barat (265-317).
- Aliran Yogacara (meditasi) ditemukan oleh Maitreyanatha.
- Kitab-kitab Buddhis mulai tiba di kerajaan-kerajaan Tibet (Tibet Utara) semasa pemerintahan Raja Lhatotori Nyentsen.

861
B.E

317 C.E
Fo-T'u-Teng mendirikan sangha bhikshuni di China.
864
B.E
320 C.E
- Universitas Buddhis Nalanda berkembang di India, merupakan pusat pelajaran Agama Buddha kurang lebih selama 1000 tahun dan memiliki 2 ribu orang guru dan 10 ribu siswa di dalamnya.
- Penyebaran Agama Buddha ke Myanmar dan Laos.

874
B.E
330 C.E
- Kehidupan Asanga dan Vasubhandu. Bersama dengan Maitreyanatha mereka sebagai penemu dan Guru Besar dari aliran Yogacara. Mereka terkenal akan ajarannya mengenai Cittamatrin (Pikiran Semata).
- Pemikiran akan penghormatan terhadap Amitabha dan kelahiran di tanah suci, mulai muncul dan merupakan cikal bakal perkembangan aliran Tanah Suci.
- Perkembangan aliran Vajrayana.

916
B.E
372 C.E
Agama Buddha masuk ke Korea dari China. Dua bhikshu dari China membawa beberapa kitab ke kerajaan Goguryeo di Korea dan mendirikan pembuatan kertas di Korea.

922
B.E
378 C.E
Penerjemahan teks-teks Buddhis ke dalam bahasa China oleh Kumarajiva (344-413) dan Hui-yüan (334-416).
Agama Buddha memasuki Korea.

 943
B.E
399 C.E
Fa-hsien (Fa Xian), seorang bhikshu dari China mengunjungi India (399-414) dan kembali dengan membawa teks-teks Buddhis dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa China.

946
B.E
402 C.E
Aliran Amitabha Tanah Suci (Ching t'u) mulai muncul di China. T'an-Luan (476-542) sebagai sesepuh pertama.
969
B.E
425 C.E

- Y.M. Bhikkhu Buddhaghosa Thera dari Sri Lanka membuat komentar terhadap kitab Tipitaka Pali yang kemudian disebut sebagai Maha Atthakatha. Beliau juga menyusun Visuddhimagga (Jalan Kemurnian) yang menjadi buku teks klasik ajaran Sang Buddha di Sri Lanka.
- Agama Buddha aliran Mahayana sampai di Myanmar, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan diperkenalkan oleh imigran asal India.

977
B.E
433 C.E
- Para Bhikkhuni Theravada dari Sri Lanka memperkenalkan garis silsilah penahbisan penuh ke China.
- Agama Buddha mengalami penyiksaan dan kekerasan oleh pemerintahan Kaisar Wu (Shih-tusu) di China (424-451).

998
B.E
454 C.E
- Dhammapala dari Sri Lanka, menyusun komentar terhadap kitab Tipitaka Pali yang terlewatkan oleh Buddhaghosa (seperti kitab Udana, Itivuttaka, Theragatha, dan Therigatha), bersama dengan sub-komentar yang luas pada karya Buddhaghosa.
- Pemulihan Agama Buddha di China pada masa kaisar yang baru, Wen-ch'eng-ti.

1008
B.E
464 C.E
Buddhabhadra seorang Guru Dhyana (meditasi) India sampai di China untuk mengajarkan Agama Buddha. Beliau menjadi ketua dan Sesepuh Pertama Vihara Shaolin.

1014
B.E
470 C.E
Aliran T'ien Tai ditemukan oleh Hui-Wen di China Selatan.
1039
B.E
495 C.E
Vihara Shaolin didirikan di China atas nama Buddhabhadra atas dekrit Kaisar Wei Xiao Wen.
1064
B.E
520 C.E
- Bodhidharma tiba di China dari India dan menetap di Vihara Shaolin di provinsi Henan, China. Beliau menjadi Sesepuh Pertama dari aliran Ch'an (Zen).
- Berdirinya aliran Ch'an (Zen).

1096
B.E
552 C.E
- Agama Buddha diperkenalkan di Jepang melalui Korea (mungkin juga melalui China) dan menjadi agama negara (594).
- Berdirinya aliran T'ien-tai oleh Chih-i (538-597) di China, dikenal juga dengan nama Fa-hua atau aliran Teratai; merupakan bentuk sinkretisme (perpaduan) dari semua aliran Mahayana.

1121
B.E
577 C.E
- Berdirinya aliran Hua-yen oleh Fa Shun (557-640) di China.
- Kisah Jataka diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Raja Khosrau I (531-579).
- Pengikut aliran Zen masuk ke Vietnam dari China.
- Pangeran Shotoku mendanai Agama Buddha di Jepang.

1133
B.E
589 C.E
- Penulisan teks-teks komentar Buddhis China.
- Agama Buddha berkembang di Indonesia.
- Percampuran antara agama Hindu Shivaism dan Mahayana di Kamboja, berlangsung sampai abad ke-11. Aliran non-Mahayana juga ada namun tidak menonjol.
- Berdirinya Dinasti Sui di China, awal dari jaman keemasan Agama Buddha di China.

1151
B.e
607 C.E
- Utusan kerajaan Jepang diutus ke kerajaan Sui di China untuk mendapatkan salinan sutra-sutra.
- Agama Buddha mulai menyebar di Tibet.
- Pembangunan kuil Horyu-ji dan selesai pada tahun 615 C.E.

1162
B.E
618 C.E
- Berdirinya Dinasti Tang di China (618-907) dan merupakan jaman keemasan bagi Agama Buddha di China.
- Harsa-vardhana memimpin kerajaan besar di India Utara. Ia adalah salah satu raja Buddhist teladan yang mendirikan institusi-institusi untuk para peziarah, orang miskin, dan orang sakit.

1185
B.E
641 C.E
- Raja Songtsen Gampo mempersatukan Tibet dan menikahi putri dari China, Wen Cheng dan putri dari Nepal Bhrkuti yang membawa rupang Buddha.
- Pembangunan Istana Potala, Jokang dan vihara Ramoche di Tibet untuk menaruh rupang Buddha (641-650).

1187
B.E
643 C.E
Hsuan Tsang (602-664) mengunjungi India dan setelah pulang menerjemahkan berbagai kitab Buddhis.
1202
B.E
658 C.E
- Aliran Ch'an Selatan atau Ch'an baru, mulai meluas dengan Hui-neng (638-713) sebagai Sesepuh Ke-6.
- Pengembangan aliran Hua-yen oleh Fa-tsang (643-712)

1215
B.E
671 C.E
- Bhiksu Peziarah dari China pada Dinasti Tang, Yi Jing (I-Tsing), mengunjungi Palembang, ibu kota dari kerajaan Srivijaya di pulau Sumatera, Indonesia, dan melaporkan terdapat lebih dari 1000 orang bhikkhu di sana. Dan pada masa itu, mayoritas Agama Buddha tradisi Theravada telah berkembang pesat di seluruh Nusantara, kecuali di daerah Melayu yang sedikit mengadopsi tradisi Mahayana.
- Seorang bhikshu sarjana asal Korea, Uisang (625 - 702), kembali ke Korea setelah mempelajari aliran Hua-yen dan mendirikan aliran Hwaom (Hua-yen dalam bahasa Korea).

1257
B.E
713 C.E
Aliran esotorik dari Dinasti Tang diperkenalkan di China oleh Subhakarasimha, Vajrabodhi and Amoghavajra.
1263
B.E
719 C.E
Agama Buddha berkembang di Thailand.
1274
B.E
730 C.E
Diperkenalkannya aliran Hua-yen dari China ke Jepang, yang dikenal dalam bahasa Jepang sebagai Kegon.
1296
B.E
752 C.E
Patung besar Buddha Vairocana di kuil Todai-ji di Nara (Jepang), selesai dibangun.
1304
B.E
760 C.E
- Candi Borobudur didirikan pada masa Dinasti Sailendrea di Jawa Tengah.
- Aliran akademis (Jöjitsu, Kusha, Sanron, Hossö, Ritsu, and Kegon) tumbuh di Jepang.
- Aliran Ch'an sampai ke Tibet.

1317
B.E
773 C.E
Raja Trisong Detsen mengundang Shantarakshita ke Tibet.
1318
B.E
774 C.E
- Raja Trisong Detsen mengundang Padmasambhava untuk mendirikan Agama Buddha aliran Tantra di Tibet.
-Agama Buddha menyebar cepat ke Sikkim dan Bhutan.
- Kisah Jataka diterjemahkan ke dalam bahasa Syriac dan Arab seperti Karataka and Damanaka. Kisah mengenai kehidupan Sang Buddha di terjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh John dari Damascus.

1331
B.E
787 C.E
Pembangunan Samye, vihara pertama di Tibet, oleh Trisong Detsen dan Padmasambhava. Kemunculan aliran Nyingma cabang dari Agama Buddha Tibet.

1336
B.E
792 C.E
Perdebatan besar antara aliran Tibet dengan aliran Mahayana di vihara Samye, dan memutuskan bahwa aliran Tibet sebagai bentuk dari aliran Mahayana.

1338
B.E
794 C.E
Satu juta miniatur stupa (pagoda) dibangun di Jepang. Ibu kota Jepang dipindahkan dari Nara ke Kyoto.
1348
B.E
804 C.E
Di bawah pemerintahan Kaisar Kammu dari Jepang, Bhikshu Kukai (774-835) berkunjung ke daratan China. Ia menyerap ajaran dari aliran Vajrayana di Chang'an dan kembali ke Jepang untuk mendirikan aliran Shingon (806). Berada dalam rombongan yang sama, Bhikshu Saicho (767-822) menyerap ajaran dari aliran T'ien-tai dan kembali ke Jepang untuk mendirikan aliran Tendai (805).

1354
B.E
810 C.E
Raja Devapala dari India menyumbang "pemasukan dari 5 desa" untuk pendanaan dan pemeliharaan perpustakaan Buddhis dan fasilitas penyalinan Sutra di Universitas Nalanda.

1366
B.E
822 C.E
Penegakkan Peraturan (vinaya) Mahayana di Jepang. 
1380
B.E
836 C.E
- Raja Lang Dharma menganiaya Buddhis Tibet. Periode konflik dan perang sipil di Tibet dimulai.
- Seorang pendeta aliran Tendai dari Jepang bernama Ennin melakukan perjalanan ke China (838-847) dan mencatat penekanan terhadap Agama Buddha di China

1389
B.E
845 C.E
- Penekanan dan penganiayaan terhadap Buddhis di China oleh Kaisar Wu-tsung (841-7) seorang Taois, yang juga memerintahkan untuk memusnahkan seluruh komponen yang berunsur Buddhis, menandakan kemunduran Agama Buddha di China.
- Penemuan alat pencetak oleh Buddhis di China. Buku tertua yang dicetak dan masih ada adalah buku Tun-hung pada tahun 868, yang berisi kutipan dari Sutra Intan.

1421
B.E
877 C.E
Kehancuran dinasti Tibet. Agama Buddha hampir lenyap seluruhnya dari Tibet.
1444
B.E
900 C.E

- Pembangunan Kuil Buddhis di Bagan, Myanmar, dimulai
- Agama Islam menggantikan Agama Buddha di Asia Tengah.

1516
B.E
972 C.E
Kaisar Pertama dari Dinasti Sung memerintahkan untuk menyelesaikan mencetak Tripitaka. Selesai pada tahun 983, dikenal dengan nama Shu-pen (Edisi Szechuan).

1522
B.E
978 C.E
Awal dari periode kedua Buddhis di Tibet.
1553
B.E
1009 C.E
Dinasti Ly di Vietnam. Para Raja Ly melindungi Agama Buddha Mahayana.
1569
B.E
1025 C.E
Kerajaan Buddhis, Srivijaya, di Sumatera, diserang oleh Kerajaan Chola dari India Selatan. Srivijaya masih bisa bertahan tetapi mengalami kemunduran. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Palembang ke Jambi.

1582
B.E
1038 C.E
Atisha (982-1054), datang ke Tibet dan mendirikan aliran Kadampa (yang kemudian menjadi aliran Gelugpa).
1583
B.E
1039 C.E
Marpa (1012-1097) seorang penerjemah, mulai mendirikan aliran Kargyu bagian dari Agama Buddha di Tibet, melakukan perjalanan ke India, dan belajar di bawah bimbingan Naropa.

1588
B.E
1044 C.E
Di Myanmar, raja Pagan pertama, Raja Anoratha mulai memerintah. Ia mengalihyakinkan negaranya menjadi Agama Buddha Theravada dengan bantuan para bhikkhu dan buku-buku dari Sri Lanka.

1594
B.E
1050 C.E
Komunitas Bhikkhu dan Bhikkhuni di Anuradhapura, Sri Lanka, hancur karena invasi dari India bagian selatan. 
1604
B.E
1060 C.E
- Penemuan silsilah aliran Sakya oleh Brogmi (992-1072).
- Gonchok Guelpo (1034-1102) mendirikan biara pertama bagi sangha aliran Sakya.
- Berkembangnya Theravada di Pagan, Burma (Myanmar).

1614
B.E
1070 C.E
Para Bhikkhu dari Pagan (Myanmar) tiba di Polonnaruwa, Sri Lanka untuk mengembalikan kembali garis penahbisan bhikkhu aliran Theravada di Sri Lanka.

1628
B.E
1084 C.E Di Myanmar, pada pemerintahan Raja Pagan ke-2, Kyanzittha (putra dari Anawrahta) menyelesaikan Stupa Shwezigon, tempat untuk menyimpan relik Sang Buddha, termasuk relik gigi Sang Buddha yang dibawa dari Sri Lanka.
1644
B.E
1100 C.E Pemerintahan Huizong pada masa Dinasti Song di China melarang Agama Buddha dan mempromosikan Taoisme.
1668
B.E
1124 C.E Di Jepang, Ryonin (1072-1132) menemukan aliran Yuzu-gatari atau aliran Nembutsu (Nianfo) yang memfokuskan pada ritual pengulangan nama Buddha Amitabha.
1708
B.E
1164 C.E Polonnaruwa, di Sri Lanka Utara dihancurkan oleh penyerangan bangsa asing. Dengan bimbingan dua bhikkhu dari cabang tradisi Mahavihara yaitu tradisi Y.A. Mahakassapa dan Y.A. Sariputta, Raja Parakramabahu menyatukan kembali seluruh bhikkhu di Sri Lanka dalam tradisi Mahavihara.
1719
B.E
1175 C.E Honen Shonin (1133-1212) mendirikan aliran Jodo atau "Tanah Suci" (Pure Land) di Jepang.
1725
B.E
1181 C.E Raja Jayavarman VII dari Kamboja yang merupakan penganut Mahayana mendirikan kuil Bayon salah satu bagian akhir dari pembangunan Angkor Wat yang dimulai pada pemerintahan Raja Suryavarman II. Kemudian hari situs ini menjadi salah satu tempat bagi penganut Theravada.
1734
B.E
1190 C.E Di Myanmar, garis keturunan Raja Anawrahta mengendalikan pemerintahan dengan bantuan dari Sri Lanka. Pemerintah baru memperbaharui Buddhisme Myanmar mengacu pada model di Sri Lanka.
1735
B.E
1191 C.E - Eisai (1141-1215) mendirikan aliran Rinzai dari Zen Buddhisme di Jepang.
- Agama Buddha berkembang di Korea di bawah dinasti Koryo.
1737
B.E
1193 C.E Kaum Muslim menyerang India dan menaklukkan negara Magadha, pusat Agama Buddha. Mereka menghancurkan vihara-vihara dan universitas Buddhis seperti Nalanda dan Valabhi. Pusat Pendidikan Buddhis Terbesar di Nalanda dimana berbagai hal diajarkan seperti Buddhisme, Logika, Filsafat, Hukum, Pengobatan, Tata Bahasa, Matematika, Kimia, dan Astrologi, mengalami kemunduran dan pembubaran akibat penyerangan Muslim Turki. Peristiwa ini merupakan tonggak sejarah bagi kemunduran Agama Buddha di India.
1744
B.E
1200 C.E - Di Kamboja, Agama Buddha Theravada menggantikan Mahayana yang sebelumnya dianut secara berdampingan dengan agama Hindu oleh masyarakat Kamboja. Perubahan ini mendapat pengaruh dari Sri Lanka dan Thailand.
1768
B.E
1224 C.E Shinran (1173-1262) mendirikan aliran Jodo-Shin di Jepang. Ia membawa doktrin keselamatan dengan hanya kepercayaan kepada Buddha Amitabha dan dengan hanya penguncaran secara ekstrem nama Buddha Amitabha. Ia mendukung pernikahan para biarawan dan ia sendiri menikah. Populasi penganut aliran ini hanya ada di Jepang dan beberapa Korea. "Pembaharuan" Shinran (penyelamatan dengan kepercayaan semata, pernikahan para biarawan, makan daging, dan sebagainya) tidak dapat diterima oleh tradisi-tradisi Buddhis di Asia Timur.
1771
B.E
1227 C.E Dogen Zenji (1200-1253) membawa tradisi Zen Caodong dari China ke Jepang dan mendirikan aliran Soto Zen.
1780
B.E
1236 C.E Para Bhikkhu dari Kañcipuram, India, tiba di Sri Lanka untuk menghidupkan kembali garis upasampada (penahbisan) Theravada.
 1782
B.E
1238 C.E Kerajaan Thailand dari Sukhothai berdiri, dengan Agama Buddha Theravada sebagai agama negara.
1791
B.E
1247 C.E Di Tibet, Pandita Sakya mengakui Godan Khan; merupakan awal dari hubungan antara Lama Tibet dengan Khan (Penguasa) dari Mongol.
1796
B.E
1252 C.E Rupang (patung) raksasa Buddha Amitabha dibangun di Kamakura, Jepang.
1797
B.E
1253 C.E Nichiren Daishonin (1222-1282) mendirikan aliran Nichiren di Jepang yang sampai sekarang beberapa cabang dari aliran ini seperti Nichiren Shoshu masih merupakan aliran yang kontroversi dimana menganggap Nichiren sebagai Buddha yang asli dan sesungguhnya.
1799
B.E
1255 C.E Dinasti Yuan di China dalam kekuasaan Mongol dan pengaruh Lamaisme dari Tibet. Pada masa ini terjadi kontroversi antara Buddhis dan Taois sebelum pemerintahan Magun Khan tahun 1255. Perdebatan sengit yang telah berlangsung selama 1000 tahun, diselesaikan karena keinginan Buddhis dengan dekrit Kublai Khan pada tahun 1281.
1805
B.E
1261 C.E - Tibet dipersatukan kembali oleh para Pandita Sakya, dan menjadikan Lama Agung Sakya menjadi raja.
- Rashid al-Din seorang sejarahwan asal Persia, mencatat ada sebelas literatur Buddhis yang diterjemahkan dalam bahasa Arab seperti Sukhavati-vyuha Sutra dan Karanda-vyuha Sutra, serta beberapa bagian dari Samyutta Nikaya dan Anguttara Nikaya, dan bersama dengan Maitreya-vyakarana.
1819
B.E
1275 C.E Ippen (1239-1289) menemukan aliran Ji di Jepang.