Dharma Buddha

Apakah Dharma Itu?

Lama Zopa Rinpoche, dilahirkan di Thami, Nepal pada tahun 1946. Pada usia tiga tahun, ia dikenal sebagai reinkarnasi dari Lama Lawudo, yang tinggal di Lawudo, berdekatan dengan rumah Rinpoche Thami. Penjelasan Rinpoche sendiri tentang mengenai masa kecil beliau terdapat di buku THE DOOR TO SATISFACTION (Wisdom Publication)

Pada usia sepuluh tahun, Rinpoche pergi ke Tibet, belajar dan bermeditasi di Bara Rinpoche Domo Geshe di dekat Pagri, sampai ketika penguasaan China atas Tibet pada tahun 1959, memaksanya meninggalkan Tibet ke Bhutan demi keselamatan beliau. Rinpoche lalu pergi ke kemah penampungan di Buxa Duar, Bengal Barat, India, di mana beliau bertemu dengan Lama Yeshe, yang kemudian menjadi guru terdekatnya. Lama kemudian pergi ke Nepal pada tahun 1967 dan beberapa tahun kemudian mendirikan Biara Kopan dan Lawudo. Pada tahun 1971 Lama Zopa Rinpoche memberikan retreat Lamrim yang pertama. Retreat ini kemudian menjadi retret tahunan yang terkenal yang terus berlangsung hingga kini di Kopan.

Pada tahun 1974, dengan Lama Yeshe, Rinpoche mulai keliling dunia untuk mengajarkan dan mendirikan pusat-pusat Dharma. Ketika Lama Yeshe meninggal pada tahun 1984, Rinpoche menggantikan menjabat sehagai ketua FPMT, yang kemudian terus berkembang di bawah kepemimpinan Rinpoche yang tiada bandingnya. Detil selanjutnya mengenai riwayat hidup dan karya Rinpoche.dapat ditemukan di situs FPMT, www.fpmt.org. Ajaran Rinpoche lain yang diterbitkan termasuk di dalamnya WISDOM ENERGY (dengan Lama Yeshe), TRANSFORMING PROBLEMS, sejumlah transkrip dan booklet praktik [puja dan meditasi] trsedia di www.wisdompubs.org.

Bahasa Sansekerta "Dharma" merujuk pada sesuatu yang membimbing atau menyelamatkan batin kita dari penderitaan. Namun bagaimanapun juga, ada beribu-ribu macam penderitaan dan bahkan dari tiap penderitaan ini ada berbagai macam jenisnya. Sebagai contoh penyakit, ada ratusan jenis penyakit yang kenal.

Dengan begitu banyaknya jenis penyakit, maka ada ratusan pula jenis obat. Tapi dari semua jenis obat itu, tujuannya hanyalah untuk mengobati penyakit dan membebaskan orang dari penderitaan penyakit -dan demikianlah halnya dengan semua obat-obatan yang lain. Soma halnya dengan Dharma, terdapat ribuan jenis praktik Dharma, namun apapun jenisnya, kesemuanya itu adalah Dharma.

Tetapi efek dari obat luar sangatlah jauh berbeda dengan efek Dharma; seperti halnya langit dengan bumi. Obat luar hanya mengobati secara sementara -mereka hanya menawarkan kesembuhan yang sifatnya sementara; obat luar tidak menyembuhkan penyakit untuk selamanya. Obat-obatan dapat menyembuhkan penyakit untuk sementara waktu, namun tidak dapat mencegah penyakit tersebut kambuh kembali. Hal ini mudah untuk dipahami; ini merupakan pengalaman yang umum dialami dan menunjukkan bahwa sifat, penyembuhkan dari obat-obatan hanyalah sementara waktu, bukan sebuah cara yang ampuh .

Terkadang obat-obatan bahkan tidak berfungsi sama sekali, hanya menyelesaikan sebagian dari masalah, tetapi menyebabkan munculnya permasalahan fisik atau mental yang lain. Obat-obatan bukanlah suatu cara yang ampuh untuk mengatasi penyakit.

Efek dari Dharma sangatlah berbeda. Seberapa lama pun Anda mempraktikkan Dharma, Anda akan selalu dapat merasakan manfaatnya. Tubuh, ucapan, dan batin Anda menjadi lebih murni dan oleh karenanya, tidak akan membahayakan tubuh ataupun batin Anda -kecuali, tentunya jika Anda mempraktikkan Dharma yang salah, yang dapat membawa Anda ke dalam masalah.

Beberapa orang mengkonsumsi obat agar merasa lebih baik. jika seseorang tetap mengkonsumi obat-obatan, dengan harapan bahwa obat-obatan tersebut selalu mampu memberikan efek yang sama setiap saat, is akan membuat dirinya sendiri menjadi gila atau jika tidak ia akan membahayakan hidupnya sendiri. Obat-obatan semakin lama akan membuat batin seseorang menjadi semakin tidak sadar, tubuh dan batin menjadi kurang terkontrol dan membahayakan kehidupan kita sebagai manusia yang berharga.

Praktisi Dharma tidak membutuhkan obat. Ketergantungan mereka akan obat-obatan telah usai. Obat-obatan hanyalah bagi mereka yang batinnya terbatas, mereka yang tidak pernah mengenal Dharma atau arti dari hidup ini, mereka yang tidak punya pemahaman akan kehidupan lampau dan kehidupan yang akan datang, mereka yang hanya mempercayai fenomena terbatas yang mereka fihat di harapan mereka saja.

Seperti halnya semua hal biasa yang kita lakukan sehari-hari untuk melindungi diri kita dari penderitaan, hal yang sama yang juga dilakukan oleh hewan, adalah semata-mata sebuah cara penyelesaian yang sementara. Makan, minum, berpakaian, bekerja tidak ada satu pun dari kegiatan itu yang mcrupakan cara ampuh untuk dapat mengakhiri semua penderitaan untuk selamanya.

Setinggi apapun kita membangun secara materi dan teknologi, tidak ada satu pun dari hat ini yang dapat mengakhiri penderitaan.

Pada jaman dahulu, jauh sebelum perkembangan materi yang modern, orang telah mengalami masalah. Manusia-manusia pertama di bumi telah mengalami banyak masalah-masalah mental, masalah kehidupan, penderitaan, kekecewaan. Sekarang ini, bahkan terdapat lebih banyak kebingungan, perseteruan dan penderitaan. Selama berabad-abad, penderitaan meningkat jauh lebih pesat dibandingkan dengan kedamaian. Seseorang hanya perlu memperhatikan sekeliling untuk melihat kenyataan ini. Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa perkembangan materi luar bukanlah solusi yang ampuh untuk penderitaan. Hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang hilang, bahwa perkembangan materi semata-mata tidaklah cukup. Di sini saya tidak mengatakan bahwa perkembangan materi dan ilmu pengetahuan adalah hat yang buruk; saya hanya menggambarkan apa yang terjadi di sekeliling kita.

Mengapa obat-obatan dan segala hat yang kita lakukan tidak mampu untuk mengakhiri penderitaan? Karena semua hal itu, tidak mempengaruhi sumber dari masalah. Hal ini membuktikan bahwa sebab utama dari penderitaan bukanlah berasal dari lingkungan luar. Hal ini sangatlah penting. jika seseorang memahami hal ini, berarti ia memahami inti dari Dharma. Hal ini juga memhuktikan bahwa yang selama ini kita lakukan, tidaklah menyentuh akan dari penderitaan. Mengapa semua tidak mampu memutuskan semua penderitaan dan penyebabnya? Karena, penyebab dari penderitaan datangnya bukanlah dari kondisi luar, melainkan datang dari batin kita sendtri.Baik kita manusiayang berjalan di atas tanah, ataupun cacing di dalam tanah, ataupun serangga di udara, penyebab penderitaan adalah dari dalam pikiran kita sendiri. Oleh karenanya, kita tidak dapat terbebas dari penderitaan fisik maupun mental, dengan masuk ke dalam tanah ataupun terbang ke bulan.

Berusaha menyelesaikan masalah dengan pergi ke tempat lain dan bukannya memerangi akar permasalahan, sama halnya seperti kita berlari untuk menghindari diri dari sakit perut. Alih-alih meringankan penderitaan, kita malah membuat diri kita lelah dan lapar. Kita mungkin berpikir contoh ini bodoh dan kekanak-kanakan, tapi sebenarnya ini justru secara nyata menggambarkan apa yang kita lakukan selama ini. Kita melakukan hal yang sama, hanya saja kita tidak menyadarinya. Lari dari penderitaan dengan menggunakan kereta atau pesawat dan bukannya berusaha untuk mengenali penyebab penderitaan dan menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya, tidak akan pernah efektif.

Metode apa yang seharusnya kita praktikkan, cara apa yang dapat menghancurkan penderitaan dan penyebabnya? Sebuah cara dari dalam dengan kata lain, Dharma. Dharma adalah suatu cara yang bekerja dari dalam (inner method), yang dapat mengakhiri semua penderitaan dan penyebabnya. "Mengakhiri" di sini maksudnya adalah menyelesaikan semua penderitaan fisik dan mental, sedemikian hingga penderitaan tersebut tidak akan muncul kembali. Cara dari dalam ini, Dharma, tidak dapat dibandingkan dengan cara-cara lain yang sifatnya sementara, karena dengan mempraktikkan Dharma, miliaran penderitaan dan penyebabnya yang berbeda-beda dapat dihancurkan seluruhnya. Dikutip dari Pengantar untuk Kursus Meditasi ke Lima, Lama Zopa Rinpoche, Biara Kopan, Oktober 1973.

 
 

What is Karma? 

Perbuatan yang disertai Kehendak itulah yang Ku-sebut KARMA
-MAJJHIMA NIKAYA -

Ajaran Buddha tidak mengabaikan peran yang dimainkan oleh Hukum atau Proses Alam lainnya. Ajaran Buddha menyatakan Tidak Semuanya terjadi karena KARMA. Menurut Ajaran Buddha, terdapat Lima Hukum atau Proses (niyama) yang beroperasi di alam-alam Fisik maupun Mental.

Lima Hukum Tertib Alam Semesta — (Panca Niyama Dhamma)
  1. Hukum fisik Anorganik (Utu Niyama)
    • Fenomena musiman dari angin dan hujan
    • Hukum-hukum yang tepat mengenai pergantian musim
    • Karakteristik peristiwa dan perubahan musim
    • Sifat alamiah dari panas dan dingin, dll
  2. Hukum biji-bijian atau Fisik Organik (Bija Niyama)
    • Padi tumbuh dari biji
    • Rasa manis dari gula tebu atau madu
    • Uniknya karakteristik dari buah tertentu
    • Teori ilmu pengetahuan tentang sel dan gen, serta kemiripan pada anak kembar munkin dapat dijelaskan berdasarkan pada hukum ini
  3. Hukum perbuatan dan akibatnya (Kamma Niyama)
    • Tindakan yang sengaja ataupun tidak disengaja menghasilkan hasil yang baik dan buruk (kausal moral atau asas sebab dan akibat.)
  4. Hukum pikiran dan psikis (Citta Niyama)
    • Proses kesadaran, kelanjutan kesadaran, kekuatan pikiran, termasuk telepati, telesthesia, mata dewa, telinga dewa, kemampuan mengingat hal-hal lampau (Retro-Cognition), kemampuan meramal (Premonition), kemampuan membaca pikiran dan fenomena psikis lainnya yang tidak dapat dijelaskan oleh Ilmu Pengetahuan Modern
  5. Hukum realita (Dhamma Niyama)
    • Gejala alam yang terjadi pada saat kelahiran terakhir seorang Boddhisatta.
    • Hukum dan hukum-hukum alam lainnya juga dimasukan dalam kelompok ini.

Kelima Niyama tersebut sebenarnya tidak terpisahkan satu sama lain. Lima Niyama itu secara integratif menunjuk satu realitas, beroperasi dalam satu kesatuan, terkait dan saling bergantungan satu sama lainnya. Istilah yang diberikan untuk menunjuk keterkaitan tersebut diatas adalah Interdependensi. Interdependensi antara Dhamma Niyama dengan Kamma Niyama terwujud dari kaitan yang erat antara gerakan benda-benda dikosmos dengan karma kolektif makhluk, misalnya ada meteor yang jatuh di suatu lokasi dan menewaskan banyak penduduk setempat. Interaksi antara kedua hal ini yang menyebabkan mengapa meteor itu jatuh ditempat tersebut dan tidak tempat lain. Selain mengapa hanya orang-orang itu saja yang tewas, sementara yang lainnya selamat.

Interdependensi antara satu niyama dengan niyama lainnya terjalin secara kontinu atau sinambung terus menerus dan dinamis. Sebagai contoh, dalam interdependensi Utu Niyama dengan Kamma Niyama, maka segala apa yang kita lakukan (kammaniyama) juga akan mempengaruhi iklim dunia (Utu Niyama) misalnya, jika energi karma negatif yang dihasilkan dari akumulasi keserakahan umat manusia telah mencapai titik tertentu, maka akan terjadi gangguan pada alam atau ekosistim yang dapat berupa musim hujan tak datang pada waktunya, musim kering terlalu panjang, disusul dengan badai hujan yang terlalu ekstrim, dan bencana-bencana lainnya.

Kini kita akan membahas inter dependensi antara Bija Niyama dengan Kamma Niyama. Sebagai contoh, energi negatif yang dihasilkan dari pembantaian binatang secara terus menerus (kammaniyama) bisa mencapai titik tertentu yang mengaktivasikan munculnya Wabah Penyakit Baru. Munculnya penyakit baru itu berasal dari kuman yang bermutasi atau bahkan kuman baru (Bija Niyama). Ternyata setelah orang berhasil menemukan obat bagi penyakit baru itu, muncul kuman baru yang lebih ganas. Siklus ini tidak akan pernah berakhir selama kita masih mengkonsumsi binatang dalam skala yang luar biasa. Industri pemotongan hewan merupakan salah satu penyebab utama dari hal ini. Ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa banyak penyakit yang timbul sebagai akibat mengonsumsi daging berbagai jenis hewan. Wujud lain dari interdependensi tersebut adalah pengaruh karma manusia pada kualitas, jumlah spesies, proses pembuahan, dan kesuburan dari aneka flora yang tumbuh di bumi.

Contoh interdependensi antara Citta Niyama dengan Kamma Niyama adalah seorang yang melakukan pemurnian pikiran melalui sila dan samadhi akan mendapatkan kekuatan batin, bisa membaca pikiran orang lain, dll. Dari kelima niyama tersebut diatas, kita hanya akan membahas kamma-niyama disini. Pembahasan tentang karma sebenarnya sangat rumit dan kompleks, yang membutuhkan ruang dan waktu yang tidak sedikit. Oleh karenanya, disini kita tidak akan membahasnya secara terperinci. Karma dianggap hanya sebagai salah satu dar iLima Hukum/Proses Alam lainnya yang menerangkan keragaman di dunia.

What is Karma?
KARMA mengandung arti 'PERBUATAN' (doing) atau 'TINDAKAN' (action). Segala perbuatan (baik maupun buruk) yang didasari atau dilandasi oleh kehendak, keinginan, motivasi, aspirasi dan sebagainya. Yang dilakukan secara fisik, verbal maupun mental. KARMA adalah NIAT, yang mencakup: Keinginan, Pemilihan, dan Keputusan, atau Energi yang mendorong ke Arah Perbuatan, termasuk yang berMoral atau yang tidak berMoral.
(Kusala Akusala Cetana) = KARMA atau KAMMA
Buddha Bersabda, "’Cetanahang bhikkhave kammang vadami – Para bhikkhu, Saya katakan, kehendak atau niat, itulah yang Ku–sebutKarma’. Setelah berkehendak dalam batinnya, seseorang melakukan perbuatan melalui Jasmani, Ucapan, dan Pikiran…"(AnguttaraNikaya, III, 415)

Semua perbuatan yang dilakukan dengan kehendak, disebut KARMA, kecuali tindakan yang dilakukan oleh para Buddha dan Para Arahat (Yang Telah Mencapai Tingkat Kesucian). Sesuatu yang dilakukan Tanpa Niat, Tanpa Kesadaran, Tanpa Kehendak, tidak dapat dikategorikan sebagai Karma karena dalam hal ini ‘Motivasi’sebagai factor yang penting tidak ada.

Suatu ketika Sang Buddha sedang tinggal di vihara Anathapindika dekat kota Savatti, datanglah seorang Pemuda Brahmana bernama Subha yang bertanya kepada Sang Buddha mengenai perbedaan kualitas manusia. ‘Yang Mulia Gotama, apakah yang menjadi alasan, apa sebabnya diantara umat manusia yang terlahir sebagai manusia, ada yang hina dan mulia? Wahai Gotama mengapa ada umat manusia yang Berusia Pendek dan ada yang Berusia Panjang, Berpenyakit dan Sehat, Buruk dan Rupawan, Tak Berkuasa dan Berkuasa, Miskin dan Kaya, Lahir Dalam keluarga Rendah dan Lahir Dalam Keluarga Bangsawan, Bodoh dan Pandai; Wahai Gotama, apakah alasannya, apa sebabnya maka diantara manusia ada yang terLahir Hina dan ada yang terLahir Mulia? Sang Buddha menjawab,‘…, setiap makhluk adalah Pemilik Karmanya Sendiri, Pewaris Karmanya Sendiri, Lahir dar iKarmanya Sendiri, Berhubungan dengan Karmanya Sendiri dan Terlindung oleh Karmanya Sendiri. Karma yang menentukan makhluk-makhluk, menjadikan mereka Hina dan Mulia’(Culakammavibhanga Sutta, Majjhima Nikaya).

Pentingnya Pikiran
Pikiran adalah Pelopor, segala keBaikan dan keJahatan. Bila orang berBicara dan berBuat dengan Pikiran Jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti kaki lembuyang menariknya. Bila orang berBicara dan berBuat dengan Pikiran Baik, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayangan yang tidak pernah berpisah dari bendanya.(Dhammapada BabI, 1 &2). Didalam proses Hukum Karma, Pikiran mempunyai peranan yang sangat penting, PIKIRAN merupakan SUMBER dan AKAR yang mewarnai atau menginspirasi segala TINDAKAN yang dilakukan setiap saat, melalui Jasmani, Ucapan, dan Pemikiran. Ketika Pikiran tidak terkendali, maka Tindakan, Ucapan maupun Pemikiran-Pemikiran yang muncul menjadi tidak terkendali juga. Apabila Pikiran senantiasa terkendali, maka Tindakan, Ucapan maupun Pemikiran-Pemikiran yang muncul pun menjadi terkendali.

Kamma or Karma dan Vipaka or Phala
KARMA  = TINDAKAN
VIPAKA  = EFEK, AKIBAT, REAKSI
PHALA    = HASIL, BUAH
Sebab Musabab + Kondisi2 Penunjang    =       Akibat
               (Benih Karma)                              (Buah Karma)
Semua Tindakan/Aksi diikuti oleh Akibat/Reaksi Karma meliputi perbuatan baik (Kusala) dan jahat (Akusala), Demikian pula akibat atau hasilnya, berupa kebahagiaan (Anisamsa) dan kemalangan (Adinava).
"Sesuai dengan benih yang telah ditabur, begitulah buah yang akan dituai. la yang berbuat baik akan menerima kebaikan, ia yang berbuat jahat akan menerima kejahatan". (SamyuttaNikaya1.293)

Kamma (Pali)/Karma (Sansekerta) (Empat Klasifikasi Karma)
Mengenai ajaran karma, uraian yang jelas dapat ditemukan dalam Tipitaka. Dalam ‘Catukkanipata dari Anguttara Nikaya’. Menurut sumber tersebut, Sang Buddha secara tegas telah menggolongkan karma atau perbuatan menjadi empat klasifikasi dalam hubungan dengan sifat dari akibat-akibatnya.

Para bhikkhu, Empat Klasifikasi Karma yang telah Ku-pahami dengan kebijaksanaan sendiri dan selanjutnya kuajarkan kepada dunia. Apakah empat klasifikasi karma itu? Empat Klasifikasi karma ituadalah: Karma Hitam yang berakibat Hitam; Karma Putih yang berakibat Putih; Karma Hitam dan Putih yang berakibat Hitam dan Putih; dan Karma Bukan Hitam maupun Bukan Putih yang berakibat Bukan Hitam maupun Bukan Putih.(AnguttaraNikaya, Catukkanipata232-238)

Penggolongan Karma ke dalam Empat Macam seperti yang tersebut diatas, dibuat berdasarkan atas sifat dan akibat-akibatnya:

  • BURUK, Karma Hitam Yang Berakibat Hitam
  • BAIK, Karma Putih Yang Berakibat Putih
  • CAMPURAN, Baik dan Buruk, Karma Hitam dan Putih yang berakibat Hitam dan Putih
  • NETRAL, bukan baik maupun bukan buruk. Karma Bukan Hitam maupun Bukan Putih yang berakibat Bukan Hitam maupun Bukan Putih

Dilihat dari sudut saluran yang digunakan, Karma dapat digolongkan menjadi Tiga Macam, yaitu perbuatan Badan Jasmani (Kaya-Kamma), Ucapan(Vaci-Kamma), dan Pikiran(Mano-Kamma). Setiap Tiga Perbuatan, ini mencakup semua Empat Macam Klasifikasi tersebut diatas, yaitu karma yang dilakukan melalui salah satu dari tiga saluran itu adalah Baik, Buruk, Baik dan Buruk, atau Bukan Baik maupun Bukan Buruk.

Karma Hitam Yang Berakibat Hitam dari kategori Pertama, mengacu pada setiap bentuk perbuatan jahat yang dilakukan melalui badan jasmani, ucapan dan pikiran yang didasari keserakahan, kemarahan, ketidaksabaran dll, yang menimbulkan kesukaran, kesengsaraan atau kerugian makhluk lain.
Perbuatan-perbuatan Buruk (Akusala Kamma), seperti membunuh atau menyiksa binatang-binatang, mencuri harta orang lain, berzinah dan seterusnya, adalah dianggap sebagai Karma Hitam/Buruk yang berakibat Hitam/Buruk.

Sang Buddha mengatakan, bahwa orang itu setelah ia meninggal dunia, ia akan terlahir dalam alam yang diliputi penderitaan bagaikan makhluk yang terlahir di neraka. Perbuatan jahat akibat karma hitam menghasilkan akibat hitam.

"Tidak diangkasa, ditengah lautan ataupun di dalam gua-gua, gunung; tidak dimanapun seseorang dapat menyembunyikan dirinya dari akibat perbuatan-perbuatan jahatnya". (Dhammapada127)

Kategori karma yang kedua adalah Karma Putih Yang Berakibat Putih. Mengacu pada setiap bentuk perilaku melalui badan jasmani, ucapan dan pikiran yang didasari pada keadaan batin yang positif, seperti kebajikan, kemurahan hati dan kejujuran, akan berbuah ketenangan dan kebahagiaan atau ‘berakibat putih’. Dengan demikian, Karma Putih berarti Perbuatan-Perbuatan Baik (Kusala Kamma) yang dilakukan oleh seseorang melalui saluran badan jasmani, ucapan dan pikiran.

Menurut Hukum Karma, akibat selalu ditentukan oleh sebabnya. Manifestasi karma terdiri dari kemiripan yang mendasar antara Perbuatan dan Hasil, Sebab dan Akibat: "Seperti Sebab, Begitu Pula Dengan Akibat". Bila seseorang menanam pohon mangga, maka pada suatu saat ia akan memetik buah mangga sebagai hasilnya dan tak mungkin ia akan memetik buah kelapa. Demikian pula, perbuatan-perbuatan baik akan selalu meghasilkan buah yang sesuai.

Sebagaimana Sang Buddha bersabda, Ada orang di dunia ini melakukan Karma melalui Jasmani, Ucapan, dan Pikiran tanpa menyiksa makhluk-makhluk lain. Maka, setelah ia meninggal dunia, ia akan terlahir kernbali ke alam menyenangkan tanpa mengalami siksaan. Di sana ia akan mengalami perasaan-perasaan (Vedana) tanpa penyiksaan; yang seluruhnya hanya terdiri dari kebahagiaan seperti dewa-dewa Subhakinha. Inilah yang kusebut Karma Putih yang mempunyai akibat Putih. (Kukkrovada Sutta, Majjhima Nikaya).

Kategori karma ketiga: Karma Hitam dan Putih. Karma jenis ini didorong oleh CAMPURAN dari perbuatan-perbuatan baik dan buruk oleh karenanya hasilnya berdampak campuran pula. Karma Baik dapat diumpamakan seperti Minyak dan Karma Buruk seperti Air; lalu bagaimana Minyak dan Air dapat bercampur bersama. Benar, bahwa dengan cara biasa Minyak dan Air tidak dapat bercampur bersama; namun setiap orang pasti mengakui bahwa Minyak dan Air dapat dimasukkan ke dalam satu tempat yang sama. Di sana mereka berada bersama-sama, walaupun minyak tetap mengambang di atas air. Dalam cara yang sama, Karma Hitam dan Putih dapat bersama-sama, begitupula dengan akibat-akibat Hitam dan Putih. Menurut agama Buddha, bilamana perbuatan-perbuatan Baik dan Buruk dilakukan bersama-sama, maka kebahagiaan dan penderitaan yang merupakan akibat dari perbuatan-perbuatan demikian juga akan muncul bersama. Di sini, kata "Bersama" berarti dalam satu masa kehidupan yang sama. Benar, bahwa penderitaan dan kebahagian tidak dapat timbul pada saat yang sama sebagaimana tak ada kemungkinan bagi dua macam Karma; Baik dan Buruk, untuk menghasilkan akibat-akibatnya pada saat yang sama.

Dalam kenyataan, kebahagiaan timbul menggantikan penderitaan dan penderitaan muncul menggantikan kebahagiaan. Ini merupakan kenyataan dalam kehidupan manusia dimana kebahagiaan dan penderitaan dialami secara silih berganti. Setiap orang melakukan perbuatan-perbuatan baik dan buruk melalui Badan Jasmani, Ucapan dan Pikiran dalam kehidupannya sehari-hari; dan dengan begitu setiap orang mengalami kebahagiaan dan penderitaan. Seseorang yang telah melakukan Karma Campuran, pasti akan menerima akibat-akibat campuran dalam hidup sekarang atau dalam kehidupan-kehidupan berikutnya. Inilahyang dikatakan oleh Sang Buddha sebagai karma hitam dan putih, yang memberikan akibat hitam dan putih.

Penggolongan karma yang terakhir adalah Karma Bukan Hitam Maupun Bukan Putih yang memberikan akibat Bukan Hitam Maupun Bukan Putih. Di sini, Karma Bukan Hitam Maupun Bukan Putih berarti perbuatan yang tak dapat dinyatakan sebagai baik atau burukpun keduanya, sesuatu yang netral. Suatu perbuatan yang natural, seperti berjalan, duduk, tidur dsb. Karma macam ini dilihat dari Sudut Pandangan Relatif, dapatlah dianggap sebagai macam Karma Baik karena tidak menghasilkan akibat-akibat yang merugikan atau menyakitkan.

Namun demikian, karma macam ini janganlah dicampuradukkan dengan suatu perbuatan dari orang yang telah bebas atau orang yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi (Arahat). Perbuatan seorang arahat tidak lagi digolongkan sebagai 'KARMA', tetapi 'KIRIYA' karena kekotoran-kekotoran batin (Kilesa) yang melandasi perbuatan kehendak dari orang demikian sudah dihancurkan secara total. Dilihat dari Sudut Pandangan Mutlak, hal ini juga tidak dapat dinyatakan sebagai Hitam atau Putih ataupun kedua-duanya

Kamma/Karma - Empat Kategori

  1. Berdasarkan Fungsi (KICCACATUKA):
    1. Karma Penghasil/Reproduktif (Janaka Kamma)
    2. Karma Penguat/Suportif (Upatthambaka Kamma)
    3. Karma Pelemah/Obstruktif (Upapidaka Kamma)
    4. Karma Pemusnah/Destruktif (Upaghataka Kamma)
  2. Berdasarkan Kekuatan (PAKADANAPARIYAYACATUKA):
    1. Karma Berat (Garuka Kamma)
    2. Karma MenjelangAjal (Asanna Kamma)
    3. Karma Kebiasaan (Acinna Kamma)
    4. Karma Cadangan (Katatta Kamma)
  3. Berdasarkan Waktu (PAKAKALACATUKA):
    1. Karma yang berbuah langsung pada kehidupan sekarang/Efektif Segera (Ditthadhammavedaniya Kamma)
    2. Karma yang berbuah langsung pada kehidupan berikutnya/Efektif Setelahnya (Upapajjavedaniya Kamma)
    3. Karma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan waktu tak tentu/Efektif Tak Tentu (Aparapariyavedaniya Kamma)
    4. Karma yang gagal berbuah/Tidak Efektif (Ahosi Kamma)
  4. Berdasarkan Kedudukan/Tempat Terjadinya (PAKATTHANACATUKA):
    1. Karma buruk(Akusala Kamma) yang menghasilkan akibatnya di alam-alam menyedihkan (Duggati–loka)
    2. Karma baik (Kusala Kamma) yang menghasilkan akibatnya di alam-alam penuh nafsu (Kama–loka)
    3. Karma baik yang menghasilkan akibatnya di alam Brahma yang berbentuk (Rupa–loka)
    4. Karma baik yang menghasilkan akibatnya di alam Brahma yang tanpa bentuk (Arupa–loka)

1. Karma Menurut Fungsinya

1a. Karma Penghasil/Reproduktif (Janaka Kamma)
Janaka karma adalah karma yang menghasilkan kelompok batin dan kelompok materi pada saat pembuahan. Kesadaran awal yang disebut dengan istilah patisandhi vinnana (kesadaran kelahiran kembali) dikondisikan oleh karma ini. Bersamaan dengan munculnya kesadaran kelahiran kembali, timbul pula 'sepuluh faktor pembentuk fisik', 'sepuluh faktor pembentuk jenis kelamin', 'sepuluh faktor unsur pokok' (kaya-bhava-vatthudasaka).

1b. Karma Penguat/Suportif (Upathambaka Kamma)
Karma Penguat adalah karma yang datang setelah karma penghasil dan menyokongnya. Karma ini tidak bersifat baik maupun buruk, akan tetapi hanya membantu atau mempertahankan kekuatan Karma Penghasil, dalam rangkaian siklus kehidupan seseorang. Dari saat setelah Pembuahan sampai saat Menjelang Kematian, Karma Penyokong akan terus bekerja menyokong Karma Penghasil. Karma Penyokong yang baik bersifat membantu dalam membangun kesehatan, kekayaan, kegembiraan, dll terhadap pelakunya. Dalam kasus ini disebut ‘Datang Terang, Pergi Terang’(Joti jotiparayano). Sebaliknya suatu Karma Penyokong yang Buruk akan menyebabkan penderitaan, kesedihan, dll pada orang yang lahir dengan Karma Penghasilnya yang buruk. Bisa disebut dengan istilah ‘Datang Gelap, Perg iGelap’(Tamo tamoparayano).

1c. Karma Pelemah/Obstruktif (Upapilaka Kamma)
Tidak seperti Karma Penguat, Karma Pelemah bersifat untuk memperlemah, menghalangi, dan memperlambat berbuahnya Karma Penghasil. Sebagai contoh, seseorang yang terlahir dengan Karma Penghasil yang baik, bisa saja menderita berbagai macam penyakit, yang mencegahnya menikmati hasil-hasil yang menyenangkan dari perbuatan-perbuatan baik yang telah dialakukan. Istilahnya ‘Datang Terang, Pergi Gelap’ (Joti tamaparayano). Sebaliknya seekor binatang yang dilahirkan akibat Kamma Penghasil yang buruk, bisa saja menikmati hidup yang nyaman dengan memperoleh makanan yang baik, tempat tinggal yang layak, dsb, sebagai hasil dari Karma Penghalangnya yang baik, yang mencegah berbuahnya Karma Penghasil yang buruk. Kasus ini bisa disebut ‘Datang Gelap, Pergi Terang’(Tamo jotiparayano).

1d. Karma Pemusnah/Destruktif (Upacchedaka Kamma)
Menurut hukum Karma, kekuatan dari karma penghasil dapat dihapus hanya oleh dorongan karma berlawanan yang sangat kuat yang dilakukan di masa lampau. Karma ini mencari kesempatan untuk berbuah dan bisa saja bekerja tanpa disangka-sangka, seperti sebuah Daya Penghalang berkekuatan besar yang dapat menghentikan lajunya anak panah dan menjatuhkannya ke tanah. Karma seperti ini disebut sebagai Karma Penghancur, yang lebih kuat dibandingkan kedua Karma sebelumnya, karena tidak hanya menghalangi tetapi menghancurkan kekuatan karma penghasil secara total. Karma Penghancur ini juga dapat bersifat baik atau buruk.

2. Karma Menurut Hasilnya

2a. Garuka Kamma (Karma Berat)
Yang berarti Karma Berat (serius), bisa bersifat baik maupun buruk. Karma ini berbuah dalam kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan berikutnya. Jika bersifat baik, maka ia akan berupa Keadaan Batin yang suci seperti dalam kasus Pencapaian Jhana. Sebaliknya jika bersifat buruk, ia merupakan ucapan ataupun perbuatan. Lima jenis Garuka Karma menurut prioritas mereka yaitu:

1. Menyebabkan Perpecahan Sangha
Hal-hal ini disebut juga Anantariya Kamma karena begitu cepat menghasilkan buahnya dalam kehidupan. Pandangan Salah yang permanen (niyata micchaditthi) juga termasuk sebagai salah satu GarukaKarma.
2. Melukai seorang Buddha
3. Membunuh Arahat
4. Membunuh Ibu
5. Membunuh Ayah

Sebagai contoh, jika seseorang yang telah mengembangkan Jhana dan kemudian ia melakukan salah satu dari kejahatan keji diatas, maka karma baiknya akan terhapus oleh karma buruknya yang berkekuatan lebih besar. Kelahirannya yang berikutakan dikondisikan oleh karma buruk tanpa dapat dicegah oleh pencapaian jhana yang telah dia lakukan lebih dahulu.
Devadatta kehilangan kekuatan batinnya dan terlahir dalam alam yang rendah karena telah melukai Sang Buddha dan menyebabkan Perpecahan Sangha.
Raja Ajatasattu akan dapat mencapai Tingkat Kesucian Pertama(sotapanna) jika dia tidak membunuh ayahnya. Dalam kasus ini, kekuatan karma buruk bertindak sebagai penghalang bagi dirinya untuk mencapai tingkat kesucian.

2b. Assana Kamma(Karma MenjelangAjal)
Adalah karma yang dilakukan seseorang atau diingat seseorang sesaat sebelum kematian, yang akan dilanjutkan pada signifikasinya dalam menentukan kelahiran berikutnya. Di Negara Buddhis, masih banyak umat yang menjalankan tradisi mengingatkan orang yang hampir meninggalakan kebajikan dan membuat mereka untuk melakukan kebajikan menjelang kematiannya.

Menurut hasilnya terkadang seorang yang jahat dapat meninggal dengan tenang dan mendapatkan kelahiran yang baik, jika dia mengingat atau melakukan perbuatan-perbuatan baik pada saat terakhir hidupnya. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa seorang algojo secara kebetulan memberikan dana makanan kepada Yang Ariya Sariputta. Pada saat menjelang kematiannya ia mengingat perbuatan bajik ini dan sebagai akibatnya ia dilahirkan dialam bahagia. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa meskipun algojo tersebut menikmati kelahiran yang menyenangkan, ia akan terbebas dari akibat-akibat perbuatan buruk yang telah terkumpul selama masa hidupnya. Perbuatan-perbuatan itu akan berbuah ketika kesempatannya atau kondisinya tiba.

Sementara itu, seseorang yang baik dapat meninggal dengan tidak tenang karena tiba-tiba teringat akan perbuatan buruknya atau karena memiliki pikiran jahat, yang secara bersamaan didukung oleh keadaan yang tidak menguntungkan. Dalam kitab suci, Ratu Mallika, permaisuri Raja Kosala, mengingat sebuah kebohongan yang telah dilakukannya kepada suaminya sebelum meninggal, dan karena itu ia menderita selama tujuh hari di alam menyedihkan.

Contoh di atas adalah kasus-kasus pengecualian. Kemungkinan adanya perubahan kelahiran dari lahirnya anak yang baik dari orang tua yang jahat, bisa berubah menjadi kelahiran anak yang jahat dari orang tua yang baik, karena secara umum, pikiran seseorang menjelang kematian sangat dipengaruhi oleh perbuatannya dalam kehidupan.

2c. Acinna Kamma(Karma Kebiasaan)
Adalah Karma yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan, apakah itu baik atau buruk, cenderung membentuk karakter seseorang. Pada saat pikiran kurang waspada, seseorang dapat tergelincir oleh pola pikir mentalnya yang sudah menjadi kebiasaan. Pada saat menjelang kematian, jika tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya, seseorang akan mengingat kembali kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukannya. Cunda, seorang tukang jagal, yang tinggal disekitar vihara tempat dimana Sang Buddha tinggal, meninggal sambil menjerit seperti babi karena dia mencari nafkah dengan menjagal babi-babi. Raja Sri Langka yang bernama Dutthagamani, mempunyai kebiasaan memberi dana makanan kepada para Bhikkhu sebelum ia makan terlebih dahulu. Kebiasaan kebajikan ini mengantarkannya ke alam Tusita karena pada saat kematiannya ia mengingat akan kebiasaan akan kebajikannya.

2d. Katatta Kamma(Karma Cadangan)
Adalah Karma yang dilakukan sekali atau beberapa kali dalam hidup namun bukan perbuatan yang dilakukan terus menerus dan kemudian terlupakan. Atau dengan kata lain, semua perbuatan yang tidak termasuk dalam klasifikas iGaruka Kamma, Acinna Kamma serta Assana Kamma adalah dikelompokkan dalam Kattata Kamma. Hal ini seperti simpanan kebajikan seseorang yang dilakukannya hanya sekali atau dua kali sebulan dengan waktu atau hari yang tidak tetap. Seorang petani, misalnya, melemparkan batu ke arah sekumpulan burung yang memakan padinya. Tujuannya hanyalah untuk mengusir burung-burung itu, dan bukan untuk membunuhnya. Namun batu itu mengenai kepala seekor itik yang berada disekitar tempat itu sehingga akibatnya itik tersebut mati. Katatta Karma ini digolongkan sebagai karma yang paling lemah diantara semua karma yang lainnya, hanya akan memberikan akibatnya apabila karma lainnya tak ada. Dalam kasus-kasus contoh di atas, karma tidak dapat dinilai semata-mata hanya berdasarkan atas ukuran akibat-akibatnya saja, tetapi motif atau kehendak yang berada di belakang perbuatan itu juga harus dipertimbangkan.

3. Karma Menurut Waktu

3a. Ditthadhammavedaniya Kamma
Adalah Karma yang memberikan akibatnya pada masa kehidupan sekarang ini juga, apakah karena kekuatannya yang amat besar atau memang karena sudah tiba saatnya untuk masak dalam kehidupan sekarang. Menurut Visuddhimagga, apabila karma ini tidak menghasilkan akibatnya dalam kehidupan sekarang, maka karma ini menjadi tak efektif (ahosi: lihat Visuddhimaggahalaman697). Ven.Vajirananava-rorasa dalam bukunya (Dhammavibhaga jilid II, hal 129) menerangkan: "Karma ini tergolong amat kuat dan karena dapat menghasilkan akibatnya dalam kehidupan sekarang. Pelakunya akan mengalami akibatnya dalam kehidupan sekarang ini juga. Tetapi apabila pelakunya meninggal sebelum menghasilkan akibatnya, maka karma ini menjadi tak efektif. "Singkatnya, perbuatan yang dilakukan pada kehidupan sekarang akibatnya akan diterima oleh palakunya pada kehidupan sekarang juga.

3b. Upapajjavedaniya Kamma
Adalah Karma yang akibatnya akan dialami dalam kehidupan setelah hidup sekarang ini. Karma ini menggantikan karma ‘Sekarang’ sejak saat Kematian seseorang dan terus menghasilkan akibatnya dalam kehidupan yang baru selama tak ada intervensi dari Karma lain yang Lebih Kuat. Menurut Visuddhimagga, bila dalam kehidupan berikutnya setelah kehidupan sekarang Karma ini tak memperoleh kesempatan untuk menghasilkan akibatnya, maka karma itu akan menjadi mubazir (Visuddhimagga, halaman 697). Perbuatan yang dilakukan pada kehidupan sekarang akan berakibat pada kehidupan berikut.

3c. Aparapariyavedaniya Kamma
Adalah Karma yang akibatnya akan dialami dalam kehidupan-kehidupan berikutnya. Karma macam ini agak menyerupai Karma macam kedua dan paling cepat hanya akan menghasilkan akibat dalam masa kehidupan setelah itu. Namun Karma macam ini dikatakan tak akan pernah berakhir dan terus mengejar pelakunya tanpa mengenal Lelah; tak akan pernah berhenti melakukan pengejarannya sampai sang kurban menjadi lelah. Karma macam ini dapat diumpamakan seperti Srigala yang selalu membayangi Rusa, dan menggigit kurbannya kapan dan dimanapun ada kesempatan.

3d. Ahosi Kamma
Adalah Karma yang tidak memberi akibat karena jangka waktunya untuk memberikan akibat telah habis atau karena Karma tersebut telah menghasilkan akibatnya, atau karena Karma tersebut telah menghasilkan akibatnya secara penuh sehingga kekuatannya habis sendiri. Karma macam ini dapat dibandingkan dengan sebuah Benih yang telah tersimpan sedemikian lama sehingga kemampuannya untuk bertunas atau bertumbuh menjadi rusak. "Serangan" akibat perbuatan yang dulu menjadi tidak efektif, malahan kondisi itu dirubah menjadi kesempatan untuk berbuat baik. Dapat dimisalkan seperti sesendok Garam (Karma Buruk) yang dimasukkan dalam Danau Besar (Karma Baik) yang tak dapa tmerubah air danau menjadi asin.

4. Berdasarkan Kedudukan/Tempat Terjadinya

4a. Karma Buruk yang menghasilkan akibatnya di alam menyedihkan (Duggati–loka)
Adalah Karma atau perbuatan yang berakar pada kebencian (dosa), keserakahan (loba), kebodohan (moha). Terdapat 10 macam perbuatan tak baik, yaitu memBunuh, menCuri, berZina (keTiganya ini disebabkan oleh perbuatan Badan Jasmani {Kaya-Kamma}, berBohong, memFitnah, berKataKasar, berGunjing (keempatnya ini disebabkan oleh Ucapan{Vaci-Kamma}); keTamakan, ItikadJahat. dan Pandangan Salah (ketiganya ini disebabkan oleh Pikiran{Mano-Kamma}).

4b. Karma Baik yang menghasilkan akibatnya pada alam penuh nafsu (Kama–loka)
Terdapat 10 perbuatan baik atau bermoral. yaitu; keMurahan-Hati (Dana), keMoralan (Sila), Meditasi (Bhavana), Rasa Hormat (Apacayana), Rasa Bakti/Berbalas Budi (Veyyavacca). Pelimpahan Jasa (Pattidana), Bergembira Dalam Kebajikan Orang Lain (Pattanumodana), Mendengarkan Dhamma (Dhammasavana), Membabarkan Dhamma (Dhammadesana), dan Meluruskan Pandangan Salah (Ditthujukamma).

4c. Karma Baik yang menghasilkan akibatnya dialam Brahma yang Berbentuk (Rupa–Loka)
Terdapat 5 jenis tingkatan yang merupakan tingkat Ketenangan Batin yang terjadi di dalam proses meditasi. yaitu: Tingkat dari Jhana atau Penyerapan Pertama hingga Tingkat Jhana atau Penyerapan kelima.

4d. Karma Baik yang menghasilkan akibatnya di alam Brahma yang Tanpa Bentuk (Arupa–Loka)
Terdapat 4 jenis, yang juga merupakan tingkatan ketenangan batin dan terjadi di dalam proses meditasi, yaitu:

  • Kesadaran yang berdiam di dalam ruang tanpa batas
  • Kesadaran yang berdiam di dalam kesadaran tanpa batas
  • Kesadaran yang berdiam pada kekosongan
  • Kesadaran dimana Persepsi/Pencerapan amat sangat halus sehingga ia tak dapat dikatakan ada atau tidak ada

Kemauan/Kehendak Bebas

Jika segala sesuatu disebabkan oleh karma, seseorang akan Selalu Buruk jika Karmanya adalah menjadi Buruk. Seseorang tidak perlu untuk berkonsultasi ke dokter untuk diobati penyakitnya, karena jika karmanya sedemikian, ia akan sembuh sendiri.

Hal ini tidak berarti yang kita sebut Karma adalah segala sesuatu yang kita derita atau nikmati hari ini sepenuhnya disebabkan perbuatan silam. Umat Buddha menyatakan bahwa walaupun hidup kita sudah terkondisi pada masa lampau, tetapi sepenuhnya ada di dalam diri kita untuk mengubah kondisi itu dan menciptakan kesejahteraan, saat ini dan masa mendatang.

Umat Buddha tidak menyerah pada NASIB atau FATALISME sebagai satu-satunya penjelasan terhadap kondisi manusia.

KARMA, bukanlah 'NASIB', bukanlah 'TAKDIR' yang tidak dapat diubah. Tidak pula seseorang terikat untuk memetik semua yang telah ditanam dalam proporsi yang sebegitu.

Perbuatan (Karma) seseorang pada umumnya tidaklah mutlak tidak dapat diubah; dan hanya sedikit saja yang demikian (tak dapat diubah). Sebagai contoh. jika seseorang menembakkan sebutir peluru dari senapannya. Seseorang tak dapat memanggilnya kembali atau membelokkannya dari sasarannya. Tetapi sebaliknya. jika itu bukan sebuah peluru (bola) timah atau besi yang melesat di udara, melainkan sebuah bola gading di atas papan-bilyar. Seseorang dapat menyusulkan bola lain dibelakangnya dengan cara yang sama dan mengubah jalannya.

Melalui tindakan berikutnya, seseorang Dapat Mengubah atau bahkan pada keadaan-keadaan yang menguntungkan, Dapat meNetralisasi dengan sepenuhnya tindakan yang terdahulu. Jika tidak demikian, mana mungkin seseorang pernah bisa bebas dari semua Karma untuk selamanya. Itu akan menjadi energi yang berjalan-sendiri terus secara kekal, yang tak dapat pernah berakhir.

Sang Buddha berkata,…bahwa jika demikian, maka tidak akan ada gunanya menjalani kehidupan moral, karena kita hanyalah korban masa silam.

Secara umum, perbuatan baik dan buruk apapun yang dilakukan orang dalam masa kehidupan ini, mereka pasti akan mengalami reaksinya dalam kehidupan ini atau yang akan datang. Tidaklah mungkin melepaskan diri dari akibat karma hanya dengan berdoa, melainkan hanya dengan mengembangkan PIKIRAN dan menJALANkan HIDUP MULIA.

Umat Buddha didorong untuk melakukan perbuatan baik bukan demi mendapat tempat di surga, tetapi diharapkan untuk berbuat baik untuk membasmi keegoisan dan supaya mengalami keDamaian dan keBahagiaan pada saat ini. Bila SAAT INI secara hati-hati dikendalikan, keSejahteraan Masa Depan akan Terjamin.

Di atas telah diungkapkan mengenai Hakekat Dinamis dari Karma, dimana hal ini benar-benar menjadikan manusia sebagai Penanggung Jawab dirinya sendiri. Tidak ada suatu makhluk Adikuasa yang dapat campur tangan ke dalamnya.

Meskipun demikian, ada batasan-batasan dalam kehendak bebas itu. Ada empat faktor yang mempengaruhi kehendak bebas, yakni: Karma Individu dari kehidupan Masa Lampau dan Sekarang,

Potensialitas dan Kebebasan yang Inheren dalam sifat-dasar diri kita, Pengkondisian dari Luar, dan Karma Kolektif yang telah matang. Potensialitas dan Kebebasan yang Inheren dalam sifat dasar diri kita, maksudnya adalah tiap-tiap individu telah memiliki kebebasan untuk memilih atau menentukan sesuatu.

Sedangkan yang dimaksud dengan Pengkondisian dari Luar adalah kondisi Lingkungan Sekitar yang kita alami, misalnya dengan siapa bergaul, saat hujan, panas, siang, ataupun malam.

Terakhir yang dimaksud dengan Karma Kolektif/Kelompok adalah peristiwa yang menimpa sekelompok orang secara bersama-sama. Sebagai contoh adalah peristiwa Kerusuhan, Peperangan, atau Bencana Alam. Keempat hal itu mempengaruhi Kehendak Bebas.

Orang yang kaya atau pandai akan memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan dengan orang yang miskin ataupun bodoh. Masyarakat yang dilanda Bencana Alam juga tidak memiliki banyak pilihan selain berusaha bertahan hidup. Demikianlah sekelumit Konsep Kehendak Bebas menurut agama Buddha.

Bagaimana meMurnikan Karma Negatif?

Pemurnian sangat penting karena hal ini mencegah penderitaan dan kecenderungan untuk berbuat salah di masa mendatang. Dengan memurnikan pikiran kita, kita akan mampu untuk lebih tenang dan mengerti Dharma lebih baik. Ada Lima Komponen Kekuatan yang digunakan untuk memurnikan jejak-jejak atau benih negatif, yaitu:

  1. Penyesalan/Pertobatan
  2. Tekad/Aditana untuk tidak mengulangi tindakan merugikan itu lag
  3. Perbanyak Perbuatan Baik dan Murnikan Pikiran
  4. Mengambil perlindungan pada Triratna, dan membangkitkan sifat Welas Asih kepada semua makhluk
  5. Latihan-latihan (Latihan apapun termasuk Namaskara, Meditasi dan Membaca Sutra/Mantra)

USAHA atau KEPANDAIAN barangkali juga merupakan faktor terpenting dari semua faktor yang mempengaruhi bekerjanya Karma. Tanpa usaha, Kemajuan Duniawi Dan Spiritual tidak mungkin terjadi. Jika kita Tidak Berusaha untuk menyembuhkan penyakit kita, atau menyelamatkan diri kita sendiri dari kesulitan atau, BERJUANG dengan TEKUN untuk kemajuan. Maka Karma Buruk akan menemukan kesempatan yang cocok untuk mewujudkan efeknya. Bagaimanapun, jika kita BERIKHTIAR untuk mengatasi kesulitan dan masalah, Karma Baik akan datang menolong.

Ketika kapal pecah di lautan dalam, Sang Bodhisatta, dalam salah satu kelahirannya, berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan ibunya yang sudah tua, sementara orang-orang lain berdoa kepada dewa dan menyerahkan nasib ditangan dewa. Hasilnya adalah Sang Bodhisatta selamat sementara yang lainnya tenggelam.

HUKUM UNIVERSAL

Hukum Karma bukanlah produk agama tertentu walaupun Hinduisme, ajaran Buddha, dan Jainisme mengenal dan menjelaskan tentang Karma. KARMA adalah HUKUM UNIVERSAL yang tidak memiliki label keagamaan. Semua orang yang melanggar hukum ini harus menghadapi akibatnya, tanpa memandang kepercayaan atau agamanya, dan mereka yang hidup sesuai dengan Hukum ini akan mengalami keDamaian dan keBahagiaan dalam hidupnya. Karena itu, Hukum Karma adil bagi setiap dan semua orang, apakah mereka memPercayainya atau Tidak; apakah mereka memiliki agama atau tidak. Hal ini seperti Hukum Universal lainnya. KARMA BUKANLAH MILIK eksklusif ajaran BUDDHA.

Pemberian Dharma Mengalahkan Segenap Pemberian Lainnya, Rasa Dharma Mengalahkan Segenap Rasa Lainnya, Kegembiraan Dalam Dharma Mengalahkan Segenap Kegembiraan Lainnya, Orang Yang Telah Menghancurkan Nafsu Keinginan Akan Mengalahkan Segenap Penderitaan (Dhammapada verse 354)

Akurasi Jawaban Shen

Pernahkah kita mengalami ke-tidakakurat-an jawaban Shen pada saat kita bertanya kepada beliau? Atau mendapat jawaban yang berubah-ubah dari beliau? Lantas apa yang kemudian persepsi kita terhadap beliau ketika kita mengalami hal tersebut?

Jika kita mengalami hal-hal tersebut seperti di atas, langkah awal yang harus kita lakukan adalah intropeksi diri, mengapa Shen sampai tidak memberikan jawaban yang sebenarnya, dan jangan terburu-buru menyalahkan Shen. Umumnya penyebab hal-hal diatas adalah :

1. Telah timbul mental ketergantungan pada diri kita.
Orang Siu Tao seharusnya selalu menuju kearah peningkatan kualitas diri yang lebih baik, baik secara fisik maupun mental. Jika setelah mempunyai Fu Fak Shen, kita malah semakin menjadi tergantung dan semakin tidak mempunyai percaya diri untuk menentukan langkah dalam kehidupan kita, ini merupakan suatu kemunduran. Secara nalar dan logika harusnya kita sadar bahwa Fu Fak Shen sedang mendidik kita untuk tidak mempunyai mental ketergantungan yang semakin membuat kita lemah.

2. Pertanyaan bodoh dan kurang relevan.
Sering kali kita kebablasan dengan Fu Fak Shen kita, perlu diingat beliau di satu sisi memang sahabat kita, tapi di sisi lain Beliaupun merupakan guru kita. Jika pertanyaan kita hanya berupa pertanyaan yang tidak relevan untuk ditanyakan, contoh : Shen apakah hari ini akan hujan? Apakah saya akan telat ke kantor? Apakah saya bisa lolos dari atasan karena tugas belum beres?
Coba dinalar apakah itu pertanyaan yang relevan untuk ditanyakan pada guru kita?? Jika pertanyaan-pertanyaan sejenis itu yang selalu kita tanyakan, cobalah telaah sebenarnya sampai dimana level kita??

3. Memaksakan jawaban atas pertanyaan kita.
Perlu diakui, kita selalu ingin mendapatkan jawaban yang terbaik atas pertanyaan yang menyangkut diri kita, tetapi pada saat kita bertanya pada Shen, cobalah untuk tenang dan terbuka jangan sampai rasa cemas, takut, maupun ego kita terlalu berharap bahwa jawaban harus sesuai dengan harapan kita. Jika seperti itu malah biasanya yang menjawab adalah pikiran kita sendiri.

4. Mengetest Shen.
Jangan pernah berpikiran untuk mengetest Shen untuk jawaban yang sudah kita ketahui apalagi untuk pertanyaan yang konyol, misalnya : Shen apa hari lahir saya? Saya lelaki atau perempuan? Apakah gadis itu suka pada saya? Dan sebagainya.
Perlu diingat, kita tidak sedang main Jelangkung, jadi perhatikan sikap batin-mu!!.

5. Berusaha menjadi konsultan gaib / paranormal.

Masih ada yang secara tidak sadar memandang Shen seperti pembisik gaib, dimana dipakai sebagai tempat bertanya layaknya dukun yang bertanya pada pembisik-pembisik gaibnya atas segala keluhan dari para pasiennya. Ini sudah menjadi salah kaprah, sebab sudah pasti jika saya jadi Fu Fak Shen pun akan menegur “kamu saja tidak mengerti permasalahanmu, hidupmu, menolong diri sendiri saja tidak mampu, kenapa tidak kau benahi saja dirimu dulu?”.
Untuk beberapa kasus yang “urgent”, mungkin Fu Fak Shen mau memberitahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun jika sudah keseringan, secara nalar kita pasti tahu Shen tidak akan memposisikan dirinya sebagai pembisik gaib layaknya pegangan para dukun.

Hal-hal di atas memang sepintas terlihat spele, namun sebenarnya ceminan dari kualitas mental dan pola pandang kita terhadap Shen. Mungkin masih banyak sebab-sebab yang membuat komunikasi dengan Shen (Thuang Shen) menjadi tidak akurat. Oleh karena itu kaum Siu Tao harus selalu mawas diri dan selalu intropeksi diri dalam menjalani kehidupan ini dan jangan sampai karena tidak “Wu” malah menyalahkan Shen maupun pihak lain.

PERTAMA “WU”, KEDUA”WU”, KETIGA”WU”, DAN SETERUSNYA PUN “WU

Salam TAO
 

Bagaimana caranya menjadi umat Buddha?

Untuk menjadi umat Buddha, seseorang dapat mengikuti Upacara Visudhi Upasaka (untuk pria) atau Upasika (untuk perempuan), yaitu pernyataan diri berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha dengan mengucapkan Tisarana (Tiga Perlindungan) di hadapan seorang bhikkhu.

Isi Tisarana adalah sebagai berikut:

Buddhang Saranang Gacchami (Aku Berlindung kepada Buddha)
Dhammang Saranang Gacchami (Aku Berlindung kepada Dhamma)
Sanghang Saranang Gacchami (Aku Berlindung kepada Sangha)

Visudhi upasaka-upasika adalah merupakan kelengkapan dalam tradisi umat Buddha. Artinya, hal ini bisa dilakukan atau tidak, bukanlah menjadi masalah. Dalam Dhamma, yang penting adalah perbuatan sesuai dengan Dhamma, upacara dan tradisi hanyalah faktor pendukung saja. Oleh karena itu, makna visudhi upasaka-upasika ini adalah untuk memperkuat keyakinan kita pada Sang Tiratana. Karena sebagai upa-upi diharapkan seseorang akan lebih bersemangat dalam mempelajari serta melaksanakan Buddha Dhamma. (paragraf ini merupakan jawaban Y.M. Uttamo Thera di Tanya Dhamma: Belum Visudhi = Belum Jadi Umat Buddha?)

 

Mengapa kita harus berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha? Bukankah Sang Buddha pernah mengatakan diri sendiri adalah pelindung yang paling baik?

Perlindungan kepada Tiratana bukanlah seperti mendapatkan perlindungan dari perisai atau benteng yang dibangun di luar diri kita. Maksud perlindungan di sini adalah bahwa Tiratana yang terdiri dari Buddha, Dhamma, dan Sangha adalah bersifat simbolis.

1. Berlindung kepada Buddha adalah dengan melihat dan meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh Sang Buddha. Misalnya saja kesabaran, cinta kasih, kebijaksanaan, dsb.
2. Berlindung kepada Dhamma adalah menjalankan hidup sesuai dengan Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Misalnya saja, berkumpul dengan orang bijaksana dan menjauhi pergaulan dengan orang yang tidak bijaksana.
3. Berlindung pada Sangha adalah dengan meneladani kehidupan para Arahanta seperti yang dimuat dalam Sanghanussati. Bahwa setiap Arahanta adalah siswa Sang Bhagava yang telah bertindak baik, lurus, benar dan patut.

Oleh karena itu, seseorang yang melaksanakan ketiga perlindungan di atas, tentu saja akan mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun yang akan datang, bahkan sangat mungkin mencapai kesucian dalam kehidupan ini pula. Jadi, perlindungan kepada Tiratana bukanlah di luar diri kita, melainkan ada dalam perbuatan kita setiap saatnya.

(jawaban Y.M. Uttamo Thera di Tanya Dhamma: Berlindung Kepada Tiratana atau Diri Sendiri?)

 

Sebagai umat Buddha, perilaku atau perbuatan apa yang pertama-tama harus dilakukan?

Pertama-tama yang harus dilakukan adalah mentaati Pancasila yaitu pelaksanaan janji melatih diri sendiri menghindari perbuatan membunuh, mencuri, asusila, berbohong, dan minum minuman yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan. Selanjutnya adalah berusaha mengembangkan batin untuk mencapai ketenangan dan penerangan (bermeditasi).

Sebagai umat Buddha perlu juga mengetahui bahwa erdapat sepuluh perbuatan baik yang bila dilakukan akan memberikan akibat yang menyenangkan dalam kehidupan sekarang ini, yaitu berdana, melaksanakan sila, bermeditasi, bersikap hormat dan rendah hati, membantu orang berbuat kebajikan, membagi rasa kebahagiaan kepada orang lain.

 

Apakah umat Buddha harus ke vihara untuk sembahyang?

Sembahyang di vihara merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan karena dengan demikian kita sebagai umat Buddha melakukan perbuatan baik yang bermanfaat. Di vihara, umat Buddha dapat membaca paritta, mendengar Dhamma, berdana, dan melakukan perbuatan jasa lainnya.

Perlu diketahui bahwa vihara tidak sama dengan kelenteng. Vihara adalah tempat ibadah Agama Buddha. Dalam vihara pada umumnya terdapat patung Sang Buddha untuk dipuja, ruang untuk melaksanakan puja bhakti, dan ruang untuk tempat tinggal bhikkhu. Sementara kelenteng adalah tempat ibadah yang berasal dari Cina. Pada umumnya kelenteng merupakan tempat ibadah penganut Taoisme dan Konfusianisme. Di Indonesia kebanyaka kelenteng masih disebut vihara tanpa memandang sifatnya.

 

Apakah umat Buddha boleh meminta 'sesuatu' kepada Sang Buddha?

Sang Buddha tentu tidak dapat memberikan segala sesuatu yang kita minta. Umat Buddha yang telah mengerti tidaklah akan meminta kepada Sang Buddha. Untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan, umat Buddha bertekad untuk melaksanakan upaya pencapaian itu dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian ia akan dapat meningkatkan dirinya menjadi lebih baik dengan tekad dan perbuatannya itu.

Sebagai catatan tambahan, dalam alam ini terdpaat mahluk-mahluk halus dengan kekuatan batin tinggi, yang apabila diminta dapat memberikan bantuan. Dalam batas-batas tertentu mereka dapat memberikan bantuan kepada manusia yang meminta pertolongan, sehingga bagi yang tidak mengerti hal itu disebut 'mukjijat'. Pada dasarnya hal ini sama seperti seseorang menolong orang lain sesuai dengan kemampuannya. Kesemuanya itu tidaklha terlepas dari bekerjanya hukum kamma (hukum tentang sebab dan akibat dari suatu perbuatan).

 

Pekerjaan apa saja yang tidak boleh dilakukan sebagai umat Buddha?

Terdapat beberapa cara penghidupan yang harus dihindari umat Buddha, yaitu penghidupan dari pekerjaan yang berhubungan dengan penipuan, ketidak jujuran, penujuman, kecurangan , dan memungut bunga tinggi (praktik lintah darat). Selain itu, harus dihindari pula perdagangan alat senjata, mahluk hidup, daging, minuman yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan, dan racun.

 

Bagaimana kalau ada umat Buddha yang ingin menikah dengan seseorang yang beragama lain? Bolehkah?

Sebenarnya upacara perkawinan antar mereka yang beda agama tidaklah terlalu bermasalah dalam Agama Buddha. Hanya saja, memang disarankan untuk satu agama. Hal ini tentu ada sebabnya. Permasalahan bukan pada upacara perkawinannya, namun kehidupan dalam perkawinan itu sendiri.

Banyak permasalahan yang timbul karena perkawinan beda agama. Salah satunya adalah pemilihan lokasi pemberkahan perkawinan itu sendiri, menurut agama yang pria atau wanita. Kalau hal ini sudah dapat diselesaikan dengan baik, maka berikutnya akan timbul masalah seputar kegiatan kebaktian setiap hari Minggu, akan pergi ke tempat ibadah agama si pria atau wanita. Kalaupun masalah ini bisa diselesaikan, maka jika memiliki anak, akankah dididik menurut agama si bapak atau si ibu? Jika masalah ini sudah bisa diselesaikan dengan baik pula, maka apabila si ayah dan ibu semakin tua serta sakit-sakitan, akankah didoakan menurut agama si sakit ataukah yang sehat?

Kalaupun hal ini bisa diselesaikan, apabila salah satu meninggal dunia, akankah didoakan menurut agama yang meninggal atau yang hidup? Demikian pula dengan bentuk upacara penyempurnaan jenasahnya, begitu pula dengan bentuk makamnya, seandainya dimakamkan. Dan juga, perbedaan agama ini juga terbawa sampai dengan upacara kematian 3 hari, 7 hari, 49 hari, dan seterusnya. Akankah dilaksanakan menurut agama yang meninggal ataukah yang hidup. Dan cerita ini masih bisa diperpanjang lagi untuk melihat dengan jelas bahwa perkawinan beda agama itu sangat beresiko memicu permasalahan ekstra dalam perkawinan.

Oleh karena itulah, maka disarankan pasangan hendaknya satu agama sebelum memutuskan untuk hidup bersama dalam rumah tangga. Kalau masih dalam tahap pendekatan antar calon pasangan hidup, ada baiknya masalah perbedaan agama diselesaikan dahulu, jangan dibiarkan saja. Karena hal ini hanya akan menunda permasalahan. Kalau bisa diketemukan jalan keluarnya sehingga dua agama menjadi satu agama, maka hubungan bisa dilanjutkan menjadi perkawinan.

Namun, kalau masalah agama tidak bisa dicari titik temunya, maka ada baiknya h ubungan tetap sebagai sahabat saja, tidak perlu dilanjutkan menjadi pasangan suami istri. Hal ini agar dapat menghindari konflik rumah tangga yang berkepanjangan.

Sedangkan untuk pasangan beda agama yang sudah 'terlanjur' hidup sebagai suami istri, maka sebaiknya, masing-masing pihak berusaha memahami agama pasangan hidupnya, walau tanpa harus dipaksa mengikutinya. Hal ini agar menumbuhkan pengertian bahwa sesungguhnya bukan hanya agama sendiri yang mempunyai kebenaran; agama lainpun juga memiliki kebenaran tersendiri. Dengan pola pikir positif inilah diharapkan pasangan bisa saling mengerti dan dapat membina rumah tangga beda agamanya dengan penuh keharmonisan.

 Dikutip dari : http://www.buddhistonline.com/dasar/faq-umat-buddha.shtml
 

UPACARA
Upacara dan ritual merupakan suatu ornamen untuk memperindah suatu agama dan menarik perhatian masyarakat. Seseorang dapat menjalankan agama tanpa upacara dan ritual. Upacara dan ritual tertentu yang dianggap penting untuk keselamatan mereka tidak demikian dalam ajaran Buddha.

Menurut Buddha, seseorang tidak boleh melekat pada praktik-praktik semacam itu untuk perkembangan spritual dan kemurnian mentalnya.  

BERDOA
Berdoa artinya memusatkan pikiran pada suatu obyek tertentu dan memprogram diri kita ke arah yang positif.

Dalam setiap kesempatan umat Buddha selalu berdoa, “Semoga semua makhluk hidup berbahagia, semoga semua makhluk sejahtera.”

Makna semua makhluk, meliputi makhluk apapun baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, baik manusia maupun bukan manusia, seperti setan, hewan dan dewa, yang ada dimanapun juga tanpa ada pembatasan.

Istilah setan menunjukkan makhluk yang tidak waspada dalam menanam bibit kebajikan, akibatnya terlahir di alam setan. Kedudukannya sebagai makhluk yang menderita sewajarnya kita mendoakan agar berbahagia dan dapat terbebas dari alam tersebut.

Dalam masyarakat sering kita dengar ada orang yang memiliki kesaktian atau kemampuan penyembuhan. Dalam Buddha Dharma DOA akan memiliki kekuatan, apabila dipenuhi 3 (tiga) syarat, yaitu :
Orang yang mendoakan harus mempunyai keyakinan
Orang yang mendoakan memiliki Karma baik
orang yang didoakan pun harus memiliki Karma baik

RUPANG BUDDHA
Keberadaan Rupang Buddha bertujuan untuk memberikan penghormatan dan rasa terima kasih kepada Buddha yang telah mengajarkan Dharma untuk kebahagiaan semua makhluk, menghapus kegelapan membawa pada pandangan terang. Selain itu Rupang pun memiliki fungsi sebagai sarana/ obyek meditasi.

BENDA-BENDA PERSEMBAHAN
Lilin
Melambangkan penerangan, seperti pelita di dalam kegelapan menerangi sekelilingnya.

Demikian pun kita diharapkan dapat menerangi diri kita dan sekeliling yang masih diliputi oleh kegelapan batin. Sebagai orang yang sadar kita tidak akan terbawa emosi, kemarahan, kebencian karena ketidakwaspadaan dari perbuatan yang dilakukan oleh orang yang tidak mengerti

Dupa
Melambangkan harumnya Dharma dan ketidak kekalan dari kehidupan. Seperti harumnya dupa yang menyebar ke seluruh ruangan demikian pun dengan kebajikan yang telah kita lakukan dapat menyebar ke seluruh penjuru.

Bunga
Melambangkan ketidak kekalan. Seperti kita sendiri mengalami ketidakkekalan selalu mengalami perubahan. Karena itu kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk selalu berusaha mencapai hasil kehidupan yang terbaik.

Buah
Melambangkan hasil perbuatan. Perbuatan baik akan mebawa kepada kebahagiaan, perbuatan jahat akan membawa penderitaan. Seperti buah dengan berbagai ukuran demikian pun jenis perbuatan kita akan berakibat banyak ragam hasilnya

Air
Melambangkan rendah hati. Seperti air yang mengalir dari atas menuju
ke bawah.

Selain persembahan tersebut untuk perkembangan Buddha Utara dikenal pula persembahan San Kung yaitu persembahan makanan untuk dilimpahkan para Buddha dan semua makhluk.

 

Tripitaka

Kanon Pali atau Tipitaka berati tiga keranjang penyimpanan Kanon (Kitab Suci). Selama beberapa abad sabda-sabda Sang Buddha disampaikan dengan turun temurun dengan lisan saja, yaitu dengan jalan menghafalkannya di luar kepala. Ajaran Sang Buddha dibukukan beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana.

Segera setelah Buddha Gotama mencapai Parinibbana, diadakanlah Sidang Agung (Sangha-samaya) pertama di Gua Satapana, di kota Rajagaha (343 S.M.). Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Kassapa Thera. Sidang ini dihadiri oleh 500 orang bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat Arahat. Sidang ini bertujuan menghimpun ajaran-ajaran Buddha Gotama yang diberikan ditempat-tempat yang berlainan, pada waktu-waktu yang berbeda dan kepada orang-orang yang berlainan pula selama 45 tahun. Dalam sidang tersebut Y.A. Upali mengulang tata tertib bagi para bhikkhu dan bhikkhuni (Vinaya) dan Y.A. Ananda mengulang khotbah-khotbah (Sutta) Buddha Gotama. Ajaran-ajaran ini dihafalkan di luar kepala dan diajarkan lagi kepada orang lain dari mulut
ke mulut.

Sidang Agung kedua diselenggarakan di kota Vesali lebih kurang 100 tahun kemudian (kira-kira 43 S.M.). Sidang ini diadakan untuk membicarakan tuntutan segolongan bhikkhu (golongan Mahasangika), yang menghendaki agar beberapa paraturan tertentu dalam Vinaya, yang dianggap terlalu keras, diubah atau diperlunak. Dalam siding ini golongan Mahasangika memperoleh kekalahan dan sidang memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya yang sudah ada. Pimpinan sidang ini adalah Y.A. Revata.

Lebih kurang 230 tahun setelah Sidang Agung pertama, diselenggarakan Sidang Agung ketiga di ibu kota kerajaan Asoka, yaitu Pataliputta. Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta dan bertujuan menertibkan beberapa perbedaan pendapat yang menyebabkan perpecahan di dalam Sangha. Di samping itu, sidang memeriksa kembali dan menyempurnakan Kanon (Kitab Suci) Pali. Dalam Sidang Agung ketiga ini, ajaran Abhidhamma diulang secara terperinci, sehingga dengan demikian lengkaplah sudah Kanon Pali yang terdiri atas tiga kelompok besar, meskipun masih belum dituliskan dalam kitab-kitab dan masih dihafal di luar kepala. Golongan para bhikkhu yang terkena penertiban meninggalkan golongan Sthaviravada (pendahulu dari golongan yang sekarang dikenal sebagai Theravada) dan mengungsi ke arah Utara.

Sidang Agung keempat diselenggarakan di Srilanka pada 400 tahun setelah Sang Buddha Gotama mangkat. Sidang ini berhasil secara resmi menulis ajaran-ajaran Buddha Gotama di daun-daun lontar yang kemudian dijadikan buku Tipitaka dalam bahasa Pali.